Kepemimpinan Dalam Ajaran Agama Hindu

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemimpin dan kepemimpinan ibarat mata uang. Dapat berfungsi bila kedua sisinya utuh dan saling mengisi. Bila salah atu tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang kita harapkan.Untuk dapat menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, semua itu memerlukan perjuangan, pengorbanan, pembelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemimpinan dan kepemimpinannya itu. Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas/tindakan untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan (George Terry, dalam bukunya Principles of Management). Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakkan bawahannya. Fungsi menggerakkan adalah fungsi pembimbingan dan pemberian pemimpin serta menggerakkan orang-orang atau kelompok orang-orang itu agar suka dan mau bekerja. Dalam hal ini fungsi pemimpin adalah sangat penting. Karena walau bagaimanapun juga rapinya perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin serta tertibnya pengorganisasian ataupun tepatnya penempatan orang,maka hal ini belum menjamin dapat bergeraknya organisasi kea rah sasaran atau tujuan. Untuk itu seorang pemimpin perlu memiliki kecakapan, ketekunan, keuletan, pengalaman serta kesabaran. Dan untuk itu masing-masing pimpinan perlu mengetahui watak bawahannya. Untuk mengetahui watak seseorang secara pasti memang sulit, tetapi dalam situasi seperti ini dapat dibantu dengan mengenali tipe-tipe seseorang yang dipimpin maupun yang memimpin. Dan tak kalah pentingnya bila kita ingin menjadi pemimpin yang baik khususnya pemimpin Hindu, hendaknya kita menguasai dan memahami ajaran-ajaran kepemimpinan menurut Agama Hindu. B. Rumusan masalah Dari pemaparan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian pemimpin dan kepemimpinan? 2. Bagaimana hubungan pemimpin dan kepemimpinan? 3. Apa fungsi kepemimpinan Hindu? 4. Apa tujuan kepemimpinan Hindu? 5. Apa tugas dan wewenang pemimpin? 6. Bagaimana pokok-pokok ajaran kepemimpinan menurut pandangan agama Hindu? C. Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui pengertian pemimpin dan kepemimpinan sehingga menjadi tahu hubungan antara pemimpin dengan kepemimpinan 2. Memberikan wawasan pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran kepemimpinan dalam ajaran agama Hindu sehingga bisa menjadi pemimpin yang baik khususnya mengayomi umat sedharma D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan makalah ini diharapkan agar dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran kepemimpinan Hindu sehingga dapat dijadikan pedoman dan tuntunan terhadap pelaksanaan kepemimpinnnya. BAB II KEPEMIMPINAN DALAM AJARAN AGAMA HINDU A. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan Pemimpin adalah pribadi yang memiliki keterampilan teknis, khususnya dalam satu bidang tertentu. Sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitasnya. Istilah pemimpin berasal dari kata dasar “pimpin” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai “bimbing atau tuntun”. Kata kerja dari kata dasar ini, yaitu “memimpin” yang berarti “membimbing atau menuntun”. Dari kata dasar ini pula lahirlah istilah “pemimpin” yang berarti “orang yang memimpin” (Tim Penyusun,2005:874). Kata pemimpin mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris “leader”. Sementara itu kata “pemimpin” mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kata “kepemimpinan”. Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki dari seorang pemimpin. Dengan kata lain, kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memimbing dan menuntun seseorang. Jika tadi kata pemimpin mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris (leader), maka kepemimpinan juga mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris yaitu leadership. Kata ini berasal dari kata dasar “lead” yang dalam Oxford Leaner’s Pocket Dictionary (Manser, et all.,1995 : 236) diartikan sebagai “show the way, especially by going in front”. Sementara itu kata “leadership” diartikannya sebagai “qualities of a leader”. Secara umum, kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan untuk mengkoordinir dan mengerahkan orang-orang serta golongan-golongan untuk tujuan yang diinginkan (Tim Penyusun,2004:78). Menurut William H.Newman (1968) kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya menjelaskan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang sesuai dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik. Menyimak pengertian di atas maka terkait dengan kepemimpinan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikut. Kedua, dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan yang dipimpin. Ketiga, kepemimpinan merupakan kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Keempat, kepemimpinan adalah suatu nilai (values), suatu proses kejiwaan yang sulit diukur. B. Hubungan pemimpin dengan kepemimpinan Dalam sebuah hubungan, selalu harus ada yang memulai. Sebagai seorang pemimpin yang mengamalkan prinsip kepemimpinan, anda yang harus mengambil inisiatif terlebih dulu. Memulai hubungan mudah bagi semua orang, sekalipun anda bukan seorang pemimpin. Yang sulit adalah mempertahankan hubungan. Hubungan yang berkelanjutan memungkinkan kita melihat kelebihan dan kekurangan seseorang. Berbicara mengenai kekurangan ini, pasti ada beberapa yang bisa kita toleransi sekaligus beberapa hal yang tidak dapat kita terima. Hal ini wajar dan tidak dapat dihindarkan. Semakin dalam kita mengenal seseorang, akan semakin kelihatan kejelekannya. Apa yang awalnya tampak kemilau sekarang tampak kusam. Sebaliknya, semakin sempurna seorang pemimpin, semakin tinggi harapan pengikut-pengikutnya. Sedikit noda pada pemimpin sempurna ini akan merusak sinar kemilaunya. Antara pemimpin dan kepemimpinan mempunyai hubungan yang positif dimana akan menjadi efektif apabila dia mengerti dan memahami fungsi kepemimpinan. Adalah suatu hal yang sulit untuk dipercaya, apabila seseorang yang tidak memahami fungsi kepemimpinan akan menjadi pemimpin yang efektif, sebab pemimpin itu adalah orang yang melaksanakan fungsi kepemimpinan. C. Tujuan Kepemimpinan Hindu Negara sebagai wadah umat manusia untuk mewujudkan cita – cita hidupnya memiliki empat prinsip dasar. Antara lain sebagai berikut : 1. Machstaat adalah prinsip Negara untuk menguasai segala potensi yang dimiliki oleh negarayang bersangkutan untuk diabdikan kembali pada tujuan masyarakat Negara itu. 2. Rechtaat adalah prinsip Negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan Negara agar berbagai keadaan dan kepentingan yang berbeda – beda dapat diatur dalam rangka mempercepat tercapainya tujuan Negara. 3. Polisistaat adalah suatu prinsip Negara yang memandang segala seluk beluk kehidupan Negara harus dijaga agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan demi terwujudnya tujuan Negara tepat pada sasarannya. 4. Supervisorystaat adalah prinsip Negara yang memandang bahwa fungsi Negara ialah mendorong segala unsur – unsur Negara untuk lebih cepat mencapai tujuan. Bagi umat yang mendapat kesempatan sebagai pemimpin Negara, tuntunan ajaran agama hindu bertujuan untuk membentuk kepemimpinan Negara yang baik,kuat, bersih, dan berwibawa. Masyarakat akan lebih mudah diatur oleh para pemimpin Negara apabila dalam masyarakat itu tiap – tiap anggotanya sadar akan hak dan kewajibannya. Kesejahteraan masyarakat Negara akan terwujud apabila setiap warga Negara mau berjuang untuk mensejahterakan dirinya, keluarga,dan lingkungannya. Diri pribadi umat manusia akan tentram apabila atmanya menguasai budhi,budhinya menguasai manah,manahnya menguasai perasaan atau manahnya dikuasai oleh rajas,rajasnya dikuasai oleh tamas, dan tamasnya dikuasai oleh sattwam. Pemimpin Negara harus memiliki konsep – konsep kepemimpinan yang utama untuk dapat menata Negaranya. Hal ini dapat berarti kewibawaan pemimpin Negara harus didasarkan pada kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan yang dilandisi oleh kekuasaan. D. Fungsi Kepemimpinan Hindu Berdasarkan tinjauan terminologis, etimolis dan semantik serta berdasar kutipan-kutipan terjemahan mantra Veda dan terjemahan sloka-sloka kitab Arthasastra maka dapat dirumuskan fungsi-fungsi kepemimpinan dalam Hindu atas dua jenis fungsi, yaitu: 1. Melindungi masyarakat, memberikan rasa aman, bertanggung jawab serta memberikan bimbingan kepada warganya untuk turut mewujudkan rasa aman dan tentram dikalangan mereka (fungsi security). 2. Mewujudkan kemakmuran bersama-sama anggota masyarakat untuk mewujudkan kesejahtraan, kemakmuran dan melepaskan pederitaan masyarakat lahir dan batin (fungsi prosperity). Kepemimpinan yang berlandaskan ajaran Agama Hindu tentunya dapat mengaktualisasikan ajaran Agama Hindu. Untuk itu fungsi-fungsi agama bagi kehidupan manusia harus disadari dan dipahami oleh seorang pemimpin, sebab membahas kepemimpinan Hindu tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengkaji ajaran Agama Hindu. Dalam hubungannya dengan kehidupan manusia, agama dan juga pemimpin atau kepemimpinan mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut : 1. Sebagai factor motivatif, mendorong, mendasari, melandasi cita-cita dan amal perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. 2. Sebagai faktor kreatif, produktif dan innovatif, mendorong dan mengharuskan untuk tidak hanya melakukan kerja produktif saja, tetapi juga kreatif dan innovatif. 3. Sebagai faktor integratif, memadukan segenap aktivitas manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Keyakinan dan penghayatan terhadap ajaran agama akan menghindarkan manusia dari situasi dan kepribadiannya yang pecah. Dengan keutuhan kepribadiannya itu manusia akan mampu menghadapi berbagai macam tantangan dan resiko kehidupan. 4. Sebagai faktor sublimatif atau transformatif, mampu mengubah sikap dan prilaku, perkataan maupun perbuatan sesuai sesuai dengan ajaran agama. 5. Sebagai faktor inspiratif, memberikan inspirasi bagi pengembangan seni dan budaya yang dijiwai oleh Agama Hindu. E. Tugas dan Wewenang Pemimpin Pemimpin memiliki wewenang untuk mensejahterakan orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik tidak pernah mementingkan kepentingan dirinya, tetapi selalu memntingkan kepentingan umum. Di dalam artasastra dikatakan bahwa pemimpin adalah pengayom bagi masyarakatnya. Seorang pemimin harus berusha msejahterakan rakyatnya. Karena itu wujud dari keberhasilannya menjadi seorang pemimpin. Apabila seorang pemimpin tidak mampu untuk mensejahterakan rakyatnya apalagi mebuat rakyatnya menderita dia tidak bisa dikatakan sebagai pemimpin yang berhasil. Dalam memimpin hendaknya dilakukan dengan sepenuh hati dan jangan memimpin hanya untuk mencari keuntungan saja. Menjadi seorang pemimpin harus siap menanggung resiko apapun demi menjalankan tugas negaranya. Tugas dan wewenang atau hak dan kewajiban seseorang adalah dua hal yang sulit untuk dapat dipisahkan karena tidak ada tugas yang dapat dikerjakan oleh seseorang tanpa wewenang, dan sebaliknya tidak ada wewenang yang dapat diperoleh oleh seseorang tanpa mendapat tugas atau kewajiban yang harus dikerjakan. Kitab suci Weda menyebutkan sebagai berikut : “Sweswe dharma niwistanam sarwesamapurwacah, warnananmasra – manam ca raja srsto, bhiraksita” (Manawa Dharmasastra,VII.35) Artinya : Raja /pemimpin telah diciptakan untuk melindungi warna dan aturanya yang semuanya itu menurut tingkat kedudukan mereka melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka. Seorang pemimpin hendaknya dapat melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan wewenangnya. Wewenang seorang pemimpin adalah haknya untuk mengerakan orang-orang atau bawahanya untuk mau mengikuti dan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan. Tugas adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan tugas dan wewenang seorang pemimpin yang dilaksanakan dalam kepemimpinanya, antara lain sebagai berikut : 1. Planning atau perencanaan Planning adalah suatu pemikiran, perencanaan, persiapan, keputusan dan penerapan yang dilakukan sebagai suatu kegiatan dari seorang pemimpin. 2. Organisation atau pengelompokan Organisation adalah usaha untuk mengelompokan atau menata kegiatan-kegiatan yang telah dicantumkan dalam perencanaan. 3. Directing Directing adalah mengusahakan agar rencana pekerjaan itu dapat dilaksanakan. Untuk mendapatkan hasil yang baik maka seorang pemimpin perlu mendengarkan atau mendapatkan masukan, pandangan dari orang lain atau bawahanya. 4. Coordination Coordination adalah tindakan untuk memperoleh dan memelihara kesatuan diantara perorangan atau bagian karena usaha yang satu secara konstan merupakan bagian atau pelengkap dari usaha-usaha lainya. 5. Controlling Controlling adalah pengawasan terhadap rencana yang telah dilaksanakan oleh pemimpin, untuk memperoleh keyakinanya. Melalui kontrol yang diterapkan oleh pemimpin, akan dapat diketahui apakah rencana yang dilaksanakan telah sesuai pelaksanaanya sebagaimana diharapkan. F. Pokok-pokok ajaran kepemimpinan dalam ajaran agama Hindu 1. Sad Upaya Guna Lontar Raja Pati Gondala menjelaskan bahwa seorang pemimpin hendaknya bersifat penuh sahabat. Ada 6 (enam) sifat bersahabat bagi seorang pemimpin yang disebut Sad Upaya Guna yang terdiri dari : a. Siddhi artinya kemampuan untuk mengadakan sahabat. b. Wirgha artinya kemampuan untuk memisahkan setiap permasalahan atau persoalan serta dapat mempertahankan hubungan baik. c. Wibawa artinya memiliki kewibawaan. d. Winarya artinya cakap memimpin. e. Gascarya artinya berkemampuan untuk menghadapi lawan yang kuat. 2. Tri Upaya Sandhi Lontar Raja Pati Gondala menyebutkan tugas dan kewajiban seorang raja sebagai golongan Ksatrya, antara lain, Raja harus mengetahui Upaya Sandhi yang disebut Tri Upaya Sandhi yaitu 3 (tiga) upaya untuk menghubungkan diri dengan rakyat yaitu : 1. Rupa artinya raja harus dapat melihat wajah rakyat dengan baik 2. Wangsa artinya raja harus dapat melihat tata susunan masyarakat yang utama 3. Guna artinya raja harus mampu mengetahui rakyatnya yang memiliki keahlian Lontar tersebut juga menggambarkan bahwa seorang raja harus mengetahui Rajaniti Kamkamuka yaitu suatu ajaran yang menyebutkan seoranng raja adalah sebagai pengemudi dan Negara sebagai perahu. Jika perahu itu tanpa pengemudi, maka ia akan tenggelam di tengah-tengah lautan, demikian pula sang raja tatkala memegang pemerintahan, kalau lengah sedikit saja Negara akan bisa hancur. Lontar Raja Pati Gondala menyebutkan sepuluh macam hal yang patut dijadikan sahabat oleh seorang pemimpin, yaitu : 1. Satya : kejujuran 2. Arya : orang besar 3. Dharma : kebajikan 4. Asurya : orang yang dapat mengalahkan musuh 5. Mantri : orang yang dapat mengalahkan kesusahan 6. Salyatawan : orang yang banyak shabatnya 7. Bali : orang yang kuat dan sakti 8. Kaparamarthan ; kerohanian 9. Kadiran : orang yang tetap pendiriannya 10. Guna : orang yang banyak ilmu/pandai 3.Panca Dasa Pramiteng Prabhu Panca Dasa Pramiteng Prabhu adalah lima belas macam sifat yang utama yang patut dipedomani dan dilaksanakan oleh setiap pemimpin dalam memimpin masyarakat/bangsa dan negaranya. Bagian-bagiannya yaitu : a. Wijaya ; berlaku bijaksaa, penuh hidmad dalam menghadapi masalah yang sangat penting b. Mantriwira ; bersifat pemberani dalam membela Negara c. Wicaksanengnya ; sangat bijaksana dalam memimpin d. Natanggwan ; mendapat kepercayaan dari rakyat dan Negara e. Satyabhakti aprabhu ; selalu setia dan taat pada atasan f. Wakmiwak ; pandai berbicara baik didepan umum maupun berdiplomasi g. Sarjawaupasawa ; bersifat sabar dan rendah hati h. Dhirotsaha ; bersifat teguh hati dalam segala usaha i. Teulelana ; bersifat teguh iman, selalu riang atau optimis dan antusias j. Dibyacita ; bersifat lapang dada atau toleransi dapat menghargai pendapat orang lain k. Tansatresna ; tidak terlikat pada kepentingan golongan/pribadi yang bertentangan dengan kepentingan umum l. Masihsatresna bhuwana ; bersifat menyayangi isi alam m. Ginengpratidina ; setiap hari berusaha berbuat baik dan selalu berusaha tidak mengulangi perbuatan-perbuatan buruk n. Sumantri ; bersifat menjadi abdi Negara dan penasehat yang baik o. Anayakenmusuh ; mampu membersihkan musuh-musuh Negara. 4. Sad Warnaning Raja Niti Sad Warnaning Raja Niti ; enam kesan, corak, dan sifat yang utama sebagai persyaratan kepemimpinan bagi seorang raja atau pemimpin yang mesti dilaksanakan dalam kepemimpinannya guna memimpin bangsa dan Negara. Bagian-bagiannya yaitu ; a. Abhigamika ; seorang pemimpin harus mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat, bangsa dan Negara yang dipimpinya. b. Prajna ; seorang pemimpin harus memiliki daya kreatif yang benar yang sesuai dengan dharma guna memimpin bangsa dan Negara ini. c. Utsaha ; seorang pemimpin harus memiliki daya kreatif yang luhur untuk memajukan kepentingan masyarakatnya. d. Sakya Smantha ; seorang pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik untuk menjadi lebih baik. e. Atma sampad ; pemimpin harus memiliki moral yang baik dan luhur yang dapat dipedomani oleh bawahannya dan masyarakat yang dipimpinya. f. Aksudra parisatha ; seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memimpin persidangan para mentrinya dan menarik kesimpulan yang bijaksana, sehingga dapat diterima oleh semua pihak. 5. Panca Upaya Sandhi Dalam Lontar Siwa Budha Tatwa seorang raja dalam menghadapi musuh harus berpegang pada Panca upaya sandhi ; lima macam usaha dan upaya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan dan tantangan yang menjadi tanggung jawabnya. Ajaran panca upaya sandhi tersurat dalam lontar Siwabuddha Gama Tattwa. Bagian-bagiannya yaitu : a. Maya ; seorang pemimpin hendaknya memiliki dan melakukan upaya dalam pengumpulan data atau permasalahan yang belum jelas kedudukan dan profesinya, sehingga dapat dilakukan penataan lebih lanjut untuk mencapai kesempurnaan. b. Upeksa ; seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk meneliti dan menganalisis semua data dan informasi yang ada, sehingga semua permasalahan yang dihadapi itu dapat diletakkan pada proporsinya masing-masing. c. Indrajala ; seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk mencarikan jalan keluar setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang dipimpinnya. d. Wikrama ; seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk melaksanakan semua rencana dan rumusan yang telah diprogramkan sebelumnya. e. Logika ; seorang pemimpin dalam berusaha melaksanakan semua tindakannya, hendaknya selalu didahului dengan pertimbangan nalar yang sehat dan dapat diterima oleh masyarakat kebanyakan. 6. Nawanatya Nawanatya adalah Sembilan sifat dan sikap teguh serta bersusila yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan para pembantu-pembantunya, guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa dan Negara yang dipimpinnya. Bagian-bagiannya yaitu : a. Pradnya widagda ; seorang yang bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu pengetahuan serta teguh pendirian. b. Wira sarwa yudha ; pemberani, pantang menyerah dalam menghadapi berbagai masalah atau tantangan. c. Paramartha ; para pemimpin hendaknya memiliki sifat yang mulia dan luhur. d. Dhirotsaha ; para pemimpin hendaknya memiliki ketekunan dan keuletan dalam semua pekerjaannya. e. Pragiwakya ; para pemimpin pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. f. Samaupaya ; para pemimpin hendaknya setia pada janji yang dibuatnya dengan pihak lain atau masyarakatnya g. Laghawangartha ; para pemimpin hendaknya tidak bersifat pamrih terhadap harta benda di dalam hidup ini. h. Wruh ring sarwa bastra ; para pemimpin tahu akan cara mengatasi macam-macam kerusuhan i. Wiweka ; para pemimpin dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. 7. Catur Kotamaning Nrpati Menurut Pranpanca, Prabu Hayam Wuruk berhasil memimpin kerajaan Majapahit karena memiliki empat sifat ksatrya yang utama yang disebut Catur Kotamning Nrpati adalah empat sifat dan prilaku utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Bagin-bagiannya yaitu : b. Jnana wisesa sudha artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Maksudnya seorang raja harus mengerti dan menghayati ajaran-ajaran agama Hindu. c. Kaprahitaning praja artinya seorang raja atau pemimpin harus menunjukkan belas kasihan kepada rakyatnya yang maksudnya seorang raja harus betul-betul menolong rakyat yang menderita dengan dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. d. Kawiryan artinya seorang raja atau pemimpin harus berwatak pemberani. Maksudnya untuk menegakkan pengetahuan yang suci dan menolong rakyat yang menderita harus dilaksanakan dengan penuh keberanian, karena melaksanakan pengetahuan yang suci dan membela rakyat yang menderita akan penuh tantangan. e. Wibawa artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki kewibawaan ketika berhadapan dengan bawahan atau rakyatnya. 8. Asta Brata Menurut Ramayana dan kitab Manawa Dharmasastra VII,4 disebutkan Asta Brata yaitu delapan landasan mental/moral bagi seorang pemimpin. Bagian-bagiannya yaitu : a. Indra brata : seorang pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Indra yaitu sebagai dewa hujan yaitu sumber kemakmuran. b. Yama brata : pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Yama yaitu menciptakan hukum, menegakkan hukum, dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah. c. Surya brata : seorang pemimpin hendaknya memberikan penerangan secara adil dan merata kepada masyarakatnya dan selalu berhati-hati. d. Candra brata : seorang pemimpin hendaknya selalu dapat menunjukkan wajah yang tenang dan berseri-seri. e. Bayu brata : seorang pemimpin hendaknya selalu mengetahui dan menyelidiki keadaan yang sebenarnya. f. Danadha/kwera brata : seorang pemimph harus bijaksana dalam mempergunakan dana atau uang. g. Baruna brata : seorang pemimpin hendaknya dapat membersihkan segala bentuk penyakit masyarakat. h. Agni brata : seorang pemimpin harus memiliki sifat ksatria yang disertai dengan semangat yang tinggi bagaikan api yang tidak akan berhenti membakar sebelum apa yang dibakar itu habis. Yang patut dimiliki seorang raja menurut agama Hindu adalah : - Utpatit yaitu pemikiran diri sendiri - Castra samudbhavah artinya yang diperoleh dari ajaran agama - Parinamidi artinya sifat pemaaf bagi seorang pemimpin. 9. Pañca Satya Selain upaya, sifat dan kriteria sebagaimana yang telah disebutkan di atas, masih ada satu lagi landasan bagi pemimpin Hindu dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Landasan ini ada lima yang dikenal sebagai Pañca Satya. Lima Satya ini harus dijadikan sebagai landasan bagi seorang pemimpin Hindu di manapun dia berada. Kelima landasan itu adalah : 1. Satya Hrdaya (jujur terhadap diri sendiri / setia dalam hati) 2. Satya Wacana (jujur dalam perkataan / setia dalam ucapan) 3. Satya Samaya (setia pada janji) 4. Satya Mitra (setia pada sahabat) 5. Satya Laksana (jujur dalam perbuatan) Kelima ini juga harus dijadikan pedoman dalam hidupnya. Sehingga ia akan menjadi seorang pemimpin yang hebat, berwibawa, disegani dan sebagainya. Tingkat keberhasilan dari seorang pemimpin dalam memimpin itu sendiri ditentukan oleh dua faktor, yaitu : faktor usaha manusia (Manusa atau jangkunging manungsa) dan faktor kehendak Tuhan (Daiwa atau jangkaning Dewa). Sementara tingkat keberhasilannya bisa berupa penurunan (Ksaya), tetap atau stabil (Sthana) dan peningkatan atau kemajuan (Vrddhi). 10. Catur Pariksa (Catur Upaya Naya Sandhi) Bagi seorang pemimpin harus memiliki empat sikap tersebut untuk menjadi pemimpin yang disegani oleh rakyat maupun musuhnya. Keempat sikap tersebut adalah a. Dhana Dhana berati uang dapat pula diartikan pemberian, dan bermurah hati. b. Sama Sama adalah seorang pemimpin harus berbuat adil, berbuat dan memandang sama kepada seluruh anggota / bawahannya. c. Bheda Bheda adalah seseorang pemimpin harus dapat mengatur dan memelihara disiplin kerja dan tata tertib yang berlaku bagi bawahannya. d. Dandha Dandha adalah seorang pemimpin harus tegas dalam menghukum bawahannya, siapapun yang bersalah hendaknya dihukum secara adil tergantung dari tingkat kesalahannya. 11. Panca Sthiti Dharmaning Prabhu Panca Sthiti Dharmaning Prabhu merupakan wejangan ajaran dari Arjuna sastra bahu, yang kemudian dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Panca Sthiti Dharmaning Prabu memberikan tuntunan agar seorang pemimpin dapat menunjukkan lima sifat baik dan keteladanan kepada bawahannya. Kelima sifat keteladanan tersebut yakni; a. Ing arsa asung tulada: memberikan teladan yang baik kepada anak buah dan memberikan semangat pengabdian yang luhur untuk kepentingan nusa dan bangsa. b. Ing madya mangun karsa: memberikan penerangan kepada anak buah dan membangkitkan semangat mereka serta membangun kemauan untuk maju berprestasi lebih baik. c. Tut wuri handayani: melepas anak buah dan mengikuti dari belakang sambil melihat kemajuannya dan memberikan arahan apabila ada penyimpangan. d. Maju tanpa bala : relakan maju sendiri, mengembangkan diri dengan penuh inisiatif. e. Sakti tanpa aji: berhasil melaksanakan tugas janganlah mengharapkan balas jasa. Demikianlah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat memimpin masyarakatnya dengan baik sehingga tercapai tujuan bangsa dan Negara yang dipimpinnya. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja sama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan mereka. Kepemimpinan dapat juga di artikan sebagai kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. Pemimpin berarti orang yang melaksanakan kepemimpinan tersebut. Dalam ajaran agama Hindu menjadi pemimpin harus bisa menerapkan azas-azas kepemimpinan Hindu yaitu : Tri Upaya Sandhi, Catur Kotamaning Nrpati, Panca Upaya Sandhi, Nawa Natya, Sad Warnaning Rajaniti, Panca Dasa PramitengPrabhu, Asta Brata, Catur Pariksa, Panca Sthiti Dharmaning Prabhu dan menerapkan ajaran Panca Satya. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. B. Saran Adapun saran yang dapat Saya berikan adalah sebagai berikut : 1. Dalam memimpin hendaknya dilakukan dengan sepenuh hati dan jangan memimpin hanya untuk mencari keuntungan saja. Menjadi seorang pemimpin harus siap menanggung resiko apapun demi menjalankan tugas negaranya. 2. Melalui pembahasan kepemimpinan ini, diharapkan siswa memahami arti kepemimpinan sehingga mampu memimpin untuk diri sendiri. 3. Kepada para generasi muda Hindu agar bisa mengambil nilai-nilai luhur dari konsep-konsep kepemimpinan Hindu tersebut. Implementasikanlah konsep-konsep kepemimpinan Hindu tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar nantinya ada banyak pimpinan-pimpinan yang berasal dari generasi muda Hindu. Jika tidak sekarang mulai dicoba untuk dipraktekkan, lalu kapan lagi? DAFTAR PUSTAKA Pudja, Gede., Tjokorda Rai Sudharta. 2002. Manawa Dharma Śāstra, Compendium Hukum Hindu.Jakarta : Pelita Nursatama Lestari. Tim Penyusun, Buku Pelajaran Agama Hindu, Departemen Agama RI Ditjen Bimas Hindu, Paramita: Surabaya, 2007. Tim Penyusun, Widya Dharma Agama Hindu SMA, Ganeca Exact, 2010. Surpha, I Wayan. 1986. Pengantar Hukum Hindu. Surabaya : Paramita Suratmini, Ni Wayan, S.Ag.M.Pd.H, dkk. Lks Dharmika . Denpasar : Tri Agung, 2012. Wiana, I Ketut. 1997.Cara belajar Agama Hindu Yang Baik. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. Wiarsa, I Ketut, S.Ag, dkk. Bahan Ajar Genitri . Denpasar : Tri Agung, 2010. Tim Penyusun. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Buku Siswa. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014. http://tudeputra.blogspot.co.id/2012/11/kepemimpinan-menurut-hindu.html ttps://romonadha.wordpress.com/2011/10/04/kepemimpinan-hindu/ https://aripsaiputra.wordpress.com/2015/01/10/semester-vnitisastra/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SMAN 4 MATARAM SUKSES GELAR P5 UNTUK TAHUN KE-3

Dari Sabang sampai Merauke, Guru Bersatu Hadirkan Pembelajaran Seru dengan Wayground

Fasilitator Pembelajaran: Menjadi Teman Perjalanan Guru SMP/SMA dalam Menggali Pembelajaran Mendalam Batch 1 di Mataram