BAB 1

NILAI-NILAI YADNYA DALAM RAMAYANA

                         

Kompetensi Inti

KI 1:  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2:  Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KI 3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI 4: Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar

1.1  Membiasakan mengucapkan salam agama Hindu

1.2  Membiasakan mengucapkan dainika upasana (doa sehari-hari).

2.1 Toleran terhadap sesama, keluarga, dan lingkungan dengan cara menyayangi ciptaan Sang Hyang Widhi (Ahimsa).

2.2 Berperilaku jujur (Satya), menghargai dan menghormati  (Tat Tvam Asi) makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi

3.1  Memahami hakekat dan nilai-nilai Yajňa yang terkandung dalam kitab Ramayana

4.1 Mempraktikkan pelaksanaan yadnya menurut kitab Ramayana dalam kehidupan

 

Indicator

  1. Menjelaskan pengertian yadnya
  2. Menguraikan dasar pelaksanaan yadnya
  3. Menjelaskan tujuan yadnya
  4. Meguraikan pembagian yajna dan bentuk-bentuk yadnya dalam kehidupan sehari-hari
  5. Menguraikan pokok-pokok ajaran panca yadnya
  6. Menguraikan nilai-nilai yadnya dalam kehidupan
  7. Membuat Sinopsis Cerita Ramayana
  8. Mencari nilai-nilai yadnya yang terkandung dalam kitab Ramayana

 

  1. PENGERTIAN YADNYA

Gambar terkait

Devan bhavayatanena te deva bhavayantu vah

Parasparam bhavayantah sreyah param avapsyatha

(Bhagawadgita, III.11)

 

Artinya :

Dengan melakukan ini engkau memelihara kelangsungan para dewa, semoga para dewa juga memberkahimu, dengan saling menghormati seperti itu, engkau akan mencapai kebajikan tertinggi.

 

            Renungan

 

Masih ingatkah kita kapan terakhir kali kita bersyukur kepada Hyang Widhi atau Tuhan? Mungkin kita tidak menyadari bahwa ternyata sudah cukup lama kita tidak mengucapkan syukur lagi kepada Hyang Widhi/Tuhan. Atau mungkin kita pernah merasa bahwa segala apa yang kita perbuat adalah hasil dari usaha dan kerja keras kita, jadi untuk apa kita bersyukur kepada Hyang Widhi?.

 

Mungkin sebagian dari kita berkata bahwa sudah sekian lama juga berdoa dan berharap kepada Hyang Widhi, tetapi tidak juga menerima jawaban atas segala masalah, jadi untuk apalagi kita berharap dan  bersyukur kepada Hyang Widhi.  Banyak hal yang bisa membuat kita tidak lagi bersyukur kepada Hyang Widhi. Melalui keadaan, masalah, pekerjaan, keluarga dan banyak lagi yang bisa membuat kita justru malah bersungut-sungut dihadapan Hyang Widhi.

 

Bahkan sebagian orang menyalahkan Hyang Widhi atas apa yang mereka alami dalam kehidupannya. Mereka merasa bahwa Hyang Widhi tidak adil bagi mereka. Kalau kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa masih banyak yang bisa kita syukuri dalam kehidupan kita. Mungkin saat ini kita belum mendapatkan apapun yang menjadi keinginan kita. Tetapi kita mencoba melihat ke “bawah”, masih banyak orang lain yang lebih mederita dari apa yang kita alami saat ini. Kalau kita masih mempunyai keluarga, kita masih beruntung dibanding sebagian orang yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Atau bagi yang masih memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja, masih jauh lebih beruntung dibanding dengan mereka yang belum mendapat pekerjaan. Kalau kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sehat, kita seharusnya merasa lebih beruntung dibanding dengan yang mengalami cacat tubuh atau sedang menderita suatu penyakit.

 

Apapun kondisi dan masalah yang kita hadapi, entah itu baik ataupun buruk, Hyang Widhi menginginkan agar kita senantiasa mengucapkan syukur. Bersyukur dengan apa yang masih kita miliki saat ini. Bersyukur kalau kita masih bisa menikmati hidangan walaupun sangat sederhana. Kalaupun kita diberkati dengan harta kekayaan, tetaplah ucapkan syukur kepada Hyang Widhi oleh karena-Nya semua itu ada.

 

Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan social terikat pada aturan susila dan moral. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. Kita diberikan hidup sebagai manusia, dilahirkan pada keluarga yang sattwam, berada pada lingkungan social yang baik, dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian, adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterimakasih kepada Sang Pencipta. Ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan yajna.

 

Dari sloka di atas jelas bahwa manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikan sepotong baju, maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju.

 

            Memahami Teks

 

Yajna adalah salah satu aspek keimanan dalam agama Hindu dan upacara dalam ajaran Hindu merupakan bagian daripada yajna, bukan sebaliknya yajna itu bagian dari upacara.. Secara etimologi kata yajna berasal dari bahasa sansekerta yaitu akar kata “yaj” yang artinya memuja, mempersembahkan, berkorban. Yajna berarti pemujaan, persembahan, atau korban suci. Yajus berarti aturan tentang yajna. Yajana berarti pelaksanaan yajna, sedangkan yajamana berarti orang yang melakukan yajna.

 

Dalam Rgveda VIII, 40.4,yajna artinya pengorbanan atau persembahan. Yajna merupakan suatu perbuatan dan kegiatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan untuk melakukan persembahan kepada Hyang Widhi.

 

Secara terminology yajna memiliki pengertian sebagai berikut :

·         Dalam kitab Wraspati tattwa

Yajna ngaraning manghanaken homa

Artinya :

Yajna artinya mengadakan homa.

 

·         Dalam kitab Agastya parwa

Yajna ngaranya “agnihotradi”kapujan sang hyang Siwagni pinakadinya

Artinya :

Yajna artinya “agnihotra” yang utama yaitu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni.

 

Dalam kitab Bhagawadgita III.14 disebutkan :

Persembahan (yajna) tersebutkan menimbulkan hujan. Dari hujan lahirlah makanan. Dari makanan lahirlah mahkhluk hidup. Sedangkan yajna itu sendiri lahir dari karma.

 

Jadi yajna adalah segala bentuk pemujaan atau persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud-maksud mulia dan luhur.

 

Di dalam Bhagawadgita disebutkan yajna adalah sebagai suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk melakukan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Ada beberapa unsure yang mutlak yang terkandung dalam yajna yaitu :

a.       Karya  : adanya perbuatan

b.      Sreya   : ketulus ikhlasan

c.       Budhi : kesadaran

d.      Bhakti : persembahan

 

Jadi semua perbuatan yang berdasarkan dharma dan dilakukan dengan tulus ikhlas dapat disebut yajna. Dalam Bhagawadgita ditegaskan lagi bahwa belajar dan mengajar didasari oleh keikhlasan serta penuh pengabdian untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah tergolong yajna. Memelihara lingkungan juga disebut yajna. Mengendalikan hawa nafsu dan panca indria adalah yajna. Membaca kitab suci Weda, sastra agama yang dilakukan dengan tekun dan ikhlas adalah yajna. Jadi jelaslah yajna itu bukanlah terbatas pada kegiatan upacara keagamaan saja. Upacara dan upakaranya merupakan bagian dari yajna.

 

Bhagawadgita III.9 disebutkan bahwa : setiap melakukan pekerjaan hendaklah dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. Selanjutnya dalam Bhagawadgita III.12 disebutkan : para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu, manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakekatnya dia adalah pecuri.

 

Makanan yang dipersembahkan itu menjadi prasadam yang oleh umat Hindu di Bali disebut lungsuran. Yang dalam bahasa bali artinya hasil dari memohon kepada Tuhan. Prasadam dalam bahasa sansekerta artinya anugrah Tuhan.

 

Inti dari yajna adalah persembahan dan bhakti manusia kepada Hyang Widhi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sarana upacara inilah disebut dengan upakara/banten. Upacara yajna adalah merupakan langkah yang diyakini sebagai ajaran bhakti dalam agama Hindu. Dalam Atharvaveda XII.1.1 disebutkan yajna adalah merupakan salah satu pilar penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini.

 

     “Satyam brhadrtamugra diksa tapo brahma yajnah prthivim dharayanti,

                        Sa no bhutasya bhavy asya patyurun lokam prthivi nah krnotu”.

 

                        Artinya :

Sesungguhnya kebenaran (satya) hukum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), diksa, tapa brata, Brahma dan juga yajna yang menegakkan dunia semoga dunia ini, ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang lega bagi kami.

 

Demikian disebutkan dalam Kitab Atharwa Weda. Pemeliharaan kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang yajna terus menerus dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian pula yajna adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuwana Agung sebagaimana diuraikan dalam kitab Yajurveda. Disamping sebagai pusat terciptanya alam semesta, yajna juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhawadgita disebut Cakra yajna. Kalau Cakra yajna ini tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran.

 

Demikianlah yajna merupakan salah satu cara mengungkapkan ajaran Veda. Oleh karena itu yajna merupakan symbol pengejawantahan ajaran Veda, yang dilukiskan dalam bentuk symbol-simbol (niyasa). Melalui niyasa dalam ajaran yajna realisasi ajaran agama Hindu diwujudkan untuk lebih mudah dapat dihayati, dilaksanakan dan meningkatkan kemantapan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan itu sendiri. Kebesaran dan keagungan Hyang Widhi yang dipuja, perasaan hati pemuja-Nya, maupun wujud persembahan semuanya. Melalui niyasa dalam upakara umat Hindu ingin menghadirkan Yang Widhi yang akan disembah serta mempersembahkan isi dunia yang terbaik.

 

  1. DASAR PELAKSANAAN YAJNA

 

Latar belakang manusia untuk melakukan yadnya adalah :

1.      Bahwa alam semesta ini dengan segala isinya adalah berdasarkan yadnya. Dijelaskan dalam kitab Bhagawadgita III.10.

Saha yajnah prajah ssrtva, Puro’vaca prajaptih

Anena  prasavisyadhvam, esa vo ‘stv kamandhuk”.

Artinya :

 

Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yajna dan bersabda :

 “ dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi Kamandhuk dari keinginanmu”.

 

Hyang Widhi menciptakan manusia dengan yajna. Dengan yajna pulalah manusia mengembang dan memelihara kehidupannya. Keikhlasan dan kesucian diri adalah dasar melaksanakan suatu yajna. Kesucian diri dicerminkan dalam kehidupan yang benar memiliki kesiapan rohani dan jasmani seperti mantapnya Sraddha, rasa bhakti, keimanan, kesucian hati maupun kehidupan yang suci sesuai dengan moral dan spiritual.

 

2.      Tri rna yaitu :

-          Dewa rna : hutang kepada Ida Sang Hyang Widhi

-          Rsi rna : hutang kepada para Maha Rsi

-          Pitra rna : hutang kepada orang tua atau leluhur

Dari Tri Rna kemudian menimbulkan Panca Yajna yaitu Dewa Rna menimbulkan Dewa yadnya dan Bhuta yadnya, dari Rsi Rna menimbulkan Rsi yadnya, dan dari Pitra Rna menimbulkan Pitra yadnya dan Manusa Yadnya.

 

Dasar hukum yadnya yaitu :

a.       Bhagawadgita VII.20

Sa taya sraddhaya yuktas, tasyaradhanam ihate, labhate ca tatah Kaman,mayaiva vihitan hi tan.

Artinya :

Diberkahi dengan kepercayaan itu dia mencari penyembahan pada itu dan pula dia dapat apa yang dicita-citakan dan hasil mana adalah pemberian dari aku sendiri.

 

 

b.    Rg Veda Mandala 1 bagian kelima Sukta 18.23.8

Menyebutkan : dia membahagiakan sajian, dia meningkatkan upacara korban, suara pujaan kami sampai kepada Tuhan.

 

c.     Brahmana Purana : 20

Menyebutkan tujuh kesadaran yang diberikan oleh Hyang Citta kepada makhluk. akal, memberi, kesetiaan, kebenaran, ilmu pengetahuan, kesadaran, yadnya.

 

d.      Manawa Dharmasastra : Buku I.22

Karmatmanam ca devanam, so srjatpraninam prabhuh, sadhyanam ca gunam suksmam, yajnam caiva sanatanam.

Artinya :

Tuhan yang menciptakan tingkatan-tingkatan dari pada dewa-dewa yang memiliki hidup dan mempunyai sifat bergerak, juga diciptakan tingkat sadhya yang berbadan halus serta upacara-upacara yang kekal.

 

3.      TUJUAN YAJNA

a.       Untuk mengamalkan ajaran weda

Weda adalah sumber ajaran Agama Hindu. Weda memuat berbagai macam cara dan corak praktek ajaran agama Hindu yang disebut yajna. Demikian salah satu cara untuk mengungkapkan ajaran weda adalah dengan yajna. Yajna merupakan pengamalan ajaran weda dalam bentuk symbol-simbol.

 

b.      Untuk meningkatkan kualitas diri

Yajna adalah sebagai salah satu bagian dari ajaran agama Hindu yang bertujuan untuk mengurangi rasa keakuan atau egois manusia. Setiap usaha yang ditujukan untuk mengurangi rasa egois, menghilangkan rasa keakuan, dorongan-dorongan nafsu yang meledak-ledak dan yang lainnya menuju kea rah kenikmatan yang lebih sempurna, tentu memerlukan pengorbanan yajna

 

c.       Untuk  Penyucian.

Seluruh aktifitas kehidupan manusia yang dilandasi oleh dharma dan ketulusan hati yang melaksanakannya adalah yadnya. Aktifitas yang dimaksud adalah baik yang berhubungan langsung dengan dirinya sendiri, sesamanya, alam lingkungannya dan juga kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dan manifestasi-Nya. Pelaksanaan yadnya seperti : Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung makna dan tujuannya sebagai penyucian atau pembersihan. Kesucian merupakan landasan yang utama yang patut ditegakkan dalam melaksanakan ajaran agama.

 

Beryadnya merupakan salah satu upaya untuk mengamalkan ajaran agama. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama misalnya, baik yang bersifat kecil (sehari-hari) maupun yang besar (hari-hari tertentu) sebelumnya mesti didahului dengan melaksanakan penyucian diri atau lingkungan sekitarnya. Upacara yadnya tidak akan pernah berarti apabila orang yang melaksanakannya belum memiliki kesiapan dan kesucian rohani. Dengan demikian maka yang patut dijadikan landasan dalam melaksanakan yadnya adalah : jasmani yang suci, hati yang suci, kehidupan yang suci sesuai dengan ketentuan moral dan spiritual. Jadi dididik untuk selalu belajar hidup suci. Suci dalam arti lahir bathin dan pikiran.

 

Dalam kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan sebagai berikut :

Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti, widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhyanti.

Artinya :

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.

 

Ketulusan dan kesucian hati, sradha, kebaktian dan keimanan yang menyatu melahirkan spiritual yang lebih tinggi pada manusia. Upacara yadnya tidak akan pernah berarti apabila orang yang melaksanakannya belum memiliki kesiapan dan kesucian rohani. Dengan demikian maka yang patut kita jadikan landasan dalam melaksanakan yadnya adalah jasmani yang suci, hati yang suci, kehidupan yang suci, dan kehidupan yang sesuai dengan ketentuan moral dan spiritual.

 

d.      Untuk Dijadikan Sarana Berhubungan dengan Tuhan.

 

Yadnya, upakara dan upacara dalam pandangan umay Hindu merupakan sarana yang dapat dipergunakan untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya. Melaksanakan yadnya berarti melaksanakan yoga. Mengadakan yadnya bukan hanya dilaksanakan oleh para Pendeta, melainkan juga oleh masyarakat pada umumnya.

 

Didalam melaksanakan yadnya terdapat tiga unsur yang saling berkaitan erat yang disebut “Tri Manggalaning Yadnya” yang terdiri dari  :

1.      Sang Yajamana  adalah orang yang mempunyai atau yang melaksanakan yadnya tersebut.           

2.      Sang Widya/Pancagra  adalah tukang banten.

3.      Sang Sadhaka  adalah orang yang muput  upacara tersebut (Sulinggih).

 

Semua umat yang melaksanakan yadnya tanpa disadari sebenarnya sudah melakukan yoga, yaitu pemusatan pikiran kehadapan Ida Sang Hyang Widhi serta mengadakan pengendalian diri secara utuh. Sebagaimana kita ketahui masyarakat yang beryadnya, dari awal perencanaan, tahap persiapan upakara, sampai pada puncak upacara dan akhir pelaksanaan yadnya yang bersangkutan mengiringinya dengan sikap bathin yang suci serta pikirannya terpusat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

 

e.       Untuk Mencetuskan Rasa Terimakasih.

 

Dalam realita hidup ini hanya yang dilahirkan menjadi manusia yang dapat menyampai-kan rasa syukur atau berterima kasih kepada sesamanya, alam lingkungannya dan kepada Sang Pencipta serta semua yang ada ini. Berterimakasih atau bersyukur adalah merupakan salah satu kewajiban kita sebagai manusia. Karena menyampaikan rasa syukur baik melalui pikiran, ucapan maupun prilaku menurut petunjuk sastra-satra agama adalah merupakan sebuah yadnya.

     

Tentang keutamaan lahir dan hidup menjadi manusia dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya I.4

     iyam hi yonih prathama yam prapya jagatipate

                        atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih

 

artinya :

 

Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik, demikianlah keistimewaan menjadi manusia.

      

Dalam kitab Bhagawadgita disebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi berlandaskan yadnya dan dengan yadnya pula manusia mencapai kesempurnaan yang maha tinggi.

      

Dalam ajaran agama Hindu untuk menyampaikan rasa terima kasih atas pengorbanan suci yang telah diterimanya dilakukan dengan pelaksanaan upacara yadnya.  Jadi pelaksanaan upacara yadnya adalah sebagai wujud cetusan rasa terimakasih. Dijelaskan pula bahwa setiap melakukan pekerjaan hendaklah dilakukan sebagai yadnya dan untuk yadnya.

 

 

4.       Pembagian Yajna dan Bentuk-bentuk Pelaksanaan Yadnya dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Renungan

 

Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. Dewa, Asura, manusia, binatang, tumbuhan, bulan, bintang bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Alam dengan segala isinya memiliki kerikatan dan ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan.

 

Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonis maka peranan manusia sangat penting. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. Hanya dengan yajna keharmonisan alam dapat terjaga. Yajna menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sesamanya, dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam.

 

Perlu diingat bahwa yajna tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana.

 

Kewajiban seluruh umat Hindu untuk melaksanakan yajna atau korban suci kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Dalam sastra-sastra Agama Hindu berbagai macam adanya rumusan tentang pelaksanaan Panca Yajna, namun makna dan hakikatnya adalah sama.

 

Yadnya yang berarti korban suci atau persembahan suci itu mengandung pengertian yang sangat luas. Untuk memudahkan pengertian kita mengenai yadnya itu maka akan diuraikan bentuk-bentuk kegiatan sebagai realisasi yadnya ditinjau dari sudut pandangan tertentu.

 

Yadnya dalam bentuk persembahan ini bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulus-ikhlasan  dari orang-orang yang terlibat melakukan yadnya.

           

Memahami Teks

Bentuk yadnya bermacam-macam, yaitu :

-          Ada dalam bentuk persembahan dengan mempergunakan sarana (sesajen)

-          Ada pula persembahan dalam bentuk pengorbanan diri (pengendalian indria),

-          Mengorbankan segala aktivitas,

-          Mengorbankan harta benda (kekayaan) dan

-          Pengorbanan dalam bentuk ilmu pengetahuan (weda).

 

Jadi, kesimpulannya banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk menghubungkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi. Dalam kitab Bhagawadgita IV.11 disebutkan :

      

       ‘ye yatha mam prapadyante

       Tams tathai ‘va bhajamy aham

       Mam vartma ‘nuvartante

       Manushyah partha sarvasah

Artinya :

       Dengan jalan manapun (beryadnya) ditempuh manusia ke arahKu, semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Partha.

 

Yadnya yang dipersembahkan oleh umat Hindu jika ditinjau dari sudut masa atau waktu pelaksanaannya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :

 

1). Nitya Karma Yadnya : yaitu yadnya yang dilaksanakan setiap hari, seperti :

a.       Tri Sandhya, yaitu sembahyang tiga kali sehari.  Puja Tri  Sandhya  adalah  merupakan  bentuk yadnya yang dilakukan setiap hari dengan kurun waktu pagi  hari,   tengah  hari  dan pada waktu senja ataupun malam hari saat sebelum tidur. Tujuannya adalah memuja  kemahakuasaan-Nya, mohon anugrah, keselamatan dan mohon  pengampunan   atas kekurangan-kekurangan yang kita lakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

b.      Yadnya Sesa , yaitu yadnya yang merupakan banten saiban (jotan). Yadnya Sesa ini di-

b.persembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa  beserta

b.manifestasinya, setelah selesai memasak atau sebelum menikmati makanan.

 

 

Dalam kitab Bhagawadgita III. 13 disebutkan :

“Yajna sishtasinah santo, Mucyante sarva kilbisaih, Bhunjate te tv agham papa, Ye pacanty atma karanat

Artinya :

Yang baik makan setelah bhakti, Akan terlepas dari segala dosa , Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri, Mereka ini sesungguhnya makan dosa.

 

Tujuannya yaitu :

·         Menyampaikan  rasa bersyukur atau  terimakasih “Suksmaning Manah” kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta  Prabhawanya atas Anugrahnya kepada kita sekalian.

·         Belajar dan berlatih melakukan pengendalian diri

·         Melatih sikap tidak mementingkan diri sendiri.

 

c.       Jnana yadnya adalah yadnya dalam bentuk pengetahuan.seperti : melaksanakan proses belajar mengajar

http://retnoeka.files.wordpress.com/2012/11/b71.jpgHasil gambar untuk gambar yadnya sesa

 

2).  Naimitika Karma Yadnya : yaitu yadnya yang dilaksanakan  pada  waktu-waktu  tertentu.

Bentuk-bentuk pelaksanaan  Naimitika Karma Yadnya ini seperti   melaksanakan  upacara    persembahan pada hari raya suci dan hari-hari pujawali atau piodalan, seperti :

 

a)      Berdasarkan perhitungan sasih / bulan.

Yadnya yang dilaksanakan pada hari-hari suci yang datangnya berdasarkan perhitungan sasih seperti Purnama, Tilem, Siwa Ratri, Nyepi atau Tahun Baru Saka.  Persembahan ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang   Maha  Esa beserta manifestasinya.      

 

b)      Berdasarkan perhitungan Pawukon.

Yadnya yang dilaksanakan pada hari-hari suci yang datangnya berdasarkan perhitungan Pawukon seperti : Saraswati, Pagerwesi, Galungan, Kuningan dan yang lainnya. Persembahan ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan  Yang  Maha   Esa beserta manifestasinya.

 

 

 

 

c)      Berdasarkan perhitungan wara

Yaitu perpaduan antara tri wara dengan panca wara seperti hari kajeng kliwon. Kemudian perpaduan antara sapta wara dengan panca wara seperti buda wage, buda kliwon dan anggara kasih.

 

3). incidental adalah yadnya yang dilaksanakan atas dasar adanya peristiwa atau kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal dan dipandang perlu untuk melaksanakan yadnya.

 

Dalam kehidupan ini banyak kegiatan dan peristiwa-peristiwa penting yang sering  kita hadapi. Menurut keyakinan umat Hindu kejadian itu dipandang  perlu  untuk  melaksaanakan yadnya,seperti : Ngulapin, Melaspas, Rsi Gana, Sudi Wadani dan yang lainnya.

 

Yadnya menurut sifat (bentuk, wujud)nya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1). Yadnya Sekala : yaitu yadnya yang bersifat  nyata,  berbentuk,  berwujud  seperti  barang-  barang (benda-benda), materi meliputi : sandang, pangan,  papan,  perhia-san, uang serta barang lainnya.

2). Yadnya Niskala : yaitu yadnya yang bersifat tidak nyata,seperti ilmu pengetahuan,dharma,

                                 nasehat, pikiran.

Yadnya Sekala - Niskala ini disebut juga dengan  istilah   Yadnya  Wahya-Adhyatmika, lahir bathin, nyata tidak nyata. Kedua bentuk yadnya ini  patut kita laksanakan untuk mencapai kebahagiaan serta keseimbangan lahir bathin, jasmani-rohani.

 

Sedangkan yadnya berdasarkan sarana dan bentuk pelaksanaannya dijelaskan ada lima bentuk yadnya, yaitu :

1). Drwya Yadnya                   : yaitu yadnya dengan sarana material.

2). Tapa Yadnya                       : yaitu yadnya dengan tapa.

3). Yoga  Yadnya                     : yaitu yadnya dengan melaksanakan yoga.

4). Swadhyaya Yadnya            : yaitu yadnya dengan mempelajari ajaran suci.

5). Jňana Yadnya                     : yaitu yadnya dengan ilmu pengetahuan.

(Kitab Bhagawadgita IV.28)

 

            Dalam kitab Manawa Dharmasastra I.74 pembagian panca yadnya yaitu :

1.      Ahuta yaitu persembahan mengucapkan doa-doa suci weda

2.      Huta adalah persembahan dengan api homa

3.      Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali ke hadapan para bhuta

4.      Brahmahuta yaitu yadnya dengan menghormati Brahmana

5.      Prasita adalah yadnya dengan persembahkan tarpana kepada para pitara.

 

 

Dalam kitab Sathapata Brahmana pembagian panca yadnya yaitu :

1.      Bhuta yadnya yadnya yang dipersembahkan kepada pra bhuta

2.      Manusa yadnya adalah persembahan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesama manusia.

3.      Pitra yadnya adalah yadnya yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha

4.      Dewa yadnya adalah persembahan ke hadapan para dewa yang disebut swaha

5.      Brahma yadnya adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci weda.

 

Dalam kitab Gautama Dharmasastra dijelaskan ada tiga pembagian yadnya yaitu :

1.      Dewa yadnya adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa amodaya

2.      Bhuta yadnya adalah persembahan ke hadapan Lokapala (dewa pelindung) dan paradewa penjaga pintu pekarangan, pintu rumah serta pintu tengah rumah

3.      Brahma yadnya adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci weda.

 

Dalam lontar Korawa Srama pembagian panca yadnya yaitu :

1.      Dewa yadnya adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama

2.      Rsi yadnya adalah persembahan punia, buah-buahan, makanan dan barang-barang yang tidak mudah rusak kepada para maha rsi

3.      Manusa yadnya adalah memberikan makanan kepada masyarakat

4.      Pitra yadnya adalah persembahan puja dan bali atau banten kepada para leluhur

5.      Bhuta yadnya adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.

 

Dalam lontar Singhalanghyala pembagian panca yadnya yaitu :

1.      Bojana patra yadnya adalah persembahan dengan menghidangkan makanan

2.      Kanaka ratna yadnya adalah persembahan berupa mas dan permata

3.      Kanya yadnya adalah persembahan berupa gadis suci

4.      Brata tapa Samadhi yadnya adalah persembahan dengan melaksanakan tapa, brata dan Samadhi

5.      Samya jnana yadnya adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian

 

Dalam lontar Agastya Parwa pembagian panca yadnya yaitu :

1.      Dewa yadnya yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian ke hadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan Dewa

2.      Rsi yadnya yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci

3.      Pitra yadnya yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa

4.      Bhuta yadnya yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma

5.      Manusa yadnya yaitu persembahan dengan member makanan kepada masyarakat.

 

Yadnya adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk melakukan persembahan kepada Tuhan. Dengan demikian ada beberapa unsur yang mutlak yang terkandung dalam yadnya. Unsur-unsur tersebut yaitu adanya perbuatan, ketulus ikhlasan, kesadaran dan persembahan

 

Jadi semua perbuatan yang berdasarkan dharma dan dilakukan dengan tulus ikhlas biasa disebut yadnya. Dalam kitab Bhagawadgita ada dijelaskan bahwa belajar dan mengajar didasari oleh keikhlasan serta penuh pengabdian untuk memuja Tuhan, tergolong yadnya. Memelihara alam lingkungan juga disebut yadnya. Mengendalikan hawa nafsu dan panca indriya adalah yadnya.

 

Demikian pula membaca kitab suci Weda, sastra agama yang dilakukan dengan tekun dan ikhlas, adalah yadnya. Saling memelihara, mengasihi sesama makhluk hidup juga disebut yadnya. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang yang sedang ditimpa kesusahan adalah yadnya. Jadi jelaslah, yadnya itu bukanlah terbatas pada kegiatan upacara keagamaan saja. Upacara dan upakaranya merupakan bagian dari yadnya.

 

 Demikianlah bentuk-bentuk pelaksanaan yadnya dalam berbagai tingkatan, yadnya yang sesungguhnya yadnya bukanlah terbatas hanya pada pelaksanaan upacara-upacara yang diiringi dengan berbagai sarana atau peralatan semata-mata dalam melaksanakan yadnya. Adapun pengabdian dan pengorbanan yang tertinggi adalah orang yang secara ikhlas telah mengorbankan seluruh kehidupannya, seluruh jiwa dan raganya demi untuk menegakkan dharma dan demi untuk kebahagiaan bersama.

 

Demikian pula rumusan Panca Yajna di atas yang berdasarkan atas sumber-sumber kitab suci serta pustaka suci dan sastra agama. Setiap masing-masing sumber memiliki penjelasan yang berbeda-beda, namun saling melengkapi serta yang paling penting menjadi landasan Panca Yajna adalah jnana, karma dan bhakti.

 

5.Pokok-pokok Ajaran Panca Yadnya.

 

Panca Yadnya adalah lima macam korban suci yang patut dipersembahkan oleh umat Hindu ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya. Tujuannya adalah untuk mewujudkan sradha atau keyakinan, menyampaikan rasa hormat, memohon kesucian, perlindungan dan menyampaikan rasa syukur atas rahmat yang dianugrahkan-Nya. Pelaksanaan Panca Yadnya merupakan realisasi dari ajaran Tri Rna yaitu tiga macam hutang  yang kita miliki dalam hidup dan kehidupan ini yang wajib kita bayar. Adapun kelima macam korban suci tersebut antara lain  :

1.      Dewa Yadnya

2.      Rsi Yadnya

3.      Pitra yadnya

4.      Bhuta Yadnya

5.      Manusa Yadnya

 

1. Dewa Yadnya

 

·         Pengertian Dewa Yadnya :

Dewa Yadnya adalah korban suci atau pemujaan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para Dewa dan segala manifestasinya. Berbhaktim, sujud merupakan dasar keimanan yang pertama dalam Panca yadnya.

 

·         Tujuan Dewa Yadnya  :

1)   Menyampaikan rasa hormat dan bhakti kepada Tuhan atas segala rahmat dan nikmat yang dianugrahkan kepada umat-Nya.

2)   Mohon perlindungan, berkah, kesejahteraan, umur panjang, kesaksian, kemuliaan, bimbingan, keselamatan, kesucian, kesempurnaan dan kekuatan lahir bathin.

3)   Mengucapkan syukur atas peningkatan kesucian lahir bathin.

 

·         Pelaksanaan Dewa Yadnya :

1)    Melaksanakan persembahyangan kepada Sang Hyang Widhi

2)    Mempelajari dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan ajaran tentang Ketuhana

3)    Tirtha Yatra ke tempat-tempat suci dan mengembangkan ajaran dharma

4)    Membangun tempat-tempat ibadah

5)    Berdana punia bila ada upacara di Pura

6)    Menghaturkan canang dengan sesarinya tatkala melakukan persembahyangan

7)    Bakti sosial (ngayah) pada suatu tempat-tempat suci dengan penuh keikhlasan

 

            2. Rsi Yadnya

·         Pengertian Rsi Yadnya

 

 Rsi Yadnya terdiri dari kata Rsi dan Yadnya. Rsi dalam bahasa Sanskerta berarti pendeta, pertapa, brahmana. Sedangkan kata Yadnya berarti korban, selamatan, upacara kurban. Rsi Yadnya berarti korban suci atau persembahan kehadapan para Brahmana atau para Maharsi atas jasa beliau dalam membina umat dan mengembangkan ajaran agama.

 

   Kalau kita terima agama itu adalah sebagai obat maka para kaum Brahmana telah berjasa dapat memberikan obat kepada umat, sehingga umat memiliki kesehatan mental dan spiritual.Kalau kita terima juga bahwa agama itu laksana obor, berarti para Brahmana memberikan suluh menghilangkan kegelapan bagi pemeluknya, berarti para Brahmana atau para Maharsi telah berjasa menjadikan dunia cemerlang karena ilmu agama disebarkan dan dikembangkan oleh beliau kepada pemeluknya.

 

  Demikian juga kalau diterima bahwa agama itu adalah memuliakan hidup berarti para Maharsi atau kaum Brahmana telah berjasa pula karena mereka dapat menuntun umat manusia untuk hidup lebih berkembang dan utuh yakni manusia yang memiliki keseimbangan jasmani dan rohani, hal ini sesuai dengan tujuan agama Hindu yakni  Moksartham Jagadhita.

 

Kalau kita menyadari diri kita ketika baru lahir mempunyai keadaan putih bersih belum tahu apa-apa, tetapi sekarang kita melihat diri dan menyadari kita tahu membaca, menulis, berhitung, tahu pengetahuan agama dan tahu ilmu-ilmu yang lain, sesungguhnya itu terjadi akibat jasa-jasa dari para arif bijaksana yang dengan tulus ikhlas menyebarkan pengetahuan itu. Bukankah hal di atas jasa para Maharsi. Bukankah kita mengakui bahwa kebodohan (awidya) itu menyebabkan kemelaratan, kesengsaraan di atas dunia ini. Jadi melenyapkan kebodohanlah tugas besar Maharsi dalam mengemban umat yang berkelanjutan. Dimana terdapat kaum arif bijaksana pengemban dharma berada, disana terwujud kemuliaan. 

 

·         Tujuan Rsi Yadnya  :

·           Adapun tujuan dilaksanakan Rsi Yadnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan para Maharsi atau pendeta dan bagi orang-orang suci yang telah mengamalkan ajaran-Nya. Bila kesejahteraan telah terjamin keberadaannya disertai dengan kesucian lahir dan bathinnya maka para Sulinggih akan dapat dengan tenang mempelajari dan mendalami kitab suci Weda kemudian mengamalkan serta mengajarkan kepada masyarakat sebagaimana mestinya.

  Dengan demikian wajib hukumnya untuk membayar hutang kepada mereka sebagai balas jasa atau balas budhi. Untuk membalas hutang tersebut diwajibkan untuk beryadnya kepada para Maharsi dan Brahmana. Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Rsi Yadnya.

 

·         Pelaksanaan Rsi Yadnya  :

·              Bagaimana suatu sikap atau langkah yang dapat dikatagorikan sebagai amalan Rsi Yadnya. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut  :

·1)         Hormat dan bhakti kepada para Brahmana

·2).        Memberikan tuntunan terhadap calon Sulinggih

·3)         Menobatkan seorang Sulinggih

·4)         Memberikan punia kepada para Rsi pada hari-hari tertentu

·5)         Tekun mempelajari kitab-kitab suci

·6)         Memperingati hari turunnya ilmu pengetahuan suci yakni hari Saraswati

·7)         Mengembangkan dan menyebarluaskan ajaran Weda

·8)         Menggali, menghayati dan melaksanakan ajaran Weda

·9)         Menghaturkan daksina kepada Pendeta sebagai ucapan terima kasih terselenggaranya upacara

 

  Dikatakan mereka yang rajin melakukan punia dan tidak lupa memberi daksina kepada para Pendeta karyanya pasti berpahala. Bahkan pengisian “Sarin Canang” pada waktu upacara, itupun merupakan Rsi Yadnya. Karena itu bila menyampaikan “sesajen” berupa canang sari atau lainnya  jangan lupa mengisi sarin canang berupa uang sebagai daksina atau yadnya.

 

 Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan, “Rsi Yadnya ngaranya kapujan ring pandeta sang wruh ring kalingganing dadi wang” artinya Rsi Yadnya adalah berbakti kepada pendeta dan kepada orang yang tahu hakikat diri menjadi manusia.

Dengan demikian melayani Pendeta sehari-hari maupun saat-saat beliau memimpin upacara tergolong melaksanakan Rsi Yadnya.

 

·         Bentuk-bentuk upacara Rsi Yadnya  :

·           Dalam praktek kehidupan pelaksanaan upacara Yadnya di masyarakat yang digolongkan sebagai upacara Rsi Yadnya adalah  upacara Rsi Bhojana yaitu upacara penghormatan kepada para Sulinggih atau Pendeta.  Bentuk upacara Rsi Bhojana yang dimaksud adalah menyuguhkan makanan yang disajikan dengan sangat hormat kehadapan para Sulinggih atau Pendeta.

 

3.Pitra Yadnya

·         Pengertian Pitra Yadnya  :     

           Pitra Yadnya berasal dari kata Pitra dan Yadnya. Kata pitra (pitara) berarti orang tua, leluhur yang terhormat. Yadnya berarti persembahan, korban suci, pemujaan dengan hati yang ikhlas. Pitra Yadnya adalah korban suci yang dilaksanakan dengan hati yang tulus ikhlas kehadapan para leluhur atau orang tua baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

 

Pitra Yadnya adalah yadnya yang dilakukan untuk para Pitra. Pitra atau Pitara adalah roh suci leluhur, orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia dan disucikan. Arwah yang belum disucikan disebut Preta bukan Pitara. Selama belum disucikan dianggap sering gentayangan dan sering mengganggu. Adapun gangguan itu sifatnya memberi peringatan kepada para sentananya agar melakukan balas budhi dengan melakukan upacara pengabenan atau Pitra Yadnya. Apabila upacara itu telah dilakukan, maka berubah status Preta itu menjadi Pitara.

 

Sebagai Pitara, roh atau atmanya yang masih selalu berhubungan dan cendrung akan datang kembali. Untuk meningkatkan status Pitra ke tingkat yang lebih tinggi yaitu setingkat dengan Dewa-dewa dapat dilakukan dengan melaksanakan upacara khusus yang disebut upacara Atma Wedana.

 

·         Tujuan Pitra Yadnya  :

1.      Untuk mensejahterakan dan dan membahagiakan kehidupannya

2.      Untuk membantu mempercepat proses kembalinya unsur-unsur  panca maha bhuta keasalnya dan bersatunya roh / jiwatman menuju Brahman

3.      Untuk membayar hutang, karena be berjasa telah melahirkan  dan memelihara generasinya

4.      Untuk memuliakan kebaradaannya, karena diyakini beliau telah suci.

 

·         Bentuk-bentuk pelaksanaan Pitra Yadnya  :

1.      Menghormati orang tua

2.      Berusaha menuruti nasehat orang tua

3.      Menjamin orang tua setelah mencapai usia lanjut termasuk menjamin makanan, kesehatan atau hal yang menyangkut sandang, pangan dan papan.

4.       Berusaha untuk bahagiakan orang tua dalam hidupnya

5.      Membuat, memelihara, menjaga tempat suci keluarga 

 

·         Bentuk-bentuk upacara Pitra Yadnya  :  

·          

Pada garis besarnya, upacara Pitra Yadnya dapat dibagi dalam beberapa tahap atau tingkatan, yaitu  :

 

1.      Sawa Wedana

Disebut  juga Sawa Preteka,  artinya  mengupacarai   sawa  (jenasah)    yang    baru  meninggal  agar  dapat  kembali  kepada Panca Maha Bhuta, hal ini dapat dilakukan dengan jalan:  dikuburkan dan  dibakar.

 

 

 

2.       Asti Wedana

Mengupacarai  jenasah setelah menjadi tulang kemudian dibakar, sesudah   menjadi abu dihanyut ke laut atau ke sebuah sungai yang bermuara ke laut.   Upacara ini umum disebut ngaben.

 

3.      Swasta Wedana

Upacara  pembakaran terhadap jenasah  yang  tidak  dapat  lagi  ditemukan. Dalam upacara ini wujud tulang  belulang  atau  jasad  itu  diganti dengan suatu  simbolik  yang  terbuat  dari  jalinan  rumput  ilalang  yang  disebut  dengan  kusa sarira  atau  dapat  pula  diwujudkan  dengan  air  suci disebut dengan Toya Sarira.

 

4.      Ngelungah

Upacara   ini  dilakukan  terhadap  jenasah   yang   masih   anak-anak   yang   berumur diatas tiga bulan dan belum tanggal giginya. Sedangkan bagi anak-anak yang belum berumur tiga bulan meninggal, jasadnya hanya dikubur saja. Bila sudah berumur diatas tiga bulan dan sudah tanggal giginya almarhum diaben seperti orang dewasa.

 

5.      Atma Wedana    :   upacara pengembalian atma dari alam pitara ke alam Hyang Widhi. Upacara ini dilaksanakan setelah selesai upacara sawa Wedana.

Tujuan upacara Atma wedana ini adalah untuk meingkatkan tatus  kesucian roh orang yang meninggal. Semula berstatus Preta menjadi  Pitara   (Dewa Hyang Pitara). Sejalan dengan ini juga berarti  mengembalikan   Atma   ke Paramatma. Upacara Atma Wedana ini sering juga disebut  ;

a.  Nyekah             c. Maligia                    d.  Ngeroras

 b. Mukur,              d. Ngeluwer 

 

Dengan upacara  ini  leluhur  yang  telah  diaben  tujuannya  meningkatkan statusnya  dari  bentuk  Pitara  menuju  Dewa  dan  dikenal  sebagai Dewa  Hyang.

 

4.      Bhuta Yadnya

·         Pengertian Bhuta Yadnya  :

     

Bhuta Yadnya adalah persemabahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kepada sekalian mahluk-mahluk bawahan baik yang kelihatan maupun tidak yang disebut Bhutakala untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta.

Istilah Bhutakala berasal dari kata “bhuta” dan “kala”. Bhuta dari kata “bhu” berarti yang ada , sedangkan “kala” berarti energi, kekuatan. Jadi Bhutakala adalah unsur-unsur alam dengan kekuatan yang dimiliki.

 

·         Tujuan Bhuta Yadnya  :

 

Upacara Bhuta Yadnya bertujuan untuk menetralisir, menenangkan atau menjadikan “somya” gejolak kekuatan alam yang bersifat negatif agar menjadi Dewa kembali sehingga kekuatan-kekuatan alam yang ada dapat memancarkan sinar kekuatannya, karena keadaan ini menjadikan alam harmonis kembali.

Pelaksanaan Bhuta Yadnya yang bersifat kerokhanian bertujuan agar dunia tiada mendapat gangguan tenaga alam. Sedangkan pelaksanaan Bhuta Yadnya yang bersifat lahiriah bertujuan agar zat panca mahabhuta dapat diolah dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan bagi Negara Nusa dan Bangsa.

 

·         Bentuk-bentuk pelaksanaan Bhuta Yadnya  :

·1).        Selalu menjaga kelestarian alam dan lingkungan

·2).        Tidak membuang limbah atau sampah sembarangan

·3).        Melaksanakan reboisasi atau penanaman pohon kembali pada lahan yang kering

·4).        Mengatur serta menjaga keharmonisan alam dengan mahluknya

 

Upacara Bhuta Yadnya yang bersifat insiden (tidak pasti) dilaksanakan bila terjadi bencana alam atau terjadi peristiwa keganjilan alam seperti gempa bumi, gelombang besar atau tsunami, hujan berkepanjangan dan sebagainya yang kurang serasi dengan kebiasaan yang ada dari waktu ke waktu dan disinyalir dapat menimbulkan bencana.

 

·         Bentuk-bentuk upakara Bhuta Yadnya 

Upakara Bhuta Yadnya mempunyai tingkatan dari yang terkecil sampai yang paling besar, seperti dijelaskan berikut ini  :

Tingkatan upakara Nista / kecil, yaitu  :

1.      Segehan,  bentuknya sangat sederhana, bahannya terdiri dari nasi, bawang, jahe, garam, arang dan dilengkapi dengan canang. Segehan ada beberapa jenis antara lain :

-           Segehan Cacahan

-          Segehan Kepel

-           Segehan Agung

-          Segehan dipersembahkan pada hari Kliwon, Purnama dan Tilem

 

2.      Gelar Sanga, yaitu segehan yang lebih lengkap dan sempurna.

Tingakatan upakara Madya, yaitu  :

Caru, bahannya mempergunakan dasar ayam. Caru ada beberapa macam antara lain  :

-          Caru Eka Sata,  bahannya satu ekor ayam yang warna bulunya  terdiri  dari  tiga  macam warna, jenis  ayam  ini disebut ayam brumbun.  Caru  ini  ada   beberapa  jenis, seperti:

a.      Caru Dengen, mempergunakan 1 ekor ayam berwarna putih  

b.      Caru Preta,  mempergunakan 1 ekor ayam berwarna merah (biying)

c.       Caru Bicaruk, mempergunakan 1 ekor ayam berwarna putih siungan.

d.      Caru Panca Sata, bahannya lima ekor ayam yang masing-masing mempunyai warna bulu yang berbeda, seperti putih, biying, putih siungan, hitam dan brumbun.      

-          Caru Panca Sanak, menggunakan dasar Caru Panca Sata ditambah dengan asu bang bungkem dan bebek bulu sikep.

-          Caru Panca Kelud, menggunakan  dasar  Caru  Panca  Sata  ditambah  dengan    binatang  seperti kambing dan angsa.

-          Caru Balik Sumpah,menggunakan dasar Caru Panca Kelud,hanya ditambah dengan bawi butuan dan  banteng.

-          Caru Rsi Gana, menggunakan dasar Caru Panca Sata, hanya  ditambah binatang asu.

3.      Tingkatan Upakara Utama, yaitu  :

-          Tawur, menggunakan dasar Caru Panca Sata dan binatang  lain  seperti  diatas  dan   ditambah    satu ekor binatang kerbau.

-          Caru Pasapuh-sapuh, menggunakan dasar Caru Panca Sata dan  binatang  lain  seperti  diatas,tetapi ditambah tiga ekor kerbau

-          Panca Wali Krama, menggunakan dasar Caru Panca Sata ditambah lima ekor kerbau.

-          Eka Dasa Rudra, menggunakan  dasar  Caru  Panca  Sata  dan  berbagai  jenis  binatang,  dari  binatang peliharaan sampai dengan binatang hutan, burung dan  juga  ditambah  binatang  laut    serta kerbau 26 ekor.

 

5.      Manusa Yadnya

·         Pengertian Manusa Yadnya

 

 Manusa Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas untuk memelihara dan menyucikan lahir bathin manusia sejak terjadi pembuahan didalam kandungan sampai akhir hidupnya.

Pembersihan lahir bathin manusia selama hidupnya dianggap perlu agar dapat menerima ilham / petunjuk suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga selama hidupnya tidak menempuh jalan yang sesat, melainkan dapat berpikir, berbicara dan berbuat yang benar dan akhirnya setelah meninggal roh / Atmmanya menjadi suci bisa bersatu kembali kehadapan Tuhan.

 

Weda Parikrama menjelaskan, tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, dan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.

Berkaitan dengan ini berarti kita harus membersihkan diri terhadap semua hal diatas.

 

·         Tujuan Manusa Yadnya 

1.      Untuk menyucikan lahir bathin manusia.

2.      Untuk kesempurnaan lahir bathin manusia.

3.      Untuk meningkatkan status manusia ke tingkat yang lebih tinggi.

4.      Untuk menjadikan manusia itu sempurna sehingga dapat berhubungan dengan Tuhan.

5.      Untuk memberikan perlindungan secara spiritual sehingga luput dari segala gangguan.

6.      Untuk meningkatkan budhi daya manusia sehingga menjadi lebih mulia.

 

·         Bentuk-bentuk Pelaksanaan Manusa Yadnya

1.      Menyucikan serta mendidik anak sehingga bisa menjadi orang baik dan berguna

2.      Memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang memerlukan bantuan

3.      Saling mengasihi dan memelihara sesama makhluk hidup

4.      Menghibur orang yang sedang mengalami kesusahan

5.      Saling menghormati sesama

6.      Tidak menyakiti dan menghina

7.      Mengentaskan kemiskinan

 

Pelaksanaan manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari dapat berwujud materi dan juga spiritual, misalnya berupa uang, makanan, minuman atau hal-hal yang termasuk dalam sandang, pangan dan papan. Kemudian pemberian ilmu pengetahuan, nasehat, petunjuk, jasa dan sejenisnya termasuk yang bersifat spiritual.

 

·         Bentuk-bentuk Upacara Manusa Yadnya

Adapun waktu-waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara adalah : 

1.      Bayi dalam kandungan dibuatkan Upacara Pagedong-gedongan

2.      Bayi baru lahir dibuatkan Upacara Mapag Rare

3.       Bayi tatkala kepus puser dibuatkan Upacara kepus Puser

4.       Bayi berumur 12 hari dibuatkan Upacara Ngelepas Hawon

5.      Bayi berumur 42 hari dibuatkan Upacara Kambuhan

6.       Bayi berumur 3 bulan (105) hari dibuatkan Upacara Nyambutin

7.      Bayi berumur 6 bulan (210) hari dibuatkan Upacara Otonan

8.       Bayi baru tumbuh gigi dibuatkan Upacara Ngempugin

9.       Anak giginya tanggal untuk yang pertama kalinya dibuatkan Upacara Makupak

10.   Anak yang sudah meningkat remaja dibuatkan Upacara Rajaswala

11.   Anak menjadi dewasa giginya dipotong dibuatkan Upacara Metatah (Mapandes

12.    Bila mendalami ilmu kerohanian maka dibuatkan Upacara Mawinten (Mapodgala

13.    Bila membentuk rumah tangga atau kawin dibuatkan Upacara Pawiwahan

14.   Bila ingin menjadi pendeta dibuatkan Upacara Diksa

           

            Dengan demikian sudah jelas bahwa satu putaran hidup menjadi manusia banyak sekali dibuatkan upacara Manusa Yadnya.

            

            Kita mohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, melalui upacara ritual seperti disebutkan diatas dijaman perkembangan umat Hindu sekarang ini, Manusa Yadnya yang diberikan kepada anak akan lebih berguna bila peningkatan sumber daya manusia itu diantisipasi dengan lebih awal. Oleh karena itulah agar anak-anak merasa lebih mandiri dan berdaya guna nanti, ia patut diberikan jaminan hidup yang cukup, fasilitas, pendidikan dan terdidik.

            Tingkatan - tingkatan yadnya menurut kwantitasnya.

1.      Kanista      : artinya yang terkecil. Yadnya yang tingkatannya kanista untuk mereka yang  berpenghasilan rendah.  Dibagi menjadi tiga yaitu :

-          Nistaning nista adalah terkecil diantara yang kecil

-          Madyaning nista adalah sedang diantara yang kecil

-          Utamaning nista adalah terbesar diantara yang kecil

 

2.      Madya       : artinya menengah atau sedang.  Bagi  mereka  yang   berpenghasilan  menengah,  maka yadnya yang madyalah yang perlu dilaksanakan. Terdiri dari tiga tingkatan yaitu :

-          Nistaning madya adalah terkecil di antara yang sedang

-          Madyaning madya adalah sedang diantara yang menengah

-          Utamaning madya adalah terbesar diantara yang sedang

 

3.      Uttama : artinya tertinggi atau besar. Yadnya tingkat uttama cocok untuk  orang yang berpenghasilan besar. Terdiri dari dari tiga tingkatan yaitu :

-          Nistaning utama adalah terkecil diantara yang besar

-          Madyaning utama adalah sedang diantara yang besar

-          Utamaning utama adalah yang paling besar

 

            Dari tingkatan-tingkatan yadnya yang tersebut di atas tidak berbeda dari segi kwalitas karena semua didasari dengan bhakti. Perbedaan itu ada dari segi kwalitas atau banyak sedikitnya sarana yang dipergunakan. Tingkatan yadnya itu pula sesungguhnya mendidik umat agar dapat menyesuaikan kemampuan dalam usaha mereka mendekatkan diri kepada Tuhan. Sangatlah tidak sesuai atau kurang dapat diterima bila dipertanyakan oleh orang lain maksud dan tujuannya.

 

            Demikian pula sebaliknya, bagi orang yang kaya melaksanakan yadnya yang kecil, sungguh suatu hal yang kurang pantas. Walaupun yadnya itu suatu bentuk  keikhlasan berkorban yang dilandasi oleh kesucian, tetapi bila pelaksanaannya membuat orang lain dan dirinya sendiri menderita tidaklah dapat dibenarkan.

            Demikian penjelasan di atas, maka diharapkan semua umat dapat melaksanakan yajna sesuai dengan keadaan, dan kemampuan yang ada. Keberhasilan sebuah yajna bukan ditentukan oleh kemewahan, besar kecilnya materi yang dipersembahkan. Dan belum tentu yajna yang menggunakan sarana dan prasarana yang banyak/besar akan berhasil dengan baik. Keberhasilan suatu yajna sangat ditentukan oleh kesucian dan ketulusan hati, serta kualitas daripada yajna tersebut.

 

            Dalam kitab Bhagawadgita XVII 11-13 dijelaskan terdapat tiga kualitas pelaksanaan yadnya yang perlu diperhatikan, yaitu  :

1.      Tamasika Yadnya   : adalah yadnya yang dilaksanakan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina dan sradha.

2.        Rajasika Yadnya    : adalah yadnya yang dilaksanakan dengan penuh  harapan  akan  hasilnya dan  penuh harapan akan hasilnya dan bersifat pamer dan kemewahan.

3.      Satwika Yadny : adalah yang dilaksanakan berdasarkan Sraddha,Lascarya,Sastra,Daksina,Mantra dan gita, Annasewa, Nasmita.

 

            Dari tiga kwalitas pelaksanaan yadnya tersebut di atas, dijelaskan ada tujuh syarat yang patut dilaksanakan untuk mewujudkan  Satwika Yadnya  yaitu  :

 

1)      Sraddha     :  artinya melaksanakan yadnya dengan penuh keyakinan

2)       Lascarya  :  artinya yadnya yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.

3)       Sastra       :  artinya melaksanakan yadnya dengan berlandaskan sumber sastra, yaitu : Sruti, Smerti, Sila, Acara, dan Atmanastusti.

4)      Daksina     :  yaitu pelaksanaan yadnya dengan sarana upacara (benda dan uang).

5)      Mantra dan Gita : yaitu yadnya yang dilaksanakan dengan melantunkan lagu-lagu suci.

6)       Annasewa : adalah yadnya yang dilaksanakan dengan  persembahan  jamuan  makan  kepada para tamu yang menghadiri upacara (Atitiyadnya).

7)      Nasmita     : adalah yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk memamerkan   kemewahan maupun memamerkan kekayaan.

 

            Banyak dan sedikitnya harta benda serta kemewahan yang ditampilkan dalam beryadnya adalah bukan merupakan jaminan yang mutlak berhasilnya suatu yadnya yang dilaksanakan oleh seseorang, lebih-lebih semuanya itu dilaksanakan dengan penuh keragu-raguan. Sesungguhnya tinggi rendahnya kwalitas punia atau persembahan sepenuhnya tergantung pada ketulusan pikiran yang mempersembahkannya. Dari unsur sarana atau benda upacara.

Dari uraian tersebut di atas pada prinsipnya yang patut diperhatikan dalam melaksanakan yadnya adalah  :

1.      Keyakinan atau sraddha. 

2.      Ketulusan hati.

3.      Kesucian

4.      Berpedoman pada sastra agama

5.      Penyucian dengan tempat, waktu dan kondisinya.

6.      Upacara dan upakara (daksina).

7.      Adanya puja mantra dan gita, serta yang lainnya

6.  Nilai-nilai Yadnya Dalam Kehidupan.

                       

                        Sebagaimana telah dijelaskan bahwa yadnya bukan berarti upacara agama saja tetapi juga perbuatan yang dilandasi atas keikhlasan dan kesucian hati. Jadi disini yadnya artinya adalah karma untuk persembahan. Yadnya itu sifatnya timbal balik. Tuhan menciptakan alam dengan segala isinya termasuk manusia dengan yadnya. Oleh karena demikian manusia harus beryadnya kepada Tuhan dan alam juga termasuk kepada sesama manusia. Semua yang kita peroleh dalam hidup ini sesungguhnya berasal dari pengorbanan yang tulus ikhlas (yadnya). Berdosalah kita yang hidup ini, bila tidak berkeinginan dan bersikap untuk membalas budi baik yang telah kita terima dari yang mendahului diri kita ini. Seluruh yang dimiliki oleh manusia sesungguhnya adalah merupakan hutang dari hidup ini. Dalam ajaran agama Hindu telah dijelaskan bahwa kita memiliki tiga hutang  yang disebut Tri Rna. Tri Rna adalah tiga macam hutang yang wajib dibayar oleh manusia dengan melaksanakan yadnya atau persembahan yang sering disebut Panca Yadnya. Panca Yadnya adalah lima unsur yang patut diberikan persembahan, sebagai realisasi dari ajaran Tri Rna, yaitu para Dewa, para Rsi, para Leluhur, para Bhuta dan kepada sesama manusia.

               Pada umumnya dalam ajaran agama Hindu pelaksanaan Yadnya atau Panca Yadnya seperti disebutkan di atas diwujudkan dengan penyelenggaraan upacara. Karena upacara adalah pelaksanaan dari yadnya. Selanjutnya didalam penyelenggaraan suatu upacara akan diperlukan sarana atau perlengkapan-perlengkapan yang disebut upakara.

Bila diperhatikan perlengkapan-perlengkapan atau upakara yang diperlukan dalam suatu upacara tidaklah sama baik jumlah maupun jenisnya, namun sangat tergantung pada tempat, waktu dan keadaan seseorang yang sering disebut dengan istilah Desa, Kala, Patra.

                       

                        Desa yaitu tempat, dalam pelaksanaan yadnya sebaiknya menyesuaikan diri dengan bahan-bahan yang tersedia di tempat itu dimana upakara itu dibuat. Kala yaitu waktu, dalam pelaksanaan yadnya hendaklah diperhatikan waktu agar yadnya menjadi tepat dan terlaksana dengan baik.

      

                    Patra yaitu keadaan, pada umumnya orang tidak dapat dipaksa membuat yadnya yang besar dan yadnya yang kecil, maka dari itu keadaan harus diperhatikan. Mereka yang kaya dapat membuat yadnya yang besar sedangkan bagi mereka yang miskin cukup dengan yang kecil saja.

           

                    Pelaksanaan yadnya itu bukanlah ditentukan oleh besar dan kecilnya upakara, melainkan pada nilai bhakti itu sendiri yang mesti didasari oleh hati dan pikiran yang suci serta kondisi yang ada. Untuk menjamin adanya kelancaran, keseimbangan dan keharmonisan, maka dipandang perlu adanya

      

                    Ajaran etika dan moral yang dapat kita petik dari pelaksanaan yadnya adalah bahwa sesungguhnya yadnya itu mendidik umat manusia untuk melakukan pekerjaan dengan tulus ikhlas (dengan senang hati)    dan pekerjaan yang dilakukan diabdikan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Yadnya juga menuntun umat manusia untuk memahami hakikat dirinya, merupakan makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam kehidupan social masyarakat agar saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya. Tatacara kehidupan yang seperti itu juga merupakan yajna, karena akan mengantarkan pada kehidupan yang damai, harmonis dalam masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya tentu masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan yajna.

      

                    Banyak nilai-nilai etika social, budaya yang kita peroleh dari melaksanakan yajna seperti ketulus-ikhlasan dalam setiap perbuatan, sikap kebersamaan ( tidak mementingkan diri sendiri), pengendalian diri dengan tapa, brata, dan Samadhi, menanamkan rasa bersyukur dan terimakasih atas segala anugerah yang dilimpahkan kepada kita oleh Hyang Widhi.

      

                    Demikianlah pada hakikatnya dalam sebuah yadnya banyak sekali terkandung nilai-nilai luhur yang bila kita mampu memaknai dan melaksanakannya dengan baik akan mampu menuntun seseorang untuk mencapai tujuan yang kita  cita-citakan, yaitu “Moksartham Jagadhita” (sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat) akan tercapai.

 

 

 

 

 

 

     7.Ramayana

-          Ramayana secara umum

 

                        Cerita Ramayana merupakan suatu pendidikan rohani yang mengandung falsafah yang sangat dalam artinya. Cerita Ramayana sesuai dengan cerita kehidupan manusia dalam mencari kebenaran dan hidup yang sempurna.

 

                        Keberadaan cerita Ramayana boleh jadi memiliki perjalanan kesejarahan yang panjang serta dibawa bersamaan dengan munculnya kebudayaan Hindu dari India ke Nusantara. Dalam perjalanannya tersebut, tentu terdapat persinggungan kebudayaan yang unik antara India dengan Nusantara bahkan dengan Asia. Keunikan tersebut dibuktikan dengan munculnya berbagai versi pada masa awal persebaran cerita Ramayana dari India ke berbagai daerah di Asia hingga Nusantara. Kemunculan versi-versi yang berbeda dapat digunakan untuk melihat persinggungan budaya antara India dan daerah-daerah lain yang mengubah atau menyadur cerita Ramayana.

 

             Saat penyebaran cerita ini, terdapat kontak sejarah kebudayaan yang cukup erat antara agama Hindu di Asia dan di India. Persebaran cerita Ramayana tentu tidak dapat dipisahkan dengan agama Hindu dan Buddha dari India ke berbagai daerah di Asia. Cerita Ramayana sendiri merupakan bagian dari khazanah kesusastraan Hindu. Walaupun demikian, pendeta-pendeta Buddha juga menggunakan cerita Ramayana untuk menyebarkan agama Buddha ke berbagai daerah di Asia. Tentu saja, cerita Ramayana yang disebarkan oleh penganut Hindu dan Buddha memiliki perbedaan dan cerita tersebut disesuaikan untuk kepentinga penyebaran agama itu sendiri.

 

             Tidak hanya pengaruh agama, saat penyebaran cerita ini, terdapat pula kontak sejarah kebudayaan yang cukup erat antara agama Hindu di Asia dan di India. Kontak ini meliputi seluruh elemen yang ada dalam kehidupan, khususnya nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita Ramayana. Ramayana telah memainkan peran penting dalam proses perpindahan dan penyebaran elemen Hindu dari India ke Negara-negara di Asia. Nilai-nilai Hindu selalu terlihat di manapun kisah Valmiki diadopsi oleh Negara-negara di Asia. Namun, nilai-nilai Hindu ini diserap dengan memperhatikan budaya asli Negara itu. Jika nilai itu tidak bertentangan akan diambil, sedangkan jika nilai itu bertentangan akan dibuang.

 

              Ramayana merupakan salah satu bagian dari Itihasa. Itihasa disebut juga Viracarita atau cerita kepahlawanan. Ada dua Itihasa yang sangat terkenal di seluruh dunia, yaitu Ramayana dan Mahabharata. Ramayana merupakan epos tertua dalam ajaran Hindu.

 

             Ramayana adalah sebuah epos yang menceriterakan riwayat perjalanan Rama. Rama sebagai tokoh utama merupakan avatara Wisnu yang ketujuh. Rama merupakan tokoh dan pahlawanan utama dalam ceritera Ramayana, yang dianggap lebih tinggi dari Gunung Semeru, lebih besar dari langit, lebih dalam dibandingkan dalamnya samudra. Ceritera ini sangat terkenal diseluruh dunia.

 

             Kitab Ramayana ditulis oleh Maharsi Valmiki. Valmiki memiliki keahlian mampu membaca dan memawahi watak dan perasaan manusia. Hal inilah yang menyebabkan karyanya disenangi oleh masyarakat karena apa yang digambarkan oleh Valmiki berkaitan langsung dengan kehidupan manusia sehari-hari. Penggambaran social budaya, kondisi politik dan pemerintahan  masa itu sangat jelas digambarkannya. Demikian pula masalah-masalah umum yang dihadapi manusia maupun oleh bangsa, semua itu digambarkan dalam Ramayana seolah-olah benar-benar hidup.

 

             Ceritera Ramayana sangat terkenal diseluruh dunia, dan kitab ini dikenal sebagai Adikavya, sedangkan penulisnya yaitu Valmiki sebagai Adikavi, yang berarti penyair pertama. Itulah yang menyebabkan mengapa Ramayana dengan mudah dapat menguasai emosi masyarakat dan sebagai apresiasi banyak karya tulis baru yang mengambil tema tentang Ramayana. Nama lain Ramayana adalah Caturvimuati-sahasri-samhita. Syair-syair dari kitab Ramayana disebut Akhyana, Gita atau Samhita.

 

             Di Indonesia ceritera Ramayana digubah dalam bentuk kakawin Ramayana dengan menggunakan bahasa Jawa kuno oleh Mpu Yogiswara.

 

        Kekawin Ramayana adalah jenis karya sastra yang sangat popular. Jumlah salinan yang dapat diselamatkan memberikan kesaksiaan mengenai popularitasnya. Berdasarkan penelitiaan para ahli telah dapat menunjukkan bahwa kakawin Ramayana bersumber kepada Ravanavadha karangan Bhatti (Bhattikavya).

 

             Ramayana merupakan epos Aryanisasi yang ditulis dalam bentuk stansa/sloka. Ramayana terdiri dari hamper 24.000 stansa/sloka, terbagi menjadi 7 bagian dengan istilah “Sapta Kanda” yaitu :

1.      Bala kanda

2.      Ayodhya kanda

3.      Aranya kanda

4.      Kiskinda kanda

5.      Sundara kanda

6.      Yudha kanda

7.      Uttara kanda.

 

-          Sinopsis Cerita Ramayana

 

Raja Dasarata di Ayodya mempunyai beberapa istri. Dengan permaisuri ia berputra Rama. Dengan istrinya yang ke-2 bernama Kaikeyi berputra seorang bernama Barata. Putra-putranya yang lain ialah Laksamana dan Satrugna. Putra-putranya ini dididik sebagaimana pendidikan yang diberikan para putra raja.

 

Dalam suatu sayembara Rama mendapat Dewi Sita yang sangat, cantik sebagai istrinya. Dewi Sita adalah anak raja Janaka yang memerintah di Mitila.

Pada waktu Dasarata sakit ia pernah berjanji kepada Kaikeyi bahwa kelak tahta kerajaan akatt diserahkan kepada Barata, untuk membalas jasa Kaikeyi yang telah dengan tekun merawatnya.

 

Setelah Dasarata tua, tahta kerajaan diserahkan kepada Rama. Karena itu Kaikeyi menggugat dan mengingatkan baginda akan janjinya dahulu. Tuntutan ibu tiri Rama itu ialah: (1) Barata harus dinobatkan menjadi raja Ayodya; (2) Rama harus dibuang dalam hutan selama 14 tahun.

 

Dasarata harus menepati janjinya sebagai seorang ksatria dan dengan sedih ia menyampaikan keputusan atas tuntutan di atas.

 

Rama mengundurkan diri dan mengembara di hutan Dandaka selama 14 tahun bersama istri dan adiknya, Laksamana. Hal ini sangat mengharukan rakyat Ayodya yang sangat mencintai Rama. Karena sedih memikirkan hal itu maka mangkatlah Dasarata.

 

Pada suatu hari Sita dirampas raksasa Wirada. Tetapi raksasa itu dapat dikalahkan Rama dan Laksamana. Pada hari lain Rama berjumpa dengan Surpanaka, adik perempuan raja Rawana yang memerintah kerajaan Langka. Surpanaka jatuh cinta kepada Rama, tapi Rama tidak mau tergoda. Begitu pula cinta Surpanaka terhadap Laksamana tidak mendapat sambutan. Bahkan Laksamana mengerat telinga dan hidung Surpanaka karena bencinya. Surpanaka segera mengadukan halnya kepada Rawana (Dasamuka = sepuluh muka) yang sudah mengetahui kecantikan Dewi Sita. Timbullah keinginannya untuk melarikan Dewi Sita.

 

Raja Rawana segera mendatangi tempat perkemahan Rama dengan pengiringnya, Narisa, yang dapat menjelma sebagai kijang emas. Narisa menjelma menjadi seekor kijang emas dan mendekat ke kemah Dewi Sita. Setelah terlihat oleh Sita, inginlah ia memiliki kijang emas itu dan minta supaya Rama mau menangkapnya. Sebelum Rama berangkat mengejar kijang emas terlebih dahulu ia membuat lingkaran kesaktian mengelilingi kemah mereka. Siapa yang masuk ke lingkaran itu tidak dapat keluar lagi. Tapi semua ini telah diperhatikan dan diketahui oleh Rawana dari jauh. Setelah Rama jauh dari kemah, mengejar kijang emas, terdengarlah pekik orang. Sita mengira Rama mendapat bahaya. Segera Laksamana disuruh Sita menyusul abangnya. Mula-mula Laksamana menolak, karena telah dipesan oleh Rama supaya Laksamana tidak meninggalkan Sita, sebelum Rama kembali. Sita lalu menyindir dengan mengatakan "Istri kakak lebih penting daripada kakak sendiri."

 

Mendengar sindiran itu, maka Laksamana menyusul abangnya. Rawana segera menghampiri kemah menjelma seorang peminta-minta, berdiri di luar lingkaran kesaktian. Ia memohon agar Sita dapat memberinya air minum karena ia sangat haus. Ketika Sita mengulurkan air minum itulah Rawana menarik tangan Sita dan langsung dibawanya terbang ke Langkapura (Sailon) tempat kerajaannya. Rama jatuh pingsan setelah kembali, Sita telah menghilang dari kemah.

 

Di udara burung Jatayu melihat Sita dibawa oleh Rawana. Jatayu segera menyerang Rawana. Tapi ia terpukul bagian sayapnya oleh gada sakti Rawana. Rawana dengan mudah mengalahkan Jatayu karena ia mempunyai sepuluh muka yang dapat melihat segenap penjuru, selain mempunyai gada sakti. Untung saja Sita sempat melemparkan cincinnya kepada Jatayu. Cincin itu diberikan Jatayu kepada Rama sebagai bukti tentang Sita, setelah pada suatu ketika Rama sampai di hutan tempat Jatayu jatuh. Jatayu-lah yang sempat memberitahukan hal Sita, sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

 

Dengan pertolongan Kabanda, Rama dan Laksamana mendapat petunjuk supaya minta bantuan kepada Sugriwa raja kera, untuk menaklukkan Rawana. Sugriwa mau membantu asalkan terlebih dahulu ia dibantu menaklukkan saudaranya, Walin, yang memusuhinya. Hanoman, Panglima Raja Kera, menyusup ke Langkapura untuk mematai-matai Rawana. Ia menyamar sebagai seekor kucing dan berhasil masuk ke istana Rawana menemui Dewi Sita. Tahulah ia bahwa Sita tidak kekurangan sesuatu apa pun. Sita sangat gembira berjumpa dengan Hanoman yang juga menyampaikan berita tentang suaminya. Tapi sayang ketika akan pulang ia tertangkap. Hanoman tidak jadi dibunuh setelah ia mengaku sebagai utusan. Sebagai ganti hukumannya, dibakarlah ekornya dengan mengikatkan bahan-bahan yang mudah terbakar. Dalam keadaan ekor terbakar Hanoman melompat-lompat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain yang menimbulkan kebakaran besar di Langkapura. Senanglah hati Rama mendapat kabar dari Hanuman bahwa istrinya, Sita, tidak diganggu Rawana.

 

Rama mulai menyusun penyerangan. Untung sekali ia mendapat bantuan Wibisana, saudara Rawana, yang menyalahkan perbuatan Rawana melarikan Sita. Dengan panah Rama yang sakti, Rama menghadapi Rahwana.

Dalam peperangan itu Rawana tewas dan Rama menang. Langkapura diserahkan kepada Wibisana yang telah membantunya. Akhirnya masa pembuangan 14 tahun selesai. Rama dan Sita pulang ke Ayodya dengan upacara yang diadakan secara besar-besaran.

 

-          Nilai-nilia Mulia Ramayana

 

            Ceritera Ramayana sesungguhnya merupakan tuntunan mulia untuk seluruh umat manusia di seluruh dunia, sejak masa yang silam sampai masa kini ceritera ini masih relevan. Ceritera ini sama seperti Amrta, sama seperti sungai Gangga yang maha suci (naditama). Ceritera ini mengandung koleksi beberapa idealism agung, seperti putra yang darwaman, seorang kakak yang ramah, suami tercinta yang penuh tanggung jawab, seorang ayah yang memenuhi kewajiban, seorang raja yang bijak dan pelindung bagi warganya. Rama yang merupakan tokoh utama dalam ceritera ini dianggap lebih tinggi daripada Gunung Semeru, lebih besar dari langit, lebih dalam dibandingkan lautan samudra, semua memuji kemuliaan Rama.

 

            Rama adalah tokoh yang memiliki sikap baik setia kepada kebenaran, bijaksana, kasih saying, tahan uji dan pemberani. Rama maryadapurusottama (Rama seseorang yang memiliki kebajikan, semua sifat-sifat mulia yang memancar). Rama adalah personifikasi dari kebenaran, kemuliaan, kebaikan, kerendahan hati dan keberaniaan. Sebagai seorang putra raja yang mulia dan baik, ia mengorbankan hidupnya untuk membantu ayahnya untuk memenuhi janjinya pada istrinya Kekayi (ibu tiri Sri Rama). Ia mengasingkan diri di hutan tanpa dendam atau kebenciaan kepada ibu tirinya itu, yang merupakan penyebab dari pembuangannya ke hutan. Sri Rama member nasehat pada adiknya, Bharata yang sangat marah kepada ibu kandungnya (Kekayi) yang membuang kakaknya ke dalam hutan. Rama tetap menasehati agar Bharata tetap menghormati dan mencintai ibunya. Semua yang dilakukan oleh Rama merupakan pengorbanan suci secara tulus ikhlas dengan mengorbankan dirinya sendiri.

 

-          Nilai-Nilai yadnya yang terkandung dalam cerita Ramayana

 

             Agama dan kepercayaan merupakan dua hal yang melekat erat dalam diri manusia. Sifatnya sangat pribadi, terselubung dan kadang-kadang diliputi oleh hal-hal yang bernuansa mitologis. Kualitas etos seseorang amat ditentukan oleh nilai-nilai kepercayaan yang melekat pada dirinya. Orang bahkan rela mempertaruhkan hidupnya demi kepercayaan yang mereka yakini sebagai kebenaran.

 

             Dalam kaitannya dengan kepercayaan, manusia tidak dapat hidup tanpa mitologi atau system penjelasan tentang alam dan kehidupan yang penjelasan dan kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga, pada urutannya, utuhnya mitologi akan menghasilkan utuhnya system nilai, dan kemudian, utuhnya system nilai itu sendiri akan memberi manusia kejelasan apa yang baik dan buruk (etika), dan mendasari seluruh kegiatannya dalam menciptakan peradaban.

 

             Keanakaragaman  ini menjadi lebih nyata akibat usaha manusia itu sendiri untuk membuat agamanya menjadi lebih berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengaitkanya dengan gejala-gejala yang nyata dan ada di sekitarnnya. Maka tumbuhlah legenda-legenda dan mitos-mitos yang kesemuanya itu merupakan pranata penunjang kepercayaan alami manusia kepada Tuhan dan fungsionalisasi kepercayaan itu dalam masyarakat.

 

             Sama halnya dengan wiracarita Ramayana yang sangat popular tidak hanya dikalangan masyarakat Hindu, yang juga sangat dikenal oleh masyarakat non Hindu di dunia. Keagungan ceritanya banyak memberikan nilai-nilai falsafah kehidupan bagi manusia dari zaman ke zaman. Termasuk pula bagi kehidupan keagamaan umat Hindu yang ada di Indonesia. Keberadaan wiracarita Ramayana merupakan sumber etika yang sangat penting dalam terciptanya peradaban Hindu di Nusantara. Dan sebagai generasi muda penerus bangsa, kita hendaknya selalu menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam epos Rmayana ini.

 

             Dalam ceritera Ramayana, ada bermacam-macam yajna, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yajna dengan yoga, yajna dengan mempelajari kitab suci, yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orangtua. Korban suci dan keikhlasan yang dilakukan  oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).

 

  1. Dewa yajna

 

Pelaksanaan Homa Yajna yang dilaksanakan oleh Prabu Dasaratha untuk memohon keturunan. Beliau meminta Rsi Resyasrengga sebagai Purohita untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa dalam upacara Agnihotra. Homa Yajna atau Agnihotra sesuai dengan asal katanya Agni berarti api dan Hotra berarti penyucian.

 

Upacara ini dimaknai sebagai upaya penyucian melalui perantara Dewa Agni. Untuk itu, kehadiran api sangat diperlukan karena hanya api yang mampu membakar bahan persembahan dan menghantarnya menuju langit. Selain itu, persembahan ke dalam api suci mendapat penguat relgius mengingat api sebagai lidah Tuhan dalam proses persembahan.

 

 Setelah upacara tersebut beliau mendapatkan empat orang ksatria dari tiga permaisurinya, yaitu Sri Rama, Bharata, Laksmana dan Satrugna. Kisah persiapan Homa Yajna yang dilakukan oleh Prabu Dasaratha, dipaparkan juga dalam kekawin Ramayana karya Empu Yogiswara.

 

Pada bagian lain dari cerita Ramayana juga disebutkan bagaimana Sri Rama dan Laksamana ditugaskan oleh Raja Dasaratha untuk mengamankan pelaksanaan Homa yang dilakukan oleh pertapa dibawah pimpinan Maharsi Visvamitra. Dari kisah tersebut, tampak jelas keampuhan upacara Homa Yajna.

 

Keagungan Yajna dalam bentuk persembahan bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulusikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan yajna.

 

  1. Pitra Yajna

 

Digambarkan  ketika Dasarata dikremasi. Pitra Yajna, digambarkan melalui sikap Rama yang berbhakti kepada Ayahnya dengan mentaati sumpah ayahnya. Demi memenuhi janji orang tuanya (Raja Dasaratha), Sri Rama, Laksamana, dan Dewi Sita mau menerima perintah dari sang Raja Dasaratha untuk pergi ke hutan meninggalkan kekuasaannya sebagai raja di Ayodhya.

 

Walaupun itu bukan merupakan keinginan Raja Dasaratha dan hanya sebagai bentuk janji seorang raja terhadap istrinya Dewi Kaikeyi. Sri Rama secara tulus dan ikhlas menjalankan perintah orangtuanya tersebut. Bersama istri dan adiknya Laksamana hidup mengembara di hutan selama bertahun-tahun.

 

Dari kisah ini tentu dapat dipetik suatu hakikat nilai yang sangat istimewa bagaimana bhakti seorang anak terhadap orang tuanya. Betapapun kuat, pintar dan gagahnya seorang anak hendaknya selalu mampu menunjukkan sujud bhaktinya kepada orang tua atas jasanya telah memelihara dan menghidupi anak tersebut.

 

Tertuang pada Kekawin Ramayana Treyas Sargah bait 9 sebagai berikut :

“Sawet nikana satya sang prabhu kinon ng anak minggata, kadi pwa ya hilang ng asih nira hidep nikang mwang kabeh, gelana mangarang n ngalah salahasatimoha ngesah, hamom ta sahana nya kapwa umaso ri Sang Raghawa”.

Artinya :

Karena setianya sang prabhu (akan janji) disuruh putranya supaya pergi. Seperti lenyaplah kasih sayangnya, demikian pikir orang banyak. Gundah gulana, sedih. Kecewa amat bingung dan berkeluh kesah. Maka berundinglah semuanya menghadap Sang Rama.

 

c.     Manusa yadnya

 

 cerita Ramayana juga tampak jelas bagaimana nilai manusia yajna yang termuat di dalam uraian tersebut. Hal ini dapat dilihat pada kisah yang menceritakan Sri Rama mempersunting Dewi Sita. Digambarkan  juga ketika Bharata melaksanakan upacara penobatan sebagai Raja. Tergambar juga dalam bentuk persahabatan antara Rama dengan Sugriwa untuk saling tolong menolong.

 

Tertuang dalam Kekawin Ramayana Dwitiyas Sargah bait 63 sebagai berikut :

Ranak narendra gunamanta susila bhakti, Sang Ramadewa tamatan papade rikeng rat, Sita ya bhaktya ryanak naranatha tan len, nahan prayojana narendra pinet mara ngke”.

Artinya :

Putra tuanku gunawan, susila dan bhakti. Sang Ramadewa tiada tandingnya di dunia ini. Sita akan bhakti kepada putra tuanku, tidak lain. Itulah tujuan kami tuanku dimohon ke mari.

 

  1. Rsi yajna

 

Rsi yajna itu adalah menghormati dan memuja Rsi atau pendeta. Dengan demikian melayani pendeta sehari-hari maupun disaat beliau memimpin upacara tergolong Rsi yajna.

 

Pada kisah Ramayana, nilai-nilai Rsi yajna dapat dijumpai pada beberapa bagian dimana para tokoh dalam alur ceritanya sangat menghormati para Rsi sebagai pemimpin keagamaan, penasehat kerajaan, dan guru kerohanian. Dalam Kekawin Ramayana Prathamas sargah bait 30 sebagai berikut :

sampun pwa sira pinuja, bhinojanan sang maharsi paripurnna, kalawan sag wiku saksi, winursita dinaksinan ta sira”.

Artinya :

Sesudah beliau dipuja, disuguhkan sang maharsi, bersama sang wiku yang menjadi saksi, dihormati dipersembahkan hadiah untuk beliau.

 

 seorang rohaniwan senantiasa memberikan wejangan suci dan ilmu pengetahuan keagamaan untuk menuntun umatnya tentang ajaran ketuhanan. Keberadaan beliau tentu sangat penting dalam kehidupan umat beragama. Sudah sepatutnya sebagai umat beragama senantiasa sujud bahkti kepada para maharsi atau pendeta sebagai salah satu bentuk yajna yang utama dalam ajaran agama Hindu.

 

 

 

 

  1. Bhuta Yajna

 

Upacara ini lebih diarahkan pada tujuan untuk nyomia bhuta kala atau berbagai kekuatan negatif yang dipandang dapat mengganggu kehidupan manusia. Bhuta yajna pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan bhuta kala menjadi bhuta hita. Bhuta hita artinya menyejahterakan dan melestarikan alam lingkungan (Sarwaprani).

 

Pelaksanaan upacara dewa yajna selalu di barengi dengan bhuta yajna, hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan alam semesta beserta isinya. Nilai-nilai bhuta yajna dalam kitab Ramayana dapat dilihat pada pelaksanaan homa yajna sebagai yajna yang utama juga diringi dengan ritual Bhuta yajna untuk menetralisir kekuatan negatif sehingga alam lingkungan menjadi sejahtera.

 

Dalam Kekawin Ramayana Prathamas Sargah bait 25 menjelaskan sebagai berikut :

lumekas ta sira mahamo, pretadi pisaca raksasa minantran bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang yajna”.

Artinya :

Mulailah Beliau melaksanakan upacara korban api. Roh jahat dan sebagainya, pisaca raksasa dimanterai. Bhuta kala semua diusir, segala yang akan mengganggu upacara korban itu.

 

Pada setiap pelaksanaan upacara yajna, kekuatan suci harus datang dari segala arah. Oleh sebab itu, segala macam bentuk unsur negatif harus dinetralisir untuk dapat menjaga keseimbangan alam semesta. Bhuta yajna sebagai bagian dari yajna merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan ini, sehingga tidak salah pada setiap pelaksanaan upacara dewa yajna akan selalu dibarengi dengan upacara bhuta yajna.

 

 

Nilai-nilai ajaran agama Hindu yang ada dalam cerita Ramayana

·         Satya mitra dan Satya Wacana = terlihat dari kesetiaan Sugriwa terhadap janjinya kepada Rama.

·         Guru Bhakti dan Pitra yajna, diperlihatkan dari rasa bhaktinya Rama terhadap Orang tuanya sehingga bersedia untuk mengasingkan diri kehutan.

  • Satya Semaya, diperlihatkan pada kesetiaan Dasarata dalam menepati janjinya pada Dewi Keykayi sampai harus meninggal dunia.
  • Dharma Negara, diperlihatkan oleh Kumbakarna yang dengan sepenuh hati hingga mengorbankan nyawa untuk membela Negaranya.
  • Dharma Agama, diperlihatkan oleh Wibisana yang menentang kakaknya demi membela kebenaran.

 

 


LEMBAR KERJA SISWA

 

A.    Menyimak baik kekawin Ramayana

Petunjuk :

1.      Baca kekawin Ramayana di bawah ini dengan seksama!

2.      Kemudian tulis arti dan makna/nasehat yang dapat diambil dari baik kekawin Ramayana tersebut!

Mahyun ta sira maputra

Manaka wetnyar wacg rikang wicaya

Malawas tan panakatah

Mahyun ta sira gawe yajna

 

Artinya :

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Makna/nasehat yang dapat diambil dari baik kekawin Ramayana tersebut :

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

B.     Tulislah dua baik kekawin Ramayana dengan wirama merdhu komal pada lembar dibawah ini, kemudian coba ditembangkan!

Wirama Merdhu Komala :

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

 

C.     Lengkapi kolom di bawah ini!

No

Sumber

Pembagian panca yadnya

1

Bhagawadgita IV.28

1.

2.

3.

4.

5.

2

Manawa Dharmasastra, III.70

1.

2.

3.

4.

5.

 

3

Lontar Singhalanghyalang

1.

2.

3.

4.

5

 

D.    Petunjuk :

1.      Petiklah sloka kitab Bhagawadgita III.13, dan tulis sloka tersebut beserta artinya, pada lembar yang telah tersedia di bawah ini !

2.      Diskusikan makna sloka tersebut dengan teman-temanmu, kemudia tulis hasil kesimpulan diskusi tersebut pada lembar yang tersedia di bawah ini!

 

Lembar kerja :

Bunyi sloka Bhagawadgita Bab III.13

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Artinya :

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Kesimpulan diskusi

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….


SOAL-SOAL LATIHAN

 

TUGAS KELOMPOK

 Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1.      Mengapa kita harus selalu bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa? Jelaskanlah!

2.      Mengapa orang perlu beryadnya? Jelaskanlah!

3.      Setiap hutang wajib dibayar, apalagi hutang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada hakekatnya membayar hutang adalah untuk kepentingan kita sendiri. Mengapa demikian?

4.      Yajna dan upacara memiliki pemahaman yang berbeda menurut ajaran agama Hindu, jelaskanlah!

5.      Jelaskan mengapa Yajna dikatakan sebagai symbol pengejawantahan ajaran Veda!

 

TUGAS KELOMPOK

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Jelaskan mengapa belajar dan menuntut ilmu dengan baik dikatakan sebagai bentuk yajna?

2.      “Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala dosa, karena mereka makan makanan yang dipersembahkan, terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang hanya menyiapkan makanan untuk menikmati indriya-indriya pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja”. Jelaskan makna yang terkandung di dalam kutipan kalimat di atas!

3.      Jika kita tidak punya harta benda sama sekali apakah kita juga masih wajib beryajna. Bagaimana cara beryajna bagi orang yang sama sekali tidak memiliki apapun?

4.      Mesaiban atau yajna sesa adalah yajna yang dilakukan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta Manifestasinya setelah memasak atau sebelum menikmati makanan. Jelaskan tujuan dari pelaksanaan yajna tersebut!

5.      Tinggi rendahnya kualitas suatu yajna atau persembahan sepenuhnya tergantung pada ketulusan pikiran. Jelaskanlah makna dari pernyataan tersebut!

 

TUGAS 1

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Jelaskan pengertian yadnya  !

2.      Jelaskan beberapa pengertian yadnya dalam kitab Wrhaspati Tattwa dan Agastya Parwa!

3.      Sebutkan tujuan yadnya!

4.      Sebutkan arti sloka sarasamuscaya I.4!

5.      Sebutkan dasar-dasar pelaksanaan yadnya!

 

 

TUGAS 2

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Jelaskan tentang nitya yadnya dan naimitika yadnya!

2.      Sebutkan dan jelaskanlah tingkatan yadnya dari segi kwantitasnya!

3.      Sebutkan dan jelaskan jenis yadnya dari segi kwalitasnya!

4.      Jelaskan bentuk-bentuk pelaksanaan yadnya dalam kehidupan  !

5.      Mengapa kegiatan dan realisasi pelaksanaan yajna harus dibagi ke dalam berbagai bentuk?

 

TUGAS 3

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Sebutkan nilai-nilai yadnya dalam kehidupan !

2.      Sebutkan dan jelaskan secara singkat  pokok-pokok ajaran  Panca Yadnya !

3.      Berikan contoh-contoh tentang pelaksanaan rsi yajna!

4.      Sebutkan arti sloka Bhagawadgita IV.11!

5.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan Bhuta Yadnya dan berikan contohnya baik dalam bentuk perilaku dalam sehari-hari maupun dalam bentuk upacara/ritual!

 

 

TUGAS 4

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Untuk mewujudkan pelaksanaan yajna yang Sattwika, ada tujuh syarat yang wajib dilaksanakan. Sebutkan dan jelaskanlah hal itu!

2.      Banyak nilai-nilai etika, social, budaya yang kita peroleh dari melaksanakan yajna. Jelaskanlah nilai-nilai tersebut!

3.      Uraikan secara singkat isi dari Balakanda pada epos Ramayana!

4.      Sebutkan nilai-nilai Panca Yadnya yang terdapat dalam ceritera Ramayana!

5.      Cerita Ramayana banyak mengandung nilai etika yang sangat luhur. Coba anda jelaskan nilai etika yang terkandung dalam cerita tersebut yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari!

 

TUGAS 5

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang Agnihotra atau Homa yajna!

2.      Nilai yajna apa saja yang dapat kamu temukan pada pelaksanaan Homa Yajna dalam cerita Ramayana!

3.      Ceriterakan secara singkat ringkas cerita Kiskinda Kanda!

4.      Sebutkan nilai-nilai keperwiraan yang terkandung dalam ceritera Ramayana!

5.      Sebutkan dan jelaskan pembagian Panca Yadnya dalam Kitab Manawa Dharmasastra!

 

TUGAS 6

Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar!

1.      Jika dilihat dari segi kualitas, yadnya dapat dibagi tiga, yaitu satwika yadnya, rajasika yadnya dan tamasika yadnya. Apabila yadnya itu dilaksanakan asal-asalan, tidak mengindahkan sastra dan petunjuk agama maka disebut…….

2.      Yadnya yang dilaksanakan dengan melantunkan lagu-lagu suci seperti kekawin, kidung, dan sebagainya disebut…

3.      Dalam kitab Manawa Dharmasastra I.74 terdapat panca yadnya, yang terdiri dari ahuta, huta, prahuta, brahmahuta, dan prasita. Persembahan dengan mengucapkan doa-doa suci weda disebut….

4.      Kitab Gautama Dharmasastra menjelaskan adaa tiga macam yadnya yaitu dewa yadnya, bhuta yadnya dan brahma yadnya. Persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya disebut…

5.      Dalam lontar Singhalanghyaka, disebutkan tentang persembahan dengan menyeimbangkan antara ilmu dan iman, disebut…

6.      Persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara wali karma, dalam lontar Agastya Parwa disebut….

7.      Tiga komponen penting yang menentukan sukses tidaknya suatu yadnya yaitu sadhaka, mancagra dan yajamana. Yang disebut sadhaka yaitu…..

8.      Tri rna adalah tiga hutang yang dimiliki oleh manusia dan hutang inilah menimbulkan pelaksanaan panca yadnya. Dari pitra rna maka muncullah….

9.      Yajna ngaranya “agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakdinya, pernyataan ini terdapat dalam kitab….

10.  Tuhan menciptakan ala mini dengan yadnya, dan dengan yadnya manusia berkembang, sebagaimana sapi perahan memenuhi keinginanmu. Kalimat ini dapat kita jumpai dalam kitab…..

 

 

 

 

 

 

TUGAS 6

 

Wiramakan baik kekawin di bawah ini !

 lumekas ta sira mahamo,

 pretadi pisaca raksasa minantran

bhuta kabeh inilagaken,

asing mamighna rikang yajna”.

 

Artinya :

 

Timbullah niat Sri Baginda agar berputra, agar berputra karena sudah puas bercinta namun lama nian beliau tidak berputra, lalu beliau berniat mengadakan ritual;.


LEMBAR KERJA SISWA

 

Aktivitasku

 

a.       Dalam agama Hindu kita mengenal yadnya dari panca yadnya sampai yadnya sesa. Untuk membuktikan kalian telah melakukan yadnya, tulis dalam portofolio/klipping atau sejenisnya disertai fotonya. Yadnya apa saja yang telah kalian lakukan? Kapan kalian melakukannya dan dimana? Uraikan! Yang paling penting manfaat apa yang diperoleh dari melaksanakan yadnya, satu hal lagi. Apakah dengan yadnya anda merasa direpotkan atau dibebani?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

b.      Buatlah laporan mengenai pelaksanaan salah satu upacara panca yadnya di daerahmu! Apakah upacara panca ydanya tersebut juga dilakukan diseluruh dunia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 


BAB    II

KITAB  SUCI (UPAWEDA)

 

Kompetensi Inti

KI 1:  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2:  Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KI 3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI 4: Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

 

Kompetensi Dasar        :

1.1 Membiasakan mengucapkan salam agama Hindu

1.2  Membiasakan mengucapkan dainika upasana (doa sehari-hari).

2.1 Toleran terhadap sesama, keluarga, dan lingkungan dengan cara menyayangi ciptaan Sang Hyang Widhi (Ahimsa).

2.2 Berperilaku jujur (Satya), menghargai dan menghormati  (Tat Tvam Asi) makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi

  3.2 Menyebutkan ajaran Upaveda sebagai tuntunan hidup

4.2 Menalar Upaveda sebagai tuntunan hidup Indikator      

 

Indicator :

 

1.      Menjelaskan pengertian weda

2.      Menguraikan sejarah timbulnya weda

3.      Menguraikan bahasa dalam weda

4.       Menguraikan isi weda baik weda sruti maupun weda smrti

5.      Menjelaskan pengertian Upaveda

6.      Menjelaskan kedudukan Upaveda dalam Veda

 

A.    Pengertian

 

tasmad yajna sarvahuta rcah samani yajnire,

Chandamsi yajnire tasmad yajus tasmad ajayata

(Yajurveda XXXI.7)

Artinya :

Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadaNya umat manusia mempersembahkan

berbagai yajna, daripadaNya muncul Rgveda dan Samaveda, daripadaNya pula muncul Yajurveda dan Atharvaveda.

 

Setiap ajaran agama memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa ajaran agama itu bersumber pada kitab suci. Demikian pula umat Hindu yakin bahwa kita sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan yang Maha Esa.

 

Kitab Suci adalah kitab yang berisikan ajaran  kesucian  yang  diwahyukan oleh Tuhan /Hyang Widhi melalui orang yang mata bathinnya tajam (dibya caksu) yang disebut Maha Rsi, Bhagawan atau Nabi. Kitab Suci Agama Hindu disebut “Weda”. Menurut arti katanya Weda berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata “Vid” yang artinya mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci dan maha sempurna yang kekal abadi berasal dari Sang Hyang Widhi yang didengarkan oleh Maha Rsi dalam keadaan samadhi. Oleh karena itu juga disebut  Çruti yang berarti sabda suci yang didengarkan. Kata Sruti berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata “Çru” yang berati mendengar, jadi Çruti adalah wahyu yang langsung didengar dari sabdaNya Sang Hyang Widhi oleh para Maha Rsi.

 

Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Di dalam ajaran agama Hindu tersebut, termuat tentang ajaran agama, kebudayaan, dan filsafat.

 

Umat Hindu berkeyakinan bahwa Veda bersifat anadi ananta, yakni tidak berawal dan tidak berakhir dan sebagai sabda Brahman. Sebagai sabda, Veda telah ada semenjak Tuhan Yang Maha Esa ada. Tradisi sekolah pada jaman Veda dikenal dengan nama sakha yang pada awalnya berarti cabang dan kemudian berarti tempat mempelajari Veda. Selanjutnya pengertian sakha ini  berkembang menjadi sampradaya atau Asrama, yaitu tempat atau pusat mempelajari Veda.

 

Sebagai kitab suci agama Hindu, maka ajaran Veda diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Veda dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya pun adalah Tuhan yang diyakini Maha Suci.

 

Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat nanti. Ajaran Veda tidak terbatas hanya sebagai tuntunan hidup individual saja, tetapi juga dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.veda menuntun hidup manusia sejak lahir hingga akhir menutup mata. Segala tuntunan hidup ditunjukkan kepada kita oleh ajaran Veda.

 

B.     Sejarah Timbulnya Weda

 

Adalah menjadi kebiasaan untuk membicarakan umur kitab suci / Weda yang merupakan sumber utama dari ajaran agama Hindu. Tapi tidak seorangpun yang dapat memberikan pendapat yang pasti, kapan dan bilamana kitab suci Weda diwahyukan ke dunia. Berbeda halnya dengan kitab suci agama lain mempunyai waktu yang telah ditetapkan oleh pemimpin / Ulama mereka masing-masing. Seperti kitab suci agama Budha yaitu Tri Pitaka ditulis kira-kira pada jaman Asoka, yaitu 2500 tahun yang lalu. Kitab suci agama Islam yaitu All Quran kira-kira 1200 tahun yang lalu. Kitab suci agama Kristen yaitu Injil ditulis kira-kira 2000 tahun yang lalu.

 

Walaupun kitab suci Weda tidak ditentukan dengan pasti kapan disusun atau diwahyukan namun para ahli peradaban Timur sangat berhasrat untuk menemukan kapan kira-kira kitab suci Weda itu disusun. Beberapa diantaranya ada yang mengatakan bahwa hal ini terjadi kira-kira pada tahun 1500 SM, namun ada yang mengatakan tahun 3000 SM. Lokamaniya Tilak menetapkan pada tahun 6000 SM. beberapa orientalis setuju pada pendapatnya. Orientalis modern tampak lebih condong bahwa timbulnya Weda itu jauh lebih tua lagi dari tahun yang ditetapkan oleh Tilak.

 

C.     Bahasa Dalam Weda

 

Sebelum Weda mulai diselidiki Bhagawan Panini mulai menyusun tata bahasa Sansekerta pada tahun 700 SM. dan menamakan bahasa yang dipakai dalam Weda dengan nama “Daiwi Wak” (Bahasa Dewata). Baru dalam tahun 200 SM. bahasa ini mulai dikenal dengan nama “Sansekerta” setelah Patanjali menulis kitab “Bhasa” pada abad ke 11 SM.

 

Nama Sanskerta yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Bhagawan Patanjali adalah untuk menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum dalam pergaulan di Bharata Warsa. Kemudian bahasa itupun dibedakan pula dari bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai oleh orang-orang Magadhi dalam penyebaran agama Budha

 

Setelah Bhagawan Panini berhasil menyusun tata bahasa Sansekerta jejak beliau diikuti pula oleh Bhagawan Katyayana yang lebih populer dikenal dengan Bhagawan Wararuci pada abad  5  SM. Beliau menulis  keterangan tambahan atas karya Panini disamping  sebagai penulis Sarasa-muscaya, yang karyanya telah diterjemahkan di Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno pada waktu jaman keemasan Hindu di Jawa dan pula telah dialih bahasakan kedalam bahasa Indonesia tahun 1970.

 

D.    Pembagian dan Isi Weda

 

Berdasarkan system pertimbangan materi dan luas ruang lingkup isinya jumlah jenis buku Weda itu banyak. Bahwasanya Weda itu mencangkup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut  :

1.   Weda Sruti

2.   Weda Smrti

 

Pembagian kedalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan  sebagai kitab Weda baik secara tradisional maupun secara institusional ilmiah.

 

Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu atau Sruti, sedangkan kelompok kedua yaitu Smerti isinya adalah sebagai penjelasan terhadap Sruti. Jadi Smerti merupakan manual, buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Bila dibandingkan dengan ilmu politik, Sruti merupakan UUD-nya Hindu, sedangkan Smerti adalah UU. pokok dan UU. Pelaksanaannya adalah Nibandha. Keduanya merupakan sumber hukum yang mengikat dan harus diterima. Oleh karena itu Bhagawan Manu menegaskan dalam kitab

 

Manawa Dharmasastra II.10. :

“Çrutistu wedo wijneyo dharmacastram tu wai Smertih te sarwatheswa mimamsye tabhyam dharmohi nirbabhau”

Artinya :

Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smerti itu adalah Dharmasastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari hukum suci itu (dharma).

           

Untuk dapat memahami seluruh materi kedua bidang Weda itu, berikut ini akan kami uraikan berturut-turut satu persatu, seperti dibawah ini  :

 

1.    Weda  Sruti

 

Kata Sruti berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari akar kata “Çru” yang berarti mendengar, jadi  Sruti adalah wahyu yang langsung didengar dari sabdanya Sang Hyang Widhi oleh para Maha Resi. Weda Sruti adalah kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Resi melalui pendengaran langsung yang bersumber dari wahyu Hyang Widhi / Tuhan.

 

Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya atau Weda orisinil adanya. Menurut sifat isinya, Weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu  :

1.      Bagian Mantra

2.      Bagian Brahmana (Karma Kanda)

3.      Bagian Upanisad / Aranyaka (Jňana Kanda)

 

Masing-masing bagian dari kitab Weda Sruti tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

      1.   Mantra

 

Bagian Mantra terdiri atas empat himpunan (samhita) yang disebut “Catur Weda Samhita” yaitu  :

a.       Rg Weda Samhita

b.      Sama Weda Samhita

c.       Yajur Weda Samhita

d.      Atharwa Weda Samhita

 

Dari keempat kelompok Weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Karena itu disebut Tri Weda yang artinya kumpulan tiga kitab suci. Sedangkan “Atharwa Weda” mengandung mantra-mantra gaib untuk memperoleh kekuatan-kekuatan magis pula. 

 

Pengenalan nama Catur Weda adalah hanya karena memang kenyataannya secara sistimatik bahwa Weda itu telah dikelompokkan menjadi empat. Pembagian empat kelompok isi Weda itu adalah  :

 

a.       Rg Weda Samhita

 

Merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan. “Rg” berarti memuja, sedangkan kata Weda  berasal dari kata “Wid” yang berarti ilmu pengetahuan suci. Jadi Rg Weda berarti ilmu pengetahuan suci yang diucapkan untuk memuji-muji Sang Hyang Widhi / Tuhan atau Dewa-dewa (sebagai simbol kekuatan alam). Kitab Rg Weda ini disusun oleh Bhagawan Pulaha merupakan kumpulan dari ayat-ayat tertua, terbesar dan  terpanjang, pada umumya berbentuk bentuk “Puisi”.  Penyanyi / pendeta untuk Rg Weda disebut  : Hotr. Kitab ini terdiri dari 10.

 

b.      Sama Weda Samhita

 

Merupakan kumpulan mantra-mntra yang memuat ajaran-ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan atau saman. Kata Sama (saman) berarti irama atau melodi. Sama Weda memuat tentang nada-nada atau cara-cara mengucapkan nyanyian pujian. Kitab Sama Weda ini ditulis oleh Bhagawan Jaimini Penyanyi atau Pendetanya disebut Udgatir.

Kitab ini terdiri dari 1810 mantra.

 

c.       Yajur Weda Samhita

 

Merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yadnya (yajus, pluralnya yajumsi). Kata Yajur berasal dari kata “Yaj” yang berati memuja, berkorban. Jadi Yajur Weda adalah kitab yang berisikan mantra dalam bentuk “prosa” yang menguraikan tentang tata cara kewajiban beryadnya yang harus dilakukan oleh Umat Hindu.

Yajur Weda ini ditulis oleh Bhagawan Waisampayana dan Pendeta dari Yajur Weda  disebut  Adwaryu.

 

Jenis Weda ini ada dua macam yaitu :

1).  Yajur Weda Hitam (Kresna Yajur Weda) yaitu berisi mantra-mantra yang menguraikan tentang arti yadnya.

 

2).  Yajur Weda Putih ( Sukla Yajur Weda) yang juga disebut Wijasaneyi Samhita yaitu terdiri atas mantra-mantra yang harus diucapkan Pendeta dalam upacara.

 

d.      Atharwa Weda Samhita

 

Merupakan kumpulan mantra-mantra yang bersifat magis, misalnya soal-soal sihir, mantra-mantra sakti atau kekuatan gaib (Atharwa) dan soal pengobatan. Juga kitab ini menguraikan tentang ilmu bintang dan ilmu pasti.

      Kitab Atharwa Weda Samhita ini terdiri dari 5.987 mantra.

      Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Sumanthu sedangkan Pendeta atau penyanyinya disebut Brahmana.

 

      2.   Brahmana (Karma Kanda)

 

Bagian kedua yang terpenting dari kitab Sruti adalah bagian yang disebut Brahmana atau Karma Kanda. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Brahmana berarti doa. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan dalam upacara yadnya. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra.

 

Pada jaman Brahmana ada bermacam-macam yadnya seperti sekarang ada yang besar ada yang kescil. Yang besar seperti Pindha Pitra Yadnya yaitu penghormatan kepada nenek moyang dan upacara Rajasuya yaitu penobatan Raja. Yang kecil seperti Samskara yaitu upacara yang berhubungan dengan penyucian diri.

                       

3.   Upanisad / Aranyaka (Jňana Kanda).       

 

                        Upanisad atau Aranyaka adalah himpunan mantra-mantra yang membahas  berbagai aspek teori mengenai ke-Tuhanan. Disamping itu himpunan mantra ini merupakan  Jňana Kanda dari Weda Sruti.

 

Arti kata Upanisad adalah duduk di bawah dekat seorang guru untuk menerima ajaran rahasia. Tetapi guru tidak memberikan ilmunya kepada sembarang orang. Hanya kepada murid-murid yang setia dan patuh kepada Guru.

 

Upanisad adalah kitab yang isinya mengenai penjelasan prihal pelepasan (moksa) dan filsafat. Sedangkan Aranyaka adalah kitab yang memuat tentang hubungan roh  dengan Tuhan ( kerohanian). Kelompok kitab-kitab ini disebut Rahasya Jňana, karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Kitab ini menjadi pedoman hadup bagi mereka yang meninggalkan rumah tangga dan meningkat menuju Wanaprastha.

 

Dengan memperhatikan deretan nama-nama kelompok Mantra, Brahmana dan Upanisad diatas, jelaslah kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami Dharma semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati.

 

2.            Weda Smrti

 

Smrti merupakan kitab suci Agama Hindu yang kedua setelah Sruti. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharsi yang bersumber dari wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan. Kitab Smrti adalah kitab Weda juga, karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Weda Sruti.

 

Kata Smrti berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata “smarta” yang berarti ingatan, kemudian menjadi kata Smrti berarti kenangan, tradisi yang berwenang. Jadi Smrti berarti kelompok buku Weda yang lahir dari ingatan. Menurut tradisi dan lazim telah diterima dibidang ilmiah istilah Smrti adalah untuk menyebut kelompok Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara lebih sistematis menurut bidang profesi.

 

Smrti disebut juga Dharmasastra, isinya adalah pedoman tingkah laku yang patut diikuti oleh umat manusia sehingga kitab ini sering disebut ilmu hukumnya agama Hindu. Salah satu kitab Dharmasastra yang terkenal adalah Manawa Dharmasastra yang ditulis oleh Maharsi Manu. Buku ini di Indonesia menjadi sumber hukum agama.

 

Kitab Smrti merupakan pendukung dan penjelasan dari kitab Weda Sruti. Dalam hal ini Smrti bersifat  sebagai suplemen atau pelengkap tambahan. Orang akan baru mengerti isi Sruti setelah membaca kitab Smrti. Jadi kedudukan kitab Smrti itu sangat penting dan bahkan mungkin lebih diperlukan. Oleh karena itu pergunakanlah kitab-kitab sastra sebagai petunjuk untuk  menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk mengetahui apa yang patut kita kerjakan.

 

 

Untuk dapat mengamalkan Weda  secara benar didalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani, jenis-jenis kitab Smerti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup. Secara garis besarnya kitab Smerti dapat digolongkan  menjadi dua kelompok besar  yang terdiri dari  :

1.   Kelompok  Vedangga

2.   Kelompok  Upaweda

 

1.   Kelompok Vedangga

 

Kata  Vedangga berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata Veda dan Angga. Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian, anggota, badan, sumber, dasar.

 

Vedangga berarti batang tubuh dari Weda. Untuk dapat mempelajari, memahami dan mendalami Weda dengan baik kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga.

 

Vedangga sebagai kitab Smerti, terdiridari enam bidang Weda yang disebut Sad Angga Weda, yaitu  ::

1)      Siksa (Phonetika)            

2)      Wyakarana (Tata bahasa)

3)      Chanda (Lagu)

4)      Nirukta (Sinonim dan Antonim)

5)      Jyotisa (Astronomi)

6)      K a l p a (Retuil)

 

1).  Siksa (Phonetika)   

 

Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjuk-petunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi rendahnya tekanan suara. Jadi kitab ini sebagai pedoman dalam mempelajari penmgucapan mantra yang benar.

 

 

2).  Wyakarana (Tata bahasa)

 

Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa, untuk dapat menghayati Weda dengan benar, kecil kemungkinannya dapat mengetahui tanpa mengerti dan mengetahui tata bahasanya.  Oleh karena itu kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting  didalam mempelajari Weda.

 

3)   Chanda (Lagu)

 

Chanda artinya lagu atau hymne. Kitab ini berisikan aturan-aturan tentang guru dan laghu yang sangat dipentingkan dalam membaca mantra-mantra yang biasanya dicantumkan Weda. Atas dasar inilah dikenal beberapa jenis Chanda pada permulaan penulisan mantra.

 

Chanda adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut laghu. Peranan Chanda dalam sejarah penulisan Weda sangat penting, karena dengan Chanda semua ayat itu dapat dipelihara secara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.

 

4)   Nirukta (Sinonim dan Antonim)

 

Kitab Nirukta memuat berbagai penapsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat dalam Weda. Bentuk dan isi kitab ini memuat kata-kata yang memiliki persamaan arti dan perbedaan arti atau lawan kata. Oleh karena itu peranan kitab Nirukta sangat penting dan menentukan dalam menterjemahkan Weda.

 

Dalam kitab Nirukta disebutkan bahwa mantra-mantra dibedakan dalam tiga aspek /katagori yaitu seperti  :

a.   Prakosa        : yaitu membahas aspek yang tidak diketahui melalui indra.

b.   Adhyatmika  : yaitu membahas aspek yang khusus menyangkut jiwa.

c.   Pratyaksa      : yaitu  membahas aspek yang dapat ditangkap langsung oleh indra.

 

Kitab Nirukta ditulis oleh Bhagawan Yaska pada tahun ± 800 SM. Kitab ini memuat hal-hal seperti  :

a)      Naighantuka Kanda, memuat kata-kata yang sama artinya (sinonim).

b)      Naighama Kanda, memuat kata-kata yang berarti ganda.

c)      Daiwata Kanda, Menghimpun nama-nama Dewa di angkasa, bumi, sorga.

 

5)   Jyotisa (Astronomi)

 

Jyotisa adalah ilmu perbintangan. Kitab Jyotisa merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi (ilmu perbintangan) yang diperlukan sebagai pedoman dalam pelaksanaan upacara yadnya untuk mencari hari baik, sesuai dengan edaran tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh didalam pelaksanaan yadnya.  Sehubungan dengan itu, adanya system pedewasaan dan pemakaian kitab-kitab Primbon itu asal mulanya berkembang dari ajaran Jyotisa itu sendiri.

 

Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Weda yang menguraikan tentang pokok-pokok pengetahuan dalam bidang astronomi. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa kita dapat memahami, bahwa bagaimana Weda diajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya.

 

6)   K a l p a (Retuil)

 

Kalpa merupakan kelompok Wedangga yang terbesar dan terpenting yang isinya banyak bersumber pada kitab Brahmana dan sebagian kecil dari kitab Mantra.

Menurut jenis isinya kelompok ini terbagi atas beberapa bidang yaitu  :

 

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut  :

(1)   Srauta Sutra

Memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya, penebusan dosa dan lain-lain yang yang berhubungan dengan upacara keagamaan, baik upacara besar, upacara kecil dan upacara yang dilaksanakan setiap hari.

 

 

 

(2)   Grhya Sutra

Memuat berbagai ajaran mengenai keterangan dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan berbagai upacara yadnya yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga yang dimulai dari Garbhadana (upacara bayi dalam kandungan) sampai dengan upacara Antyesti yaitu upacara yang berkenaan dengan kematian.

     

(3)   Dharma Sutra, yang juga disebut Dharmasastra

Isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara, seperti aturan dasar mencangkup bidang hukum, agama, kebiasaan atau acara dan sistacara.

 

Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting diantara kitab-kitab jenis Kalpa, maka terdapatlah kesan bahwa Weda Smrti itu adalah Dharma Sastra.                                                  

 

Menurut Bhagawan Sanskhalikhita, dalam kehidupan ini dilalui oleh empat zaman yang disebut Catur Yuga. Dijelaskan bahwa menurut tradisi pada masing-masing Yuga berlaku kitab Dharmasastra tersendiri, seperti  :

a)   Pada masa  Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharmasastra karya Bhagawan Manu.

b)      Pada masa Treta Yuga berlaku kitab Dharmasastra yang ditulis oleh Yajnawalkhya.

c)      Pada masa Dwapara Yuga berlaku Dharmasastra karya Bhagawan Sanskhalikhita.

d)     Pada masa Kali Yuga berlaku kitab Dharmasastra ditulis oleh Bhagawan Parasara.

 

Keempat jenis kitab Dharmasastra tersebut diatas memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi antara satu dengan yang lainnya.

 

(4)   Sulwa Sutra

Memuat tentang petunjuk dan peraturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura, Candi) dan bangunan-bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur.

     

 

 

2. Kelompok  Upaweda

 

Kata Upaweda berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata “Upa” dan “weda”. Upa berarti dekat dan weda berarti pengetahuan suci. Jadi Upaweda berarti dekat dengan Weda. Upaweda juga diartikan Weda tambahan. Dengan demikian Upaveda dapat diartikan sekitar hal-hal yang bersumber dari Veda.

 

Masing-masing dari Catur Veda memiliki kitab Upaveda sebagai berikut :

1.      Kitab Upaveda dari Rg. Veda adalah Ayur Veda

2.      Kitab Upaveda dari Samaveda adalah Gandharvaveda

3.      Kitab Upaveda dari Yajurveda adalah Dhanurveda

4.      Kitab Upaveda dari Atharvaveda adalah Arthaveda/Arthasastra

 

3.Kedudukan Upaveda dalam Veda

 

Mengenai kedudukan Upaveda dalam Veda, dilihat dari materi isinya sudahlah jelas sesuai arti dan tujuannya serta apa yang menjadi bahan kajian dalam kitab Upaveda itu, maka Upaveda pada dasarnya dinyatakan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Veda. Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberi keterangan yang sangat diperlukan untuk diketahui dalam Veda itu. Jadi kedudukannya sama dengan apa yang  kita lihat dengan Vedangga. Kalau kita pelajari secara mendalam, maka beberapa materi kejadian yang dibahas ulang di dalam kitab Upaveda dengan penajaman-penajaman untuk bidang-bidang tertentu.

 

Kitab Upaweda memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrti lainnya. Kitab Upaweda terdiri dari beberapa cabang ilmu, yaitu  :

 

(1)  Itihasa

 

Kitab Itihasa disebut juga Wiracarita, Epos atau cerita kepahlawanan. Kata Itihasa berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari tiga suku kata, yaitu Iti-ha-sa yang artinya sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Jadi Itihasa itu adalah sejarah yang sungguh-sungguh terjadi.

 

Di dalam kitab Amaroksa karya Amarsingh kita menjumpai istilah yang memiliki arti sama dengan Itihasa yaitu istilah “akhyayika” yang artinya ceritera yang benar-benar terjadi.

 

Istilah Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata yaitu Bhagawan Wiyasa. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja dimasa yang lampau. Itihasa merupakan karya sastra yang bersifat spiritual, dimana isi ceritanya penuh fantasi, roman, kewiraan dan mitologi, sehingga nampak dengan jelas sifatnya yang khas sebagai karya sastra spiritual. Itihasa juga merupakan kitab kumpulan cerita yang mudah dibaca dan dipahami oleh orang kebanyakan, yang sangat sulit memahami isi Weda. Didalamnya terdapat berbagai dialog tentang social politik, tentang filsafat dan teori kepemimpinan yang dipergunakan sebagai pedoman dan pola hukum oleh raja-raja Hindu.

 

Peranan dan fungsi kitab Itihasa itu sangat penting dan tidak dapat diabaikan begitu saja didalam mempelajari Weda, terutama mengenai sejarah agama Hindu, penyebaran kebuda-yaan Hindu dan berbagai macam konsep politik serta idiologi.

 

Dalam mempelajari kitab Itihasa kita harus dapat memilah-milah karena ajarannya ada yang bersifat mitos, mendidik, social serta pembinaan semangat patriotisme.

 

Ajaran idealisme yang ada pada kitab Itihasa adalah sifat berpegang teguh pada dharma, sifat-sifat kepemimpinan yang lebih dikenal dengan azas-azas Brata. Kesemuanya itu pula diketahui dan dipelajari agar dapat dipetik manfaatnya dalam kehidupan ini.

 

Walaupun Itihasa merupakan kitab sejarah agama, namun secara materiil sangat sulit untuk dijadikan pembuktian sejarah. Sebagai kitab sejarah banyak memuat hal-hal yang menurut fakta sejarah masih dapat dibuktikan, termasuk social politik, pertentagan berbagai suku bangsa yang ada antara berbagai kerajaan yang kontemporer pada masa itu.

 

Ketika hendak mempelajari Veda dan perkembangannya , mempelajari sejarah agama Hindu dan kebudayaannya, berbagai konsep politik dan idiologi yang relevan, maka kitab Itihasa sangat penting artinya untuk dipelajari.

 

Kitab Itihasa ada dua jenis, yaitu  :

 

1).  Ramayana

Ramayana ditulis oleh Bhagawan Walmiki. Kitab ini dikenal sebagai Adikawya sedangkan Walmiki dikenal sebagai Adikawi, yang terdiri atas 24.000 stansa.. Ramayana adalah sebuah epos yang menceritakan riwayat atau kisah perjalanan hidup Sri Rama atau dikenal dengan gelar Ramadewa, karena dalam kitab Purana disbut sebagai salah satu Awatara yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu.

 

Ramayana merupakan cerita yang berlatar belakang sejarah penyebaran bangsa Arya di India yang lebih dikenal dengan sebutan Aryanisasi. Rama bersama saudara-saudaranya adalah tokoh-tokoh bangsa Arya. Sedangkan bangsa kera adalah suku Munda yang berhidung  peset dan kaum raksasa yang dikepalai oleh Rahwana adalah mewakili bangsa Dravida yang berkulit hitam, penduduk asli India.

 

Cerita Ramayana dalam sari patinya mengandung nilai-nilai pendidikan tentang moral dan etika yang mengacu nilai-nilai agama atau nilai tentang kebenaran agama yang hakiki yang artinya mengandung nilai-nilai kebenaran yang bersifat kekal dan abadi.

 

Di Indonesia misalnya gubahan yang kita jumpai adalah Kekawin Ramayana yang ditulis dalam bahasa Jawa kuna oleh Yogiswara.

 

Karena cerita yang dikandung oleh kitab Ramayana itu sangat mempesona dengan penuh idealism pendidikan moral, kewiraan serta disampaikan dalam gaya bahasa yang baik, menyebabkan epos ini sangat digemari di seluruh dunia. Pengaruhnya yang sangat besar dirasakan di seluruh Asia dan ceritanya dipahatkan sebagai hiasan candi-candi atau tempat-tempat persembahyangan umat Hindu. Demikian pula nama-nama kota yang terdapat di dalamnya banyak ditiru sebagai sumber inspirasi.

 

Keahlian Valmiki dalam kemampuannya memahami perasaan manusia secara mendalam, menyebabkan kitab Ramayana dengan mudah dapat menguasai emosi masyarakat dan sebagai apresiasi dari kata-kata tulis baru yang mengambil tema dari Ramayana.

 

Sumber asli dalam kekawin Ramayana itu adalah kitab Ravanavadha karangan Bhatti, kitab ini sering juga disebut Bhattikavya. Kitab-kitab gubahan Ramayana sesungguhnya sangat banyak kita jumpai di India ataupun di luar India, tetapi semua kitab gubahan tersebut pada hakikatnya mengambil materi langsung maupun tidak langsung dari Ramayana karya Valmiki.

 

Seluruh isi Ramayana dikelompokkan kedalam tujuh Kanda, yaitu :

a.       Bala Kanda

 

Di negeri Kosala dengan ibu kotanya Ayodhya, memerintah raja Dasaratha. Ia mempunyai istri Kausalya yang berputra Rama sebagai anak tertua, Kaikeyi yang berputra Bharata, dan Sumitra yang berputra Laksamana dan Satrugena. Dalam sayembara di Wideha Rama berhasil memperoleh Sita putrid raja Janaka sebagai istri Rama.

 

b.      Ayodhya Kanda

 

Dasaratha merasa sudah tua maka ia hendak menyerahkan mahkotanya kepada Rama. Datanglah Kaikeyi yang memperingatkan Dasaratha bahwa ia masih berhak atas dua permintaan yang mesti dikabulkan oleh raja. Permintaan yang pertama Kaikeyi adalah Bharatalah yang harus menduduki tahta kerajaan bukan Rama. Permintaan kedua adalah supaya Rama dibuang ke hutan selama 14 tahun.

 

Akhirnya Rama diikuti oleh istrinya dan Laksamana meninggalkan Ayodhya. Tak lama kemudian Dasaratha meninggal. Bharata menolak untuk menjadi raja, ia pergi ke hutan mencari Rama agar mau memerintah di kerajaan Ayodhya. Rama menolak dan tetap pada pendiriannya untuk mengembara selama 14 tahun. Pulanglah Bharata ke Ayodhya dengan membawa trompah Rama. Trompah inilah yang diletakka diatas singasana sebagai symbol bahwa Bharata memerintah atas nama Rama.

 

c.       Aranyaka Kanda

 

Menceriterakan kehidupan Rama di dalam Hutan berkali-kali membantu para pertapa yang diganggu oleh raksasa. Suatu ketika ia berjumpa dengan raksasa perempuan yang bernama Surpanakha. Surpanakha jatuh cinta kepada Laksamana, oleh Laksamana Raksasa ini dipotong telinga dan hidungnya. Surpanakha mengadukan penghinaan itu kepada kakaknya sambil menceriterakan istri Rama yang sangat cantik.

 

Rahwana menculik Sita dengan menggunakan Marica yang menjelma menjadi kijang emas untuk menarik perhatian Rama dan Sita. Akhirnya kijang dipanah, seketika itu kijang menjelma menjadi raksasa dan menjerit minta tolong dengan berpura-pura sebagai Rama. Jeritan itu oleh Sita dikira Rama dan menyuruh Laksamana untuk menolongnya. Sita tinggal sendirian maka ia diculik oleh Rahwana, saat itu Jatayu melihat sehingga terjadi perang antara Jatayu melawan Rahwana. Jatayu kalah. Setelah memberikan penjelasan itu, Jatayu mati.

 

d.      Kiskinda Kanda

 

Menceriterakan kisah perjumpaan Rama dengan Sugriwa, seorang raja kera yang kerajaan dan istrinya direbut oleh saudaranya sendiri bernama Subali. Rama bersekutu dengan Sugriwa untuk memperoleh kerajaan serta istrinya dan sebaliknya Sugriwa juga membantu Rama untuk merebut kembali Sita dari Alengka. Kiskinda digempur sehingga Subali terbunuh oleh Rama, Sugriwa akhirnya kembali menjadi raja Kiskinda dan anaknya Subali bernama Angada dijadikan putra Mahkota. Tentara kera kemudian berangkat ke Alengka di tepi pantai selat yang memisahkan Alengka dengan daratan India tentara berhenti untuk mencari akal bagaimana cara menyeberangi lautan itu.

 

e.       Sundara Kanda

 

Menceriterakan bahwa Hanuman merupakan kepercayaan Sugriwa dan anak dari dewa angin mendaki gunung Mahendra, melompat menyeberangi laut dan tibalah di Alengka. Seluruh Alengka dijelajahi sampai ke dalam istana Rahwana, akhirnya bertemu dengan Sita dan menjelaskan bahwa Rama akan dating untuk menjemputnya. Hanuman ditawan tentara Alengka ia diikat erat-erat dan kemudian dibakar, Hanuman melompat ke atas rumah dan dengan ekornya yang menyala dikibaskan yang menimbulkan kebakaran di kota Alengka dan akhirnya Hanuman melompat kembali menghadap Rama untuk memberikan laporan.

 

f.       Yudha Kanda

 

Berkat bantuan dewa laut akhirnya tentara kera berhasil membuat jembatan menuju Alengka. Rahwana yang mengetahui bahwa negaranya terancam musuh kemudian menyusun pertahanan. Adiknya Wibhisana memberikan nasihat agar mengembalikan Sita kepada Rama dan tidak usah perang. Rahwana marah dan Wibhisana diusir. Pertempuran berlangsung sengit, namun setelah Indrajit dan Kumbakarna gugur, Rahwana terbunuh. Akhirnya Wibhisana diangkat menjadi raja di Alengka. Rama tidak mau kembali kepada istrinya karena meragukan kesuciannya.

 

g.      Uttara Kanda

Menceriterakan bahwa seluruh rakyat menyangsikan kesucian istrinya maka Sitapun diusir dari istana, diantar kepertapaan Walmiki. Kemudian Walmiki menggubah riwayat Sita itu menjadi Wiracarita Ramayana. Di pertapaan, Sita melahirkan dua anak laki-laki kembar bernama Kusa dan Lava,keduanya dibesarkan oleh Walmiki. Saat Rama mengadakan Aswameda, Kusa dan Lava hadir di istana sebagai pembawa nyanyian-nyanyian, Ramayana gubahan Walmiki. Rama mengetahui bahwa kedua laki-laki itu adalah putranya sendiri, maka dipanggillah Walmiki untuk mengantar Sita kembali ke istana. Setelah sampai di istana Sita bersumpah janganlah hendaknya raganya diterima seandainya ia memang tidak suci. Seketika itu belahlah bumi dan Dewi Perthiwi memeluk Sita serta membawanya ke dalam bumi. Rama sangat meyesal dan menyerahkan mahkotanya kepada kedua kemudian Rama kembali ke kahyangan sebagai Wisnu.

           

2).     Mahabharata

Itihasa yang kedua adalah Mahabharata, yang sering disebut dengan istilah Wiracarita. Istilah Mahabharata terdiri dari kata “Maha” yang berarti besar dan “Bharata” artinya keluarga Bharata. Jadi Mahabharata berarti keluarga besar Mahabharata, yang berasal dari keturunan Maharaja Duswanta seorang raja di Hastinapura. Beliaulah yang menurunkan keluarga Pandawa dan Korawa.

 

Cerita pokoknya sebagian besar menceritakan peperangan sengit selama 18 hari antara para Pandawa melawan Korawa. Karena itulah nama lengkap kitab in adalah Mahabharata-yuddha, yang berarti peperangan besar antara keluarga Bharata. Yang menggambarkan pecahnya perang saudara antara bangsa Arya itu sendiri.

 

Mahabharata ini ditulis oleh Bhagawan Byasa yang terdiri atas 100.000 stansa (sloka) yang dibagi menjadi 18 bagian (parwa) yang dikenal dengan istilah Asta Dasa Parwa.

Kedelapan belas Parwa tersebut adalah  :

a)      Adi Parwa                         g)   Drona Parwa                     m)   Anusasana Parwa

b)      Sabha Parwa                     h)   Karna Parwa                     n)    Aswamedha Parwa

c)      Wana Parwa                      i)    Salya Parwa                      o)    Asramawasika Parwa

d)     Wirata Parwa                     j)    Sauptika Parwa                 p)    Mausala Parwa

e)      Udyoga Parwa                  k)   Stri Parwa                         q)    Mahaprasthanika Parwa

f)       Bhisma Parwa                   l)    Santhi  Parwa                    r)     Swargarohana Parwa

 

 Disamping kedelapan belas Parwa itu terdapat pula dua buku suplemen (pelengkap) yaitu kitab Hariwamsa dan Bhagawadgita. Kitab Hariwamsa membahas mengenai asal mula keluarga Bhatara Krisna. Kitab Bhagwadgita berisi percakapan antara Bhatara Krisna dengan Arjuna di medan perang Kuruksetra.

 

Kedua Itihasa ini sangat terkenal di seluruh dunia, dan kedua wiracerita ini disebut juga dengan istilah Arsakavya, yang artinya syair yang sangat indah dan menyenangkan ditulis oleh para maharsi.

 

1.      Adi Parwa

Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya raksasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.

 

2.      Sabha Parwa

 

Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.

 

3.      Wana Parwa

 

Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.

 

4.      Wiratha Parwa

 

Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.

 

5.      Udyoga Parwa

 

Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan KorawaPandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.

 

6.      Bhisma Parwa

 

Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Rsi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.

 

7.      Drona Parwa

 

Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.

 

8.      Karna Parwa

 

Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya BhismaDrona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh BhimaSalya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17.

 

 

9.      Salya Parwa

 

Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.

 

10.  Sauptika Parwa

 

Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.

 

11.  Stri Parwa

 

Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.

 

12.  Santi Parwa

 

Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.

 

13.  Anusasana Parwa

 

Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Rsi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran DharmaArtha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang.

 

14.  Aswamedha Parwa

 

Kitab Aswamedhaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.

 

15.  Asramawasika Parwa

 

Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian DrestarastraGandariKuntiWidura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Rsi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.

 

16.  Mausala Parwa

 

Kitab Mausalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.

 

17.  Mahaprastanika Parwa

 

Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.

 

18.  Swargarohana Parwa

 

Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenarnya, yaitu Dewa Dharma.

 

(2)  Purana           

 

Kata Purana berasal dari kata pura 8 + ana menjadi kata purana. “Pura” berarti jaman kuno dan “ana” berarti mengatakan. Jadi Purana adalah sejarah kuno. Purana adalah kitab yang memuat ajaran suci dalam bentuk cerita (mithologi), keterangan mengenai tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman dahulu kala (kuno), terutama tentang Dewa-dewa, penciptaan dunia dan sebagainya. Kitab Purana banyak pula memuat cerita tentang silsilah raja-raja, perkembangan kerajaan Hindu dan dinasti pada masa itu.

 

Kata “Pura” di dalam Purana mengandung dua pengertian yaitu yang lalu dan yang akan datang. Kata Purana berarti tua atau kuno. Berdasarkan bentuk dan sifat isinya, purana adalah sebuah Itihasa karena di dalamnya memuat catatn-catatan tentang berbagai kejadian yang bersifat sejarah. Tetapi melihat kedudukannya, Purana adalah merupakan jenis kitab Upaveda yang berdiri sendiri, sejajar pula dengan Itihasa. Ini tampak ketika membaca keterangan yang menjelaskan bahwa mengetahui isi Veda dengan baik, kita harus mengenal Itihasa, Purana dan Akhyana.

 

Maksud penulisan kitab Purana ini adalah untuk menyiarkan pengetahuan keagamaan dan membangkitkan rasa pemujaan yang mendalam dikalangan rakyat dengan perantaraan mithos, cerita-cerita, dongeng-dongeng dan pencatatan sejarah kebangsaan termasuk didalamnya tentang silsilah raja-raja, sejarah perkembangan kerajaan Hindu dan berbagai dinasti pada masa itu. Melalui Purana ajaran Weda lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan di Indonesia beberapa Purana dialih bahasakan kedalam bahasa Jawa kuna sehingga dengan demikian umat Hindu di Indonesia mengenal cerita-cerita Purana dan mempergunakannya sebagai pedoman dalam hidupnya.

 

Secara ilmiah, pada dasarnya kitab Purana bertujuan untuk memberi keterangan secara metodelogi yang amat penting dalam memberi keterangan tentang ajaran Ketuhanan itu sendiri. Apabila kita tidak membaca seluruh Purana dan tidak membatasi diri kita maka kita akan secara tidak sadar terbawa pada satu pandangan yang keliru. Bukan demikian maksud adanya kitab Purana itu.

 

Jumlah kitab Purana ada 18 buah, berdasarkan sifatnya kedelapan belas purana itu  dibagi atas tiga kelompok, yaitu dengan menonjolkan pemujaan kepada Dewa Tri Murti seperti  :

 

a.       Kelompok Satwika Purana

                 

Kitab Purana ini mengutamakan pemujaan kepada Dewa Wisnu, maka dalam kitab ini Dewa Wisnu menempati kedudukan yang tertinggi dan diceritakan dalam berbagai wujud reinkar-nasinya sebagai Awatara. Yang termasuk kedalam kelompok Satwika Purana terdiri dari :

·         Wisnu Purana

·         Narada Purana

·         Bhagawata Purana

·         Garuda Purana

·         Padma Purana

·         Waraha Purana           

           

b.      Kelompok Rajasika Purana

 

Dalam kelompok ini pemujaan terhadap Dewa Brahma merupakan yang utama. Dewa Brahma sebagai salah satu manifestasi Tuhan Dalam Tri Murti. Yang termasuk dalam kelompok Rajasika Purana terdiri dari enam buah kitab Purana, yaitu

·         Brahmanda Purana

·         Brahmawaiwarta Purana

·         Markandeya Purana

·         Bhawisya Purana

·         Wamana Purana

·         Brahma Purana                       

 

c.       Kelompok Tamasika Purana

 

Kelompok kitab Tamasika Purana ini isinya menguraikan tentang cerita pemujaan Dewa Siwa sebagai Dewa yang tertinggi. Kelompok ini terdiri dari enam kitab Purana, yaitu :

·         Matsya Purana

·         Kurma Purana

·         Lingga Purana

·         Siwa Purana

·         Skanda Purana

·         Agni Purana

 

 

Berdasarkan catatan yang ada, Agni Purana dibagi atas tiga pokok, yaitu :

1.      Yang pertama, sesuai dengan materinya disebut Sawarahasya-kanda.

2.      Yang kedua merupakan Waisnawa Purana dan sebagai pelengkap pada Waisnawa pancarata, membahas mengenai Vedanta dan Gita.

3.      Yang ketiga didalamnya membahas aspek Saigwasma dan memuat beberapa pokok ajaran mengenai ritual menurut tantranya.

 

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Agni Purana merupakan hasil karya Bhagawan Wasistha. Berdasarkan kitab Agni Purana inilah kita mendapatkan keterangan bahwa ilmu pengetahuan itu dibedakan atas dua macam, yaitu :

a.       Para Widya, yaitu pengetahuan yang menyangkut masalah Ketuhanan dan dinyatakan sebagai pengetahuan tertinggi.

b.      Apara Widya, yaitu pengetahuan yang menyangkut masalah duniawi.

 

Kitab Purana sangat penting karena memuat cerita-cerita yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hokum yang pernah dijalankan. Kitab ini merupakan kumpulan ajaran hukum melalui peradilan (Jurisprudensi). Pada umumnya suatu Purana dianggap lengkap dan baik, bila memuat  lima isi pokok yang menjadi corak khusus yang disebut Panca Laksana, yaitu 

1.Sargah, yaitu cerita tentang penciptaan alam semesta (cosmogony).

2.Pratisargah, yaitu cerita tentang peleburan alam semesta yang disebut pralaya (kiamat) dan penciptaan dunia kembali.

3.Wamsa, yaitu cerita tentang asal-usul para Dewa dan Rsi.

4.Manwatara, yaitu cerita tentang masa Manu atau jaman-jaman pemerintahan Manu.

5.Wamsanucarita, yaitu tentang sejarah raja-raja atau dinasti raja-raja Hindu.

 

Disamping kedelapan belas Purana seperti dijelaskan di atas terdapat pula kitab Purana tambahan yang disebut Upa Purana, yang sifatnya sebagai tambahan atau suplemen. Kelompok kitab Purana ini lebih kecil dan isinya sangat singkat dan pendek. Secara tradisi penulisnya disebutkan Bhagawan Wyasa.

Adapun yang tergolong kitab Upa Purana jumlahnya sebanyak 18 buah, yaitu  :

a)      Sanatkumara,                    g)  Wamana,                            m)   Surya,

b)      Narasimaka,                      h)  Bhargawa,                          n )   Parasara,

c)      Brihannaradiya,                 i)   Waruna,                              o )   Wasistha,

d)     Siwarahasya,                     j)   Kalika,                               p )   Dewibhagawata,

e)      Durwasa,                           k)  Samba,                               q )   Ganesa

f)       Kapila,                               l)   Nandi,                                r )    Hamsa.

 

Untuk melihat pentingnya arti Purana dalam pelaksanaan ajaran agama itulah kita tidak dapat mengabaikan betapapun kecilnya catatan-catatan yang ada yang terdapat diberbagai candi atau tempat peribadatan.

 

Purana memberi  informasi yang bermanfaat kepada kita terutama dalam bidang pelaksanaan ajaran keagamaan atau acara. Dengan tujuan untuk melengkapi keterangan yang diperlukan untuk memahami Veda, kitab Purana itu sedikit banyaknya sangat bermanfaat. Dengan mempelajari kitab-kitab Purana itu diharapkan tingkat kebaktian dan keimanan seseorang akan dapat lebih mantap dan berkembang.

 

(3)  Arthasastra       

Renungan

Akhir-akhir ini agama cenderung digunakan sebagai instrument strategi oleh kalangan politisi guna meraih kemenangan politik untuk mendominasi tampuk pimpinan eksekutif dan mendapat angin dari public. Perkembangan peranan agama dalam kancah politik, tidak terlepas dari keadaan kehidupan social dan memanfaatkan reaksi kaum lemah yang menderita.

 

Sejauhmana umat Hindu dapat menghadapi tantangan-tantangan besar tersebut dan selanjutnya dapat berperan dalam pembangunan bangsa, adalah tergantung pada pemaknaan dan revitalisasi dharma dalam kehidupan. Dharma semestinya tetap diikuti untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana ditunjukkan oleh orang bijaksana. Kerja keras yang dilakukan untuk menegakkan dharma akan menghasilkan kepuasaan dan kebahagiaan tertinggi. Rahasia kebahagiaan bukanlah dalam melakukan apa yang disukai, tapi dalam menyukai apa yang harus dilakukan.

 

Dalam kehidupan politik yang berlandaskan dharma pantang untuk menggunakan cara-cara kekerasan (ahimsa). Dharma semestinya mampu menjamin tegaknya moralitas berkembangnya kepercayaan dan kejujuran, rasa tanggung jawab dan karakter, kesadaran social dan patriotism, rasa tanggung jawab social, bekerja keras, taat pada hukum, menghormati semua agama, dan rasa tak terpisahkan dengan Hyang Widhi.

 

Jangan sampai sebagai bagian dari bangsa ini, umat Hindu yang agamais, dengan upacara agama yang semarak tiap hari, tetapi pada saat yang sama juga melakukan hal tercela, seperti korupsi sehingga menjadikan Negara ini selalu menduduki peringkat atas Negara-negara terkorup yang dibuat oleh lembaga-lembaga penilai internasional.

           

Memahami Teks

 

Arthasastra adalah kitab yang isinya tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. Arthasastra sebagai kitab yang berisikan ilmu politik dan pemerintahan, sering juga disebut dengan nama Nitisastra, Raja Dharma atau Dandaniti. Pokok-pokok ajaran Arthasastra ini terdapat pula dalam Ramayana dan Mahabharata.

 

Kitab Arthasastra ini ditulis oleh Bhagawan Brhaspati, Maharsi Kautilya (Chanakya), Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara, Wisnugupta, Bharadwaja dan Wisalaksa.

 

Jenis kitab Arthasastra yang sudah digubah kedalam bahasa Indonesia adalah jenis kitab Usana, Nitisastra serta Sukraniti.

 

Yang tergolong kitab Arthasastra antara lain:

1.      Usana                                6. Agama

2.      Nitisastra               7. Sarasamuscaya

3.      Sukraniti                8. Dewadigama

4.      Manawa Dharmasa           9. Negarakramasasana

5.      Purwadigama

 

Relevansi isi Arthasastra yang masih relevan dengan alam pikiran politik modern Barat, terdapat di dalam ungkapan kitab Arthasastra itu. Karena itu untuk mendalami ilmu politik Hindu dianjurkan agar disamping membaca Itihasa dan Purana, supaya membaca Dharmasastra dan Arthasastra karya Chanakya itu.

 

Chanakya bersama rakya berhasil menjatuhkan penguasa dengan menjebak para penguasa pada kubangan nafsu (indria) mereka. Beliau menobatkan muridnya Chandragupta menjadi Raja kerajaan saat itu. Seorang pemuda dari rakyat jelata, golongan sudra. Sejak itu kerajaan dikuasai oleh rakyat dan pemimpin yang mau melayani rakyat. Kerajaan ini kemudian berkembang pesat sehingga mampu menguasai sebagian besar India Selatan. Kerajaan ini kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Asoka. Kerajaan ini merupakan pusat perkembangan kebudayaan yang berbasiskan rasionalitas yang dirintis sejak Upanisad dan Buddha sekitar tahun 600 SM. Raja Asoka generasi dari Chandragupta, menghapuskan deskriminasi social dan mengumumkan penghapusan segala tindak kekerasan untuk mencapai tujuan apapun dalam wilayah kekuasaannya.

 

(1)   Ayur Weda

Renungan

 

Apabila kita renungkan secara pikiran jernih tentunya manusia ingin hidup bahagia. Tidak salah pilihan ini memang benar adanya. Segala cara kita tempuh untuk dapat hidup bahagia diantaranya dengan meningkatkan status social dalam hidup bermasyarakat, peningkatan karier dan bekerja keras untuk mendapatkan impian itu. Dengan bekerja keras mendapatkan imbalan dari usaha yang ia jalankan maka hidup akan terasa mudah dan nyaman.

 

Namun sebaliknya dibalik ujian kesenangan duniawi ini ada pula ujian duniawi yang selalu berjalan paralel dengan kesenangan hidup duniawi tadi. Semua ujian ini adalah untuk meningkatkan sradha dan bakti kita kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinan yang kita anut. Apakah kita cukup sabar dalam ujian kemalangan dan kesenangan ataukah menjauhi ujian itu dengan cara kita sendiri.

 

Di samping ujian kesenangan ada pula bentuk ujian yang berhubungan dengan gangguan kesehatan yang tak kalah pula memerlukan perhatian dan penanganan seksama. Apabila kita masih sehat tidak menghargai betapa pentingnya kesehatan ini. Bahkan tidak banyak bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi begitu kita sakit kita akan menangisi keadaan ini dan menyadari bahwa kesehatan itu sangat penting dalam hidup ini. Nah karena kesehatan adalah segala-galanya dalam hidup ini maka kita harus mengusahakan agar kesehatan tidak lepas dari kita sampai ajal menjemput nantinya. Dengan kata lain mencegah lebih baik daripada mengobati setelah datang sakit. Sebelum sakitnya sebaiknya kita mencegah datangnya sakit.

 

            Memahami Teks

 

Kitab Ayur Weda adalah kelompok kitab Upaweda yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran. Sehingga ajaran yang menjadi hakekat kitab ini adalah menyangkut bidang kesehatan baik jasmani maupun rohani. Jadi Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis.

 

Istilah Ayurveda berarti ilmu yang menyangkut bagaimana seseorang dapat mencapai panjang umur. Ayu artinya baik dalam artian panjang umur. Isinya menyangkut berbagai pengetahuan tentang kehidupan manusia (Bhuana Alit) yang hidup di dunia ini (Bhuana Agung), terutama yang berkaitan dengan berbagai upaya agar manusia dapat hidup sehat dan berumur panjang. Kitab ini juga membahas pengetahuan mengenai biologi, anatomi, dan berbagai macam pengetahuan mengenai jenis-jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tanaman obat.

 

Disamping Ayur Weda yang ditulis oleh Maha Rsi Punarwasu, terdapat pula jenis-jenis kitab yang tergolong  kelompok Ayur Weda, seperti  :

 

a)      Susruta Samhita

Kitab ini isinya tentang pentingnya ajaran umum dibidang ilmu bedah. Disamping itu kitab Susruta Samhita mencatat berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta.

 

b)      Yogasara

Kitab ini menguraikan tentang pokok-pokok ajaran ilmu yoga yang berhubungan dengan system anatomi dalam pembinaan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna.

 

c)      Kamasutra

Juga disebut dengan nama kitab Kamasastra, isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Disamping itu kitab ini juga memuat tentang hal-hal yang berhubungan dengan asmara, seni atau rasa indah. Kitab Kamassutra ini ditulis oleh Bhagawan Waisyayana pada ± abad 10 Masehi. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra.

 

Berdasarkan materi yang terdapat dalam kitab Ayur Weda, maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum, yaitu  :

1)   Salya, yaitu ajaran mengenai ilmu bedah.

2)      Salkya, yaitu ajaran mengenai ilmu penyakit.      

3)      Kayakitsa, yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan.

4)      Bhutawidya, yaitu ajaran mengenai ilmu psikotheraphy.

5)      Kaumarabhrtya, yaitu ajaran mengenai ilmu pendidikan anak-anak dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak.

6)      Agadatantra, yaitu ajaran mengenai ilmu toxikologi.

7)      Rasayamatantra, yaitu ajaran mengenai ilmu mujijat.

8)      Wajikaranatantra, yaitu ajaran mengenai ilmu jiwa remaja.

 

 berbagai bidang ajaran Ayurveda pada dasarnya terdiri atas enam bidang studi kasus yaitu :

1.      Sutrasthana, yaitu bidang ilmu pengobatan.

2.      Nidanasthana, yaitu bidang ilmu yang membicarakan berbagai macam penyakit yang paling pokok saja.

3.      Wimanasthana, yaitu bidang ilmu yang mempelajari tentang phatologi, tentang ilmu pengobatan dan kewajiban yang harus dipenuhi dan dipatuhi oleh seorang dokter medis.

4.      Indriyasthana, yaitu ilmu yang mempelajari cara diagnose dan prognosa.

5.      Saristhana, yaitu bidang ilmu yang mempelajari tentang anatomi dan embriologi.

6.      Cikisasthana , yaitu bidang ilmu yang mempelajari secara khusus tentang ilmu terapi.

 

Menurut Ayurveda, hidup itu merupakan perpaduan antara raga sarira atau sthula sarira (badan kasar), suksma sarira (badan halus), manah (kemampuan berpikir), indriya (kemampuan mengindera), dan atma (jiwatman). Manusia dianggap hidup adalah manusia yang mampu melaksanakan aktivitas utama hidupnya (karma purusha), mampu melakukan dharma, sebagai suati akumulasi atau perpaduan keseimbangan antara unsur tri dosha (cairan humoral) yang berada di dalam tubuh, sapta dhatu (jaringan tubuh), dan tri mala (limbah buangan, ekskreta) jaringan tubuh yaitu rasa (plasma), rakta (darah), mamsa (otot), meda (lemak), asthi (tulang), majja (sumsum), dan sukra (energy vital) akan dapat berfungsi optimal bila unsure tri dosha (vata, pitta, kapha) berada dalam keadaan seimbang dan mala (berak, kencing, keringat) dibuang secara teratur.

 

Berkeringat setiap saat, buang air kecil setiap 8 jam, dan buang air besar setiap 24 jam adalah bentuk mala yang harus dibuang secara teratur dari tubuh. Bila ini tidak dilakukan tidak terjadi maka keseimbangan dalam tubuh akan terganggu. Akibatnya manusia itu akan jatuh sakit.

 

Di dalam pengobatan tradisional Bali, kitab Ayurveda ini dikenal dengan nama lontar Usada atau kitab Usada. Isinya tidaklah persis sama seperti apa yang ditulis di dalam Ayurveda. Ada berbagai kearifan local yang masuk dan terdapat di dalam lontar Usada. Unsur tri dosha terdiri atas unsur vata (angin, udara), pitta (api) dan kapha (air).

 

(5)  Gandharwa Weda

            Renungan

 

Kehidupan manusia dari zaman pra sejarah hingga era reformasi seperti saat ini tak dapat lepas dari eksistensi kesenian sebagai sebuah media keindahan, hiburan, hingga media komunikasi yang cukup efektif. Munculnya berbagai displin kesenian merupakan suatu cermin bagi perkembangan peradaban manusia, karena seni merupakan salah satu hasil budaya manusia.

 

Kesenian pun lahir dengan beragam kategori yang kesemuanya dapat dinikmati oleh tiap indera; seni gerak, seni music, seni lukis, seni pahat, seni patung, seni peran, seni sastra, dsb. Dan kesemuanya memiliki fungsi dan peran yang berbeda bagi kehidupan manusia, namun juga memiliki juga memiliki sisi kesamaan. Ada pendapat dalam dunia filsafat seni bahwa manusia adalah makhluk pemuja keindahan. Melalui panca indra manusia menikmati keindahan dan setiap saat tak dapat berpisah dengannya, dan berupaya untuk dapat menikmatinya. Kalau tidak dapat memperolehnya manusia mencari kian kemari agar dapat menemukan dan memuaskan rasa dahaga akan keindahan.

 

Tampaknya kerelaan orang mengeluarkan dana yang relatif banyak untuk keindahan dan menguras tenaga serta harta untuk menikmatinya, seperti bertamasya ke tempat yang jauh bahkan berbahaya,hal ini semakin mengesankan betapa besar fungsi dan arti keindahan bagi seseorang. Agaknya semakin tinggi pengetahuan, kian besar perhatian dan minat untuk menghargai keindahan.

 

            Memahami Teks

 

Kitab Gandharwa Weda isinya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. Gandharva Veda juga mengajarkan tentang tari, music atau seni suara. Menduduki tempat yang penting dan ada hubungannya dengan Samaveda. Pengetahuan Gandharwa Weda membantu para sastrawan dalam menggubah ajaran-ajaran agama dalam syair-syair yang sangat indah dan menjadi dasar keterangan mengenai sejarah asal mula lagu-lagu pujaan atau mantra dan kidung-kidung yadnya lainnya.

 

Penulis terkenal Sadasiwa, Brahma dan Bharata. Bharata menulis buku yang dikenal dengan Natyasastra, dan sesuai menurut namanya, Natya berarti tari-tarian, karena itu isinya pun jelas menguraikan tentang seni tari dan music. Tari-tarian dan seni suara tidak dapat dipisahkan dari agama. Bahkan Siwa terkenal sebagai Nataraja yaitu Dewa atas ilmu seni tari.

 

Gandharwa Weda sebagai kitab Smerti, juga memiliki beberapa bagian kitab, seperti :

·         Natyasastra.

·         Natyawedagama.

·         Dewadasasahasri.

·         Rasarnawa.

·         Rasarat Nasamuscaya dan yang lainnya.

 

(6)  Kamasastra

 

Kitab Kamasastra sebagai bagian dari jenis kitab Upa Weda berisi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara, seni atau rasa indah. Kamasastra biasanya diter-jemahkan sebagai ilmu asmara. Sesungguhnya terjemahan itu tidak tepat, walaupun kata kama artinya asmara. Melihat dari isinya maka pada garis besarnya kitab ini tergolong ilmu seni. Segala yang berbau seni umumnya bertujuan untuk membangunkan perasaan atau ilmu rasa. Isinya bukan hanya mengupas pendidikan sex, tetapi perlunya setiap manusia mempelajari segala aspek seni atau rasa indah.

 

Dalam upaya untuk mewujudkan salah satu tujuan hidup, umat Hindu dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Kebangkitan dari rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya dipedomani oleh Kamasastra. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarah/bernilai positif adanya. Kitab Kamasastra yang paling terkenal adalah karya dari Bhagawan Watsyayana.

 

(7)  A g a m a

 

Salah satu bagian yang terpenting dari kitab Weda dan merupakan kitab suci bagi umat Hindu adalah kitab Agama. Kitab Agama timbul dan berkembang jauh-jauh setelah agama Hindu mencapai bentuk Agama. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Weda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab Agama. Kitab Agama adalah kitab suci agama Hindu yang isinya khusus memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan.

                 

Pada mulanya isi kitab Agama dibagi kedalam empat pokok bahasan, yaitu  :

2)      Jňana

Yaitu  segala aspek  pengetahuan,  terutama  Widhitattwa,  Atmatattwa,   Samsara, Moksa dan sebagainya.

3)      Yoga

Yaitu  petunjuk  dan  keterangan  tentang  cara  melakukan  yoga  atau   hubungan rohani dengan Tuhan Yang Maha Esa.

4)      Kriya

Yaitu  petunjuk  dan  keterangan  tentang ritual secara esoterisma.

5)      Charya

Yaitu  petunjuk  dan  keterangan  tentang pemujaan yang bersifat exoteris.

 

Oleh karena itu maka isinya merupakan bahasan berbagai pengertian, tidak saja tentang ontology, tetapi juga hal-hal yang menyangkut tentang kosmologi, mukti atau moksa, bhakti, meditasi, filsafat tentang mantra atau diagram yang bersifat mistik, berbagai macam doa yang ada kaitannya dengan pedukunan, pembuatan pura, pembuatan rumah, pembuatan arca, peraturan social serta segala aturan mengenai tata tertib upacara yadnya.

 

Menurut ajaran agama Hindu tiap jaman mempunyai sifat-sifat tertentu. Pada garis besarnya kitab suci Hindu dikaitkan dengan jaman  :

a)      Krta Yuga

Berlaku kitab Sruti (Rg , Yajur,  Sama  dan  Atharwa  Weda,  Upanisad   dan Brahmana), terutama pelaksanaan ajaran Niwerti Marga.

 

b)      Trita  Yuga

Berlaku  kitab Smerti (Wedangga terutama Dharmasastra) dengan  ajaran pokok mencangkup pelaksanaan Prawerti Marga.

 

c)      Dwapara Yuga

Berlaku  kitab  Purana  dan  Itihasa   menjadi   pegangan   dan   petunjuk  pelaksanaannya terutama mencangkup aspek pelaksanaan yadnya.

 

d)     Kali Yuga

Berlaku kitab Tantra atau Agama yang menjadi pegangan dan petunjuk.

 

Walaupun tiap-tiap jaman mempunyai kitab suci yang bersifat khusus, ini tidak berarti bahwa kitab-kitab sebelumnya diabaikan. Kitab berikutnya merupakan penambahan atau pengem-bangan terhadap kitab sebelumnya. Dengan demikian kitab Agama tidak dapat dipisahkan dengan kitab-kitab Weda lainnya. Kitab Agama adalah kitab suci agama Hindu pula.

 

Demikianlah antara lain sumber ajaran agama Hindu yang tertulis, disamping juga sumber ajaran agama Hindu yang tidak tertulis.

Sumber ajaran agama Hindu yang tidak tertulis meliputi  :

1)   S i l a  atau ethika yang telah diterima secara umum oleh orang-orang bijaksana.

2)   Sistacara  atau acara adalah tradisi setempat yang dijalankan sebagai bagian dari kepercayaan

agama Hindu.

3)   Atmanastusti yaitu suatu perbuatan yang dapat memberi kebahagiaan dan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan dharma.

 

Ajaran agama mulai dari sabda Tuhan dalam kitab suci Weda dan seluruh susastra Hindu , seperti dalam kitab – kitab Itihasa dan Purana merupakan sumber ajaran budi pekerti, karena pada hakikatnya ajaran agama mengubah dan meningkatkan kualitas hidup manusia baik jasmani maupun rohani. Ajaran suci Weda memberi tuntunan kepada umat mencakup semua aspek hidup dan kehidupan semua manusia, karena memang Weda diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan serta mensejahterakan umat manusia demi tercapainya kebahagiaan lahir bathin.


TUGAS DISKUSI

 

TUGAS KELOMPOK

JAWABLAH SOAL-SOAL BERIKUT DENGAN SINGKAT DAN JELAS !     

1.      Mengapa kitab Itihasa sangat penting artinya untuk dipelajari dalam usaha mempelajari Veda?

2.      Makna apakah yang dapat anda petik setelah membaca wiracarita Mahabharata?

3.      Setelah membaca dan memahami isi kitab Ramayana dan Mahabharata coba diskusikan dalam kelompok mengenai persamaan nilai-nilai yang terkandung di dalam kitab tersebut yang relevan dalam masyarakat!

4.      Sebutkan beberapa jasa Bhagawan Byasa terkait dengan keberadaan kitab suci Weda!

 

TUGAS KELOMPOK

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Jelaskan pendapat anda tentang politik dan tata pemerintahan dari sudut pandang agama Hindu!

2.      Apakah ajaran yang termuat dalam kitab-kitab Arthasastra masih relevan dengan perkembangan politik pemerintahan dewasa ini dalam menjaga keutuhan NKRI? Diskusikan bersama kelompok dan presentasikan hasil diskusinya!

 

TUGAS KELOMPOK

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Diskusikanlah dengan orang tua anda tentang tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat untuk pengobatan! Laporkanlah hasilnya dalam bentuk portofolio!

2.      Bagaimana kaitan kesenian dengan kehidupan keagamaan umat Hindu? Jelaskanlah dan beri contoh!


EVALUASI HASIL BELAJAR

 

TUGAS 1

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Kitab suci Veda bersifat komprehensip. Jelaskan maksud dari pernyataan tersebut!

2.      Coba jelaskan pengertian dari Weda!

3.      Apa yang dimaksud dengan Sruti dan Smerti ?  Jelaskan !

4.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis kitab yang termasuk Weda Sruti !

5.      Sebutkan nama penulis dari masing-masing Catur Weda !

6.      Sebutkan yang termasuk dalam Kitab Smrti!

7.      Sebutkan dan jelaskan bagian-bagian dari kitab Sad Wedangga !

8.      Jelaskan perbedaan antara Sruti dan Smerti  !

9.      Sebutkan bagian-bagian yang termasuk Kitab Upaweda!

10.  Kitab yajur weda ada dua macam, yaitu yajur weda putih dan yajur weda hitam. Jelaskan perbedaannya!

 

TUGAS 2

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Kitab Dharmasastra berkembang dengan pesatnya, sehingga kitab ini jumlahnya sangat banyak. Jika dihubungkan dengan jaman atau yuga, kitab Dharmasastra ada empat, sebutkan dan jelaskan!

2.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan Itihasa?

3.      Jelaskan nilai-nilai budi pekerti yang terdapat dalam Itihasa!

4.      Coba tuliskan ceritera tentang sabha parwa!

5.      Siapa yang menulis kitab Ramayana dan Mahabharata?

 

TUGAS 3

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Coba cari sloka dalam kitab vayu Purana I.20 kemudian tuliskan arti sloka tersebut!

2.      Tuliskan bagian-bagian kitab Mahabharata!

3.      Sebutkan bagian-bagian Kitab Ramayana!

4.      Sebutkan tokoh Panca Pandawa dalam Kitab Mahabharata!

5.      Tuliskan secara singkat isi Kitab Bala Kanda!

 

TUGAS 4

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Apa yang dimaksud dengan Purana?

2.      Menurut catatan yang dapat dikumpulkan, pada mulanya kita memiliki kurang lebih 18 kitab Purana, sebutkan!

3.      Berdasarkan Agni Purana kita mendapatkan keterangan bahwa ilmu pengetahuan itu dibedakan atas dua macam. Sebutkan dan jelaskan!

4.      Pada garis besarnya, hampir semua Purana memuat cerita-cerita yang secara tradisional dapat kita kelompokkan kedalam lima hal. Sebutkanlah hal itu!

5.      Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum, sebutkan dan jelaskan!

6.      Jelaskan isi kitab Gandharva Veda!

7.      Sebutkan  kitab-kitab yang termasuk bagian dari Kitab Gandharva Veda!

8.      Jelaskan apa isi kitab Kama sastra!

9.      Dilihat dari namanya kitab Natyasastra berarti?

10.  Sebutkan sumber-sumber hukum Hindu yang tidak tertulis!

 

TUGAS 5

Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar!

1.      Kelompok kedua dari Veda Smrti adalah kitab Upaveda. Kata Upaveda berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu kata upa dan veda. Kata Veda berarti…..

2.      Catur Veda terdiri dari Rg. Veda, Samaveda, Yajurveda dan Atharvaveda, dan masing-masing dari kitab ini memiliki kitab Upaveda. Kitab Upaveda dari Samaveda adalah….

3.      Atharvaveda, merupakan bagian terkahir dari Catur Veda. Kitab ini memiliki kitab Upaveda yang bernama…..

4.      Di dalam kitab Amarakosa karya Amarsingh kita menjumpai istilah yang memiliki arti sama dengan Itihasa, yaitu istilah…..

5.      Kitab Itihasa terdiri dari dua kitab yaitu : Ramayana dan Mahabharata kedua wiracerita ini disebut juga degan istilah Arsakavya, yang artinya…..

6.      Artha Sastra sebagai kitab yang berisikan ilmu politik dan pemerintahan, sering juga disebut dengan nama….

7.      Salah satu penulis kitab “Artha Sastra” adalah Maharsi Kautilya, yang merupakan penasehat raja di kerajaan…..

8.      Ada banyak buku terkenal mengenai ilmu kedokteran, antara lain : kitab Salya yang isinya menguraikan tentang…..

9.      Salah satu bagian dari 8 bagian Ayurveda, adalah kitab Rasayamatantra yang memuat tentang….

10.  Kitab Susrutasamhita isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah, kitab ini ditulis oleh….

 

 


 

LEMBAR KERJA SISWA

 

PETUNJUK KERJA

A.    Kitab suci weda ada 4 (empat) yang disebut Catur Weda Samhita. Catur weda samhita merupakan wahyu Tuhan disusun oleh Bhagawan Wyasa sesuai kelompok umur dan jenis isinya. Bhagawan Wyasa pula yang memiliki ide untuk menulis/mengkodifikasikan weda yang dibantu oleh empat siswanya. Tulis pengetahuan anda yang berkaitan dengan catur weda dengan melengkapi kolom di bawah ini!

No

Jenis kitab

Jumlah sloka

Isinya

Penulisnya

1

Rg weda

 

 

 

 

 

 

2

Sama weda

 

 

 

 

 

 

3

Yajur weda

 

 

 

 

 

 

 

4

Atharwa weda

 

 

 

 

 

 

 

 


 

B.     Bagan weda

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


C.     Kitab Ramayana merupakan salah satu kitab suci Hindu yang tergolong kelompok Smrti. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Walmiki. Coba ceriterakan secara singkat riwayat hidup Bhawagan Walmiki! Tulis ceritera tersebut pada lembar yang telah tersedia di bawah ini!

Ceritera singkat riwayat hidup Bhagawan Walmiki:

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

D.  Buatlah sipnosis ceritera Ramayana dan Mahabharata, yang merupakan bagian dari Upaveda, pada lembar yang telah tersedia di bawah ini!

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

E.   Sebutkan tokoh-tokoh dalam Itihasa baik dalam Ramayana maupun Mahabharata, serta karakternya masing-masing, dengan melengkapi kolom di bawah ini!

 

No

Nama tokoh

Tokoh dalam

Karakter

Ramayana

mahabharata

1

Raja Janaka

 

 

 

2

Duryodana

 

 

 

3

Karna

 

 

 

4

Marica

 

 

 

5

Dhasarata

 

 

 

6

Widura

 

 

 

 


BAB 3

PADEWASAAN (WARIGA)

 

Kompetensi Inti

KI 1:  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2:  Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KI 3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI 4: Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

 

Kompetensi dasar       :

 

1.1 Membiasakan mengucapkan salam agama Hindu

1.2 Membiasakan mengucapkan dainika upasana (doa sehari-hari).

2.1 Toleran terhadap sesama, keluarga, dan lingkungan dengan cara menyayangi ciptaan Sang Hyang Widhi (Ahimsa).

2.2   Berperilaku jujur (Satya), menghargai dan menghormati  (Tat Tvam Asi) makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi

3.3  Menjelaskan hakekat Padewasan (wariga) dalam kehidupan umat Hindu.

4.3  Mempraktekkan cara menentukan padewasan (wariga) dalam kehidupan umat Hindu

 

 

 

Indikator :

 

1.      Menjelaskan pengertian Dewasa, Wariga

2.      Menguraikan Hakikat Padewasaan

3.      Menentukan Padewasaan

-          Menjelaskan pengertian Wewaran

-          Menjelaskan pengertian Wuku

-          Menjelaskan pengertian tanggal dan Panglong

-          Menjelaskan pengertian Sasih

-          Menjelaskan pengertian Dauh

4.      Menguraikan Hala Hayuning Dewasa

5.      Mencari hari-hari suci/rerainan berdasarkan pawukon (wuku) mempergunakan lima jari kiri

6.      Menguraikan urip dari masing-masing Panca Wara dan Sapta Wara

7.      Rumus Perhitungan Wariga

 

  1. Pengertian

“Ayanuu ca yaddattay, adacitimukheuu ca, candrasuryoparage ca, viuuve ca tadakuawam” (Sarasamuscaya 183)

Artinya :

Inilah perincian waktu yang baik, ada yang disebut daksinayana, waktu matahari bergerak ke arah selatan, ada yang disebut uttarayana, waktu matahari bergerak ke arah utara (dari khatulistiwa). Ada yang dinamakan sadacitimukha yaitu pada saat terjadinya gerhana bulan atau matahari, wisuwakala yaitu matahari tepat di khatulistiwa, adapun pemberian dana berupa benda pada waktu yang demikian itu sangat besar sekali pahalanya.

 

Renungan

 

Hari baik atau hari buruk adalah berkaitan dengan waktu untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Bagi umat Hindu baik di Bali maupun di luar Bali penentuan waktu untuk melakukan suatu aktivitas tertentu dikenal dengan istilah padewasaan. Tetapi tidak sedikit juga tidak percaya. Mereka berasumsi semua hari sama saja. Baik atu buruk tergantung pada manusianya.

 

Mungkin ada benarnya bahwa semua tergantung manusia (sesuai konsep hukum karma phala). Tetapi pemahaman bahwa semua hari adalah sama, sangat keliru. Bagi yang meyakini tentang baik buruknya hari mungkin apa yang dibahas di sini dapat menjadi penguat keyakinan tersebut, sedangkan bagi yang belum yakin dengan yang disampaikan secara logika dapat diterima bahwa memang ada pengaruh hari terhadap kehidupan manusia.

 

Dalam hal ini hari baik atau hari buruk adalah waktu atau hari yang tepat untuk melakukan aktivitas tertentu agar aktivitas kita semaksimal mungkin dapat berjalan dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan yang maksimal.

 

Perkembangan padewasaan tidak bisa dilepaskan dari sumbernya yakni Veda. Veda dalam pemahamannya memerlukan ilmu bantu yang dinamakan dengan Vedangga yaitu siksa, vyakarana, chanda, nirukta, jyotisa dan kalpa.

 

Jyotisa ini selanjutnya menjadi salah satu ilmu bantu untuk memahami ajaran Veda yang suci sesuai keterangan tersebut. Jyotisa sebagai alat bantu Veda disistematiskan dan dijelaskan oleh Maharsi Garga. Disusun kira-kira 1200 tahun SM. Pengetahuan ini sangat berguna dalam penentuan hari baik dalam melaksanakan upacara-upacara Veda.

 

Dalam kehidupan masyarakat Hindu terdapat suatu pandangan kosmis, dimana manusia merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsur kecil saja yang ikut terbang oleh proses peredaran alam semestra yang Maha Besar. Pandangan kosmos mendasari manusia untuk selalu membangun hubungan yang harmonis antara makrokosmos dangan mikrokosmos guna mewujudkan ketentraman batin dalam kehidupan.

 

Planet-planet di ala mini saling mempengaruhi. Matahari, bulan, dengan berbagai planet yang mengelilingi bumi berpengaruh terhadap semua makhluk hidup dan benda tak hidup yang ada di bumi. Memang yang paling dominan terasa di bumi adalah pengaruh matahari dan bulan yang secara langsung bisa kita rasakan dengan adanya siang dan malam serta adanya musim-musim tertentu yang berbeda di berbagai belahan bumi.

 

Para astrologi tahu benar tentang pengaruh berbagai planet yang ada di alam terhadap di bumi. Jika kita pahami bagaimana proses penciptaan bhuwana agung dan hubungannya dengan proses penciptaan bhuwana alit maka kita tidak dapat menolak betapa kita sebagai manusia sangat dipengaruhi oleh guna (sifat dasar) dari alam. Nama-nama hari disesuaikan dengan pengaruh dominan planet tertentu. Planet-planet tersebut memiliki komposisi guna (sifat dasar yang berbeda). Secara sederhana, Siang hari dominan pengaruh matahari, sifat matahari panas. Malam hari dominan pengaruh bulan (sifat bulan lembut)

 

Dari segi waktu juga pagi hari berbeda pengaruh planet matahari dengan siang hari atau sore hari. Jadi setiap waktu berbeda dan hari yang berbeda akan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kehidupan di bumi.

 

Jadi apapun pendapat kita tentang hari secara de facto bahwa alam mempengaruhi setiap aktivitas manusia. Lantas apa peranan manusia? Disinilah peranan keputusan setiap individu untuk menyikapi dan mengambil keputusan terhadap apa yang disediakan oleh alam. Untuk menghindari pengaruh panas matahari maka orang akan mengambil keputusan tidak beraktivitas di siang hari terik. Kalau terpaksa harus beraktivitas menggunakan alat pelindung seperti topi atau payung.

 

            Memahami Teks

 

Padewasaan berasal dari kata “dewasa” mendapat awalan pa- dan akhiran –an (pa-dewasa-an). Dewasa artinya hari pilihan, hari baik. Padewasaan berarti ilmu tentang hari baik. Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.

 

Dewasa ialah perhitungan baik buruknya hari untuk melaksanakan suatu pekerjaan, baik yang berhubungan dengan panca yadnya maupun untuk memulai pekerjaan yang dianggap penting dalam kehidupan.

 

Dewasa ayu berarti hari yang dianggap baik menurut ilmu wariga (padewasaan) sedangkan sebaliknya Dewasa hala ialah hari yang dianggap tidak baik menurut ilmu wariga.

 

Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomiatau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

 

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.

 

Wariga adalah saat, waktu atau hari yang baik atau buruk yang diakibatkan oleh peredaran kekuatan jagat raya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adanya inilah agama.

 

Berdasarkan keterangan lontar Wariga Gemet kata warga berarti wa (terang), ri (puncak) dang a artinya (wadag). Secara harfiah menurut teks Wariga Gemet kata wariga berarti wadag untuk mencapai puncak yang terang.

 

Jadi berdasarkan beberapa uraian dapat dijelaskan wariga dalam pengertian bahasa Bali adalah ajaran mengenai system kalender/tarikh tradisional Bali, terutama dalam menentukan diwasa/dewasa (baik-buruknya hari) terkait kepentingan masyarakat. Jadi padewasaan dapat ditentukan dengan menggunakan wariga.

 

Tujuan praktis kitab ini adalah dijadikan pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil, dengan mengingat hari atau waktu dalam system sradha Hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

 

  1. Hakikat Padewasaan

Renungan

 

Setiap waktu dan hari memiliki karakter berbeda sesuai pengaruh dominan benda-benda alam (planet) terhadap bumi. Pengaruh ini akan mempengaruhi juga karakter alam baik binatang, tumbuhan dan manusia. Dengan mempelajari berbagai pengaruh tersebut kita diberikan kesempatan untuk memilih waktu dan hari yang tepat untuk aktivitas yang sesuai, atau menghindari untuk tidak melakukan aktivitas tertentu pada waktu dan hari tertentu. Masalahnya bagaimana kita menentukan hari dan waktu yang tepat? Bagaimana kita tahu ahli tersebut membuat perhitungan dengan benar?

 

“Berbuat baik janganlah menunggu hari baik tetapi pada hari baik berbuatlah yang baik”.

 

            Memahami Teks

 

Ilmu padewasaan dan wariga adalah merupakan bagian dari ilmu astronomi di dalam agama Hindu termasuk bidang Vedangga. Fungsi Vedangga  bertujuan untuk melengkapi Veda, maka jelas kalau penggunaan wariga dan dewasa bertujuan untuk melengkapi tata laksana agama. Jadi secara hakiki fungsi dari wariga adalah pelengkap dalam ilmu agama yang bertujuan untuk memberikan ukuran atau pedoman dalam mencari dewasa.

 

Dewasa sebagai suatu kebutuhan dalam pelaksanaan aktivitas hidup umat Hindu bertujuan memberikan rambu-rambu kemungkinan-kemungkinan pengaruh baik-buruk hari terhadap berbagai usaha manusia. Baik buruk hari mempunyai akibat terhadap nilai hasil dan guna suatu perbuatan. Misalnya ;

  1. Melihat cocok atau tidak cocoknya perjodohan oleh karena pembawaan dari pengaruh kelahiran yang membawa sifat tertentu kepada seseorang.
  2. Melihat cocok atau tidaknya mulai membangun, membuat pondasi, mengatapi rumah, pindah rumah dan sebagainya.
  3. Melihat baik atau tidaknya untuk melakukan upacara ngaben, atau atiwa-atiwa.
  4. Melihat baik atau tidaknya untuk melakukan segala macam upacara kesucian yang ditujukan kepada Dewa-Dewa.
  5. Melihat baik tidaknya untuk melakukan kegiatan termasuk bidang pertanian dan lain-lainnya.

 

Adanya gambaran tentang baik atau tidak baiknya suatu hari untuk melakukan suatu kegiatan orang diharapkan lebih bersifat hati-hati dan tidak boleh gegabah. Ini diharapkan tidak mempengaruhi keimanan terhadap Tuhan melainkan menjadi dasar pelaksanaan sraddha dan bhakti (iman dan taqwa), sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai dengan baik. Secara hakikat maksud dan tujuan wariga dan dewasa adalah :

1.      Memberi ukuran atau pedoman yang perlu dilakukan oleh orang yang akan melaksanakan suatu pekerjaan berdasarkan ajaran agama Hindu dengan harapan bisa berhasil dengan baik.

2.      Untuk memberi penjelasan tentang berbagai kemungkinan akibat yang timbul akibat pemilihan hari yang dipilih sehingga memberikan alternatif lain yang akan dipilih.

3.      Sebagai suplemen dalam mempelajari Veda dan agama Hindu sehingga dalam menjalankan ajarannya bisa dilaksanakan secara tepat sesuai pengaruh waktu dan planet-planet yang berpengaruh pada waktu-waktu tertentu.

 

Pelaksanaan Padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu :

a.       Padewasaan sadina artinya sehari-hari

b.      Padewasaan masa artinya berkala.

 

 

  1. Menentukan Padewasan

Renungan

 

Ada orang yang mengalami kegagalan beralasan ini adalah hari buruk. Sementara ketika melihat orang lain sukses, sebagian orang bilang itu hari baiknya. Banyak orang beranggapan hari baik itu berarti hari keberuntungan. Apapun yang kita lakukan akan berhasil. Kalau hari buruk dianggap sebagai hari sial. Apapun yang dikerjakan akan gagal. Malah terkadang dapat musibah. Bagaimana menurut anda, adakah hari baik atau hari buruk tiu? Di daerah tertentu untuk menentukan hari penting seperti pernikahan harus ada hitung-hitungan hari baiknya. Tidak bisa sembarangan, harus konsultasi dulu ke “orang pintar”. Katanya kalau asal-asalan menentukan tanggal bisa mendapat sial atau musibah.

Setiap hari sebenarnya sama saja. Waktunya sama-sama 24 jam. Kebiasaan dan cara pandang kitalah yang membuat hari-hari yang dilalui itu terasa berbeda. Biasanya senin sampai jumat atau sabtu digunakan untuk bekerja. Akhir pecan adalah waktu untuk bersantai bersama keluarga. Namun kebiasaan tiap orang berbeda sesuai dengan jalan hidupnya masing-masing.

 

            Memahami Teks

 

Ada lima pokok yang harus dipahami dalam menentukan padewasaan yaitu wewaran, wuku, penanggal panglong, sasih dan dauh.

           

1.      Wewaran

 

Wewaran adalah bentuk jamak dari kata wara yang berarti hari.. secara arti kaya Wewaran berasal dari bahasa sansekerta dari akar kata wara dan mendapat akhiran-an (we + war + an) sehingga menjadi wewaran, yang berarti istimewa, terpilih, terbaik, tercantik, mashur, utama, hari.

 

Jadi wewaran adalah hari yang baik atau hari yang utama untuk melakukan suatu hal atau suatu pekerjaan. Dalam menentukan padewasan, pengetahuan tentang wewaran menjadi dasar yang sangat penting.

 

Yang dimaksud dengan WEWARAN adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai URIP/ NEPTU, TEMPAT, dan DEWATA yang dominan Wewaran adalah bentuk jamak dari kata WARA  yang berarti Hari yang berjumlah satu sampai dengan sepuluh.

 

No

Wewaran

Urip

Tempat/kedudukan

Dewata

I

EKA WARA

 

 

 

1

Lwang

1

Barat Laut-Wayabya

Sanghyang Taya

 

 

 

 

 

II

DWI WARA

 

 

 

1

Menga

5

Timur - Purwa

Sanghyang Kalima

2

Pepet

4

Utara- Uttara

Sanghyang Timir

 

 

 

 

 

III

TRI WARA

 

 

 

1

Pasha /Dora

9

Selatan -Daksina

Sanghyang Cika

2

Beteng/Waya

4

Utara- Uttara

Sanghyang Wacika

3

Kajeng /Biantara

7

Barat - Pascima

Sanghyang Manacika

 

 

 

 

 

IV

CATUR WARA

 

 

 

1

Sri

6

Timur Laut_ Airsanya

Bhagawan Bregu

2

Laba

3

Barat Daya- Nariti

Bhagawan Kanwa

3

Jaya

1

Barat Laut - Wayabaya

Bhagawan Janaka

4

Mandala

8

Tenggara-Gneyan

Bhagawam Narada

 

 

 

 

 

V

PANCA WARA

 

 

 

1

Umanis

5

Timur –Purwa

Reshi Kursika-Dewa Iswara-Bhagawan Tatulak

2

Paing

9

Selatan-Daksina

Rshi Garga-Dewa Brhama-Bhagawan Mercukunda

3

Pon

7

Barat –Pascima

Rshi Maitrya-Dewa Mahadewa-Bhagawan Wrhaspati

4

Wage

4

Utara –Uttara

Rshi Kurusya-Dewa Wisnu-Bhagawan Wisnu-Bhagawan Penyarikan

5

Kliwon

8

Tengah -Madya

Rshi Pretanjala-Dewa Siwa-Sanghyang Widi Wasa

 

 

 

 

 

VI

SAD WARA

 

 

 

1

Tungleh

7

Barat-Pascima

Sanghyang Indra

2

Aryang

6

Timur Laut-Airsanya

Sanghyang Bharuna

3

Urukung

5

Timur-Purwa

Sanghyang Kwera

4

Poniron

8

Tenggara-Gneyan

Sanghyang Gneyam

5

Was

9

Selatan-Daksina

Sanghyang Bajra

6

Maulu

3

Barat daya-Nairiti

Sanghyang Erawan

 

 

 

 

 

VII

SAPTA WARA

 

 

 

1

Minggu-Redite

5

Timur –Purwa

Sanghyang Bhaskara

2

Senin –Soma

4

Utara-Uttara

Sanghyang Candra

3

Selasa – Anggara

3

Barat daya-Nairiti

Sanghyang Angkara

4

Rabu-Buddha

7

Barat-Pascima

Sanghyang Udaka

5

Kamis-Wrespati

8

Tenggara-Gneyam

Sanghyang Sukra Guru

6

Jumat-Sukra-

6

Timur laut-Airsanya

Sanghyang Bregu

7

Sabtu  -Saniscara

9

Selatan-Daksina

Sanghyang Wasu

 

 

 

 

 

VIII

ASTA WARA

 

 

 

1

Sri

6

Timur laut

Dewi Sri

2

Indra

5

Timur

Sanghyang Indra

3

Guru

8

Tenggara

Sanghyang Guru

4

Yama

9

Selatan

Sanghyang Yama

5

Ludra /Rudra

3

Barat daya

Sanghyang Rudra

6

Brahma

7

Barat

Sanghyang Brahma

7

Kala

1

Barat laut

Sanghyang Kala

8

Uma

4

Utara

Dewi Uma

 

 

 

 

 

IX

SANGA WARA

 

 

 

1

Dangu

5

Timur

Sanghyang Iswara

2

Jangur

8

Tenggara

Sanghyang Maheswara

3

Gigis

9

Selatan

Sanghyang Brahma

4

Nohan

3

Barat daya

Sanghyang Rudra

5

Ogan

7

Barat

Sanghyang Mahadewa

6

Erangan

1

Barat laut

Sanghyang Sangkara

7

Urungan

4

Utara

Sanghyang Wisnu

8

Tulus

6

Timur laut

Sanghyang Sambhu

9

Dadi

8

Tengah

Sanghyang Shiwa

 

 

 

 

 

X

DASA WARA

 

 

 

1

Pandita

5

Timur

Sanghyang Surya

2

Pati

7

Barat

Sanghyang Kala Mertyu

3

Suka

10

Tengah

Sanghyang Semara

4

Duka

4

Utara

Sanghyang Durga

5

Sri

6

Timur laut

Sanghyang Amerta

6

Manuh

2

Tengah

Sanghyang Kala Rupa

7

Manusa

3

Barat daya

Sanghyang Suksma

8

Raja

8

Tenggara

Sanghyang Kala Ngis

9

Dewa

9

Tenggara

Sanghyang Dharma

10

Raksasa

1

Barat laut

Sanghyang Maha Kala

 

Selain dewasa yang ditentukan berdasarkan wewarn untuk melakukan suatu kegiatan atau upacara tertentu, ada beberapa hari suci yang didasarkan atas perhitungan wewaran, sebagai hari suci untuk umat Hindu melakukan upacara agama yang dilakukan secara berkala.

 

Adapun hari suci umat Hindu yang berdasarkan perhitungan wewaran sebagai berikut :

            Pertemuan Tri Wara dan Panca Wara

c.       Hari kliwon datangnya setiap lima hari sekali, sebagai hari suci pemujaan ke hadapan Sang Hyang Siva. Pada hari kliwon Bhatara Siva beryoga di pusat bumi, menciptakan air suci guna meruwat kotoran yang ada di bumi. Sehingga pada saat ini umat Hindu mengadakan penyucian diri dari berbagai kotoran.

d.      Kajeng kliwon, diyakini sebagai hari yang sacral karena merupakan pertemuan hari terakhir dari Tri Wara dan Panca Wara. Kajeng kliwon adalah symbol pikiran bersih dan suci, pelebur kepapaan, petaka, noda, bencana ataupun segala kotoran duniawi melalui dhyana semadhi. Pada hari ini Sang Hyang Mahadewa melakukan yoga semadi, sehingga pada saat ini umat Hindu melakukan persembahyangan memuja kebesaran Dewi Durga dengan menghaturkan segehan.

 

Hari suci yang didasarkan atas pertemuan Sapta Wara dan Panca Wara

a)      Anggara kliwon disebut pula anggara kasih, sebagai hari beryoganya Sang Hyang Rudra untuk melebur penderitaan, kejahatan, kotoran dunia. Hari ini merupakan hari yang baik untuk meruwat dan memusnahkan bencana yang dapat menimpa.

b)      Buddha wage, hari ini disebut pula budha cemeng sebagai hari pemujaan kehadapan Sang Hyang Bhatari Sri atau Dewi Padi dan Bhatari Manik Galih atau Dewi Beras, sebagai manifestasi Tuhan yang memberikan kesuburan dan kemakmuran.

 

Wewaran merupakan inti dari padewasaan karena itu wewaran merupakan salah satu unsure yang membangun system wariga di Bali. Jika berdiri sendiri wewaran mempunyai pengaruh paling kecil dalam penentuan dewasa, sebab wewaran termasuk hari pasaran dalam tahun wuku yang diterapkan di Bali. Tetapi jika dalam satu system wewaran juga memegang peranan penting dalam penentuan padewasaan dalam suatu kegiatan sebab dari integrasi wewaran dengan unsure lain yang membangun system wariga akan melahirkan padewasaan yang baik untuk suatu kegiatan dan tidak baik untuk kegiatan yang lain (ala ayuning dewasa).

 

 

Berikut ini adalah sifat-sifat wewaran sebagai berikut :

  1. eka wara

 luang berarti tunggal (kosong)

  1. dwi wara

-          manga berarti terbuka (terang)

-          pepet berarti tertutup (gelap)

  1. tri wara

-          pasah berarti tersisih, baik untuk dewa yadnya

-          beteng berarti makmur, baik untuk manusa yadnya

-          kajeng berarti tekanan tajam, baik untuk bhuta yadnya

  1. catur wara

-          sri berarti kemakmuran

-          laba berarti berhasil (pemberian)

-          jaya berarti kemenangan (unggul)

-          mandala berarti sekitar (daerah), mencapai kemakmuran

  1. panca wara

-          umanis berarti rasa

-          paing berarti cipta

-          pon berarti idep

-          wage berarti angen

-          kliwon berarti budhi

  1. sad wara

-          tungleh berarti tak kekal

-          aryang berarti kurus

-          urukung berarti punah

-          paniron berarti gemuk

-          was berarti kuat

-          maulu berarti membiak

  1. sapta wara

-          redite berarti soca menanam semua yang beruas

-          soma berarti bungkah godhong menanam sayur mayor

-          anggara

-          budha berarti kembang menanam semua jenis bunga

-          wraspati berarti wija menanam yang menghasilkan biji

-          sukra berarti who menanam buah-buahan

-          saniscara berarti pager menanam pagar atau turus

  1. asta wara

-          sri berarti makmur (pengatur)

-          indra berarti indah (penggerak)

-          guru berarti tuntunan (penuntun)

-          yama berarti adil (peradilan)

-          ludra berarti peleburan

-          brahma berarti pencipta

-          kala berarti nilai

-          uma berarti pemelihara (peneliti)

  1. sanga wara

-          dangu artinya antara terang dan gelap

-          jangur artinya antara jadi dan batal

-          gigis artinya sederhana

-          nohan artinya gembira

-          ogan artinya bingung

-          erangan artinya dendam

-          urungan berarti batal

-          tulus berarti langsung

-          dadi artinya jadi

  1. dasa wara

-          pandita artinya bijaksana

-          pati artinya tegas/dinamis

-          suka artinya gembira/periang

-          duka artinya mudah tersinggung, tetapi jiwanya seni

-          sri artinya kewanitaan, halus

-          manuh artinya selalu taat, menurut

-          manusa artinya mempunyai rasa social

-          raja artinya mempunyai jiwa kepemimpinan

-          dewa artinya mempunyai budi luhur (kerohanian)

-          raksasa artinya berjiwa keras, tidak melalui pertimbangan

 

 

 

  1. Wuku

Wuku dalam penentuan padewasan menduduki peranan yang penting, sebab wewarannya baik, apabila wukunya tidak baik, dianggap dewasa tersebut kurang baik. System tahun wuku, menggunakan system sendiri, tidak tergantung pada tahun surya atau tahun candra. Satu tahun wuku panjangnya 420 hari, yang terdiri atas 30 wuku. Setiap wuku ( 1 wuku) lamanya 7 hari, terhitung dari redite, soma, anggara, budha, wraspati, sukra dan saniscara. Sebulan dalam tahun wuku lamanya 35 hari, didapat dari mengalikan 7 hari dengan 5 wuku. Satu peredaran wuku (30 wuku) lamanya 6 bulan dalam satu tahun wuku. 1 tahun wuku terdiri atas 2 kali peredaran wuku, yakni 7 hari x 30 wuku x 2 = 420 hari.

 

Wuku adalah seperti arti kata itu sendiri yaitu BUKU atau kerat yang berumur 7 hari dari hari minggu sampai dengan sabtu yaitu satu siklus sapta wara. Wuku juga mempunyai urip, nomor kedudukan serta dewata.

 

Adapun nama-nama wukunya  dan hari suci berdasarkan pawukon sebagai berikut;

1.      Sinta

a.       Soma pon sinta disebut some ribek, pemujaan dan persembahan ditujukan ke hadapan Dewi Sri (Sang Hyang Sri amerta) manifestasi Tuhan sebagai DEva Kesuburan atau Devi Kemakmuran.

b.      Anggara wage sinta disebut sabuh mas, pemujaan ditujukan ke hadapan Dewa Mahadewa.

c.       Buddha kliwon sinta disebut hari suci pagerwesi, merupakan hari suci beryoganya Sang Hyang Uiwa sebagai Sang Hyang Pramesti Guru disertai oleh para Dewata menciptakan dan mengembangkan kelestarian kehidupan di dunia.

 

2.      Landep

Saniscara kliwon landep disebut tumpek landep merupakan hari suci pemujaan kehadapan Bhatara Siva dan Sang Hyang Pasupati.

 

 

3.      Ukir

Redite umanis ukir merupakan hari suci untuk pemujaan kehadapan Bhatara Guru pada Hari ini umat diharapkan memohon anugerah keselamatan dan kesejahteraan ke hadapan Bhatara Guru yang pemujaannya dilakukan di Sanggar Kamulan.

 

4.      Kulantir/Kurantil

Anggara kliwon kulantir disebut anggara kasih kulantir, merupakan hari suci pemujaan ke hadapan Tuhan dalam menifestasi sebagai Bhatara Mahadewa

5.      Taulu

6.      Gumbreg

7.      Wariga

Sabtu kliwon wariga dinamakan tumpek penguduh, tumpek pengatag, pengarah, bubuh, merupakan hari suci pemujaan kehadapan Sang Hyang Sangkara, manifestasi dari Tuhan sebagai Dewa penguasa kesuburan semua tumbuh-tumbuhan serta pepohonan.

 

8.      Warigadian

Soma paing warigadian, merupakan hari suci pemujaan ditujukan kehadapan Bhatara Brahma manifestasi Tuhan sebagai Dewa Apia tau Dewa Penerangan.

9.      Julungwangi

10.  Sungsang

1)      Wrhaspati wage sungsang disebut dengan parerebuan atau sugihan jawa. Pada hari ini diyakini para Dewa dan Roh Leluhur turun ke dunia membesarkan hati umat manusia sambil menikmati persembahan hingga hari suci galungan tiba. Pada hari ini dilakukan pula upacara pembersihan atau pesucian Bhuana Agung.

2)      Sukra kliwon disebut sugihan Bali memohon pembersihan lahir dan batin ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan cara mengheningkan pikiran, memohon air suci peruwatan atau pembersihan.

 

11.  Dunggulan

1)      Redite (minggu ) pahing Dungulan disebut Penyekeban. Pada hari ini diharapkan umat mengekang batin (mengendalikan diri) agar selalu dalam keadaan hening dan suci sehingga tak dapat dikuasai oleh Sang Kala Tiga.

2)      Soma (senin) Pon Dungulan disebut penyajan, umat diharapkan secara bersungguh-sungguh, benar-benar sujud dan berbakti kepada Tuhan, agar terhindar dari kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga yang pada saat itu berwujud Bhuta Dungulan.

3)      Anggara (selasa) wage dungulan disebut penampahan, diyakini pada hari ini Sang Hyang Kala Tiga turun ke dunia dalam wujud Bhuta Amengkurat, sehingga umat diharapkan melakukan pengendalian diri serta mempersembahkan upacara Bhuta yajna.

4)      Buddha (rabu) kliwon dungulan dinamakan galungan yang bermakna bangkitnya kesadaran, titik pemusatan batin yang terang benderang, melenyapkan segala bentuk kegalauan batin. Sekaligus peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya serta kemenangan Dharma melawan Adharma. Persembahan ditujukan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi-Nya. Pada hari setiap rumah memasang penjor yang merupakan titah Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung sebagai lambang kemakmuran. Setelah upacara dilaksanakan pagi hari, lengkap dengan sarana persembahan lainnya, sesajen tetap dibiarkan berada di tempat pemujaan selama satu malam. Esok paginya, semua umat patut menyucikan diri lahir dan batin pada saat matahari terbit, mempersembahkan wewangian dan mohon air suci, serta menyuguhkan segehan di halaman rumah. Setelah selesai barulah sesajen-sesajen yang dipersembahkan kemarin itu dapat diambil dan kemudian di ayab oleh sanak keluarga.

 

12.  Kuningan

a.       Redite wage kuningan disebut dengan pemaridan guru atau Ulihan.pada saat ini persembahan atas kembalinya paradewara ke kahyangan atau surge serta meninggalkan anugerah kehidupan (amerta) serta umur panjang kepada setiap makhluk.

b.      Soma kliwon kuningan disebut pemacekan agung, mempersembahkan segehan agung kepada semua bhutakala.

c.       Buddha paing kuningan merupakan beryoganya Bhatara Visnu dan memberikan anugerah berupa kesenangan, keagungan, keluwesan, daya tarik, memenuhi harapan, dan rasa simpatik kepada umat manusia.

d.      Sukra wage kuningan disebut penampahan kuningan umat diharapkan mengendalikan batin dan pikiran agar tetap jernih dan suci.

e.       Saniscara kliwon kuningan disebut hari raya kuningan diperingati sebagai hari suci turunnya para dewa dan roh leluhur ke dunia untuk menyucikan diri sambil menikmati persembahan umat. Persembahan sebaiknya dilakukan di pagi hari sebelum jam 12.00 (tajeng surya) sebab setelah itu para dewa, pitara, roh suci leluhur diyakini telah kembali ke kahyangan.

 

13.  Langkir

Buddha kliwon Pahang disebut pegatwakan, persembahan ditujukan kehadapan Sang Hyang Tunggal

 

14.  Medangsia

15.  Pujut

16.  Pahang

17.  Krulut

18.  Merakih

Buddha wage merakih disebut juga Buddha cemeng merakih, yaitu hari suci pemujaan yang ditujukan kehadapan Bhatara Rambut Sedhana, disebut juga Sang Hyang Rambut Kandala atau Sang Hyang Kamajaya penguasa artha, mas, perak, dan permata

19.  Tambir

20.  Medangkungan

21.  Matal

22.  Uye

Saniscara kliwon uye disebut tumpek kandang. Pemujaan  dan persembahan di tujukan ke hadapan Sang Hyang Rare Anggon sebagai dewanya  ternak/binatang.

 

23.  Menail

24.  Prangbakat

25.  Bala

26.  Ugu

27.  Wayang

Saniscara kliwon wayang disebut tumpek wayang, merupakan hari pemujaan ke hadapan Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penguasa alat-alat kesenian.

28.  Klawu

29.  Dukut  dan

30.  Watugunung .

Saniscara umanis watugunung disebut hari saraswati merupakan hari pemujaan ke hadapan Devi Saraswati manifestasi Tuhan sebagai Penguasa Ilmu Pengetahuan.

 

  1. Tanggal dan Panglong

 

Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) sampai dengan purnama (bulan sempurna) disebut Suklapaksa. Penanggal ke 14 atau sehari sebelum purnama disebut Purwani artinya bulan mulai  akan sempurna Nampak dari bumi. dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh). Panggal ke 15 disebut purnama artinya bulan sempurna Nampak dari bumi. Pada hari purnama merupakan hari beryoganya Sang Hyang Candra (Wulan).

 

Panglong disebut pula Krsnapaksa yaitu perhitungan hari dimulai sesudah purnama yang lamanya juga 15 hari dari panglong 1 sampai dengan panglong 15. Panglong ke 14 sehari sebelum tilem disebut purwaning tilem artinya bulan mulai tidak akan Nampak dari bumi. Sedangkan panglong 15 disebut tilem artinya bulan sama sekali tidak Nampak dari bumi. Pada tilem beryoganya Sang Hyang Surya.

 

Penanggal Panglong memegang peranan yang sangat penting dalam Padewasaan, karena Penanggal dan Panglong itulah yang membentuk atau menentukan dewasa.


Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal panglong dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

1.      Padewasasan menurut catur laba (empat akibat: baik – buruk – berhasil – gagal)

2.      Padewasaan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda)

3.      Padewasaan berdasarkan panglong untuk pawiwahan (misalnya hindari panglong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita)

4.      Padewasaan berdasarkan wewaran, penanggal, dan panglong (misalnya: Amerta dewa, yaitu Sukra penanggal ping roras, baik untuk semua upacara)

 

  1. Sasih

Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan, yadnya, dll. Di bali ke-12 bulan atau masa-masa tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : lahru masa artinya musim panas dan rengreng masa artinya musim hujan.

 

Adapun  pembagian sasih tersebut adalah;

1.      Kedasa                 = Mesa            = Maret – April.

2.      Jiyestha                 = Wresaba      = April – Mei.

3.      Sadha                    = Mintuna       = Mei – Juni.

4.      Kasa                      = Rekata         = Juni– Juli.

5.      Karo                      = Singa           = Juli –Agustus.

6.      Ketiga                   = Kania          = Agustus – September.

7.      Kapat                    = Tula              = September – Oktober.

8.      Kelima                   = Mercika       = Oktober – November.

9.      Kenem                   = Danuh          = November – Desember.

10.  Kepitu                   = Mekara        = Desember – Januari.

11.  Kewulu                 = Kumba         = Januari – Februari.

12.  Kesanga                = MIna           = Februari – Maret.

 

Agama Hindu mempergunakan panduan sasih antara sasih Candra dengan sasih Surya sehingga ada perhitungan “Pengrapetang sasih”. Hal ini dilakukan karena disadari betul bahwa bulan dan matahari mempunyai pengaruh besar terhadap bumi dan isinya. Selain penentuan padewasan, hari scui agama Hindu, yang berdasarkan sasih adalah :

1)      Pada hari purnama beryoganya Sang Hyang Candra (wulan), pada hari tilem beryoga Sang Hyang Surya. Jadi pada hari Purnama-Tilem adalah hari penyucian Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang candra. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) pujalah beliau dengan Candrastawa (somastawa). Pada waktu surya Graham (gerhana matahari) pujalah beliau suryacakra bhuanasthawa.

 

2)      Sasih Kapat

Purnama Kapat merupakan beryoganya Bhatara Parameswara, beliau Sang Hyang Purusangkara di iringi oleh Para Dewa, Widyadara-widyadari dan para Rsigna. Selanjutnya pada tilem dapat dilakukan penyucian batin, persembahan kepada widyadara-widyadari.

 

3)      Sasih Kepitu

Purwaning Tilem Kepitu disebut hari Sivaratri, yaitu beryoganya Bhatara Siva dalam rangka melebur kotoran alam semesta termasuk dosa manusia. Pada hari ini umat Hindu melakukan Bratha Sivaratri, yaitu Mona, Upawasa, dan Jagra.

 

4)      Sasih Kesanga

Tilem Kesanga adalah hari pesucian para dewata, dilakukan Bhuta yajna, yaitu tawur agung kesanga sebagai tutup tahun saka.

 

5)      Sasih Kedasa

Penanggal 1 (bulan terang pertama) sasih Kedasa disebut hari suci Nyepi, yaitu tahun baru saka. Pada saat ini turunlah Sang Hyang Darma. Purnama Kedasa beryoganya Sang Surya Amertha pada Sad Khayangan Wisesa.

 

6)      Sasih Sada

Pada Purnama sadha, patutlah umat Hindu memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan.

 

  1. Dauh/dedauhan

 

Padewasan merupakan dauh merupakan ketetapan dalam menentukan waktu yang baik dalam sehari guna penyelenggara suatu upacara-upacara tertentu. Pentingnya dari dewasa dauh akan sangat diperlukan apabila upacara-upacara yang akan dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dauh jika dibandingkan mirip dengan pembagian waktu menurut jam, namun bedanya hanya penempatan panjangnya waktu.

 

Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIT). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain;

1.      Redite = Siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00 

2.      Coma = Siang; 7.54 – 10.18, malam; 24.42 – 3.06 

3.      Anggara = Siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00 

4.      Buda = Siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06 

5.      Wraspati = Siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30 

6.      Sukra = Siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30 

7.      Saniscara = Siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30

 

Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1.      Dawuh Sukaranti

Berdasarkan  jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan dengan penanggal/ panglong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh.

 

2.      Panca Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh)

Pembagian waktu (hari) dalam sehari menjadi 10 bagian, dengan hitungan 5 dauh untuk menghitung panjangnya siang (setelah matahari terbit hingga menjelang terbenam) dan 5 dauh lagi untuk menghitung panjangnya malam/wengi (dari matahari tenggelam hingga terbit.

 

3.      Astha Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh)

Yang memiliki konsep yang sama dengan Panca dauh, bedanya hanya pembagian waktunya menjadi 16, dengan perincian 8 dauh untuk menghitung panjang waktu mulai matahari terbit, hingga menjelang terbenam dan 8 dauh lagi untuk menghitung panjangnya malam hari dari terbenamnya matahari hingga menjelang terbit.

4.      Dawuh Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong)

5.      Dawuh Inti (waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca dawuh dengan Astha dawuh)

 

Penentuan hari baik/buruk atau pedewasaan berdasarkan perhitungan Hindu

  1. Redite simbolis dari matahari
  2. Soma simbolis dari bulan
  3. Anggara simbolis dari mars
  4. Buddha simbolis dari mercurius
  5. Wrhaspati simbolis dari yupiter
  6. Sukra simbolis dari venus
  7. Saniscara simbolis dari saturnus

 

Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang menyangkut masalah “wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh” dimana kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .

Dalam penerapannya wariga ini juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, yang didalilkan  sebagai berikut:

1.      Wewaran dikalahkan oleh wuku 

2.      Wuku dikalahkan oleh tanggal panglong 

3.      Tanggal panglong dikalahkan oleh sasih 

4.      Sasih dikalahkan oleh dauh 

5.      Dauh dikalahkan oleh de Ning WETUniya Sanghyang Tri dasa Sakti (keheningan hati).

 

Unsur  yang memiliki pengaruh paling kecil terhadap padewasaan adalah wewaran.  Unsur yang memiliki pengaruh lebih kuat dari wewaran dalam padewasaan adalah wuku. Unsur yang memiliki pengaruh lebih kuat dari wuku dalam padewasaan adalah tanggal panglong. Unsur yang memiliki pengaruh lebih kuat dari tanggal panglong dalam padewasaan adalah sasih. Unsur yang memiliki pengaruh lebih kuat dari sasih adalah dawuh dan unsure yang memberikan pengaruh lebih kuat dari dawuh dalam padewasaan adalah wetu yaitu wetu sang Hyang Tri Dasa Saksi ; tiga belas kekuatan atau manifestasi dan dari Tuhan yang Maha Esa.

 

 

 

Bila dinilai system wariga tersebut yang memegang peranan

1.      Kesucian lahir bhatin yaitu ketiga belas kekuatan Tuhan

2.      Dawuh

3.      Sasih

4.      Tanggal panglong

5.      Wuku

6.      wewaran

 

Keseluruhan unsur tersebut merupakan suatu system dimana unsur-unsurnya satu dengan yang lainnya saling terkait erat dan berhubungan secara teratur. Inilah dalam beberapa lontar bali yang disebut dengan istilah WEPETANGSADA. Misalnya untuk menentukan padewasaan dalam wariga tidak bisa ditentukan oleh satu unsure saja walaupun pengaruh masing-masing unsure tersebut berbeda, melainkan keseluruhan unsur yang membangun system wariga diintegrasikan untuk mendapatkan padewasaan tertentu dalam suatu kegiatan

 

Secara umum ada beberapa dasar yang digunakan dalam Ilmu Wariga. Dasar-dasar tersebut adalah :

a.       Wara (hari), yang terdiri dari Eka Wara sampai Dasa Wara

b.      Wuku yang terdiri dari 30 wuku. Setiap wuku umurnya 7 hari

c.       Tithi yaitu perjalanan bulan dari Tilem ke Tilem. Tithi terdiri dari 29/30 hari,  dibagi dalam dua bagian yaitu Penanggal (dari Tilem menuju Purnama) dan Panglong (dari Purnama menuju Tilem).

d.      Sasih (Masa) yang umumnya menggunakan perjalanan bulan mengelilingi bumi yakni dari Tilem ke Tilem (29/30hari).

 

  1. Hala Hayuning Dewasa

 

Hala hayuning dewasa adalah baik buruknya hari berdasarkan perhitungan Hindu. Tentang baik dan buruknya hari dapat dipelajari dalam wariga. Dalam kitab Sarasamuscaya 183 disebutkan :

Anyesu ca vaddatam, sadasitimukhesu ca, candrasurvoparage ca, wisuwe ca tadaksawan.

Artinya :

Inilah perincian waktu yang baik, yaitu ada yang disebut daksinayana, waktu matahari bergerak kea rah selatan, ada yang disebut uttarayana, waktu matahari bergerak kea rah utara (dari khatulistiwa). Ada yang dinamakan sadasitimukha yaitu pada saat terjadinya gerhana bulan atau matahari, wiswakala yaitu matahari tepat dikhatulistiwa, adapun pemberian dana serupa benda pada waktu yang demikian itu sangat besar sekali pahalanya.

 

Perincian tentang waktu-waktu yang baik menurut peredaran tata surya ada disebutkan

1.      Daksinayana

Melakukan yadnya pada waktu peredaran matahari mulai bergerak kea rah selatan garis khatulistiwa (yang terjadi sekitar bulan September-februari).

 

Sekitar sasih kelima sampai dengan kesanga merupakan waktu yang baik untuk melaksanakan bhuta yadnya yang bersifat menetralisir kekuatan alam, meningkatkan kewasapadaan karena saat-saat ini merupakan bulan-bulan yang cuacanya tidak begitu bersahabat dan berpengaruh buruk terhadap kesehatan dan makhluk yang lainnya.

 

2.      Uttarayana

Matahari mulai bergerak ke utara dari garis khatulistiwa (sekitar bulan maret-agustus).

Merupakan waktu-waktu yang baik untuk melaksanakan upacara dewa yadnya. Dalam ceritera bhisma parwa diceriterakan bahwa walaupun bhagawan Bhisma telah roboh dimedan perang oleh panahnya Srikandi, namun belum mau menghembuskan nafasnya sebelum matahari berada di sebelah utara khatulistiwa (uttarayana).

3.      Sadasitimukha yaitu pada saat gerhana bulan

4.      Wiswakala yaitu pada saat gerhana matahari

 

Yang dimaksud dengan WETU adalah kodrat atau kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang berdasarkan MANAH (pikiran) hening suci nirmala.

Pelaksanaan padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:

1.      Padewasaan  sadina artinya sehari-hari

Padewasaan sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku), Tri wara (Pasah untuk memisahkan, Beteng untuk mempertemukan, Kajeng untuk wasiat), Sapta wara (Soma/senin, Budha/rabu dan Sukra/jumat, yang lainya termasuk kurang baik), Sanga wara ( yang terbaik adalah Tulus dan Dadi), Dauh Inti, berlaku pada waktu/jam tertentu saja, dari jam sekian sampai dengan sekian saja.

2.      Padewasaan  masa artinya berkala.

 

 

  1. Mencari hari-hari suci/rerainan berdasarkan pawukon (wuku) mempergunakan lima jari kiri

 

·         Perhitungan wuku di mulai dari sinta pada angka 1 (ibu jari) dan wuku yang lainnya dihitung berturut-turut ke angka 2, 3, 4,5 kembali ke angka 1 dan seterusnya searah jarum jam

·         hari suci/rerainan yang dimaksud adalah pada angka :

1 : buda kliwon

2 : tumpek

3        : buda cemeng

4        : anggara kasih

5        :kosong(pengembang

 

  1. Pancawara, Saptawara, dan Uripnya masing-masing:

Pancawara:

1.      Umanis                  = 5

2.      Paing                     = 9

3.      Pon                        = 7

4.      Wage                     = 4

5.      Kliwon                  = 8

 

Saptawara:

1.      Redite                   = 5

2.      Soma                     = 4

3.      Anggara                = 3

4.      Buda                     = 7

5.      Wraspati                = 8

6.      Sukra                     = 6

7.      Saniscara               = 9

 

Urip Wuku; Sita (7), landep (1), ukir (4), kilantir (6), taulu (5), gumbreg (8), wariga (9), warigadean (3), julungwangi (7), sungsang (1), dunggulan (4), kuningan (6), langkir (5), medangsia (8), pujut (9), Pahang (3), krulut (7), merakih (1), tambir (4), medangkungan (6), matal (5), uye (8), menial (9), prangbakat (3), bala (7), ugu (1), wayang (4), klawu (6), dukut (5) dan watugunung (8).

 

Bilamana salah satu Pancawara bertemu dengan salah satu Saptawara berturut-turut selama tiga hari uripnya berjumlah 13 maka dinamakan samut sadulur; bila pertemuan itu berturut-turut tiga hari uripnya berjumlah 14 maka disebut kala gotongan.

 

Semut  sadulur diibaratkan sebagai semut yang berjalan beriringan tanpa putus. Demikian pula arti kala gotongan dapat diandaikan sebagai kala yang sibuk mondar mandir mengurus sesuatu. Semut sadulur adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon. 

 

Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung

 

Dengan demikian maka pada saat-saat itu dipandang tidak baik untuk melaksanakan upacara tertentu. Seperti yang diuraikan terdahulu, maka letak bintang-bintang di langit sangat besar pengaruhnya pada aktivitas manusia di bumi. Dalam hal ini telah ditetapkan oleh para Maha Rsi di Bali bahwa pada saat semut sadulur dan kala gotongan tidak baik untuk melaksanakan upacara mendem sawa maupun atiwa-tiwa.

 

Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara 14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu. 



Contoh:
Kala Gotongan: Sukra Kliwon = 6 + 8 = 14, Saniscara Umanis = 9 + 5 = 14, dan Redite Paing = 5+9=14.

 

Di samping itu ada juga dewasa YANG TIDAK BAIK untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/ Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang BUKAN Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di Gni saja masih dibolehkan

 

Kesimpulan:

Semut sadulur dan kala gotongan selalu jatuh pada hari Jumat,  Sabtu, dan Minggu.

Semut sadulur dan kala gotongan selalu berturut-turut 3 (tiga) hari.

 

  1. RUMUS PERHITUNGAN WARIGA

 

Ingkel (pantangan) mulai dari Redite/Minggu dan berakhir pada Saniscara/Sabtu (7 hari) dan bilangan wuku dibagi 6, sisa;

·         Wong / yang berhubungan dengan Manusia.

·         Sato / yang berhubungan dengan Hewan.

·         Mina / yang berhubungan dengan Ikan.

·         Manuk / yang berhubungan dengan Burung/Unggas.

·         Taru / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berkayu.

·         Buku / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berbuku.

 

Perhitungan Wewaran

·         Eka Wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara = Ganjil = Luang (tunggal/padat) -> urip 1

·         Dwi Wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara =   

 Ganjil = menga (terbuka) -> urip 5 ;

Genap = pepet (tertutup) -> urip 4

·         Tri Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 3 = sisa    

           => Pasah (ditujukan kepada Dewa) -> urip 9

           => Beteng (ditujukan kepada Dewa) -> urip 4
           => Kajeng (ditujukan kepada Bhuta) -> urip 7

·         Catur Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 4 = sisa

=> Sri (makmur) -> urip 6
     => Laba (pemberian/imbalan) -> urip 5

=> Jaya (unggul) -> urip 1

=> Menala (sekitar daerah) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai dengan Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan + 1, sebelum dibagi. ini disebabkan adanya Jaya Tiga pada Wuku Dunggulan berturut – turut dari redite, selanjutnya rumus berlaku seperti biasa.

  • Panca Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 5 = sisa

          => Umanis (penggerak)                        -> urip 5
          => Paing (pencipta)                               -> urip 9
          => Pon (penguasa)                                -> urip 7
          => Wage (pemelihara)                           -> urip 4
          => Kliwon (pemusnah/pelebur)            -> urip 8

·      Sad Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa

          => Tungleh (tak kekal) -> urip 7
          => Ariang (kurus)                     -> urip 6
          => Urukung (punah)                 -> urip 5
          => Paniron (gemuk)                  -> urip 8
          => Was (kuat)                           -> urip 9
          => Maulu (membiak)                -> urip 3

 

·         Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa

          => Mina (ikan)
          => Taru (kayu)
          => Sato (hewan)
          => Patra (tumbuhan merambat/menjalar)
          => Wong (manusia)
          => Paksi (burung/unggas)

 

·         Astha Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 8 = sisa

          => Sri (makmur)            -> urip 6
          => Indra (indah)           -> urip 5
          => Guru (tuntunan)       -> urip 8
          => Yama (adil)              -> urip 9
          => Ludra (peleburan)    -> urip 3
          => Brahma (pencipta)   -> urip 7
          => Kala (nilai)               -> urip 1
          => Uma (pemelihara)    -> urip 4

 

Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.

 

  • Sanga Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 9 = sisa

          => Dangu (antara terang dan gelap)           -> urip 5
          => Jangur (antara jadi dan batal)                -> urip 8
          => Gigis (sederhana)                                   -> urip 9
          => Nohan (gembira)                                    -> urip 3
          => Ogan (bingung)                                                 -> urip 7
          => Erangan (dendam)                                 -> urip 1
          => Urungan (batal)                                     -> urip 4
          => Tulus (langsung)                                    -> urip 6
          => Dadi (jadi)                                             -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.

 

  • Dasa Wara ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari + 1) : 10 = sisa

          => Pandita (bijaksana)                                -> urip 5
          => Pati (dinamis)                                        -> urip 7
          => Suka (periang)                                       -> urip 10
          => Duka (jiwa seni / mudah tersinggung)   -> urip 4
          => Sri (kewanitaan)                                    -> urip 6
          => Manuh (taat / menurut)                          -> urip 2
          => Manusa (sosial)                                      -> urip 3
          => Eraja (kepemimpinan)                            -> urip 8
          => Dewa (berbudi luhur)                            -> urip 9
          => Raksasa (asura keras)                             -> urip 1

Dasawara berarti watak agung (karakter)
Watek Madia ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 5 = sisa
    => Gajah (besar) – hewan
    => Watu (kebal) – keras
    => Bhuta (tak nampak) – jerat
    => Suku (berkaki) – meja
    => Wong (orang) – pembantu

 

Watek Alit ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 4 = sisa

           => Uler (beranak banyak)
           => Gajah (besar)
           => Lembu (kuat)
           => Lintah (kurus)

 

Tanpa Guru ; dalam satu WUKU tidak terdapat GURU (Astha Wara), yang artinya tidak baik untuk memulai suatu usaha terutama mulai belajar.

 

Was Penganten ; dalam satu WUKU terdapat dua WAS (Sad Wara), baik untuk membuat benda tajam (seperti keris,tombak dll), tembok, pagar dan membuat pertemuan.

 

Semut Sadulur ; Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 13 dan berturut – turut tiga kali, pantangan untuk atiwa – tiwa(menguburkan mayat / ngaben). tetapi sangat baik untuk membentuk organisasi.

 

Kala Gotongan ; Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 14 dan berturut – turut tiga kali, pantangan untuk atiwa – tiwa (menguburkan mayat / ngaben). tetapi sangat baik untuk memulai suatu usaha.


Mitra satruning Dina (segala usaha/acara penting)

(Urip Saptawara + Pancawara Kelahiran) + (Urip Saptawara + Pancawara memulai Usaha/acara) = sisa

=> Guru (tertuntun)

  => Ratu (dikuasai)
           => Lara (terhalang)
           => Pati (batal)

Demikian RUMUS untuk mencari hari baik berdasarkan WARIGA dan DEWASA AYU

 

SALAH PATI DAN NGULAH PATI

 

Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 yang telah memutuskan bagi orang mati salah pati dan ngulah pati diupacarai seperti orang mati normal dan ditambah dengan penebusan serta diupacarai di setra atau tunon.

 

Pengertian Salah Pati dan Ngulah Pati.

Salah Pati        : Mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki

Ngulah Pati     :Mati karena sesat, yang mengambil jalan pintas, serta sengaja g sangat bertentangan dengan ajaran- ajaran agama Hindu.

 

Jenis mati Salah Pati dan Ngulah Pati.

·         Salah Pati:
Mati jatuh (kerubah baya).
Mati ketekuk (kastha bahaya).
Mati dimangsa macan, dimangsa buaya, ditanduk sapi, disambar petir, tertimpa tebing dan lain- lainnya (keserenggara).

·         Ngulah Pati:
Mati meracun diri.
Mati menggantung diri.
Mati menembak diri.
Mati menceburkan diri dan lain- lainnya.

 

Pelaksanaan upacara/ upakara.

 

Setiap orang yang meninggal harus diupacarai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu
Khusus bagi yang ngulah pati, upacara/ upakara ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan/ pertigaan jalan dan cangkem setra:
Banten pengulapan dipersatukan dengan sawanya baik mependem maupun atiwa- tiwa


LATIHAN SOAL-SOAL

 

TUGAS 1

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

  1. Apa yang dimaksud dengan padewasaan? Jelaskanlah!
  2. Apa yang dimaksud dengan hari baik dan hari buruk! Jelaskanlah!
  3. Jelaskanlah pendapat kosmis umat Hindu terhadap alam semesta!
  4. Jelaskan tujuan praktis dari wariga!
  5. Apa yang dimaksud dengan dewasa dan wariga?
  6. Apa yang dimaksud dengan Dewasa Ayu dan Dewasa Hala?
  7. Dalam penerapan wariga, tidaklah bersifat mutlka, melainkan juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, dimana ada beberapa hal/dalil yang perlu dipertimbangkan. Sebutkan hal-hal tersebut!
  8. Secara umum ada beberapa dasar yang digunakan dalam ilmu wariga. Sebutkan dasar-dasar tersebut!
  9. Sebutkan umur masing-masing sasih!
  10. Pelaksanaan Padewasaan secara garis besar dikelompokkan menjadi 2, sebutkan!

 

TUGAS 2

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Sebutkan dewa-dewa yang menguasai sapta wara!

2.      Sebutkan nama-nama wuku!

3.      Jelaskan mengapa wuku memiliki peranan penting dalam system padewasan!

4.      Apa yang dimaksud dengan daksinayana dan uttarayana?

5.      Sebutkan nama-nama wewaran dalam dasa wara!

 

TUGAS 3

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1.      Apa yang merupakan unsur paling kecil dalam Padewasaan?

2.      Apa yang anda ketahui tentang Tri Dasa Sakti?

3.      Sebutkan unsur-unsur yang memegang peranan penting dalam Wariga!

4.      Apa arti sri dalam Catur Wara?

5.      Apa yang dimaksud dengan Wetu?

 

TUGAS 4

Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar!

1.      Pasha, beteng, kajeng termasuk bagian-bagian dari Tri Wara. Kajeng terletak di arah….

2.      Umanis, pahing, pon, wage, kliwon merupakan bagian-bagian dari Panca wara. Wage terletak di arah,….

3.      Di samping perhitungan hari berdasarkan wara, dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) di mana satu wuku memiliki umur…..

4.      Setiap wuku juga mempunyai urip/neptu, tempat dan Dewa yang doimnan, juga semua unsur itu menetapakn sifat-sifat padewasaan. 1 tahun kalender pawukon terdiri dari….

5.      Wuku Rangda Tiga merupakan hari-hari yang kurang baik terutama untuk…..

6.      Satu hari setelah (H + 1) hari Purnama (bulan penuh) disebut dengan istilah….

7.      Penangga; Panglong merupakan perhitungan peredaran bulan sebagai satelit yang mempunyai pengaruh besar terhadap alam beserta isinya. Nama lain dari panglong adalah….

8.      Di Bali ke-12 bulan atau masa-masa tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : lahru masa dan rengreng masa. Rengreng masa artinya…..

 


LEMBAR KERJA SISWA

 

PETUNJUK KERJA

A.    Salah satu cara untuk mencari hari suci berdasarkan wuku adalah dengan menggunakan lima jari. Setiap wuku yang jatuh pada telunjuk ditetapkan sebagai hari tumpek. Deskripsikan semua jenis tumpek yang ada !

Lembar deskripsi :

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Isilah kolom-kolom di bawah ini!

No

Wewaran

Pante urip

Letak wewaran

1

Panca wara

Umanis

Paing

Pon

Wage

Kliwon

 

 

2

Sapta wara

Redite

Soma

Anggara

Buda

Wrespati

Sukra

Saniscara

 

 

 

B.     Carilah isi ceritera bhisma parwa, kemudian deskripsikan pada lembar yang sudah disediakan!

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun, Buku Pelajaran Agama Hindu Kelas, Departemen  Agama RI Ditjen Bimas Hindu, Paramita Surabaya, 2007.

Tim Penyusun, Widya Dharma Agama Hindu SMA, Ganeca Exact, 2010.

Arthayasa, I Nyoman, dkk. 1998. Petunjuk Teknis Perkawinan Hindu. Surabaya : Paramita.

Mas, Raka. 2002. Tuntunan Tata Susila untuk Meraih Hidup Bahagia. Surabaya : Paramita.

Pudja, Gde dan Sudharta. 2003. Manawa Dharmasastra. Jakarta : Pustaka Mitra Jaya

Surpha, I Wayan. 1986. Pengantar Hukum Hindu. Surabaya : Paramita

Suratmini, Ni Wayan, S.Ag.M.Pd.H, dkk. Lks Dharmika  Denpasar : Tri Agung, 2012.

Wiana, I Ketut. 1997.Cara belajar Agama Hindu Yang Baik. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha.

Wiarsa, I Ketut, S.Ag, dkk. Bahan Ajar Genitri 3. Denpasar : Tri Agung, 2010.

Tim Penyusun,  Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Buku Siswa. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Jendra, I Wayan, Bhakta Agung. Denpasar. 2005

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SMAN 4 MATARAM SUKSES GELAR P5 UNTUK TAHUN KE-3

Dari Sabang sampai Merauke, Guru Bersatu Hadirkan Pembelajaran Seru dengan Wayground

Fasilitator Pembelajaran: Menjadi Teman Perjalanan Guru SMP/SMA dalam Menggali Pembelajaran Mendalam Batch 1 di Mataram