BAB
1
NILAI-NILAI
YADNYA DALAM RAMAYANA
Kompetensi Inti
KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya
KI
2:
Mengembangkan
perilaku (jujur,
disiplin,
tanggungjawab, peduli,
santun, ramah lingkungan, gotong royong,
kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.
KI 3:
Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI
4: Mengolah, menalar,
dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi
Dasar
1.1 Membiasakan mengucapkan salam agama Hindu
1.2
Membiasakan mengucapkan dainika upasana
(doa sehari-hari).
2.1
Toleran terhadap sesama, keluarga, dan lingkungan dengan cara menyayangi
ciptaan Sang Hyang Widhi (Ahimsa).
2.2
Berperilaku jujur (Satya), menghargai dan menghormati (Tat Tvam Asi) makhluk ciptaan Sang Hyang
Widhi
3.1 Memahami hakekat dan nilai-nilai Yajňa yang
terkandung dalam kitab Ramayana
4.1
Mempraktikkan pelaksanaan yadnya menurut kitab Ramayana dalam kehidupan
Indicator
- Menjelaskan pengertian yadnya
- Menguraikan dasar pelaksanaan
yadnya
- Menjelaskan tujuan yadnya
- Meguraikan pembagian yajna dan
bentuk-bentuk yadnya dalam kehidupan sehari-hari
- Menguraikan pokok-pokok ajaran
panca yadnya
- Menguraikan nilai-nilai yadnya
dalam kehidupan
- Membuat Sinopsis Cerita
Ramayana
- Mencari nilai-nilai yadnya
yang terkandung dalam kitab Ramayana
- PENGERTIAN
YADNYA

“Devan bhavayatanena te deva bhavayantu vah
Parasparam bhavayantah sreyah param
avapsyatha
(Bhagawadgita,
III.11)
Artinya
:
Dengan
melakukan ini engkau memelihara kelangsungan para dewa, semoga para dewa juga
memberkahimu, dengan saling menghormati seperti itu, engkau akan mencapai
kebajikan tertinggi.
Renungan
Masih ingatkah kita kapan terakhir kali kita
bersyukur kepada Hyang Widhi atau Tuhan? Mungkin kita tidak menyadari bahwa
ternyata sudah cukup lama kita tidak mengucapkan syukur lagi kepada Hyang
Widhi/Tuhan. Atau mungkin kita pernah merasa bahwa segala apa yang kita perbuat
adalah hasil dari usaha dan kerja keras kita, jadi untuk apa kita bersyukur
kepada Hyang Widhi?.
Mungkin sebagian dari kita berkata bahwa sudah
sekian lama juga berdoa dan berharap kepada Hyang Widhi, tetapi tidak juga menerima
jawaban atas segala masalah, jadi untuk apalagi kita berharap dan bersyukur kepada Hyang Widhi. Banyak hal yang bisa membuat kita tidak lagi
bersyukur kepada Hyang Widhi. Melalui keadaan, masalah, pekerjaan, keluarga dan
banyak lagi yang bisa membuat kita justru malah bersungut-sungut dihadapan
Hyang Widhi.
Bahkan sebagian orang menyalahkan Hyang Widhi atas
apa yang mereka alami dalam kehidupannya. Mereka merasa bahwa Hyang Widhi tidak
adil bagi mereka. Kalau kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa
masih banyak yang bisa kita syukuri dalam kehidupan kita. Mungkin saat ini kita
belum mendapatkan apapun yang menjadi keinginan kita. Tetapi kita mencoba
melihat ke “bawah”, masih banyak orang lain yang lebih mederita dari apa yang
kita alami saat ini. Kalau kita masih mempunyai keluarga, kita masih beruntung
dibanding sebagian orang yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Atau bagi
yang masih memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja, masih jauh lebih beruntung
dibanding dengan mereka yang belum mendapat pekerjaan. Kalau kita masih
memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sehat, kita seharusnya merasa lebih
beruntung dibanding dengan yang mengalami cacat tubuh atau sedang menderita
suatu penyakit.
Apapun kondisi dan masalah yang kita hadapi, entah
itu baik ataupun buruk, Hyang Widhi menginginkan agar kita senantiasa
mengucapkan syukur. Bersyukur dengan apa yang masih kita miliki saat ini.
Bersyukur kalau kita masih bisa menikmati hidangan walaupun sangat sederhana.
Kalaupun kita diberkati dengan harta kekayaan, tetaplah ucapkan syukur kepada
Hyang Widhi oleh karena-Nya semua itu ada.
Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan
kehidupan social terikat pada aturan susila dan moral. Dengan olah rasa yang
baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat
kebajikan. Kita diberikan hidup sebagai manusia, dilahirkan pada keluarga yang
sattwam, berada pada lingkungan social yang baik, dan diciptakan bersama bumi
yang penuh keindahan dan kedamaian, adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena
itu, tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak
berterimakasih kepada Sang Pencipta. Ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada
Hyang Widhi itulah dilakukan dengan yajna.
Dari sloka di atas jelas bahwa manusia harus
berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan
tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila kita
memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikan sepotong baju, maka kain
yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang
selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju.
Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita
bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat
mustahil akan memperoleh sepotong baju.
Memahami Teks
Yajna adalah salah satu aspek keimanan dalam agama
Hindu dan upacara dalam ajaran Hindu merupakan bagian daripada yajna, bukan
sebaliknya yajna itu bagian dari upacara.. Secara etimologi kata yajna berasal
dari bahasa sansekerta yaitu akar kata “yaj” yang artinya memuja,
mempersembahkan, berkorban. Yajna berarti pemujaan, persembahan, atau korban
suci. Yajus berarti aturan tentang yajna. Yajana berarti pelaksanaan yajna,
sedangkan yajamana berarti orang yang melakukan yajna.
Dalam Rgveda
VIII, 40.4,yajna artinya pengorbanan atau persembahan. Yajna merupakan
suatu perbuatan dan kegiatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan untuk
melakukan persembahan kepada Hyang Widhi.
Secara terminology yajna memiliki pengertian sebagai
berikut :
·
Dalam kitab Wraspati tattwa
Yajna ngaraning
manghanaken homa
Artinya :
Yajna artinya mengadakan homa.
·
Dalam kitab Agastya parwa
Yajna ngaranya
“agnihotradi”kapujan sang hyang Siwagni pinakadinya
Artinya :
Yajna
artinya “agnihotra” yang utama yaitu pemujaan atau persembahan kepada Sang
Hyang Siwa Agni.
Dalam kitab Bhagawadgita III.14 disebutkan :
Persembahan
(yajna) tersebutkan menimbulkan hujan. Dari hujan lahirlah makanan. Dari
makanan lahirlah mahkhluk hidup. Sedangkan yajna itu sendiri lahir dari karma.
Jadi yajna adalah segala bentuk pemujaan atau
persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci
demi maksud-maksud mulia dan luhur.
Di dalam Bhagawadgita disebutkan yajna adalah
sebagai suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran
untuk melakukan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Ada beberapa unsure
yang mutlak yang terkandung dalam yajna yaitu :
a. Karya : adanya perbuatan
b. Sreya : ketulus ikhlasan
c. Budhi
: kesadaran
d. Bhakti : persembahan
Jadi semua perbuatan yang berdasarkan dharma dan
dilakukan dengan tulus ikhlas dapat disebut yajna. Dalam Bhagawadgita
ditegaskan lagi bahwa belajar dan mengajar didasari oleh keikhlasan serta penuh
pengabdian untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah tergolong yajna.
Memelihara lingkungan juga disebut yajna. Mengendalikan hawa nafsu dan panca
indria adalah yajna. Membaca kitab suci Weda, sastra agama yang dilakukan
dengan tekun dan ikhlas adalah yajna. Jadi jelaslah yajna itu bukanlah terbatas
pada kegiatan upacara keagamaan saja. Upacara dan upakaranya merupakan bagian
dari yajna.
Bhagawadgita III.9 disebutkan bahwa : setiap
melakukan pekerjaan hendaklah dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.
Selanjutnya dalam Bhagawadgita III.12 disebutkan : para dewa akan memelihara
manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu, manusia yang mendapatkan
kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakekatnya dia
adalah pecuri.
Makanan yang dipersembahkan itu menjadi prasadam
yang oleh umat Hindu di Bali disebut lungsuran. Yang dalam bahasa bali artinya
hasil dari memohon kepada Tuhan. Prasadam dalam bahasa sansekerta artinya
anugrah Tuhan.
Inti dari yajna adalah persembahan dan bhakti
manusia kepada Hyang Widhi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sarana upacara
inilah disebut dengan upakara/banten. Upacara yajna adalah merupakan langkah
yang diyakini sebagai ajaran bhakti dalam agama Hindu. Dalam Atharvaveda XII.1.1 disebutkan yajna
adalah merupakan salah satu pilar penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini.
“Satyam
brhadrtamugra diksa tapo brahma yajnah prthivim dharayanti,
Sa
no bhutasya bhavy asya patyurun lokam prthivi nah krnotu”.
Artinya :
Sesungguhnya
kebenaran (satya) hukum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), diksa, tapa
brata, Brahma dan juga yajna yang menegakkan dunia semoga dunia ini, ibu kami
sepanjang masa memberikan tempat yang lega bagi kami.
Demikian disebutkan dalam Kitab Atharwa Weda. Pemeliharaan
kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang yajna terus menerus
dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian pula yajna adalah pusat terciptanya
alam semesta atau Bhuwana Agung sebagaimana diuraikan dalam kitab Yajurveda. Disamping sebagai pusat
terciptanya alam semesta, yajna juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran
kehidupan yang dalam kitab Bhawadgita disebut Cakra yajna. Kalau Cakra
yajna ini tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran.
Demikianlah yajna merupakan salah satu cara
mengungkapkan ajaran Veda. Oleh karena itu yajna merupakan symbol
pengejawantahan ajaran Veda, yang dilukiskan dalam bentuk symbol-simbol
(niyasa). Melalui niyasa dalam ajaran yajna realisasi ajaran agama Hindu
diwujudkan untuk lebih mudah dapat dihayati, dilaksanakan dan meningkatkan
kemantapan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan itu sendiri. Kebesaran dan
keagungan Hyang Widhi yang dipuja, perasaan hati pemuja-Nya, maupun wujud
persembahan semuanya. Melalui niyasa dalam upakara umat Hindu ingin
menghadirkan Yang Widhi yang akan disembah serta mempersembahkan isi dunia yang
terbaik.
- DASAR
PELAKSANAAN YAJNA
Latar
belakang manusia untuk melakukan yadnya adalah :
1. Bahwa
alam semesta ini dengan segala isinya adalah berdasarkan yadnya. Dijelaskan
dalam kitab Bhagawadgita III.10.
“Saha yajnah prajah ssrtva, Puro’vaca
prajaptih
Anena prasavisyadhvam, esa vo ‘stv kamandhuk”.
Artinya
:
Pada
jaman dahulu kala Prajapati menciptakan
manusia dengan yajna dan bersabda :
“ dengan ini engkau akan mengembang dan akan
menjadi Kamandhuk dari keinginanmu”.
Hyang Widhi menciptakan manusia dengan yajna. Dengan
yajna pulalah manusia mengembang dan memelihara kehidupannya. Keikhlasan dan
kesucian diri adalah dasar melaksanakan suatu yajna. Kesucian diri dicerminkan
dalam kehidupan yang benar memiliki kesiapan rohani dan jasmani seperti
mantapnya Sraddha, rasa bhakti, keimanan, kesucian hati maupun kehidupan yang
suci sesuai dengan moral dan spiritual.
2. Tri
rna yaitu :
-
Dewa rna : hutang kepada Ida Sang Hyang
Widhi
-
Rsi rna : hutang kepada para Maha Rsi
-
Pitra rna : hutang kepada orang tua atau
leluhur
Dari
Tri Rna kemudian menimbulkan Panca Yajna yaitu Dewa Rna menimbulkan Dewa yadnya
dan Bhuta yadnya, dari Rsi Rna menimbulkan Rsi yadnya, dan dari Pitra Rna
menimbulkan Pitra yadnya dan Manusa Yadnya.
Dasar hukum yadnya yaitu :
a. Bhagawadgita
VII.20
Sa taya sraddhaya yuktas,
tasyaradhanam ihate, labhate ca tatah Kaman,mayaiva vihitan hi tan.
Artinya :
Diberkahi
dengan kepercayaan itu dia mencari penyembahan pada itu dan pula dia dapat apa
yang dicita-citakan dan hasil mana adalah pemberian dari aku sendiri.
b. Rg
Veda Mandala 1 bagian kelima Sukta 18.23.8
Menyebutkan
: dia membahagiakan sajian, dia meningkatkan upacara korban, suara pujaan kami
sampai kepada Tuhan.
c. Brahmana
Purana : 20
Menyebutkan
tujuh kesadaran yang diberikan oleh Hyang Citta kepada makhluk. akal, memberi,
kesetiaan, kebenaran, ilmu pengetahuan, kesadaran, yadnya.
d. Manawa
Dharmasastra : Buku I.22
Karmatmanam ca devanam, so
srjatpraninam prabhuh, sadhyanam ca gunam suksmam, yajnam caiva sanatanam.
Artinya :
Tuhan
yang menciptakan tingkatan-tingkatan dari pada dewa-dewa yang memiliki hidup
dan mempunyai sifat bergerak, juga diciptakan tingkat sadhya yang berbadan
halus serta upacara-upacara yang kekal.
3. TUJUAN YAJNA
a.
Untuk mengamalkan ajaran weda
Weda
adalah sumber ajaran Agama Hindu. Weda memuat berbagai macam cara dan corak
praktek ajaran agama Hindu yang disebut yajna. Demikian salah satu cara untuk
mengungkapkan ajaran weda adalah dengan yajna. Yajna merupakan pengamalan
ajaran weda dalam bentuk symbol-simbol.
b.
Untuk meningkatkan kualitas diri
Yajna
adalah sebagai salah satu bagian dari ajaran agama Hindu yang bertujuan untuk
mengurangi rasa keakuan atau egois manusia. Setiap usaha yang ditujukan untuk
mengurangi rasa egois, menghilangkan rasa keakuan, dorongan-dorongan nafsu yang
meledak-ledak dan yang lainnya menuju kea rah kenikmatan yang lebih sempurna,
tentu memerlukan pengorbanan yajna
c.
Untuk Penyucian.
Seluruh
aktifitas kehidupan manusia yang dilandasi oleh dharma dan ketulusan hati yang melaksanakannya
adalah yadnya. Aktifitas yang dimaksud adalah baik yang berhubungan langsung
dengan dirinya sendiri, sesamanya, alam lingkungannya dan juga kehadapan Tuhan
Yang Maha Esa dan manifestasi-Nya. Pelaksanaan yadnya seperti : Dewa Yadnya,
Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, pada bagian-bagian
tertentu dari pelaksanaannya mengandung makna dan tujuannya sebagai penyucian
atau pembersihan. Kesucian merupakan landasan yang utama yang patut ditegakkan
dalam melaksanakan ajaran agama.
Beryadnya
merupakan salah satu upaya untuk mengamalkan ajaran agama. Setiap saat bila
akan melaksanakan upacara agama misalnya, baik yang bersifat kecil
(sehari-hari) maupun yang besar (hari-hari tertentu) sebelumnya mesti didahului
dengan melaksanakan penyucian diri atau lingkungan sekitarnya. Upacara yadnya
tidak akan pernah berarti apabila orang yang melaksanakannya belum memiliki
kesiapan dan kesucian rohani. Dengan demikian maka yang patut dijadikan
landasan dalam melaksanakan yadnya adalah : jasmani yang suci, hati yang suci,
kehidupan yang suci sesuai dengan ketentuan moral dan spiritual. Jadi dididik
untuk selalu belajar hidup suci. Suci dalam arti lahir bathin dan pikiran.
Dalam
kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan
sebagai berikut :
Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti,
widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhyanti.
Artinya
:
Tubuh
dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia
dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan
pengetahuan yang benar.
Ketulusan
dan kesucian hati, sradha, kebaktian dan keimanan yang menyatu melahirkan
spiritual yang lebih tinggi pada manusia. Upacara yadnya tidak akan pernah
berarti apabila orang yang melaksanakannya belum memiliki kesiapan dan kesucian
rohani. Dengan demikian maka yang patut kita jadikan landasan dalam
melaksanakan yadnya adalah jasmani yang suci, hati yang suci, kehidupan yang
suci, dan kehidupan yang sesuai dengan ketentuan moral dan spiritual.
d.
Untuk Dijadikan Sarana Berhubungan
dengan Tuhan.
Yadnya,
upakara dan upacara dalam pandangan umay Hindu merupakan sarana yang dapat
dipergunakan untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta
manifestasinya. Melaksanakan yadnya berarti melaksanakan yoga. Mengadakan
yadnya bukan hanya dilaksanakan oleh para Pendeta, melainkan juga oleh
masyarakat pada umumnya.
Didalam
melaksanakan yadnya terdapat tiga unsur yang saling berkaitan erat yang disebut
“Tri Manggalaning Yadnya” yang terdiri dari :
1. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau yang
melaksanakan yadnya tersebut.
2. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten.
3. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara tersebut (Sulinggih).
Semua
umat yang melaksanakan yadnya tanpa disadari sebenarnya sudah melakukan yoga,
yaitu pemusatan pikiran kehadapan Ida Sang Hyang Widhi serta mengadakan
pengendalian diri secara utuh. Sebagaimana kita ketahui masyarakat yang
beryadnya, dari awal perencanaan, tahap persiapan upakara, sampai pada puncak
upacara dan akhir pelaksanaan yadnya yang bersangkutan mengiringinya dengan
sikap bathin yang suci serta pikirannya terpusat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
e. Untuk
Mencetuskan Rasa Terimakasih.
Dalam
realita hidup ini hanya yang dilahirkan menjadi manusia yang dapat
menyampai-kan rasa syukur atau berterima kasih kepada sesamanya, alam
lingkungannya dan kepada Sang Pencipta serta semua yang ada ini. Berterimakasih
atau bersyukur adalah merupakan salah satu kewajiban kita sebagai manusia.
Karena menyampaikan rasa syukur baik melalui pikiran, ucapan maupun prilaku
menurut petunjuk sastra-satra agama adalah merupakan sebuah yadnya.
Tentang
keutamaan lahir dan hidup menjadi manusia dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya
I.4
iyam
hi yonih prathama yam prapya jagatipate
atmanam sakyate tratum karmabhih
sublalaksanaih
artinya :
Sebab
menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat menolong dirinya dari
keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik, demikianlah keistimewaan menjadi
manusia.
Dalam
kitab Bhagawadgita disebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Ida Sang Hyang
Widhi berlandaskan yadnya dan dengan yadnya pula manusia mencapai kesempurnaan
yang maha tinggi.
Dalam
ajaran agama Hindu untuk menyampaikan rasa terima kasih atas pengorbanan suci
yang telah diterimanya dilakukan dengan pelaksanaan upacara yadnya. Jadi pelaksanaan upacara yadnya adalah
sebagai wujud cetusan rasa terimakasih. Dijelaskan pula bahwa setiap melakukan
pekerjaan hendaklah dilakukan sebagai yadnya dan untuk yadnya.
4. Pembagian Yajna dan Bentuk-bentuk Pelaksanaan
Yadnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Renungan
Hyang
Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Sekecil
apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. Dewa, Asura,
manusia, binatang, tumbuhan, bulan, bintang bahkan bakteri dan kumanpun
semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Alam
dengan segala isinya memiliki kerikatan dan ketergantungan satu sama lain. Oleh
karena itu, manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk
menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan.
Agar
perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonis maka peranan manusia
sangat penting. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan
mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. Hanya dengan
yajna keharmonisan alam dapat terjaga. Yajna menciptakan hubungan yang harmonis
antara manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sesamanya, dan keharmonisan
hubungan manusia dengan alam.
Perlu
diingat bahwa yajna tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. Alam
semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Oleh
karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari
tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan
kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang
Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan,
sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana.
Kewajiban
seluruh umat Hindu untuk melaksanakan yajna atau korban suci kehadapan Sang
Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Dalam sastra-sastra Agama Hindu
berbagai macam adanya rumusan tentang pelaksanaan Panca Yajna, namun makna dan
hakikatnya adalah sama.
Yadnya
yang berarti korban suci atau persembahan suci itu mengandung pengertian yang
sangat luas. Untuk memudahkan pengertian kita mengenai yadnya itu maka akan
diuraikan bentuk-bentuk kegiatan sebagai realisasi yadnya ditinjau dari sudut
pandangan tertentu.
Yadnya
dalam bentuk persembahan ini bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk
upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulus-ikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan
yadnya.
Memahami Teks
Bentuk
yadnya bermacam-macam, yaitu :
-
Ada dalam bentuk persembahan dengan mempergunakan sarana
(sesajen)
-
Ada pula persembahan dalam bentuk pengorbanan diri
(pengendalian indria),
-
Mengorbankan segala aktivitas,
-
Mengorbankan harta benda (kekayaan) dan
-
Pengorbanan dalam bentuk ilmu pengetahuan (weda).
Jadi,
kesimpulannya banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk menghubungkan diri ke
hadapan Ida Sang Hyang Widhi. Dalam kitab Bhagawadgita IV.11 disebutkan :
‘ye yatha
mam prapadyante
Tams
tathai ‘va bhajamy aham
Mam vartma
‘nuvartante
Manushyah
partha sarvasah
Artinya
:
Dengan jalan manapun (beryadnya) ditempuh
manusia ke arahKu, semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua mereka menuju
jalan-Ku, oh Partha.
Yadnya
yang dipersembahkan oleh umat Hindu jika ditinjau dari sudut masa atau waktu
pelaksanaannya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
1). Nitya
Karma Yadnya : yaitu yadnya yang dilaksanakan setiap hari, seperti :
a. Tri Sandhya, yaitu
sembahyang tiga kali sehari. Puja Tri Sandhya
adalah merupakan bentuk yadnya yang dilakukan setiap hari
dengan kurun waktu pagi hari, tengah
hari dan pada waktu senja ataupun
malam hari saat sebelum tidur. Tujuannya adalah memuja kemahakuasaan-Nya, mohon anugrah, keselamatan
dan mohon pengampunan atas kekurangan-kekurangan yang kita lakukan
baik secara langsung maupun tidak langsung.
b. Yadnya Sesa , yaitu yadnya
yang merupakan banten saiban (jotan). Yadnya Sesa ini di-
b.persembahkan kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa
beserta
b.manifestasinya, setelah
selesai memasak atau sebelum menikmati makanan.
Dalam
kitab Bhagawadgita III. 13 disebutkan :
“Yajna sishtasinah santo, Mucyante sarva kilbisaih, Bhunjate
te tv agham papa, Ye pacanty atma karanat
Artinya :
Yang
baik makan setelah bhakti, Akan terlepas dari segala dosa , Tetapi menyediakan
makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri, Mereka ini sesungguhnya makan dosa.
Tujuannya yaitu :
·
Menyampaikan rasa
bersyukur atau terimakasih “Suksmaning
Manah” kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta
Prabhawanya atas Anugrahnya kepada kita sekalian.
·
Belajar dan berlatih melakukan pengendalian diri
·
Melatih sikap tidak mementingkan diri sendiri.
c. Jnana yadnya adalah yadnya
dalam bentuk pengetahuan.seperti : melaksanakan proses belajar mengajar


2). Naimitika Karma Yadnya : yaitu yadnya
yang dilaksanakan pada waktu-waktu
tertentu.
Bentuk-bentuk
pelaksanaan Naimitika Karma Yadnya ini
seperti melaksanakan upacara
persembahan pada hari raya suci dan hari-hari pujawali atau piodalan,
seperti :
a) Berdasarkan perhitungan
sasih / bulan.
Yadnya
yang dilaksanakan pada hari-hari suci yang datangnya berdasarkan perhitungan
sasih seperti Purnama, Tilem, Siwa Ratri, Nyepi atau Tahun Baru Saka. Persembahan ditujukan kehadapan Ida Sang
Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya.
b) Berdasarkan perhitungan
Pawukon.
Yadnya
yang dilaksanakan pada hari-hari suci yang datangnya berdasarkan perhitungan
Pawukon seperti : Saraswati, Pagerwesi, Galungan, Kuningan dan yang lainnya.
Persembahan ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang
Maha Esa beserta manifestasinya.
c) Berdasarkan perhitungan wara
Yaitu
perpaduan antara tri wara dengan panca wara seperti hari kajeng kliwon.
Kemudian perpaduan antara sapta wara dengan panca wara seperti buda wage, buda
kliwon dan anggara kasih.
3). incidental adalah yadnya yang dilaksanakan atas dasar adanya
peristiwa atau kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal dan dipandang
perlu untuk melaksanakan yadnya.
Dalam
kehidupan ini banyak kegiatan dan peristiwa-peristiwa penting yang sering kita hadapi. Menurut keyakinan umat Hindu
kejadian itu dipandang perlu untuk
melaksaanakan yadnya,seperti : Ngulapin, Melaspas, Rsi Gana, Sudi Wadani
dan yang lainnya.
Yadnya
menurut sifat (bentuk, wujud)nya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1).
Yadnya Sekala : yaitu yadnya yang bersifat
nyata, berbentuk, berwujud
seperti barang- barang (benda-benda), materi meliputi :
sandang, pangan, papan, perhia-san, uang serta barang lainnya.
2).
Yadnya Niskala : yaitu yadnya yang bersifat tidak nyata,seperti ilmu
pengetahuan,dharma,
nasehat,
pikiran.
Yadnya
Sekala - Niskala ini disebut juga dengan
istilah Yadnya Wahya-Adhyatmika, lahir bathin,
nyata tidak nyata. Kedua bentuk yadnya ini
patut kita laksanakan untuk mencapai kebahagiaan serta keseimbangan
lahir bathin, jasmani-rohani.
Sedangkan
yadnya berdasarkan sarana dan bentuk pelaksanaannya dijelaskan ada lima bentuk
yadnya, yaitu :
1).
Drwya Yadnya : yaitu yadnya dengan sarana material.
2).
Tapa Yadnya : yaitu yadnya dengan tapa.
3).
Yoga Yadnya : yaitu
yadnya dengan melaksanakan yoga.
4).
Swadhyaya Yadnya : yaitu yadnya dengan mempelajari ajaran suci.
5).
Jňana Yadnya : yaitu yadnya dengan ilmu
pengetahuan.
(Kitab Bhagawadgita IV.28)
Dalam kitab Manawa Dharmasastra I.74
pembagian panca yadnya yaitu :
1. Ahuta yaitu persembahan mengucapkan
doa-doa suci weda
2. Huta adalah persembahan
dengan api homa
3. Prahuta adalah persembahan
berupa upacara bali ke hadapan para bhuta
4. Brahmahuta yaitu yadnya
dengan menghormati Brahmana
5. Prasita adalah yadnya dengan
persembahkan tarpana kepada para pitara.
Dalam
kitab Sathapata Brahmana pembagian panca yadnya yaitu :
1. Bhuta yadnya yadnya yang
dipersembahkan kepada pra bhuta
2. Manusa yadnya adalah
persembahan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesama
manusia.
3. Pitra yadnya adalah yadnya
yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha
4. Dewa yadnya adalah
persembahan ke hadapan para dewa yang disebut swaha
5. Brahma yadnya adalah
persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci
weda.
Dalam
kitab Gautama Dharmasastra dijelaskan ada tiga pembagian yadnya yaitu :
1. Dewa yadnya adalah
persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa amodaya
2. Bhuta yadnya adalah
persembahan ke hadapan Lokapala (dewa pelindung) dan paradewa penjaga pintu
pekarangan, pintu rumah serta pintu tengah rumah
3. Brahma yadnya adalah
persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci weda.
Dalam
lontar Korawa Srama pembagian panca yadnya yaitu :
1. Dewa yadnya adalah
persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan
purnama
2. Rsi yadnya adalah persembahan
punia, buah-buahan, makanan dan barang-barang yang tidak mudah rusak kepada
para maha rsi
3. Manusa yadnya adalah
memberikan makanan kepada masyarakat
4. Pitra yadnya adalah
persembahan puja dan bali atau banten kepada para leluhur
5. Bhuta yadnya adalah mempersembahkan
puja dan caru kepada para bhuta.
Dalam
lontar Singhalanghyala pembagian panca yadnya yaitu :
1. Bojana patra yadnya adalah
persembahan dengan menghidangkan makanan
2. Kanaka ratna yadnya adalah
persembahan berupa mas dan permata
3. Kanya yadnya adalah
persembahan berupa gadis suci
4. Brata tapa Samadhi yadnya
adalah persembahan dengan melaksanakan tapa, brata dan Samadhi
5. Samya jnana yadnya adalah
persembahan dengan keseimbangan dan keserasian
Dalam
lontar Agastya Parwa pembagian panca yadnya yaitu :
1. Dewa yadnya yaitu
persembahan dengan minyak dan biji-bijian ke hadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di
tempat pemujaan Dewa
2. Rsi yadnya yaitu persembahan
dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci
3. Pitra yadnya yaitu upacara
kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa
4. Bhuta yadnya yaitu
persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara
tawur serta upacara panca wali karma
5. Manusa yadnya yaitu
persembahan dengan member makanan kepada masyarakat.
Yadnya
adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran
untuk melakukan persembahan kepada Tuhan. Dengan demikian ada beberapa unsur
yang mutlak yang terkandung dalam yadnya. Unsur-unsur tersebut yaitu adanya
perbuatan, ketulus ikhlasan, kesadaran dan persembahan
Jadi
semua perbuatan yang berdasarkan dharma dan dilakukan dengan tulus ikhlas biasa
disebut yadnya. Dalam kitab Bhagawadgita ada dijelaskan bahwa belajar dan
mengajar didasari oleh keikhlasan serta penuh pengabdian untuk memuja Tuhan,
tergolong yadnya. Memelihara alam lingkungan juga disebut yadnya. Mengendalikan
hawa nafsu dan panca indriya adalah yadnya.
Demikian
pula membaca kitab suci Weda, sastra agama yang dilakukan dengan tekun dan
ikhlas, adalah yadnya. Saling memelihara, mengasihi sesama makhluk hidup juga
disebut yadnya. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang
yang sedang ditimpa kesusahan adalah yadnya. Jadi jelaslah, yadnya itu bukanlah
terbatas pada kegiatan upacara keagamaan saja. Upacara dan upakaranya merupakan
bagian dari yadnya.
Demikianlah bentuk-bentuk pelaksanaan yadnya
dalam berbagai tingkatan, yadnya yang sesungguhnya yadnya bukanlah terbatas
hanya pada pelaksanaan upacara-upacara yang diiringi dengan berbagai sarana
atau peralatan semata-mata dalam melaksanakan yadnya. Adapun pengabdian dan
pengorbanan yang tertinggi adalah orang yang secara ikhlas telah mengorbankan
seluruh kehidupannya, seluruh jiwa dan raganya demi untuk menegakkan dharma dan
demi untuk kebahagiaan bersama.
Demikian
pula rumusan Panca Yajna di atas yang berdasarkan atas sumber-sumber kitab suci
serta pustaka suci dan sastra agama. Setiap masing-masing sumber memiliki
penjelasan yang berbeda-beda, namun saling melengkapi serta yang paling penting
menjadi landasan Panca Yajna adalah jnana, karma dan bhakti.
5.Pokok-pokok Ajaran Panca
Yadnya.
Panca
Yadnya adalah lima macam korban suci yang patut dipersembahkan oleh umat Hindu
ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa beserta
manifestasinya. Tujuannya adalah untuk mewujudkan sradha atau keyakinan,
menyampaikan rasa hormat, memohon kesucian, perlindungan dan menyampaikan rasa
syukur atas rahmat yang dianugrahkan-Nya. Pelaksanaan Panca Yadnya merupakan
realisasi dari ajaran Tri Rna yaitu tiga macam hutang yang kita miliki dalam hidup dan kehidupan
ini yang wajib kita bayar. Adapun kelima macam korban suci tersebut antara
lain :
1. Dewa Yadnya
2. Rsi Yadnya
3. Pitra yadnya
4. Bhuta Yadnya
5. Manusa Yadnya
1.
Dewa Yadnya
·
Pengertian Dewa Yadnya :
Dewa
Yadnya adalah korban suci atau pemujaan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, para Dewa dan segala manifestasinya. Berbhaktim, sujud
merupakan dasar keimanan yang pertama dalam Panca yadnya.
·
Tujuan Dewa Yadnya :
1) Menyampaikan rasa hormat dan bhakti kepada
Tuhan atas segala rahmat dan nikmat yang dianugrahkan kepada umat-Nya.
2) Mohon perlindungan, berkah, kesejahteraan,
umur panjang, kesaksian, kemuliaan, bimbingan, keselamatan, kesucian,
kesempurnaan dan kekuatan lahir bathin.
3) Mengucapkan syukur atas peningkatan kesucian
lahir bathin.
·
Pelaksanaan Dewa Yadnya :
1)
Melaksanakan persembahyangan kepada Sang Hyang Widhi
2) Mempelajari dengan sungguh-sungguh dan
mengamalkan ajaran tentang Ketuhana
3) Tirtha
Yatra ke tempat-tempat suci dan mengembangkan ajaran dharma
4) Membangun tempat-tempat ibadah
5) Berdana punia bila ada upacara di Pura
6) Menghaturkan canang dengan sesarinya tatkala
melakukan persembahyangan
7) Bakti sosial (ngayah) pada suatu
tempat-tempat suci dengan penuh keikhlasan
2. Rsi Yadnya
·
Pengertian Rsi Yadnya
Rsi Yadnya terdiri dari kata Rsi dan Yadnya.
Rsi dalam bahasa Sanskerta berarti pendeta, pertapa, brahmana. Sedangkan kata
Yadnya berarti korban, selamatan, upacara kurban. Rsi Yadnya berarti korban
suci atau persembahan kehadapan para Brahmana atau para Maharsi atas jasa
beliau dalam membina umat dan mengembangkan ajaran agama.
Kalau kita terima agama itu adalah sebagai
obat maka para kaum Brahmana telah berjasa dapat memberikan obat kepada umat,
sehingga umat memiliki kesehatan mental dan spiritual.Kalau kita terima juga
bahwa agama itu laksana obor, berarti para Brahmana memberikan suluh
menghilangkan kegelapan bagi pemeluknya, berarti para Brahmana atau para
Maharsi telah berjasa menjadikan dunia cemerlang karena ilmu agama disebarkan
dan dikembangkan oleh beliau kepada pemeluknya.
Demikian juga kalau diterima bahwa agama itu
adalah memuliakan hidup berarti para Maharsi atau kaum Brahmana telah berjasa
pula karena mereka dapat menuntun umat manusia untuk hidup lebih berkembang dan
utuh yakni manusia yang memiliki keseimbangan jasmani dan rohani, hal ini
sesuai dengan tujuan agama Hindu yakni Moksartham
Jagadhita.
Kalau
kita menyadari diri kita ketika baru lahir mempunyai keadaan putih bersih belum
tahu apa-apa, tetapi sekarang kita melihat diri dan menyadari kita tahu
membaca, menulis, berhitung, tahu pengetahuan agama dan tahu ilmu-ilmu yang
lain, sesungguhnya itu terjadi akibat jasa-jasa dari para arif bijaksana yang
dengan tulus ikhlas menyebarkan pengetahuan itu. Bukankah hal di atas jasa para
Maharsi. Bukankah kita mengakui bahwa kebodohan (awidya) itu menyebabkan
kemelaratan, kesengsaraan di atas dunia ini. Jadi melenyapkan kebodohanlah
tugas besar Maharsi dalam mengemban umat yang berkelanjutan. Dimana terdapat
kaum arif bijaksana pengemban dharma berada, disana terwujud kemuliaan.
·
Tujuan Rsi Yadnya :
· Adapun tujuan dilaksanakan
Rsi Yadnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan para Maharsi atau pendeta
dan bagi orang-orang suci yang telah mengamalkan ajaran-Nya. Bila kesejahteraan
telah terjamin keberadaannya disertai dengan kesucian lahir dan bathinnya maka
para Sulinggih akan dapat dengan tenang mempelajari dan mendalami kitab suci
Weda kemudian mengamalkan serta mengajarkan kepada masyarakat sebagaimana mestinya.
Dengan demikian wajib hukumnya untuk membayar
hutang kepada mereka sebagai balas jasa atau balas budhi. Untuk membalas hutang
tersebut diwajibkan untuk beryadnya kepada para Maharsi dan Brahmana. Inilah
yang menjadi dasar pelaksanaan Rsi Yadnya.
·
Pelaksanaan Rsi Yadnya
:
· Bagaimana suatu sikap atau
langkah yang dapat dikatagorikan sebagai amalan Rsi Yadnya. Hal ini dapat
digambarkan sebagai berikut :
·1) Hormat
dan bhakti kepada para Brahmana
·2). Memberikan
tuntunan terhadap calon Sulinggih
·3) Menobatkan
seorang Sulinggih
·4) Memberikan
punia kepada para Rsi pada hari-hari tertentu
·5) Tekun
mempelajari kitab-kitab suci
·6) Memperingati
hari turunnya ilmu pengetahuan suci yakni hari Saraswati
·7) Mengembangkan
dan menyebarluaskan ajaran Weda
·8) Menggali,
menghayati dan melaksanakan ajaran Weda
·9) Menghaturkan
daksina kepada Pendeta sebagai ucapan terima kasih terselenggaranya upacara
Dikatakan mereka yang rajin melakukan punia
dan tidak lupa memberi daksina kepada para Pendeta karyanya pasti berpahala.
Bahkan pengisian “Sarin Canang” pada waktu upacara, itupun merupakan Rsi
Yadnya. Karena itu bila menyampaikan “sesajen” berupa canang sari atau
lainnya jangan lupa mengisi sarin canang
berupa uang sebagai daksina atau yadnya.
Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan, “Rsi
Yadnya ngaranya kapujan ring pandeta sang wruh ring kalingganing dadi wang”
artinya Rsi Yadnya adalah berbakti kepada pendeta dan kepada orang yang tahu
hakikat diri menjadi manusia.
Dengan
demikian melayani Pendeta sehari-hari maupun saat-saat beliau memimpin upacara
tergolong melaksanakan Rsi Yadnya.
·
Bentuk-bentuk upacara Rsi Yadnya :
· Dalam praktek kehidupan pelaksanaan upacara Yadnya di
masyarakat yang digolongkan sebagai upacara Rsi Yadnya adalah upacara Rsi Bhojana yaitu upacara
penghormatan kepada para Sulinggih atau Pendeta. Bentuk upacara Rsi Bhojana yang dimaksud
adalah menyuguhkan makanan yang disajikan dengan sangat hormat kehadapan para
Sulinggih atau Pendeta.
3.Pitra Yadnya
·
Pengertian Pitra Yadnya :
Pitra Yadnya berasal dari
kata Pitra dan Yadnya. Kata pitra (pitara) berarti orang
tua, leluhur yang terhormat. Yadnya berarti persembahan, korban suci,
pemujaan dengan hati yang ikhlas. Pitra Yadnya adalah korban suci yang
dilaksanakan dengan hati yang tulus ikhlas kehadapan para leluhur atau orang
tua baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Pitra
Yadnya adalah yadnya yang dilakukan untuk para Pitra. Pitra atau Pitara adalah
roh suci leluhur, orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia dan
disucikan. Arwah yang belum disucikan disebut Preta bukan Pitara. Selama
belum disucikan dianggap sering gentayangan dan sering mengganggu. Adapun
gangguan itu sifatnya memberi peringatan kepada para sentananya agar melakukan
balas budhi dengan melakukan upacara pengabenan atau Pitra Yadnya. Apabila
upacara itu telah dilakukan, maka berubah status Preta itu menjadi Pitara.
Sebagai
Pitara, roh atau atmanya yang masih selalu berhubungan dan cendrung akan datang
kembali. Untuk meningkatkan status Pitra ke tingkat yang lebih tinggi yaitu
setingkat dengan Dewa-dewa dapat dilakukan dengan melaksanakan upacara khusus
yang disebut upacara Atma Wedana.
·
Tujuan Pitra Yadnya :
1.
Untuk mensejahterakan dan dan membahagiakan kehidupannya
2.
Untuk membantu mempercepat proses kembalinya unsur-unsur panca maha bhuta keasalnya dan bersatunya roh
/ jiwatman menuju Brahman
3.
Untuk membayar hutang, karena be berjasa telah melahirkan dan memelihara generasinya
4.
Untuk memuliakan kebaradaannya, karena diyakini beliau telah
suci.
·
Bentuk-bentuk pelaksanaan Pitra Yadnya :
1.
Menghormati orang tua
2.
Berusaha menuruti nasehat orang tua
3.
Menjamin orang tua setelah mencapai usia lanjut termasuk
menjamin makanan, kesehatan atau hal yang menyangkut sandang, pangan dan papan.
4.
Berusaha untuk
bahagiakan orang tua dalam hidupnya
5.
Membuat, memelihara, menjaga tempat suci keluarga
·
Bentuk-bentuk upacara Pitra Yadnya :
·
Pada
garis besarnya, upacara Pitra Yadnya dapat dibagi dalam beberapa tahap atau
tingkatan, yaitu :
1.
Sawa Wedana
Disebut
juga Sawa Preteka, artinya
mengupacarai sawa
(jenasah) yang baru
meninggal agar dapat
kembali kepada Panca Maha Bhuta,
hal ini dapat dilakukan dengan jalan:
dikuburkan dan dibakar.
2.
Asti Wedana
Mengupacarai
jenasah setelah menjadi tulang kemudian
dibakar, sesudah menjadi abu dihanyut
ke laut atau ke sebuah sungai yang bermuara ke laut. Upacara ini umum disebut ngaben.
3.
Swasta Wedana
Upacara
pembakaran terhadap jenasah yang tidak
dapat lagi ditemukan. Dalam upacara ini wujud
tulang belulang atau
jasad itu diganti dengan suatu simbolik
yang terbuat dari
jalinan rumput ilalang yang
disebut dengan kusa sarira atau
dapat pula diwujudkan
dengan air suci disebut dengan Toya Sarira.
4.
Ngelungah
Upacara
ini
dilakukan terhadap jenasah
yang masih anak-anak
yang berumur diatas tiga bulan
dan belum tanggal giginya. Sedangkan bagi anak-anak yang belum berumur tiga
bulan meninggal, jasadnya hanya dikubur saja. Bila sudah berumur diatas tiga
bulan dan sudah tanggal giginya almarhum diaben seperti orang dewasa.
5.
Atma Wedana : upacara pengembalian atma dari alam pitara
ke alam Hyang Widhi. Upacara ini dilaksanakan setelah selesai upacara sawa
Wedana.
Tujuan
upacara Atma wedana ini adalah untuk meingkatkan tatus kesucian roh orang yang meninggal. Semula
berstatus Preta menjadi Pitara (Dewa Hyang Pitara). Sejalan dengan ini juga
berarti mengembalikan Atma
ke Paramatma. Upacara Atma Wedana ini sering juga disebut ;
a. Nyekah c.
Maligia d. Ngeroras
b. Mukur, d.
Ngeluwer
Dengan
upacara ini leluhur
yang telah diaben
tujuannya meningkatkan
statusnya dari bentuk
Pitara menuju Dewa
dan dikenal sebagai Dewa
Hyang.
4. Bhuta Yadnya
·
Pengertian Bhuta Yadnya
:
Bhuta
Yadnya adalah persemabahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kepada sekalian
mahluk-mahluk bawahan baik yang kelihatan maupun tidak yang disebut Bhutakala
untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta.
Istilah
Bhutakala berasal dari kata “bhuta” dan “kala”. Bhuta dari kata “bhu” berarti
yang ada , sedangkan “kala” berarti energi, kekuatan. Jadi Bhutakala adalah
unsur-unsur alam dengan kekuatan yang dimiliki.
·
Tujuan Bhuta Yadnya :
Upacara
Bhuta Yadnya bertujuan untuk menetralisir, menenangkan atau menjadikan “somya”
gejolak kekuatan alam yang bersifat negatif agar menjadi Dewa kembali sehingga
kekuatan-kekuatan alam yang ada dapat memancarkan sinar kekuatannya, karena
keadaan ini menjadikan alam harmonis kembali.
Pelaksanaan
Bhuta Yadnya yang bersifat kerokhanian bertujuan agar dunia tiada mendapat
gangguan tenaga alam. Sedangkan pelaksanaan Bhuta Yadnya yang bersifat lahiriah
bertujuan agar zat panca mahabhuta dapat diolah dan dimanfaatkan untuk
kesejahteraan bagi Negara Nusa dan Bangsa.
·
Bentuk-bentuk pelaksanaan Bhuta Yadnya :
·1). Selalu
menjaga kelestarian alam dan lingkungan
·2). Tidak
membuang limbah atau sampah sembarangan
·3). Melaksanakan
reboisasi atau penanaman pohon kembali pada lahan yang kering
·4). Mengatur
serta menjaga keharmonisan alam dengan mahluknya
Upacara
Bhuta Yadnya yang bersifat insiden (tidak pasti) dilaksanakan bila terjadi
bencana alam atau terjadi peristiwa keganjilan alam seperti gempa bumi,
gelombang besar atau tsunami, hujan berkepanjangan dan sebagainya yang kurang
serasi dengan kebiasaan yang ada dari waktu ke waktu dan disinyalir dapat
menimbulkan bencana.
·
Bentuk-bentuk upakara Bhuta Yadnya
Upakara
Bhuta Yadnya mempunyai tingkatan dari yang terkecil sampai yang paling besar,
seperti dijelaskan berikut ini :
Tingkatan
upakara Nista / kecil, yaitu :
1. Segehan, bentuknya sangat sederhana, bahannya terdiri
dari nasi, bawang, jahe, garam, arang dan dilengkapi dengan canang. Segehan ada
beberapa jenis antara lain :
-
Segehan Cacahan
-
Segehan Kepel
-
Segehan Agung
-
Segehan dipersembahkan pada hari Kliwon, Purnama dan Tilem
2. Gelar Sanga, yaitu segehan yang lebih
lengkap dan sempurna.
Tingakatan
upakara Madya, yaitu :
Caru, bahannya mempergunakan
dasar ayam. Caru ada beberapa macam antara lain
:
-
Caru Eka Sata, bahannya satu ekor
ayam yang warna bulunya terdiri dari
tiga macam warna, jenis ayam
ini disebut ayam brumbun. Caru ini
ada beberapa jenis, seperti:
a.
Caru Dengen, mempergunakan 1 ekor ayam berwarna putih
b.
Caru Preta, mempergunakan 1 ekor ayam berwarna merah
(biying)
c.
Caru Bicaruk, mempergunakan 1 ekor ayam
berwarna putih siungan.
d.
Caru Panca Sata, bahannya lima ekor ayam yang masing-masing mempunyai
warna bulu yang berbeda, seperti putih, biying, putih siungan, hitam dan
brumbun.
-
Caru Panca Sanak, menggunakan dasar Caru Panca Sata ditambah dengan
asu bang bungkem dan bebek bulu sikep.
-
Caru Panca Kelud, menggunakan
dasar Caru Panca
Sata ditambah dengan
binatang seperti kambing dan
angsa.
-
Caru Balik Sumpah,menggunakan dasar Caru Panca Kelud,hanya ditambah
dengan bawi butuan dan banteng.
-
Caru Rsi Gana, menggunakan dasar Caru Panca Sata, hanya ditambah binatang asu.
3. Tingkatan Upakara Utama,
yaitu :
-
Tawur, menggunakan dasar Caru Panca Sata dan binatang lain
seperti diatas dan
ditambah satu ekor binatang
kerbau.
-
Caru Pasapuh-sapuh, menggunakan dasar Caru Panca Sata dan binatang
lain seperti diatas,tetapi ditambah tiga ekor kerbau
-
Panca Wali Krama, menggunakan dasar Caru Panca Sata ditambah lima ekor
kerbau.
-
Eka Dasa Rudra, menggunakan
dasar Caru Panca
Sata dan berbagai
jenis binatang, dari
binatang peliharaan sampai dengan binatang hutan, burung dan juga
ditambah binatang laut
serta kerbau 26 ekor.
5. Manusa Yadnya
·
Pengertian Manusa Yadnya
Manusa Yadnya adalah korban suci yang tulus
ikhlas untuk memelihara dan menyucikan lahir bathin manusia sejak terjadi
pembuahan didalam kandungan sampai akhir hidupnya.
Pembersihan
lahir bathin manusia selama hidupnya dianggap perlu agar dapat menerima ilham /
petunjuk suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga selama hidupnya tidak
menempuh jalan yang sesat, melainkan dapat berpikir, berbicara dan berbuat yang
benar dan akhirnya setelah meninggal roh / Atmmanya menjadi suci bisa bersatu
kembali kehadapan Tuhan.
Weda
Parikrama menjelaskan, tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan
kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, dan akal dibersihkan dengan
kebijaksanaan.
Berkaitan
dengan ini berarti kita harus membersihkan diri terhadap semua hal diatas.
·
Tujuan Manusa Yadnya
1. Untuk menyucikan lahir
bathin manusia.
2. Untuk kesempurnaan lahir
bathin manusia.
3. Untuk meningkatkan status
manusia ke tingkat yang lebih tinggi.
4. Untuk menjadikan manusia itu
sempurna sehingga dapat berhubungan dengan Tuhan.
5. Untuk memberikan
perlindungan secara spiritual sehingga luput dari segala gangguan.
6. Untuk meningkatkan budhi
daya manusia sehingga menjadi lebih mulia.
·
Bentuk-bentuk Pelaksanaan Manusa Yadnya
1. Menyucikan serta mendidik
anak sehingga bisa menjadi orang baik dan berguna
2. Memberikan bantuan atau
pertolongan kepada orang yang memerlukan bantuan
3. Saling mengasihi dan memelihara
sesama makhluk hidup
4. Menghibur orang yang sedang
mengalami kesusahan
5. Saling menghormati sesama
6. Tidak menyakiti dan menghina
7. Mengentaskan kemiskinan
Pelaksanaan
manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari dapat berwujud materi dan juga
spiritual, misalnya berupa uang, makanan, minuman atau hal-hal yang termasuk
dalam sandang, pangan dan papan. Kemudian pemberian ilmu pengetahuan, nasehat,
petunjuk, jasa dan sejenisnya termasuk yang bersifat spiritual.
·
Bentuk-bentuk Upacara Manusa Yadnya
Adapun
waktu-waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara adalah :
1. Bayi dalam kandungan
dibuatkan Upacara Pagedong-gedongan
2. Bayi baru lahir dibuatkan Upacara
Mapag Rare
3. Bayi tatkala kepus puser dibuatkan Upacara
kepus Puser
4. Bayi berumur 12 hari dibuatkan Upacara
Ngelepas Hawon
5. Bayi berumur 42 hari
dibuatkan Upacara Kambuhan
6. Bayi berumur 3 bulan (105) hari dibuatkan Upacara
Nyambutin
7. Bayi berumur 6 bulan (210)
hari dibuatkan Upacara Otonan
8. Bayi baru tumbuh gigi dibuatkan Upacara
Ngempugin
9. Anak giginya tanggal untuk yang pertama
kalinya dibuatkan Upacara Makupak
10. Anak yang sudah meningkat remaja dibuatkan Upacara
Rajaswala
11. Anak menjadi dewasa giginya dipotong dibuatkan
Upacara Metatah (Mapandes
12. Bila mendalami ilmu kerohanian maka dibuatkan
Upacara Mawinten (Mapodgala
13. Bila membentuk rumah tangga atau kawin
dibuatkan Upacara Pawiwahan
14. Bila ingin menjadi pendeta dibuatkan Upacara
Diksa
Dengan
demikian sudah jelas bahwa satu putaran hidup menjadi manusia banyak sekali
dibuatkan upacara Manusa Yadnya.
Kita mohon
kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, melalui upacara ritual seperti disebutkan diatas
dijaman perkembangan umat Hindu sekarang ini, Manusa Yadnya yang diberikan
kepada anak akan lebih berguna bila peningkatan sumber daya manusia itu
diantisipasi dengan lebih awal. Oleh karena itulah agar anak-anak merasa lebih
mandiri dan berdaya guna nanti, ia patut diberikan jaminan hidup yang cukup,
fasilitas, pendidikan dan terdidik.
Tingkatan - tingkatan yadnya menurut kwantitasnya.
1. Kanista : artinya yang terkecil. Yadnya yang tingkatannya
kanista untuk mereka yang berpenghasilan
rendah. Dibagi menjadi tiga yaitu :
-
Nistaning nista adalah terkecil
diantara yang kecil
-
Madyaning nista adalah sedang
diantara yang kecil
-
Utamaning nista adalah terbesar
diantara yang kecil
2. Madya : artinya menengah atau sedang. Bagi
mereka yang berpenghasilan menengah,
maka yadnya yang madyalah yang perlu dilaksanakan. Terdiri dari tiga tingkatan yaitu :
-
Nistaning madya adalah terkecil di antara yang sedang
-
Madyaning madya adalah sedang diantara yang menengah
-
Utamaning madya adalah terbesar diantara yang sedang
3. Uttama : artinya tertinggi atau
besar. Yadnya tingkat uttama cocok untuk
orang yang berpenghasilan besar. Terdiri dari dari tiga tingkatan yaitu
:
-
Nistaning utama adalah terkecil diantara yang besar
-
Madyaning utama adalah sedang diantara yang besar
-
Utamaning utama adalah yang paling besar
Dari
tingkatan-tingkatan yadnya yang tersebut di atas tidak berbeda dari segi
kwalitas karena semua didasari dengan bhakti. Perbedaan itu ada dari segi
kwalitas atau banyak sedikitnya sarana yang dipergunakan. Tingkatan yadnya itu
pula sesungguhnya mendidik umat agar dapat menyesuaikan kemampuan dalam usaha
mereka mendekatkan diri kepada Tuhan. Sangatlah tidak sesuai atau kurang dapat
diterima bila dipertanyakan oleh orang lain maksud dan tujuannya.
Demikian
pula sebaliknya, bagi orang yang kaya melaksanakan yadnya yang kecil, sungguh
suatu hal yang kurang pantas. Walaupun yadnya itu suatu bentuk keikhlasan berkorban yang dilandasi oleh
kesucian, tetapi bila pelaksanaannya membuat orang lain dan dirinya sendiri
menderita tidaklah dapat dibenarkan.
Demikian
penjelasan di atas, maka diharapkan semua umat dapat melaksanakan yajna sesuai
dengan keadaan, dan kemampuan yang ada. Keberhasilan sebuah yajna bukan
ditentukan oleh kemewahan, besar kecilnya materi yang dipersembahkan. Dan belum
tentu yajna yang menggunakan sarana dan prasarana yang banyak/besar akan
berhasil dengan baik. Keberhasilan suatu yajna sangat ditentukan oleh kesucian
dan ketulusan hati, serta kualitas daripada yajna tersebut.
Dalam kitab
Bhagawadgita XVII 11-13 dijelaskan terdapat tiga kualitas pelaksanaan yadnya
yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Tamasika Yadnya : adalah yadnya yang dilaksanakan tanpa mengindahkan
petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina dan sradha.
2. Rajasika Yadnya : adalah yadnya yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan
hasilnya dan penuh harapan akan
hasilnya dan bersifat pamer dan kemewahan.
3. Satwika Yadny : adalah yang dilaksanakan
berdasarkan Sraddha,Lascarya,Sastra,Daksina,Mantra dan gita, Annasewa,
Nasmita.
Dari tiga
kwalitas pelaksanaan yadnya tersebut di atas, dijelaskan ada tujuh syarat yang
patut dilaksanakan untuk mewujudkan Satwika
Yadnya yaitu :
1) Sraddha : artinya melaksanakan
yadnya dengan penuh keyakinan
2) Lascarya : artinya yadnya yang
dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.
3) Sastra : artinya melaksanakan yadnya dengan
berlandaskan sumber sastra, yaitu : Sruti, Smerti, Sila, Acara, dan
Atmanastusti.
4) Daksina : yaitu pelaksanaan
yadnya dengan sarana upacara (benda dan uang).
5) Mantra dan Gita : yaitu
yadnya yang dilaksanakan dengan melantunkan lagu-lagu suci.
6) Annasewa : adalah yadnya yang dilaksanakan dengan persembahan
jamuan makan kepada para tamu yang menghadiri upacara
(Atitiyadnya).
7) Nasmita : adalah yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk
memamerkan kemewahan maupun memamerkan
kekayaan.
Banyak dan sedikitnya harta
benda serta kemewahan yang ditampilkan dalam beryadnya adalah bukan merupakan
jaminan yang mutlak berhasilnya suatu yadnya yang dilaksanakan oleh seseorang,
lebih-lebih semuanya itu dilaksanakan dengan penuh keragu-raguan. Sesungguhnya
tinggi rendahnya kwalitas punia atau persembahan sepenuhnya tergantung pada
ketulusan pikiran yang mempersembahkannya. Dari unsur sarana atau benda
upacara.
Dari uraian tersebut di atas pada prinsipnya yang patut
diperhatikan dalam melaksanakan yadnya adalah
:
1. Keyakinan atau sraddha.
2. Ketulusan hati.
3. Kesucian
4. Berpedoman pada sastra agama
5. Penyucian dengan tempat,
waktu dan kondisinya.
6. Upacara dan upakara
(daksina).
7. Adanya puja mantra dan gita,
serta yang lainnya
6. Nilai-nilai
Yadnya Dalam Kehidupan.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa yadnya bukan
berarti upacara agama saja tetapi juga perbuatan yang dilandasi atas keikhlasan
dan kesucian hati. Jadi disini yadnya artinya adalah karma untuk persembahan.
Yadnya itu sifatnya timbal balik. Tuhan menciptakan alam dengan segala isinya
termasuk manusia dengan yadnya. Oleh karena demikian manusia harus beryadnya
kepada Tuhan dan alam juga termasuk kepada sesama manusia. Semua yang kita
peroleh dalam hidup ini sesungguhnya berasal dari pengorbanan yang tulus ikhlas
(yadnya). Berdosalah kita yang hidup ini, bila tidak berkeinginan dan bersikap
untuk membalas budi baik yang telah kita terima dari yang mendahului diri kita
ini. Seluruh yang dimiliki oleh manusia sesungguhnya adalah merupakan hutang
dari hidup ini. Dalam ajaran agama Hindu telah dijelaskan bahwa kita memiliki
tiga hutang yang disebut Tri Rna. Tri
Rna adalah tiga macam hutang yang wajib dibayar oleh manusia dengan
melaksanakan yadnya atau persembahan yang sering disebut Panca Yadnya. Panca
Yadnya adalah lima unsur yang patut diberikan persembahan, sebagai realisasi
dari ajaran Tri Rna, yaitu para Dewa, para Rsi, para Leluhur, para Bhuta dan
kepada sesama manusia.
Pada
umumnya dalam ajaran agama Hindu pelaksanaan Yadnya atau Panca Yadnya seperti
disebutkan di atas diwujudkan dengan penyelenggaraan upacara. Karena
upacara adalah pelaksanaan dari yadnya. Selanjutnya didalam penyelenggaraan
suatu upacara akan diperlukan sarana atau perlengkapan-perlengkapan yang
disebut upakara.
Bila diperhatikan perlengkapan-perlengkapan atau upakara yang
diperlukan dalam suatu upacara tidaklah sama baik jumlah maupun jenisnya, namun
sangat tergantung pada tempat, waktu dan keadaan seseorang yang sering disebut
dengan istilah Desa, Kala, Patra.
Desa
yaitu tempat, dalam pelaksanaan yadnya sebaiknya menyesuaikan diri dengan
bahan-bahan yang tersedia di tempat itu dimana upakara itu dibuat. Kala
yaitu waktu, dalam pelaksanaan yadnya hendaklah diperhatikan waktu agar yadnya
menjadi tepat dan terlaksana dengan baik.
Patra yaitu keadaan, pada umumnya
orang tidak dapat dipaksa membuat yadnya yang besar dan yadnya yang kecil, maka
dari itu keadaan harus diperhatikan. Mereka yang kaya dapat membuat yadnya yang
besar sedangkan bagi mereka yang miskin cukup dengan yang kecil saja.
Pelaksanaan yadnya itu bukanlah
ditentukan oleh besar dan kecilnya upakara, melainkan pada nilai bhakti itu
sendiri yang mesti didasari oleh hati dan pikiran yang suci serta kondisi yang
ada. Untuk menjamin adanya kelancaran, keseimbangan dan keharmonisan, maka
dipandang perlu adanya
Ajaran etika dan moral yang dapat
kita petik dari pelaksanaan yadnya adalah bahwa sesungguhnya yadnya itu
mendidik umat manusia untuk melakukan pekerjaan dengan tulus ikhlas (dengan
senang hati) dan pekerjaan yang
dilakukan diabdikan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Yadnya juga menuntun umat
manusia untuk memahami hakikat dirinya, merupakan makhluk social yang tidak
bisa hidup sendiri. Dalam kehidupan social masyarakat agar saling memperhatikan
antara satu dengan yang lainnya. Tatacara kehidupan yang seperti itu juga
merupakan yajna, karena akan mengantarkan pada kehidupan yang damai, harmonis
dalam masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya tentu masih banyak
kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan yajna.
Banyak nilai-nilai etika social,
budaya yang kita peroleh dari melaksanakan yajna seperti ketulus-ikhlasan dalam
setiap perbuatan, sikap kebersamaan ( tidak mementingkan diri sendiri),
pengendalian diri dengan tapa, brata, dan Samadhi, menanamkan rasa bersyukur
dan terimakasih atas segala anugerah yang dilimpahkan kepada kita oleh Hyang
Widhi.
Demikianlah pada hakikatnya dalam
sebuah yadnya banyak sekali terkandung nilai-nilai luhur yang bila kita mampu memaknai
dan melaksanakannya dengan baik akan mampu menuntun seseorang untuk mencapai
tujuan yang kita cita-citakan, yaitu “Moksartham
Jagadhita” (sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat) akan tercapai.
7.Ramayana
-
Ramayana secara umum
Cerita
Ramayana merupakan suatu pendidikan rohani yang mengandung falsafah yang sangat
dalam artinya. Cerita Ramayana sesuai dengan cerita kehidupan manusia dalam
mencari kebenaran dan hidup yang sempurna.
Keberadaan
cerita Ramayana boleh jadi memiliki perjalanan kesejarahan yang panjang serta
dibawa bersamaan dengan munculnya kebudayaan Hindu dari India ke Nusantara.
Dalam perjalanannya tersebut, tentu terdapat persinggungan kebudayaan yang unik
antara India dengan Nusantara bahkan dengan Asia. Keunikan tersebut dibuktikan
dengan munculnya berbagai versi pada masa awal persebaran cerita Ramayana dari
India ke berbagai daerah di Asia hingga Nusantara. Kemunculan versi-versi yang
berbeda dapat digunakan untuk melihat persinggungan budaya antara India dan
daerah-daerah lain yang mengubah atau menyadur cerita Ramayana.
Saat
penyebaran cerita ini, terdapat kontak sejarah kebudayaan yang cukup erat
antara agama Hindu di Asia dan di India. Persebaran cerita Ramayana tentu tidak
dapat dipisahkan dengan agama Hindu dan Buddha dari India ke berbagai daerah di
Asia. Cerita Ramayana sendiri merupakan bagian dari khazanah kesusastraan
Hindu. Walaupun demikian, pendeta-pendeta Buddha juga menggunakan cerita
Ramayana untuk menyebarkan agama Buddha ke berbagai daerah di Asia. Tentu saja,
cerita Ramayana yang disebarkan oleh penganut Hindu dan Buddha memiliki
perbedaan dan cerita tersebut disesuaikan untuk kepentinga penyebaran agama itu
sendiri.
Tidak hanya
pengaruh agama, saat penyebaran cerita ini, terdapat pula kontak sejarah
kebudayaan yang cukup erat antara agama Hindu di Asia dan di India. Kontak ini
meliputi seluruh elemen yang ada dalam kehidupan, khususnya nilai-nilai yang
terkandung di dalam cerita Ramayana. Ramayana telah memainkan peran penting
dalam proses perpindahan dan penyebaran elemen Hindu dari India ke
Negara-negara di Asia. Nilai-nilai Hindu selalu terlihat di manapun kisah
Valmiki diadopsi oleh Negara-negara di Asia. Namun, nilai-nilai Hindu ini
diserap dengan memperhatikan budaya asli Negara itu. Jika nilai itu tidak
bertentangan akan diambil, sedangkan jika nilai itu bertentangan akan dibuang.
Ramayana merupakan salah satu bagian
dari Itihasa. Itihasa disebut juga Viracarita atau cerita kepahlawanan. Ada dua
Itihasa yang sangat terkenal di seluruh dunia, yaitu Ramayana dan Mahabharata.
Ramayana merupakan epos tertua dalam ajaran Hindu.
Ramayana
adalah sebuah epos yang menceriterakan riwayat perjalanan Rama. Rama sebagai
tokoh utama merupakan avatara Wisnu yang ketujuh. Rama merupakan tokoh dan
pahlawanan utama dalam ceritera Ramayana, yang dianggap lebih tinggi dari
Gunung Semeru, lebih besar dari langit, lebih dalam dibandingkan dalamnya
samudra. Ceritera ini sangat terkenal diseluruh dunia.
Kitab
Ramayana ditulis oleh Maharsi Valmiki. Valmiki memiliki keahlian mampu membaca
dan memawahi watak dan perasaan manusia. Hal inilah yang menyebabkan karyanya
disenangi oleh masyarakat karena apa yang digambarkan oleh Valmiki berkaitan
langsung dengan kehidupan manusia sehari-hari. Penggambaran social budaya,
kondisi politik dan pemerintahan masa
itu sangat jelas digambarkannya. Demikian pula masalah-masalah umum yang
dihadapi manusia maupun oleh bangsa, semua itu digambarkan dalam Ramayana
seolah-olah benar-benar hidup.
Ceritera
Ramayana sangat terkenal diseluruh dunia, dan kitab ini dikenal sebagai
Adikavya, sedangkan penulisnya yaitu Valmiki sebagai Adikavi, yang berarti
penyair pertama. Itulah yang menyebabkan mengapa Ramayana dengan mudah dapat
menguasai emosi masyarakat dan sebagai apresiasi banyak karya tulis baru yang
mengambil tema tentang Ramayana. Nama lain Ramayana adalah
Caturvimuati-sahasri-samhita. Syair-syair dari kitab Ramayana disebut Akhyana,
Gita atau Samhita.
Di
Indonesia ceritera Ramayana digubah dalam bentuk kakawin Ramayana dengan
menggunakan bahasa Jawa kuno oleh Mpu Yogiswara.
Kekawin Ramayana
adalah jenis karya sastra yang sangat popular. Jumlah salinan yang dapat
diselamatkan memberikan kesaksiaan mengenai popularitasnya. Berdasarkan
penelitiaan para ahli telah dapat menunjukkan bahwa kakawin Ramayana bersumber
kepada Ravanavadha karangan Bhatti (Bhattikavya).
Ramayana
merupakan epos Aryanisasi yang ditulis dalam bentuk stansa/sloka. Ramayana
terdiri dari hamper 24.000 stansa/sloka, terbagi menjadi 7 bagian dengan
istilah “Sapta Kanda” yaitu :
1. Bala kanda
2. Ayodhya kanda
3. Aranya kanda
4. Kiskinda kanda
5. Sundara kanda
6. Yudha kanda
7. Uttara kanda.
-
Sinopsis Cerita Ramayana
Raja Dasarata di Ayodya mempunyai beberapa istri.
Dengan permaisuri ia berputra Rama. Dengan istrinya yang ke-2 bernama Kaikeyi
berputra seorang bernama Barata. Putra-putranya yang lain ialah Laksamana dan Satrugna.
Putra-putranya ini dididik sebagaimana pendidikan yang diberikan para putra
raja.
Dalam suatu sayembara Rama mendapat Dewi Sita yang
sangat, cantik sebagai istrinya. Dewi Sita adalah anak raja Janaka yang
memerintah di Mitila.
Pada waktu Dasarata sakit ia pernah berjanji kepada
Kaikeyi bahwa kelak tahta kerajaan akatt diserahkan kepada Barata, untuk
membalas jasa Kaikeyi yang telah dengan tekun merawatnya.
Setelah Dasarata tua, tahta kerajaan diserahkan
kepada Rama. Karena itu Kaikeyi menggugat dan mengingatkan baginda akan
janjinya dahulu. Tuntutan ibu tiri Rama itu ialah: (1) Barata harus dinobatkan
menjadi raja Ayodya; (2) Rama harus dibuang dalam hutan selama 14 tahun.
Dasarata harus menepati janjinya sebagai seorang
ksatria dan dengan sedih ia menyampaikan keputusan atas tuntutan di atas.
Rama mengundurkan diri dan mengembara di hutan
Dandaka selama 14 tahun bersama istri dan adiknya, Laksamana. Hal ini sangat
mengharukan rakyat Ayodya yang sangat mencintai Rama. Karena sedih memikirkan
hal itu maka mangkatlah Dasarata.
Pada suatu hari Sita dirampas raksasa Wirada. Tetapi
raksasa itu dapat dikalahkan Rama dan Laksamana. Pada hari lain Rama berjumpa dengan
Surpanaka, adik perempuan raja Rawana yang memerintah kerajaan Langka.
Surpanaka jatuh cinta kepada Rama, tapi Rama tidak mau tergoda. Begitu pula
cinta Surpanaka terhadap Laksamana tidak mendapat sambutan. Bahkan Laksamana
mengerat telinga dan hidung Surpanaka karena bencinya. Surpanaka segera
mengadukan halnya kepada Rawana (Dasamuka = sepuluh muka) yang sudah mengetahui
kecantikan Dewi Sita. Timbullah keinginannya untuk melarikan Dewi Sita.
Raja Rawana segera mendatangi tempat perkemahan Rama
dengan pengiringnya, Narisa, yang dapat menjelma sebagai kijang emas. Narisa
menjelma menjadi seekor kijang emas dan mendekat ke kemah Dewi Sita. Setelah
terlihat oleh Sita, inginlah ia memiliki kijang emas itu dan minta supaya Rama
mau menangkapnya. Sebelum Rama berangkat mengejar kijang emas terlebih dahulu
ia membuat lingkaran kesaktian mengelilingi kemah mereka. Siapa yang masuk ke
lingkaran itu tidak dapat keluar lagi. Tapi semua ini telah diperhatikan dan
diketahui oleh Rawana dari jauh. Setelah Rama jauh dari kemah, mengejar kijang
emas, terdengarlah pekik orang. Sita mengira Rama mendapat bahaya. Segera
Laksamana disuruh Sita menyusul abangnya. Mula-mula Laksamana menolak, karena
telah dipesan oleh Rama supaya Laksamana tidak meninggalkan Sita, sebelum Rama
kembali. Sita lalu menyindir dengan mengatakan "Istri kakak lebih penting
daripada kakak sendiri."
Mendengar sindiran itu, maka Laksamana menyusul
abangnya. Rawana segera menghampiri kemah menjelma seorang peminta-minta,
berdiri di luar lingkaran kesaktian. Ia memohon agar Sita dapat memberinya air
minum karena ia sangat haus. Ketika Sita mengulurkan air minum itulah Rawana
menarik tangan Sita dan langsung dibawanya terbang ke Langkapura (Sailon)
tempat kerajaannya. Rama jatuh pingsan setelah kembali, Sita telah menghilang
dari kemah.
Di udara burung Jatayu melihat Sita dibawa oleh
Rawana. Jatayu segera menyerang Rawana. Tapi ia terpukul bagian sayapnya oleh
gada sakti Rawana. Rawana dengan mudah mengalahkan Jatayu karena ia mempunyai
sepuluh muka yang dapat melihat segenap penjuru, selain mempunyai gada sakti.
Untung saja Sita sempat melemparkan cincinnya kepada Jatayu. Cincin itu
diberikan Jatayu kepada Rama sebagai bukti tentang Sita, setelah pada suatu
ketika Rama sampai di hutan tempat Jatayu jatuh. Jatayu-lah yang sempat
memberitahukan hal Sita, sebelum ia menghembuskan napas terakhir.
Dengan pertolongan Kabanda, Rama dan Laksamana
mendapat petunjuk supaya minta bantuan kepada Sugriwa raja kera, untuk
menaklukkan Rawana. Sugriwa mau membantu asalkan terlebih dahulu ia dibantu
menaklukkan saudaranya, Walin, yang memusuhinya. Hanoman, Panglima Raja Kera,
menyusup ke Langkapura untuk mematai-matai Rawana. Ia menyamar sebagai seekor
kucing dan berhasil masuk ke istana Rawana menemui Dewi Sita. Tahulah ia bahwa
Sita tidak kekurangan sesuatu apa pun. Sita sangat gembira berjumpa dengan
Hanoman yang juga menyampaikan berita tentang suaminya. Tapi sayang ketika akan
pulang ia tertangkap. Hanoman tidak jadi dibunuh setelah ia mengaku sebagai
utusan. Sebagai ganti hukumannya, dibakarlah ekornya dengan mengikatkan
bahan-bahan yang mudah terbakar. Dalam keadaan ekor terbakar Hanoman
melompat-lompat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain yang menimbulkan
kebakaran besar di Langkapura. Senanglah hati Rama mendapat kabar dari Hanuman
bahwa istrinya, Sita, tidak diganggu Rawana.
Rama mulai menyusun penyerangan. Untung sekali ia
mendapat bantuan Wibisana, saudara Rawana, yang menyalahkan perbuatan Rawana
melarikan Sita. Dengan panah Rama yang sakti, Rama menghadapi Rahwana.
Dalam peperangan itu Rawana tewas dan Rama menang.
Langkapura diserahkan kepada Wibisana yang telah membantunya. Akhirnya masa
pembuangan 14 tahun selesai. Rama dan Sita pulang ke Ayodya dengan upacara yang
diadakan secara besar-besaran.
-
Nilai-nilia Mulia Ramayana
Ceritera Ramayana sesungguhnya merupakan tuntunan mulia untuk
seluruh umat manusia di seluruh dunia, sejak masa yang silam sampai masa kini
ceritera ini masih relevan. Ceritera ini sama seperti Amrta, sama seperti
sungai Gangga yang maha suci (naditama). Ceritera ini mengandung koleksi
beberapa idealism agung, seperti putra yang darwaman, seorang kakak yang ramah,
suami tercinta yang penuh tanggung jawab, seorang ayah yang memenuhi kewajiban,
seorang raja yang bijak dan pelindung bagi warganya. Rama yang merupakan tokoh
utama dalam ceritera ini dianggap lebih tinggi daripada Gunung Semeru, lebih
besar dari langit, lebih dalam dibandingkan lautan samudra, semua memuji
kemuliaan Rama.
Rama adalah
tokoh yang memiliki sikap baik setia kepada kebenaran, bijaksana, kasih saying,
tahan uji dan pemberani. Rama
maryadapurusottama (Rama seseorang yang memiliki kebajikan, semua
sifat-sifat mulia yang memancar). Rama adalah personifikasi dari kebenaran,
kemuliaan, kebaikan, kerendahan hati dan keberaniaan. Sebagai seorang putra
raja yang mulia dan baik, ia mengorbankan hidupnya untuk membantu ayahnya untuk
memenuhi janjinya pada istrinya Kekayi (ibu tiri Sri Rama). Ia mengasingkan
diri di hutan tanpa dendam atau kebenciaan kepada ibu tirinya itu, yang
merupakan penyebab dari pembuangannya ke hutan. Sri Rama member nasehat pada
adiknya, Bharata yang sangat marah kepada ibu kandungnya (Kekayi) yang membuang
kakaknya ke dalam hutan. Rama tetap menasehati agar Bharata tetap menghormati
dan mencintai ibunya. Semua yang dilakukan oleh Rama merupakan pengorbanan suci
secara tulus ikhlas dengan mengorbankan dirinya sendiri.
-
Nilai-Nilai yadnya yang
terkandung dalam cerita Ramayana
Agama dan
kepercayaan merupakan dua hal yang melekat erat dalam diri manusia. Sifatnya
sangat pribadi, terselubung dan kadang-kadang diliputi oleh hal-hal yang
bernuansa mitologis. Kualitas etos seseorang amat ditentukan oleh nilai-nilai
kepercayaan yang melekat pada dirinya. Orang bahkan rela mempertaruhkan
hidupnya demi kepercayaan yang mereka yakini sebagai kebenaran.
Dalam
kaitannya dengan kepercayaan, manusia tidak dapat hidup tanpa mitologi atau
system penjelasan tentang alam dan kehidupan yang penjelasan dan kebenarannya
tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga, pada urutannya, utuhnya mitologi akan
menghasilkan utuhnya system nilai, dan kemudian, utuhnya system nilai itu
sendiri akan memberi manusia kejelasan apa yang baik dan buruk (etika), dan
mendasari seluruh kegiatannya dalam menciptakan peradaban.
Keanakaragaman ini menjadi lebih nyata akibat usaha manusia
itu sendiri untuk membuat agamanya menjadi lebih berfungsi dalam kehidupan
sehari-hari, dengan mengaitkanya dengan gejala-gejala yang nyata dan ada di
sekitarnnya. Maka tumbuhlah legenda-legenda dan mitos-mitos yang kesemuanya itu
merupakan pranata penunjang kepercayaan alami manusia kepada Tuhan dan
fungsionalisasi kepercayaan itu dalam masyarakat.
Sama halnya
dengan wiracarita Ramayana yang sangat popular tidak hanya dikalangan
masyarakat Hindu, yang juga sangat dikenal oleh masyarakat non Hindu di dunia.
Keagungan ceritanya banyak memberikan nilai-nilai falsafah kehidupan bagi
manusia dari zaman ke zaman. Termasuk pula bagi kehidupan keagamaan umat Hindu
yang ada di Indonesia. Keberadaan wiracarita Ramayana merupakan sumber etika
yang sangat penting dalam terciptanya peradaban Hindu di Nusantara. Dan sebagai
generasi muda penerus bangsa, kita hendaknya selalu menjaga nilai-nilai luhur
yang terkandung dalam epos Rmayana ini.
Dalam
ceritera Ramayana, ada bermacam-macam yajna, ada yajna berbentuk benda, yajna
dengan tapa, yajna dengan yoga, yajna dengan mempelajari kitab suci, yajna ilmu
pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orangtua. Korban suci dan keikhlasan yang
dilakukan oleh seseorang dengan maksud
tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah
pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).
- Dewa
yajna
Pelaksanaan Homa Yajna yang dilaksanakan oleh Prabu
Dasaratha untuk memohon keturunan. Beliau meminta Rsi Resyasrengga sebagai
Purohita untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa dalam upacara Agnihotra.
Homa Yajna atau Agnihotra sesuai dengan asal katanya Agni berarti api dan Hotra
berarti penyucian.
Upacara ini dimaknai sebagai upaya penyucian melalui
perantara Dewa Agni. Untuk itu, kehadiran api sangat diperlukan karena hanya
api yang mampu membakar bahan persembahan dan menghantarnya menuju langit.
Selain itu, persembahan ke dalam api suci mendapat penguat relgius mengingat
api sebagai lidah Tuhan dalam proses persembahan.
Setelah
upacara tersebut beliau mendapatkan empat orang ksatria dari tiga
permaisurinya, yaitu Sri Rama, Bharata, Laksmana dan Satrugna. Kisah persiapan
Homa Yajna yang dilakukan oleh Prabu Dasaratha, dipaparkan juga dalam kekawin
Ramayana karya Empu Yogiswara.
Pada bagian lain dari cerita Ramayana juga
disebutkan bagaimana Sri Rama dan Laksamana ditugaskan oleh Raja Dasaratha
untuk mengamankan pelaksanaan Homa yang dilakukan oleh pertapa dibawah pimpinan
Maharsi Visvamitra. Dari kisah tersebut, tampak jelas keampuhan upacara Homa
Yajna.
Keagungan Yajna dalam bentuk persembahan bukan
diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting
adalah kesucian dan ketulusikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan
yajna.
- Pitra
Yajna
Digambarkan ketika Dasarata dikremasi. Pitra Yajna,
digambarkan melalui sikap Rama yang berbhakti kepada Ayahnya dengan mentaati
sumpah ayahnya. Demi memenuhi janji orang tuanya (Raja Dasaratha), Sri Rama,
Laksamana, dan Dewi Sita mau menerima perintah dari sang Raja Dasaratha untuk
pergi ke hutan meninggalkan kekuasaannya sebagai raja di Ayodhya.
Walaupun itu bukan merupakan keinginan Raja
Dasaratha dan hanya sebagai bentuk janji seorang raja terhadap istrinya Dewi
Kaikeyi. Sri Rama secara tulus dan ikhlas menjalankan perintah orangtuanya
tersebut. Bersama istri dan adiknya Laksamana hidup mengembara di hutan selama
bertahun-tahun.
Dari kisah ini tentu dapat dipetik suatu hakikat
nilai yang sangat istimewa bagaimana bhakti seorang anak terhadap orang tuanya.
Betapapun kuat, pintar dan gagahnya seorang anak hendaknya selalu mampu menunjukkan
sujud bhaktinya kepada orang tua atas jasanya telah memelihara dan menghidupi
anak tersebut.
Tertuang pada Kekawin Ramayana Treyas Sargah bait 9
sebagai berikut :
“Sawet nikana satya sang prabhu
kinon ng anak minggata, kadi pwa ya hilang ng asih nira hidep nikang mwang
kabeh, gelana mangarang n ngalah salahasatimoha ngesah, hamom ta sahana nya
kapwa umaso ri Sang Raghawa”.
Artinya
:
Karena
setianya sang prabhu (akan janji) disuruh putranya supaya pergi. Seperti
lenyaplah kasih sayangnya, demikian pikir orang banyak. Gundah gulana, sedih.
Kecewa amat bingung dan berkeluh kesah. Maka berundinglah semuanya menghadap
Sang Rama.
c. Manusa
yadnya
cerita Ramayana
juga tampak jelas bagaimana nilai manusia yajna yang termuat di dalam uraian
tersebut. Hal ini dapat dilihat pada kisah yang menceritakan Sri Rama
mempersunting Dewi Sita. Digambarkan juga
ketika Bharata melaksanakan upacara penobatan sebagai Raja. Tergambar juga
dalam bentuk persahabatan antara Rama dengan Sugriwa untuk saling tolong
menolong.
Tertuang dalam Kekawin Ramayana Dwitiyas Sargah bait
63 sebagai berikut :
“Ranak narendra gunamanta susila bhakti, Sang
Ramadewa tamatan papade rikeng rat, Sita ya bhaktya ryanak naranatha tan len,
nahan prayojana narendra pinet mara ngke”.
Artinya
:
Putra
tuanku gunawan, susila dan bhakti. Sang Ramadewa tiada tandingnya di dunia ini.
Sita akan bhakti kepada putra tuanku, tidak lain. Itulah tujuan kami tuanku dimohon
ke mari.
- Rsi
yajna
Rsi yajna itu adalah menghormati dan memuja Rsi atau
pendeta. Dengan demikian melayani pendeta sehari-hari maupun disaat beliau
memimpin upacara tergolong Rsi yajna.
Pada kisah Ramayana, nilai-nilai Rsi yajna dapat
dijumpai pada beberapa bagian dimana para tokoh dalam alur ceritanya sangat
menghormati para Rsi sebagai pemimpin keagamaan, penasehat kerajaan, dan guru
kerohanian. Dalam Kekawin Ramayana Prathamas sargah bait 30 sebagai berikut :
“sampun pwa sira pinuja, bhinojanan sang
maharsi paripurnna, kalawan sag wiku saksi, winursita dinaksinan ta sira”.
Artinya
:
Sesudah
beliau dipuja, disuguhkan sang maharsi, bersama sang wiku yang menjadi saksi,
dihormati dipersembahkan hadiah untuk beliau.
seorang
rohaniwan senantiasa memberikan wejangan suci dan ilmu pengetahuan keagamaan
untuk menuntun umatnya tentang ajaran ketuhanan. Keberadaan beliau tentu sangat
penting dalam kehidupan umat beragama. Sudah sepatutnya sebagai umat beragama
senantiasa sujud bahkti kepada para maharsi atau pendeta sebagai salah satu
bentuk yajna yang utama dalam ajaran agama Hindu.
- Bhuta
Yajna
Upacara ini lebih diarahkan pada tujuan untuk nyomia
bhuta kala atau berbagai kekuatan negatif yang dipandang dapat mengganggu
kehidupan manusia. Bhuta yajna pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan bhuta
kala menjadi bhuta hita. Bhuta hita artinya menyejahterakan dan melestarikan
alam lingkungan (Sarwaprani).
Pelaksanaan upacara dewa yajna selalu di barengi
dengan bhuta yajna, hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan alam semesta beserta
isinya. Nilai-nilai bhuta yajna dalam kitab Ramayana dapat dilihat pada
pelaksanaan homa yajna sebagai yajna yang utama juga diringi dengan ritual
Bhuta yajna untuk menetralisir kekuatan negatif sehingga alam lingkungan menjadi
sejahtera.
Dalam Kekawin Ramayana Prathamas Sargah bait 25
menjelaskan sebagai berikut :
“lumekas ta sira mahamo, pretadi pisaca
raksasa minantran bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang yajna”.
Artinya
:
Mulailah
Beliau melaksanakan upacara korban api. Roh jahat dan sebagainya, pisaca
raksasa dimanterai. Bhuta kala semua diusir, segala yang akan mengganggu
upacara korban itu.
Pada setiap pelaksanaan upacara yajna, kekuatan suci
harus datang dari segala arah. Oleh sebab itu, segala macam bentuk unsur negatif
harus dinetralisir untuk dapat menjaga keseimbangan alam semesta. Bhuta yajna
sebagai bagian dari yajna merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai
tujuan ini, sehingga tidak salah pada setiap pelaksanaan upacara dewa yajna
akan selalu dibarengi dengan upacara bhuta yajna.

Nilai-nilai ajaran agama Hindu yang ada
dalam cerita Ramayana
·
Satya mitra dan Satya Wacana = terlihat
dari kesetiaan Sugriwa terhadap janjinya kepada Rama.
·
Guru Bhakti dan Pitra yajna,
diperlihatkan dari rasa bhaktinya Rama terhadap Orang tuanya sehingga bersedia
untuk mengasingkan diri kehutan.
- Satya Semaya, diperlihatkan
pada kesetiaan Dasarata dalam menepati janjinya pada Dewi Keykayi sampai
harus meninggal dunia.
- Dharma Negara, diperlihatkan
oleh Kumbakarna yang dengan sepenuh hati hingga mengorbankan nyawa untuk
membela Negaranya.
- Dharma Agama, diperlihatkan
oleh Wibisana yang menentang kakaknya demi membela kebenaran.
LEMBAR KERJA SISWA
A. Menyimak baik kekawin
Ramayana
Petunjuk
:
1. Baca kekawin Ramayana di
bawah ini dengan seksama!
2. Kemudian tulis arti dan
makna/nasehat yang dapat diambil dari baik kekawin Ramayana tersebut!
Mahyun ta sira maputra
Manaka wetnyar wacg rikang wicaya
Malawas tan panakatah
Mahyun ta sira gawe yajna
Artinya
:
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Makna/nasehat
yang dapat diambil dari baik kekawin Ramayana tersebut :
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
B. Tulislah dua baik kekawin
Ramayana dengan wirama merdhu komal pada lembar dibawah ini, kemudian coba
ditembangkan!
Wirama
Merdhu Komala :
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
C. Lengkapi kolom di bawah ini!
|
No |
Sumber |
Pembagian panca yadnya |
|
1 |
Bhagawadgita
IV.28 |
1. 2. 3. 4. 5. |
|
2 |
Manawa
Dharmasastra, III.70 |
1. 2. 3. 4. 5. |
|
3 |
Lontar
Singhalanghyalang |
1. 2. 3. 4. 5 |
D. Petunjuk :
1. Petiklah sloka kitab
Bhagawadgita III.13, dan tulis sloka tersebut beserta artinya, pada lembar yang
telah tersedia di bawah ini !
2. Diskusikan makna sloka
tersebut dengan teman-temanmu, kemudia tulis hasil kesimpulan diskusi tersebut
pada lembar yang tersedia di bawah ini!
Lembar
kerja :
Bunyi
sloka Bhagawadgita Bab III.13
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Artinya
:
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Kesimpulan
diskusi
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
SOAL-SOAL LATIHAN
TUGAS KELOMPOK
Jawablah
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !
1. Mengapa kita harus selalu
bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa? Jelaskanlah!
2. Mengapa orang perlu
beryadnya? Jelaskanlah!
3. Setiap
hutang wajib dibayar, apalagi hutang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada
hakekatnya membayar hutang adalah untuk kepentingan kita sendiri. Mengapa
demikian?
4. Yajna
dan upacara memiliki pemahaman yang berbeda menurut ajaran agama Hindu,
jelaskanlah!
5. Jelaskan
mengapa Yajna dikatakan sebagai symbol pengejawantahan ajaran Veda!
TUGAS KELOMPOK
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Jelaskan
mengapa belajar dan menuntut ilmu dengan baik dikatakan sebagai bentuk yajna?
2. “Para
penyembah Tuhan dibebaskan dari segala dosa, karena mereka makan makanan yang
dipersembahkan, terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang hanya
menyiapkan makanan untuk menikmati indriya-indriya pribadi, sebenarnya hanya
makan dosa saja”. Jelaskan makna yang terkandung di dalam kutipan kalimat di
atas!
3. Jika
kita tidak punya harta benda sama sekali apakah kita juga masih wajib beryajna.
Bagaimana cara beryajna bagi orang yang sama sekali tidak memiliki apapun?
4. Mesaiban
atau yajna sesa adalah yajna yang dilakukan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa
beserta Manifestasinya setelah memasak atau sebelum menikmati makanan. Jelaskan
tujuan dari pelaksanaan yajna tersebut!
5. Tinggi
rendahnya kualitas suatu yajna atau persembahan sepenuhnya tergantung pada
ketulusan pikiran. Jelaskanlah makna dari pernyataan tersebut!
TUGAS 1
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan
baik dan benar!
1. Jelaskan pengertian
yadnya !
2. Jelaskan beberapa pengertian
yadnya dalam kitab Wrhaspati Tattwa dan Agastya Parwa!
3. Sebutkan tujuan yadnya!
4. Sebutkan
arti sloka sarasamuscaya I.4!
5. Sebutkan
dasar-dasar pelaksanaan yadnya!
TUGAS 2
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Jelaskan tentang nitya
yadnya dan naimitika yadnya!
2. Sebutkan dan jelaskanlah
tingkatan yadnya dari segi kwantitasnya!
3. Sebutkan dan jelaskan jenis
yadnya dari segi kwalitasnya!
4. Jelaskan bentuk-bentuk
pelaksanaan yadnya dalam kehidupan !
5. Mengapa kegiatan dan
realisasi pelaksanaan yajna harus dibagi ke dalam berbagai bentuk?
TUGAS 3
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Sebutkan nilai-nilai yadnya
dalam kehidupan !
2. Sebutkan dan jelaskan secara
singkat pokok-pokok ajaran Panca Yadnya !
3. Berikan
contoh-contoh tentang pelaksanaan rsi yajna!
4. Sebutkan
arti sloka Bhagawadgita IV.11!
5. Jelaskan
apa yang dimaksud dengan Bhuta Yadnya dan berikan contohnya baik dalam bentuk
perilaku dalam sehari-hari maupun dalam bentuk upacara/ritual!
TUGAS 4
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Untuk mewujudkan pelaksanaan
yajna yang Sattwika, ada tujuh syarat yang wajib dilaksanakan. Sebutkan dan
jelaskanlah hal itu!
2. Banyak nilai-nilai etika,
social, budaya yang kita peroleh dari melaksanakan yajna. Jelaskanlah
nilai-nilai tersebut!
3. Uraikan secara singkat isi
dari Balakanda pada epos Ramayana!
4. Sebutkan nilai-nilai Panca
Yadnya yang terdapat dalam ceritera Ramayana!
5. Cerita Ramayana banyak
mengandung nilai etika yang sangat luhur. Coba anda jelaskan nilai etika yang
terkandung dalam cerita tersebut yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari!
TUGAS 5
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Jelaskan apa yang kamu
ketahui tentang Agnihotra atau Homa yajna!
2. Nilai yajna apa saja yang
dapat kamu temukan pada pelaksanaan Homa Yajna dalam cerita Ramayana!
3. Ceriterakan secara singkat
ringkas cerita Kiskinda Kanda!
4. Sebutkan nilai-nilai
keperwiraan yang terkandung dalam ceritera Ramayana!
5. Sebutkan dan jelaskan
pembagian Panca Yadnya dalam Kitab Manawa Dharmasastra!
TUGAS 6
Isilah
titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar!
1. Jika dilihat dari segi
kualitas, yadnya dapat dibagi tiga, yaitu satwika yadnya, rajasika yadnya dan
tamasika yadnya. Apabila yadnya itu dilaksanakan asal-asalan, tidak
mengindahkan sastra dan petunjuk agama maka disebut…….
2. Yadnya yang dilaksanakan
dengan melantunkan lagu-lagu suci seperti kekawin, kidung, dan sebagainya
disebut…
3. Dalam kitab Manawa
Dharmasastra I.74 terdapat panca yadnya, yang terdiri dari ahuta, huta,
prahuta, brahmahuta, dan prasita. Persembahan dengan mengucapkan doa-doa suci
weda disebut….
4. Kitab Gautama Dharmasastra
menjelaskan adaa tiga macam yadnya yaitu dewa yadnya, bhuta yadnya dan brahma
yadnya. Persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya disebut…
5. Dalam lontar
Singhalanghyaka, disebutkan tentang persembahan dengan menyeimbangkan antara
ilmu dan iman, disebut…
6. Persembahan dengan
mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta
upacara wali karma, dalam lontar Agastya Parwa disebut….
7. Tiga komponen penting yang
menentukan sukses tidaknya suatu yadnya yaitu sadhaka, mancagra dan yajamana.
Yang disebut sadhaka yaitu…..
8. Tri rna adalah tiga hutang
yang dimiliki oleh manusia dan hutang inilah menimbulkan pelaksanaan panca
yadnya. Dari pitra rna maka muncullah….
9. Yajna ngaranya “agnihotradi”
kapujan Sang Hyang Siwagni pinakdinya, pernyataan ini terdapat dalam kitab….
10. Tuhan menciptakan ala mini
dengan yadnya, dan dengan yadnya manusia berkembang, sebagaimana sapi perahan
memenuhi keinginanmu. Kalimat ini dapat kita jumpai dalam kitab…..
TUGAS 6
Wiramakan baik
kekawin di bawah ini !
“lumekas ta sira mahamo,
pretadi pisaca raksasa minantran
bhuta
kabeh inilagaken,
asing
mamighna rikang yajna”.
Artinya :
Timbullah niat
Sri Baginda agar berputra, agar berputra karena sudah puas bercinta namun lama
nian beliau tidak berputra, lalu beliau berniat mengadakan ritual;.
LEMBAR KERJA SISWA
Aktivitasku
a. Dalam agama Hindu kita
mengenal yadnya dari panca yadnya sampai yadnya sesa. Untuk membuktikan kalian
telah melakukan yadnya, tulis dalam portofolio/klipping atau sejenisnya
disertai fotonya. Yadnya apa saja yang telah kalian lakukan? Kapan kalian
melakukannya dan dimana? Uraikan! Yang paling penting manfaat apa yang
diperoleh dari melaksanakan yadnya, satu hal lagi. Apakah dengan yadnya anda
merasa direpotkan atau dibebani?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
b. Buatlah laporan mengenai
pelaksanaan salah satu upacara panca yadnya di daerahmu! Apakah upacara panca
ydanya tersebut juga dilakukan diseluruh dunia?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
BAB
II
KITAB
SUCI (UPAWEDA)
Kompetensi Inti
KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya
KI
2:
Mengembangkan
perilaku (jujur,
disiplin,
tanggungjawab, peduli,
santun, ramah lingkungan, gotong royong,
kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
KI 3:
Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI
4: Mengolah, menalar,
dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar :
1.1 Membiasakan
mengucapkan salam agama Hindu
1.2 Membiasakan
mengucapkan dainika upasana (doa sehari-hari).
2.1
Toleran terhadap sesama, keluarga, dan lingkungan dengan cara menyayangi
ciptaan Sang Hyang Widhi (Ahimsa).
2.2 Berperilaku jujur (Satya), menghargai dan
menghormati (Tat Tvam Asi) makhluk
ciptaan Sang Hyang Widhi
3.2
Menyebutkan ajaran Upaveda sebagai tuntunan hidup
4.2
Menalar Upaveda sebagai tuntunan hidup Indikator
Indicator :
1. Menjelaskan pengertian weda
2. Menguraikan sejarah
timbulnya weda
3. Menguraikan bahasa dalam
weda
4. Menguraikan isi weda baik weda sruti maupun
weda smrti
5. Menjelaskan pengertian
Upaveda
6. Menjelaskan kedudukan
Upaveda dalam Veda
A. Pengertian
“tasmad yajna sarvahuta rcah samani
yajnire,
Chandamsi yajnire tasmad
yajus tasmad ajayata
(Yajurveda XXXI.7)
Artinya :
Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadaNya umat
manusia mempersembahkan
berbagai yajna, daripadaNya muncul Rgveda dan
Samaveda, daripadaNya pula muncul Yajurveda dan Atharvaveda.
Setiap
ajaran agama memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat
manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa ajaran agama itu bersumber pada
kitab suci. Demikian pula umat Hindu yakin bahwa kita sucinya itu merupakan
wahyu atau sabda Tuhan yang Maha Esa.
Kitab
Suci adalah kitab yang berisikan ajaran
kesucian yang diwahyukan oleh Tuhan /Hyang Widhi melalui
orang yang mata bathinnya tajam (dibya caksu) yang disebut Maha Rsi, Bhagawan
atau Nabi. Kitab Suci Agama Hindu disebut “Weda”. Menurut arti katanya Weda
berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata “Vid” yang artinya mengetahui
atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci dan maha sempurna yang
kekal abadi berasal dari Sang Hyang Widhi yang didengarkan oleh Maha Rsi dalam
keadaan samadhi. Oleh karena itu juga disebut Çruti yang berarti sabda suci yang
didengarkan. Kata Sruti berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata “Çru”
yang berati mendengar, jadi Çruti adalah wahyu yang langsung didengar dari
sabdaNya Sang Hyang Widhi oleh para Maha Rsi.
Sebagai
kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir
ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Di dalam ajaran agama Hindu
tersebut, termuat tentang ajaran agama, kebudayaan, dan filsafat.
Umat
Hindu berkeyakinan bahwa Veda bersifat anadi
ananta, yakni tidak berawal dan tidak berakhir dan sebagai sabda Brahman.
Sebagai sabda, Veda telah ada semenjak Tuhan Yang Maha Esa ada. Tradisi sekolah
pada jaman Veda dikenal dengan nama sakha
yang pada awalnya berarti cabang dan kemudian berarti tempat mempelajari
Veda. Selanjutnya pengertian sakha
ini berkembang menjadi sampradaya atau Asrama, yaitu tempat atau pusat mempelajari Veda.
Sebagai
kitab suci agama Hindu, maka ajaran Veda diyakini dan dipedomani oleh umat
Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari ataupun untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.
Veda dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya
pun adalah Tuhan yang diyakini Maha Suci.
Sebagai
kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir
ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Veda mengandung ajaran yang
memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat nanti. Ajaran Veda tidak
terbatas hanya sebagai tuntunan hidup individual saja, tetapi juga dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.veda menuntun hidup manusia sejak lahir
hingga akhir menutup mata. Segala tuntunan hidup ditunjukkan kepada kita oleh
ajaran Veda.
B. Sejarah Timbulnya Weda
Adalah menjadi
kebiasaan untuk membicarakan umur kitab suci / Weda yang merupakan sumber utama
dari ajaran agama Hindu. Tapi tidak seorangpun yang dapat memberikan pendapat
yang pasti, kapan dan bilamana kitab suci Weda diwahyukan ke dunia. Berbeda
halnya dengan kitab suci agama lain mempunyai waktu yang telah ditetapkan oleh
pemimpin / Ulama mereka masing-masing. Seperti kitab suci agama Budha yaitu Tri
Pitaka ditulis kira-kira pada jaman Asoka, yaitu 2500 tahun yang lalu. Kitab
suci agama Islam yaitu All Quran kira-kira 1200 tahun yang lalu. Kitab suci
agama Kristen yaitu Injil ditulis kira-kira 2000 tahun yang lalu.
Walaupun kitab
suci Weda tidak ditentukan dengan pasti kapan disusun atau diwahyukan namun
para ahli peradaban Timur sangat berhasrat untuk menemukan kapan kira-kira kitab
suci Weda itu disusun. Beberapa diantaranya ada yang mengatakan bahwa hal ini
terjadi kira-kira pada tahun 1500 SM, namun ada yang mengatakan tahun 3000 SM.
Lokamaniya Tilak menetapkan pada tahun 6000 SM. beberapa orientalis setuju pada
pendapatnya. Orientalis modern tampak lebih condong bahwa timbulnya Weda itu
jauh lebih tua lagi dari tahun yang ditetapkan oleh Tilak.
C. Bahasa Dalam Weda
Sebelum Weda
mulai diselidiki Bhagawan Panini mulai menyusun tata bahasa Sansekerta pada
tahun 700 SM. dan menamakan bahasa yang dipakai dalam Weda dengan nama “Daiwi
Wak” (Bahasa Dewata). Baru dalam tahun 200 SM. bahasa ini mulai dikenal dengan
nama “Sansekerta” setelah Patanjali menulis kitab “Bhasa” pada abad ke 11 SM.
Nama Sanskerta
yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Bhagawan Patanjali adalah untuk
menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum dalam pergaulan di
Bharata Warsa. Kemudian bahasa itupun dibedakan pula dari bahasa Pali, yaitu
bahasa yang dipakai oleh orang-orang Magadhi dalam penyebaran agama Budha
Setelah Bhagawan
Panini berhasil menyusun tata bahasa Sansekerta jejak beliau diikuti pula oleh
Bhagawan Katyayana yang lebih populer dikenal dengan Bhagawan Wararuci pada
abad 5
SM. Beliau menulis keterangan
tambahan atas karya Panini disamping
sebagai penulis Sarasa-muscaya, yang karyanya telah diterjemahkan di
Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno pada waktu jaman keemasan Hindu di Jawa dan
pula telah dialih bahasakan kedalam bahasa Indonesia tahun 1970.
D. Pembagian dan Isi Weda
Berdasarkan
system pertimbangan materi dan luas ruang lingkup isinya jumlah jenis buku Weda
itu banyak. Bahwasanya Weda itu mencangkup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan
oleh manusia. Maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok
besar yang disebut :
1. Weda Sruti
2. Weda Smrti
Pembagian
kedalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang
dikelompokkan sebagai kitab Weda baik
secara tradisional maupun secara institusional ilmiah.
Kelompok Weda
Sruti isinya hanya memuat wahyu atau Sruti, sedangkan kelompok kedua yaitu
Smerti isinya adalah sebagai penjelasan terhadap Sruti. Jadi Smerti merupakan
manual, buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Bila
dibandingkan dengan ilmu politik, Sruti merupakan UUD-nya Hindu, sedangkan
Smerti adalah UU. pokok dan UU. Pelaksanaannya adalah Nibandha. Keduanya
merupakan sumber hukum yang mengikat dan harus diterima. Oleh karena itu
Bhagawan Manu menegaskan dalam kitab
Manawa Dharmasastra II.10. :
“Çrutistu wedo wijneyo
dharmacastram tu wai Smertih te sarwatheswa mimamsye tabhyam dharmohi
nirbabhau”
Artinya :
Sesungguhnya Sruti (wahyu)
adalah Weda demikian pula Smerti itu adalah Dharmasastra, keduanya harus tidak
boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang
menjadi sumber dari hukum suci itu (dharma).
Untuk dapat
memahami seluruh materi kedua bidang Weda itu, berikut ini akan kami uraikan
berturut-turut satu persatu, seperti dibawah ini :
1.
Weda Sruti
Kata Sruti
berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari akar kata “Çru” yang berarti
mendengar, jadi Sruti adalah wahyu yang
langsung didengar dari sabdanya Sang Hyang Widhi oleh para Maha Resi. Weda
Sruti adalah kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Resi melalui pendengaran
langsung yang bersumber dari wahyu Hyang Widhi / Tuhan.
Kelompok Weda
Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya atau Weda orisinil
adanya. Menurut sifat isinya, Weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu :
1. Bagian Mantra
2. Bagian Brahmana (Karma
Kanda)
3. Bagian Upanisad / Aranyaka
(Jňana Kanda)
Masing-masing bagian dari
kitab Weda Sruti tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Mantra
Bagian Mantra
terdiri atas empat himpunan (samhita) yang disebut “Catur Weda Samhita”
yaitu :
a. Rg Weda Samhita
b. Sama Weda Samhita
c. Yajur Weda Samhita
d. Atharwa Weda Samhita
Dari keempat
kelompok Weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra
yang berdiri sendiri. Karena itu disebut Tri Weda yang artinya kumpulan tiga
kitab suci. Sedangkan “Atharwa Weda” mengandung mantra-mantra gaib untuk
memperoleh kekuatan-kekuatan magis pula.
Pengenalan nama Catur Weda
adalah hanya karena memang kenyataannya secara sistimatik bahwa Weda itu telah
dikelompokkan menjadi empat. Pembagian empat kelompok isi Weda itu adalah :
a. Rg Weda Samhita
Merupakan
kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan. “Rg”
berarti memuja, sedangkan kata Weda
berasal dari kata “Wid” yang berarti ilmu pengetahuan suci. Jadi Rg Weda
berarti ilmu pengetahuan suci yang diucapkan untuk memuji-muji Sang Hyang Widhi
/ Tuhan atau Dewa-dewa (sebagai simbol kekuatan alam). Kitab Rg Weda ini
disusun oleh Bhagawan Pulaha merupakan kumpulan dari ayat-ayat tertua, terbesar
dan terpanjang, pada umumya berbentuk
bentuk “Puisi”. Penyanyi / pendeta untuk
Rg Weda disebut : Hotr. Kitab ini
terdiri dari 10.
b. Sama Weda Samhita
Merupakan
kumpulan mantra-mntra yang memuat ajaran-ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan
atau saman. Kata Sama (saman) berarti irama atau melodi. Sama Weda memuat
tentang nada-nada atau cara-cara mengucapkan nyanyian pujian. Kitab Sama Weda
ini ditulis oleh Bhagawan Jaimini Penyanyi atau Pendetanya disebut Udgatir.
Kitab ini terdiri dari 1810
mantra.
c. Yajur Weda Samhita
Merupakan
kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yadnya
(yajus, pluralnya yajumsi). Kata Yajur berasal dari kata “Yaj” yang berati
memuja, berkorban. Jadi Yajur Weda adalah kitab yang berisikan mantra dalam
bentuk “prosa” yang menguraikan tentang tata cara kewajiban beryadnya yang
harus dilakukan oleh Umat Hindu.
Yajur Weda ini ditulis oleh
Bhagawan Waisampayana dan Pendeta dari Yajur Weda disebut
Adwaryu.
Jenis Weda ini ada dua macam
yaitu :
1). Yajur Weda Hitam (Kresna Yajur Weda)
yaitu berisi mantra-mantra yang menguraikan tentang arti yadnya.
2). Yajur Weda Putih ( Sukla Yajur Weda)
yang juga disebut Wijasaneyi Samhita yaitu terdiri atas mantra-mantra yang
harus diucapkan Pendeta dalam upacara.
d. Atharwa Weda Samhita
Merupakan
kumpulan mantra-mantra yang bersifat magis, misalnya soal-soal sihir,
mantra-mantra sakti atau kekuatan gaib (Atharwa) dan soal pengobatan. Juga
kitab ini menguraikan tentang ilmu bintang dan ilmu pasti.
Kitab Atharwa Weda Samhita ini terdiri
dari 5.987 mantra.
Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Sumanthu
sedangkan Pendeta atau penyanyinya disebut Brahmana.
2. Brahmana
(Karma Kanda)
Bagian kedua
yang terpenting dari kitab Sruti adalah bagian yang disebut Brahmana atau Karma
Kanda. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Brahmana berarti doa. Jadi
kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan
dalam upacara yadnya. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang
menjelaskan arti kata ucapan mantra.
Pada jaman
Brahmana ada bermacam-macam yadnya seperti sekarang ada yang besar ada yang
kescil. Yang besar seperti Pindha Pitra Yadnya yaitu penghormatan kepada
nenek moyang dan upacara Rajasuya yaitu penobatan Raja. Yang kecil
seperti Samskara yaitu upacara yang berhubungan dengan penyucian diri.
3. Upanisad / Aranyaka (Jňana Kanda).
Upanisad atau Aranyaka
adalah himpunan mantra-mantra yang membahas
berbagai aspek teori mengenai ke-Tuhanan. Disamping itu himpunan mantra
ini merupakan Jňana Kanda dari Weda Sruti.
Arti kata
Upanisad adalah duduk di bawah dekat seorang guru untuk menerima ajaran
rahasia. Tetapi guru tidak memberikan ilmunya kepada sembarang orang. Hanya
kepada murid-murid yang setia dan patuh kepada Guru.
Upanisad adalah
kitab yang isinya mengenai penjelasan prihal pelepasan (moksa) dan filsafat.
Sedangkan Aranyaka adalah kitab yang memuat tentang hubungan roh dengan Tuhan ( kerohanian). Kelompok
kitab-kitab ini disebut Rahasya Jňana, karena isinya membahas hal-hal yang
bersifat rahasia. Kitab ini menjadi pedoman hadup bagi mereka yang meninggalkan
rumah tangga dan meningkat menuju Wanaprastha.
Dengan
memperhatikan deretan nama-nama kelompok Mantra, Brahmana dan Upanisad diatas,
jelaslah kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami Dharma
semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu
dihayati.
2.
Weda Smrti
Smrti merupakan
kitab suci Agama Hindu yang kedua setelah Sruti. Smrti adalah kitab suci Weda
yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharsi yang bersumber dari wahyu
Sang Hyang Widhi / Tuhan. Kitab Smrti adalah kitab Weda juga, karena fungsi dan
kedudukannya dipersamakan dengan kitab Weda Sruti.
Kata Smrti
berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata “smarta” yang berarti ingatan,
kemudian menjadi kata Smrti berarti kenangan, tradisi yang berwenang. Jadi Smrti
berarti kelompok buku Weda yang lahir dari ingatan. Menurut tradisi dan lazim
telah diterima dibidang ilmiah istilah Smrti adalah untuk menyebut kelompok
Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas
pengelompokan isi materi secara lebih sistematis menurut bidang profesi.
Smrti disebut
juga Dharmasastra, isinya adalah pedoman tingkah laku yang patut diikuti oleh
umat manusia sehingga kitab ini sering disebut ilmu hukumnya agama Hindu. Salah
satu kitab Dharmasastra yang terkenal adalah Manawa Dharmasastra yang ditulis
oleh Maharsi Manu. Buku ini di Indonesia menjadi sumber hukum agama.
Kitab Smrti
merupakan pendukung dan penjelasan dari kitab Weda Sruti. Dalam hal ini Smrti
bersifat sebagai suplemen atau pelengkap
tambahan. Orang akan baru mengerti isi Sruti setelah membaca kitab Smrti. Jadi
kedudukan kitab Smrti itu sangat penting dan bahkan mungkin lebih diperlukan.
Oleh karena itu pergunakanlah kitab-kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus
kita kerjakan dan untuk mengetahui apa yang patut kita kerjakan.
Untuk dapat
mengamalkan Weda secara benar didalam
upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani, jenis-jenis kitab
Smerti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup. Secara garis besarnya kitab
Smerti dapat digolongkan menjadi dua
kelompok besar yang terdiri dari :
1. Kelompok
Vedangga
2. Kelompok
Upaweda
1. Kelompok Vedangga
Kata Vedangga berasal dari bahasa Sansekerta yaitu
dari kata Veda dan Angga. Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan
angga berarti bagian, anggota, badan, sumber, dasar.
Vedangga berarti
batang tubuh dari Weda. Untuk dapat mempelajari, memahami dan mendalami Weda
dengan baik kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga.
Vedangga sebagai
kitab Smerti, terdiridari enam bidang Weda yang disebut Sad Angga Weda,
yaitu ::
1) Siksa (Phonetika)
2) Wyakarana (Tata bahasa)
3) Chanda (Lagu)
4) Nirukta (Sinonim dan
Antonim)
5) Jyotisa (Astronomi)
6) K a l p a (Retuil)
1). Siksa (Phonetika)
Siksa adalah
kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjuk-petunjuk tata cara
mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi rendahnya tekanan suara.
Jadi kitab ini sebagai pedoman dalam mempelajari penmgucapan mantra yang benar.
2). Wyakarana (Tata bahasa)
Kitab Wyakarana
isinya menguraikan tentang tata bahasa, untuk dapat menghayati Weda dengan
benar, kecil kemungkinannya dapat mengetahui tanpa mengerti dan mengetahui tata
bahasanya. Oleh karena itu kitab
Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting didalam mempelajari Weda.
3) Chanda (Lagu)
Chanda artinya lagu
atau hymne. Kitab ini berisikan aturan-aturan tentang guru dan laghu yang
sangat dipentingkan dalam membaca mantra-mantra yang biasanya dicantumkan Weda.
Atas dasar inilah dikenal beberapa jenis Chanda pada permulaan penulisan
mantra.
Chanda adalah
cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut laghu.
Peranan Chanda dalam sejarah penulisan Weda sangat penting, karena dengan
Chanda semua ayat itu dapat dipelihara secara turun temurun seperti nyanyian
yang mudah diingat.
4) Nirukta (Sinonim dan Antonim)
Kitab Nirukta
memuat berbagai penapsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat dalam Weda.
Bentuk dan isi kitab ini memuat kata-kata yang memiliki persamaan arti dan
perbedaan arti atau lawan kata. Oleh karena itu peranan kitab Nirukta sangat
penting dan menentukan dalam menterjemahkan Weda.
Dalam kitab
Nirukta disebutkan bahwa mantra-mantra dibedakan dalam tiga aspek /katagori
yaitu seperti :
a. Prakosa : yaitu membahas aspek yang tidak
diketahui melalui indra.
b. Adhyatmika : yaitu membahas aspek yang khusus menyangkut
jiwa.
c. Pratyaksa : yaitu
membahas aspek yang dapat ditangkap langsung oleh indra.
Kitab Nirukta ditulis
oleh Bhagawan Yaska pada tahun ± 800 SM. Kitab ini memuat hal-hal seperti :
a) Naighantuka Kanda, memuat kata-kata yang sama
artinya (sinonim).
b) Naighama Kanda, memuat kata-kata yang
berarti ganda.
c) Daiwata Kanda, Menghimpun nama-nama Dewa
di angkasa, bumi, sorga.
5) Jyotisa (Astronomi)
Jyotisa adalah
ilmu perbintangan. Kitab Jyotisa merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat
pokok-pokok ajaran astronomi (ilmu perbintangan) yang diperlukan sebagai
pedoman dalam pelaksanaan upacara yadnya untuk mencari hari baik, sesuai dengan
edaran tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai
pengaruh didalam pelaksanaan yadnya.
Sehubungan dengan itu, adanya system pedewasaan dan pemakaian
kitab-kitab Primbon itu asal mulanya berkembang dari ajaran Jyotisa itu
sendiri.
Kitab Jyotisa
adalah kitab pendukung Weda yang menguraikan tentang pokok-pokok pengetahuan
dalam bidang astronomi. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa
kita dapat memahami, bahwa bagaimana Weda diajarkan kepada umatnya untuk dapat
berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya.
6) K a l p a (Retuil)
Kalpa merupakan
kelompok Wedangga yang terbesar dan terpenting yang isinya banyak bersumber
pada kitab Brahmana dan sebagian kecil dari kitab Mantra.
Menurut jenis isinya
kelompok ini terbagi atas beberapa bidang yaitu
:
Adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut :
(1) Srauta Sutra
Memuat berbagai
ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya, penebusan dosa dan lain-lain yang
yang berhubungan dengan upacara keagamaan, baik upacara besar, upacara kecil
dan upacara yang dilaksanakan setiap hari.
(2) Grhya Sutra
Memuat berbagai
ajaran mengenai keterangan dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan berbagai upacara
yadnya yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga yang dimulai
dari Garbhadana (upacara bayi dalam kandungan) sampai dengan upacara Antyesti
yaitu upacara yang berkenaan dengan kematian.
(3) Dharma Sutra, yang juga disebut Dharmasastra
Isinya
menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat
dan bernegara, seperti aturan dasar mencangkup bidang hukum, agama, kebiasaan
atau acara dan sistacara.
Kitab Dharma
Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting diantara kitab-kitab jenis
Kalpa, maka terdapatlah kesan bahwa Weda Smrti itu adalah Dharma Sastra.
Menurut Bhagawan
Sanskhalikhita, dalam kehidupan ini dilalui oleh empat zaman yang disebut Catur
Yuga. Dijelaskan bahwa menurut tradisi pada masing-masing Yuga berlaku
kitab Dharmasastra tersendiri, seperti :
a) Pada masa
Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharmasastra karya Bhagawan Manu.
b) Pada masa Treta Yuga berlaku
kitab Dharmasastra yang ditulis oleh Yajnawalkhya.
c) Pada masa Dwapara Yuga
berlaku Dharmasastra karya Bhagawan Sanskhalikhita.
d) Pada masa Kali Yuga berlaku
kitab Dharmasastra ditulis oleh Bhagawan Parasara.
Keempat jenis
kitab Dharmasastra tersebut diatas memiliki sifat saling mengisi atau
melengkapi antara satu dengan yang lainnya.
(4) Sulwa Sutra
Memuat tentang
petunjuk dan peraturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci
untuk beribadat (Pura, Candi) dan bangunan-bangunan lainnya yang berhubungan
dengan arsitektur.
2. Kelompok Upaweda
Kata Upaweda
berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata “Upa” dan “weda”.
Upa berarti dekat dan weda berarti pengetahuan suci. Jadi Upaweda
berarti dekat dengan Weda. Upaweda juga diartikan Weda tambahan. Dengan
demikian Upaveda dapat diartikan sekitar hal-hal yang bersumber dari Veda.
Masing-masing
dari Catur Veda memiliki kitab Upaveda sebagai berikut :
1. Kitab Upaveda dari Rg. Veda
adalah Ayur Veda
2. Kitab Upaveda dari Samaveda
adalah Gandharvaveda
3. Kitab Upaveda dari Yajurveda
adalah Dhanurveda
4. Kitab Upaveda dari
Atharvaveda adalah Arthaveda/Arthasastra
3.Kedudukan Upaveda dalam Veda
Mengenai
kedudukan Upaveda dalam Veda, dilihat dari materi isinya sudahlah jelas sesuai
arti dan tujuannya serta apa yang menjadi bahan kajian dalam kitab Upaveda itu,
maka Upaveda pada dasarnya dinyatakan mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan Veda. Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberi keterangan yang
sangat diperlukan untuk diketahui dalam Veda itu. Jadi kedudukannya sama dengan
apa yang kita lihat dengan Vedangga.
Kalau kita pelajari secara mendalam, maka beberapa materi kejadian yang dibahas
ulang di dalam kitab Upaveda dengan penajaman-penajaman untuk bidang-bidang
tertentu.
Kitab Upaweda
memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrti lainnya. Kitab
Upaweda terdiri dari beberapa cabang ilmu, yaitu :
(1) Itihasa
Kitab Itihasa
disebut juga Wiracarita, Epos atau cerita kepahlawanan.
Kata Itihasa berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari tiga suku kata,
yaitu Iti-ha-sa yang artinya sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya.
Jadi Itihasa itu adalah sejarah yang sungguh-sungguh terjadi.
Di dalam kitab
Amaroksa karya Amarsingh kita menjumpai istilah yang memiliki arti sama dengan
Itihasa yaitu istilah “akhyayika”
yang artinya ceritera yang benar-benar terjadi.
Istilah Itihasa
pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata yaitu Bhagawan Wiyasa.
Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja
dimasa yang lampau. Itihasa merupakan karya sastra yang bersifat spiritual,
dimana isi ceritanya penuh fantasi, roman, kewiraan dan mitologi, sehingga
nampak dengan jelas sifatnya yang khas sebagai karya sastra spiritual. Itihasa
juga merupakan kitab kumpulan cerita yang mudah dibaca dan dipahami oleh orang
kebanyakan, yang sangat sulit memahami isi Weda. Didalamnya terdapat berbagai
dialog tentang social politik, tentang filsafat dan teori kepemimpinan yang
dipergunakan sebagai pedoman dan pola hukum oleh raja-raja Hindu.
Peranan dan
fungsi kitab Itihasa itu sangat penting dan tidak dapat diabaikan begitu saja
didalam mempelajari Weda, terutama mengenai sejarah agama Hindu, penyebaran
kebuda-yaan Hindu dan berbagai macam konsep politik serta idiologi.
Dalam
mempelajari kitab Itihasa kita harus dapat memilah-milah karena ajarannya ada
yang bersifat mitos, mendidik, social serta pembinaan semangat patriotisme.
Ajaran idealisme
yang ada pada kitab Itihasa adalah sifat berpegang teguh pada dharma,
sifat-sifat kepemimpinan yang lebih dikenal dengan azas-azas Brata. Kesemuanya
itu pula diketahui dan dipelajari agar dapat dipetik manfaatnya dalam kehidupan
ini.
Walaupun Itihasa
merupakan kitab sejarah agama, namun secara materiil sangat sulit untuk
dijadikan pembuktian sejarah. Sebagai kitab sejarah banyak memuat hal-hal yang
menurut fakta sejarah masih dapat dibuktikan, termasuk social politik,
pertentagan berbagai suku bangsa yang ada antara berbagai kerajaan yang
kontemporer pada masa itu.
Ketika hendak
mempelajari Veda dan perkembangannya , mempelajari sejarah agama Hindu dan
kebudayaannya, berbagai konsep politik dan idiologi yang relevan, maka kitab
Itihasa sangat penting artinya untuk dipelajari.
Kitab Itihasa
ada dua jenis, yaitu :
1). Ramayana

Ramayana ditulis
oleh Bhagawan Walmiki. Kitab ini dikenal sebagai Adikawya sedangkan Walmiki
dikenal sebagai Adikawi, yang terdiri atas 24.000 stansa.. Ramayana adalah
sebuah epos yang menceritakan riwayat atau kisah perjalanan hidup Sri Rama atau
dikenal dengan gelar Ramadewa, karena dalam kitab Purana disbut sebagai salah
satu Awatara yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu.
Ramayana
merupakan cerita yang berlatar belakang sejarah penyebaran bangsa Arya di India
yang lebih dikenal dengan sebutan Aryanisasi. Rama bersama
saudara-saudaranya adalah tokoh-tokoh bangsa Arya. Sedangkan bangsa kera
adalah suku Munda yang berhidung peset
dan kaum raksasa yang dikepalai oleh Rahwana adalah mewakili bangsa Dravida
yang berkulit hitam, penduduk asli India.
Cerita Ramayana
dalam sari patinya mengandung nilai-nilai pendidikan tentang moral dan etika
yang mengacu nilai-nilai agama atau nilai tentang kebenaran agama yang hakiki
yang artinya mengandung nilai-nilai kebenaran yang bersifat kekal dan abadi.
Di Indonesia
misalnya gubahan yang kita jumpai adalah Kekawin Ramayana yang ditulis dalam
bahasa Jawa kuna oleh Yogiswara.
Karena cerita
yang dikandung oleh kitab Ramayana itu sangat mempesona dengan penuh idealism
pendidikan moral, kewiraan serta disampaikan dalam gaya bahasa yang baik,
menyebabkan epos ini sangat digemari di seluruh dunia. Pengaruhnya yang sangat
besar dirasakan di seluruh Asia dan ceritanya dipahatkan sebagai hiasan
candi-candi atau tempat-tempat persembahyangan umat Hindu. Demikian pula
nama-nama kota yang terdapat di dalamnya banyak ditiru sebagai sumber inspirasi.
Keahlian Valmiki
dalam kemampuannya memahami perasaan manusia secara mendalam, menyebabkan kitab
Ramayana dengan mudah dapat menguasai emosi masyarakat dan sebagai apresiasi
dari kata-kata tulis baru yang mengambil tema dari Ramayana.
Sumber asli
dalam kekawin Ramayana itu adalah kitab Ravanavadha karangan Bhatti, kitab ini
sering juga disebut Bhattikavya. Kitab-kitab gubahan Ramayana sesungguhnya
sangat banyak kita jumpai di India ataupun di luar India, tetapi semua kitab
gubahan tersebut pada hakikatnya mengambil materi langsung maupun tidak
langsung dari Ramayana karya Valmiki.
Seluruh isi
Ramayana dikelompokkan kedalam tujuh Kanda, yaitu :
a. Bala Kanda
Di negeri Kosala dengan ibu kotanya Ayodhya,
memerintah raja Dasaratha. Ia mempunyai istri Kausalya yang berputra Rama
sebagai anak tertua, Kaikeyi yang berputra Bharata, dan Sumitra yang berputra
Laksamana dan Satrugena. Dalam sayembara di Wideha Rama berhasil memperoleh
Sita putrid raja Janaka sebagai istri Rama.
b. Ayodhya Kanda
Dasaratha merasa sudah tua maka ia hendak
menyerahkan mahkotanya kepada Rama. Datanglah Kaikeyi yang memperingatkan
Dasaratha bahwa ia masih berhak atas dua permintaan yang mesti dikabulkan oleh
raja. Permintaan yang pertama Kaikeyi adalah Bharatalah yang harus menduduki
tahta kerajaan bukan Rama. Permintaan kedua adalah supaya Rama dibuang ke hutan
selama 14 tahun.
Akhirnya Rama diikuti oleh istrinya dan Laksamana
meninggalkan Ayodhya. Tak lama kemudian Dasaratha meninggal. Bharata menolak
untuk menjadi raja, ia pergi ke hutan mencari Rama agar mau memerintah di
kerajaan Ayodhya. Rama menolak dan tetap pada pendiriannya untuk mengembara
selama 14 tahun. Pulanglah Bharata ke Ayodhya dengan membawa trompah Rama.
Trompah inilah yang diletakka diatas singasana sebagai symbol bahwa Bharata
memerintah atas nama Rama.
c. Aranyaka Kanda
Menceriterakan kehidupan Rama di dalam Hutan
berkali-kali membantu para pertapa yang diganggu oleh raksasa. Suatu ketika ia
berjumpa dengan raksasa perempuan yang bernama Surpanakha. Surpanakha jatuh
cinta kepada Laksamana, oleh Laksamana Raksasa ini dipotong telinga dan
hidungnya. Surpanakha mengadukan penghinaan itu kepada kakaknya sambil
menceriterakan istri Rama yang sangat cantik.
Rahwana menculik Sita dengan menggunakan Marica yang
menjelma menjadi kijang emas untuk menarik perhatian Rama dan Sita. Akhirnya
kijang dipanah, seketika itu kijang menjelma menjadi raksasa dan menjerit minta
tolong dengan berpura-pura sebagai Rama. Jeritan itu oleh Sita dikira Rama dan
menyuruh Laksamana untuk menolongnya. Sita tinggal sendirian maka ia diculik
oleh Rahwana, saat itu Jatayu melihat sehingga terjadi perang antara Jatayu
melawan Rahwana. Jatayu kalah. Setelah memberikan penjelasan itu, Jatayu mati.
d. Kiskinda Kanda
Menceriterakan
kisah perjumpaan Rama dengan Sugriwa, seorang raja kera yang kerajaan dan
istrinya direbut oleh saudaranya sendiri bernama Subali. Rama bersekutu dengan
Sugriwa untuk memperoleh kerajaan serta istrinya dan sebaliknya Sugriwa juga
membantu Rama untuk merebut kembali Sita dari Alengka. Kiskinda digempur
sehingga Subali terbunuh oleh Rama, Sugriwa akhirnya kembali menjadi raja
Kiskinda dan anaknya Subali bernama Angada dijadikan putra Mahkota. Tentara
kera kemudian berangkat ke Alengka di tepi pantai selat yang memisahkan Alengka
dengan daratan India tentara berhenti untuk mencari akal bagaimana cara
menyeberangi lautan itu.
e. Sundara Kanda
Menceriterakan bahwa Hanuman merupakan kepercayaan
Sugriwa dan anak dari dewa angin mendaki gunung Mahendra, melompat menyeberangi
laut dan tibalah di Alengka. Seluruh Alengka dijelajahi sampai ke dalam istana
Rahwana, akhirnya bertemu dengan Sita dan menjelaskan bahwa Rama akan dating
untuk menjemputnya. Hanuman ditawan tentara Alengka ia diikat erat-erat dan
kemudian dibakar, Hanuman melompat ke atas rumah dan dengan ekornya yang
menyala dikibaskan yang menimbulkan kebakaran di kota Alengka dan akhirnya
Hanuman melompat kembali menghadap Rama untuk memberikan laporan.
f. Yudha Kanda
Berkat bantuan dewa laut akhirnya tentara kera
berhasil membuat jembatan menuju Alengka. Rahwana yang mengetahui bahwa
negaranya terancam musuh kemudian menyusun pertahanan. Adiknya Wibhisana
memberikan nasihat agar mengembalikan Sita kepada Rama dan tidak usah perang.
Rahwana marah dan Wibhisana diusir. Pertempuran berlangsung sengit, namun
setelah Indrajit dan Kumbakarna gugur, Rahwana terbunuh. Akhirnya Wibhisana
diangkat menjadi raja di Alengka. Rama tidak mau kembali kepada istrinya karena
meragukan kesuciannya.
g. Uttara Kanda
Menceriterakan bahwa seluruh rakyat menyangsikan
kesucian istrinya maka Sitapun diusir dari istana, diantar kepertapaan Walmiki.
Kemudian Walmiki menggubah riwayat Sita itu menjadi Wiracarita Ramayana. Di
pertapaan, Sita melahirkan dua anak laki-laki kembar bernama Kusa dan
Lava,keduanya dibesarkan oleh Walmiki. Saat Rama mengadakan Aswameda, Kusa dan
Lava hadir di istana sebagai pembawa nyanyian-nyanyian, Ramayana gubahan
Walmiki. Rama mengetahui bahwa kedua laki-laki itu adalah putranya sendiri,
maka dipanggillah Walmiki untuk mengantar Sita kembali ke istana. Setelah
sampai di istana Sita bersumpah janganlah hendaknya raganya diterima seandainya
ia memang tidak suci. Seketika itu belahlah bumi dan Dewi Perthiwi memeluk Sita
serta membawanya ke dalam bumi. Rama sangat meyesal dan menyerahkan mahkotanya
kepada kedua kemudian Rama kembali ke kahyangan sebagai Wisnu.
2). Mahabharata

Itihasa yang
kedua adalah Mahabharata, yang sering disebut dengan istilah Wiracarita.
Istilah Mahabharata terdiri dari kata “Maha” yang berarti besar dan “Bharata”
artinya keluarga Bharata. Jadi Mahabharata berarti keluarga besar Mahabharata,
yang berasal dari keturunan Maharaja Duswanta seorang raja di Hastinapura.
Beliaulah yang menurunkan keluarga Pandawa dan Korawa.
Cerita pokoknya
sebagian besar menceritakan peperangan sengit selama 18 hari antara para Pandawa
melawan Korawa. Karena itulah nama lengkap kitab in adalah Mahabharata-yuddha,
yang berarti peperangan besar antara keluarga Bharata. Yang menggambarkan
pecahnya perang saudara antara bangsa Arya itu sendiri.
Mahabharata ini
ditulis oleh Bhagawan Byasa yang terdiri atas 100.000 stansa (sloka) yang
dibagi menjadi 18 bagian (parwa) yang dikenal dengan istilah Asta Dasa Parwa.
Kedelapan belas
Parwa tersebut adalah :
a) Adi Parwa g) Drona Parwa m) Anusasana Parwa
b) Sabha Parwa h) Karna Parwa n) Aswamedha Parwa
c) Wana Parwa i) Salya Parwa o) Asramawasika Parwa
d) Wirata Parwa j) Sauptika Parwa p) Mausala
Parwa
e) Udyoga Parwa k) Stri Parwa q) Mahaprasthanika Parwa
f) Bhisma Parwa l) Santhi
Parwa r) Swargarohana Parwa
Disamping kedelapan belas Parwa itu terdapat
pula dua buku suplemen (pelengkap) yaitu kitab Hariwamsa dan Bhagawadgita.
Kitab Hariwamsa membahas mengenai asal mula keluarga Bhatara Krisna. Kitab
Bhagwadgita berisi percakapan antara Bhatara Krisna dengan Arjuna di medan
perang Kuruksetra.
Kedua Itihasa
ini sangat terkenal di seluruh dunia, dan kedua wiracerita ini disebut juga
dengan istilah Arsakavya, yang artinya syair yang sangat indah dan menyenangkan
ditulis oleh para maharsi.
1. Adi Parwa
Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang
bernafaskan Hindu,
seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji
ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah
kelahiran Rsi Byasa,
kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya raksasa Hidimba di
tangan Bhimasena,
dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
2. Sabha
Parwa
Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di
sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana.
Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa
sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12
tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.
3. Wana
Parwa
Kitab
Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan.
Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di
gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah
Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
4. Wiratha
Parwa
Kitab
Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami
pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru
masak, Arjuna sebagai guru
tari, Nakula sebagai penjinak
kuda, Sahadewa sebagai
pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.
5. Udyoga
Parwa
Kitab
Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak
sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari sekutu
sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi
dua kelompok.
6. Bhisma
Parwa
Kitab
Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu
percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang
berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam
kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Rsi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna
yang dibantu oleh Srikandi.
7. Drona
Parwa
Kitab
Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima
perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang
karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar
kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah
gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.
8. Karna
Parwa
Kitab
Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima
perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang
lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir
kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna
gugur di tangan Arjuna dengan
senjata Pasupati pada
hari ke-17.
9. Salya
Parwa
Kitab
Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima
perang Korawa pada hari ke-18.
Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan
saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak
menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga
Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut,
Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.
10. Sauptika
Parwa
Kitab
Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa.
Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan
membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke
pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia
disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna.
Byasa dan Kresna dapat
menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan
menjadi pertapa.
11. Stri
Parwa
Kitab
Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami
mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran
jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur.
Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan
kelahiran Karna yang menjadi
rahasia pribadinya.
12. Santi
Parwa
Kitab
Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh
saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh
Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan
rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira
dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.
13. Anusasana
Parwa
Kitab
Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Rsi Bhisma untuk menerima ajarannya.
Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang
berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma
meninggalkan dunia dengan tenang.
14. Aswamedha
Parwa
Kitab
Aswamedhaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah
pertempuran Arjuna dengan para Raja di
dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena
senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.
15. Asramawasika
Parwa
Kitab
Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan,
untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada
Yudistira. Akhirnya Rsi Narada datang
membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya
sendiri.
16. Mausala
Parwa
Kitab
Mausalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna
meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati
bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau
mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.
17. Mahaprastanika
Parwa
Kitab
Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak
gunung Himalaya, sementara tahta
kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya,
Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.
18. Swargarohana
Parwa
Kitab
Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh
Dewa Indra. Dalam perjalanannya,
ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika
disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang
sebenarnya, yaitu Dewa Dharma.
(2) Purana
Kata Purana
berasal dari kata pura 8 + ana menjadi kata purana. “Pura” berarti jaman kuno dan “ana” berarti mengatakan. Jadi Purana adalah sejarah kuno. Purana
adalah kitab yang memuat ajaran suci dalam bentuk cerita (mithologi),
keterangan mengenai tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman dahulu kala (kuno),
terutama tentang Dewa-dewa, penciptaan dunia dan sebagainya. Kitab Purana
banyak pula memuat cerita tentang silsilah raja-raja, perkembangan kerajaan
Hindu dan dinasti pada masa itu.
Kata “Pura” di
dalam Purana mengandung dua pengertian yaitu yang lalu dan yang akan datang. Kata
Purana berarti tua atau kuno. Berdasarkan bentuk dan sifat isinya, purana
adalah sebuah Itihasa karena di dalamnya memuat catatn-catatan tentang berbagai
kejadian yang bersifat sejarah. Tetapi melihat kedudukannya, Purana adalah
merupakan jenis kitab Upaveda yang berdiri sendiri, sejajar pula dengan
Itihasa. Ini tampak ketika membaca keterangan yang menjelaskan bahwa mengetahui
isi Veda dengan baik, kita harus mengenal Itihasa, Purana dan Akhyana.
Maksud penulisan
kitab Purana ini adalah untuk menyiarkan pengetahuan keagamaan dan
membangkitkan rasa pemujaan yang mendalam dikalangan rakyat dengan perantaraan
mithos, cerita-cerita, dongeng-dongeng dan pencatatan sejarah kebangsaan
termasuk didalamnya tentang silsilah raja-raja, sejarah perkembangan kerajaan
Hindu dan berbagai dinasti pada masa itu. Melalui Purana ajaran Weda lebih
mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan di Indonesia
beberapa Purana dialih bahasakan kedalam bahasa Jawa kuna sehingga dengan
demikian umat Hindu di Indonesia mengenal cerita-cerita Purana dan
mempergunakannya sebagai pedoman dalam hidupnya.
Secara ilmiah,
pada dasarnya kitab Purana bertujuan untuk memberi keterangan secara metodelogi
yang amat penting dalam memberi keterangan tentang ajaran Ketuhanan itu
sendiri. Apabila kita tidak membaca seluruh Purana dan tidak membatasi diri
kita maka kita akan secara tidak sadar terbawa pada satu pandangan yang keliru.
Bukan demikian maksud adanya kitab Purana itu.
Jumlah kitab
Purana ada 18 buah, berdasarkan sifatnya kedelapan belas purana itu dibagi atas tiga kelompok, yaitu dengan
menonjolkan pemujaan kepada Dewa Tri Murti seperti :
a. Kelompok Satwika Purana
Kitab Purana ini
mengutamakan pemujaan kepada Dewa Wisnu, maka dalam kitab ini Dewa Wisnu
menempati kedudukan yang tertinggi dan diceritakan dalam berbagai wujud
reinkar-nasinya sebagai Awatara. Yang termasuk kedalam kelompok Satwika
Purana terdiri dari :
·
Wisnu Purana
·
Narada Purana
·
Bhagawata Purana
·
Garuda Purana
·
Padma Purana
·
Waraha Purana
b. Kelompok Rajasika Purana
Dalam kelompok
ini pemujaan terhadap Dewa Brahma merupakan yang utama. Dewa Brahma sebagai
salah satu manifestasi Tuhan Dalam Tri Murti. Yang termasuk dalam kelompok Rajasika
Purana terdiri dari enam buah kitab Purana, yaitu
·
Brahmanda Purana
·
Brahmawaiwarta Purana
·
Markandeya Purana
·
Bhawisya Purana
·
Wamana Purana
·
Brahma Purana
c. Kelompok Tamasika Purana
Kelompok kitab Tamasika
Purana ini isinya menguraikan tentang cerita pemujaan Dewa Siwa sebagai Dewa
yang tertinggi. Kelompok ini terdiri dari enam kitab Purana, yaitu :
·
Matsya Purana
·
Kurma Purana
·
Lingga Purana
·
Siwa Purana
·
Skanda Purana
·
Agni Purana
Berdasarkan
catatan yang ada, Agni Purana dibagi atas tiga pokok, yaitu :
1. Yang pertama, sesuai dengan
materinya disebut Sawarahasya-kanda.
2. Yang kedua merupakan
Waisnawa Purana dan sebagai pelengkap pada Waisnawa pancarata, membahas
mengenai Vedanta dan Gita.
3. Yang ketiga didalamnya
membahas aspek Saigwasma dan memuat beberapa pokok ajaran mengenai ritual
menurut tantranya.
Berdasarkan
hasil penelitian diketahui bahwa Agni Purana merupakan hasil karya Bhagawan
Wasistha. Berdasarkan kitab Agni Purana inilah kita mendapatkan keterangan
bahwa ilmu pengetahuan itu dibedakan atas dua macam, yaitu :
a. Para Widya, yaitu
pengetahuan yang menyangkut masalah Ketuhanan dan dinyatakan sebagai
pengetahuan tertinggi.
b. Apara Widya, yaitu
pengetahuan yang menyangkut masalah duniawi.
Kitab Purana
sangat penting karena memuat cerita-cerita yang menggambarkan pembuktian-pembuktian
hokum yang pernah dijalankan. Kitab ini merupakan kumpulan ajaran hukum melalui
peradilan (Jurisprudensi). Pada umumnya suatu Purana dianggap lengkap dan baik,
bila memuat lima isi pokok yang menjadi
corak khusus yang disebut Panca Laksana, yaitu
1.Sargah, yaitu cerita tentang
penciptaan alam semesta (cosmogony).
2.Pratisargah, yaitu cerita tentang
peleburan alam semesta yang disebut pralaya (kiamat) dan penciptaan dunia
kembali.
3.Wamsa, yaitu cerita tentang
asal-usul para Dewa dan Rsi.
4.Manwatara, yaitu cerita tentang masa
Manu atau jaman-jaman pemerintahan Manu.
5.Wamsanucarita, yaitu tentang sejarah
raja-raja atau dinasti raja-raja Hindu.
Disamping
kedelapan belas Purana seperti dijelaskan di atas terdapat pula kitab Purana
tambahan yang disebut Upa Purana, yang sifatnya sebagai tambahan atau
suplemen. Kelompok kitab Purana ini lebih kecil dan isinya sangat singkat dan
pendek. Secara tradisi penulisnya disebutkan Bhagawan Wyasa.
Adapun yang tergolong kitab
Upa Purana jumlahnya sebanyak 18 buah, yaitu
:
a) Sanatkumara, g) Wamana, m) Surya,
b) Narasimaka, h) Bhargawa, n
) Parasara,
c) Brihannaradiya, i) Waruna, o
) Wasistha,
d) Siwarahasya, j) Kalika, p
) Dewibhagawata,
e) Durwasa, k) Samba, q
) Ganesa
f) Kapila, l) Nandi, r
) Hamsa.
Untuk melihat
pentingnya arti Purana dalam pelaksanaan ajaran agama itulah kita tidak dapat
mengabaikan betapapun kecilnya catatan-catatan yang ada yang terdapat
diberbagai candi atau tempat peribadatan.
Purana
memberi informasi yang bermanfaat kepada
kita terutama dalam bidang pelaksanaan ajaran keagamaan atau acara. Dengan
tujuan untuk melengkapi keterangan yang diperlukan untuk memahami Veda, kitab
Purana itu sedikit banyaknya sangat bermanfaat. Dengan mempelajari kitab-kitab
Purana itu diharapkan tingkat kebaktian dan keimanan seseorang akan dapat lebih
mantap dan berkembang.
(3) Arthasastra
Renungan
Akhir-akhir ini
agama cenderung digunakan sebagai instrument strategi oleh kalangan politisi
guna meraih kemenangan politik untuk mendominasi tampuk pimpinan eksekutif dan
mendapat angin dari public. Perkembangan peranan agama dalam kancah politik,
tidak terlepas dari keadaan kehidupan social dan memanfaatkan reaksi kaum lemah
yang menderita.
Sejauhmana umat
Hindu dapat menghadapi tantangan-tantangan besar tersebut dan selanjutnya dapat
berperan dalam pembangunan bangsa, adalah tergantung pada pemaknaan dan
revitalisasi dharma dalam kehidupan. Dharma semestinya tetap diikuti untuk
mencapai tujuan hidup sebagaimana ditunjukkan oleh orang bijaksana. Kerja keras
yang dilakukan untuk menegakkan dharma akan menghasilkan kepuasaan dan
kebahagiaan tertinggi. Rahasia kebahagiaan bukanlah dalam melakukan apa yang
disukai, tapi dalam menyukai apa yang harus dilakukan.
Dalam kehidupan
politik yang berlandaskan dharma pantang untuk menggunakan cara-cara kekerasan
(ahimsa). Dharma semestinya mampu menjamin tegaknya moralitas berkembangnya
kepercayaan dan kejujuran, rasa tanggung jawab dan karakter, kesadaran social
dan patriotism, rasa tanggung jawab social, bekerja keras, taat pada hukum,
menghormati semua agama, dan rasa tak terpisahkan dengan Hyang Widhi.
Jangan sampai
sebagai bagian dari bangsa ini, umat Hindu yang agamais, dengan upacara agama
yang semarak tiap hari, tetapi pada saat yang sama juga melakukan hal tercela,
seperti korupsi sehingga menjadikan Negara ini selalu menduduki peringkat atas
Negara-negara terkorup yang dibuat oleh lembaga-lembaga penilai internasional.
Memahami Teks
Arthasastra
adalah kitab yang isinya tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik.
Arthasastra sebagai kitab yang berisikan ilmu politik dan pemerintahan, sering
juga disebut dengan nama Nitisastra, Raja Dharma atau Dandaniti. Pokok-pokok
ajaran Arthasastra ini terdapat pula dalam Ramayana dan Mahabharata.
Kitab
Arthasastra ini ditulis oleh Bhagawan Brhaspati, Maharsi Kautilya (Chanakya),
Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara, Wisnugupta, Bharadwaja dan Wisalaksa.
Jenis kitab
Arthasastra yang sudah digubah kedalam bahasa Indonesia adalah jenis kitab
Usana, Nitisastra serta Sukraniti.
Yang tergolong kitab
Arthasastra antara lain:
1. Usana 6. Agama
2. Nitisastra 7. Sarasamuscaya
3. Sukraniti 8. Dewadigama
4. Manawa Dharmasa 9. Negarakramasasana
5. Purwadigama
Relevansi isi
Arthasastra yang masih relevan dengan alam pikiran politik modern Barat,
terdapat di dalam ungkapan kitab Arthasastra itu. Karena itu untuk mendalami
ilmu politik Hindu dianjurkan agar disamping membaca Itihasa dan Purana, supaya
membaca Dharmasastra dan Arthasastra karya Chanakya itu.
Chanakya bersama
rakya berhasil menjatuhkan penguasa dengan menjebak para penguasa pada kubangan
nafsu (indria) mereka. Beliau menobatkan muridnya Chandragupta menjadi Raja
kerajaan saat itu. Seorang pemuda dari rakyat jelata, golongan sudra. Sejak itu
kerajaan dikuasai oleh rakyat dan pemimpin yang mau melayani rakyat. Kerajaan
ini kemudian berkembang pesat sehingga mampu menguasai sebagian besar India
Selatan. Kerajaan ini kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Asoka. Kerajaan ini
merupakan pusat perkembangan kebudayaan yang berbasiskan rasionalitas yang
dirintis sejak Upanisad dan Buddha sekitar tahun 600 SM. Raja Asoka generasi
dari Chandragupta, menghapuskan deskriminasi social dan mengumumkan penghapusan
segala tindak kekerasan untuk mencapai tujuan apapun dalam wilayah
kekuasaannya.
(1)
Ayur Weda
Renungan
Apabila kita
renungkan secara pikiran jernih tentunya manusia ingin hidup bahagia. Tidak
salah pilihan ini memang benar adanya. Segala cara kita tempuh untuk dapat
hidup bahagia diantaranya dengan meningkatkan status social dalam hidup
bermasyarakat, peningkatan karier dan bekerja keras untuk mendapatkan impian
itu. Dengan bekerja keras mendapatkan imbalan dari usaha yang ia jalankan maka
hidup akan terasa mudah dan nyaman.
Namun sebaliknya
dibalik ujian kesenangan duniawi ini ada pula ujian duniawi yang selalu
berjalan paralel dengan kesenangan hidup duniawi tadi. Semua ujian ini adalah
untuk meningkatkan sradha dan bakti kita kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai
dengan keyakinan yang kita anut. Apakah kita cukup sabar dalam ujian kemalangan
dan kesenangan ataukah menjauhi ujian itu dengan cara kita sendiri.
Di samping ujian
kesenangan ada pula bentuk ujian yang berhubungan dengan gangguan kesehatan
yang tak kalah pula memerlukan perhatian dan penanganan seksama. Apabila kita
masih sehat tidak menghargai betapa pentingnya kesehatan ini. Bahkan tidak
banyak bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi begitu kita sakit kita akan
menangisi keadaan ini dan menyadari bahwa kesehatan itu sangat penting dalam
hidup ini. Nah karena kesehatan adalah segala-galanya dalam hidup ini maka kita
harus mengusahakan agar kesehatan tidak lepas dari kita sampai ajal menjemput
nantinya. Dengan kata lain mencegah lebih baik daripada mengobati setelah datang
sakit. Sebelum sakitnya sebaiknya kita mencegah datangnya sakit.
Memahami Teks
Kitab Ayur Weda
adalah kelompok kitab Upaweda yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu
kedokteran. Sehingga ajaran yang menjadi hakekat kitab ini adalah menyangkut
bidang kesehatan baik jasmani maupun rohani. Jadi Ayur Weda adalah filsafat
kehidupan, baik etis maupun medis.
Istilah Ayurveda
berarti ilmu yang menyangkut bagaimana seseorang dapat mencapai panjang umur.
Ayu artinya baik dalam artian panjang umur. Isinya menyangkut berbagai pengetahuan
tentang kehidupan manusia (Bhuana Alit) yang hidup di dunia ini (Bhuana Agung),
terutama yang berkaitan dengan berbagai upaya agar manusia dapat hidup sehat
dan berumur panjang. Kitab ini juga membahas pengetahuan mengenai biologi,
anatomi, dan berbagai macam pengetahuan mengenai jenis-jenis tumbuhan yang
dapat digunakan sebagai tanaman obat.
Disamping Ayur
Weda yang ditulis oleh Maha Rsi Punarwasu, terdapat pula jenis-jenis kitab yang
tergolong kelompok Ayur Weda,
seperti :
a) Susruta Samhita
Kitab ini isinya tentang
pentingnya ajaran umum dibidang ilmu bedah. Disamping itu kitab Susruta Samhita
mencatat berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan.
Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta.
b) Yogasara
Kitab ini menguraikan
tentang pokok-pokok ajaran ilmu yoga yang berhubungan dengan system anatomi
dalam pembinaan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Kitab ini ditulis oleh
Bhagawan Nagarjuna.
c) Kamasutra
Juga disebut dengan nama
kitab Kamasastra, isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Disamping
itu kitab ini juga memuat tentang hal-hal yang berhubungan dengan asmara, seni
atau rasa indah. Kitab Kamassutra ini ditulis oleh Bhagawan Waisyayana pada ±
abad 10 Masehi. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra.
Berdasarkan
materi yang terdapat dalam kitab Ayur Weda, maka isi kitab Ayur Weda meliputi
delapan bidang ajaran umum, yaitu :
1) Salya, yaitu ajaran mengenai ilmu bedah.
2) Salkya, yaitu ajaran mengenai ilmu
penyakit.
3) Kayakitsa, yaitu ajaran mengenai ilmu
obat-obatan.
4) Bhutawidya, yaitu ajaran mengenai ilmu
psikotheraphy.
5) Kaumarabhrtya, yaitu ajaran mengenai ilmu
pendidikan anak-anak dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak.
6) Agadatantra, yaitu ajaran mengenai ilmu
toxikologi.
7) Rasayamatantra, yaitu ajaran mengenai ilmu
mujijat.
8) Wajikaranatantra, yaitu ajaran mengenai ilmu
jiwa remaja.
berbagai bidang ajaran Ayurveda pada dasarnya
terdiri atas enam bidang studi kasus yaitu :
1. Sutrasthana, yaitu bidang
ilmu pengobatan.
2. Nidanasthana, yaitu bidang
ilmu yang membicarakan berbagai macam penyakit yang paling pokok saja.
3. Wimanasthana, yaitu bidang
ilmu yang mempelajari tentang phatologi, tentang ilmu pengobatan dan kewajiban
yang harus dipenuhi dan dipatuhi oleh seorang dokter medis.
4. Indriyasthana, yaitu ilmu
yang mempelajari cara diagnose dan prognosa.
5. Saristhana, yaitu bidang
ilmu yang mempelajari tentang anatomi dan embriologi.
6. Cikisasthana , yaitu bidang
ilmu yang mempelajari secara khusus tentang ilmu terapi.
Menurut
Ayurveda, hidup itu merupakan perpaduan antara raga sarira atau sthula sarira
(badan kasar), suksma sarira (badan halus), manah (kemampuan berpikir), indriya
(kemampuan mengindera), dan atma (jiwatman). Manusia dianggap hidup adalah
manusia yang mampu melaksanakan aktivitas utama hidupnya (karma purusha), mampu
melakukan dharma, sebagai suati akumulasi atau perpaduan keseimbangan antara
unsur tri dosha (cairan humoral) yang berada di dalam tubuh, sapta dhatu
(jaringan tubuh), dan tri mala (limbah buangan, ekskreta) jaringan tubuh yaitu
rasa (plasma), rakta (darah), mamsa (otot), meda (lemak), asthi (tulang), majja
(sumsum), dan sukra (energy vital) akan dapat berfungsi optimal bila unsure tri
dosha (vata, pitta, kapha) berada dalam keadaan seimbang dan mala (berak,
kencing, keringat) dibuang secara teratur.
Berkeringat
setiap saat, buang air kecil setiap 8 jam, dan buang air besar setiap 24 jam
adalah bentuk mala yang harus dibuang secara teratur dari tubuh. Bila ini tidak
dilakukan tidak terjadi maka keseimbangan dalam tubuh akan terganggu. Akibatnya
manusia itu akan jatuh sakit.
Di dalam
pengobatan tradisional Bali, kitab Ayurveda ini dikenal dengan nama lontar
Usada atau kitab Usada. Isinya tidaklah persis sama seperti apa yang ditulis di
dalam Ayurveda. Ada berbagai kearifan local yang masuk dan terdapat di dalam
lontar Usada. Unsur tri dosha terdiri atas unsur vata (angin, udara), pitta
(api) dan kapha (air).
(5) Gandharwa Weda
Renungan
Kehidupan
manusia dari zaman pra sejarah hingga era reformasi seperti saat ini tak dapat
lepas dari eksistensi kesenian sebagai sebuah media keindahan, hiburan, hingga
media komunikasi yang cukup efektif. Munculnya berbagai displin kesenian
merupakan suatu cermin bagi perkembangan peradaban manusia, karena seni
merupakan salah satu hasil budaya manusia.
Kesenian pun
lahir dengan beragam kategori yang kesemuanya dapat dinikmati oleh tiap indera;
seni gerak, seni music, seni lukis, seni pahat, seni patung, seni peran, seni
sastra, dsb. Dan kesemuanya memiliki fungsi dan peran yang berbeda bagi kehidupan
manusia, namun juga memiliki juga memiliki sisi kesamaan. Ada pendapat dalam
dunia filsafat seni bahwa manusia adalah makhluk pemuja keindahan. Melalui
panca indra manusia menikmati keindahan dan setiap saat tak dapat berpisah
dengannya, dan berupaya untuk dapat menikmatinya. Kalau tidak dapat
memperolehnya manusia mencari kian kemari agar dapat menemukan dan memuaskan
rasa dahaga akan keindahan.
Tampaknya
kerelaan orang mengeluarkan dana yang relatif banyak untuk keindahan dan
menguras tenaga serta harta untuk menikmatinya, seperti bertamasya ke tempat
yang jauh bahkan berbahaya,hal ini semakin mengesankan betapa besar fungsi dan
arti keindahan bagi seseorang. Agaknya semakin tinggi pengetahuan, kian besar
perhatian dan minat untuk menghargai keindahan.
Memahami Teks
Kitab Gandharwa
Weda isinya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. Gandharva Veda
juga mengajarkan tentang tari, music atau seni suara. Menduduki tempat yang
penting dan ada hubungannya dengan Samaveda. Pengetahuan Gandharwa Weda
membantu para sastrawan dalam menggubah ajaran-ajaran agama dalam syair-syair
yang sangat indah dan menjadi dasar keterangan mengenai sejarah asal mula
lagu-lagu pujaan atau mantra dan kidung-kidung yadnya lainnya.
Penulis terkenal
Sadasiwa, Brahma dan Bharata. Bharata menulis buku yang dikenal dengan
Natyasastra, dan sesuai menurut namanya, Natya berarti tari-tarian, karena itu
isinya pun jelas menguraikan tentang seni tari dan music. Tari-tarian dan seni
suara tidak dapat dipisahkan dari agama. Bahkan Siwa terkenal sebagai Nataraja
yaitu Dewa atas ilmu seni tari.
Gandharwa Weda sebagai kitab
Smerti, juga memiliki beberapa bagian kitab, seperti :
·
Natyasastra.
·
Natyawedagama.
·
Dewadasasahasri.
·
Rasarnawa.
·
Rasarat Nasamuscaya dan yang lainnya.
(6) Kamasastra
Kitab Kamasastra
sebagai bagian dari jenis kitab Upa Weda berisi tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan asmara, seni atau rasa indah. Kamasastra biasanya
diter-jemahkan sebagai ilmu asmara. Sesungguhnya terjemahan itu tidak tepat,
walaupun kata kama artinya asmara. Melihat dari isinya maka pada garis
besarnya kitab ini tergolong ilmu seni. Segala yang berbau seni umumnya
bertujuan untuk membangunkan perasaan atau ilmu rasa. Isinya bukan hanya
mengupas pendidikan sex, tetapi perlunya setiap manusia mempelajari segala
aspek seni atau rasa indah.
Dalam upaya
untuk mewujudkan salah satu tujuan hidup, umat Hindu dipandang perlu untuk
membangkitkan rasa indah tersebut. Kebangkitan dari rasa indah manusia
terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa,
hendaknya dipedomani oleh Kamasastra. Karena dengan demikian asmara dan rasa
indah yang muncul itu tentu terarah/bernilai positif adanya. Kitab Kamasastra
yang paling terkenal adalah karya dari Bhagawan Watsyayana.
(7) A g a m a
Salah satu
bagian yang terpenting dari kitab Weda dan merupakan kitab suci bagi umat Hindu
adalah kitab Agama. Kitab Agama timbul dan berkembang jauh-jauh setelah agama
Hindu mencapai bentuk Agama. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Weda
dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab Agama. Kitab Agama adalah
kitab suci agama Hindu yang isinya khusus memuat ajaran tentang keyakinan
adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara
persembahyangan.
Pada mulanya isi kitab Agama
dibagi kedalam empat pokok bahasan, yaitu
:
2) Jňana
Yaitu segala aspek
pengetahuan, terutama Widhitattwa,
Atmatattwa, Samsara, Moksa dan
sebagainya.
3) Yoga
Yaitu petunjuk
dan keterangan tentang
cara melakukan yoga
atau hubungan rohani dengan
Tuhan Yang Maha Esa.
4) Kriya
Yaitu petunjuk
dan keterangan tentang ritual secara esoterisma.
5) Charya
Yaitu petunjuk
dan keterangan tentang pemujaan yang bersifat exoteris.
Oleh karena itu
maka isinya merupakan bahasan berbagai pengertian, tidak saja tentang ontology,
tetapi juga hal-hal yang menyangkut tentang kosmologi, mukti atau moksa,
bhakti, meditasi, filsafat tentang mantra atau diagram yang bersifat mistik,
berbagai macam doa yang ada kaitannya dengan pedukunan, pembuatan pura, pembuatan
rumah, pembuatan arca, peraturan social serta segala aturan mengenai tata
tertib upacara yadnya.
Menurut ajaran
agama Hindu tiap jaman mempunyai sifat-sifat tertentu. Pada garis besarnya
kitab suci Hindu dikaitkan dengan jaman
:
a) Krta Yuga
Berlaku kitab Sruti (Rg ,
Yajur, Sama dan
Atharwa Weda, Upanisad
dan Brahmana), terutama pelaksanaan ajaran Niwerti Marga.
b) Trita Yuga
Berlaku kitab Smerti (Wedangga terutama Dharmasastra)
dengan ajaran pokok mencangkup
pelaksanaan Prawerti Marga.
c) Dwapara Yuga
Berlaku kitab
Purana dan Itihasa
menjadi pegangan dan
petunjuk pelaksanaannya terutama
mencangkup aspek pelaksanaan yadnya.
d) Kali Yuga
Berlaku kitab
Tantra atau Agama yang menjadi pegangan dan petunjuk.
Walaupun
tiap-tiap jaman mempunyai kitab suci yang bersifat khusus, ini tidak berarti
bahwa kitab-kitab sebelumnya diabaikan. Kitab berikutnya merupakan penambahan
atau pengem-bangan terhadap kitab sebelumnya. Dengan demikian kitab Agama tidak
dapat dipisahkan dengan kitab-kitab Weda lainnya. Kitab Agama adalah kitab suci
agama Hindu pula.
Demikianlah
antara lain sumber ajaran agama Hindu yang tertulis, disamping juga sumber
ajaran agama Hindu yang tidak tertulis.
Sumber ajaran agama Hindu
yang tidak tertulis meliputi :
1) S i l a atau ethika yang telah diterima secara umum
oleh orang-orang bijaksana.
2) Sistacara
atau acara adalah tradisi setempat yang dijalankan sebagai bagian
dari kepercayaan
agama Hindu.
3) Atmanastusti yaitu suatu perbuatan
yang dapat memberi kebahagiaan dan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan
dharma.
Ajaran agama
mulai dari sabda Tuhan dalam kitab suci Weda dan seluruh susastra Hindu ,
seperti dalam kitab – kitab Itihasa dan Purana merupakan sumber ajaran budi
pekerti, karena pada hakikatnya ajaran agama mengubah dan meningkatkan kualitas
hidup manusia baik jasmani maupun rohani. Ajaran suci Weda memberi tuntunan
kepada umat mencakup semua aspek hidup dan kehidupan semua manusia, karena
memang Weda diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk meningkatkan kualitas
hidup dan kehidupan serta mensejahterakan umat manusia demi tercapainya
kebahagiaan lahir bathin.
TUGAS DISKUSI
TUGAS KELOMPOK
JAWABLAH SOAL-SOAL BERIKUT DENGAN SINGKAT DAN JELAS !
1. Mengapa kitab Itihasa sangat
penting artinya untuk dipelajari dalam usaha mempelajari Veda?
2. Makna apakah yang dapat anda
petik setelah membaca wiracarita Mahabharata?
3. Setelah membaca dan memahami
isi kitab Ramayana dan Mahabharata coba diskusikan dalam kelompok mengenai
persamaan nilai-nilai yang terkandung di dalam kitab tersebut yang relevan
dalam masyarakat!
4. Sebutkan beberapa jasa
Bhagawan Byasa terkait dengan keberadaan kitab suci Weda!
TUGAS KELOMPOK
Jawablah
soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Jelaskan pendapat anda
tentang politik dan tata pemerintahan dari sudut pandang agama Hindu!
2. Apakah ajaran yang termuat
dalam kitab-kitab Arthasastra masih relevan dengan perkembangan politik
pemerintahan dewasa ini dalam menjaga keutuhan NKRI? Diskusikan bersama
kelompok dan presentasikan hasil diskusinya!
TUGAS KELOMPOK
Jawablah
soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Diskusikanlah dengan orang
tua anda tentang tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat untuk pengobatan!
Laporkanlah hasilnya dalam bentuk portofolio!
2. Bagaimana kaitan kesenian
dengan kehidupan keagamaan umat Hindu? Jelaskanlah dan beri contoh!
EVALUASI HASIL BELAJAR
TUGAS 1
Jawablah
soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Kitab suci Veda bersifat
komprehensip. Jelaskan maksud dari pernyataan tersebut!
2. Coba jelaskan pengertian
dari Weda!
3. Apa yang dimaksud dengan
Sruti dan Smerti ? Jelaskan !
4. Sebutkan dan jelaskan
jenis-jenis kitab yang termasuk Weda Sruti !
5. Sebutkan nama penulis dari
masing-masing Catur Weda !
6. Sebutkan yang termasuk dalam
Kitab Smrti!
7. Sebutkan dan jelaskan
bagian-bagian dari kitab Sad Wedangga !
8. Jelaskan perbedaan antara
Sruti dan Smerti !
9. Sebutkan bagian-bagian yang
termasuk Kitab Upaweda!
10. Kitab yajur weda ada dua
macam, yaitu yajur weda putih dan yajur weda hitam. Jelaskan perbedaannya!
TUGAS
2
Jawablah
soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Kitab
Dharmasastra berkembang dengan pesatnya, sehingga kitab ini jumlahnya sangat
banyak. Jika dihubungkan dengan jaman atau yuga, kitab Dharmasastra ada empat,
sebutkan dan jelaskan!
2. Jelaskan
apa yang dimaksud dengan Itihasa?
3. Jelaskan
nilai-nilai budi pekerti yang terdapat dalam Itihasa!
4. Coba
tuliskan ceritera tentang sabha parwa!
5. Siapa
yang menulis kitab Ramayana dan Mahabharata?
TUGAS 3
Jawablah
soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Coba
cari sloka dalam kitab vayu Purana I.20 kemudian tuliskan arti sloka tersebut!
2. Tuliskan
bagian-bagian kitab Mahabharata!
3. Sebutkan
bagian-bagian Kitab Ramayana!
4. Sebutkan
tokoh Panca Pandawa dalam Kitab Mahabharata!
5. Tuliskan
secara singkat isi Kitab Bala Kanda!
TUGAS 4
Jawablah soal-soal dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Apa yang dimaksud dengan
Purana?
2. Menurut catatan yang dapat
dikumpulkan, pada mulanya kita memiliki kurang lebih 18 kitab Purana, sebutkan!
3. Berdasarkan Agni Purana kita
mendapatkan keterangan bahwa ilmu pengetahuan itu dibedakan atas dua macam.
Sebutkan dan jelaskan!
4. Pada garis besarnya, hampir
semua Purana memuat cerita-cerita yang secara tradisional dapat kita
kelompokkan kedalam lima hal. Sebutkanlah hal itu!
5. Ayur Weda meliputi delapan
bidang ajaran umum, sebutkan dan jelaskan!
6. Jelaskan isi kitab Gandharva
Veda!
7. Sebutkan kitab-kitab yang termasuk bagian dari Kitab
Gandharva Veda!
8. Jelaskan apa isi kitab Kama
sastra!
9. Dilihat dari namanya kitab
Natyasastra berarti?
10. Sebutkan sumber-sumber hukum
Hindu yang tidak tertulis!
TUGAS 5
Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang
benar!
1. Kelompok kedua dari Veda
Smrti adalah kitab Upaveda. Kata Upaveda berasal dari bahasa Sansekerta yang
terdiri dari dua kata, yaitu kata upa dan veda. Kata Veda berarti…..
2. Catur Veda terdiri dari Rg.
Veda, Samaveda, Yajurveda dan Atharvaveda, dan masing-masing dari kitab ini
memiliki kitab Upaveda. Kitab Upaveda dari Samaveda adalah….
3. Atharvaveda, merupakan
bagian terkahir dari Catur Veda. Kitab ini memiliki kitab Upaveda yang
bernama…..
4. Di dalam kitab Amarakosa
karya Amarsingh kita menjumpai istilah yang memiliki arti sama dengan Itihasa,
yaitu istilah…..
5. Kitab Itihasa terdiri dari
dua kitab yaitu : Ramayana dan Mahabharata kedua wiracerita ini disebut juga
degan istilah Arsakavya, yang artinya…..
6. Artha Sastra sebagai kitab
yang berisikan ilmu politik dan pemerintahan, sering juga disebut dengan nama….
7. Salah satu penulis kitab
“Artha Sastra” adalah Maharsi Kautilya, yang merupakan penasehat raja di
kerajaan…..
8. Ada banyak buku terkenal
mengenai ilmu kedokteran, antara lain : kitab Salya yang isinya menguraikan
tentang…..
9. Salah satu bagian dari 8
bagian Ayurveda, adalah kitab Rasayamatantra yang memuat tentang….
10. Kitab Susrutasamhita isinya
menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah, kitab ini
ditulis oleh….
LEMBAR KERJA SISWA
PETUNJUK
KERJA
A. Kitab
suci weda ada 4 (empat) yang disebut Catur Weda Samhita. Catur weda samhita
merupakan wahyu Tuhan disusun oleh Bhagawan Wyasa sesuai kelompok umur dan
jenis isinya. Bhagawan Wyasa pula yang memiliki ide untuk
menulis/mengkodifikasikan weda yang dibantu oleh empat siswanya. Tulis
pengetahuan anda yang berkaitan dengan catur weda dengan melengkapi kolom di
bawah ini!
|
No |
Jenis kitab |
Jumlah sloka |
Isinya |
Penulisnya |
|
1 |
Rg weda |
|
|
|
|
2 |
Sama weda |
|
|
|
|
3 |
Yajur weda |
|
|
|
|
4 |
Atharwa weda |
|
|
|
B. Bagan
weda
C. Kitab
Ramayana merupakan salah satu kitab suci Hindu yang tergolong kelompok Smrti.
Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Walmiki. Coba ceriterakan secara singkat
riwayat hidup Bhawagan Walmiki! Tulis ceritera tersebut pada lembar yang telah
tersedia di bawah ini!
Ceritera
singkat riwayat hidup Bhagawan Walmiki:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
D. Buatlah
sipnosis ceritera Ramayana dan Mahabharata, yang merupakan bagian dari Upaveda,
pada lembar yang telah tersedia di bawah ini!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
E. Sebutkan
tokoh-tokoh dalam Itihasa baik dalam Ramayana maupun Mahabharata, serta
karakternya masing-masing, dengan melengkapi kolom di bawah ini!
|
No |
Nama tokoh |
Tokoh dalam |
Karakter |
|
|
Ramayana |
mahabharata |
|||
|
1 |
Raja
Janaka |
|
|
|
|
2 |
Duryodana |
|
|
|
|
3 |
Karna |
|
|
|
|
4 |
Marica |
|
|
|
|
5 |
Dhasarata |
|
|
|
|
6 |
Widura
|
|
|
|
BAB
3
PADEWASAAN
(WARIGA)
Kompetensi Inti
KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya
KI
2:
Mengembangkan
perilaku (jujur,
disiplin,
tanggungjawab, peduli,
santun, ramah lingkungan, gotong royong,
kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.
KI 3:
Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI
4: Mengolah, menalar,
dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi
dasar :
1.1
Membiasakan mengucapkan salam agama Hindu
1.2
Membiasakan mengucapkan dainika upasana (doa sehari-hari).
2.1
Toleran terhadap sesama, keluarga, dan lingkungan dengan cara menyayangi
ciptaan Sang Hyang Widhi (Ahimsa).
2.2
Berperilaku jujur (Satya), menghargai dan
menghormati (Tat Tvam Asi) makhluk
ciptaan Sang Hyang Widhi
3.3
Menjelaskan hakekat Padewasan (wariga)
dalam kehidupan umat Hindu.
4.3 Mempraktekkan
cara menentukan padewasan (wariga) dalam kehidupan umat Hindu
Indikator
:
1. Menjelaskan
pengertian Dewasa, Wariga
2. Menguraikan
Hakikat Padewasaan
3. Menentukan
Padewasaan
-
Menjelaskan pengertian Wewaran
-
Menjelaskan pengertian Wuku
-
Menjelaskan pengertian tanggal dan
Panglong
-
Menjelaskan pengertian Sasih
-
Menjelaskan pengertian Dauh
4. Menguraikan
Hala Hayuning Dewasa
5. Mencari
hari-hari suci/rerainan berdasarkan pawukon (wuku) mempergunakan lima jari kiri
6. Menguraikan
urip dari masing-masing Panca Wara dan Sapta Wara
7. Rumus
Perhitungan Wariga
- Pengertian
“Ayanuu ca yaddattay,
adacitimukheuu ca, candrasuryoparage ca, viuuve ca tadakuawam” (Sarasamuscaya
183)
Artinya
:
Inilah
perincian waktu yang baik, ada yang disebut daksinayana, waktu matahari
bergerak ke arah selatan, ada yang disebut uttarayana, waktu matahari bergerak
ke arah utara (dari khatulistiwa). Ada yang dinamakan sadacitimukha yaitu pada
saat terjadinya gerhana bulan atau matahari, wisuwakala yaitu matahari tepat di
khatulistiwa, adapun pemberian dana berupa benda pada waktu yang demikian itu
sangat besar sekali pahalanya.
Renungan
Hari baik atau hari buruk adalah berkaitan dengan
waktu untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Bagi umat Hindu baik di Bali
maupun di luar Bali penentuan waktu untuk melakukan suatu aktivitas tertentu
dikenal dengan istilah padewasaan. Tetapi tidak sedikit juga tidak percaya.
Mereka berasumsi semua hari sama saja. Baik atu buruk tergantung pada
manusianya.
Mungkin ada benarnya bahwa semua tergantung manusia
(sesuai konsep hukum karma phala). Tetapi pemahaman bahwa semua hari adalah
sama, sangat keliru. Bagi yang meyakini tentang baik buruknya hari mungkin apa
yang dibahas di sini dapat menjadi penguat keyakinan tersebut, sedangkan bagi
yang belum yakin dengan yang disampaikan secara logika dapat diterima bahwa
memang ada pengaruh hari terhadap kehidupan manusia.
Dalam hal ini hari baik atau hari buruk adalah waktu
atau hari yang tepat untuk melakukan aktivitas tertentu agar aktivitas kita
semaksimal mungkin dapat berjalan dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan
yang maksimal.
Perkembangan padewasaan tidak bisa dilepaskan dari
sumbernya yakni Veda. Veda dalam pemahamannya memerlukan ilmu bantu yang
dinamakan dengan Vedangga yaitu siksa, vyakarana, chanda, nirukta, jyotisa dan
kalpa.
Jyotisa ini selanjutnya menjadi salah satu ilmu bantu
untuk memahami ajaran Veda yang suci sesuai keterangan tersebut. Jyotisa
sebagai alat bantu Veda disistematiskan dan dijelaskan oleh Maharsi Garga.
Disusun kira-kira 1200 tahun SM. Pengetahuan ini sangat berguna dalam penentuan
hari baik dalam melaksanakan upacara-upacara Veda.
Dalam kehidupan masyarakat Hindu terdapat suatu
pandangan kosmis, dimana manusia merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsur
kecil saja yang ikut terbang oleh proses peredaran alam semestra yang Maha
Besar. Pandangan kosmos mendasari manusia untuk selalu membangun hubungan yang
harmonis antara makrokosmos dangan mikrokosmos guna mewujudkan ketentraman
batin dalam kehidupan.
Planet-planet di ala mini saling mempengaruhi.
Matahari, bulan, dengan berbagai planet yang mengelilingi bumi berpengaruh
terhadap semua makhluk hidup dan benda tak hidup yang ada di bumi. Memang yang
paling dominan terasa di bumi adalah pengaruh matahari dan bulan yang secara
langsung bisa kita rasakan dengan adanya siang dan malam serta adanya
musim-musim tertentu yang berbeda di berbagai belahan bumi.
Para astrologi tahu benar tentang pengaruh berbagai
planet yang ada di alam terhadap di bumi. Jika kita pahami bagaimana proses
penciptaan bhuwana agung dan hubungannya dengan proses penciptaan bhuwana alit maka
kita tidak dapat menolak betapa kita sebagai manusia sangat dipengaruhi oleh
guna (sifat dasar) dari alam. Nama-nama hari disesuaikan dengan pengaruh
dominan planet tertentu. Planet-planet tersebut memiliki komposisi guna (sifat
dasar yang berbeda). Secara sederhana, Siang hari dominan pengaruh matahari,
sifat matahari panas. Malam hari dominan pengaruh bulan (sifat bulan lembut)
Dari segi waktu juga pagi hari berbeda pengaruh
planet matahari dengan siang hari atau sore hari. Jadi setiap waktu berbeda dan
hari yang berbeda akan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kehidupan di
bumi.
Jadi apapun pendapat kita tentang hari secara de
facto bahwa alam mempengaruhi setiap aktivitas manusia. Lantas apa peranan
manusia? Disinilah peranan keputusan setiap individu untuk menyikapi dan
mengambil keputusan terhadap apa yang disediakan oleh alam. Untuk menghindari
pengaruh panas matahari maka orang akan mengambil keputusan tidak beraktivitas
di siang hari terik. Kalau terpaksa harus beraktivitas menggunakan alat
pelindung seperti topi atau payung.
Memahami Teks
Padewasaan berasal dari kata “dewasa” mendapat awalan pa- dan akhiran –an (pa-dewasa-an). Dewasa artinya hari pilihan, hari baik. Padewasaan berarti ilmu tentang hari baik.
Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang
berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan
yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau
perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.
Dewasa ialah perhitungan baik buruknya hari untuk
melaksanakan suatu pekerjaan, baik yang berhubungan dengan panca yadnya maupun
untuk memulai pekerjaan yang dianggap penting dalam kehidupan.
Dewasa
ayu
berarti hari yang dianggap baik menurut ilmu wariga (padewasaan) sedangkan
sebaliknya Dewasa hala ialah hari
yang dianggap tidak baik menurut ilmu wariga.
Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang
paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai
kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu
agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomiatau
“Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut
sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak
diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam
memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha
agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu
yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.
Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua
kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan
urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan
ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga
adalah jalan untuk mendapatkan
ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup
matinya hari.
Wariga adalah saat, waktu atau hari yang baik atau
buruk yang diakibatkan oleh peredaran kekuatan jagat raya ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa. Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan
menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu
wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini
harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adanya
inilah agama.
Berdasarkan keterangan lontar Wariga Gemet kata warga berarti wa
(terang), ri (puncak) dang a artinya
(wadag). Secara harfiah menurut teks Wariga
Gemet kata wariga berarti wadag untuk mencapai puncak yang terang.
Jadi berdasarkan beberapa uraian dapat dijelaskan
wariga dalam pengertian bahasa Bali adalah ajaran mengenai system
kalender/tarikh tradisional Bali, terutama dalam menentukan diwasa/dewasa
(baik-buruknya hari) terkait kepentingan masyarakat. Jadi padewasaan dapat
ditentukan dengan menggunakan wariga.
Tujuan praktis
kitab ini adalah dijadikan pegangan oleh para pendeta dalam
memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha
agar supaya berhasil, dengan mengingat hari atau waktu dalam system sradha
Hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.
- Hakikat
Padewasaan
Renungan
Setiap waktu dan hari memiliki karakter berbeda
sesuai pengaruh dominan benda-benda alam (planet) terhadap bumi. Pengaruh ini
akan mempengaruhi juga karakter alam baik binatang, tumbuhan dan manusia.
Dengan mempelajari berbagai pengaruh tersebut kita diberikan kesempatan untuk
memilih waktu dan hari yang tepat untuk aktivitas yang sesuai, atau menghindari
untuk tidak melakukan aktivitas tertentu pada waktu dan hari tertentu.
Masalahnya bagaimana kita menentukan hari dan waktu yang tepat? Bagaimana kita
tahu ahli tersebut membuat perhitungan dengan benar?
“Berbuat baik janganlah menunggu hari baik tetapi
pada hari baik berbuatlah yang baik”.
Memahami Teks
Ilmu padewasaan dan wariga adalah merupakan bagian
dari ilmu astronomi di dalam agama Hindu termasuk bidang Vedangga. Fungsi
Vedangga bertujuan untuk melengkapi
Veda, maka jelas kalau penggunaan wariga dan dewasa bertujuan untuk melengkapi
tata laksana agama. Jadi secara hakiki fungsi dari wariga adalah pelengkap
dalam ilmu agama yang bertujuan untuk memberikan ukuran atau pedoman dalam
mencari dewasa.
Dewasa sebagai suatu kebutuhan dalam pelaksanaan
aktivitas hidup umat Hindu bertujuan memberikan rambu-rambu kemungkinan-kemungkinan
pengaruh baik-buruk hari terhadap berbagai usaha manusia. Baik buruk hari
mempunyai akibat terhadap nilai hasil dan guna suatu perbuatan. Misalnya ;
- Melihat
cocok atau tidak cocoknya perjodohan oleh karena pembawaan dari pengaruh
kelahiran yang membawa sifat tertentu kepada seseorang.
- Melihat
cocok atau tidaknya mulai membangun, membuat pondasi, mengatapi rumah,
pindah rumah dan sebagainya.
- Melihat
baik atau tidaknya untuk melakukan upacara ngaben, atau atiwa-atiwa.
- Melihat
baik atau tidaknya untuk melakukan segala macam upacara kesucian yang
ditujukan kepada Dewa-Dewa.
- Melihat
baik tidaknya untuk melakukan kegiatan termasuk bidang pertanian dan
lain-lainnya.
Adanya gambaran tentang baik atau tidak baiknya
suatu hari untuk melakukan suatu kegiatan orang diharapkan lebih bersifat
hati-hati dan tidak boleh gegabah. Ini diharapkan tidak mempengaruhi keimanan
terhadap Tuhan melainkan menjadi dasar pelaksanaan sraddha dan bhakti (iman dan
taqwa), sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai dengan baik. Secara hakikat maksud dan tujuan wariga dan
dewasa adalah :
1. Memberi
ukuran atau pedoman yang perlu dilakukan oleh orang yang akan melaksanakan
suatu pekerjaan berdasarkan ajaran agama Hindu dengan harapan bisa berhasil
dengan baik.
2. Untuk
memberi penjelasan tentang berbagai kemungkinan akibat yang timbul akibat
pemilihan hari yang dipilih sehingga memberikan alternatif lain yang akan
dipilih.
3. Sebagai
suplemen dalam mempelajari Veda dan agama Hindu sehingga dalam menjalankan
ajarannya bisa dilaksanakan secara tepat sesuai pengaruh waktu dan
planet-planet yang berpengaruh pada waktu-waktu tertentu.
Pelaksanaan
Padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu :
a. Padewasaan
sadina artinya sehari-hari
b. Padewasaan
masa artinya berkala.
- Menentukan
Padewasan
Renungan
Ada orang yang mengalami kegagalan beralasan ini
adalah hari buruk. Sementara ketika melihat orang lain sukses, sebagian orang
bilang itu hari baiknya. Banyak orang beranggapan hari baik itu berarti hari
keberuntungan. Apapun yang kita lakukan akan berhasil. Kalau hari buruk
dianggap sebagai hari sial. Apapun yang dikerjakan akan gagal. Malah terkadang
dapat musibah. Bagaimana menurut anda, adakah hari baik atau hari buruk tiu? Di
daerah tertentu untuk menentukan hari penting seperti pernikahan harus ada
hitung-hitungan hari baiknya. Tidak bisa sembarangan, harus konsultasi dulu ke
“orang pintar”. Katanya kalau asal-asalan menentukan tanggal bisa mendapat sial
atau musibah.
Setiap hari sebenarnya sama saja. Waktunya sama-sama
24 jam. Kebiasaan dan cara pandang kitalah yang membuat hari-hari yang dilalui
itu terasa berbeda. Biasanya senin sampai jumat atau sabtu digunakan untuk
bekerja. Akhir pecan adalah waktu untuk bersantai bersama keluarga. Namun
kebiasaan tiap orang berbeda sesuai dengan jalan hidupnya masing-masing.
Memahami Teks
Ada lima pokok yang harus dipahami dalam menentukan
padewasaan yaitu wewaran, wuku, penanggal
panglong, sasih dan dauh.
1.
Wewaran
Wewaran
adalah bentuk jamak dari kata wara
yang berarti hari.. secara arti kaya
Wewaran berasal dari bahasa sansekerta dari akar kata wara dan mendapat
akhiran-an (we + war + an) sehingga menjadi wewaran, yang berarti istimewa,
terpilih, terbaik, tercantik, mashur, utama, hari.
Jadi wewaran
adalah hari yang baik atau hari yang
utama untuk melakukan suatu hal atau suatu pekerjaan. Dalam menentukan
padewasan, pengetahuan tentang wewaran menjadi dasar yang sangat penting.
Yang dimaksud dengan WEWARAN adalah
Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai URIP/
NEPTU, TEMPAT, dan DEWATA yang dominan Wewaran adalah bentuk jamak dari kata
WARA yang berarti Hari yang berjumlah
satu sampai dengan sepuluh.
|
No |
Wewaran |
Urip |
Tempat/kedudukan |
Dewata |
|
I |
EKA WARA |
|
|
|
|
1 |
Lwang |
1 |
Barat Laut-Wayabya |
Sanghyang Taya |
|
|
|
|
|
|
|
II |
DWI WARA |
|
|
|
|
1 |
Menga |
5 |
Timur - Purwa |
Sanghyang Kalima |
|
2 |
Pepet |
4 |
Utara- Uttara |
Sanghyang Timir |
|
|
|
|
|
|
|
III |
TRI WARA |
|
|
|
|
1 |
Pasha /Dora |
9 |
Selatan -Daksina |
Sanghyang Cika |
|
2 |
Beteng/Waya |
4 |
Utara- Uttara |
Sanghyang Wacika |
|
3 |
Kajeng /Biantara |
7 |
Barat - Pascima |
Sanghyang Manacika |
|
|
|
|
|
|
|
IV |
CATUR WARA |
|
|
|
|
1 |
Sri |
6 |
Timur Laut_ Airsanya |
Bhagawan Bregu |
|
2 |
Laba |
3 |
Barat Daya- Nariti |
Bhagawan Kanwa |
|
3 |
Jaya |
1 |
Barat Laut - Wayabaya |
Bhagawan Janaka |
|
4 |
Mandala |
8 |
Tenggara-Gneyan |
Bhagawam Narada |
|
|
|
|
|
|
|
V |
PANCA WARA |
|
|
|
|
1 |
Umanis |
5 |
Timur –Purwa |
Reshi Kursika-Dewa Iswara-Bhagawan
Tatulak |
|
2 |
Paing |
9 |
Selatan-Daksina |
Rshi Garga-Dewa Brhama-Bhagawan
Mercukunda |
|
3 |
Pon |
7 |
Barat –Pascima |
Rshi Maitrya-Dewa Mahadewa-Bhagawan
Wrhaspati |
|
4 |
Wage |
4 |
Utara –Uttara |
Rshi Kurusya-Dewa Wisnu-Bhagawan
Wisnu-Bhagawan Penyarikan |
|
5 |
Kliwon |
8 |
Tengah -Madya |
Rshi Pretanjala-Dewa Siwa-Sanghyang
Widi Wasa |
|
|
|
|
|
|
|
VI |
SAD WARA |
|
|
|
|
1 |
Tungleh |
7 |
Barat-Pascima |
Sanghyang Indra |
|
2 |
Aryang |
6 |
Timur Laut-Airsanya |
Sanghyang Bharuna |
|
3 |
Urukung |
5 |
Timur-Purwa |
Sanghyang Kwera |
|
4 |
Poniron |
8 |
Tenggara-Gneyan |
Sanghyang Gneyam |
|
5 |
Was |
9 |
Selatan-Daksina |
Sanghyang Bajra |
|
6 |
Maulu |
3 |
Barat daya-Nairiti |
Sanghyang Erawan |
|
|
|
|
|
|
|
VII |
SAPTA WARA |
|
|
|
|
1 |
Minggu-Redite |
5 |
Timur –Purwa |
Sanghyang Bhaskara |
|
2 |
Senin –Soma |
4 |
Utara-Uttara |
Sanghyang Candra |
|
3 |
Selasa – Anggara |
3 |
Barat daya-Nairiti |
Sanghyang Angkara |
|
4 |
Rabu-Buddha |
7 |
Barat-Pascima |
Sanghyang Udaka |
|
5 |
Kamis-Wrespati |
8 |
Tenggara-Gneyam |
Sanghyang Sukra Guru |
|
6 |
Jumat-Sukra- |
6 |
Timur laut-Airsanya |
Sanghyang Bregu |
|
7 |
Sabtu
-Saniscara |
9 |
Selatan-Daksina |
Sanghyang Wasu |
|
|
|
|
|
|
|
VIII |
ASTA WARA |
|
|
|
|
1 |
Sri |
6 |
Timur laut |
Dewi Sri |
|
2 |
Indra |
5 |
Timur |
Sanghyang Indra |
|
3 |
Guru |
8 |
Tenggara |
Sanghyang Guru |
|
4 |
Yama |
9 |
Selatan |
Sanghyang Yama |
|
5 |
Ludra /Rudra |
3 |
Barat daya |
Sanghyang Rudra |
|
6 |
Brahma |
7 |
Barat |
Sanghyang Brahma |
|
7 |
Kala |
1 |
Barat laut |
Sanghyang Kala |
|
8 |
Uma |
4 |
Utara |
Dewi Uma |
|
|
|
|
|
|
|
IX |
SANGA WARA |
|
|
|
|
1 |
Dangu |
5 |
Timur |
Sanghyang Iswara |
|
2 |
Jangur |
8 |
Tenggara |
Sanghyang Maheswara |
|
3 |
Gigis |
9 |
Selatan |
Sanghyang Brahma |
|
4 |
Nohan |
3 |
Barat daya |
Sanghyang Rudra |
|
5 |
Ogan |
7 |
Barat |
Sanghyang Mahadewa |
|
6 |
Erangan |
1 |
Barat laut |
Sanghyang Sangkara |
|
7 |
Urungan |
4 |
Utara |
Sanghyang Wisnu |
|
8 |
Tulus |
6 |
Timur laut |
Sanghyang Sambhu |
|
9 |
Dadi |
8 |
Tengah |
Sanghyang Shiwa |
|
|
|
|
|
|
|
X |
DASA WARA |
|
|
|
|
1 |
Pandita |
5 |
Timur |
Sanghyang Surya |
|
2 |
Pati |
7 |
Barat |
Sanghyang Kala Mertyu |
|
3 |
Suka |
10 |
Tengah |
Sanghyang Semara |
|
4 |
Duka |
4 |
Utara |
Sanghyang Durga |
|
5 |
Sri |
6 |
Timur laut |
Sanghyang Amerta |
|
6 |
Manuh |
2 |
Tengah |
Sanghyang Kala Rupa |
|
7 |
Manusa |
3 |
Barat daya |
Sanghyang Suksma |
|
8 |
Raja |
8 |
Tenggara |
Sanghyang Kala Ngis |
|
9 |
Dewa |
9 |
Tenggara |
Sanghyang Dharma |
|
10 |
Raksasa |
1 |
Barat laut |
Sanghyang Maha Kala |
Selain dewasa yang ditentukan berdasarkan wewarn
untuk melakukan suatu kegiatan atau upacara tertentu, ada beberapa hari suci
yang didasarkan atas perhitungan wewaran, sebagai hari suci untuk umat Hindu
melakukan upacara agama yang dilakukan secara berkala.
Adapun hari suci umat Hindu yang berdasarkan
perhitungan wewaran sebagai berikut :
Pertemuan
Tri Wara dan Panca Wara
c. Hari
kliwon datangnya setiap lima hari sekali, sebagai hari suci pemujaan ke hadapan
Sang Hyang Siva. Pada hari kliwon Bhatara Siva beryoga di pusat bumi,
menciptakan air suci guna meruwat kotoran yang ada di bumi. Sehingga pada saat
ini umat Hindu mengadakan penyucian diri dari berbagai kotoran.
d. Kajeng
kliwon, diyakini sebagai hari yang sacral karena merupakan pertemuan hari
terakhir dari Tri Wara dan Panca Wara. Kajeng kliwon adalah symbol pikiran
bersih dan suci, pelebur kepapaan, petaka, noda, bencana ataupun segala kotoran
duniawi melalui dhyana semadhi. Pada hari ini Sang Hyang Mahadewa melakukan
yoga semadi, sehingga pada saat ini umat Hindu melakukan persembahyangan memuja
kebesaran Dewi Durga dengan menghaturkan segehan.
Hari
suci yang didasarkan atas pertemuan Sapta Wara dan Panca Wara
a) Anggara
kliwon disebut pula anggara kasih, sebagai hari beryoganya Sang Hyang Rudra
untuk melebur penderitaan, kejahatan, kotoran dunia. Hari ini merupakan hari
yang baik untuk meruwat dan memusnahkan bencana yang dapat menimpa.
b) Buddha
wage, hari ini disebut pula budha cemeng sebagai hari pemujaan kehadapan Sang
Hyang Bhatari Sri atau Dewi Padi dan Bhatari Manik Galih atau Dewi Beras,
sebagai manifestasi Tuhan yang memberikan kesuburan dan kemakmuran.
Wewaran merupakan inti dari padewasaan karena itu
wewaran merupakan salah satu unsure yang membangun system wariga di Bali. Jika
berdiri sendiri wewaran mempunyai pengaruh paling kecil dalam penentuan dewasa,
sebab wewaran termasuk hari pasaran dalam tahun wuku yang diterapkan di Bali.
Tetapi jika dalam satu system wewaran juga memegang peranan penting dalam
penentuan padewasaan dalam suatu kegiatan sebab dari integrasi wewaran dengan
unsure lain yang membangun system wariga akan melahirkan padewasaan yang baik
untuk suatu kegiatan dan tidak baik untuk kegiatan yang lain (ala ayuning
dewasa).
Berikut ini adalah sifat-sifat wewaran sebagai
berikut :
- eka
wara
luang berarti
tunggal (kosong)
- dwi
wara
-
manga berarti terbuka (terang)
-
pepet berarti tertutup (gelap)
- tri
wara
-
pasah berarti tersisih, baik untuk dewa
yadnya
-
beteng berarti makmur, baik untuk manusa
yadnya
-
kajeng berarti tekanan tajam, baik untuk
bhuta yadnya
- catur
wara
-
sri berarti kemakmuran
-
laba berarti berhasil (pemberian)
-
jaya berarti kemenangan (unggul)
-
mandala berarti sekitar (daerah), mencapai
kemakmuran
- panca
wara
-
umanis berarti rasa
-
paing berarti cipta
-
pon berarti idep
-
wage berarti angen
-
kliwon berarti budhi
- sad
wara
-
tungleh berarti tak kekal
-
aryang berarti kurus
-
urukung berarti punah
-
paniron berarti gemuk
-
was berarti kuat
-
maulu berarti membiak
- sapta
wara
-
redite berarti soca menanam semua yang
beruas
-
soma berarti bungkah godhong menanam
sayur mayor
-
anggara
-
budha berarti kembang menanam semua
jenis bunga
-
wraspati berarti wija menanam yang
menghasilkan biji
-
sukra berarti who menanam buah-buahan
-
saniscara berarti pager menanam pagar
atau turus
- asta
wara
-
sri berarti makmur (pengatur)
-
indra berarti indah (penggerak)
-
guru berarti tuntunan (penuntun)
-
yama berarti adil (peradilan)
-
ludra berarti peleburan
-
brahma berarti pencipta
-
kala berarti nilai
-
uma berarti pemelihara (peneliti)
- sanga
wara
-
dangu artinya antara terang dan gelap
-
jangur artinya antara jadi dan batal
-
gigis artinya sederhana
-
nohan artinya gembira
-
ogan artinya bingung
-
erangan artinya dendam
-
urungan berarti batal
-
tulus berarti langsung
-
dadi artinya jadi
- dasa
wara
-
pandita artinya bijaksana
-
pati artinya tegas/dinamis
-
suka artinya gembira/periang
-
duka artinya mudah tersinggung, tetapi
jiwanya seni
-
sri artinya kewanitaan, halus
-
manuh artinya selalu taat, menurut
-
manusa artinya mempunyai rasa social
-
raja artinya mempunyai jiwa kepemimpinan
-
dewa artinya mempunyai budi luhur
(kerohanian)
-
raksasa artinya berjiwa keras, tidak
melalui pertimbangan
- Wuku
Wuku dalam penentuan padewasan menduduki peranan
yang penting, sebab wewarannya baik, apabila wukunya tidak baik, dianggap
dewasa tersebut kurang baik. System tahun wuku, menggunakan system sendiri,
tidak tergantung pada tahun surya atau tahun candra. Satu tahun wuku panjangnya
420 hari, yang terdiri atas 30 wuku. Setiap wuku ( 1 wuku) lamanya 7 hari,
terhitung dari redite, soma, anggara, budha, wraspati, sukra dan saniscara.
Sebulan dalam tahun wuku lamanya 35 hari, didapat dari mengalikan 7 hari dengan
5 wuku. Satu peredaran wuku (30 wuku) lamanya 6 bulan dalam satu tahun wuku. 1
tahun wuku terdiri atas 2 kali peredaran wuku, yakni 7 hari x 30 wuku x 2 = 420
hari.
Wuku adalah seperti arti kata itu sendiri yaitu BUKU
atau kerat yang berumur 7 hari dari hari minggu sampai dengan sabtu yaitu satu
siklus sapta wara. Wuku juga mempunyai urip, nomor kedudukan serta dewata.
Adapun nama-nama wukunya dan hari suci berdasarkan pawukon sebagai
berikut;
1. Sinta
a. Soma
pon sinta disebut some ribek, pemujaan dan persembahan ditujukan ke hadapan
Dewi Sri (Sang Hyang Sri amerta) manifestasi Tuhan sebagai DEva Kesuburan atau
Devi Kemakmuran.
b. Anggara
wage sinta disebut sabuh mas, pemujaan ditujukan ke hadapan Dewa Mahadewa.
c. Buddha
kliwon sinta disebut hari suci pagerwesi, merupakan hari suci beryoganya Sang
Hyang Uiwa sebagai Sang Hyang Pramesti Guru disertai oleh para Dewata
menciptakan dan mengembangkan kelestarian kehidupan di dunia.
2. Landep
Saniscara
kliwon landep disebut tumpek landep merupakan hari suci pemujaan kehadapan
Bhatara Siva dan Sang Hyang Pasupati.
3. Ukir
Redite
umanis ukir merupakan hari suci untuk pemujaan kehadapan Bhatara Guru pada Hari
ini umat diharapkan memohon anugerah keselamatan dan kesejahteraan ke hadapan
Bhatara Guru yang pemujaannya dilakukan di Sanggar Kamulan.
4. Kulantir/Kurantil
Anggara
kliwon kulantir disebut anggara kasih kulantir, merupakan hari suci pemujaan ke
hadapan Tuhan dalam menifestasi sebagai Bhatara Mahadewa
5. Taulu
6. Gumbreg
7. Wariga
Sabtu
kliwon wariga dinamakan tumpek penguduh, tumpek pengatag, pengarah, bubuh,
merupakan hari suci pemujaan kehadapan Sang Hyang Sangkara, manifestasi dari
Tuhan sebagai Dewa penguasa kesuburan semua tumbuh-tumbuhan serta pepohonan.
8. Warigadian
Soma
paing warigadian, merupakan hari suci pemujaan ditujukan kehadapan Bhatara
Brahma manifestasi Tuhan sebagai Dewa Apia tau Dewa Penerangan.
9. Julungwangi
10. Sungsang
1) Wrhaspati
wage sungsang disebut dengan parerebuan atau sugihan jawa. Pada hari ini
diyakini para Dewa dan Roh Leluhur turun ke dunia membesarkan hati umat manusia
sambil menikmati persembahan hingga hari suci galungan tiba. Pada hari ini
dilakukan pula upacara pembersihan atau pesucian Bhuana Agung.
2) Sukra
kliwon disebut sugihan Bali memohon pembersihan lahir dan batin ke hadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa dengan cara mengheningkan pikiran, memohon air suci
peruwatan atau pembersihan.
11. Dunggulan
1) Redite
(minggu ) pahing Dungulan disebut Penyekeban. Pada hari ini diharapkan umat
mengekang batin (mengendalikan diri) agar selalu dalam keadaan hening dan suci
sehingga tak dapat dikuasai oleh Sang Kala Tiga.
2) Soma
(senin) Pon Dungulan disebut penyajan, umat diharapkan secara
bersungguh-sungguh, benar-benar sujud dan berbakti kepada Tuhan, agar terhindar
dari kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga yang pada saat itu berwujud Bhuta
Dungulan.
3) Anggara
(selasa) wage dungulan disebut penampahan, diyakini pada hari ini Sang Hyang
Kala Tiga turun ke dunia dalam wujud Bhuta Amengkurat, sehingga umat diharapkan
melakukan pengendalian diri serta mempersembahkan upacara Bhuta yajna.
4) Buddha
(rabu) kliwon dungulan dinamakan galungan yang bermakna bangkitnya kesadaran,
titik pemusatan batin yang terang benderang, melenyapkan segala bentuk
kegalauan batin. Sekaligus peringatan atas terciptanya alam semesta beserta
isinya serta kemenangan Dharma melawan Adharma. Persembahan ditujukan ke
hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi-Nya. Pada hari
setiap rumah memasang penjor yang merupakan titah Bhatara Mahadewa yang
berkedudukan di Gunung Agung sebagai lambang kemakmuran. Setelah upacara
dilaksanakan pagi hari, lengkap dengan sarana persembahan lainnya, sesajen tetap
dibiarkan berada di tempat pemujaan selama satu malam. Esok paginya, semua umat
patut menyucikan diri lahir dan batin pada saat matahari terbit,
mempersembahkan wewangian dan mohon air suci, serta menyuguhkan segehan di
halaman rumah. Setelah selesai barulah sesajen-sesajen yang dipersembahkan
kemarin itu dapat diambil dan kemudian di ayab oleh sanak keluarga.
12. Kuningan
a. Redite
wage kuningan disebut dengan pemaridan guru atau Ulihan.pada saat ini
persembahan atas kembalinya paradewara ke kahyangan atau surge serta
meninggalkan anugerah kehidupan (amerta) serta umur panjang kepada setiap
makhluk.
b. Soma
kliwon kuningan disebut pemacekan agung, mempersembahkan segehan agung kepada
semua bhutakala.
c. Buddha
paing kuningan merupakan beryoganya Bhatara Visnu dan memberikan anugerah
berupa kesenangan, keagungan, keluwesan, daya tarik, memenuhi harapan, dan rasa
simpatik kepada umat manusia.
d. Sukra
wage kuningan disebut penampahan kuningan umat diharapkan mengendalikan batin
dan pikiran agar tetap jernih dan suci.
e. Saniscara
kliwon kuningan disebut hari raya kuningan diperingati sebagai hari suci
turunnya para dewa dan roh leluhur ke dunia untuk menyucikan diri sambil
menikmati persembahan umat. Persembahan sebaiknya dilakukan di pagi hari
sebelum jam 12.00 (tajeng surya) sebab setelah itu para dewa, pitara, roh suci
leluhur diyakini telah kembali ke kahyangan.
13. Langkir
Buddha
kliwon Pahang disebut pegatwakan, persembahan ditujukan kehadapan Sang Hyang
Tunggal
14. Medangsia
15. Pujut
16. Pahang
17. Krulut
18. Merakih
Buddha
wage merakih disebut juga Buddha cemeng merakih, yaitu hari suci pemujaan yang
ditujukan kehadapan Bhatara Rambut Sedhana, disebut juga Sang Hyang Rambut
Kandala atau Sang Hyang Kamajaya penguasa artha, mas, perak, dan permata
19. Tambir
20. Medangkungan
21. Matal
22. Uye
Saniscara
kliwon uye disebut tumpek kandang. Pemujaan
dan persembahan di tujukan ke hadapan Sang Hyang Rare Anggon sebagai
dewanya ternak/binatang.
23. Menail
24. Prangbakat
25. Bala
26. Ugu
27. Wayang
Saniscara
kliwon wayang disebut tumpek wayang, merupakan hari pemujaan ke hadapan Bhatara
Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penguasa alat-alat kesenian.
28. Klawu
29. Dukut
dan
30. Watugunung
.
Saniscara
umanis watugunung disebut hari saraswati merupakan hari pemujaan ke hadapan
Devi Saraswati manifestasi Tuhan sebagai Penguasa Ilmu Pengetahuan.
- Tanggal
dan Panglong
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut
dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari.
Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati)
sampai dengan purnama (bulan sempurna) disebut Suklapaksa. Penanggal ke 14 atau sehari sebelum purnama disebut Purwani artinya bulan mulai akan sempurna Nampak dari bumi. dan panglong
dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh). Panggal ke 15 disebut
purnama artinya bulan sempurna Nampak dari bumi. Pada hari purnama merupakan
hari beryoganya Sang Hyang Candra (Wulan).
Panglong disebut pula Krsnapaksa yaitu perhitungan hari dimulai sesudah purnama yang
lamanya juga 15 hari dari panglong 1 sampai dengan panglong 15. Panglong ke 14
sehari sebelum tilem disebut purwaning tilem artinya bulan mulai tidak akan
Nampak dari bumi. Sedangkan panglong 15 disebut tilem artinya bulan sama sekali
tidak Nampak dari bumi. Pada tilem beryoganya Sang Hyang Surya.
Penanggal Panglong memegang peranan yang sangat
penting dalam Padewasaan, karena Penanggal dan Panglong itulah yang membentuk
atau menentukan dewasa.
Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal panglong dibagi dalam empat
kelompok, yaitu:
1.
Padewasasan menurut catur laba (empat
akibat: baik – buruk – berhasil – gagal)
2. Padewasaan
berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal
ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda)
3. Padewasaan
berdasarkan panglong untuk pawiwahan (misalnya hindari panglong ping limolas
karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita)
4. Padewasaan
berdasarkan wewaran, penanggal, dan panglong (misalnya: Amerta dewa, yaitu
Sukra penanggal ping roras, baik untuk semua upacara)
- Sasih
Sasih
secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan.
Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama
setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun
surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. Padewasaan menurut sasih
dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun,
pawiwahan, yadnya, dll. Di bali ke-12 bulan atau masa-masa tersebut
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : lahru masa artinya musim panas dan
rengreng masa artinya musim hujan.
Adapun pembagian
sasih tersebut adalah;
1.
Kedasa
= Mesa = Maret – April.
2.
Jiyestha
= Wresaba = April – Mei.
3.
Sadha =
Mintuna = Mei – Juni.
4.
Kasa
= Rekata = Juni– Juli.
5.
Karo
= Singa = Juli –Agustus.
6.
Ketiga
= Kania = Agustus – September.
7.
Kapat =
Tula = September – Oktober.
8.
Kelima
= Mercika = Oktober – November.
9.
Kenem =
Danuh = November – Desember.
10.
Kepitu
= Mekara = Desember – Januari.
11.
Kewulu = Kumba = Januari – Februari.
12.
Kesanga = MIna = Februari – Maret.
Agama Hindu mempergunakan panduan sasih antara sasih
Candra dengan sasih Surya sehingga ada perhitungan “Pengrapetang sasih”. Hal ini dilakukan karena disadari betul bahwa
bulan dan matahari mempunyai pengaruh besar terhadap bumi dan isinya. Selain
penentuan padewasan, hari scui agama Hindu, yang berdasarkan sasih adalah :
1) Pada
hari purnama beryoganya Sang Hyang Candra (wulan), pada hari tilem beryoga Sang
Hyang Surya. Jadi pada hari Purnama-Tilem adalah hari penyucian Sang Hyang Rwa
Bhineda, yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang candra. Pada waktu Candra Graha
(gerhana bulan) pujalah beliau dengan Candrastawa
(somastawa). Pada waktu surya Graham (gerhana matahari) pujalah beliau
suryacakra bhuanasthawa.
2) Sasih
Kapat
Purnama Kapat merupakan beryoganya
Bhatara Parameswara, beliau Sang Hyang Purusangkara di iringi oleh Para Dewa,
Widyadara-widyadari dan para Rsigna. Selanjutnya pada tilem dapat dilakukan
penyucian batin, persembahan kepada widyadara-widyadari.
3) Sasih
Kepitu
Purwaning
Tilem Kepitu disebut hari Sivaratri, yaitu beryoganya Bhatara Siva dalam rangka
melebur kotoran alam semesta termasuk dosa manusia. Pada hari ini umat Hindu
melakukan Bratha Sivaratri, yaitu Mona, Upawasa, dan Jagra.
4) Sasih
Kesanga
Tilem
Kesanga adalah hari pesucian para dewata, dilakukan Bhuta yajna, yaitu tawur agung
kesanga sebagai tutup tahun saka.
5) Sasih
Kedasa
Penanggal
1 (bulan terang pertama) sasih Kedasa disebut hari suci Nyepi, yaitu tahun baru
saka. Pada saat ini turunlah Sang Hyang Darma. Purnama Kedasa beryoganya Sang
Surya Amertha pada Sad Khayangan Wisesa.
6) Sasih
Sada
Pada
Purnama sadha, patutlah umat Hindu memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan.
- Dauh/dedauhan
Padewasan merupakan dauh merupakan ketetapan dalam
menentukan waktu yang baik dalam sehari guna penyelenggara suatu
upacara-upacara tertentu. Pentingnya dari dewasa dauh akan sangat diperlukan
apabila upacara-upacara yang akan dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa
ayu). Dauh jika dibandingkan mirip dengan pembagian waktu menurut jam, namun
bedanya hanya penempatan panjangnya waktu.
Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga
dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan
maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIT).
Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh,
antara lain;
1.
Redite = Siang; 7.00 – 7.54 dan
10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00
2.
Coma = Siang; 7.54 – 10.18, malam;
24.42 – 3.06
3.
Anggara = Siang; 10.00 – 11.30 dan
13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00
4.
Buda = Siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30
– 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06
5.
Wraspati = Siang; 5.30 – 7.54 dan
12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30
6.
Sukra = Siang; 8.30 – 10.18 dan
16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30
7.
Saniscara = Siang; 11.30 – 12.42,
malam; 22.18 – 23.30
Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan
dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Dawuh
Sukaranti
Berdasarkan
jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan
dengan penanggal/ panglong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh.
2. Panca
Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh)
Pembagian
waktu (hari) dalam sehari menjadi 10 bagian, dengan hitungan 5 dauh untuk
menghitung panjangnya siang (setelah matahari terbit hingga menjelang terbenam)
dan 5 dauh lagi untuk menghitung panjangnya malam/wengi (dari matahari
tenggelam hingga terbit.
3. Astha
Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh)
Yang
memiliki konsep yang sama dengan Panca dauh, bedanya hanya pembagian waktunya
menjadi 16, dengan perincian 8 dauh untuk menghitung panjang waktu mulai
matahari terbit, hingga menjelang terbenam dan 8 dauh lagi untuk menghitung
panjangnya malam hari dari terbenamnya matahari hingga menjelang terbit.
4. Dawuh
Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan
penanggal dan pangelong)
5. Dawuh
Inti (waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca dawuh dengan Astha dawuh)
Penentuan
hari baik/buruk atau pedewasaan berdasarkan perhitungan Hindu
- Redite simbolis dari matahari
- Soma simbolis dari bulan
- Anggara simbolis dari mars
- Buddha simbolis dari mercurius
- Wrhaspati simbolis dari
yupiter
- Sukra simbolis dari venus
- Saniscara simbolis dari
saturnus
Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian
pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan
yang menyangkut masalah “wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh” dimana
kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .
Dalam
penerapannya wariga ini juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada,
yang didalilkan sebagai berikut:
1.
Wewaran dikalahkan oleh wuku
2.
Wuku dikalahkan oleh tanggal
panglong
3.
Tanggal panglong dikalahkan oleh
sasih
4.
Sasih dikalahkan oleh dauh
5.
Dauh dikalahkan oleh de Ning WETUniya
Sanghyang Tri dasa Sakti (keheningan hati).
Unsur yang
memiliki pengaruh paling kecil terhadap padewasaan adalah wewaran. Unsur yang memiliki pengaruh lebih kuat dari
wewaran dalam padewasaan adalah wuku. Unsur yang memiliki pengaruh lebih kuat
dari wuku dalam padewasaan adalah tanggal panglong. Unsur yang memiliki
pengaruh lebih kuat dari tanggal panglong dalam padewasaan adalah sasih. Unsur
yang memiliki pengaruh lebih kuat dari sasih adalah dawuh dan unsure yang
memberikan pengaruh lebih kuat dari dawuh dalam padewasaan adalah wetu yaitu
wetu sang Hyang Tri Dasa Saksi ; tiga belas kekuatan atau manifestasi dan dari
Tuhan yang Maha Esa.
Bila dinilai system
wariga tersebut yang memegang peranan
1. Kesucian
lahir bhatin yaitu ketiga belas kekuatan Tuhan
2. Dawuh
3. Sasih
4. Tanggal
panglong
5. Wuku
6. wewaran
Keseluruhan unsur tersebut merupakan suatu system
dimana unsur-unsurnya satu dengan yang lainnya saling terkait erat dan
berhubungan secara teratur. Inilah dalam beberapa lontar bali yang disebut
dengan istilah WEPETANGSADA. Misalnya untuk menentukan padewasaan dalam wariga
tidak bisa ditentukan oleh satu unsure saja walaupun pengaruh masing-masing
unsure tersebut berbeda, melainkan keseluruhan unsur yang membangun system
wariga diintegrasikan untuk mendapatkan padewasaan tertentu dalam suatu
kegiatan
Secara umum ada beberapa dasar yang digunakan dalam
Ilmu Wariga. Dasar-dasar tersebut adalah :
a. Wara
(hari), yang terdiri dari Eka Wara sampai Dasa Wara
b. Wuku
yang terdiri dari 30 wuku. Setiap wuku umurnya 7 hari
c. Tithi
yaitu perjalanan bulan dari Tilem ke Tilem. Tithi terdiri dari 29/30 hari, dibagi dalam dua bagian yaitu Penanggal (dari
Tilem menuju Purnama) dan Panglong (dari Purnama menuju Tilem).
d. Sasih
(Masa) yang umumnya menggunakan perjalanan bulan mengelilingi bumi yakni dari
Tilem ke Tilem (29/30hari).
- Hala
Hayuning Dewasa
Hala hayuning dewasa adalah baik buruknya hari
berdasarkan perhitungan Hindu. Tentang baik dan buruknya hari dapat dipelajari
dalam wariga. Dalam kitab Sarasamuscaya
183 disebutkan :
Anyesu
ca vaddatam, sadasitimukhesu ca, candrasurvoparage ca, wisuwe ca tadaksawan.
Artinya :
Inilah
perincian waktu yang baik, yaitu ada yang disebut daksinayana, waktu matahari
bergerak kea rah selatan, ada yang disebut uttarayana, waktu matahari bergerak
kea rah utara (dari khatulistiwa). Ada yang dinamakan sadasitimukha yaitu pada
saat terjadinya gerhana bulan atau matahari, wiswakala yaitu matahari tepat
dikhatulistiwa, adapun pemberian dana serupa benda pada waktu yang demikian itu
sangat besar sekali pahalanya.
Perincian tentang waktu-waktu yang baik menurut
peredaran tata surya ada disebutkan
1. Daksinayana
Melakukan yadnya pada waktu peredaran matahari mulai
bergerak kea rah selatan garis khatulistiwa (yang terjadi sekitar bulan
September-februari).
Sekitar sasih kelima sampai dengan kesanga merupakan
waktu yang baik untuk melaksanakan bhuta yadnya yang bersifat menetralisir
kekuatan alam, meningkatkan kewasapadaan karena saat-saat ini merupakan
bulan-bulan yang cuacanya tidak begitu bersahabat dan berpengaruh buruk
terhadap kesehatan dan makhluk yang lainnya.
2. Uttarayana
Matahari mulai bergerak ke utara dari garis
khatulistiwa (sekitar bulan maret-agustus).
Merupakan
waktu-waktu yang baik untuk melaksanakan upacara dewa yadnya. Dalam ceritera
bhisma parwa diceriterakan bahwa walaupun bhagawan Bhisma telah roboh dimedan
perang oleh panahnya Srikandi, namun belum mau menghembuskan nafasnya sebelum
matahari berada di sebelah utara khatulistiwa (uttarayana).
3. Sadasitimukha
yaitu pada saat gerhana bulan
4. Wiswakala
yaitu pada saat gerhana matahari
Yang dimaksud dengan WETU adalah kodrat
atau kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan
segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang
berdasarkan MANAH (pikiran) hening suci nirmala.
Pelaksanaan padewasaan dapat
dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:
1. Padewasaan sadina artinya sehari-hari
Padewasaan
sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku), Tri wara (Pasah untuk
memisahkan, Beteng untuk mempertemukan, Kajeng untuk wasiat), Sapta wara
(Soma/senin, Budha/rabu dan Sukra/jumat, yang lainya termasuk kurang baik),
Sanga wara ( yang terbaik adalah Tulus dan Dadi), Dauh Inti, berlaku pada
waktu/jam tertentu saja, dari jam sekian sampai dengan sekian saja.
2.
Padewasaan masa artinya berkala.
- Mencari
hari-hari suci/rerainan berdasarkan pawukon (wuku) mempergunakan lima jari
kiri
·
Perhitungan wuku di mulai dari sinta
pada angka 1 (ibu jari) dan wuku yang lainnya dihitung berturut-turut ke angka
2, 3, 4,5 kembali ke angka 1 dan seterusnya searah jarum jam
·
hari suci/rerainan yang dimaksud adalah
pada angka :
1
: buda kliwon
2
: tumpek
3
: buda cemeng
4
: anggara kasih
5
:kosong(pengembang
- Pancawara,
Saptawara, dan Uripnya masing-masing:
Pancawara:
1.
Umanis = 5
2.
Paing
= 9
3.
Pon =
7
4.
Wage
= 4
5.
Kliwon = 8
Saptawara:
1.
Redite
= 5
2.
Soma =
4
3.
Anggara = 3
4.
Buda =
7
5.
Wraspati = 8
6.
Sukra
= 6
7.
Saniscara = 9
Urip Wuku; Sita (7), landep (1), ukir (4), kilantir
(6), taulu (5), gumbreg (8), wariga (9), warigadean (3), julungwangi (7),
sungsang (1), dunggulan (4), kuningan (6), langkir (5), medangsia (8), pujut
(9), Pahang (3), krulut (7), merakih (1), tambir (4), medangkungan (6), matal
(5), uye (8), menial (9), prangbakat (3), bala (7), ugu (1), wayang (4), klawu
(6), dukut (5) dan watugunung (8).
Bilamana salah satu Pancawara bertemu dengan salah
satu Saptawara berturut-turut selama tiga hari uripnya berjumlah 13 maka
dinamakan samut sadulur; bila pertemuan itu berturut-turut tiga hari uripnya
berjumlah 14 maka disebut kala gotongan.
Semut sadulur
diibaratkan sebagai semut yang berjalan beriringan tanpa putus. Demikian pula
arti kala gotongan dapat diandaikan sebagai kala yang sibuk mondar mandir
mengurus sesuatu. Semut sadulur adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat
mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga
belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite
Kliwon.
Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu,
Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat,
Bala, Dukut, dan Watugunung
Dengan demikian maka pada saat-saat itu dipandang
tidak baik untuk melaksanakan upacara tertentu. Seperti yang diuraikan
terdahulu, maka letak bintang-bintang di langit sangat besar pengaruhnya pada
aktivitas manusia di bumi. Dalam hal ini telah ditetapkan oleh para Maha Rsi di
Bali bahwa pada saat semut sadulur dan kala gotongan tidak baik untuk
melaksanakan upacara mendem sawa maupun atiwa-tiwa.
Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan
urip Pancawara 14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang,
Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu,
Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta,
Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu.
Contoh:
Kala Gotongan: Sukra Kliwon = 6 + 8 = 14, Saniscara Umanis = 9 + 5 = 14, dan
Redite Paing = 5+9=14.
Di samping itu ada juga dewasa YANG TIDAK BAIK untuk
atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/ Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan,
Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang BUKAN Semut
Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di Gni saja
masih dibolehkan
Kesimpulan:
Semut sadulur dan kala
gotongan selalu jatuh pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Semut sadulur dan kala gotongan selalu
berturut-turut 3 (tiga) hari.
- RUMUS
PERHITUNGAN WARIGA
Ingkel (pantangan) mulai dari Redite/Minggu dan
berakhir pada Saniscara/Sabtu (7 hari) dan bilangan wuku dibagi 6, sisa;
·
Wong / yang berhubungan dengan Manusia.
·
Sato / yang berhubungan dengan Hewan.
·
Mina / yang berhubungan dengan Ikan.
·
Manuk /
yang berhubungan dengan Burung/Unggas.
·
Taru / yang berhubungan dengan Tumbuhan
Berkayu.
·
Buku / yang berhubungan dengan Tumbuhan
Berbuku.
Perhitungan Wewaran
·
Eka Wara ;
Urip Pancawara +
Urip Saptawara = Ganjil = Luang (tunggal/padat) -> urip 1
·
Dwi Wara ;
Urip Pancawara + Urip Saptawara =
Ganjil = menga (terbuka) -> urip 5 ;
Genap
= pepet (tertutup) -> urip 4
·
Tri Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan
Saptawara yang dicari) : 3 = sisa
=> Pasah (ditujukan kepada Dewa) -> urip 9
=> Beteng (ditujukan kepada Dewa) -> urip 4
=> Kajeng
(ditujukan kepada Bhuta) -> urip 7
·
Catur Wara ; (Bilangan WUKU x 7 +
bilangan Saptawara yang dicari) : 4 = sisa
=>
Sri (makmur) -> urip 6
=> Laba (pemberian/imbalan) -> urip 5
=>
Jaya (unggul) -> urip 1
=> Menala (sekitar daerah) -> urip 8
Dari Redite Sinta sampai dengan Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan + 1,
sebelum dibagi. ini disebabkan adanya Jaya Tiga pada Wuku Dunggulan berturut –
turut dari redite, selanjutnya rumus berlaku seperti biasa.
- Panca
Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang
dicari) : 5 = sisa
=> Umanis (penggerak) -> urip 5
=> Paing (pencipta) -> urip 9
=> Pon (penguasa) -> urip 7
=> Wage (pemelihara) -> urip 4
=> Kliwon
(pemusnah/pelebur) -> urip
8
·
Sad Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan
Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
=> Tungleh (tak kekal) -> urip 7
=> Ariang (kurus) -> urip 6
=> Urukung (punah) -> urip 5
=> Paniron (gemuk) -> urip 8
=> Was (kuat) -> urip 9
=> Maulu (membiak) -> urip 3
·
Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 +
bilangan Saptawara yang
dicari) : 6 = sisa
=> Mina (ikan)
=> Taru (kayu)
=> Sato (hewan)
=> Patra (tumbuhan
merambat/menjalar)
=> Wong (manusia)
=> Paksi (burung/unggas)
·
Astha Wara ; (Bilangan WUKU x 7 +
bilangan Saptawara yang dicari) : 8 = sisa
=> Sri (makmur) -> urip
6
=> Indra (indah) -> urip 5
=> Guru (tuntunan) -> urip 8
=> Yama (adil)
-> urip 9
=> Ludra (peleburan)
-> urip 3
=> Brahma (pencipta) -> urip 7
=> Kala (nilai)
-> urip 1
=> Uma (pemelihara) -> urip 4
Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma
Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.
- Sanga Wara ; (Bilangan WUKU x
7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 9 = sisa
=> Dangu (antara terang dan gelap)
-> urip 5
=> Jangur (antara
jadi dan batal) -> urip 8
=> Gigis (sederhana) -> urip 9
=> Nohan (gembira) -> urip
3
=> Ogan (bingung) ->
urip 7
=> Erangan (dendam) -> urip 1
=> Urungan (batal) -> urip 4
=> Tulus (langsung) -> urip 6
=> Dadi (jadi) ->
urip 8
Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum
dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.
- Dasa Wara ; (urip Pancawara +
Urip Saptawara yang dicari + 1) : 10 = sisa
=> Pandita (bijaksana)
-> urip
5
=> Pati (dinamis) ->
urip 7
=> Suka (periang) -> urip
10
=> Duka (jiwa seni /
mudah tersinggung) -> urip 4
=> Sri (kewanitaan) -> urip
6
=> Manuh (taat /
menurut) ->
urip 2
=> Manusa (sosial)
->
urip 3
=> Eraja (kepemimpinan)
-> urip 8
=> Dewa (berbudi
luhur) ->
urip 9
=> Raksasa (asura keras)
-> urip 1
Dasawara berarti watak agung (karakter)
Watek Madia ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 5 = sisa
=> Gajah (besar) – hewan
=> Watu (kebal) – keras
=> Bhuta (tak
nampak) – jerat
=> Suku (berkaki) – meja
=> Wong (orang) – pembantu
Watek Alit ; (urip Pancawara + Urip
Saptawara yang dicari) : 4 = sisa
=> Uler (beranak banyak)
=> Gajah (besar)
=> Lembu (kuat)
=> Lintah
(kurus)
Tanpa Guru ; dalam satu WUKU tidak terdapat GURU
(Astha Wara), yang artinya tidak baik untuk memulai suatu usaha terutama mulai
belajar.
Was Penganten ; dalam satu WUKU terdapat dua WAS
(Sad Wara), baik untuk membuat benda tajam (seperti keris,tombak dll),
tembok, pagar dan membuat pertemuan.
Semut Sadulur ;
Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 13 dan berturut – turut tiga kali, pantangan
untuk atiwa – tiwa(menguburkan
mayat / ngaben).
tetapi sangat baik untuk membentuk organisasi.
Kala Gotongan ;
Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 14 dan berturut – turut tiga kali, pantangan
untuk atiwa – tiwa (menguburkan mayat / ngaben). tetapi sangat baik untuk
memulai suatu usaha.
Mitra satruning Dina (segala usaha/acara penting)
(Urip
Saptawara + Pancawara Kelahiran)
+ (Urip Saptawara + Pancawara memulai Usaha/acara) = sisa
=>
Guru (tertuntun)
=> Ratu (dikuasai)
=> Lara
(terhalang)
=> Pati (batal)
Demikian
RUMUS untuk mencari hari baik berdasarkan WARIGA dan DEWASA AYU
SALAH
PATI DAN NGULAH PATI
Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan
Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 yang telah memutuskan bagi
orang mati salah pati dan ngulah pati diupacarai seperti orang mati normal dan
ditambah dengan penebusan serta diupacarai di setra atau tunon.
Pengertian
Salah Pati dan Ngulah Pati.
Salah Pati : Mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki
Ngulah
Pati :Mati karena sesat, yang
mengambil jalan pintas, serta sengaja g sangat bertentangan dengan ajaran-
ajaran agama Hindu.
Jenis
mati Salah Pati dan Ngulah Pati.
·
Salah Pati:
Mati jatuh (kerubah baya).
Mati ketekuk (kastha bahaya).
Mati dimangsa macan, dimangsa buaya, ditanduk sapi, disambar petir, tertimpa
tebing dan lain- lainnya (keserenggara).
·
Ngulah Pati:
Mati meracun diri.
Mati menggantung diri.
Mati menembak diri.
Mati menceburkan diri dan lain- lainnya.
Pelaksanaan
upacara/ upakara.
Setiap orang yang meninggal harus diupacarai sesuai
dengan ajaran sastra agama Hindu
Khusus bagi yang ngulah pati, upacara/ upakara ditambah dengan banten
pengulapan di tempat kejadian, perempatan/ pertigaan jalan dan cangkem setra:
Banten pengulapan dipersatukan dengan sawanya baik mependem maupun atiwa- tiwa
LATIHAN SOAL-SOAL
TUGAS
1
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan
baik dan benar!
- Apa
yang dimaksud dengan padewasaan? Jelaskanlah!
- Apa
yang dimaksud dengan hari baik dan hari buruk! Jelaskanlah!
- Jelaskanlah
pendapat kosmis umat Hindu terhadap alam semesta!
- Jelaskan
tujuan praktis dari wariga!
- Apa
yang dimaksud dengan dewasa dan wariga?
- Apa
yang dimaksud dengan Dewasa Ayu dan Dewasa Hala?
- Dalam
penerapan wariga, tidaklah bersifat mutlka, melainkan juga disesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang ada, dimana ada beberapa hal/dalil yang perlu
dipertimbangkan. Sebutkan hal-hal tersebut!
- Secara
umum ada beberapa dasar yang digunakan dalam ilmu wariga. Sebutkan
dasar-dasar tersebut!
- Sebutkan
umur masing-masing sasih!
- Pelaksanaan
Padewasaan secara garis besar dikelompokkan menjadi 2, sebutkan!
TUGAS 2
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan
baik dan benar!
1. Sebutkan
dewa-dewa yang menguasai sapta wara!
2. Sebutkan
nama-nama wuku!
3. Jelaskan
mengapa wuku memiliki peranan penting dalam system padewasan!
4. Apa
yang dimaksud dengan daksinayana dan uttarayana?
5. Sebutkan
nama-nama wewaran dalam dasa wara!
TUGAS 3
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan
baik dan benar!
1. Apa
yang merupakan unsur paling kecil dalam Padewasaan?
2. Apa
yang anda ketahui tentang Tri Dasa Sakti?
3. Sebutkan
unsur-unsur yang memegang peranan penting dalam Wariga!
4. Apa
arti sri dalam Catur Wara?
5. Apa
yang dimaksud dengan Wetu?
TUGAS
4
Isilah
titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar!
1.
Pasha, beteng, kajeng termasuk bagian-bagian
dari Tri Wara. Kajeng terletak di arah….
2. Umanis,
pahing, pon, wage, kliwon merupakan bagian-bagian dari Panca wara. Wage
terletak di arah,….
3. Di
samping perhitungan hari berdasarkan wara, dalam wariga dikenal pula
perhitungan atas dasar wuku (buku) di mana satu wuku memiliki umur…..
4. Setiap
wuku juga mempunyai urip/neptu, tempat dan Dewa yang doimnan, juga semua unsur
itu menetapakn sifat-sifat padewasaan. 1 tahun kalender pawukon terdiri dari….
5. Wuku
Rangda Tiga merupakan hari-hari yang kurang baik terutama untuk…..
6. Satu
hari setelah (H + 1) hari Purnama (bulan penuh) disebut dengan istilah….
7. Penangga;
Panglong merupakan perhitungan peredaran bulan sebagai satelit yang mempunyai
pengaruh besar terhadap alam beserta isinya. Nama lain dari panglong adalah….
8. Di
Bali ke-12 bulan atau masa-masa tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu
: lahru masa dan rengreng masa. Rengreng masa artinya…..
LEMBAR KERJA SISWA
PETUNJUK
KERJA
A. Salah
satu cara untuk mencari hari suci berdasarkan wuku adalah dengan menggunakan
lima jari. Setiap wuku yang jatuh pada telunjuk ditetapkan sebagai hari tumpek.
Deskripsikan semua jenis tumpek yang ada !
Lembar
deskripsi :
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Isilah
kolom-kolom di bawah ini!
|
No |
Wewaran |
Pante
urip |
Letak
wewaran |
|
1 |
Panca
wara Umanis Paing Pon Wage Kliwon
|
|
|
|
2 |
Sapta wara Redite Soma Anggara Buda Wrespati Sukra Saniscara
|
|
|
B. Carilah
isi ceritera bhisma parwa, kemudian deskripsikan pada lembar yang sudah
disediakan!
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun, Buku
Pelajaran Agama Hindu Kelas, Departemen
Agama RI Ditjen Bimas Hindu, Paramita Surabaya, 2007.
Tim
Penyusun, Widya Dharma Agama Hindu SMA,
Ganeca Exact, 2010.
Arthayasa,
I Nyoman, dkk. 1998. Petunjuk Teknis
Perkawinan Hindu. Surabaya : Paramita.
Mas,
Raka. 2002. Tuntunan Tata Susila untuk
Meraih Hidup Bahagia. Surabaya : Paramita.
Pudja,
Gde dan Sudharta. 2003. Manawa Dharmasastra.
Jakarta : Pustaka Mitra Jaya
Surpha,
I Wayan. 1986. Pengantar Hukum Hindu.
Surabaya : Paramita
Suratmini,
Ni Wayan, S.Ag.M.Pd.H, dkk. Lks Dharmika Denpasar : Tri Agung, 2012.
Wiana, I Ketut. 1997.Cara belajar Agama Hindu Yang Baik. Denpasar : Yayasan Dharma
Naradha.
Wiarsa,
I Ketut, S.Ag, dkk. Bahan Ajar Genitri 3.
Denpasar : Tri Agung, 2010.
Tim
Penyusun, Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Buku
Siswa. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.
Jendra,
I Wayan, Bhakta Agung. Denpasar. 2005
Komentar
Posting Komentar