Tradisi Ruwahan di Bebiqik Desa Selelos Kabupaten Lombok Utara
TRADISI
RUWAHAN DI DESA BEBIQIK DESA SELELOS KECAMATAN GANGGA KABUPATEN LOMBOK UTARA
Ditulis
oleh
Ni
Komang Purnawati, S.Pd.H
PENDAHULUAN
Selelos merupakan salah
satu nama desa yang ada di Kabupaten Lombok Utara, yang terletak di Desa Bentek
Kecamatan Gangga. Nama Selelos baru terkenal semenjak pemekaran Kabupaten
Lombok Utara, sebelum pemekaran kabupaten ini masih bersatu dengan Kabupaten
Lombok Barat. Berbagai kepentingan politik, pemerintah merencanakan pemekaran
dari Kabupaten Lombok Barat dengan membagi Kabupaten Lombok Barat menjadi 2
(dua) yaitu Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara. Sebelum
pemekaran nama Selelos belum terkenal karena lokasi sangat jauh dari kabupaten
kota dan untuk menjangkau tempat ini sangat sulit, karena sarana transportasi
masih sangat jarang, jalan rusak berat serta sarana air dan listrik belum
tersedia. Jarak yang ditempuh menuju lokasi Selelos dari Kota Mataram ± 70 Km.
Setelah pemekaran
menjadi Kabupaten Lombok Utara dibagi menjadi lima kecamatan yaitu Kecamatan Pemenang,
Kecamatan Tanjung, Kecamatan kahyangan, Kecamatan Bayan dan Kecamatan Gangga.
Kecamatan Gangga terdiri dari dua belas
desa. Yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Selelos Kecamatan Gangga
Kabupeten Lombok Utara. Terpilihnya desa ini karena adat istiadat masyarakat di
unik dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Keunikan itu dapat terlihat dari
tradisi ruwahan. Itulah yang menjadi
kunci penelitian ini.
Desa Selelos semakin di
kenal masyarakat NTB. Sarana transportasi untuk menuju tempat ini sudah
mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Selain itu kondisi alam geografis
sangat mendukung kegiatan perkebunan masyarakat sebagian besar bermata
pencarian petani. Desa ini terkenal dengan hasil perkebunan kopi, vanili,
coklat, pisang maupun cengkeh dan tidak kalah pentingnya dengan hasil
buah-buahan yang sangat terkenal yaitu Duren.
Masyarakat Selelos sangat heterogen terdiri
dari berbagai suku, agama, dan budaya, yang terdiri atas 2 (dua) dusun yaitu
Dusun Batu Ringgit dan Dusun Selelos. Dusun Batu Ringgit terdiri atas beberapa
wilayah yaitu Desa Perasung, Lias dan Sebak. Sedangkan Dusun Selelos terdiri
atas Desa Omanyambu, Sebintang, Bingkangan dan Sesia. Penduduk yang beragama
Hindu dibagi menjadi 2 (dua) banjar yaitu Banjar Batu Ringgit dan Banjar Sesia.
Untuk penduduk yang beragam Muslim sebagian besar menempati wilayah Selelos,
Bingkangan dan Perasung. Masyarakat asli Desa Selelos adalah umat Muslim yang
menganut waktu Telu, kemudian disusul
oleh umat Hindu pada tahun 1971 yang merupakan penduduk pendatang yang berasal
dari Bali dan membuka lahan pertanian di wilayah Selelos yaitu Desa Omanyambu,
Desa Baturinggit, Desa Sebintang, dan Desa Sesia.
Heterogenitas
masyarakat Selelos terlihat dari adanya perbedaan agama, asal muasal, budaya
maupun suku agama. Walaupun masyarakat Selelos mayoritas Muslim tetapi itu
tidak menjadikan perbedaan, justru dijadikan sebagai alat pemersatu. Ini
terlihat dari adanya tradisi ruwahan yang
selalu melibatkan masyarakat Hindu agar turut serta mensukseskan tradisi tersebut.
Untuk masyarakat yang beragama Hindu juga berasal dari daerah Bali yang
berbeda, ada yang berasal dari Karangasem, Jembrana, Negara, Singaraja maupun
daerah Bali yang lain. Namun, mereka memiliki prinsip dan motto hidup yang sama
yaitu merantau di Desa Selelos harus mampu memberikan kontribusi dalam membangun dan memajukan Desa Selelos dengan
menciptakan kerukunan dan keharmonisan di antara umat beragama.
Desa selelos masih
kental dengan budaya Bali dan adat Suku Sasak waktu telu, yang secara turun temurun tetap dilaksanakan. Salah
satu tradisi asli masyarakat Selelos adalah tradisi ruwahan yang sampai saat ini
masih dilaksanakan. Tradisi ini
merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke
generasi sebagai warisan nenek moyang masyarakat Selelos dan dilakukan secara
bersama-sama oleh umat Hindu suku Bali dan Umat Islam Suku Sasak waktu telu. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ucapan syukur atas
rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyatakan rasa solidaritas, dan
rasa persaudaraan antar sesama agama khususnya suku Bali dan suku Sasak waktu telu di Selelos, Lombok Utara.
Tradisi ini
dilaksanakan setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan Agustus. Tradisi ruwahan ini dilakukan oleh masyarakat
Hindu Suku Bali dan masyarakat Muslim Suku sasak secara bersama-sama di tengah
hutan yang di keramatkan. Daerah kawasan
hutan sudah menjadi hutan adat daerah setempat. Dalam artikel ini akan dibahas
mengenai salah satu tradisi yang masih utuh dan kental dengan kearifan lokalnya
yaitu tradisi ruwahan. Tradisi ini
sudah dilaksanakan secara turun temurun dari tahun ke tahun dari generasi ke
generasi selanjutnya yang sampai saat ini menginjak generasi ke tujuh.
PEMBAHASAN
Tradiri Ruwahan merupakan salah satu tradisi
local yang harus dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat setempat
sebagai tradisi lokal yang mencerminkan jati diri dan identitas masyarakat
Selelos sehingga eksistensi tradisi ruwahan
tetap dilaksanakan dari tahun ke tahun tanpa adanya suatu gesekan-gesekan tertentu
ditengah-tengah kehidupan masyarakat Selelos yang heterogen.
Hal ini menjadi penting
untuk dikaji karena tradisi ruwahan
merupakan salah satu budaya lokal dan kekayaan masyarakat Selelos yang perlu
untuk dikaji, diberdayakan, dibudayakan, dipertahankan dan dilestarikan agar
mampu di wariskan kembali kepada generasi penerus selanjutnya sebagai bekal
untuk selalu mengingat budaya nenek moyang yang begitu memiliki nilai yang
tinggi sebagai alat pemersatu umat Muslim dan umat Hindu yang ada di Desa Selelos.
Ruwahan berasal
dari kata “ruah” yang berarti meruah, melimpah (Tim Penyusun, 2001: 964). Ruwahan berasal dari bahasa sasak yang berarti
syukuran atau selamatan. Ruwahan ini
dilaksanakan oleh umat Islam yang menganut waktu telu dan umat Hindu suku Bali. Menurut umat Hindu suku Bali yang
ada diSelelos tradisi Ruwahan ini
merupakan konsep dari implementasi pelaksanaan ajaran Tri Hita Karana.
Adapun rangkaian pelaksanaan dari
tradisi Ruwahan yaitu :
- Pra Upacara
Dilakukan
rowah alit (rasa syukur datangnya musim
panas), selanjutnya diadakan acara nguningayang
(semedi) yaitu upacara pemberitahuan kepada roh leluhur/nenek moyang bahwa akan
dilaksanakan memarek yang dilakukan oleh pemangku muslim. Setelah acara
tersebut keesokan harinya dilaksanakan neratas
(pembersihan jalan) yang dilakukan oleh masyarakat adat setempat.
Selanjutnya
diadakan acara memule yaitu memulai
kegiatan dengan membuat lelangeh
(kelapa parut), diberugak sucian diadakan acara tahlil (zikir) yang dipandu oleh kiyai atau penghulu. Malam harinya
ibu-ibu suku sasak membuat ajen-ajen (jajan)
secara alami seperti berkayu, puteng,
lelangeh, penazar dan lain
sebagainya sebagai sarana perlengkapan upacara.
- Acara Pokok
Sebelum
berangkat ke tempat acara yaitu Bebiqik terlebih dahulu pemangku sasak melakukan
sujud di dalam rumahnya, kemudia keluar menuju berugak sucian untuk melakukan
pembakaran dupa dan diikuti dengan zikir/doa.
Selanjutnya
pemangku keluar dan diikuti oleh beberapa masyarakat yang ikut dalam acara
tersebut dengan komposisi sebagai berikut pemangku, disusul oleh perumaq, penyangka, pengusung.
Sebelum
sampai dilokasi acara, melewati beberapa lokasi yang disebut tenten ampang payuh (awal hutan), tenten tangul lempanas, dan tenten musliana (dekat Bebiqik). Ditempat
ini pemangku dan pengikutnya melakukan sujud atau sembahyang.
Setelah
sampai dilokasi acara pemangku sasak melakukan wuduq lalu mengucapkan salam dan
sujud kemudian masuk ke dalam acara yaitu di Hutan Adat Bebiqik.
Pada
malam harinya dilakukan zikir dan renungan malam.
Keesokan
harinya setelah acara pekemitan pemangku sujud ke jero dalam dan pembayaran nazar/kaul/sesangi.
Setelah
itu diakhirinya dengan doa penutup dan kembali ke berugak pesucian dengan
komposisi masyarakat adat dan disusul oleh pemangku. Untuk umat muslim sebelum
pulang kerumah masing-masing mereka melakukan ziarah ke makam Berangkaq.
PENUTUP
Demikian
artikel singkat ini mengenai salah satu tradisi ruwahan di Bebiqik Desa Selelos Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok
Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat yang sampai saat ini masih ajek dan merupakan salah satu kearifan
local daerah setempat yang tetap terjaga dan lestari sebagai salah satu alat
pemersatu Bangsa khusunya di Desa Selelos.
Daftar Referensi
Purnawati,
Ni Komang. 2008. Skripsi Tradisi Ruwahan
Di Bebiqik Desa Selelos Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Barat. Stahn Gde
Pudja Mataram.
Purwasito,
Andrik. 2003. Komunikasi Multikultural. Surakarta :
Muhammadiyah University Press.
Purwanto. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
Tim Penyusun.
2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka.
Komentar
Posting Komentar