MATERI YOGA MENURUT SUSASTRA HINDU
BAB
1
YOGA MENURUT
AGAMA HINDU
Kompetensi Inti
KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.
KI 2: Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong,
kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.
KI 3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI 4: Mengolah,
menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi
Dasar
KD Spiritual
1.1 Menghayati Yoga Asanas secara teori dan praktek menurut
Susastra Hindu
KD Sosial
2.1
Mengamalkan perilaku displin melaksanakan Yoga Asanas
dalam kehidupan
KD
Pengetahuan
3.1 Menerapkan
Yoga Asanas menurut Susastra Hindu
KD Keterampilan
4.1
Menyajikan Yoga Asanas menurut Susastra Hindu
Indicator
1.
Menjelaskan pengertian dan hakikat yoga
2.
Menguraikan sejarah dan ruang lingkup ajaran yoga
3.
Menguraikan sumber-sumber ajaran yoga
4.
Menyebutkan aturan-aturan yoga
5.
Menyebutkan tujuan dan manfaat latihan yoga
6.
Menguraikan ajaran astangga yoga
7.
Menguraikan etika dalam yoga
8.
Menguraikan
Sang Hyang Widhi dalam ajaran Yogasana
9.
Menguraikan pengertian Nadi dan Chakra
10.
Menguraikan
Aplikasi Yoga dalam kehidupan sehari-hari.
11.
Mempraktekkan sikap-sikap yoga
1.
PENGERTIAN YOGA
“Sa sacra siksa puruhuta no dhiya.”
Artinya :
“
Ya, Tuhan Yang Maha Esa, tanamkanlah pengetahuan kepada kami dan berkahi kami
dengan intelek yang mulia.”
Seorang siswa hendaknya tiada henti-hentinya
mempertajam kepandaiannya, memiliki ingatan yang kuat (melalui latihan),
mengikuti ajaran suci veda. Selain itu juga memiliki ketekunan dan
keingintahuan, melatih kosentrasi (penuh perhatian), menyenangkan hati guru
(dengan mematuhi perintahnya), mengulang-ulang pelajaran, jangan mengantuk
(karena sebelumnya kurang tidur), malas dan bicara tanpa arti.
Mengamati Lingkungan
Sikap yang paling sederhana dalam kehidupan beragama
adalah cinta kasih dan pengabdian (bhakti yoga). Para pengikut yoga mewujudkan
Tuhan sebagai penguasa dengan rasa mendalam sebagai bapak, ibu kakak, kawan,
tamu dan sebagainya. Tuhan adalah penyelamat, maha pengampun, dan maha
pelindung.
Era globalisasi sekarang ini menuntut kita untuk
dapat beraktivitas sekuat tenaga dan pikiran, yang terkadang melebihi
kemampuannya. Hal ini terjadi tidak saja di kalangan masyarakat perkotaan,
tetapi juga sampai ke pelosok desa. Beban fisik dan rohani yang berlebihan
menyebabkan kita sakit. Sedapat mungkin hindarkanlah diri dari beban yang
berlebihan. Adakah yoga dapat mengatasi semuanya itu?
Memahami teks
Yoga berasal dari urat kata “Yuj” yang berarti
hubungan/menuju Tuhan (menghubungkan diri kepada Tuhan). Yoga merupaka salah
satu cara penghubungan, pengaitan atau persatuan jiwa individu dengan Hyang
Widhi. Yoga juga berarti persatuan jiwa dengan Paramatman.
Pendiri Yoga adalah maharsi Patanjali. Beliau
membahas Yoga dalam bukunya yang berjudul “Yoga Sutra”. Beliau mendefinisikan
Yoga adalah pengendalian pikiran. Pikiran dapat dikendalikan dengan
mempraktekkan secara terus menerus, dan melepaskan diri dari ikatan duniawi.
Pengertian yoga dari beberapa kitab suci
dan para yogi :
·
Ajaran yoga adalah ilmu pengetahuan
kerohanian yang sudah tua umurnya ia merupakan salah satu system filsafat India
yang disebut Sad Dharsana.
·
Rsi Patanjali telah menyusun sebuah
kitab yang berjudul “Yoga Sutra Patanjali” yang menguraikan tentang pengertian
dan hakekat tujuan ajaran yoga secara keseluruhan. Isinya mengandung nilai yang
bersifat teori dan praktis, menyangkut etika dan moral, filsafat, kesehatan
fisik dan mental.
·
Perkataan yoga berasal dari urat kata
(sansekerta) yaitu yuj (yuga) berarti menghubungkan, atau bersatu dalam dimensi
kerohaniaan atau kebhatinan yang merupakan proses/jalan utama untuk mencapai
tujuan agama yaitu kebebasan abadi atau bersatunya jiwa dengan Sang Hyang Widhi
( moksa).
·
Dalam Yoga Sutra Patanjali dinyatakan
dalam Sutra II sebagai berikut “Yogascitta
Vrtti Nirodha” artinya yoga adalah pengendalian gelombang-gelombang
pikiran. Gelombang ini ditimbulkan oleh pengaruh gerakan antakarana manas
citta, ahangkara dan buddhi.
·
Gerakan-gerakan cipta menimbulkan rasa
suka dan duka yoga adalah berarti jalan yang utama untuk membebaskan ikatan
jiwa degan materi keduniawian yang memberikan kebahagiaan abadi atau Sat Cit Ananda atau jiwa dalam keadaan
Moksa.
Ada beberapa pengertian tentang yoga yang dimuat
dalam buku Yogasutra, antara lain sebagai berikut:
1. Yoga
adalah ilmu yang mengajarkan tentang pengendalian pikiran dan badan untuk
mencapai tujuan terakhir yang disebut dengan samadhi.
2. Yoga
adalah pengendalian gelombang – gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk
dapat berhubungan dengan Sang Hyang Widhi Wasa.
3. Yoga
diartikan sebagai proses penyatuan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa secara terus-menerus
(Yogascittavrttinirodhah)
Dasar
dari segala yoga adalah tidak terikat dengan pengaruh hawa nafsu atau indra dan
materi keduniawian atau Vairagga (pelepasan) nafsu merupakan titik yang penting
dalam semua bentuk yoga.
Yoga merupakan jalan utama dari berbagai jalan untuk
kesehatan pikiran dan badan agar selalu dalam keadaan seimbang. Keseimbangan
kondisi rohani dan jasmani mengakibatkan kita tidak diserang penyakit. Yoga
adalah suatu system yang mengolah rohani dan jasmani guna mencapai ketenangan
bhatin dan kesehatan fisik dengan melakukan latihan-latihan secara
berkesinambungan. Fisik atau jasmani dan mental atau rohani yang kita miliki
sangat penting dipelihara dan dibina. Yoga dapat diikuti oleh siapa saja untuk
mewujudkan kesegaran rohani dan kebugaran jasmani.
Dalam pelaksanaan yoga yang perlu diperhatikan
adalah gerak pikiran. Pikiran memiliki sifat gerak yang liar dan paling sulit
untuk dikendalikan. Agar dapat focus dalam melaksanakan yoga, ada baiknya
dipastikan bahwa pikiran dalam keadaan baik dan tenang. Secara umum yoga
dikatan sebagai displin ilmu yang digunakan oleh manusia untuk membantu dirinya
mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi.
Jadi secara umum, yoga dapat didefinisikan sebagai
sebuah teknik yang memungkinkan seseorang menyadari penyatuan antara roh
manusia individu (atman/jiwatman) dengan Paramatman melalui keheningan sebuah
pikiran.
Yoga harus dipraktekkan
dalam tubuh manusia. Tubuh manusia dibagi tiga, yaitu :
-
Sthula Sarira (badan kasar)
-
Suksma Sarira (badan halus)
-
Antah Karana Sarira (badan penyebab)
System Yoga kebanyakan bersumber pada filsafat
Samkhya, yang memandang bahwa perkembangan manusia berlangsung melalui beberapa
tahap. Badan halus ini terus berinteraksi dengan materi, kemudian lahir badan
kasar (Sthula Sarira). Badan kasar (Sthula Sarira) terdiri dari 5 komponen
primer yang dikenal dengan sebutan Panca Maha Bhuta. Seluruh susunan tubuh,
menurut filsafat Samkhya, terdiri dari 25 kategori (guna), yaitu terdiri dari :
prakerti, mahat, ahamkara, panca tan matra, eka dasa indra, panca maha bhuta
dan purusa.
Untuk pelaksanaan yoga, agama banyak memberikan
pilihan dan petunjuk-petunjuk melaksanakan yoga yang baik dan benar. Melalui
yoga agama menuntun umatnya agar selalu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Di samping berbagai petunjuk agama
sebagai pedoman pelaksanaan yoga, sesuatu yang baik berkembang di masyarakat
hendaknya juga dapat dipedomani. Dengan demikian, pelaksanaan yoga menjadi
selalu diterima di sepanjang zaman.
Maharsi Patanjali
mendefinisikan Yoga adalah pengendalian pikiran. Pikiran dikendalikan dengan
mempraktekkan secara terus menerus, dan melepaskan diri dari ikatan duniawi.
Pikiran memiliki beberapa tingkatan :
a.
Ksipa
: saat pikiran tidak tenang dan tidak bisa berkosentrasi pada obyek apapun
b.
Mudha
: saat pikiran tidak bisa membedakan antara hal yang baik dan buruk
c.
Viksipta
: saat pikiran yang hanya menerima kebahagiaan diri sendiri dan tidak mendapat
kesedihan.
d.
Ekagra
: saat pikiran menarik diri sendiri obyek-obyek luar dan berkosentrasi sehingga
pikiran mulai stabil dan tenang.
e.
Nirodha
: saat pikiran sudah stabil dan tidak ragu lagi, serta sudah menghentikan
hal-hal yang tidak baik, merupakan tahap awal dalam latihan yoga.
Kebahagiaan akan
tercapai dengan sempurna jika manusia menumbuhkan kesadaran dengan membebaskan
diri dari keterikatan yang menarik semoa obyek ke dalam. Dengan mempraktekkan
yoga secara teratur seseorang berlatih untuk melepaskan emosinya secara positif
dan tidak terlalu dramatis dalam menghadapi berbagai permasalahan yang tidak
bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Apabila setiap individu mampu
mempraktekkan yoga dengan baik, maka permasalahan dalam masyarakat juga akan
dapat diatasi, hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan
manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam pasti akan dapat
tercapai.
Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.
Tuliskan
beberapa pengertian Yoga yang kalian ketahui!
2.
Masih
ada pandangan bahwa yoga itu mengasingkan diri ke dalam hutan, kemudian mengurung diri di dalam
goa untuk mendapatkan kesaktian bahkan mistik. Bagaimana pandangan anda
terhadap pernyataan tersebut?
3.
Pikiran
dapat dikendalikan dengan mempraktekkan secara terus menerus, dan melepaskan
diri dari ikatan duniawi. Pikiran memiliki beberapa tingkatan. Sebutkan dan
jelaskan!
4.
Tuliskan
arti kutipan sloka ini “Yogascitta
Vrtti Nirodha”!
kemudian makna apa yang kalian dapatkan dari sloka tersebut! Uraikan !
5.
Rajendria
dalam tubuh manusia adalah pikiran. Pikiran memiliki sifat cenderung liar dan
sulit untuk dikendalikan. Bagaimana menurut pandangan kalian? Jelaskan !
2. SEJARAH DAN RUANG LINGKUP AJARAN
YOGA
Adapun
orang suci yang membangun dan mengembangkan ajaran ini (yoga) adalah Maharsi Patañjali. Ajaran yoga dapat dikatakan sebagai anugrah yang luar biasa dari Maharsi
Patañjali kepada siapa saja yang ingin melaksanakan hidup kerohanian. Bila
kitab Veda merupakan pengetahuan suci yang bersifat teoritis, maka Yoga adalah merupakan ilmu yang bersifat
praktis dari-nya. Ajaran yoga merupakan bantuan kepada siapa saja yang ingin
meningkatkan diri dibidang kerohanian.
Kitab
yang menuliskan tentang ajaran yoga
untuk pertama kalinya adalah kitab yogasūtra
karya Maharsi Patañjali. Namun demikian dinyatakan bahwa unsur-unsur ajarannya
sudah ada jauh sebelum itu. Ajaran Yoga
sesungguhnya sudah terdapat di dalam kitab ṡruti,
smrti, itihāsa, maupun purāna.
Dalam kitab Yoga Sutra Patanjali yang disebut kelompok Astangga
Yoga, sistematikanya terdiri dari 4 bab dan 194 sutra tiap-tiap bab
masing-masing terdiri dari beberapa materi yang diajarkan.
·
Bab I (Samadhipada)
Terdiri dari 51 sutra yang isinya Kitab ini
menjelaskan tentang; sifat, tujuan dan bentuk ajaran yoga. Didalamnya memuat
tentang perubahan-perubahan pikiran dan tatacara melaksanakan yoga.
·
Bab II (Shadanapada)
Terdiri dari 55 sutra. Kitab ini menjelaskan tentang
pelaksanaan yoga seperti tatacara mencapai Samadhi,
tentang kedukaan, karmaphala dan yang
lainnya.
·
Bab III ( Vibhutipada)
Terdiri dari 54 sutra yang isinya memuat ajaran
tentang cara-cara untuk mencapai tujuan yoga. Kitab
ini menjelaskan tentang aspek sukma atau batiniah serta kekuatan gaib yang
diperoleh dengan jalan yoga.
·
Bab IV (Kaivalyapada)
Terdiri
dari 34 sutra yang isinya mengungkap materi ajaran kelepasan (cara untuk
mencapai moksa) secara teknis operasional dan
kenyataan roh dalam mengatasi alam duniawi.
3. SUMBER
AJARAN YOGA
Ajaran yoga merupakan bantuan kepada siapa saja yang
ingin meningkatkan diri di bidang kerohanian. Metode-metode yang diajarkan itu
disesuaikan dengan tingkat perkembangan rohani seseorang.
- Ajaran Raja
Yoga
Sumber ajaran Raja Yoga adalah Patanjali Yoga Sutra
diajarkan oleh Rsi Patanjali sekitar 1.600 SM atau mungkin lebih dari itu. Dalam penggalian kepurbakalaan yang
dilakukan di Harappa dan Mohanjodaro yang sekarang disebut Pakistan, banyak
ditemukan patung yang melukiskan Dewa Siwa dan Parvati (permaisurinya) sedang
melakukan yoga asanas yang berbeda.
Menurut adat
istiadat dan berbagai kitab suci, Dewa Siva adalah pendiri Yoga termasuk
asanas. Beliau menciptkan semua asanas dan mengajarkannya pada muridnya yang
pertama yaitu Dewi Parvati. Semula gerakan asanas dikatakan ada 8.400.000
asanas, yang menunjukkan inkarnasi sebelum mencapai pembebasan dari siklus
kelahiran dan kematian.
Ajaran Raja Yoga meliputi :
-
Yama
-
Niyama
-
Asanas
-
Pranayama
-
Pratyahara
-
Dharana
-
Dhyana (meditasi)
-
Semadi
Kedelapan
ajaran diatas disebut Astangga Yoga.
- Ajaran
Hatha Yoga
Sumber ajaran Hatha Yoga adalah kitab Siwa Samhita
yang dipopulerkan oleh Rsi Gheranda. Hatha Yoga menangani proses fisik tertentu
sebagai persiapan atau sebagai penunjang di dalam mengendalikan gerak pikiran
dan dengan pengolahan pikiran itu sajalah penunggalan dapat dicapai.
Ajaran Hatha Yoga merupakan ajaran keseimbangan
didalam tubuh manusia. Arti kata Hatha :
Ha
: Matahari
Tha : Rembulan
Yang
berarti tradisi disiplin yang
menggabungkan dua kekuatan yang berbeda. Praktisi Hatha
Yoga menyelaraskan tubuh dan pikiran lewat kekuatan, disipiln dan upaya.
( Asmarani, 2011)
Di dalam tubuh manusia, pada bagian sebelah kanan
tubuh bersifat positif, panas merupakan pengaruh aliran Prana dari Nadi Pingala
(nadi dari lubang hidung kanan sampai tulang ekor) yang dipengaruhi oleh energy
Matahari.
Pada
bagian tubuh sebelah kiri bersifat negative, dingin merupakan pengaruh aliran
Prana dari Nadi Ida (nadi dari lubang hidung kiri sampai tulang ekor) yang
dipengaruhi energi bulan.
Melalui latihan Hatha Yoga akan menyebabkan kedua
bagian tubuh akan memperoleh keharmonisan/seimbang daya karakteristiknya secara
natural, pada gilirannya dengan adanya kesimbangan tersebut akan dicapai suatu
kesehatan fisik dan mental yang sempurna, kejernihan hati, kepribadian yang
mantap, teguh dan berwibawa.
Ajaran Hatha Yoga meliputi :
-
Asanas
-
Pranayama
-
Dhyana /meditasi
Hatha
yoga diciptakan dari hasil penyelidikan/penelitian jaman dahulu bagaimana
margasatwa dan tumbuh-tumbuhan hidup dan bertahan terhadap perubahan cuaca dan
kondisi lingkungannya.Hasil penyelidikan yang meliputi bagaimana cara bernafas,
cara tidur dan cara mereka bergerak diciptakan teknik-teknik yang sesuai dengan
tubuh manusia.
Hal – hal yang
perlu diperhatikan sebelum melakukan Hatha Yoga, adalah sebagai berikut:
1.
Tempat:
Pilih tempat yang cukup luas untuk tubuh agar dapat bergerak dengan bebas tanpa
hambatan oleh benda apapun.
2.
Waktu:
Waktu terbaik untuk melakukan senam yoga adalah pagi hari setelah bangun tidur,
dengan jenis fresh yoga yang gerakan-gerakannya bersifat memacu semangat dan
konsentrasi (energizing) atau sore hari setelah selesai melakukan segala
aktifitas, dengan jenis Gentle yoga yang berorientasi mengurangi kecemasan.
3.
Pelatih
atau instruktur: Bagi pemula, instruktur merupakan salah satu hal yang sangat
penting, untuk dapat membimbing melakukan senam yoga dengan baik dan benar.
4.
Pakaian:
Gunakan pakaian yang nyaman, yang memungkinkan bergerak dengan leluasa dan
tidak terbatas.Tanpa menggunakan alas kaki (dengan kaki
telanjang).
5.
Alas gunakan matras mat yoga agar terasa
lebih nyaman juga menghindari terpeleset di lantai sebagai, alat bantu antara
lain : blok yoga, sabuk, guling , selimut dan kursi.
Hatha yoga menekankan penyeimbangan dua kekuatan
yang bertolak belakang pada tubuh, seperti halnya energy maskulin (the sun atau
matahari) dan energy feminine (the moon atau bulan), yin dan yang, kiri dan
kanan, tarikan dan hembusan nafas, rasa sedih dan gembira dan sebagainya.
Tujuannya adalah menjaga keseimbangan alami tubuh dengan mempraktekkan ke lima
prinsip yoga Lima (5) prinsip yoga menurut ( Shindu, 2009 ) adalah:
1. Berlatih
dengan teratur: Postur yoga (asana) membantu meregangkan dan membina otot, serta menguatkan tulang dan melenturkan
sendi. Asana menstimulasi pengeluaran hormone endorphin-the feel good
hormone- yang menciptakan rasa nyaman dalam tubuh.
2. Bernapas dalam:
Bernapas dengan Dhiirga Swasam (teknik pernapasan yoga penuh) meningkatkan
kapasitas paru-paru agar proses bernapas menjadi lebih optimal. Teknik-teknik
pernapasan dalam pranayama juga membantu menguatkan organ tubuh internal,
meningkatkan kontrol emosi, dan memberikan sensasi relaks yang mendalam.
3. Menjaga pola
makan yang seimbang: Pola makan yang seimbang, dan sehat akan meningkatkan
imunitas (daya tahan) tubuh, melancarkan prose salami pencernaan, meningkatkan
kesehatan secara keseluruhan, dan menenangkan pikiran.
4. Beristirahat cukup:
Menjaga ritme yang seimbang antara bekerja dan beristirahat akan mempertahankan
tubuh dalam keadaan yang selalu prima dari waktu ke waktu. Beristirahat dalam
Savasana (postur mayat) setelah melakukan asana akan meningkatkan rasa nyaman
dan relaks pada tubuh pada kondisi yang stabil.
5. Berpikir positif melalui
meditasi: Berlatih asana yang disertai pranayama akan memurnikan pikiran dari
pikiran dan emosi negative, serta meningkatkan rasa percaya diri. Meditasi akan
membimbing untuk lebih dalam masuk ke realisasi diri yang merupakan tujuan
tertinggi dalam berlatih yoga.
Gerakan yoga yang dilakukan dengan posisi fisik
(asana), teknik pernafasan (pranayama) disertai meditasi. Posisi tubuh tersebut
dapat mengantarkan pikiran menjadi tenang, sehat dan penuh vitalitas. Ajaran
hatha yoga berpengaruh atas badan atau jasmani seseorang. Ajaran hatha yoga
menggunakan displin jasmani sebagai alat untuk membangunkan kemampuan rohani
seseorang. Sirkulasi pernafasan dikendalikan dengan sikap-sikap badan yang
sukar-sukar. Sikap-sikap badan tersebut dilatih bagaikan seekor kuda yang
diajari agar dapat menurut perintah penunggangnya adalah atman (roh).
- Ajaran
Kriya Yoga
Kriya yoga merupakan
yoga pendahuluan yang bertujuan untuk :
a. Memungkinkan
kemajuan seseorang yogin (orang yang mempelajari yoga) menuju tercapainya
semadi.
b. Menghilangkan
atau memperkecil segala rintangan (Klesa) untuk tercapainya semadi
Syarat
utama dari Kriya Yoga adalah :
-
Tapa, membiarkan diri menderita untuk
kesejahteraan orang lain atau kesederhanaan dalam seluruh kehidupan.
-
Swadhyaya, usaha mempelajari sastra,
kitab suci.
-
Isvara praidhana, penyerahan diri
sepenuhnya kepada Tuhan.
Rintangan
(Klesa) dalam Kriya Yoga ada 5 (lima) yaitu :
-
Avidya :
ketidaktahuan
-
Asmita :
keseombongan dan keakuan
-
Raga :
keterikatan dan kesukaan
-
Dvesa :
kemarahan, keserakahan, anti pati
-
Abtitivesa : ketakutan berlebihan terhadap kematian
Sifat-sifat
Klesa yaitu :
-
Latent, permanen : Prasupta
-
Lemah :
Tamu
-
Kabur :
Vicchima
-
Amat agresif, menonjol : Udara
Klesa tersebut harus dicabut seluruhnya bilamana
mungkin sekurang-kurangnya harus diperkecil. Untuk mencabut seluruhnya adalah
berat sekali karena dibawa dari kehidupan terdahulu. Beberapa siklus peredaran
hidup mati diperlukan untuk mengatasinya.
- Ajaran Laya
Yoga atau Kundalini Yoga
Ajaran ini sepenuhnya untuk ajaran pembangkitan
Kundalini yaitu Chakra pembangkitan energy maha besar di dalam tubuh manusia
dengan teknik-teknik tertentu yang akan mengaktifkan Chakra-chakra (pusat
energy) sehingga akan tercapainya persatuan Atman dan Brahman. Gerakan yoga
yang dilakukan dengan tujuan menundukkan pembangkitan daya kekuatan kreatif
kundalini yang mengandung kerahasiaan dan latihan-latihan mental dan jasmani.
- Ajaran
Wrhaspati Tattwa
Ajaran yoga ini merupakan ajaran dari Dewa Iswara
kepada Bhagawan Wrhaspati. Ajaran ini disebut Sadangga Yoga yaitu :
1. Pratyahara
Yoga
Penarikan
diri, penarikan indriya dari obyeknya dengan upaya dan pikiran yang tenang Citta,
Buddhi dan Manah tidak boleh bergerak kesana kemari.
2. Dhyana
Yoga, Meditasi
Yoga
yang terus menerus memusatkan pikiran kepada suatu bentuk yang tidak
berpasangan, tak berubah, damai dan tak bergerak, tenang, stabil serta tanpa
selubung.
3. Pranayama
Yoga
Menutup
semua jalan keluar nafas dan mengambil kekuatan dari udara dan mengeluarkan
nafas dari ubun-ubun (pada saat meninggal).
Mengatur
pernafasan masuk dan keluar sehingga pada saat meninggal nafas terakhir harus
bias dikeluarkan melalui ubun-ubun agar tercapai penunggalan.
4. Dharana
Yoga
Menahan
Omkara dalam hati, suara Omkara terus menerus ditempatkan dihati, penahanan
Omkara tersebut dikatakan Dharana.
5. Tarka
Yoga, Perenungan
Terus
menerus memusatkan pikiran kepada-Nya yang wujudnya sangat halus, tetap, tenang
dan hening.
6. Samadhi
Yoga
Konsentrasi
terus menerus merenungkan-Nya sebagai yang mutlak, tidak dapat dijelaskan,
tanpa nafsu, tenang, tidak mempunyai kalpana pengetahuan, yang diketahui,
sarana untuk mengetahui dan orang yang tahu.
- Mantra Yoga
Gerakan yoga yang dilaksanakan dengan mengucapkan
kalimat-kalimat suci melalui rasa kebhaktian dan perhatian yang penuh
kosentrasi. Perhatian dikosentrasikan agar tercapai kesucian hati untuk
mendengar suara kesunyian, sabda, ucapan Tuhan mengenai identitasnya.
Pengucapab berbagai mantra dengan tepat membutuhkan suatu kajian ilmu
pengetahuan yang mendalam. Namun biasanya banyak kebhaktian hanya memakai satu
jenis mantra saja.
- Bhakti Yoga
Gerakan yoga yang memfokuskan diri menuju hati.
Diyakini bahwa jika seorang yogi berhasil menerapkan ajaran ini maka dia dapat melihat kelebihan
orang lain dan tata-cara untuk menghadapi sesuatu. Praktik ajaran Bhakti yoga
ini juga membuat seorang yogi menjadi lebih welas asih dan menerima segala yang
ada di sekitarnya. Karena dalam yoga ini diajarkan untuk mencintai alam dan
beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Raja Yoga
Gerakan yoga yang menitikberatkan pada teknik
meditasi dan kotemplasi. Ajaran yoga ini nantinya mengarah pada tata-cara
penguasaan diri sekaligus menghargai diri sendiri dan sekitarnya. Ajaran Raja
yoga merupakan dasar dari yoga Sutra.
- Jnana Yoga
Gerakan yoga yang menerapkan metode untuk meraih
kebijaksanaan dan pengetahuan. Gerakan ajaran jnana yoga ini cenderung
menggabungkan antara kepandaian dan kebijaksanaan, sehingga nantinya
mendapatkan hidup yang dapat menerima semua filosofi dan agama.
- Karma Yoga
Dalam ajaran agama Hindu selain diperkenalkan
berbagai jenis gerakan yoga di atas, ada yang disebutkan jenis Tantra Yoga.
Ajaran ini sedikit berbeda dengan yoga pada umumnya, bahkan ada yang
menganggapnya mirip dengan ilmu sihir. Ajaran Tantra yoga terdiri atas
kebenaran dan hal-hal yang mistik (mantra), dan bertujuan untuk dapat
menghargai pelajaran dan pengalaman hidup umatnya.
4. ATURAN
–ATURAN YOGA
- Serahkan diri
sepenuhnya kepada Tuhan karena semua yang ada adalah miliknya. Ingatlah
senantiasa pada-Nya.
- Jangan
mengembangkan kebiasaan buruk.
- Jangan
sampai gagal untuk memenuhi kewajiban anda sehari-hari, ingatlah pada
kematian setiap hari.
- Jangan
menyinggung perasaan orang lain (Ahimsa parama Dharma).
- Jauhkan
diri anda dari pergaulan yang tidak baik, bergaullah kepada orang-orang
yang budiman (Sat Sangka).
- Berikan 10%
dari penghasilan anda untuk kedermawanan atau yajna dari keuntungan anda.
- Hiduplah
bergembira dengan mengembangkan kesentosaan yang sungguh-sungguh.
- Makanlah
makanan yang bersih (Shubda ahara). Kembangkan kelakuan yang jujur.
Berkatalah yang sebenarnya, lakukan perbuatan yang baik, tanyakan pada
diri anda : Siapa Aku ini?.
- Kembangkan
kekuatan kemauan dengan jalan kesabaran, ketetapan hati, anjuran sendiri,
meditasi dan hilangkan kesan-kesan dalam pikiran.
- Lupakan
kesalahan dan kegagalan anda yang sudah lalu, jangan berangan-angan,
bergembiralah senantiasa. Hiduplah tetap dengan apa yang ada sekarang.
Tersenyumlah pada siapa saja yang anda temukan tiap hari. Kalau anda
mengerjakan sesuatu, pakailah salah satu pikiran bijaksana, apa yang kita
lakukan adalah untuk bhakti kepada Tuhan.
5. TUJUAN DAN MANFAAT AJARAN YOGA
Latihan dan gerakan yoga menjadikan dan mengantarkan
jasmani dan rohani umat sedharma sejahtera dan bahagia. Sepatutnya kita
bersyukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas anugrahnya kita
dapat mengenal dan belajar yoga. Belajar tentang yoga sangat bermanfaat untuk
perkembangan jasmani dan rohani umat Hindu. Mempraktikan gerakan-gerakan yoga
kebugaran jasmani dan kesegaran rohani umat dapat terwujud sebagaimana
mestinya. Pengajaran pengetahuan yoga dinyatakan telah berlangsung sejak ribuan
tahun yang lalu dalam tradisi Hindu. Pengetahuan kuno yoga telah menguraikan
kebenaran bahwa dalam keharmonisan tubuh dan pikiran terletak rahasia
kesehatan. Pengetahuan ini selalu menarik dan digemari oleh setiap generasi
hingga dikembangkan dalam berbagai bentuk.
Yoga di samping sebagai pengetahuan rohani juga
dapat memberikan latihan-latihan badan/asanas. Asanas memungkinkan memperbaiki
kesehatan banyak orang dan mencapai suatu kehidupan yang bersemangat. Melalui
pembelajarn yoga para siswa secara bertahap dapat belajar menjaga pikiran dan
tubuh dalam keseimbangan yang tenang dalam semua keadaan, mempertahankan
ketenangan dalam situasi apa pun.
Latihan-latihan asanas dapat membangun rasa percaya
diri, mengatasi stress, mengembangkan kosentrasi, dan menambah kekuatan
pikiran. Kekuatan pikiran adalah kunci untuk mengerti spiritual yang mendalam.
Bila kita merasa sakit karena terjadi ketidakseimbangan di dalam tubuh, pikiran
atau hasil hormone yang tidak seimbang, latihan asanas dapat banyak membantu
menormalisirnya.
Setelah melalui latihan asanas secara teratur kita
mampu menjadi tuan bagi tubuh kita sendiri, bebas dari gangguan sakit, awet
muda, hidup santai, penuh energy, bebas dari pengaruh emosional, menjadikan
hidup ini selalu siap bekerja untuk kesejahteraan umat manusia. Manfaat latihan
pernafasan (yoga) menjadikan pernapasan lebih dalam dan pelan, paru-paru
berkembang sampai pada kapasitas penuh. Akibatnya tubuh menerima oksigen dalam
jumlah maksimal. Apabila gerakan-gerakan ajaran yoga asanas dapat dilakukan
dengan benar dan tepat maka kelelahan menjadi hilang dan orang merasa penuh
tenaga dan merasa segar.
Adapun manfaat yoga dari uraian diatas yaitu :
·
Sebagai tujuan hidup tertinggi dan
terkahir dalam ajaran Hindu yaitu terwujudnya Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti
Dharma.
·
Untuk menjaga kesehatan, kebugaran
jasmani dan rohani yaitu dapat diuraikan sebagai berikut
-
Dapat mengurangi kebodohan
-
Memperkuat pencernaan, menambah nafsu
makan, menghilangkan rematik.
-
Memperlancar peredaran darah yang bersih
ke otak sehingga dapat mempertajam daya pikir dan mencerdaskan pikiran serta
ingatan menjadi kuat dan terang.
-
Mempertinggi gairah hidup, serta bebas
dari gangguan penyakit.
-
Mencegah dan menyembuhkan berbagai macam
penyakit dalam, mencegah keriput pada kulit muka.
-
Menyehatkan metabolism dan pertumbuhan
badan.
-
Dapat mengurangi kegemukan, memperlancar
buang air besar.
-
Menguatkan alat-alat organ tubuh seperti
: ginjal, limpa, usus, pancreas, dan lain-lain sehingga dapat berfungsi dengan
sempurna.
-
Memperkuat otot-otot dan urat-urat pada
paha dan kaki.
-
Dapat menenangkan pikiran dan bhatin.
Berikut
ini dapat ditampilkan dalam bentuk kolom beberapa manfaat gerakan ajaran yoga asanas, antara lain:
|
No
|
Jenis-jenis Yoga
Asana
|
Penjelasan Yoga Asana
|
Manfaat Yoga Asana
|
|
1.
|
Padmāsana
|
Kedua kaki diluruskan
kedepan lalu tempatkan kaki kanan diatas paha kiri, kemudian kaki kiri diatas
paha kanan. Kedua tangan boleh ditempatkan dilutut.
|
Dapat menopang tubuh
dalam jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena tubuh mulai
dapat dikendalikan oleh pikiran.
|
|
2.
|
Siddhāsana
|
Letakan salah
satu tumit dipantat, dan tumit yang lain dipangkal kemaluan. Kedua kaki
diletakkan begitu rupa sehingga kedua ugel-ugel mengenai satu dengan yang
lain.
|
Memberikan efek
ketenangan pada seluruh jaringan saraf dan mengendalikan fungsi seksual.
|
|
3.
|
Swastikāsana
|
Kedua kaki lurus
kedepan kemudian lipat kaki dan taruh dekat otot paha kanan, bengkokkan kaki
kanan dan dorong telapak kaki dalam ruang antara paha dengan otot betis.
|
Menghilangkan
reumatik, menghilangkan penyakit empedu dan lendir dalam keadaan sehat,
membersihkan dan menguatkan urat-urat kaki dan paha.
|
|
4.
|
Sarvangāsana
|
Berbaring dengan
punggung diatas selimut, angkat kedua kaki perlahan kemudian angkat tubuh
bagian atas, pinggang, paha, dan kaki lurus ke atas. Punggung ditunjang oleh
kedua tangan.
|
Memelihara
kelenjar thyroid.
|
|
5.
|
Halāsana
|
Posisi tubuh
rebah dengan telapak tangan telungkup disamping badan. Kedua kaki rapat lalu
diangkat keatas dengan posisi lurus. Tubuh jangan bengkok. Kaki dan tubuh
buat siku lebar. Turunkan kedua kaki melalui muka sampai jari kaki mengenai
lantai. Paha dan kaki membentuk garis lurus.
|
Menguatkan urat
dan otot tulang belakang dan susunan urat-urat disisi kanan kiri tulang
punggung.
|
|
6.
|
Matsyāsana
|
Rebahkan diri
diatas punggung, dengan kepala diletakkan pada kedua tangan yang disalipkan.
|
Membasmi
bermacam penyakit seperti asma, paru-paru, bronchitis.
|
|
7.
|
Paschimottanāsana.
|
Duduk dilantai
dengan kaki menjulur lurus, pegang jari kaki dengan tangan, tubuh
dibengkokkan ke depan.
|
Membuat nafas
berjalan di brahma nadi (sungsum) dan menyalakan api pencernaan, dan Untuk
menguarngi lemak diperut.
|
|
8.
|
Mayurāsana
(Burung Merak).
|
Berlutut diatas
lantai, jongkok diatas jari kaki, angkat tumit keatas dengan kedua tangan
berdekatan, dengan telapak tangan diatas lantai, ibu jari kedua tangan harus
mengenai lantai dan harus berhadapan dengan kaki.
|
Menguatkan
pencernaan, membetulkan salah pencernaan dan salah perut seperti kembung,
juga murung hati dan limpa yang bekerja lemah akan baik kembali.
|
|
9.
|
Ardha
Matsyendrāsana
|
Latakkan tumit
kiri didekat lubang pantat dan dibawah kemaluan mengenai tempat diantara
lubang pantat dan kemaluan. Belokkan lutu kanan dan letakkan ugel-ugel kanan
dipangkal paha kiri, dan kaki kanan diletakkan diatas lantai berdekatan
dengan sambungan kiri, letakkan ketiak kiri diatas lutut kanan kemudian
dorong sedikit kebelakang sehingga mengenai bagian belakang dari ketiak.
Pegang lutut kiri dengan telapak tangan kiri perlahan punggung belokkan ke
sisi dan putar sedapat mungkin ke kanan, belokkan jidat ke kanan sehingga
segaris dengan pundak kanan, ayunkan tangan kanan kebelakang pegang paha kiri
dengan tangan kanan, tulang punggung lurus.
|
Memperbaiaki
alat-alat pencernaan, member nafsu makan. Kundalini akan dibangunkan juga dan
membuat candranadi mengalir tetap.
|
|
10.
|
Salabhāsana
|
Rebahkan diri
dengan telungkup, kedua tangan disisi badan terlentang. Tangan diletakkan
dibawah perut, hirup nafas seenaknya kemudian keluarkan perlahan. Keraskan
seluruh badan dan angkat kaki ke atas + 40 cm, dengan lurus sehingga
paha dan perut bawah dapat terangkat juga.
|
Menguatkan otot
perut, paha, dan kaki, menyembuhkan penyakit perut dan usus juga penyakit
limpa dan penyakit bungkuk dapat dikurangi.
|
|
11.
|
Bhuyanggāsana.
|
Merebahkan diri
dengan telungkup, lemaskan otot, dan tenangkan hati, letakkan telapak tangan
dilantai dibawah bahu dan siku, tubuh dan pusar sampai jari-jari kaki tetap
di lantai, angkat kepala dan tubh ke atas perlahan seperti cobra ke atas,
bengkokkan tulang punggung ke atas.
|
Istimewa untuk
wanita, dapat memberi banyak faedah, tempat anak dan kencing akan dikuatkan,
menyembuhkan amenorhoea (datang bulan tidak cocok), dysmenorhoea (merasa
sakit pada waktu datang bulan, leucorrhoea (sakit keputihan), dan macam
penyakit lain di kantung kencing dan indung telor dan peranakan.
|
|
12.
|
Dhanurāsana.
|
Rebahkan diri
dengan dada dan muka dibawah, kedua tangan diletakkan disisi, kedua kaki
ditekuk kebelakang, naikkan tangan kebelakang dan pegang ugel-ugel, angkat
dada dan kepala ketas, lebarkan dada, tangan dan kaki kaku dan luruskan,
tahan nafas dan keluarkan nafas perlahan.
|
Menghilangkan
sakit bungkuk, reumatik di kaki, lutut, dan tangan. Mengurangi kegemukan, dan
melancarkan peredaran darah.
|
|
13.
|
Gomukhāsana
|
Tumit kaki kiri
diletakkna dibawah pantat kiri, kaki kanan diletakkan sedemikian rupa,
sehingga lutut kanan berada diatas lutut kiri dan telapak kaki kana ada
disebelah paha kiri berdekatan.
|
Menghilangkan
reumatik di kaki, ambein, sakit kaki dan paha, menghilangkan susah BAB
(kebelakang).
|
|
14.
|
Trikonāsana.
|
Berdiri tegak,
kedua kaki terpisah, + 65 – 70 cm, kemudian luruskan tangan dengan
lebar, segaris dengan pundak, tangan sejajar dengan lantai.
|
Menguatkan
urat-urat tulang punggung dan alat-alat di perut, menguatkan gerak usus dan
menambah nafsu makan.
|
|
15.
|
Baddha
Padmāsana.
|
Duduk dengan
sikap Padmasana, tumit mengenai perut, tangan kanan kebelakang memegang ibu
jari kanan, begitu juga tangan kiri. Tekan janggut ke dada, lihat pada ujung
hidung dan bernafas pelan-pelan.
|
Asana ini bukan
untuk bermeditasi tetapi untuk memperkuat kesehatan dan menguatkan badan.
Dapat menyembuhkan lever, uluhati, usus.
|
|
16.
|
Padahasthāsana.
|
Berdiri tegak,
tangan digantung disebelah badan, kedua tumit harus rapat tapi jari harus
terpisah, agkat tangan kedua-duanya ke atas kepala. Perlahan bengkokkan badan
ke bawah, jangan bengkokkan siku lalu pegang jari kaki dengan ibu jari,
jari telunjuk, dan jari tengah.
|
Menghilangkan
hawa nafsu, tamas, menghilangkan lemak.
|
|
17.
|
Matsyendrāsana.
|
Duduk dengan
kaki menjulur, letakkan kaki kiri diatas pangkal paha kanandan letakkan tumit
kaki kiri di pusar. Kaki kanan letakkan dilantai di pinggir lutut kiri.
Tangan kiri melalui lutut kanan diluarnya memegang jari kaki kanan dengan ibu
jari, telunjuk, dan jari tengah lalu tekankan pada lutut kanan dan kiri.
|
Menghilangkan
reumatik, menguatkan prana shakti (gaya batin) dan menyembuhkan bayak
penyakit.
|
|
18.
|
Chakrāsana.
|
Berdiri dengan
tangan diangkat ketas, perlahan-lahan turunkan kebelakang dengan
membengkokkan tulang punggung.
|
Melatih
kegesitan, tangkas, segala pekerjaan akan dilaksanakan dengan cepat.
|
|
19.
|
Savāsana.
|
Tidur
terlentang, tangan lurus disamping badan, luruskan kaki dan tumit berdekatan.
Tutup mata bernafas perlahan, lemaskan semua otot.
|
Memberikan
istirahat pada badan, pikiran, dan sukma.
|
|
20.
|
Janusirāsana
|
Letakan tumit
kiri di antara lubang pantat dan kemaluan, dan tekanlah tempat itu. Kaki
kanan menjulur dengan lurus. Pegang jari kaki kanan dengan dua tangan.
|
Menambah
semangat dan menolong pencernaan. Asana ini menggiatkan surya chakra.
|
|
21.
|
Garbhāsana.
|
Kedua tangan
diantara paha dan betis, keluarkan kedua siku lalu pegang telinga kanan
dengan tangan kanan dan sebaliknya.
|
|
|
22.
|
Kukutāsana.
|
Lebih dulu
menbuat padmasana. Masukan tangan satu persatu dalam betis hingga sampai
kira-kira di siku, telapak tangan diletakkan di lantai dengan jari terbuka
kedepan, angkat badan keatas salib kaki kia-kira sampai di siku.
|
Menguatkan
otot-otot, dada dan pundak.
|
TUJUAN
YOGA
·
Menuntun seseorang untuk menuju suasana
hidup yang nyaman, tenang, penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.
·
Mengantarkan atma (jiwa) menyatu dengan
Paramatma (Brahman) dan tidak terikat dalam siklus kelahiran dan kematian.
·
Orang-orang yang berhasil mencapai yoga
akan mengalami kebenaran, kesadaran dan kebahagiaan yang sejati, kesucian
pikiran dan keseimbangan jiwa dalam tingkatnnya tertinggi.
·
Yoga juga mempunyai tujuan untuk
menyehatkan badan jasmani dan rohani atau lahir dan bhatin.
Kegiatan
Siswa
Diskusiklah dengan teman sebangku Mu!
Seringkali
ada pendapat dalam masyarakat bahwa Yoga itu berbau klenik yang mendekati
tahyul, atau memandangnya dari sudut kegaiban-kegaiban, kanuragan, bahkan
mistik. Apa yang harus dilakukan terhadap pandangan seperti itu? Uraikanlah !
Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1. Sebelum melakukan yoga, harus betul-betul
memperhatikan aturan-aturan yoga karena
dengan aturan tersebut kita diarahkan untuk menuju sasaran agar tidak keluar
dari tujuan semula atau tidak lepas kendali. Sebutkan aturan-aturan yang
berlaku dalam yoga!
2. Sebutkan Ruang Lingkup Ajaran Yoga menurut Maharsi
Patanjali!
3. Sebutkan tujuan dan manfaat mempelajari Yoga?
4. Setelah kita memahami tentang Yoga, apakah sebaiknya yang
mesti dilakukan?
5. Mengapa orang beryoga, bagaimana jika orang tersebut
tidak melakukan yoga? Jelaskan !
6. Sebutkan
bagian-bagian ajaran Hatha Yoga!
7. Sejarah
membuktikan bahwa ajaran yoga telah berlangsung ribuan tahun lamanya dalam
kehidupan masyarakat Hindu. Buatlah peta konsep tentang keberadaan ajaran Yoga
dalam sastra Hindu!
8. Sebutkan
5 (lima) Klesa dalam Kriya yoga!
9. Sebutkan
pembagian Sadanga Yoga dalam kitab Wrhaspati Tattwa!
10. System
Yoga kebanyakan bersumber pada filsafat Samkhya, yang memandang bahwa badan
halus ini terus berinteraksi dengan materi, kemudian lahir badan kasar (sthula
Sarira). Sebutkan lima komponen/unsur yang membentuk Sthula Sarira?
6. ASTANGGA
YOGA
Perenungan;
Pratena
dikṡām āpnoti dikṣāya āpnoti dakṣiṇām,
dakṣināṡraddhām
āpnoti ṡraddhāya satyam āpyate.
terjemahannya;
Melalui
pengabdian kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan.
Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan dan dengan kehormatan kita memperoleh
kebenaran’ (Yajurveda XIX.30).
Dalam
menjalankan yoga ada tahap-tahap yang harus ditempuh yang disebut dengan
Astangga Yoga. Maksudnya adalah delapan tahapan yang ditempuh dalam
melaksanakan yoga. Adapun bagian-bagiannya yaitu :
- Yama
(Panca Yama Brata)
Panca
Yama Brata adalah lima pengendalian diri tingkat jasmani yang harus dilakukan
tanpa kecuali. Gagal melakukan pantangan dasar ini maka seseorang tidak akan
pernah bias mencapai tingkatan berikutnya. Penjabran kelima Yama Brata ini di
uraikan dalam patanjali yoga sutra II.
35-39.
Pada
dasarnya melakukan langkah-langkah pengendalian diri dalam hubungan dengan
orang atau makhluk lain.
Terdiri
dari :
a. Ahimsa
Ahimsa
berasal dari awalan kata “A” yang berarti tidak, dan kata “Himsa” yang berarti
membunuh atau mengambil nyawa orang. Jadi ahimsa artinya tidak membunuh atau
menyakiti.
Dalam
Yoga Sara Sanggraha dikatakan :
Ahimsayah Paro Dharmah
artinya kebaikan adalah dharma tertinggi. Itu mengandung isyarat agar kita
dapat menanam dan menumbuhkan sifat humanism dalam diri. Sifat humanism itu
dapat terwujud dengan sifat-sifatnya lemah lembut, cinta kasih, persaudaraan
simpatisme, rendah hati dan lain sebagainya yang kesemuanya berpangkal pada
cetusan budhi luhur atau indriya yang terkendali.
Di
dalam kitab Slokantara disebutkan ada empat macam pembunuhan yang diperbolehkan
yaitu :
1. Dewa
puja : persembahan kepada Dewa (Dewa Yadnya)
2. Pitra
puja : persembahan kepada Roh Leluhur (Pitra Yadnya)
3. Atithi
puja : persembahan kepada tamu yang kita hormati
4. Dharma
wighata : kewajiban bagi semua orang membunuh makhluk yang mengganggu atau
memberi penderitaan terhadap tubuh manusia.
b. Brahmacari
Brahmacari
terdiri atas dua kata yaitu Brahma dan Cari/carya. Brahma artinya ilmu
pengetahuan dan kata cari/carya berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Car”
artinya gerak / tingkah laku.
Jadi
brahmacari adalah tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan terutama
ilmu pengetahuan tentang ketuhanan dan kesucian.
Brahmacari
jga disebut masa aguron-guron (masa berguru).
Di
dalam Slokantara disebutkan mengenai perkawinan masa Brahmacari dan dapat
dibedakan menjadi tiga golongan yaitu :
-
Sukla brahmacari
Orang
yang tidak pernah kawin sejak kecil sampai ia meninggal dunia. Tokoh ini di
dalam pewayangan Bhisma dalam Mahabharata dan Laksamana dalam Ramayana.
-
Sewala brahmacari
Orang
yang kawin beristri atau bersuami hanya sekali dalam hidupnya dan tidak kawin
lagi walaupun istri atau suaminya meninggal dunia. Tokoh pewayangan Sang Rama
dalam Ramayana.
-
Tresna atau krsna brahmacari
Orang
yang kawin lebih dari satu maksimal empat orang dan tidak boleh lagi. Tokoh
pewayangan Dewa Siwa istrinya empat yaitu Durga, Uma, Gauri dan Parwati.
c. Satya
yaitu menggunakan akal budi untuk menuju kebenaran.
Dalam
ajaran satya kita mengenal Panca Satya yaitu :
1. Satya
wacana
Yaitu
setia dan jujur dalam kata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata
yang tidak sopan yang disebut Wakparusya. Tidak boleh berkata pedas yang
disebut Ujar Madwa.
2. Satya
hrdaya yaitu
setia akan kata hati, berpendirian teguh, dan tak terombang-ambing.
3. Satya
laksana yaitu
setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah
diperbuat.
4. Satya
mitra yaitu
setia kepada teman.
5. Satya
semaya yaitu
setia kepada janji.
d. Asteya
Yaitu
tidak mencuri atau tidak memperkosa hak milik orang lain dengan paksa.
Dalam
kitab panca Siksa ada beberapa hal yang terkait dengan steya yang disebut Asta
Cora yakni delapan hal yang dapat digolongkan ke dalam hal mencuri yaitu :
1. Mencuri
adalah mengambil paksa hak milik orang lain
2. Menyuruh
atau memerintahkan mencuri
3. Memberi
makan pencuri
4. Berkenalan
dengan pencuri
5. Bersahabat
dengan pencuri
6. Meminjam
kepunyaan orang lain dengan tidak mengembalikan
7. Menunjukkan
jalan pencuri
8. Menerima barang hasil
curian
e. Aparigraha
yaitu hidup puas dengan apa adanya atau seperlunya.
- Niyama
( Panca Nyama Bratha)
Panca
Niyama Bratha adalah lima pengendalian diri tingkat rohani dan sebagai
pendukung dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam Patanjali Yoga Sutra Sutra II. 40-45.
Merupakan
pembinaan hubungan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu dengan
langkah-langkah penyucian lahir bathin.
Terdiri
dari :
a. Sauca
yaitu suci lahir bathin. “Suc” artinya bersih.
Lambat
laun seseorang yang menekuni prinsip-prinsip ini akan mulai mengesampingkan
kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu yang mengakibatkan
kekotoran dari kontak fisik tersebut.
Sauca
juga menganjurkan kebajikan sattvasudhi atau pembersihan kecerdasan untuk
membedakan hal-hal berikut :
-
Saumanasya atau keriangan hati
-
Ekagrata atau pemusatan pikiran
-
Indriajaya atau pengawasan nafsu-nasfu
-
Atmadarsana atau realisasi diri.
b. Santosa
atau kepuasaan yaitu menjaga keseimbangan mental.
Hal
ini dapat membawa praktisi yoga ke dalam kesenangan yang tidak terkatakan.
Dikatakan dalam kepuasaan terdapat tingkat kesenangan transcendental.
c. Swadhyaya
yaitu mempelajari sastra keagamaan, kitab suci.
Melakukan
japa (pengulangan pengucapan nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga
memudahkan tercapainya istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakan.
d. Tapa
atau mengekang yaitu tahan uji.
Melalui
pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan terbebas dari noda dalam
aspek spiritual.
e. Iswara
pranidhana yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Hyang Widhi yang akan
mengantarkan seseorang kepada tingkatan Samadhi.
Ada
juga pembagian Niyama yaitu :
1. Akrodha
artinya tidak marah
2. Guru
susrusa artinya hormat dan bhakti terhadap guru.
3. Sauca
4. Aharalaghawa
yaitu makan yang serba ringan dan tidak semau-maunya.
5. Apramada
yaitu tidak bersifat ingkar atau mengabaikan kewajiban.
Dengan menempuh jalan kebaikan bukan berarti
seseorang dengan sendirinya dilindungi terhadap kesalahan yang bertentangan.
Jangan menyakiti orang lain belum tentu berarti perlakuan orang lain dengan
baik. Kita harus melakukan keduanya, tidak menyakiti orang lain sekaligus
melakukan keramahtamahan.
- Asanas
Asana adalah sikap duduk pada waktu melaksanakan
yoga. Buku Yogasutra tidak mengharuskan sikap duduk tertentu, tetapi
menyerahkan sepenuhnya kepada siswa sikap duduk yang paling disenangi dan
relaks, asalkan dapat mengautkan kosentrasi dan pikiran, dan tidak terganggu
karena badan merasakan sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan. Selain itu
sikap duduk yang dipih agar dapat berlangsung lama, serta mampu mengendalikan
syaraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran. Sikap duduk yang
relaks antara lain silsana (bersila) bagi laki-laki dan bajrasana (bersimpuh,
menduduki tumit) bagi wanita, dengan punggung yang lurus dan tangan berada di
atas kedua paha, telapak tangan menghadap ke atas.
Merupakan
latihan sikap-sikap badan/tubuh agar kokoh,mantap, tenang , santai dan nyaman.
Asanas-asanas
ini menggambarkan perubahan yang progresif dari bentuk kehidupan yang paling
sederhana menjadi manusia yang benar-benar sadar.
Pengelompokkan asanas
Asanas
dibagi/dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :
1. Kelompok
pemula
Asanas
dalam kelompok ini dilakukan oleh orang yang sebelumnya tidak pernah melatih
yoga asanas, yang keadaannya lemah atau sakit, tidak mampu melakukan latihan
yang sulit. Latihan ini bukan cara yang lebih rendah dari pada asanas tingkat
tinggi dan sangat berguna didalam memperbaiki jasmani.
Asanas
dalam kelompok pemula
a. Rangkaian
Suryanamaskar
b. Rangkaian
Pauna Muktasanas
-
Kelompok Anti Rematik (Suksma Uyayama)
-
Kelompok Anti lambung
c. Rangkaian
Latihan Menahan Energi
d. Rangkaia
Latihan Untuk Mata
e. Relaksasi
/ pengendoran
f. Sikap-sikap
Meditasi
g. Sikap-sikap
pengaturan energy seksual (rangkaian Vajrasanas)
h. Rangkaian
asanas berdiri dan membungkuk
2. Kelompok
menengah
Kelompok
ini terdiri dari asanas yang agak sulit bagi orang-orang yang dapat melakukan
tingkat pemula tanpa ketidaknyamanan.
Dalam
asanas ini diperlukan tingkat ketenangan, kosentrasi dan koordinasi dengan
pernafasan yang lebih tinggi.
Kelompok
menengah meliputi latihan-latihan asanas seperti :
a. Rangkaian
asanas yang dilakukan pada atau dari padmasanas
b. Asanas
dengan penekukan kebelakang
c. Asanas
dengan pembungkukan kedepan
d. Asanas
memutar tulang belakang
e. Asanas-asanas
terbalik
f. Asanas-asanas
penyeimbang.
3. Kelompok
tingkat tinggi
Asanas
dalam kelompok ini diperuntukkan bagi orang-orang dengan pengendalian yang luas
tentang otot-otot dan susunan syaraf, yang telah menguasai kelompok asanas
tingkat menengah.
Asanas
kelompok tingkat tinggi meliputi :
-
Purna Matsyendrasanas
-
Kurmasanas
-
Dhanurakarsana asanas
-
Vrscikasanas
-
Mayurasanas
-
Padma mayurasanas
-
Hanuman asanas
-
Brahmacary asanas
-
Mula Bandhasanas
-
Goraksanas
-
Astavakrasanas
-
Eka Pada Sirasanas
-
Utthana Eka Pada Sirasanas
-
Dvi Pada Sirasanas.
- Pranayama
Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk
paru-paru melalui lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energy) ke
seluruh tubuh. Pada saat manusia menarik nafat mengeluarkan suara So, dan saat mengeluarkan nafas berbunyi
Ham. Dalam bahasa sansekerta So berarti energy kosmik, dan Ham berarti diri sendiri (saya). Ini
berarti setiap detik manusia mengingat diri dan energy kosmik. Pranayama
terdiri dari :
-
Puraka yaitu memasukkan nafas
-
Kumbhaka yaitu menahan nafas
-
Recaka yaitu mengeluarkan nafas.
Puraka, kumbhaka dan recaka dilaksanakan pelan-pelan
tertahap masing-masing dalam tujuh detik. Hitungan tujuh detik ini dimaksudkan
untuk menguatkan kedudukan ketujuh cakra yang ada dalam tubuh manusia yaitu
muladhara yang terletak di pangkal tulang punggung di antara dubur dan
kemaluan, svadisthana yang terletak di atas kemaluan, manipura yang terletak di
pusar, anahata yang terletak di jantung, vishuddha yang terletak di leher, ajna
yang terletak di tengah-tengah kedua mata, dan sahasrara yang terletak di
ubun-ubun.
Prana merupakan kekuatan yang sangat penting atau
utama yang meliputi seluruh kosmos. Prana berada dalam segala makhluk. Prana
lebih halus dari pada udara dan dapat diartikan sebagai energy pokok yang ada
dalam segala sesuatu di alam semesta. Yama
berarti pengendalian. Pranayama dapat diartikan sebagai suatu rangkaian teknik
yang merangsang dan meningkatkan energi yang sangat penting, pada akhirnya
menimbulkan pengendalian yang sempurna pada aliran prana dalam tubuh atau juga
berarti ilmu tentang cara mengatur nafas dan penyaluran prana.
Secara tradisional prana dalam tubuh dibagi menjadi
5 (lima) bagian dasar yang dikenal dengan Panca Prana yaitu :
|
No
|
Nama Prana
|
Prana Bija Mantra
|
Kedudukan/tempat
|
Fungsi
|
Warna
|
|
1
|
Prana
|
(I)
|
Jantung
|
Mengeluarkan keringat
|
Darah, merah
|
|
2
|
Apana
|
(A)
|
Anus
|
Membuang kotoran
|
Putih permata kemerahan
|
|
3
|
Samana
|
(Ka)
|
Daerah Pusar
|
Untuk pencernaan
|
Kristal bercahaya
|
|
4
|
Udana
|
(Sa)
|
Tenggorokan
|
Menelan makanan
|
Pucat pasi, suram
|
|
5
|
Vyana
|
(Ma)
|
Seluruh tubuh bergerak
|
Sirkulasi
|
Biru keunguan
|
Ada sub Prana yaitu :
1. Naga
(Ra) : Melakukan
sendawa/cegukan
2. Kurma
)La) : Fungsi
membuka mata
3. Krikara
(Wa) : Menyebabkan
timbulnya rasa lapar dan haus
4. Deva
Datta (Ya) : Menyebabkan
menguap/mengantuk
5. Dhanan
Jaya (Un) : Menyebabkan terurainya badan
saat kematian
Rentang hidup manusia banyak tergantung pada caranya
bernafas. Seseorang yang bernafas pendek, cepat mengembuskan nafas mungkin akan
berumur lebih pendek dari pada orang yang bernafas dengan perlahan-lahan dan
dalam. Pernafasan secara langsung berhubungan dengan jantung, pernafasan yang
pelan terjadi pada jantung yang berdenut pelan dan jantung yang berdenyut pelan
mengakibatkan hidup lama.
Yoga Sutra memperinci 4
jenis Pranyama yaitu:
-
Bahya
vrtti atau Recaka atau napas keluar atau Parayate.
-
Abyantara
Vrtti-Internal atau Puraka atau napas masuk atau Ayate.
-
Bahya
Stambha Vrtti, tetap diluar atau Bahya Kumbbhaka atau
penahanan napas setelah napas keluar atau Tisthate (istirahat).
-
Antah
Stambha Vrtti. Tetap didalam atau antah kumbhaka atau
asina (yang tinggal) atau penahanan napas setelah penarikan napas.
Tujuan
utama Pranayama adalah :
Menyatukan
Prana dan Apana dan membawa penyatuan Pranapana ini secara perlahan menuju
Kepala.
Efek dari Pranayama adalah : Udgata atau
membangunkan Kundalini yang sedang tidur.
Proses pernapasan dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Pernapasan
Perut (Diafragmatik)
Pada
saat menarik napas perut digelembungkan dan saat mengeluarkan napas perut
dikosongkan selama melakukan pernapasan ini dada dan bahu tidak boleh
digerakkan.
2. Pernapasan
Dada (Thorasik)
Tarik
napas saat mengembangkan dada atau rongga tulang rusuk, hembuskan napas tulang
rusuk bergerak ke dalam dan ke bawah. Perut tidak digerakkan.
Macam-macam Pranayama yaitu :
a. Nadhi
Suddhi / Nadi Sodhana Pranayama
Pernapasan ini bertujuan untuk membersihkan nadi Ida
dan Pingala dari berbagai rintangan sehingga mempercepat reaksi kebangkitan
Kundalini. Pernapasan ini dilakukan melalui satu lubang hidung bergantian
dengan membacakan mantra Yoga Nadi Suddhi didalam hati.
Perbandingan
pengaturan napas adalah 1 : 4 : 2 untuk
tahap awal dan 1 : 4 : 2 : 2 untuk tahap lanjutan.
1 : 4 : 2 : 2 = 1
hitungan tarik napas (Puraka)
4 hitungan tahan napas (Kumbhaka Antah)
2 hitungan keluar
napas (Recaka)
2 hitungan tahan
napas (Kumbhaka Bahya)
b. Sitali
Pranayama (Pernapasan Penyejuk)
Pranayama ini berguna untuk melepaskan rasa haus/
dahaga dalam tubuh dan membersihkan darah. Badan menjadi dingin, mengendorkan
otot dan memberikan ketenangan mental. Pernapasan ini dilakukan dengan lidah
ditekuk.
c. Sitkari
Pranayama (Napas dengan Desis)
Manfaat hampir sama dengan Sitali, hanya bedanya
napas masuk melalui celah-celah gigi.
d. Brahmari
Pranayama (Pengaturan Prana yang mendengung)
Manfaatnya untuk menghilangkan ketegangan otak,
menghilangkan kemarahan, kegelisahan, frustasi, mengurangi tekanan darah.
e. Bhastrika
Pranayama (Napas yang berembus / Puptan Besi)
Manfaatnya untuk membersihkan paru-paru dari gas
atau kuman-kuman. Penting untuk asma, TBC, Radang Selaput dada. Meningkatkan
nafsu makan.
f. Kepalabhati
Pranayama (Pembersihan otak bagian depan)
Manfaat membersihkan daerah otak bagian depan.
Menghilangkan pembekuan darah pada otak.
g. Ujjayi
Pranayama (Pernapasan Psikhis)
Mempunyai efek lembut pada jaringan saraf dan
menenangkan pikiran, mengobati Insomania.
h. Surya
Bheda Pranayama ( Pembangkitan Kekuatan Hidup)
Mengaktifkan Pinggala nadi sehingga memberikan
tenaga yang dinamis kepada pelakunya untuk melakukan kegiatan fisik dengan
lebih efisien.
i.
Sivananda Pranayama ( Pernapasan Siwa
atau Pernapasan segi tiga)
Manfaat
Pranayama Yaitu :
1. Selalu merasa terhubung dengan aliran sumber energi besar
alam semesta
2. Selalu dalam keadaan bersih, sehat dalam fisik
3. Merasa nyaman dan rilek dalam jiwa
4. Memperbaiki seluruh sistem dalam tubuh
5. Membersihkan energi dan aura
6. Tuntunan kesehatan, ketenangan, kesuksesan dan kedamaian
dalam hidup.
- Pratyahara
/ Penyaluran
Pratyahara adalah penguasaan panca indra oleh
pikiran sehingga apa pun yang diterima panca indra melalui syaraf ke otak tidak
mempengaruhi pikiran. Panca indra adalah pendengaran, Penglihatan, penciuman, perasa
dan peraba. Pada umumnya indra menimbulkan nafsu kenikmatan setelah
mempengaruhi pikiran. Yoga bertujuan memutuskan mata rantai olah pikiran dari
rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta menjadi murni dan bebas
dari goncangan-goncangan. Jadi yoga tidak bertujuan mematikan kemampuan indra.
Pratyahara merupakan penghentian indriya melakukan
kegiatan ke luar sehingga pikiran bebas dari gangguan dan pikiran itu sekarang
dikendalikan oleh atma. Pikiran ditarik kedalam dan diarahkan menuju atman. Pratyahara berarti mengatasi alat-alat
indriya yang berlari-lari keobyek nafsu. Yang mengantar ke obyek yang lebih
baik atau Sreya adalah Vidya atau
ilmu pengetahuan dan yang mengantar kea rah yang lebih menyenangkan atau Preya adalah Avidya atau kebodohan.
Tujuan seorang yogin melatih Pratyahara adalah untuk
melepaskan alat-alat indriya dari hasrat-hasrat duniawi agar supaya ditujukan
kepada Tuhan/Brahman. Menurut
Patanjali ada dua syarat melakukan Pratyahara yaitu :
1.
Melepaskan
alat-alat indira dari sensualitas masing-masing
2.
Agar
mensejajarkan indria-indria (terutama yang berhubungan dengan nafsu-nafsu)
dengan aktivitas Citta (pikiran dalam bentuknya yang hakiki).
- Dharana
/Pemusatan Pikiran
Dharana artinya mengendalikan pikiran agar terpusat
pada suatu objek kosentrasi. Objek itu dapat berada dalam tubuh kita sendiri,
misalnya “selaning lelata” (sela-sela alis) yang dalam keyakinan Sivaism
disebut sebagai “trinetra” atau mata ketiga Siwa. Dapat pula pada “tungtunging
panon” atau ujung (puncak) hidung sebagai objek pandang terdekat dari mata.
Para sulinggih (pendeta) di Bali banyak yang menggunakan ubun-ubun (sahasrara)
sebagai objek karena di saat “ngili atma” di ubun-ubun dibayangkan adanya padma
berdaun seribu dengan mahkotanya berupa atman yang bersinar “spatika” yaitu
berkilau bagaikan mutiara. Objek lain di luar tubuh manusia misalnya bintang,
bulan, matahari, dan gunung.
Penggunaan bintang sebagai objek akan membantu para
yogin menguatkan pendirian dan keyakinan pada ajaran Dharma, jika bulan yang
digunakan membawa kea rah kedamaian batn, matahari untuk kekuatan jasmani, dan
gunung untuk kesejahteraan. Objek di luar badan yang lain misalnya patung, dan
gambar dari dewa-dewi, guru spiritual, yang bermanfaat bagi terserapnya vibrasi
kesucian dari objek yang ditokohkan itu. Kemampuan pengikut yoga melaksanakan
dharana dengan baik akan dapat memudahkan yang bersangkutan mencapai dhyana dan
Samadhi.
Dharana berarti pemusatan pikiran pada suatu tempat
agar tidak bergelombang. Makna dari Dharana adalah untuk mencapai Samadhi.
Cara-cara
melatih Dharana untuk mencapai ketenangan pikiran yaitu :
a. Meditasi
pada satu obyek, berguna untuk menghilangkan guncangan mental.
b. Perbaiki
mental anda terhadap orang lain disekeliling kita dalam lingkungan pergaulan.
Latihlah meditasi cinta kasih setiap hari.
c. Melatih
pranayama berguna untuk menguasai dan menundukkan napas.
d. Melatih
pemusatan pada persepsi perasaan lebih tinggi agar mencapai kemantapan pikiran
untuk mengatasi guncangan bathin.
·
Meditasi pada ujung hidung membangunkan
unsur bumi dan menciptkan bau ajaib.
·
Meditasi pada ujung lidah membangunkan unsur
air menciptakan rasa luar biasa.
·
Meditasi pada bulan, bintang, matahari
membangunkan unsur cahaya dan menciptakan bentuk-bentuk keindahan luar biasa.
·
Meditasi pada OM atau perkataan suci
lain membangunkan unsur udara dan menciptakan bentuk music bathin yang luar
biasa.
·
Meditasi pada pikiran bahwa anda berada
dalam pangkuan Tuhan membangunkan unsur angin dan menciptakan perasaan sentuhan
luar biasa.
·
Dan lainnya, semua itu membawa keyakinan
pada pikiran yang guncang dan keyakinan itu membawa kedamaian.
e. Melatih
meditasi pada cahaya bathin yang cemerlang yang berada di luar segala
penderitaan yang dengan demikian mengantarkan kita ke suatu keadaan anandamaya,
bebas dari segala kesusahan.
Caranya
adalah dengan melatih meditasi pada jantung (nyala yang selalu berkobar yang
jantung).
f. Melatih
pemusatan pikiran pada orang-orang suci ( guru-guru suci) baik yang sudah wafat
atau yang masih hidup. Bilamana kita merenungkan kehidupan orang suci maka
Beliau-Beliau itu akan datang langsung untuk membantu kita.
g. Merenungkan
pengetahuan yang didapat dari tidur atau mimpi.
h. Bermeditasi
kepada atau mengenai apa saja yang anda anggap berguna dan menarik.
- Dhyana
atau Kontemplasi atau Meditas/renungan
Dhyana adalah suatu keadaan di mana arus pikiran
tertuju tanpa putus-putus pada objek yang disebutkan dalam Dharana itu, tanpa
tergoyahkan oleh objek atau gangguan atau godaan lain baik yang nyata maupun
yang tidak nyata. Gangguan atau godaan yang nyata dirasakan oleh panca indra
baik melalui pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap maupun peraba.
Gangguan atau godaan yang tidak nyata adalah dari pikiran sendiri yang
menyimpang dari sasaran objek dharana.
Dhyana berarti meresapkan pikiran yang dikendalikan
tersebut lebih dalam yang akhirnya masuknya kesadaran mental secara lengkap
dengan menghilangkan segenap aktivitas mental ke luar dalam kesatuan yang tiada
tara.
Dhyana ada tiga jenis
yaitu :
-
Sthula atau kasar
-
Jyotih
-
Sukshma atau halus.
Tujuan dhyana adalah aliran pikiran yang terus
menerus kepada Sang Hyang Widhi melalui objek dharana. Kaitan antara pranayama,
pratyahara dan dhyana sangat kuat. Dinyatakan oleh Maharsi Yajnawalkya sebagai
berikut “Pranayamair dahed dosan,
dharanbhisca kilbisan, pratyaharasca sansargan, dhyanena asnan gunan”.
Artinya dengan pranayama terbuanglah kotoran badan dan kotoran buddhi, dengan
pratyahara terbuanglah kotoran ikatan ( pada objek keduniawian), dan dengan
dhyana dihilangkanlah segala apa (hambatan) yang berada di antara manusia dan
Sang Hyang Widhi.
- Samadhi
/ Nirliptattwa.
Samadhi adalah merupakan suatu proses pemusatan
pikiran yang sangat kuat dan mendalam terbatas dari Sangkalpa dan keterikatan
terhadap dunia, semua rasa kemilikan atau kepentingan diri lenyap.
Dalam keadaan renungan (Dhyana) pikiran orang yang
merenungkan (Dhyata), perbuatan merenungkan (Dhyaya), ketiganya masih
dibedakan. Sedangkan dalam keadaan Samadhi, ketiganya melebur menjadi satu.
Diantara Dharna, Dhyana dan Samadhi dapat di bedakan
sebagai berikut :
Dalam
pelaksanaan Dharana atau pemusatan (kosentrasi), minat yang diarahkan ke suatu
obyek dapat terganggu. Dalam Dhyana atau renungan minat tidak terganggu lagi
dan menjadi satu tujuan, tetapi masih disadari perbedaan diantara pemikir,
pemikiran dan pikiran (obyek yang dipikirkan). Dalam Samadhi pemikir, pemikiran
dan obyek yang dipikirkan hilang. Yang tinggal adalah obyek yang diubah oleh
pikiran dan diheningkan dalam renungan.
Menurut Patanjali
Samadhi ada dua golongan yaitu :
1. Samprajatnata
Samadhi atau Sabija Samadhi yaitu Samadhi yang disertai dengan Prajna atau
kesadaran, keadaan di mana yogin masih mempunyai kesadaran.
2. Asamprajnata
Samadhi atau Nirbija Samadhi yaitu supra
kesadaran transenden yang tidak disertai dengan prajna, keadaan di mana yogin
sudah tidak sadar akan diri dan lingkungannya, karena batinnya penuh diresapi
oleh kebahagiaan tiada tara, diresapi oleh cinta kasih Sang Hyang Widhi.
Baik dalam keadaan Sabija Samadhi maupun Nirbija
Samadhi, seorang yogin merasa sangat bahagia, sangat puas, tidak cemas, tidak
merasa memiliki apapun, tidak mempunyai keinginan, pikiran yang tidak tercela,
bebas dari “Catur Kalpana” (yaitu : tahu, diketahui, mengetahui, pengetahuan),
tidak lalai, tidak ada ke-“aku”-an, tenang, tentram dan damai. Samadhi adalah
pintu gerbang menuju moksa. Ini dikarenakan unsur-unsur moksa sudah dirasakan
oleh seorang yogin. Samadhi yang dapat dipertahankan terus menerus
keberadaannya, akan sangat memudahkan pencapaian moksa.
Menurut
Gheranda Sanghita Samadhi ada enam jenis yaitu :
1. Dhyana
yoga
2. Nada
yoga
3. Rasanasnda
yoga
4. Layasiddhi
yoga
5. Bhakti
yoga
6. Raja
yoga.
Uji
Kompetensi 1
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
- Sebutkan pembagian Astangga
yoga!
- Sebutkan yang termasuk ke
dalam pembagian Yama dalam Astangga Yoga!
- Sebutkan bentuk-bentuk ajaran Ahimsa!
- Bagaimana bila ajaran Yama dan Nyama tidak diterapkan? Jelaskan !
- Dari ajaran Yama dan Nyama, yang mana yang sudah kalian terapkan dan
manfaat apa yang kalian dapatkan dari ajaran tersebut? Jelaskan !
Uji Kompetensi 2
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.
Apa yang dimaksud dengan Niyama Brata?
Sebutkan bagian-bagiannya!
2.
Apa yang dimaksud Santosa dan Tapa dalam
Niyama?
3.
Berapa jumlah gerakan Asanas? Sebutkan pembagian Asanas!
4.
Sebutkan Asanas dalam kelompok pemula!
5.
Jelaskan pengertian Pranayama dan sebutkan manfaat Pranayama!
- Sebutkan 4 (empat) jenis
Pranayama dalam kitab Yoga Sutra!
- Apa yang dimaksud dengan
pernapasan perut/diafragmatik!
- Sebutkan 9 (Sembilan) macam
Pranayama!
- Apa yang dimaksud dengan
Sitali Pranayama dan Sitkari Pranayama?
- Apa yang dimaksud dengan Dharana dan Dhyana?
- Sebutkan 2 (dua) macam Samadhi
menurut Patanjali!
- Uraikan perbedaan Dhyana, Dharana dan samadhi!
- Menurut kalian, bagaimana cara agar bisa mencapai tahapan Astangga
Yoga yang tertinggi?
7. ETIKA
YOGA
“Na karmanam anarambhan naiskarmyam puruso
snute,
Na ca samnyasanad eva siddhim
samadhigacchati”.
Artinya
:
“Tanpa
kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai
kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja “. (Bhagawadgita. III.4)
Secara umum, konsep etika dalam yoga termasuk dalam
latihan yama dan niyama, yaitu displin moral dan displin diri. Aturan-aturan
yang ada dalam yama dan niyama, juga berfungsi sebagai control social dalam
mengatur moral manusia. Dalam buku Tattwa
Dharsana, dijelaskan bahwa etika dalam yoga adalah ; dalam Samadhi, seorang
yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tidak tersentuh oleh suara yang tak
henti-hentinya, yang berasal dari luar dan pikiran kehilangan fungsinya, di
mana indria-indria terserap ke dalam pikiran. Apabila semua perubahan pikiran
terkendalikan, si pengamat atau purusa, terhenti dalam dirinya sendri. Keadaan
semacam ini di dalam yoga sutra patanjali disebut sebagai svarupa avasthanam (kedudukan
dalam diri seseorang yang sesungguhnya).
Dalam filsafat yoga dijelaskan bahwa yoga berarti
penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Ada lima keadaan pikiran itu.
Keadaan pikiran itu ditentukan oleh itensitas sattwa, rajas dan tamas. Kelima
keadaan pikiran itu adalah sebagai berikut :
-
Ksipa artinya tidak diam-diam.
Adalah pada saat pikiran mengembara di antara
berbagai objek duniawi dan pikiran dipenuhi dengan sifat Rajas. Dalam keadaan ini pikiran itu diumbangbingkan oleh rajas,
dan tamas serta ditarik-tarik oleh objek indria dan sarananya.
Pikiran melompat-lotmpat dari satu objek ke objek yang lain tampa mengacu
kepada satu objek. Pikiran berada dalam keadaan tertidur dan tak berdaya.
-
Mudha artinya lamban dan malas.
Gerak lamban dan malas ini disebabkan oleh pengaruh
tamas yang menguasai alam pikiran. Akibatnya orang yang alam pikiran. Akibatnya
orang yang alam pikirannya demikian cenderung bodoh, senang tidur dan
sebagainya.
-
Viksipta artinya bingung atau kacau
Hal ini disebabkan
oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini pikiran mampu mewujudkan
semua objek dan mengarahkan pada kebijakan, pengetahuan dan sebagainya. Ini
merupakan tahap pemusatan pikiran pada suatu objek namun sifatnya sementara
sebab akan disusul lagi oleh kekuatan pikiran. Yaitu keadaan pada saat sifat Sattva melampaui, dan pikiran goyang
antara meditasi dan objektivitas. Sinar pikiran secara perlahan berkumpul dan
bergabung. Bila sifat Sattva meningkat,
akan memiliki kegembiraan pikiran, pemusatan pikiran, penaklukan indriya-indriya
dan kelayakan untuk perwujudan atman.
-
Ekagra artinya terpusat
Di sinilah citta terhapus dari
cemasnya rajas sehingga satwamlah yang menguasai pikiran. Ini
merupakan awal pemusatan pikiran pada sauatu objek yang menginginkan ia
mengetahui alam nya yang sejati sebagai persiapan untuk menghentikan
perubahan-perubahan pikiran. Yaitu pada saat pikiran terpusat dan terjadi
meditasi yang mendalam sifat Sattva
terbebas dari sifat Rajas dan Tamas.
-
Nirodha artinya terkendali semua pikiran, hanya ketenanganlah
yang ada.
Semua Vrtti
pikiran dilenyapkan. Vrtti merupakan
kegoncangan atau gejolak pikiran dalam danaunya pikiran. Setiap Vrtti
atau perubahan mental meninggalkan sesuatu samskara
atau kesan-kesan atau kecenderungan yang terpendam.
Ekagra dan nirudha merupakan
Persiapan dan bantuan untuk mencapai tujuan. Lahir yaitu kelepasan. Ekagra bila
dapat berlangsung terus-menerus disebut samprajanata (sadar) yoga
atau meditasi yang dalam, yang padanya ada perenungan kesadaran akan sesuatu
objek yang terang. Ada objek kosentrasi yang pasti, di situ pikiran tetap sadar
akan objek tersebut. Tingkatan nirudha juga
disebut asamprajnata (supra sadar) yoga, karena semua
perubahan dan goncangan pikiran berhenti, tiada satu pun diketahui lagi oleh
pikiran, dalam keadaan demikian tak ada riak-riak gelombang kecil sekalipun
pada permukaan alam pikiran atau citta itu. Inilah yang
dinamakan orang Samadhi dalam ajaran yoga.
Ada empat macam samprajnata dalam
ajaran Yoga menurut jenis objek renungannya. Keempat jenis samprajnata itu
ialah:
a. Sawitarka (dengan
pertimbangan)
Ialah
bila pikiran itu dipusatkan pada suatu objek yang benda kasar seperti arca dewa
atau dewi.
b. Nirvitarka (tanpa
pertimbangan)
c. Sawicara (dengan renungan)
Ialah
pikiran itu dipusatkan pada suatu objek
yang halus yang tidak nyata seperti tanmatra.
d.
Nirvicara
(tanpa renungan)
e. Sananda (dengan kegembiraan)
Ialah bila pikiran itu dipusatkanpada suatu objek
yang halus seperti rasa indria.
f. Sasmita (dengan
arti kepribadian)
Ialah bila pikiran itu dipusatkan pada asmita yaitu
anasir rasa aku yang biasanya Roh menyamakan dirinya dengan anasir ini.
Dengan tahapan-tahapan pemusatan pikiran seperti
yang disebut di atas maka ia akan mengalami bermacam-macam fenomena alam, objek
dengan atau tanpa jasmani yang meninggalkannya satu persatu hingga akhirnya
citta meninggalkannya sama sekali dan seseorang mencapai tingkat asamprajnata
dalam yoganya. Untuk mencapai tingkat ini orang harus melaksanakan praktik yoga
dengan cermat dan dalam waktu yang lama melalui tahap-tahap yang disebut
Astangga Yoga.
8. SANG HYANG WIDHI DALAM AJARAN YOGA
Perenungan;
Yo
báūtaṁ ca bhavyaṁ ca sarvaṁ yaṡ cādhitiṣþhati,
svar
yasya ca kevalaṁ tasmai jyeṣþhāya brahmaṇe namaá.
terjemahannya;
’Tuhan
Yang Maha Esa ada di mana-mana, baik dimasa lampau, di masa kini maupun di masa
datang. Dia berbahagia sepenuhya. Kami menghaturkan persembahan (korban) ke
hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung (Mahkluk Agung itu) (Atharvaveda
X.7.35).
Memahami
Teks:
Patanjali menerima eksistensi Sang
Hyang Widhi (Isvara) dimana Sang Hyang Widhi menurutnya adalah The Perfect
Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan
Maha ada. Sang Hyang Widhi adalah purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi
oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas
dari Karma, Karmaphala dan impresi-impresi yang bersifat laten.
Patanjali beranggapan bahwa
individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Sang Hyang Widhi, akan
tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan
dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Sang Hyang Widhi dan
menjadi korban dari dunia material ini.
Tujuan dan aspirasi manusia
bukanlah bersatu dengan Sang Hyang Widhi, tetapi pemisahan yang tegas antara
Purusa dan Prakrti (Sarasamuccaya, hal 371). Hanya satu Tuhan (Sang Hyang
Widhi). Menurut Vijnanabhisu: “dari semua jenis kesadaran meditasi, bermeditasi
kepada kepribadian Sang Hyang Widhi adalah meditasi yang tertinggi.
(Sarasamuccaya, 372) Ada bebagai obyek yang dijadikan sebagai pemusatan
meditasi yaitu bermeditasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, bermeditasi
kepada suatu tempat yang ada pada tubuh kita sendiri dan yang tertinggi adalah
bermeditasi yang di pusatkan kepada Sang Hyang Widhi.
Kebodohan menyatakan bahwa ada
dualisme dari satu realitas yang disebut Sang Hyang Widhi (Tuhan). Ketika
kebodohan dihilangkan oleh pengetahuan maka dualisme hilang dan kesatuan penuh
akan dicapai. Ketika seseorang mengatasi kebodohan maka dualisme hilang, ia
menyatu dengan The Perfect Single Being tetapi kesempurnaan The Single Being
itu selalu ada dan tetap tersisa sebagai sesuatu yang sempurna dan satu. Tak
ada perubahan dalam lautan, seberapa banyakpun sungai-sungai yang mengalirkan
airnya dan bermuara padanya. Ketidak berubahan adalah keadaan dasar dari
kesempurnaan
Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.
Bagaimana cara untuk mengendalikan diri baik dari unsur
jasmani maupun rohani?
2.
Bagaimana sebaiknya beretika dalam pelaksanaan yoga?
3.
Bagaimana pandangan ajaran yoga terhadap Tuhan?
4.
Bagaimana keberadaan Tuhan itu sendiri dalam ajaran Yoga?
5.
Dalam ajaran Yoga, apakah yang dimaksud Tuhan itu?
9. NADI
DAN CHAKRA
- NADI
Jumlah nadi di tubuh manusia sekitar 3 ½ kror ( 1
kror = 10 juta), sebagian kasar dan sebagian halus. Nadi berarti syaraf atau
pembuluh darah antery (nadi), tetapi didalam yoga nadi yang dimaksud itu bukan
yang bersifat fisik tetapi saluran energy halus. Dari 35 juta jumlah nadi itu
yang terpenting ada 14 dan yang paling penting ada tiga yaitu : Ida, Pingala
dan Sushumna.
Sushumna terletak di rongga meru dandha (tulang
belakang) didalam sumbu saluran cerebo spinal, dari tulang ekor sampai ke
daerah otak. Didalam sumshumna terdapat wyrini nadi berbentuk api (wahni
swarupa) dalam perwujudan surya (surya swarupa).
Ida berwarna pucat seperti bulan dan mengandung amrita.
Pingala berwarna merah seperti matahari mengandung racun, cairan yang
menyebabkan kematian. Ketiga nadi ini akhirnya bersatu di Ajna Chakra (
diantara dua alis) dan dari tempat itulah berpisah karena itu disebut juga
Mukta Triweni sedangkan tempat awal bertemu adalah di tulang ekor di Muladara
Chakra atau Yukta Triweni. Nama lain dari Ida adalah Gangga. Pinggala : Yamuna
dan Sushumna : Saraswati. Pintu terbuka pada dasar Sushumna di muladara chakra
disebut Brahma Dwara yang ditutup oleh Dewi Kundalini yang tertidur melingkar 3
½ lingkaran disana.
Untuk membersihkan ke tiga nadi tersebut agar
saluran energy bathin tidak terganggu dipergunakan Chakra Nadi Suddhi
(pembersihan nadi) yaitu salah satu teknik Pranayama. Apabila Nadi Suddhi
dilatih dengan tepat selama 20 menit sekali latihan perhari 4x selama 4 bulan
maka ke tiga nadi tersebut sudah bersih dan Brahma Dwara akan terbuka sehingga
Kundalini bias bergerak masuk melewati suhsumna menuju ke Siwa Dwara
(ubun-ubun).
Dalam hal ini Nadi merupakan saluran psikhis agar
memutuskan jalannya energy psikhis yang ada di tubuh yaitu energy Kundalini.
Sedangkan pusat-pusat energy psikhis ditubuh ada pada masing-masing Chakra
- CHAKRA
Chakra utama jumlahnya ada tujuh dan terletak pada
bagian urat syaraf tulang belakang, dari titik paling bawah pada pireneum
sampai ujung kepala. Chakra tersebut diberi kekuatan melalui suatu jaringan
saluran jiwa yang disebut Nadi yang berhubungan pada tingkat yang lebih besar
pada syaraf-syaraf dalam jaringan syaraf.
Chakra-chakra tersebut dilukiskan secara simbolis
sebagai bunga-bunga teratai, masing-masing mempunyai jumlah daun bunga yang
khusus dan warna yang khas.
Tujuh
macam chakra utama adalah :
1. Muladhara
Chakra (Chakra Dasar) = Tanah
Muladhara adalah Chakra paling bawah. Mula = Akar, Adhara = tempat. Muladhara disebut pusat asal karena merupakan
pusat atau tempat tinggal dari kekuatan utama yaitu Kundalini Sakti. Kundalini
tersebut ada dalam wujud seekor ular yang tidur nyenyak, yang membelitkan
dirinya pada lingga suayambhu itu merupakan sumber segala kekuatan pada manusia
dan alam semesta, apakah kekuatan seksual, emosi, mental, jiwa atau spiritual.
Muladhara ialah ruang segitig tepat ditengah-tengah
badan sebelah bawah, dengan ujung segitiga menuju ke bawah seperti yoni gadis
kecil. Dilukiskan seperti padma merah, berdaun bunga empat lembar, letaknya
persis diantara pangkal kemaluan dan anus. Tanah
berasal dari air itulah tattwa
chakra ini. Empat daun bunganya itu berwarna kuning keemasan, masing-masing
memancarkan getaran suara aksara Wang,
Shang, Sang,Sang.
2. Swadhishthana
Chakra (Chakra Sex) = Air
Diantara Muladhara pada bagian tulang belakang
tepatnya dibelakang alat kelamin adalah Swadhisthana Chakra. Sua = sendiri, Sthana = tempat tinggal. Jadi artinya tempat tinggal dari sendiri.
Pada tingkat fisik, Swadhisthana sebagian besar dihubungkan dengan alat-alat
pengeluaran dan reproduksi.
Swadhisthana seperti kembang padma berdaun bunga
enam lembar terletak di tengah-tengah badan pada lewel pangkal kemaluan, di
atas muladhara dan dibawah pusar. Lingkaran sari bunga berwarna merah,
sedangkan daun bunganya mengkilat seperti kilat. Air berasal dari Api merupakan tattwa chakra ini. Getaran
aksara daun-daun bunga itu ialah Bang,
Bhang, Mang, Yang, Rang dan Lang.
3. Manipura
Chakra ( Chakra Pusar) = Api
Manipura berarti kota permata (Manu = permata, Pura =
kota). Chakra ini disebut demikian karena merupakan pusat api, panas dan
berkilau seperti sebuah permata, bersinar dengan kekuatan dan energi. Manipura
chakra adalah pusat halus yang mengatur aktivitas jaringan syaraf simpati
dibelakang lambung mengenai proses pencernaan serta penyerapan makanan juga
fungsi kelenjar lambung, perut seperti pancreas, kandung empedu dan kelenjar
yang berbeda dalam perut merupakan hasil dan sekresi dan enzim, asam dan getah
yang penting untuk pencernaan makanan sebelum menyebarkan ke seluruh bagian
tubuh.
Manipura adalah pusat kekuatan dalam tubuh psikhis
dan fisik yang mana prana (kekuatan yang bergerak ke atas) dan apana (kekuatan
yang bergerak ke bawah) bertemu, yang menghasilkan panas (pranapana) yang
penting untuk menyangga kehidupan.
Manipura chakra padma keemasan berdaun bunga sepuluh
terletak di sekita daerah pusar. Api
berasal dari Udara merupakan tattwa
dari chakra ini. Daun-daun bunga itu warnanya seperti awan, diselubungi di
atasnya warna-warna biru dengan suara aksara Dang, Dhang, Nang, Tang, Thang, Dang Dhang, Nang, Pang, Phang.
4. Anahata
Chakra (Chakra Jantung) = Udara
Secara harfiah berarti tidak berbunyi (an : tidak,
hata : berbunyi). Semua suara dialam semesta yang nyata ini dihasilkan oleh
benda-benda yang berbunyi bersama-sama yang menyebabkan getaran atau gelombang
suara, tetapi suara yang keluar dari luar dunia material sebagai suara pertama,
merupakan sumber dari segala suara dan merupakan anahata nada (suara).
Anahata pada tingkat fisik dihubungkan dengan
jantung, paru-paru serta system peredaran darah dan pernafasan. Kelenjar yang
berhubungan dengan chakra ini adalah thymus. Anahata
chakra berbentuk kembang padma merah gelap dengan dua belas daun bunga,
terletak di sekitar daerah jantung.Udara berasal
dari Ether demikian tattwa di chakra
ini. Pada masing-masing daun bunga yang berwarna merah gelap itu terdapat
getaran warna kang, Khang, Gang, Ngang,
Chang, Chhang, Jang, Jhang, Nyang, Tang, Thang.
5. Vishudha
Chakra (Chakra Tenggorokkan /Kanta Mula) = Ether
Visuddhi chakra adalah pusat pembersihan (Visuddhi :
membersihkan), terletak di pusat tenggorokan yang mana adalah tempat minuman
dewata Amrta dirasakan. Visuddhi chakra mempengaruhi pita suara dan
daerah pangkal tenggorokan, kelenjar gondok dan paratiroid. Penyakit-penyakit pada bagian tubuh fisik ini
dapat disembuhkan dengan berkosentrasi secara sungguh-sungguh pada chakra ini.
Kelenjar yang berhubungan denga chakra ini adalah tyroid.
Visuddhi chakra atau Bharatisthana, tempat kedudukan
dewi yang menguasai ucapan, terletak pada ujung bawah kerongkongan (kantha
mula). Tattwa chakra ini ialah Ether. Padma di sini kelihatan seperti
api yang dilihat melalui asap. Berdaun bunga enam belas, warna aksara merah
berbunyi : Ang, Ang, Ing, Ing, Ung, Ung,
Ring, Ring, Lring, Lring, Eng, Ang, Ong, Aung, Ang, Ah.
6. Ajna
Chakra (Chakra Parama Kula/ diantara alis) = Jiwa halus
Chakra ini dikenal sebagai mata ketiga : yaitu Jnana Caksu (mata kebijaksaan), trikuti
atau triveni (pertemuan tiga sungai) Bhrumadhya (pusat alis), Guru chakra, dan
mata siva. Kata Ajna berarti
perintah.
Ajna chakra juga dinamakan parama kula dan mukta tri
weni, karena dari sini tr-nadi yaitu Ida, Pinggala, dan Sushumna berpish menuju
ke tujuan masing-masing. Ajna chakra ini seperti kembang padma yang berdaun
bunga hanya dua helai, terletak disela-sela alis mata. Disini tidak terdapat
tattwa dari maha bhuta yang kasar itu lagi, tetapi tattwa yang halus dari jiwa
mulai muncul disini. Pada kedua helai daun bunganya itu terdapat warna merah
dengan bunyi Hang dan Kshang.
7. Sahasra
Chakra ( Chakra Mahkota/ubun-ubun)
-
Manas chakra
Chakra
ini seperti kembang padma berdaun bunga enam helai yaitu tempat kedudukan Shabda jnana (daya mendengar), Sparsha jnana (rasa sentuh), Rupa jnana (penglihatan), aghrano palabdhi (penciuman), rasopabhoga (rasa kecap) dan swapna (ketiadaan semuanya).
-
Soma chakra
Chakra
ini terletak diatas manas chakra, disudut atas bagian belakang kepala,
merupakan pusat yang dikenal sebagai bindu (suatu titik atau tetesan). Pusat
bindu ini adalah pusat kosentrasi sangat penting yang digunakan untuk merasakan
suara-suara bathin yang jelas ada. Dilambangkan dengan bulan sabit kecil pada
malam terang bulan.
Soma
chakra berdaun bunga enam belas yang juga disebut 16 kala.
-
Niralamba puri (padma anglayang)
Diatas
chakra ini terdapat niralamba puri (padma nglayang dan rumah tanpa penunjang).di
atas inilah terlihat pranawa itu bersinar seperti api dan diatasnya itu
terlihat kepingan bulan sabit yang putih, yaitu Nada dan diatasnya ini terdapat
titik terkahir Windhu. Di sana itulah terlihat adanya kembang padma putih
berdaun bunga dua belas dengan permukaan mengarah keatas, diatasnya itu
terdapat samudra amrita (sudha sagara), dengan pulau batu permata (mani dwipa),
tempat pemujaannya terbuat dari batu permata (mani pitha).
-
Sahasrara padma
Sahasrara
sebenarnya bukan chakra tetapi tempat kesadaran tertinggi. Ini dilukiskan
sebagai bunga teratai yang berkilau dengan beribu-ribu daun bunga yang berisi
semua huruf dari abjad sansekerta, bersama-sama dengan semua kekuatan yang
dihubungkan dengan setiap suara (lima puluh jumlahnya) lebih dari dua puluh
kali. Di tengah-tengah bunga teratai itu ada lingga Siva yang bercahaya, lambang
dari kesadaran suci. Dalam Sahasrara inilah penyatuan mistis Siva dan sakti
terjadi, perpaduan kesadaran dengan materi dan kekuatan, jiwa individu dengan
jiwa tertinggi.
10. MEMPRAKTIKKAN
SIKAP-SIKAP YOGA
Walaupun yoga diklasifikasikan ke dalam empat
disiplin yang berbeda, tidak ada satu pun yang bersifat istimewa, superior atau
lebih rendah dari yang lain. Semuanya sama pentingnya dan disebutkan dalam
kitab Hindu. Kecocokan disiplin tertentu bergantung dari mental, intelektual
dan dimensi emosional dan hubungannya dengan karma dari pribadi seseorang.
Ketika kata yoga digunakan di Negara barat, secara
umum ini berarti Hatha Yoga, yang merupakan latihan fisik dalam system hindu
kuno dan teknik pernafasan yang dirancang untuk menjaga tubuh yang sehat. Kitab
Hindu menggunakan kata yoga sebagai sinonim dari sadhana, yang berarti
spiritual displin.
Jika yoga rutin dilakukan dalam kehidupan ini,
kesejahteraan dan kebahagiaan pendidik dan peserta didik pada khususnya serta
umat sedharma pada umumnya dapat terwujud.
11.
Aplikasi
Ajaran Yoga Dalam Kehidupan Sehari – hari
Ada banyak jalan untuk mencapai kebenaran tertinggi.
Jalan yang berbeda-beda itu tampakanya memiliki tujuan yang sama yaitu sebuah
penyatuan tertinggi antara Atman dengan Brahman. Kita lahir berulang kali untuk
meningkatakan perkembangan evolusi jiwa. Dan masing-masing dari kita berada
pada tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Karena itu tiap orang disiapkan untuk
tingkat pengetahuan spiritual yanag berbeda pula. Semua jalan rohani yang ada
di dunia ini penting karena ada orang-orang yang membutuhkan ajarannya.
Penganut suatu jalan rohani dapat saja tidak memiliki pemahaman lengkap tentang
sabda Tuhan dan tidak akan pernah selama masih berada dalam jalan rohani
tersebut.
Jalan rohani itu merupakan sebuah batu loncatan
untuk pengetahuan yang lebih lanjut. Setiap jalan rohani memenuhi kebutuhan
rohani yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh jalan rohani yang lain. Tidak
satupun jalan rohani yang memenuhi kebutuhan semua orang di segala tingkat.
Saat satu individu masih tingkat pemahamannya tentang Tuhan dan perkembangan
dalam dirinya, dia mungkin merasa tidak terpenuhi oleh pengajaran jalan rohani
sebelumnya dan mencari jalan rohani yang lain untuk mengisi kekosongannya. Bila
hal itu terjadi, maka orang tersebut telah meraih tingkat pemahaman yang lain
dan akan merindukan kebenaran serta pengetahuan yang lebih luas, dan
kemungkinan lain untuk tumbuh.
Dengan
demikian kita tidak berhak untuk mencerca jalan rohani yang lain. Semua
berharga dan penting di mata-Nya. Ada pemenuhan sabda Tuhan, akan tetapi
kebanyakan oaring tidak memperolehnya di sini untuk bisa meraih kebenaran, kita
perlu mendengarkan roh dan melepas ego kita. Dan Yoga sebagai salah satu jalan
yang bersifat universal adalah salah satu jalan rohani dengan tahapan-tahapan
yang disesuaikan dengan kemampuan spiritual seseorang.
Berikut aplikasi yoga
dalam kehidupan sehari – hari :
a. Melakukan
Persembahyangan
Sembahyang adalah merupakan ajaran Bhakti – Yoga,
dimana Bhakti Yoga adalah jalan bagi pengabdian diri, pemujaan, dan penyerahan
diri kepada Tuhan. Para pemuja dalam jalan ini memuja Tuhan dalam berbagai
bentuk yang ia punyai. Jalan ini adalah penyadaran yang sesuai dengan
orang-orang yang terberkahi dengan pikiran yang emosional. Para pemuja dalam
jalan ini secara inisial memilih salah satu Dewa (Ista-Dewa), yang sesuai
temperamen dirinya, untuk mewujudkan tujuan spiritual. Tujuan dari jalan
spiritual adalah melebur ego dari seorang individu melalui pengabdian dan
penyerahan diri pada keinginan Tuhan (Pandit, 2005:73).
Bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada
Tuhan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan, ia
tak pernah membenci mahluk atau benda apapun dan tak pernah tertarik dengan
objek-objek duniawi, ia merangkul semuanya dalam dekapan hangat kasih sayangnya
(Sivanandha, 2003:135).
Sembahyang
dapat memelihara kesehatan seseorang. Dengan melakukan Asana atau sikap duduk
Padmasana, dimana tulang punggung, leher dan kepala harus tegak lurus (tidak
membungkuk), kemudian dengan Pranayama (pengaturan nafas) dengan sikap batin
yang hening, tenang dan suci, akan menjadikan tubuh seseorang semakin sehat.
(Suhardana, 2004:3-4).
b. Menghormati Orang Tua / Guru
Paramahamsa Yogananda (dlm Autobiography of a yogi)
menguraikan bahwa jika dalam sehari saja kita dapat membahagiakan, mematuhi dan
menghormati Orang Tua dan Guru hanya dengan menghormati dan menyayangi orang
tua, kita sudah dianggap berlatih yoga selama delapan jam secara intensif di
bawah bimbingan Guru sejati serta dianggap telah melakukan perjalanan evolusi
yang seharusnya ditempuh secara alami selama seribu
tahun. Melalui Bhakti Sang Yogi memperoleh kedekatan hubungan dengan
Tuhan sebagai pribadi kosmik tertinggi (Para Brahman) Yoga belumlah sempurna
tanpa Bhakti, sehingga sering dikatakan bahwa Bhakti merupakan puncak dari
segala yoga.
c. Ahimsa
/ Tidak Menyakiti
Dalam buku yang berjudul Disiplin dan Sadhaana
Spiritual. Kegiatan tersebut merupakan ajaran yoga dimana tidak membunuh
merupakan ajaran daripada Ahimsa. Ahimsa merupakan bagian dari pada astangga
yoga, Ahimsa merupakan tahap awal untuk mengendalikan diri. Jika tahap awal ini
gagal dicapai maka sulit atau tidak bisa untuk mencapai tahap yang lebih tinggi
yaitu Samadhi.
“Engkau tidak boleh menggunakan tubuh yang diberikan
Tuhan untuk membunuh makhluk Tuhan, apakah mereka manusia, binatang atau
apapun.” (Yajur Veda Samhita 12.32).
Yang di maksud tidak menyakiti makhluk lain yaitu
tidak membunuh binatang sembarangan, kita harus mengasihi makhluk tersebut. Ini
termasuk kedalam Ahimsa salah satu ajaran yoga. Walaupun ahimsa secara umum
berarti sebagai kebajikan dari pendeta Budha dan jainisme, akarnya tumbuh dalam
Veda dan Upanisad yang subur yang merupakan kitab Hindu yang utama.
Ahimsa
mengajarkan bahwa seseorang harus menganggap semua makhluk hidup adalah
perlambang dari Tuhan dan sehingga seseorang itu tidak boleh melukai pikiran,
dengan kata-kata atau perbuatan mahluk lainnya.
d. Membantu
Orang Tua / Bekerja Tanpa Mengharap Imbalan (Pamrih)
Menurut buku Hinduisme sebuah pengantar dalam buku
tersebut dijelaskan mengenai Bhakti. Bhakti dalam artian adalah berbhakti
kepada orang tua dengan membantu kedua orang tua disaat kesulitan dengan tidak
mempersulit keadaaan. Dengan jalan Bhakti seseorang akan mudah mencapai kehidupannya.
Kegiatan di atas termasuk kedalam ajaran Karma Yoga.
Karma Yoga adalah jalan kegiatan yaitu jalan pelayanan tanpa pamrih, yang
membawa pencapaian Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan
penolakan akan buah dari perbuatan. Karma Yoga mengajarkan ke pada kita
bagaimana bekerja demi untuk kerja itu sendiri yaitu tak terikat. Dan bagaimana
mempergunakan sebagian besar tenaga kita untuk keuntungan yang terbaik. Motto
dari seorang Karma-Yogin adalah “Kewajiban demi untuk kewajiban itu sendiri”.
Bagi seorang Karma-Yogin, kerja adalah pemujaan. Setiap orang hendaknya
melakukan kewajiban sesuai dengan Warna dan asramanya masing-masing golongan
sosial serta tahapan dalam kehidupannya. Tak ada manfaatnya meninggalkan
pekerjaannya sendiri dan condong melakukan pekerjaan orang lain. (Sivanandha,
2003:133-134).
e. Konsentrasi Dalam Suatu Kegiatan
Tindakan memegang, membawa, menguasai, dan memiliki
(Zoetmulder, 1995:196). Maharsi Patanjali mengajarkan 3 cara dharana, yaitu:
a. Menguasai
indra-indra agar tetap terkonsentrasi pada satu objek saja, tetap dibawah
pengawasan manah (pikiran)
b. Menentramkan
gerak-gerik pikiran dengan watak lemah lembut, ceria, penuh kasih sayang dan
tenang baik dalam keadaan duka maupun suka,
c. Mengkonsentrasikan
indra tersebut pada nafas yang keluar masuk tubuh (Yogasutra, I:32-25).
Dharana yang merupakan pengkonsentrasian pikiran
terhadap suatu objek. Tanpa kosentrasi, kita tidak dapat memiliki suatu
keberhasilan dalam jalan kehidupan. Pada seorang manusia duniawi, pancaran pikiran
berpencar kesegala arah, melompat-lompat seperti seekor kera. Sekali saja
Pratyahara telah dapat dilakukan, pikiran kemudian diarahkan kepada objek
konsentrasi. Objek tersebut dapat berupa gambaran dari Dewa, sebuah mantra,
nafas seseorang atau bagian tubuh, atau hal yang lain. (Pandit, 2005:82).
d. Berjapa
Yoga dan Gayatri Sadhana
Japa Yoga dijelaskan tentang mantra dapat mengubah
sifat kita menjadikan lebih halus, lembut dan lebih tenang. Japa adalah
pelafalan mental atau diam mengingat sebuah mantra yang perlahan-lahan
membangkitkan getaran energi dalam ruang atau medan pikiran. Selain itu didalam
Gayatri Sadhana dijelaskan pelaksanaan meditasi Gayatri dapat menghancurkan
segala karma dan dosa dan dengan pemurnian hati serta pikiran, ia membukakan penglihatan
ketiga guna pencerahan; dengan mantramu manusia dapat hidup lama atau berumur
panjang dengan kesehatan yang prima, bersinar laksana cahaya dan membantu umat
manusia dalam mempercepat evolusinya. Hal tersebut disebutkan dalam buku yang berjudul
Japa Yoga dan Gayatri Sadhana.
e. Merenung
/ Pemusatan Pikiran
Ini termasuk
kedalam ajaran Dhyana, berarti meditasi, refleksi, atau pemusatan pikiran
(Zoetmulder, 1995:245), disebut juga kontemplasi atau renungan mendalam.
Patanjali menjelaskan “tatra pratyaikatanata dhyanam” artinya, “arus pikiran
terkonsentrasi tak putus-putusnya pada objek renungan” (Yogasutra, III:2).
Seperti halnya air sungai yang menuju laut, demikian pulalah hendaknya renungan
itu terpusat pada Isvara “Tuhan” (Sukayasa dkk, 2006:27-28)
Renungan
mendalam itu sesungguhnya adalah Samadhi. Orang yang merenung (pemikir),
aktivitas merenungnya (pemikirannya), dan yang direnungkan (objek yang
dipikirkan).
Di
kutip dari http://suartawanindra.blogspot.co.id/2014/01/ajaran-yoga-dalam-kehidupan-sehari-hari.html
.
12. GERAKAN-GERAKAN
YOGA
1. Pranamasana
Om Mitraya Namah (penghormatan
pada teman semua)
Nafas
: Normal
Kosentrasi
: pada Hanahata chakra
Manfaatnya
: membentuk suatu keadaan kosentrasi dan ketenangan dalam persiapan untuk
latihan yang dilakukan.
2. Hasta
Uttanasana
Om Ravaye Namah (penghormatan
kepada sinar yang cemerlang)
Nafas
: tariklah nafas ketika mengangkat kedua lengan
Kosentrasi
: pada Visuddhi chakra
Manfaatnya
: merenggangkan isi perut, menghilangkan lemak, dan memperbaiki pencernaan,
dapat menyelaraskan urat-urat syaraf, tulang belakang dan membuka seluruh bilik
paru-paru.
3. Padahastasana
Om Savitre Namaha
(hormat pada ibu yang penuh kebajikan)
Nafas
: hembuskan dan mengerutkan daerah perut.
Kosentrasi
: Svadistana chakra
Manfaatnya
: mencegah sakit perut, mengurangi kelebihan lemak, memperbaiki pencernaan,
membantu menghilangkan sembelit, memperbaiki peredaran darah, membuat tulang belakang
lemas dan menyelaraskan syaraf-syaraf tulang belakang.
4. Asva
Sancalanasana
Om Aditya Namaha
(hormat kepada putra Aditi)
Nafas
: tarik nafas
Kosentrasi
: Anja chakra
Manfaatnya
: memijat organ-organ perut dan memperbaiki fungsinya, otot-otot kaki akan
diperkuat, keseimbangan urat akan tercapai.
5. Parvatasana
Om Khagaya Namah
(hormat pada yang bergerak cepat dilangit)
Nafas
: hembuskan nafas
Kosentrasi
: Visuddhi chakra
Manfaatnya
: menguatkan syaraf dan otot-otot pada kedua lengan dan kaki, melenturkan
tulang belakang, menyelaraskan urat syaraf tulang belakang dan memberikan
syaraf-syaraf tersebut aliran darah yang segar.
6. Astanga
Namaskara
Om Puspe Namah (hormat
pada pemberi kekuatan)
Nafas
: tanpa pernafasan
Kosentrasi
: Manipura chakra
Manfaatnya
: menguatkan otot-otot kaki dan lengan, memperkuat dada.
7. Bhujangasana
Om Hiranya Garbhaya Namah (hormat
kepada tri kosmis keemasan)
Nafas
: tarik nafas
Kosentrasi
: Svadhistana chakra
Manfaatnya
: membantu menekan daerah yang berhenti dari organ-organ perut dan mendorong
aliran darah segar, baik untuk semua penyakit perut, melemaskan otot-otot,
memberikan syaraf tulang belakang yang paling penting.
8. Parvatasana
Om Maricaye Namaha
(hormat pada penguasa fajar)
Nafas
: hembuskan nafas
Kosentrasi
: Visuddhi chakra
9. Asva
Sancalanasana
Om Bhanave Namah
(hormat kepada yang menerangi)
10. Padahastasana
Om Suryaya Namah
(hormat kepada yang menyebabkan kegiatan)
11. Hasta
Uttanasana
Om Arkaya Namaha
(hormat pada yang pantas dipuji
12. Pranamasana
Om Bhaskaraya Namah
(hormat pada yang membawa pencerahan)
13. GAMBAR-GAMBAR
GERAKAN YOGA

B.
Menyimak Sloka
Petunjuk
1. Musuh
manusia yang paling utama adalah musuh yang munculnya dari dalam diri sendiri,
seperti yang dijelaskan dalam Bhagawadgita.
2. Baca
sloka Bhagawadgita bab III Sloka 37 dibawah, kemudian tulis artinya!
3. Tulis
pula nilai-nilai/nasihat yang perlu kita pahami dan laksanakan dalam kehidupan
sehari-hari!
“kama esa krodha esa
Rajoguna samudbhavah
Mahasano mahapapna
Yiddhy enam iha vairinam”
Artinya
:
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Nilai-nilai
:
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
C. Amatilah
praktik ajaran yoga yang ada di sekitar lingkunganmu! Buatlah laporan
berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan! Sebelumnya, diskusikanlah
dengan orangtuamu di rumah.
D. Sejak
kapan praktik ajaran yoga berkembang disekitar wilayahmu, dan bagaimana respon
masyarakat sekitarnya?
E. Latihlah
dirimu untuk beryoga setiap saat, selanjutnya buatlah laporan tentang perkembangan
yoga yang kamu lakukan baik secara fisik maupun rohani!
F. Manfaat
apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari beryoga? Tuliskanlah
pengalamanmu!
G. Bila
seseorang melaksanakan yoga tanpa mengikuti tahapan-tahapannya, apakah yang
akan terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik dengan huruf Times New
Roman – 12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kuarto ; 4-3-3-4!
UJI KOMPETENSI
Jawablah
pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.
Apa yang dimaksud dengan Nadi dan
Chakra?
2.
Sebutkan 3 (tiga) macam Nadi yang
terpenting di dalam latihan yoga!
3.
Sebutkan 7 (tujuh) macam Chakra yang
utama!
4.
Apa yang dimaksud dengan Muladhara
Chakra dan dimana letaknya?
5.
Apa yang dimaksud dengan Prana dan
Pranapana?
6.
Apa Tattwa yang terdapat dalam Anahata
Chakra?
7.
Jelaskan apa yang anda ketahui tentang
Ajna Chakra?
8.
Sebutkan 4 (empat) bagian Sahasrara
Chakra!
9.
Coba sebutkan dan jelaskan sikap-sikap
yoga yang dapat menyembuhkan macam-macam penyakit!
10.
Apa pengaruh praktik yoga dalam
kehidupan sehari-hari?
Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Sang Hyang Widhi, tetapi karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Sang Hyang Widhi dan menjadi korban dari dunia material ini.
BalasHapusIni bisa di jelaskan nggih, mengapa beliau bisa beranggapan seperti diatas.. terimakasih