MATERI YOGA MENURUT SUSASTRA HINDU


BAB 1

YOGA MENURUT AGAMA HINDU

Kompetensi Inti        
 KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
 KI 2: Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
 KI 3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
 KI 4: Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar
KD Spiritual
1.1 Menghayati Yoga Asanas secara teori dan praktek menurut Susastra Hindu
KD Sosial
2.1 Mengamalkan perilaku displin melaksanakan Yoga Asanas dalam kehidupan
KD Pengetahuan
3.1 Menerapkan Yoga Asanas menurut Susastra Hindu
KD Keterampilan
4.1 Menyajikan Yoga Asanas menurut Susastra Hindu

Indicator
1.      Menjelaskan pengertian dan hakikat yoga
2.      Menguraikan sejarah dan ruang lingkup ajaran yoga
3.      Menguraikan sumber-sumber ajaran yoga
4.      Menyebutkan aturan-aturan yoga
5.      Menyebutkan tujuan dan  manfaat latihan yoga
6.      Menguraikan ajaran astangga yoga
7.      Menguraikan etika dalam yoga
8.      Menguraikan Sang Hyang Widhi dalam ajaran Yogasana
9.      Menguraikan pengertian Nadi dan Chakra
10.  Menguraikan Aplikasi Yoga dalam kehidupan sehari-hari.
11.  Mempraktekkan sikap-sikap yoga

1.      PENGERTIAN YOGA
Sa sacra siksa puruhuta no dhiya.”
Artinya :
“ Ya, Tuhan Yang Maha Esa, tanamkanlah pengetahuan kepada kami dan berkahi kami dengan intelek yang mulia.”

Seorang siswa hendaknya tiada henti-hentinya mempertajam kepandaiannya, memiliki ingatan yang kuat (melalui latihan), mengikuti ajaran suci veda. Selain itu juga memiliki ketekunan dan keingintahuan, melatih kosentrasi (penuh perhatian), menyenangkan hati guru (dengan mematuhi perintahnya), mengulang-ulang pelajaran, jangan mengantuk (karena sebelumnya kurang tidur), malas dan bicara tanpa arti.

Mengamati Lingkungan
Sikap yang paling sederhana dalam kehidupan beragama adalah cinta kasih dan pengabdian (bhakti yoga). Para pengikut yoga mewujudkan Tuhan sebagai penguasa dengan rasa mendalam sebagai bapak, ibu kakak, kawan, tamu dan sebagainya. Tuhan adalah penyelamat, maha pengampun, dan maha pelindung.

Era globalisasi sekarang ini menuntut kita untuk dapat beraktivitas sekuat tenaga dan pikiran, yang terkadang melebihi kemampuannya. Hal ini terjadi tidak saja di kalangan masyarakat perkotaan, tetapi juga sampai ke pelosok desa. Beban fisik dan rohani yang berlebihan menyebabkan kita sakit. Sedapat mungkin hindarkanlah diri dari beban yang berlebihan. Adakah yoga dapat mengatasi semuanya itu?

Memahami teks
Yoga berasal dari urat kata “Yuj” yang berarti hubungan/menuju Tuhan (menghubungkan diri kepada Tuhan). Yoga merupaka salah satu cara penghubungan, pengaitan atau persatuan jiwa individu dengan Hyang Widhi. Yoga juga berarti persatuan jiwa dengan Paramatman.

Pendiri Yoga adalah maharsi Patanjali. Beliau membahas Yoga dalam bukunya yang berjudul “Yoga Sutra”. Beliau mendefinisikan Yoga adalah pengendalian pikiran. Pikiran dapat dikendalikan dengan mempraktekkan secara terus menerus, dan melepaskan diri dari  ikatan duniawi.
Pengertian yoga dari beberapa kitab suci dan para yogi :
·         Ajaran yoga adalah ilmu pengetahuan kerohanian yang sudah tua umurnya ia merupakan salah satu system filsafat India yang disebut Sad Dharsana.
·         Rsi Patanjali telah menyusun sebuah kitab yang berjudul “Yoga Sutra Patanjali” yang menguraikan tentang pengertian dan hakekat tujuan ajaran yoga secara keseluruhan. Isinya mengandung nilai yang bersifat teori dan praktis, menyangkut etika dan moral, filsafat, kesehatan fisik dan mental.
·         Perkataan yoga berasal dari urat kata (sansekerta) yaitu yuj (yuga) berarti menghubungkan, atau bersatu dalam dimensi kerohaniaan atau kebhatinan yang merupakan proses/jalan utama untuk mencapai tujuan agama yaitu kebebasan abadi atau bersatunya jiwa dengan Sang Hyang Widhi ( moksa).
·         Dalam Yoga Sutra Patanjali dinyatakan dalam Sutra II sebagai berikut “Yogascitta Vrtti Nirodha” artinya yoga adalah pengendalian gelombang-gelombang pikiran. Gelombang ini ditimbulkan oleh pengaruh gerakan antakarana manas citta, ahangkara dan buddhi.
·         Gerakan-gerakan cipta menimbulkan rasa suka dan duka yoga adalah berarti jalan yang utama untuk membebaskan ikatan jiwa degan materi keduniawian yang memberikan kebahagiaan abadi atau Sat Cit Ananda atau jiwa dalam keadaan Moksa.

Ada beberapa pengertian tentang yoga yang dimuat dalam buku Yogasutra, antara lain sebagai berikut:
1.    Yoga adalah ilmu yang mengajarkan tentang pengendalian pikiran dan badan untuk mencapai tujuan terakhir yang disebut dengan samadhi.
2.    Yoga adalah pengendalian gelombang – gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk dapat berhubungan dengan Sang Hyang Widhi Wasa.
3.    Yoga diartikan sebagai proses penyatuan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa secara terus-menerus (Yogascittavrttinirodhah)

Dasar dari segala yoga adalah tidak terikat dengan pengaruh hawa nafsu atau indra dan materi keduniawian atau Vairagga (pelepasan) nafsu merupakan titik yang penting dalam semua bentuk yoga.

Yoga merupakan jalan utama dari berbagai jalan untuk kesehatan pikiran dan badan agar selalu dalam keadaan seimbang. Keseimbangan kondisi rohani dan jasmani mengakibatkan kita tidak diserang penyakit. Yoga adalah suatu system yang mengolah rohani dan jasmani guna mencapai ketenangan bhatin dan kesehatan fisik dengan melakukan latihan-latihan secara berkesinambungan. Fisik atau jasmani dan mental atau rohani yang kita miliki sangat penting dipelihara dan dibina. Yoga dapat diikuti oleh siapa saja untuk mewujudkan kesegaran rohani dan kebugaran jasmani.

Dalam pelaksanaan yoga yang perlu diperhatikan adalah gerak pikiran. Pikiran memiliki sifat gerak yang liar dan paling sulit untuk dikendalikan. Agar dapat focus dalam melaksanakan yoga, ada baiknya dipastikan bahwa pikiran dalam keadaan baik dan tenang. Secara umum yoga dikatan sebagai displin ilmu yang digunakan oleh manusia untuk membantu dirinya mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi.

Jadi secara umum, yoga dapat didefinisikan sebagai sebuah teknik yang memungkinkan seseorang menyadari penyatuan antara roh manusia individu (atman/jiwatman) dengan Paramatman melalui keheningan sebuah pikiran.
Yoga harus dipraktekkan dalam tubuh manusia. Tubuh manusia dibagi tiga, yaitu :
-          Sthula Sarira (badan kasar)
-          Suksma Sarira (badan halus)
-          Antah Karana Sarira (badan penyebab)

System Yoga kebanyakan bersumber pada filsafat Samkhya, yang memandang bahwa perkembangan manusia berlangsung melalui beberapa tahap. Badan halus ini terus berinteraksi dengan materi, kemudian lahir badan kasar (Sthula Sarira). Badan kasar (Sthula Sarira) terdiri dari 5 komponen primer yang dikenal dengan sebutan Panca Maha Bhuta. Seluruh susunan tubuh, menurut filsafat Samkhya, terdiri dari 25 kategori (guna), yaitu terdiri dari : prakerti, mahat, ahamkara, panca tan matra, eka dasa indra, panca maha bhuta dan purusa.

Untuk pelaksanaan yoga, agama banyak memberikan pilihan dan petunjuk-petunjuk melaksanakan yoga yang baik dan benar. Melalui yoga agama menuntun umatnya agar selalu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Di samping berbagai petunjuk agama sebagai pedoman pelaksanaan yoga, sesuatu yang baik berkembang di masyarakat hendaknya juga dapat dipedomani. Dengan demikian, pelaksanaan yoga menjadi selalu diterima di sepanjang zaman.

Maharsi Patanjali mendefinisikan Yoga adalah pengendalian pikiran. Pikiran dikendalikan dengan mempraktekkan secara terus menerus, dan melepaskan diri dari ikatan duniawi. Pikiran memiliki beberapa tingkatan :
a.       Ksipa : saat pikiran tidak tenang dan tidak bisa berkosentrasi pada obyek apapun
b.      Mudha : saat pikiran tidak bisa membedakan antara hal yang baik dan buruk
c.       Viksipta : saat pikiran yang hanya menerima kebahagiaan diri sendiri dan tidak mendapat kesedihan.
d.      Ekagra : saat pikiran menarik diri sendiri obyek-obyek luar dan berkosentrasi sehingga pikiran mulai stabil dan tenang.
e.       Nirodha : saat pikiran sudah stabil dan tidak ragu lagi, serta sudah menghentikan hal-hal yang tidak baik, merupakan tahap awal dalam latihan yoga.

Kebahagiaan akan tercapai dengan sempurna jika manusia menumbuhkan kesadaran dengan membebaskan diri dari keterikatan yang menarik semoa obyek ke dalam. Dengan mempraktekkan yoga secara teratur seseorang berlatih untuk melepaskan emosinya secara positif dan tidak terlalu dramatis dalam menghadapi berbagai permasalahan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Apabila setiap individu mampu mempraktekkan yoga dengan baik, maka permasalahan dalam masyarakat juga akan dapat diatasi, hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam pasti akan dapat tercapai.


Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.      Tuliskan beberapa pengertian Yoga yang kalian ketahui!
2.      Masih ada pandangan bahwa yoga itu mengasingkan diri ke  dalam hutan, kemudian mengurung diri di dalam goa untuk mendapatkan kesaktian bahkan mistik. Bagaimana pandangan anda terhadap pernyataan tersebut?
3.      Pikiran dapat dikendalikan dengan mempraktekkan secara terus menerus, dan melepaskan diri dari ikatan duniawi. Pikiran memiliki beberapa tingkatan. Sebutkan dan jelaskan!
4.      Tuliskan arti kutipan sloka ini “Yogascitta Vrtti Nirodha”! kemudian makna apa yang kalian dapatkan dari sloka tersebut! Uraikan !
5.      Rajendria dalam tubuh manusia adalah pikiran. Pikiran memiliki sifat cenderung liar dan sulit untuk dikendalikan. Bagaimana menurut pandangan kalian? Jelaskan !


2.      SEJARAH DAN RUANG LINGKUP AJARAN YOGA
Adapun orang suci yang membangun dan mengembangkan ajaran ini (yoga) adalah Maharsi Patañjali. Ajaran yoga dapat dikatakan sebagai anugrah yang luar biasa dari Maharsi Patañjali kepada siapa saja yang ingin melaksanakan hidup kerohanian. Bila kitab Veda merupakan pengetahuan suci yang bersifat teoritis, maka Yoga adalah merupakan ilmu yang bersifat praktis dari-nya. Ajaran yoga merupakan bantuan kepada siapa saja yang ingin meningkatkan diri dibidang kerohanian.

Kitab yang menuliskan tentang ajaran yoga untuk pertama kalinya adalah kitab yogasūtra karya Maharsi Patañjali. Namun demikian dinyatakan bahwa unsur-unsur ajarannya sudah ada jauh sebelum itu. Ajaran Yoga sesungguhnya sudah terdapat di dalam kitab ṡruti, smrti, itihāsa, maupun purāna. Dalam kitab Yoga Sutra Patanjali yang disebut kelompok Astangga Yoga, sistematikanya terdiri dari 4 bab dan 194 sutra tiap-tiap bab masing-masing terdiri dari beberapa materi yang diajarkan.
·         Bab I (Samadhipada)
Terdiri  dari 51 sutra yang isinya Kitab ini menjelaskan tentang; sifat, tujuan dan bentuk ajaran yoga. Didalamnya memuat tentang perubahan-perubahan pikiran dan tatacara melaksanakan yoga.
·         Bab II (Shadanapada)
Terdiri dari 55 sutra. Kitab ini menjelaskan tentang pelaksanaan yoga seperti tatacara mencapai Samadhi, tentang kedukaan, karmaphala dan yang lainnya.
·         Bab III (  Vibhutipada)
Terdiri dari 54 sutra yang isinya memuat ajaran tentang cara-cara untuk mencapai tujuan yoga. Kitab ini menjelaskan tentang aspek sukma atau batiniah serta kekuatan gaib yang diperoleh dengan jalan yoga.
·         Bab IV (Kaivalyapada)
Terdiri dari 34 sutra yang isinya mengungkap materi ajaran kelepasan (cara untuk mencapai moksa) secara teknis operasional dan kenyataan roh dalam mengatasi alam duniawi.

3.      SUMBER AJARAN YOGA
Ajaran yoga merupakan bantuan kepada siapa saja yang ingin meningkatkan diri di bidang kerohanian. Metode-metode yang diajarkan itu disesuaikan dengan tingkat perkembangan rohani seseorang.

  1. Ajaran Raja Yoga
Sumber ajaran Raja Yoga adalah Patanjali Yoga Sutra diajarkan oleh Rsi Patanjali sekitar 1.600 SM atau mungkin lebih dari itu. Dalam penggalian kepurbakalaan yang dilakukan di Harappa dan Mohanjodaro yang sekarang disebut Pakistan, banyak ditemukan patung yang melukiskan Dewa Siwa dan Parvati (permaisurinya) sedang melakukan yoga asanas yang berbeda.
 Menurut adat istiadat dan berbagai kitab suci, Dewa Siva adalah pendiri Yoga termasuk asanas. Beliau menciptkan semua asanas dan mengajarkannya pada muridnya yang pertama yaitu Dewi Parvati. Semula gerakan asanas dikatakan ada 8.400.000 asanas, yang menunjukkan inkarnasi sebelum mencapai pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Ajaran Raja Yoga meliputi :
-          Yama
-          Niyama
-          Asanas
-          Pranayama
-          Pratyahara
-          Dharana
-          Dhyana (meditasi)
-          Semadi
Kedelapan ajaran diatas disebut Astangga Yoga.

  1. Ajaran Hatha Yoga
Sumber ajaran Hatha Yoga adalah kitab Siwa Samhita yang dipopulerkan oleh Rsi Gheranda. Hatha Yoga menangani proses fisik tertentu sebagai persiapan atau sebagai penunjang di dalam mengendalikan gerak pikiran dan dengan pengolahan pikiran itu sajalah penunggalan dapat dicapai.
Ajaran Hatha Yoga merupakan ajaran keseimbangan didalam tubuh manusia. Arti kata Hatha :
            Ha       : Matahari
Tha      : Rembulan
Yang  berarti tradisi disiplin yang menggabungkan dua kekuatan yang berbeda. Praktisi Hatha Yoga menyelaraskan tubuh dan pikiran lewat kekuatan, disipiln dan upaya.
( Asmarani, 2011)

Di dalam tubuh manusia, pada bagian sebelah kanan tubuh bersifat positif, panas merupakan pengaruh aliran Prana dari Nadi Pingala (nadi dari lubang hidung kanan sampai tulang ekor) yang dipengaruhi oleh energy Matahari.
Pada bagian tubuh sebelah kiri bersifat negative, dingin merupakan pengaruh aliran Prana dari Nadi Ida (nadi dari lubang hidung kiri sampai tulang ekor) yang dipengaruhi energi bulan.
Melalui latihan Hatha Yoga akan menyebabkan kedua bagian tubuh akan memperoleh keharmonisan/seimbang daya karakteristiknya secara natural, pada gilirannya dengan adanya kesimbangan tersebut akan dicapai suatu kesehatan fisik dan mental yang sempurna, kejernihan hati, kepribadian yang mantap, teguh dan berwibawa.
Ajaran Hatha Yoga meliputi :
-          Asanas
-          Pranayama
-          Dhyana /meditasi

Hatha yoga diciptakan dari hasil penyelidikan/penelitian jaman dahulu bagaimana margasatwa dan tumbuh-tumbuhan hidup dan bertahan terhadap perubahan cuaca dan kondisi lingkungannya.Hasil penyelidikan yang meliputi bagaimana cara bernafas, cara tidur dan cara mereka bergerak diciptakan teknik-teknik yang sesuai dengan tubuh manusia.
Hal – hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan Hatha Yoga, adalah sebagai berikut:
1.      Tempat: Pilih tempat yang cukup luas untuk tubuh agar dapat bergerak dengan bebas tanpa hambatan oleh benda apapun.
2.      Waktu: Waktu terbaik untuk melakukan senam yoga adalah pagi hari setelah bangun tidur, dengan jenis fresh yoga yang gerakan-gerakannya bersifat memacu semangat dan konsentrasi (energizing) atau sore hari setelah selesai melakukan segala aktifitas, dengan jenis Gentle yoga yang berorientasi mengurangi kecemasan.
3.      Pelatih atau instruktur: Bagi pemula, instruktur merupakan salah satu hal yang sangat penting, untuk dapat membimbing melakukan senam yoga dengan baik dan benar.
4.      Pakaian: Gunakan pakaian yang nyaman, yang memungkinkan bergerak dengan leluasa dan tidak terbatas.Tanpa menggunakan alas kaki (dengan kaki telanjang).
5.      Alas gunakan matras mat yoga  agar terasa lebih nyaman juga menghindari terpeleset di lantai sebagai, alat bantu antara lain : blok yoga, sabuk, guling , selimut dan kursi.
Hatha yoga menekankan penyeimbangan dua kekuatan yang bertolak belakang pada tubuh, seperti halnya energy maskulin (the sun atau matahari) dan energy feminine (the moon atau bulan), yin dan yang, kiri dan kanan, tarikan dan hembusan nafas, rasa sedih dan gembira dan sebagainya. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan alami tubuh dengan mempraktekkan ke lima prinsip yoga Lima (5) prinsip yoga menurut ( Shindu, 2009 ) adalah:
1.      Berlatih dengan teratur: Postur yoga (asana) membantu meregangkan dan membina otot, serta menguatkan tulang dan melenturkan sendi. Asana menstimulasi pengeluaran hormone endorphin-the feel good hormone- yang menciptakan rasa nyaman dalam tubuh.
2.      Bernapas dalam: Bernapas dengan Dhiirga Swasam (teknik pernapasan yoga penuh) meningkatkan kapasitas paru-paru agar proses bernapas menjadi lebih optimal. Teknik-teknik pernapasan dalam pranayama juga membantu menguatkan organ tubuh internal, meningkatkan kontrol emosi, dan memberikan sensasi relaks yang mendalam.
3.      Menjaga pola makan yang seimbang: Pola makan yang seimbang, dan sehat akan meningkatkan imunitas (daya tahan) tubuh, melancarkan prose salami pencernaan, meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, dan menenangkan pikiran.
4.      Beristirahat cukup: Menjaga ritme yang seimbang antara bekerja dan beristirahat akan mempertahankan tubuh dalam keadaan yang selalu prima dari waktu ke waktu. Beristirahat dalam Savasana (postur mayat) setelah melakukan asana akan meningkatkan rasa nyaman dan relaks pada tubuh pada kondisi yang stabil.
5.      Berpikir positif melalui meditasi: Berlatih asana yang disertai pranayama akan memurnikan pikiran dari pikiran dan emosi negative, serta meningkatkan rasa percaya diri. Meditasi akan membimbing untuk lebih dalam masuk ke realisasi diri yang merupakan tujuan tertinggi dalam berlatih yoga.
Gerakan yoga yang dilakukan dengan posisi fisik (asana), teknik pernafasan (pranayama) disertai meditasi. Posisi tubuh tersebut dapat mengantarkan pikiran menjadi tenang, sehat dan penuh vitalitas. Ajaran hatha yoga berpengaruh atas badan atau jasmani seseorang. Ajaran hatha yoga menggunakan displin jasmani sebagai alat untuk membangunkan kemampuan rohani seseorang. Sirkulasi pernafasan dikendalikan dengan sikap-sikap badan yang sukar-sukar. Sikap-sikap badan tersebut dilatih bagaikan seekor kuda yang diajari agar dapat menurut perintah penunggangnya adalah atman (roh).

  1. Ajaran Kriya Yoga
Kriya yoga merupakan yoga pendahuluan yang bertujuan untuk :
a.       Memungkinkan kemajuan seseorang yogin (orang yang mempelajari yoga) menuju tercapainya semadi.
b.      Menghilangkan atau memperkecil segala rintangan (Klesa) untuk tercapainya semadi

Syarat utama dari Kriya Yoga adalah :
-          Tapa, membiarkan diri menderita untuk kesejahteraan orang lain atau kesederhanaan dalam seluruh kehidupan.
-          Swadhyaya, usaha mempelajari sastra, kitab suci.
-          Isvara praidhana, penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Rintangan (Klesa) dalam Kriya Yoga ada 5 (lima) yaitu :
-          Avidya                  : ketidaktahuan
-          Asmita                   : keseombongan dan keakuan
-          Raga                      : keterikatan dan kesukaan
-          Dvesa                    : kemarahan, keserakahan, anti pati
-          Abtitivesa              : ketakutan berlebihan terhadap kematian
Sifat-sifat Klesa yaitu :
-          Latent, permanen              :  Prasupta
-          Lemah                               : Tamu
-          Kabur                                : Vicchima
-          Amat agresif, menonjol     : Udara

Klesa tersebut harus dicabut seluruhnya bilamana mungkin sekurang-kurangnya harus diperkecil. Untuk mencabut seluruhnya adalah berat sekali karena dibawa dari kehidupan terdahulu. Beberapa siklus peredaran hidup mati diperlukan untuk mengatasinya.

  1. Ajaran Laya Yoga atau Kundalini Yoga
Ajaran ini sepenuhnya untuk ajaran pembangkitan Kundalini yaitu Chakra pembangkitan energy maha besar di dalam tubuh manusia dengan teknik-teknik tertentu yang akan mengaktifkan Chakra-chakra (pusat energy) sehingga akan tercapainya persatuan Atman dan Brahman. Gerakan yoga yang dilakukan dengan tujuan menundukkan pembangkitan daya kekuatan kreatif kundalini yang mengandung kerahasiaan dan latihan-latihan mental dan jasmani.

  1. Ajaran Wrhaspati Tattwa
Ajaran yoga ini merupakan ajaran dari Dewa Iswara kepada Bhagawan Wrhaspati. Ajaran ini disebut Sadangga Yoga yaitu :
1.      Pratyahara Yoga
Penarikan diri, penarikan indriya dari obyeknya dengan upaya dan pikiran yang tenang Citta, Buddhi dan Manah tidak boleh bergerak kesana kemari.
2.      Dhyana Yoga, Meditasi
Yoga yang terus menerus memusatkan pikiran kepada suatu bentuk yang tidak berpasangan, tak berubah, damai dan tak bergerak, tenang, stabil serta tanpa selubung.
3.      Pranayama Yoga
Menutup semua jalan keluar nafas dan mengambil kekuatan dari udara dan mengeluarkan nafas dari ubun-ubun (pada saat meninggal).
Mengatur pernafasan masuk dan keluar sehingga pada saat meninggal nafas terakhir harus bias dikeluarkan melalui ubun-ubun agar tercapai penunggalan.
4.      Dharana Yoga
Menahan Omkara dalam hati, suara Omkara terus menerus ditempatkan dihati, penahanan Omkara tersebut dikatakan Dharana.
5.      Tarka Yoga, Perenungan
Terus menerus memusatkan pikiran kepada-Nya yang wujudnya sangat halus, tetap, tenang dan hening.
6.      Samadhi Yoga
Konsentrasi terus menerus merenungkan-Nya sebagai yang mutlak, tidak dapat dijelaskan, tanpa nafsu, tenang, tidak mempunyai kalpana pengetahuan, yang diketahui, sarana untuk mengetahui dan orang yang tahu.

  1. Mantra Yoga
Gerakan yoga yang dilaksanakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat suci melalui rasa kebhaktian dan perhatian yang penuh kosentrasi. Perhatian dikosentrasikan agar tercapai kesucian hati untuk mendengar suara kesunyian, sabda, ucapan Tuhan mengenai identitasnya. Pengucapab berbagai mantra dengan tepat membutuhkan suatu kajian ilmu pengetahuan yang mendalam. Namun biasanya banyak kebhaktian hanya memakai satu jenis mantra saja.

  1. Bhakti Yoga
Gerakan yoga yang memfokuskan diri menuju hati. Diyakini bahwa jika seorang yogi berhasil menerapkan  ajaran ini maka dia dapat melihat kelebihan orang lain dan tata-cara untuk menghadapi sesuatu. Praktik ajaran Bhakti yoga ini juga membuat seorang yogi menjadi lebih welas asih dan menerima segala yang ada di sekitarnya. Karena dalam yoga ini diajarkan untuk mencintai alam dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  1. Raja Yoga
Gerakan yoga yang menitikberatkan pada teknik meditasi dan kotemplasi. Ajaran yoga ini nantinya mengarah pada tata-cara penguasaan diri sekaligus menghargai diri sendiri dan sekitarnya. Ajaran Raja yoga merupakan dasar dari yoga Sutra.

  1. Jnana Yoga
Gerakan yoga yang menerapkan metode untuk meraih kebijaksanaan dan pengetahuan. Gerakan ajaran jnana yoga ini cenderung menggabungkan antara kepandaian dan kebijaksanaan, sehingga nantinya mendapatkan hidup yang dapat menerima semua filosofi dan agama.

  1. Karma Yoga
Dalam ajaran agama Hindu selain diperkenalkan berbagai jenis gerakan yoga di atas, ada yang disebutkan jenis Tantra Yoga. Ajaran ini sedikit berbeda dengan yoga pada umumnya, bahkan ada yang menganggapnya mirip dengan ilmu sihir. Ajaran Tantra yoga terdiri atas kebenaran dan hal-hal yang mistik (mantra), dan bertujuan untuk dapat menghargai pelajaran dan pengalaman hidup umatnya.

4.      ATURAN –ATURAN YOGA
  • Serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan karena semua yang ada adalah miliknya. Ingatlah senantiasa pada-Nya.
  • Jangan mengembangkan kebiasaan buruk.
  • Jangan sampai gagal untuk memenuhi kewajiban anda sehari-hari, ingatlah pada kematian setiap hari.
  • Jangan menyinggung perasaan orang lain (Ahimsa parama Dharma).
  • Jauhkan diri anda dari pergaulan yang tidak baik, bergaullah kepada orang-orang yang budiman (Sat Sangka).
  • Berikan 10% dari penghasilan anda untuk kedermawanan atau yajna dari keuntungan anda.
  • Hiduplah bergembira dengan mengembangkan kesentosaan yang sungguh-sungguh.
  • Makanlah makanan yang bersih (Shubda ahara). Kembangkan kelakuan yang jujur. Berkatalah yang sebenarnya, lakukan perbuatan yang baik, tanyakan pada diri anda : Siapa Aku ini?.
  • Kembangkan kekuatan kemauan dengan jalan kesabaran, ketetapan hati, anjuran sendiri, meditasi dan hilangkan kesan-kesan dalam pikiran.
  • Lupakan kesalahan dan kegagalan anda yang sudah lalu, jangan berangan-angan, bergembiralah senantiasa. Hiduplah tetap dengan apa yang ada sekarang. Tersenyumlah pada siapa saja yang anda temukan tiap hari. Kalau anda mengerjakan sesuatu, pakailah salah satu pikiran bijaksana, apa yang kita lakukan adalah untuk bhakti kepada Tuhan.
                                                                                          
5.      TUJUAN DAN MANFAAT AJARAN YOGA
Latihan dan gerakan yoga menjadikan dan mengantarkan jasmani dan rohani umat sedharma sejahtera dan bahagia. Sepatutnya kita bersyukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas anugrahnya kita dapat mengenal dan belajar yoga. Belajar tentang yoga sangat bermanfaat untuk perkembangan jasmani dan rohani umat Hindu. Mempraktikan gerakan-gerakan yoga kebugaran jasmani dan kesegaran rohani umat dapat terwujud sebagaimana mestinya. Pengajaran pengetahuan yoga dinyatakan telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu dalam tradisi Hindu. Pengetahuan kuno yoga telah menguraikan kebenaran bahwa dalam keharmonisan tubuh dan pikiran terletak rahasia kesehatan. Pengetahuan ini selalu menarik dan digemari oleh setiap generasi hingga dikembangkan dalam berbagai bentuk.

Yoga di samping sebagai pengetahuan rohani juga dapat memberikan latihan-latihan badan/asanas. Asanas memungkinkan memperbaiki kesehatan banyak orang dan mencapai suatu kehidupan yang bersemangat. Melalui pembelajarn yoga para siswa secara bertahap dapat belajar menjaga pikiran dan tubuh dalam keseimbangan yang tenang dalam semua keadaan, mempertahankan ketenangan dalam situasi apa pun.

Latihan-latihan asanas dapat membangun rasa percaya diri, mengatasi stress, mengembangkan kosentrasi, dan menambah kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran adalah kunci untuk mengerti spiritual yang mendalam. Bila kita merasa sakit karena terjadi ketidakseimbangan di dalam tubuh, pikiran atau hasil hormone yang tidak seimbang, latihan asanas dapat banyak membantu menormalisirnya.

Setelah melalui latihan asanas secara teratur kita mampu menjadi tuan bagi tubuh kita sendiri, bebas dari gangguan sakit, awet muda, hidup santai, penuh energy, bebas dari pengaruh emosional, menjadikan hidup ini selalu siap bekerja untuk kesejahteraan umat manusia. Manfaat latihan pernafasan (yoga) menjadikan pernapasan lebih dalam dan pelan, paru-paru berkembang sampai pada kapasitas penuh. Akibatnya tubuh menerima oksigen dalam jumlah maksimal. Apabila gerakan-gerakan ajaran yoga asanas dapat dilakukan dengan benar dan tepat maka kelelahan menjadi hilang dan orang merasa penuh tenaga dan merasa segar.

Adapun manfaat yoga dari uraian diatas yaitu :
·         Sebagai tujuan hidup tertinggi dan terkahir dalam ajaran Hindu yaitu terwujudnya Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.
·         Untuk menjaga kesehatan, kebugaran jasmani dan rohani yaitu dapat diuraikan sebagai berikut
-          Dapat mengurangi kebodohan
-          Memperkuat pencernaan, menambah nafsu makan, menghilangkan rematik.
-          Memperlancar peredaran darah yang bersih ke otak sehingga dapat mempertajam daya pikir dan mencerdaskan pikiran serta ingatan menjadi kuat dan terang.
-          Mempertinggi gairah hidup, serta bebas dari gangguan penyakit.
-          Mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit dalam, mencegah keriput pada kulit muka.
-          Menyehatkan metabolism dan pertumbuhan badan.
-          Dapat mengurangi kegemukan, memperlancar buang air besar.
-          Menguatkan alat-alat organ tubuh seperti : ginjal, limpa, usus, pancreas, dan lain-lain sehingga dapat berfungsi dengan sempurna.
-          Memperkuat otot-otot dan urat-urat pada paha dan kaki.
-          Dapat menenangkan pikiran dan bhatin.
Berikut ini dapat ditampilkan dalam bentuk kolom beberapa manfaat gerakan ajaran yoga asanas, antara lain:
No
Jenis-jenis Yoga Asana
Penjelasan Yoga Asana
Manfaat Yoga Asana
1.
Padmāsana
Kedua kaki diluruskan kedepan lalu tempatkan kaki kanan diatas paha kiri, kemudian kaki kiri diatas paha kanan. Kedua tangan boleh ditempatkan dilutut.
Dapat menopang tubuh dalam jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena tubuh mulai dapat dikendalikan oleh pikiran.
2.
Siddhāsana

Letakan salah satu tumit dipantat, dan tumit yang lain dipangkal kemaluan. Kedua kaki diletakkan begitu rupa sehingga kedua ugel-ugel mengenai satu dengan yang lain. 
Memberikan efek ketenangan pada seluruh jaringan saraf dan mengendalikan fungsi seksual.
3.
Swastikāsana
Kedua kaki lurus kedepan kemudian lipat kaki dan taruh dekat otot paha kanan, bengkokkan kaki kanan dan dorong telapak kaki dalam ruang antara paha dengan otot betis.
Menghilangkan reumatik, menghilangkan penyakit empedu dan lendir dalam keadaan sehat, membersihkan dan menguatkan urat-urat kaki dan paha. 
4.
Sarvangāsana
Berbaring dengan punggung diatas selimut, angkat kedua kaki perlahan kemudian angkat tubuh bagian atas, pinggang, paha, dan kaki lurus ke atas. Punggung ditunjang oleh kedua tangan. 

Memelihara kelenjar thyroid.
5.
Halāsana
Posisi tubuh rebah dengan telapak tangan telungkup disamping badan. Kedua kaki rapat lalu diangkat keatas dengan posisi lurus. Tubuh jangan bengkok. Kaki dan tubuh buat siku lebar. Turunkan kedua kaki melalui muka sampai jari kaki mengenai lantai. Paha dan kaki membentuk garis lurus. 
Menguatkan urat dan otot tulang belakang dan susunan urat-urat disisi kanan kiri tulang punggung.
6.
Matsyāsana
Rebahkan diri diatas punggung, dengan kepala diletakkan pada kedua tangan yang disalipkan.

Membasmi bermacam penyakit seperti asma, paru-paru, bronchitis. 
7.
Paschimottanāsana.
Duduk dilantai dengan kaki menjulur lurus, pegang jari kaki dengan tangan, tubuh dibengkokkan ke depan.
Membuat nafas berjalan di brahma nadi (sungsum) dan menyalakan api pencernaan, dan Untuk menguarngi lemak diperut. 
8.
Mayurāsana (Burung Merak).
Berlutut diatas lantai, jongkok diatas jari kaki, angkat tumit keatas dengan kedua tangan berdekatan, dengan telapak tangan diatas lantai, ibu jari kedua tangan harus mengenai lantai dan harus berhadapan dengan kaki. 
Menguatkan pencernaan, membetulkan salah pencernaan dan salah perut seperti kembung, juga murung hati dan limpa yang bekerja lemah akan baik kembali.
9.
Ardha Matsyendrāsana
Latakkan tumit kiri didekat lubang pantat dan dibawah kemaluan mengenai tempat diantara lubang pantat dan kemaluan. Belokkan lutu kanan dan letakkan ugel-ugel kanan dipangkal paha kiri, dan kaki kanan diletakkan diatas lantai berdekatan dengan sambungan kiri, letakkan ketiak kiri diatas lutut kanan kemudian dorong sedikit kebelakang sehingga mengenai bagian belakang dari ketiak. Pegang lutut kiri dengan telapak tangan kiri perlahan punggung belokkan ke sisi dan putar sedapat mungkin ke kanan, belokkan jidat ke kanan sehingga segaris dengan pundak kanan, ayunkan tangan kanan kebelakang pegang paha kiri dengan tangan kanan, tulang punggung lurus.
Memperbaiaki alat-alat pencernaan, member nafsu makan. Kundalini akan dibangunkan juga dan membuat candranadi mengalir tetap.
10.
Salabhāsana
Rebahkan diri dengan telungkup, kedua tangan disisi badan terlentang. Tangan diletakkan dibawah perut, hirup nafas seenaknya kemudian keluarkan perlahan. Keraskan seluruh badan dan angkat kaki ke atas + 40 cm, dengan lurus sehingga paha dan perut bawah dapat terangkat juga. 
Menguatkan otot perut, paha, dan kaki, menyembuhkan penyakit perut dan usus juga penyakit limpa dan penyakit bungkuk dapat dikurangi.
11.
Bhuyanggāsana.
Merebahkan diri dengan telungkup, lemaskan otot, dan tenangkan hati, letakkan telapak tangan dilantai dibawah bahu dan siku, tubuh dan pusar sampai jari-jari kaki tetap di lantai, angkat kepala dan tubh ke atas perlahan seperti cobra ke atas, bengkokkan tulang punggung ke atas.
Istimewa untuk wanita, dapat memberi banyak faedah, tempat anak dan kencing akan dikuatkan, menyembuhkan amenorhoea (datang bulan tidak cocok), dysmenorhoea (merasa sakit pada waktu datang bulan, leucorrhoea (sakit keputihan), dan macam penyakit lain di kantung kencing dan indung telor dan peranakan. 

12.
Dhanurāsana.
Rebahkan diri dengan dada dan muka dibawah, kedua tangan diletakkan disisi, kedua kaki ditekuk kebelakang, naikkan tangan kebelakang dan pegang ugel-ugel, angkat dada dan kepala ketas, lebarkan dada, tangan dan kaki kaku dan luruskan, tahan nafas dan keluarkan nafas perlahan. 

Menghilangkan sakit bungkuk, reumatik di kaki, lutut, dan tangan. Mengurangi kegemukan, dan melancarkan peredaran darah.
13.
Gomukhāsana

Tumit kaki kiri diletakkna dibawah pantat kiri, kaki kanan diletakkan sedemikian rupa, sehingga lutut kanan berada diatas lutut kiri dan telapak kaki kana ada disebelah paha kiri berdekatan. 
Menghilangkan reumatik di kaki, ambein, sakit kaki dan paha, menghilangkan susah BAB (kebelakang).
14.
Trikonāsana.
Berdiri tegak, kedua kaki terpisah, + 65 – 70 cm, kemudian luruskan tangan dengan lebar, segaris dengan pundak, tangan sejajar dengan lantai. 
Menguatkan urat-urat tulang punggung dan alat-alat di perut, menguatkan gerak usus dan menambah nafsu makan.
15.
Baddha Padmāsana.
Duduk dengan sikap Padmasana, tumit mengenai perut, tangan kanan kebelakang memegang ibu jari kanan, begitu juga tangan kiri. Tekan janggut ke dada, lihat pada ujung hidung dan bernafas pelan-pelan. 
Asana ini bukan untuk bermeditasi tetapi untuk memperkuat kesehatan dan menguatkan badan. Dapat menyembuhkan lever, uluhati, usus.

16.
Padahasthāsana.
Berdiri tegak, tangan digantung disebelah badan, kedua tumit harus rapat tapi jari harus terpisah, agkat tangan kedua-duanya ke atas kepala. Perlahan bengkokkan badan ke bawah,  jangan bengkokkan siku lalu pegang jari kaki dengan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. 
Menghilangkan hawa nafsu, tamas, menghilangkan lemak.
17.
Matsyendrāsana.
Duduk dengan kaki menjulur, letakkan kaki kiri diatas pangkal paha kanandan letakkan tumit kaki kiri di pusar. Kaki kanan letakkan dilantai di pinggir lutut kiri. Tangan kiri melalui lutut kanan diluarnya memegang jari kaki kanan dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah lalu tekankan pada lutut kanan dan kiri. 
Menghilangkan reumatik, menguatkan prana shakti (gaya batin) dan menyembuhkan bayak penyakit.
18.
Chakrāsana.



Berdiri dengan tangan diangkat ketas, perlahan-lahan turunkan kebelakang dengan membengkokkan tulang punggung. 
Melatih kegesitan, tangkas, segala pekerjaan akan dilaksanakan dengan cepat.
19.
Savāsana.
Tidur terlentang, tangan lurus disamping badan, luruskan kaki dan tumit berdekatan. Tutup mata bernafas perlahan, lemaskan semua otot.
Memberikan istirahat pada badan, pikiran, dan sukma.
20.
Janusirāsana
Letakan tumit kiri di antara lubang pantat dan kemaluan, dan tekanlah tempat itu. Kaki kanan menjulur dengan lurus. Pegang jari kaki kanan dengan dua tangan.
Menambah semangat dan menolong pencernaan. Asana ini menggiatkan surya chakra. 
21.
Garbhāsana.
Kedua tangan diantara paha dan betis, keluarkan kedua siku lalu pegang telinga kanan dengan tangan kanan dan sebaliknya.

22.
Kukutāsana.
Lebih dulu menbuat padmasana. Masukan tangan satu persatu dalam betis hingga sampai kira-kira di siku, telapak tangan diletakkan di lantai dengan jari terbuka kedepan, angkat badan keatas salib kaki kia-kira sampai di siku.
Menguatkan otot-otot, dada dan pundak.

TUJUAN YOGA
·         Menuntun seseorang untuk menuju suasana hidup yang nyaman, tenang, penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.
·         Mengantarkan atma (jiwa) menyatu dengan Paramatma (Brahman) dan tidak terikat dalam siklus kelahiran dan kematian.
·         Orang-orang yang berhasil mencapai yoga akan mengalami kebenaran, kesadaran dan kebahagiaan yang sejati, kesucian pikiran dan keseimbangan jiwa dalam tingkatnnya tertinggi.
·         Yoga juga mempunyai tujuan untuk menyehatkan badan jasmani dan rohani atau lahir dan bhatin.


Kegiatan Siswa
Diskusiklah dengan teman sebangku Mu!
Seringkali ada pendapat dalam masyarakat bahwa Yoga itu berbau klenik yang mendekati tahyul, atau memandangnya dari sudut kegaiban-kegaiban, kanuragan, bahkan mistik. Apa yang harus dilakukan terhadap pandangan seperti itu?   Uraikanlah !

Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.      Sebelum melakukan yoga, harus betul-betul memperhatikan  aturan-aturan yoga karena dengan aturan tersebut kita diarahkan untuk menuju sasaran agar tidak keluar dari tujuan semula atau tidak lepas kendali. Sebutkan aturan-aturan yang berlaku dalam yoga!
2.      Sebutkan Ruang Lingkup Ajaran Yoga menurut Maharsi Patanjali!
3.      Sebutkan tujuan dan manfaat mempelajari Yoga?
4.      Setelah kita memahami tentang Yoga, apakah sebaiknya yang mesti dilakukan?
5.      Mengapa orang beryoga, bagaimana jika orang tersebut tidak melakukan yoga? Jelaskan !
6.      Sebutkan bagian-bagian ajaran Hatha Yoga!
7.      Sejarah membuktikan bahwa ajaran yoga telah berlangsung ribuan tahun lamanya dalam kehidupan masyarakat Hindu. Buatlah peta konsep tentang keberadaan ajaran Yoga dalam sastra Hindu!
8.      Sebutkan 5 (lima) Klesa dalam Kriya yoga!
9.      Sebutkan pembagian Sadanga Yoga dalam kitab Wrhaspati Tattwa!
10.  System Yoga kebanyakan bersumber pada filsafat Samkhya, yang memandang bahwa badan halus ini terus berinteraksi dengan materi, kemudian lahir badan kasar (sthula Sarira). Sebutkan lima komponen/unsur yang membentuk Sthula Sarira?


6.      ASTANGGA YOGA
Perenungan;
Pratena dikṡām āpnoti dikṣāya āpnoti dakṣiṇām,
dakṣināṡraddhām āpnoti ṡraddhāya satyam āpyate.
terjemahannya;
Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran’ (Yajurveda XIX.30).

Dalam menjalankan yoga ada tahap-tahap yang harus ditempuh yang disebut dengan Astangga Yoga. Maksudnya adalah delapan tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan yoga. Adapun bagian-bagiannya yaitu :

  1. Yama (Panca Yama Brata)
Panca Yama Brata adalah lima pengendalian diri tingkat jasmani yang harus dilakukan tanpa kecuali. Gagal melakukan pantangan dasar ini maka seseorang tidak akan pernah bias mencapai tingkatan berikutnya. Penjabran kelima Yama Brata ini di uraikan dalam patanjali yoga sutra II. 35-39.
Pada dasarnya melakukan langkah-langkah pengendalian diri dalam hubungan dengan orang atau makhluk lain.
Terdiri dari :
a.       Ahimsa
Ahimsa berasal dari awalan kata “A” yang berarti tidak, dan kata “Himsa” yang berarti membunuh atau mengambil nyawa orang. Jadi ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti.
Dalam Yoga Sara Sanggraha dikatakan :
Ahimsayah Paro Dharmah artinya kebaikan adalah dharma tertinggi. Itu mengandung isyarat agar kita dapat menanam dan menumbuhkan sifat humanism dalam diri. Sifat humanism itu dapat terwujud dengan sifat-sifatnya lemah lembut, cinta kasih, persaudaraan simpatisme, rendah hati dan lain sebagainya yang kesemuanya berpangkal pada cetusan budhi luhur atau indriya yang terkendali.
Di dalam kitab Slokantara disebutkan ada empat macam pembunuhan yang diperbolehkan yaitu :
1.      Dewa puja : persembahan kepada Dewa (Dewa Yadnya)
2.      Pitra puja : persembahan kepada Roh Leluhur (Pitra Yadnya)
3.      Atithi puja : persembahan kepada tamu yang kita hormati
4.      Dharma wighata : kewajiban bagi semua orang membunuh makhluk yang mengganggu atau memberi penderitaan terhadap tubuh manusia.

b.      Brahmacari
Brahmacari terdiri atas dua kata yaitu Brahma dan Cari/carya. Brahma artinya ilmu pengetahuan dan kata cari/carya berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Car” artinya gerak / tingkah laku.
Jadi brahmacari adalah tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan tentang ketuhanan dan kesucian.
Brahmacari jga disebut masa aguron-guron (masa berguru).
Di dalam Slokantara disebutkan mengenai perkawinan masa Brahmacari dan dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu :
-          Sukla brahmacari
Orang yang tidak pernah kawin sejak kecil sampai ia meninggal dunia. Tokoh ini di dalam pewayangan Bhisma dalam Mahabharata dan Laksamana dalam Ramayana.
-          Sewala brahmacari
Orang yang kawin beristri atau bersuami hanya sekali dalam hidupnya dan tidak kawin lagi walaupun istri atau suaminya meninggal dunia. Tokoh pewayangan Sang Rama dalam Ramayana.
-          Tresna atau krsna brahmacari
Orang yang kawin lebih dari satu maksimal empat orang dan tidak boleh lagi. Tokoh pewayangan Dewa Siwa istrinya empat yaitu Durga, Uma, Gauri dan Parwati.

c.       Satya yaitu menggunakan akal budi untuk menuju kebenaran.
Dalam ajaran satya kita mengenal Panca Satya yaitu :
1.      Satya wacana
Yaitu setia dan jujur dalam kata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan yang disebut Wakparusya. Tidak boleh berkata pedas yang disebut Ujar Madwa.
2.      Satya hrdaya yaitu setia akan kata hati, berpendirian teguh, dan tak terombang-ambing.
3.      Satya laksana yaitu setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat.
4.      Satya mitra yaitu setia kepada teman.
5.      Satya semaya yaitu setia kepada janji.

d.       Asteya
Yaitu tidak mencuri atau tidak memperkosa hak milik orang lain dengan paksa.
Dalam kitab panca Siksa ada beberapa hal yang terkait dengan steya yang disebut Asta Cora yakni delapan hal yang dapat digolongkan ke dalam hal mencuri yaitu :
1.      Mencuri adalah mengambil paksa hak milik orang lain
2.      Menyuruh atau memerintahkan mencuri
3.      Memberi makan pencuri
4.      Berkenalan dengan pencuri
5.      Bersahabat dengan pencuri
6.      Meminjam kepunyaan orang lain dengan tidak mengembalikan
7.      Menunjukkan jalan pencuri
8.      Menerima barang hasil curian

e.       Aparigraha yaitu hidup puas dengan apa adanya atau seperlunya.

  1. Niyama ( Panca Nyama Bratha)
Panca Niyama Bratha adalah lima pengendalian diri tingkat rohani dan sebagai pendukung dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam Patanjali Yoga Sutra Sutra II. 40-45.
Merupakan pembinaan hubungan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu dengan langkah-langkah penyucian lahir bathin.
Terdiri dari :
a.       Sauca yaitu suci lahir bathin. “Suc” artinya bersih.
Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip-prinsip ini akan mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut.
Sauca juga menganjurkan kebajikan sattvasudhi atau pembersihan kecerdasan untuk membedakan hal-hal berikut :
-          Saumanasya atau keriangan hati
-          Ekagrata atau pemusatan pikiran
-          Indriajaya atau pengawasan nafsu-nasfu
-          Atmadarsana atau realisasi diri.
b.      Santosa atau kepuasaan yaitu menjaga keseimbangan mental.
Hal ini dapat membawa praktisi yoga ke dalam kesenangan yang tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasaan terdapat tingkat kesenangan transcendental.
c.       Swadhyaya yaitu mempelajari sastra keagamaan, kitab suci.
Melakukan japa (pengulangan pengucapan nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakan.
d.      Tapa atau mengekang yaitu tahan uji.
Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan terbebas dari noda dalam aspek spiritual.
e.       Iswara pranidhana yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Hyang Widhi yang akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan Samadhi.

Ada juga pembagian Niyama yaitu :
1.      Akrodha artinya tidak marah
2.      Guru susrusa artinya hormat dan bhakti terhadap guru.
3.      Sauca
4.      Aharalaghawa yaitu makan yang serba ringan dan tidak semau-maunya.
5.      Apramada yaitu tidak bersifat ingkar atau mengabaikan kewajiban.

Dengan menempuh jalan kebaikan bukan berarti seseorang dengan sendirinya dilindungi terhadap kesalahan yang bertentangan. Jangan menyakiti orang lain belum tentu berarti perlakuan orang lain dengan baik. Kita harus melakukan keduanya, tidak menyakiti orang lain sekaligus melakukan keramahtamahan.

  1. Asanas
Asana adalah sikap duduk pada waktu melaksanakan yoga. Buku Yogasutra tidak mengharuskan sikap duduk tertentu, tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada siswa sikap duduk yang paling disenangi dan relaks, asalkan dapat mengautkan kosentrasi dan pikiran, dan tidak terganggu karena badan merasakan sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan. Selain itu sikap duduk yang dipih agar dapat berlangsung lama, serta mampu mengendalikan syaraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran. Sikap duduk yang relaks antara lain silsana (bersila) bagi laki-laki dan bajrasana (bersimpuh, menduduki tumit) bagi wanita, dengan punggung yang lurus dan tangan berada di atas kedua paha, telapak tangan menghadap ke atas.
Merupakan latihan sikap-sikap badan/tubuh agar kokoh,mantap, tenang , santai dan nyaman.
Asanas-asanas ini menggambarkan perubahan yang progresif dari bentuk kehidupan yang paling sederhana menjadi manusia yang benar-benar sadar.

Pengelompokkan asanas
Asanas dibagi/dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :
1.      Kelompok pemula
Asanas dalam kelompok ini dilakukan oleh orang yang sebelumnya tidak pernah melatih yoga asanas, yang keadaannya lemah atau sakit, tidak mampu melakukan latihan yang sulit. Latihan ini bukan cara yang lebih rendah dari pada asanas tingkat tinggi dan sangat berguna didalam memperbaiki jasmani.
Asanas dalam kelompok pemula
a.       Rangkaian Suryanamaskar
b.      Rangkaian Pauna Muktasanas
-          Kelompok Anti Rematik (Suksma Uyayama)
-          Kelompok Anti lambung
c.       Rangkaian Latihan Menahan Energi
d.      Rangkaia Latihan Untuk Mata
e.       Relaksasi / pengendoran
f.       Sikap-sikap Meditasi
g.      Sikap-sikap pengaturan energy seksual (rangkaian Vajrasanas)
h.      Rangkaian asanas berdiri dan membungkuk

2.      Kelompok menengah
Kelompok ini terdiri dari asanas yang agak sulit bagi orang-orang yang dapat melakukan tingkat pemula tanpa ketidaknyamanan.
Dalam asanas ini diperlukan tingkat ketenangan, kosentrasi dan koordinasi dengan pernafasan yang lebih tinggi.
Kelompok menengah meliputi latihan-latihan asanas seperti :
a.       Rangkaian asanas yang dilakukan pada atau dari padmasanas
b.      Asanas dengan penekukan kebelakang
c.       Asanas dengan pembungkukan kedepan
d.      Asanas memutar tulang belakang
e.       Asanas-asanas terbalik
f.       Asanas-asanas penyeimbang.

3.      Kelompok tingkat tinggi
Asanas dalam kelompok ini diperuntukkan bagi orang-orang dengan pengendalian yang luas tentang otot-otot dan susunan syaraf, yang telah menguasai kelompok asanas tingkat menengah.
Asanas kelompok tingkat tinggi meliputi :
-          Purna Matsyendrasanas
-          Kurmasanas
-          Dhanurakarsana asanas
-          Vrscikasanas
-          Mayurasanas
-          Padma mayurasanas
-          Hanuman asanas
-          Brahmacary asanas
-          Mula Bandhasanas
-          Goraksanas
-          Astavakrasanas
-          Eka Pada Sirasanas
-          Utthana Eka Pada Sirasanas
-          Dvi Pada Sirasanas.

  1. Pranayama
Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energy) ke seluruh tubuh. Pada saat manusia menarik nafat mengeluarkan suara So, dan saat mengeluarkan nafas berbunyi Ham. Dalam bahasa sansekerta So berarti energy kosmik, dan Ham berarti diri sendiri (saya). Ini berarti setiap detik manusia mengingat diri dan energy kosmik. Pranayama terdiri dari :
-          Puraka yaitu memasukkan nafas
-          Kumbhaka yaitu menahan nafas
-          Recaka yaitu mengeluarkan nafas.

Puraka, kumbhaka dan recaka dilaksanakan pelan-pelan tertahap masing-masing dalam tujuh detik. Hitungan tujuh detik ini dimaksudkan untuk menguatkan kedudukan ketujuh cakra yang ada dalam tubuh manusia yaitu muladhara yang terletak di pangkal tulang punggung di antara dubur dan kemaluan, svadisthana yang terletak di atas kemaluan, manipura yang terletak di pusar, anahata yang terletak di jantung, vishuddha yang terletak di leher, ajna yang terletak di tengah-tengah kedua mata, dan sahasrara yang terletak di ubun-ubun.

Prana merupakan kekuatan yang sangat penting atau utama yang meliputi seluruh kosmos. Prana berada dalam segala makhluk. Prana lebih halus dari pada udara dan dapat diartikan sebagai energy pokok yang ada dalam segala sesuatu di alam semesta. Yama berarti pengendalian. Pranayama dapat diartikan sebagai suatu rangkaian teknik yang merangsang dan meningkatkan energi yang sangat penting, pada akhirnya menimbulkan pengendalian yang sempurna pada aliran prana dalam tubuh atau juga berarti ilmu tentang cara mengatur nafas dan penyaluran prana.
Secara tradisional prana dalam tubuh dibagi menjadi 5 (lima) bagian dasar yang dikenal dengan Panca Prana yaitu :
No
Nama Prana
Prana Bija Mantra
Kedudukan/tempat
Fungsi
Warna
1
Prana
(I)
Jantung
Mengeluarkan keringat
Darah, merah
2
Apana
(A)
Anus
Membuang kotoran
Putih permata kemerahan
3
Samana
(Ka)
Daerah Pusar
Untuk pencernaan
Kristal bercahaya
4
Udana
(Sa)
Tenggorokan
Menelan makanan
Pucat pasi, suram
5
Vyana
(Ma)
Seluruh tubuh bergerak
Sirkulasi
Biru keunguan

Ada sub Prana yaitu :
1.      Naga (Ra)              : Melakukan sendawa/cegukan
2.      Kurma )La)                       : Fungsi membuka mata
3.      Krikara (Wa)                     : Menyebabkan timbulnya rasa lapar dan haus
4.      Deva Datta (Ya)   : Menyebabkan menguap/mengantuk
5.      Dhanan Jaya (Un) : Menyebabkan terurainya badan saat kematian

Rentang hidup manusia banyak tergantung pada caranya bernafas. Seseorang yang bernafas pendek, cepat mengembuskan nafas mungkin akan berumur lebih pendek dari pada orang yang bernafas dengan perlahan-lahan dan dalam. Pernafasan secara langsung berhubungan dengan jantung, pernafasan yang pelan terjadi pada jantung yang berdenut pelan dan jantung yang berdenyut pelan mengakibatkan hidup lama.
Yoga Sutra memperinci 4 jenis Pranyama yaitu:
-          Bahya vrtti atau Recaka atau napas keluar atau Parayate.
-          Abyantara Vrtti-Internal atau Puraka atau napas masuk atau Ayate.
-          Bahya Stambha Vrtti, tetap diluar atau Bahya Kumbbhaka atau penahanan napas setelah napas keluar atau Tisthate (istirahat).
-          Antah Stambha Vrtti. Tetap didalam atau antah kumbhaka atau asina (yang tinggal) atau penahanan napas setelah penarikan napas.

Tujuan utama Pranayama adalah :
Menyatukan Prana dan Apana dan membawa penyatuan Pranapana ini secara perlahan menuju Kepala.
Efek dari Pranayama adalah : Udgata atau membangunkan Kundalini yang sedang tidur.
Proses pernapasan dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1.      Pernapasan Perut  (Diafragmatik)
Pada saat menarik napas perut digelembungkan dan saat mengeluarkan napas perut dikosongkan selama melakukan pernapasan ini dada dan bahu tidak boleh digerakkan.
2.      Pernapasan Dada (Thorasik)
Tarik napas saat mengembangkan dada atau rongga tulang rusuk, hembuskan napas tulang rusuk bergerak ke dalam dan ke bawah. Perut tidak digerakkan.

Macam-macam Pranayama yaitu :
a.       Nadhi Suddhi / Nadi Sodhana Pranayama
Pernapasan ini bertujuan untuk membersihkan nadi Ida dan Pingala dari berbagai rintangan sehingga mempercepat reaksi kebangkitan Kundalini. Pernapasan ini dilakukan melalui satu lubang hidung bergantian dengan membacakan mantra Yoga Nadi Suddhi didalam hati.
Perbandingan pengaturan napas adalah 1 :  4 : 2 untuk tahap awal dan 1 : 4 : 2 : 2 untuk tahap lanjutan.
1 : 4 : 2 : 2 =    1 hitungan tarik napas (Puraka)
                              4 hitungan tahan napas (Kumbhaka Antah)
                              2 hitungan keluar napas (Recaka)
                              2 hitungan tahan napas (Kumbhaka Bahya)

b.      Sitali Pranayama (Pernapasan Penyejuk)
Pranayama ini berguna untuk melepaskan rasa haus/ dahaga dalam tubuh dan membersihkan darah. Badan menjadi dingin, mengendorkan otot dan memberikan ketenangan mental. Pernapasan ini dilakukan dengan lidah ditekuk.
c.       Sitkari Pranayama (Napas dengan Desis)
Manfaat hampir sama dengan Sitali, hanya bedanya napas masuk melalui celah-celah gigi.
d.      Brahmari Pranayama (Pengaturan Prana yang mendengung)
Manfaatnya untuk menghilangkan ketegangan otak, menghilangkan kemarahan, kegelisahan, frustasi, mengurangi tekanan darah.
e.       Bhastrika Pranayama (Napas yang berembus / Puptan Besi)
Manfaatnya untuk membersihkan paru-paru dari gas atau kuman-kuman. Penting untuk asma, TBC, Radang Selaput dada. Meningkatkan nafsu makan.
f.       Kepalabhati Pranayama (Pembersihan otak bagian depan)
Manfaat membersihkan daerah otak bagian depan. Menghilangkan pembekuan darah pada otak.
g.      Ujjayi Pranayama (Pernapasan Psikhis)
Mempunyai efek lembut pada jaringan saraf dan menenangkan pikiran, mengobati Insomania.
h.      Surya Bheda Pranayama ( Pembangkitan Kekuatan Hidup)
Mengaktifkan Pinggala nadi sehingga memberikan tenaga yang dinamis kepada pelakunya untuk melakukan kegiatan fisik dengan lebih efisien.
i.        Sivananda Pranayama ( Pernapasan Siwa atau Pernapasan segi tiga)

Manfaat Pranayama Yaitu :
1.      Selalu merasa terhubung dengan aliran sumber energi besar alam semesta
2.      Selalu dalam keadaan bersih, sehat dalam fisik
3.      Merasa nyaman dan rilek dalam jiwa
4.      Memperbaiki seluruh sistem dalam tubuh
5.      Membersihkan energi dan aura
6.      Tuntunan kesehatan, ketenangan, kesuksesan dan kedamaian dalam hidup.

  1. Pratyahara / Penyaluran
Pratyahara adalah penguasaan panca indra oleh pikiran sehingga apa pun yang diterima panca indra melalui syaraf ke otak tidak mempengaruhi pikiran. Panca indra adalah pendengaran, Penglihatan, penciuman, perasa dan peraba. Pada umumnya indra menimbulkan nafsu kenikmatan setelah mempengaruhi pikiran. Yoga bertujuan memutuskan mata rantai olah pikiran dari rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta menjadi murni dan bebas dari goncangan-goncangan. Jadi yoga tidak bertujuan mematikan kemampuan indra.

Pratyahara merupakan penghentian indriya melakukan kegiatan ke luar sehingga pikiran bebas dari gangguan dan pikiran itu sekarang dikendalikan oleh atma. Pikiran ditarik kedalam dan diarahkan menuju atman. Pratyahara berarti mengatasi alat-alat indriya yang berlari-lari keobyek nafsu. Yang mengantar ke obyek yang lebih baik atau Sreya adalah Vidya atau ilmu pengetahuan dan yang mengantar kea rah yang lebih menyenangkan atau Preya adalah Avidya atau kebodohan.

Tujuan seorang yogin melatih Pratyahara adalah untuk melepaskan alat-alat indriya dari hasrat-hasrat duniawi agar supaya ditujukan kepada Tuhan/Brahman. Menurut Patanjali ada dua syarat melakukan Pratyahara yaitu :
1.      Melepaskan alat-alat indira dari sensualitas masing-masing
2.      Agar mensejajarkan indria-indria (terutama yang berhubungan dengan nafsu-nafsu) dengan aktivitas Citta (pikiran dalam bentuknya yang hakiki).

  1. Dharana /Pemusatan Pikiran
Dharana artinya mengendalikan pikiran agar terpusat pada suatu objek kosentrasi. Objek itu dapat berada dalam tubuh kita sendiri, misalnya “selaning lelata” (sela-sela alis) yang dalam keyakinan Sivaism disebut sebagai “trinetra” atau mata ketiga Siwa. Dapat pula pada “tungtunging panon” atau ujung (puncak) hidung sebagai objek pandang terdekat dari mata. Para sulinggih (pendeta) di Bali banyak yang menggunakan ubun-ubun (sahasrara) sebagai objek karena di saat “ngili atma” di ubun-ubun dibayangkan adanya padma berdaun seribu dengan mahkotanya berupa atman yang bersinar “spatika” yaitu berkilau bagaikan mutiara. Objek lain di luar tubuh manusia misalnya bintang, bulan, matahari, dan gunung.

Penggunaan bintang sebagai objek akan membantu para yogin menguatkan pendirian dan keyakinan pada ajaran Dharma, jika bulan yang digunakan membawa kea rah kedamaian batn, matahari untuk kekuatan jasmani, dan gunung untuk kesejahteraan. Objek di luar badan yang lain misalnya patung, dan gambar dari dewa-dewi, guru spiritual, yang bermanfaat bagi terserapnya vibrasi kesucian dari objek yang ditokohkan itu. Kemampuan pengikut yoga melaksanakan dharana dengan baik akan dapat memudahkan yang bersangkutan mencapai dhyana dan Samadhi.

Dharana berarti pemusatan pikiran pada suatu tempat agar tidak bergelombang. Makna dari Dharana adalah untuk mencapai Samadhi.
Cara-cara melatih Dharana untuk mencapai ketenangan pikiran yaitu :
a.       Meditasi pada satu obyek, berguna untuk menghilangkan guncangan mental.
b.      Perbaiki mental anda terhadap orang lain disekeliling kita dalam lingkungan pergaulan.
Latihlah meditasi cinta kasih setiap hari.
c.       Melatih pranayama berguna untuk menguasai dan menundukkan napas.
d.      Melatih pemusatan pada persepsi perasaan lebih tinggi agar mencapai kemantapan pikiran untuk mengatasi guncangan bathin.
·         Meditasi pada ujung hidung membangunkan unsur bumi dan menciptkan bau ajaib.
·         Meditasi pada ujung lidah membangunkan unsur air menciptakan rasa luar biasa.
·         Meditasi pada bulan, bintang, matahari membangunkan unsur cahaya dan menciptakan bentuk-bentuk keindahan luar biasa.
·         Meditasi pada OM atau perkataan suci lain membangunkan unsur udara dan menciptakan bentuk music bathin yang luar biasa.
·         Meditasi pada pikiran bahwa anda berada dalam pangkuan Tuhan membangunkan unsur angin dan menciptakan perasaan sentuhan luar biasa.
·         Dan lainnya, semua itu membawa keyakinan pada pikiran yang guncang dan keyakinan itu membawa kedamaian.
e.       Melatih meditasi pada cahaya bathin yang cemerlang yang berada di luar segala penderitaan yang dengan demikian mengantarkan kita ke suatu keadaan anandamaya, bebas dari segala kesusahan.
Caranya adalah dengan melatih meditasi pada jantung (nyala yang selalu berkobar yang jantung).
f.       Melatih pemusatan pikiran pada orang-orang suci ( guru-guru suci) baik yang sudah wafat atau yang masih hidup. Bilamana kita merenungkan kehidupan orang suci maka Beliau-Beliau itu akan datang langsung untuk membantu kita.
g.      Merenungkan pengetahuan yang didapat dari tidur atau mimpi.
h.      Bermeditasi kepada atau mengenai apa saja yang anda anggap berguna dan menarik.



  1. Dhyana atau Kontemplasi atau Meditas/renungan
Dhyana adalah suatu keadaan di mana arus pikiran tertuju tanpa putus-putus pada objek yang disebutkan dalam Dharana itu, tanpa tergoyahkan oleh objek atau gangguan atau godaan lain baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Gangguan atau godaan yang nyata dirasakan oleh panca indra baik melalui pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap maupun peraba. Gangguan atau godaan yang tidak nyata adalah dari pikiran sendiri yang menyimpang dari sasaran objek dharana.

Dhyana berarti meresapkan pikiran yang dikendalikan tersebut lebih dalam yang akhirnya masuknya kesadaran mental secara lengkap dengan menghilangkan segenap aktivitas mental ke luar dalam kesatuan yang tiada tara.
Dhyana ada tiga jenis yaitu :
-          Sthula atau kasar
-          Jyotih
-          Sukshma atau halus.

Tujuan dhyana adalah aliran pikiran yang terus menerus kepada Sang Hyang Widhi melalui objek dharana. Kaitan antara pranayama, pratyahara dan dhyana sangat kuat. Dinyatakan oleh Maharsi Yajnawalkya sebagai berikut “Pranayamair dahed dosan, dharanbhisca kilbisan, pratyaharasca sansargan, dhyanena asnan gunan”. Artinya dengan pranayama terbuanglah kotoran badan dan kotoran buddhi, dengan pratyahara terbuanglah kotoran ikatan ( pada objek keduniawian), dan dengan dhyana dihilangkanlah segala apa (hambatan) yang berada di antara manusia dan Sang Hyang Widhi.

  1. Samadhi / Nirliptattwa.
Samadhi adalah merupakan suatu proses pemusatan pikiran yang sangat kuat dan mendalam terbatas dari Sangkalpa dan keterikatan terhadap dunia, semua rasa kemilikan atau kepentingan diri lenyap.
Dalam keadaan renungan (Dhyana) pikiran orang yang merenungkan (Dhyata), perbuatan merenungkan (Dhyaya), ketiganya masih dibedakan. Sedangkan dalam keadaan Samadhi, ketiganya melebur menjadi satu.

Diantara Dharna, Dhyana dan Samadhi dapat di bedakan sebagai berikut :
Dalam pelaksanaan Dharana atau pemusatan (kosentrasi), minat yang diarahkan ke suatu obyek dapat terganggu. Dalam Dhyana atau renungan minat tidak terganggu lagi dan menjadi satu tujuan, tetapi masih disadari perbedaan diantara pemikir, pemikiran dan pikiran (obyek yang dipikirkan). Dalam Samadhi pemikir, pemikiran dan obyek yang dipikirkan hilang. Yang tinggal adalah obyek yang diubah oleh pikiran dan diheningkan dalam renungan.
Menurut Patanjali Samadhi ada dua golongan yaitu :
1.      Samprajatnata Samadhi atau Sabija Samadhi yaitu Samadhi yang disertai dengan Prajna atau kesadaran, keadaan di mana yogin masih mempunyai kesadaran.
2.      Asamprajnata Samadhi atau Nirbija Samadhi yaitu  supra kesadaran transenden yang tidak disertai dengan prajna, keadaan di mana yogin sudah tidak sadar akan diri dan lingkungannya, karena batinnya penuh diresapi oleh kebahagiaan tiada tara, diresapi oleh cinta kasih Sang Hyang Widhi.

Baik dalam keadaan Sabija Samadhi maupun Nirbija Samadhi, seorang yogin merasa sangat bahagia, sangat puas, tidak cemas, tidak merasa memiliki apapun, tidak mempunyai keinginan, pikiran yang tidak tercela, bebas dari “Catur Kalpana” (yaitu : tahu, diketahui, mengetahui, pengetahuan), tidak lalai, tidak ada ke-“aku”-an, tenang, tentram dan damai. Samadhi adalah pintu gerbang menuju moksa. Ini dikarenakan unsur-unsur moksa sudah dirasakan oleh seorang yogin. Samadhi yang dapat dipertahankan terus menerus keberadaannya, akan sangat memudahkan pencapaian moksa.

Menurut Gheranda Sanghita Samadhi ada enam jenis yaitu :
1.      Dhyana yoga
2.      Nada yoga
3.      Rasanasnda yoga
4.      Layasiddhi yoga
5.      Bhakti yoga
6.      Raja yoga.

Uji Kompetensi 1
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
  1. Sebutkan pembagian Astangga yoga!
  2. Sebutkan yang termasuk ke dalam pembagian Yama dalam Astangga Yoga!
  3. Sebutkan bentuk-bentuk ajaran Ahimsa!
  4. Bagaimana bila ajaran Yama dan Nyama tidak diterapkan? Jelaskan !
  5. Dari ajaran Yama dan Nyama, yang mana yang sudah kalian terapkan dan manfaat apa yang kalian dapatkan dari ajaran tersebut? Jelaskan !

Uji Kompetensi 2
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.      Apa yang dimaksud dengan Niyama Brata? Sebutkan bagian-bagiannya!
2.      Apa yang dimaksud Santosa dan Tapa dalam Niyama?
3.      Berapa jumlah gerakan Asanas? Sebutkan pembagian Asanas!
4.      Sebutkan Asanas dalam kelompok pemula!
5.      Jelaskan pengertian Pranayama dan sebutkan manfaat Pranayama!
  1. Sebutkan 4 (empat) jenis Pranayama dalam kitab Yoga Sutra!
  2. Apa yang dimaksud dengan pernapasan perut/diafragmatik!
  3. Sebutkan 9 (Sembilan) macam Pranayama!
  4. Apa yang dimaksud dengan Sitali Pranayama dan Sitkari Pranayama?
  5. Apa yang dimaksud dengan  Dharana dan Dhyana?
  6. Sebutkan 2 (dua) macam Samadhi menurut Patanjali!
  7. Uraikan perbedaan Dhyana, Dharana dan samadhi!
  8. Menurut kalian, bagaimana cara agar bisa mencapai tahapan Astangga Yoga yang tertinggi?




7.      ETIKA YOGA
Na karmanam anarambhan naiskarmyam puruso snute,
Na ca samnyasanad eva siddhim samadhigacchati”.
Artinya :

“Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja “. (Bhagawadgita. III.4)

Secara umum, konsep etika dalam yoga termasuk dalam latihan yama dan niyama, yaitu displin moral dan displin diri. Aturan-aturan yang ada dalam yama dan niyama, juga berfungsi sebagai control social dalam mengatur moral manusia. Dalam buku Tattwa Dharsana, dijelaskan bahwa etika dalam yoga adalah ; dalam Samadhi, seorang yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tidak tersentuh oleh suara yang tak henti-hentinya, yang berasal dari luar dan pikiran kehilangan fungsinya, di mana indria-indria terserap ke dalam pikiran. Apabila semua perubahan pikiran terkendalikan, si pengamat atau purusa, terhenti dalam dirinya sendri. Keadaan semacam ini di dalam yoga sutra patanjali disebut sebagai svarupa avasthanam (kedudukan dalam diri seseorang yang sesungguhnya).
Dalam filsafat yoga dijelaskan bahwa yoga berarti penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Ada lima keadaan pikiran itu. Keadaan pikiran itu ditentukan oleh itensitas sattwa, rajas dan tamas. Kelima keadaan pikiran itu adalah sebagai berikut :
-          Ksipa artinya tidak diam-diam.
Adalah pada saat pikiran mengembara di antara berbagai objek duniawi dan pikiran dipenuhi dengan sifat Rajas. Dalam keadaan ini pikiran itu diumbangbingkan oleh rajas, dan tamas serta ditarik-tarik oleh objek indria dan sarananya. Pikiran melompat-lotmpat dari satu objek ke objek yang lain tampa mengacu kepada satu objek. Pikiran berada dalam keadaan tertidur dan tak berdaya.
-          Mudha artinya lamban dan malas.
Gerak lamban dan malas ini disebabkan oleh pengaruh tamas yang menguasai alam pikiran. Akibatnya orang yang alam pikiran. Akibatnya orang yang alam pikirannya demikian cenderung bodoh, senang tidur dan sebagainya.
-          Viksipta artinya bingung atau kacau
Hal ini disebabkan oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini pikiran mampu mewujudkan semua objek dan mengarahkan pada kebijakan, pengetahuan dan sebagainya. Ini merupakan tahap pemusatan pikiran pada suatu objek namun sifatnya sementara sebab akan disusul lagi oleh kekuatan pikiran. Yaitu keadaan pada saat sifat Sattva melampaui, dan pikiran goyang antara meditasi dan objektivitas. Sinar pikiran secara perlahan berkumpul dan bergabung. Bila sifat Sattva meningkat, akan memiliki kegembiraan pikiran, pemusatan pikiran, penaklukan indriya-indriya dan kelayakan untuk perwujudan atman.
-          Ekagra artinya terpusat
Di sinilah citta terhapus dari cemasnya rajas sehingga satwamlah yang menguasai pikiran. Ini merupakan awal pemusatan pikiran pada sauatu objek yang menginginkan ia mengetahui alam nya yang sejati sebagai persiapan untuk menghentikan perubahan-perubahan pikiran. Yaitu pada saat pikiran terpusat dan terjadi meditasi yang mendalam sifat Sattva terbebas dari sifat Rajas  dan Tamas.
-          Nirodha artinya  terkendali semua pikiran, hanya ketenanganlah yang ada.
Semua Vrtti pikiran dilenyapkan. Vrtti merupakan kegoncangan atau gejolak pikiran dalam danaunya pikiran. Setiap  Vrtti atau perubahan mental meninggalkan sesuatu samskara atau kesan-kesan atau kecenderungan yang terpendam.

Ekagra dan nirudha merupakan Persiapan dan bantuan untuk mencapai tujuan. Lahir yaitu kelepasan. Ekagra bila dapat berlangsung terus-menerus disebut samprajanata (sadar) yoga atau meditasi yang dalam, yang padanya ada perenungan kesadaran akan sesuatu objek yang terang. Ada objek kosentrasi yang pasti, di situ pikiran tetap sadar akan objek tersebut.  Tingkatan nirudha juga disebut asamprajnata (supra sadar) yoga, karena semua perubahan dan goncangan pikiran berhenti, tiada satu pun diketahui lagi oleh pikiran, dalam keadaan demikian tak ada riak-riak gelombang kecil sekalipun pada permukaan alam pikiran atau citta itu. Inilah yang dinamakan orang Samadhi dalam ajaran yoga.

Ada empat macam samprajnata dalam ajaran Yoga menurut jenis objek renungannya. Keempat jenis samprajnata itu ialah:
a.       Sawitarka (dengan pertimbangan)
Ialah bila pikiran itu dipusatkan pada suatu objek yang benda kasar seperti arca dewa atau dewi.
b.      Nirvitarka (tanpa pertimbangan)  
c.       Sawicara (dengan renungan)
Ialah  pikiran itu dipusatkan pada suatu objek yang halus yang tidak nyata seperti tanmatra.
d.      Nirvicara (tanpa renungan)
e.       Sananda (dengan kegembiraan)
Ialah bila pikiran itu dipusatkanpada suatu objek yang halus seperti rasa indria.
f.       Sasmita (dengan arti kepribadian)
Ialah  bila pikiran itu dipusatkan pada asmita yaitu anasir rasa aku yang biasanya Roh menyamakan dirinya dengan anasir ini.

Dengan tahapan-tahapan pemusatan pikiran seperti yang disebut di atas maka ia akan mengalami bermacam-macam fenomena alam, objek dengan atau tanpa jasmani yang meninggalkannya satu persatu hingga akhirnya citta meninggalkannya sama sekali dan seseorang mencapai tingkat asamprajnata dalam yoganya. Untuk mencapai tingkat ini orang harus melaksanakan praktik yoga dengan cermat dan dalam waktu yang lama melalui tahap-tahap yang disebut Astangga Yoga.

8.      SANG HYANG WIDHI DALAM AJARAN YOGA
Perenungan;
Yo báūtaṁ ca bhavyaṁ ca sarvaṁ yaṡ cādhitiṣþhati,
svar yasya ca kevalaṁ tasmai jyeṣþhāya brahmaṇe namaá.
terjemahannya;
’Tuhan Yang Maha Esa ada di mana-mana, baik dimasa lampau, di masa kini maupun di masa datang. Dia berbahagia sepenuhya. Kami menghaturkan persembahan (korban) ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung (Mahkluk Agung itu) (Atharvaveda X.7.35).

Memahami Teks:
Patanjali menerima eksistensi Sang Hyang Widhi (Isvara) dimana Sang Hyang Widhi menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha ada. Sang Hyang Widhi adalah purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas dari Karma, Karmaphala dan impresi-impresi yang bersifat laten.

Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Sang Hyang Widhi, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Sang Hyang Widhi dan menjadi korban dari dunia material ini.
Tujuan dan aspirasi manusia bukanlah bersatu dengan Sang Hyang Widhi, tetapi pemisahan yang tegas antara Purusa dan Prakrti (Sarasamuccaya, hal 371). Hanya satu Tuhan (Sang Hyang Widhi). Menurut Vijnanabhisu: “dari semua jenis kesadaran meditasi, bermeditasi kepada kepribadian Sang Hyang Widhi adalah meditasi yang tertinggi. (Sarasamuccaya, 372) Ada bebagai obyek yang dijadikan sebagai pemusatan meditasi yaitu bermeditasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, bermeditasi kepada suatu tempat yang ada pada tubuh kita sendiri dan yang tertinggi adalah bermeditasi yang di pusatkan kepada Sang Hyang Widhi.
Kebodohan menyatakan bahwa ada dualisme dari satu realitas yang disebut Sang Hyang Widhi (Tuhan). Ketika kebodohan dihilangkan oleh pengetahuan maka dualisme hilang dan kesatuan penuh akan dicapai. Ketika seseorang mengatasi kebodohan maka dualisme hilang, ia menyatu dengan The Perfect Single Being tetapi kesempurnaan The Single Being itu selalu ada dan tetap tersisa sebagai sesuatu yang sempurna dan satu. Tak ada perubahan dalam lautan, seberapa banyakpun sungai-sungai yang mengalirkan airnya dan bermuara padanya. Ketidak berubahan adalah keadaan dasar dari kesempurnaan

Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.      Bagaimana cara untuk mengendalikan diri baik dari unsur jasmani maupun rohani?
2.      Bagaimana sebaiknya beretika dalam pelaksanaan yoga?
3.      Bagaimana pandangan ajaran yoga terhadap Tuhan?
4.      Bagaimana keberadaan Tuhan itu sendiri dalam ajaran Yoga?
5.      Dalam ajaran Yoga, apakah yang dimaksud Tuhan itu?


9.      NADI DAN CHAKRA
  1. NADI
Jumlah nadi di tubuh manusia sekitar 3 ½ kror ( 1 kror = 10 juta), sebagian kasar dan sebagian halus. Nadi berarti syaraf atau pembuluh darah antery (nadi), tetapi didalam yoga nadi yang dimaksud itu bukan yang bersifat fisik tetapi saluran energy halus. Dari 35 juta jumlah nadi itu yang terpenting ada 14 dan yang paling penting ada tiga yaitu : Ida, Pingala dan Sushumna.

Sushumna terletak di rongga meru dandha (tulang belakang) didalam sumbu saluran cerebo spinal, dari tulang ekor sampai ke daerah otak. Didalam sumshumna terdapat wyrini nadi berbentuk api (wahni swarupa) dalam perwujudan surya (surya swarupa).

Ida berwarna pucat seperti bulan dan mengandung amrita. Pingala berwarna merah seperti matahari mengandung racun, cairan yang menyebabkan kematian. Ketiga nadi ini akhirnya bersatu di Ajna Chakra ( diantara dua alis) dan dari tempat itulah berpisah karena itu disebut juga Mukta Triweni sedangkan tempat awal bertemu adalah di tulang ekor di Muladara Chakra atau Yukta Triweni. Nama lain dari Ida adalah Gangga. Pinggala : Yamuna dan Sushumna : Saraswati. Pintu terbuka pada dasar Sushumna di muladara chakra disebut Brahma Dwara yang ditutup oleh Dewi Kundalini yang tertidur melingkar 3 ½ lingkaran disana.

Untuk membersihkan ke tiga nadi tersebut agar saluran energy bathin tidak terganggu dipergunakan Chakra Nadi Suddhi (pembersihan nadi) yaitu salah satu teknik Pranayama. Apabila Nadi Suddhi dilatih dengan tepat selama 20 menit sekali latihan perhari 4x selama 4 bulan maka ke tiga nadi tersebut sudah bersih dan Brahma Dwara akan terbuka sehingga Kundalini bias bergerak masuk melewati suhsumna menuju ke Siwa Dwara (ubun-ubun).

Dalam hal ini Nadi merupakan saluran psikhis agar memutuskan jalannya energy psikhis yang ada di tubuh yaitu energy Kundalini. Sedangkan pusat-pusat energy psikhis ditubuh ada pada masing-masing Chakra



  1. CHAKRA
Chakra utama jumlahnya ada tujuh dan terletak pada bagian urat syaraf tulang belakang, dari titik paling bawah pada pireneum sampai ujung kepala. Chakra tersebut diberi kekuatan melalui suatu jaringan saluran jiwa yang disebut Nadi yang berhubungan pada tingkat yang lebih besar pada syaraf-syaraf dalam jaringan syaraf.

Chakra-chakra tersebut dilukiskan secara simbolis sebagai bunga-bunga teratai, masing-masing mempunyai jumlah daun bunga yang khusus dan warna yang khas.

            Tujuh macam chakra utama adalah :
1.      Muladhara Chakra (Chakra Dasar) = Tanah
Muladhara adalah Chakra paling bawah. Mula = Akar, Adhara = tempat. Muladhara disebut pusat asal karena merupakan pusat atau tempat tinggal dari kekuatan utama yaitu Kundalini Sakti. Kundalini tersebut ada dalam wujud seekor ular yang tidur nyenyak, yang membelitkan dirinya pada lingga suayambhu itu merupakan sumber segala kekuatan pada manusia dan alam semesta, apakah kekuatan seksual, emosi, mental, jiwa atau spiritual.

Muladhara ialah ruang segitig tepat ditengah-tengah badan sebelah bawah, dengan ujung segitiga menuju ke bawah seperti yoni gadis kecil. Dilukiskan seperti padma merah, berdaun bunga empat lembar, letaknya persis diantara pangkal kemaluan dan anus. Tanah berasal dari air itulah tattwa chakra ini. Empat daun bunganya itu berwarna kuning keemasan, masing-masing memancarkan getaran suara aksara Wang, Shang, Sang,Sang.

2.      Swadhishthana Chakra (Chakra Sex) = Air
Diantara Muladhara pada bagian tulang belakang tepatnya dibelakang alat kelamin adalah Swadhisthana Chakra. Sua = sendiri, Sthana = tempat tinggal. Jadi artinya tempat tinggal dari sendiri. Pada tingkat fisik, Swadhisthana sebagian besar dihubungkan dengan alat-alat pengeluaran dan reproduksi.

Swadhisthana seperti kembang padma berdaun bunga enam lembar terletak di tengah-tengah badan pada lewel pangkal kemaluan, di atas muladhara dan dibawah pusar. Lingkaran sari bunga berwarna merah, sedangkan daun bunganya mengkilat seperti kilat. Air  berasal dari Api merupakan tattwa chakra ini. Getaran aksara daun-daun bunga itu ialah Bang, Bhang, Mang, Yang, Rang dan Lang.

3.      Manipura Chakra ( Chakra Pusar) = Api
Manipura berarti kota permata (Manu = permata, Pura = kota). Chakra ini disebut demikian karena merupakan pusat api, panas dan berkilau seperti sebuah permata, bersinar dengan kekuatan dan energi. Manipura chakra adalah pusat halus yang mengatur aktivitas jaringan syaraf simpati dibelakang lambung mengenai proses pencernaan serta penyerapan makanan juga fungsi kelenjar lambung, perut seperti pancreas, kandung empedu dan kelenjar yang berbeda dalam perut merupakan hasil dan sekresi dan enzim, asam dan getah yang penting untuk pencernaan makanan sebelum menyebarkan ke seluruh bagian tubuh.

Manipura adalah pusat kekuatan dalam tubuh psikhis dan fisik yang mana prana (kekuatan yang bergerak ke atas) dan apana (kekuatan yang bergerak ke bawah) bertemu, yang menghasilkan panas (pranapana) yang penting untuk menyangga kehidupan.

Manipura chakra padma keemasan berdaun bunga sepuluh terletak di sekita daerah pusar. Api berasal dari Udara merupakan tattwa dari chakra ini. Daun-daun bunga itu warnanya seperti awan, diselubungi di atasnya warna-warna biru dengan suara aksara Dang, Dhang, Nang, Tang, Thang, Dang Dhang, Nang, Pang, Phang.

4.      Anahata Chakra (Chakra Jantung) = Udara
Secara harfiah berarti tidak berbunyi (an : tidak, hata : berbunyi). Semua suara dialam semesta yang nyata ini dihasilkan oleh benda-benda yang berbunyi bersama-sama yang menyebabkan getaran atau gelombang suara, tetapi suara yang keluar dari luar dunia material sebagai suara pertama, merupakan sumber dari segala suara dan merupakan anahata nada (suara).

Anahata pada tingkat fisik dihubungkan dengan jantung, paru-paru serta system peredaran darah dan pernafasan. Kelenjar yang berhubungan dengan chakra ini adalah thymus. Anahata chakra berbentuk kembang padma merah gelap dengan dua belas daun bunga, terletak di sekitar daerah jantung.Udara berasal dari Ether demikian tattwa di chakra ini. Pada masing-masing daun bunga yang berwarna merah gelap itu terdapat getaran warna kang, Khang, Gang, Ngang, Chang, Chhang, Jang, Jhang, Nyang, Tang, Thang.

5.      Vishudha Chakra (Chakra Tenggorokkan /Kanta Mula) = Ether
Visuddhi chakra adalah pusat pembersihan (Visuddhi : membersihkan), terletak di pusat tenggorokan yang mana adalah tempat minuman dewata Amrta dirasakan.  Visuddhi chakra mempengaruhi pita suara dan daerah pangkal tenggorokan, kelenjar gondok dan paratiroid.  Penyakit-penyakit pada bagian tubuh fisik ini dapat disembuhkan dengan berkosentrasi secara sungguh-sungguh pada chakra ini. Kelenjar yang berhubungan denga chakra ini adalah tyroid.

Visuddhi chakra atau Bharatisthana, tempat kedudukan dewi yang menguasai ucapan, terletak pada ujung bawah kerongkongan (kantha mula). Tattwa  chakra ini ialah Ether. Padma di sini kelihatan seperti api yang dilihat melalui asap. Berdaun bunga enam belas, warna aksara merah berbunyi : Ang, Ang, Ing, Ing, Ung, Ung, Ring, Ring, Lring, Lring, Eng, Ang, Ong, Aung, Ang, Ah.

6.      Ajna Chakra (Chakra Parama Kula/ diantara alis) = Jiwa halus
Chakra ini dikenal sebagai mata ketiga : yaitu Jnana Caksu (mata kebijaksaan), trikuti atau triveni (pertemuan tiga sungai) Bhrumadhya (pusat alis), Guru chakra, dan mata siva. Kata Ajna berarti perintah.

Ajna chakra juga dinamakan parama kula dan mukta tri weni, karena dari sini tr-nadi yaitu Ida, Pinggala, dan Sushumna berpish menuju ke tujuan masing-masing. Ajna chakra ini seperti kembang padma yang berdaun bunga hanya dua helai, terletak disela-sela alis mata. Disini tidak terdapat tattwa dari maha bhuta yang kasar itu lagi, tetapi tattwa yang halus dari jiwa mulai muncul disini. Pada kedua helai daun bunganya itu terdapat warna merah dengan bunyi Hang dan Kshang.

7.      Sahasra Chakra ( Chakra Mahkota/ubun-ubun)
-          Manas chakra
Chakra ini seperti kembang padma berdaun bunga enam helai yaitu tempat kedudukan Shabda jnana (daya mendengar), Sparsha jnana (rasa sentuh), Rupa jnana (penglihatan), aghrano palabdhi (penciuman), rasopabhoga (rasa kecap) dan swapna (ketiadaan semuanya).

-          Soma chakra
Chakra ini terletak diatas manas chakra, disudut atas bagian belakang kepala, merupakan pusat yang dikenal sebagai bindu (suatu titik atau tetesan). Pusat bindu ini adalah pusat kosentrasi sangat penting yang digunakan untuk merasakan suara-suara bathin yang jelas ada. Dilambangkan dengan bulan sabit kecil pada malam terang bulan.
Soma chakra berdaun bunga enam belas yang juga disebut 16 kala.

-          Niralamba puri (padma anglayang)
Diatas chakra ini terdapat niralamba puri (padma nglayang dan rumah tanpa penunjang).di atas inilah terlihat pranawa itu bersinar seperti api dan diatasnya itu terlihat kepingan bulan sabit yang putih, yaitu Nada dan diatasnya ini terdapat titik terkahir Windhu. Di sana itulah terlihat adanya kembang padma putih berdaun bunga dua belas dengan permukaan mengarah keatas, diatasnya itu terdapat samudra amrita (sudha sagara), dengan pulau batu permata (mani dwipa), tempat pemujaannya terbuat dari batu permata (mani pitha).

-          Sahasrara padma
Sahasrara sebenarnya bukan chakra tetapi tempat kesadaran tertinggi. Ini dilukiskan sebagai bunga teratai yang berkilau dengan beribu-ribu daun bunga yang berisi semua huruf dari abjad sansekerta, bersama-sama dengan semua kekuatan yang dihubungkan dengan setiap suara (lima puluh jumlahnya) lebih dari dua puluh kali. Di tengah-tengah bunga teratai itu ada lingga Siva yang bercahaya, lambang dari kesadaran suci. Dalam Sahasrara inilah penyatuan mistis Siva dan sakti terjadi, perpaduan kesadaran dengan materi dan kekuatan, jiwa individu dengan jiwa tertinggi.

10.  MEMPRAKTIKKAN SIKAP-SIKAP YOGA
Walaupun yoga diklasifikasikan ke dalam empat disiplin yang berbeda, tidak ada satu pun yang bersifat istimewa, superior atau lebih rendah dari yang lain. Semuanya sama pentingnya dan disebutkan dalam kitab Hindu. Kecocokan disiplin tertentu bergantung dari mental, intelektual dan dimensi emosional dan hubungannya dengan karma dari pribadi seseorang.

Ketika kata yoga digunakan di Negara barat, secara umum ini berarti Hatha Yoga, yang merupakan latihan fisik dalam system hindu kuno dan teknik pernafasan yang dirancang untuk menjaga tubuh yang sehat. Kitab Hindu menggunakan kata yoga sebagai sinonim dari sadhana, yang berarti spiritual displin.

Jika yoga rutin dilakukan dalam kehidupan ini, kesejahteraan dan kebahagiaan pendidik dan peserta didik pada khususnya serta umat sedharma pada umumnya dapat terwujud.

11.  Aplikasi Ajaran Yoga Dalam Kehidupan Sehari – hari
Ada banyak jalan untuk mencapai kebenaran tertinggi. Jalan yang berbeda-beda itu tampakanya memiliki tujuan yang sama yaitu sebuah penyatuan tertinggi antara Atman dengan Brahman. Kita lahir berulang kali untuk meningkatakan perkembangan evolusi jiwa. Dan masing-masing dari kita berada pada tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Karena itu tiap orang disiapkan untuk tingkat pengetahuan spiritual yanag berbeda pula. Semua jalan rohani yang ada di dunia ini penting karena ada orang-orang yang membutuhkan ajarannya. Penganut suatu jalan rohani dapat saja tidak memiliki pemahaman lengkap tentang sabda Tuhan dan tidak akan pernah selama masih berada dalam jalan rohani tersebut.
Jalan rohani itu merupakan sebuah batu loncatan untuk pengetahuan yang lebih lanjut. Setiap jalan rohani memenuhi kebutuhan rohani yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh jalan rohani yang lain. Tidak satupun jalan rohani yang memenuhi kebutuhan semua orang di segala tingkat. Saat satu individu masih tingkat pemahamannya tentang Tuhan dan perkembangan dalam dirinya, dia mungkin merasa tidak terpenuhi oleh pengajaran jalan rohani sebelumnya dan mencari jalan rohani yang lain untuk mengisi kekosongannya. Bila hal itu terjadi, maka orang tersebut telah meraih tingkat pemahaman yang lain dan akan merindukan kebenaran serta pengetahuan yang lebih luas, dan kemungkinan lain untuk tumbuh.
 Dengan demikian kita tidak berhak untuk mencerca jalan rohani yang lain. Semua berharga dan penting di mata-Nya. Ada pemenuhan sabda Tuhan, akan tetapi kebanyakan oaring tidak memperolehnya di sini untuk bisa meraih kebenaran, kita perlu mendengarkan roh dan melepas ego kita. Dan Yoga sebagai salah satu jalan yang bersifat universal adalah salah satu jalan rohani dengan tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan kemampuan spiritual seseorang.
Berikut aplikasi yoga dalam kehidupan sehari – hari :
a.       Melakukan Persembahyangan
Sembahyang adalah merupakan ajaran Bhakti – Yoga, dimana Bhakti Yoga adalah jalan bagi pengabdian diri, pemujaan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Para pemuja dalam jalan ini memuja Tuhan dalam berbagai bentuk yang ia punyai. Jalan ini adalah penyadaran yang sesuai dengan orang-orang yang terberkahi dengan pikiran yang emosional. Para pemuja dalam jalan ini secara inisial memilih salah satu Dewa (Ista-Dewa), yang sesuai temperamen dirinya, untuk mewujudkan tujuan spiritual. Tujuan dari jalan spiritual adalah melebur ego dari seorang individu melalui pengabdian dan penyerahan diri pada keinginan Tuhan (Pandit, 2005:73).
Bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan, ia tak pernah membenci mahluk atau benda apapun dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi, ia merangkul semuanya dalam dekapan hangat kasih sayangnya (Sivanandha, 2003:135).
 Sembahyang dapat memelihara kesehatan seseorang. Dengan melakukan Asana atau sikap duduk Padmasana, dimana tulang punggung, leher dan kepala harus tegak lurus (tidak membungkuk), kemudian dengan Pranayama (pengaturan nafas) dengan sikap batin yang hening, tenang dan suci, akan menjadikan tubuh seseorang semakin sehat. (Suhardana, 2004:3-4).

b.       Menghormati Orang Tua / Guru
Paramahamsa Yogananda (dlm Autobiography of a yogi) menguraikan bahwa jika dalam sehari saja kita dapat membahagiakan, mematuhi dan menghormati Orang Tua dan Guru hanya dengan menghormati dan menyayangi orang tua, kita sudah dianggap berlatih yoga selama delapan jam secara intensif di bawah bimbingan Guru sejati serta dianggap telah melakukan perjalanan evolusi yang seharusnya ditempuh  secara   alami   selama seribu  tahun. Melalui Bhakti Sang Yogi memperoleh kedekatan hubungan dengan Tuhan sebagai pribadi kosmik tertinggi (Para Brahman) Yoga belumlah sempurna tanpa Bhakti, sehingga sering dikatakan bahwa Bhakti merupakan puncak dari segala yoga.

c.       Ahimsa / Tidak Menyakiti
Dalam buku yang berjudul  Disiplin dan Sadhaana Spiritual. Kegiatan tersebut merupakan ajaran yoga dimana tidak membunuh merupakan ajaran daripada Ahimsa. Ahimsa merupakan bagian dari pada astangga yoga, Ahimsa merupakan tahap awal untuk mengendalikan diri. Jika tahap awal ini gagal dicapai maka sulit atau tidak bisa untuk mencapai tahap yang lebih tinggi yaitu Samadhi.
“Engkau tidak boleh menggunakan tubuh yang diberikan Tuhan untuk membunuh makhluk Tuhan, apakah mereka manusia, binatang atau apapun.” (Yajur Veda Samhita 12.32).
Yang di maksud tidak menyakiti makhluk lain yaitu tidak membunuh binatang sembarangan, kita harus mengasihi makhluk tersebut. Ini termasuk kedalam Ahimsa salah satu ajaran yoga. Walaupun ahimsa secara umum berarti sebagai kebajikan dari pendeta Budha dan jainisme, akarnya tumbuh dalam Veda dan Upanisad yang subur yang merupakan kitab Hindu yang utama.
 Ahimsa mengajarkan bahwa seseorang harus menganggap semua makhluk hidup adalah perlambang dari Tuhan dan sehingga seseorang itu tidak boleh melukai pikiran, dengan kata-kata atau perbuatan mahluk lainnya.

d.      Membantu Orang Tua / Bekerja Tanpa Mengharap Imbalan (Pamrih)
Menurut buku Hinduisme sebuah pengantar dalam buku tersebut dijelaskan mengenai Bhakti. Bhakti dalam artian adalah berbhakti kepada orang tua dengan membantu kedua orang tua disaat kesulitan dengan tidak mempersulit keadaaan. Dengan jalan Bhakti seseorang akan mudah mencapai kehidupannya.
Kegiatan di atas termasuk kedalam ajaran Karma Yoga. Karma Yoga adalah jalan kegiatan yaitu jalan pelayanan tanpa pamrih, yang membawa pencapaian Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan akan buah dari perbuatan. Karma Yoga mengajarkan ke pada kita bagaimana bekerja demi untuk kerja itu sendiri yaitu tak terikat. Dan bagaimana mempergunakan sebagian besar tenaga kita untuk keuntungan yang terbaik. Motto dari seorang Karma-Yogin adalah “Kewajiban demi untuk kewajiban itu sendiri”. Bagi seorang Karma-Yogin, kerja adalah pemujaan. Setiap orang hendaknya melakukan kewajiban sesuai dengan Warna dan asramanya masing-masing golongan sosial serta tahapan dalam kehidupannya. Tak ada manfaatnya meninggalkan pekerjaannya sendiri dan condong melakukan pekerjaan orang lain. (Sivanandha, 2003:133-134).

e.        Konsentrasi Dalam Suatu Kegiatan
Tindakan memegang, membawa, menguasai, dan memiliki (Zoetmulder, 1995:196). Maharsi Patanjali mengajarkan 3 cara dharana, yaitu:
a.       Menguasai indra-indra agar tetap terkonsentrasi pada satu objek saja, tetap dibawah pengawasan manah (pikiran)
b.      Menentramkan gerak-gerik pikiran dengan watak lemah lembut, ceria, penuh kasih sayang dan tenang baik dalam keadaan duka maupun suka,
c.       Mengkonsentrasikan indra tersebut pada nafas yang keluar masuk tubuh (Yogasutra, I:32-25).

Dharana yang merupakan pengkonsentrasian pikiran terhadap suatu objek. Tanpa kosentrasi, kita tidak dapat memiliki suatu keberhasilan dalam jalan kehidupan. Pada seorang manusia duniawi, pancaran pikiran berpencar kesegala arah, melompat-lompat seperti seekor kera. Sekali saja Pratyahara telah dapat dilakukan, pikiran kemudian diarahkan kepada objek konsentrasi. Objek tersebut dapat berupa gambaran dari Dewa, sebuah mantra, nafas seseorang atau bagian tubuh, atau hal yang lain. (Pandit, 2005:82).

d.      Berjapa Yoga dan Gayatri Sadhana
Japa Yoga dijelaskan tentang mantra dapat mengubah sifat kita menjadikan lebih halus, lembut dan lebih tenang. Japa adalah pelafalan mental atau diam mengingat sebuah mantra yang perlahan-lahan membangkitkan getaran energi dalam ruang atau medan pikiran. Selain itu didalam Gayatri Sadhana dijelaskan pelaksanaan meditasi Gayatri dapat menghancurkan segala karma dan dosa dan dengan pemurnian hati serta pikiran, ia membukakan penglihatan ketiga guna pencerahan; dengan mantramu manusia dapat hidup lama atau berumur panjang dengan kesehatan yang prima, bersinar laksana cahaya dan membantu umat manusia dalam mempercepat evolusinya. Hal  tersebut disebutkan dalam buku yang berjudul Japa Yoga dan Gayatri Sadhana.

e.       Merenung / Pemusatan Pikiran
 Ini termasuk kedalam ajaran Dhyana, berarti meditasi, refleksi, atau pemusatan pikiran (Zoetmulder, 1995:245), disebut juga kontemplasi atau renungan mendalam. Patanjali menjelaskan “tatra pratyaikatanata dhyanam” artinya, “arus pikiran terkonsentrasi tak putus-putusnya pada objek renungan” (Yogasutra, III:2). Seperti halnya air sungai yang menuju laut, demikian pulalah hendaknya renungan itu terpusat pada Isvara “Tuhan” (Sukayasa dkk, 2006:27-28)
 Renungan mendalam itu sesungguhnya adalah  Samadhi. Orang yang merenung (pemikir), aktivitas merenungnya (pemikirannya), dan yang direnungkan (objek yang dipikirkan).

12.  GERAKAN-GERAKAN YOGA
1.      Pranamasana
Om Mitraya Namah (penghormatan pada teman semua)
Nafas   : Normal
Kosentrasi : pada Hanahata chakra
Manfaatnya : membentuk suatu keadaan kosentrasi dan ketenangan dalam persiapan untuk latihan yang dilakukan.
2.    Hasta Uttanasana
Om Ravaye Namah (penghormatan kepada sinar yang cemerlang)
Nafas : tariklah nafas ketika mengangkat kedua lengan
Kosentrasi : pada Visuddhi chakra
Manfaatnya : merenggangkan isi perut, menghilangkan lemak, dan memperbaiki pencernaan, dapat menyelaraskan urat-urat syaraf, tulang belakang dan membuka seluruh bilik paru-paru.
3.    Padahastasana
Om Savitre Namaha (hormat pada ibu yang penuh kebajikan)
Nafas : hembuskan dan mengerutkan daerah perut.
Kosentrasi : Svadistana chakra
Manfaatnya : mencegah sakit perut, mengurangi kelebihan lemak, memperbaiki pencernaan, membantu menghilangkan sembelit, memperbaiki peredaran darah, membuat tulang belakang lemas dan menyelaraskan syaraf-syaraf tulang belakang.
4.    Asva Sancalanasana
Om Aditya Namaha (hormat kepada putra Aditi)
Nafas  : tarik nafas
Kosentrasi : Anja chakra
Manfaatnya : memijat organ-organ perut dan memperbaiki fungsinya, otot-otot kaki akan diperkuat, keseimbangan urat akan tercapai.
5.    Parvatasana
Om Khagaya Namah (hormat pada yang bergerak cepat dilangit)
Nafas : hembuskan nafas
Kosentrasi : Visuddhi chakra
Manfaatnya : menguatkan syaraf dan otot-otot pada kedua lengan dan kaki, melenturkan tulang belakang, menyelaraskan urat syaraf tulang belakang dan memberikan syaraf-syaraf tersebut aliran darah yang segar.
6.    Astanga Namaskara
Om Puspe Namah (hormat pada pemberi kekuatan)
Nafas : tanpa pernafasan
Kosentrasi : Manipura chakra
Manfaatnya : menguatkan otot-otot kaki dan lengan, memperkuat dada.
7.    Bhujangasana
Om Hiranya Garbhaya Namah (hormat kepada tri kosmis keemasan)
Nafas : tarik nafas
Kosentrasi : Svadhistana chakra
Manfaatnya : membantu menekan daerah yang berhenti dari organ-organ perut dan mendorong aliran darah segar, baik untuk semua penyakit perut, melemaskan otot-otot, memberikan syaraf tulang belakang yang paling penting.
8.    Parvatasana
Om Maricaye Namaha (hormat pada penguasa fajar)
Nafas : hembuskan nafas
Kosentrasi : Visuddhi chakra
9.    Asva Sancalanasana
Om Bhanave Namah (hormat kepada yang menerangi)
10.  Padahastasana
Om Suryaya Namah (hormat kepada yang menyebabkan kegiatan)
11.  Hasta Uttanasana
Om Arkaya Namaha (hormat pada yang pantas dipuji
12.  Pranamasana
Om Bhaskaraya Namah (hormat pada yang membawa pencerahan)






13.  GAMBAR-GAMBAR GERAKAN YOGA


B.     Menyimak Sloka
Petunjuk
1.      Musuh manusia yang paling utama adalah musuh yang munculnya dari dalam diri sendiri, seperti yang dijelaskan dalam Bhagawadgita.
2.      Baca sloka Bhagawadgita bab III Sloka 37 dibawah, kemudian tulis artinya!
3.      Tulis pula nilai-nilai/nasihat yang perlu kita pahami dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari!

kama esa krodha esa
Rajoguna samudbhavah
Mahasano mahapapna
Yiddhy enam iha vairinam”
Artinya :
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Nilai-nilai :
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

C.     Amatilah praktik ajaran yoga yang ada di sekitar lingkunganmu! Buatlah laporan berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan! Sebelumnya, diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah.

D.    Sejak kapan praktik ajaran yoga berkembang disekitar wilayahmu, dan bagaimana respon masyarakat sekitarnya?

E.     Latihlah dirimu untuk beryoga setiap saat, selanjutnya buatlah laporan tentang perkembangan yoga yang kamu lakukan baik secara fisik maupun rohani!

F.      Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari beryoga? Tuliskanlah pengalamanmu!

G.    Bila seseorang melaksanakan yoga tanpa mengikuti tahapan-tahapannya, apakah yang akan terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik dengan huruf Times New Roman – 12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kuarto ; 4-3-3-4!

UJI KOMPETENSI
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.      Apa yang dimaksud dengan Nadi dan Chakra?
2.      Sebutkan 3 (tiga) macam Nadi yang terpenting di dalam latihan yoga!
3.      Sebutkan 7 (tujuh) macam Chakra yang utama!
4.      Apa yang dimaksud dengan Muladhara Chakra dan dimana letaknya?
5.      Apa yang dimaksud dengan Prana dan Pranapana?
6.      Apa Tattwa yang terdapat dalam Anahata Chakra?
7.      Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Ajna Chakra?
8.      Sebutkan 4 (empat) bagian Sahasrara Chakra!
9.      Coba sebutkan dan jelaskan sikap-sikap yoga yang dapat menyembuhkan macam-macam penyakit!
10.  Apa pengaruh praktik yoga dalam kehidupan sehari-hari?


Komentar

  1. Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Sang Hyang Widhi, tetapi karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Sang Hyang Widhi dan menjadi korban dari dunia material ini.


    Ini bisa di jelaskan nggih, mengapa beliau bisa beranggapan seperti diatas.. terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SMAN 4 MATARAM SUKSES GELAR P5 UNTUK TAHUN KE-3

Dari Sabang sampai Merauke, Guru Bersatu Hadirkan Pembelajaran Seru dengan Wayground

Fasilitator Pembelajaran: Menjadi Teman Perjalanan Guru SMP/SMA dalam Menggali Pembelajaran Mendalam Batch 1 di Mataram