Catur Asrama

BAB 2

CATUR ASRAMA

VIDEO



Kompetensi inti                       :

KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2: Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
 KI 3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
 KI 4: Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi dasar                   :
1.5 Menghayati ajaran Catur Asrama sebagai tingkatan hidup dalam masyarakat Hindu
2.5 Mengamalkan pola hidup sesuai dengan tingkatan dan ranah yang diamanatkan Catur Asrama
3.5 Memahami pengetahuan konseptual ajaran Catur Asrama
4.6 Menyajikan ajaran Catur Asrama dalam tatanan hidup

Indicator                                 :
  1. Menjelaskan pengertian Catur Asrama
  2. Menyebutkan bagian-bagian Catur Asrama
  3. Menguraikan pengertian Brahmacari Asrama
  4. Menyebutkan bagian-bagian Bhamacari Asrama
  5. Menguraikan pengertian Grhasta Asrama
  6. Menyebutkan kewajiban-kewajiban masa Grhasta Asrama
  7. Menguraikan pengertian Wanaprastha Asrama
  8. Menguraikan pengertian Bhiksuka Asrama


A.    PENGERTIAN CATUR ASRAMA

Niyatam kuru karma tvam
Karma jyayo hy akarmanah
Sarra-yatrapi ca te
Na prasiddhyed akarmanah
(Bhagawadgita III.8.42)

Artinya :
Lakukanlah pekerjaan yang diberikan padamu, karena melakukan perbuatan itu lebih baik sifatnya daripada tidak melakukan apa-apa, sebagai juga untuk memelihara badanmu tidak akan mungkin jika engkau tidak bekerja.

Manusia tumbuh melalui berbagai tahap usia dalam hidup mereka, proses yang dikenal sebagai siklus kehidupan manusia. Berbagai poin sepanjang siklus kehidupan seseorang menawarkan berbagai pertumbuhan dan perkembangan, baik pada tingkat fisik dan emosional. Sebagai orang yang bergerak melalui kehidupan dari satu siklus ke siklus yang lain, ia juga mengalami perkembangan konstan dari kehidupan seluler, kematian dan regenerasi, dari saat pembuahan sampai saat kematian.

Kita mesti bangga karena Hindu telah memiliki konsep yang jelas tentang jenjang kehidupan seorang manusia yang tersusun secara sistimatis dalam Catur Asrama. Dalam kepercayaan lain konsep ini Nampak tidak begitu jelas, dimana seorang yang sebenarnya sudah masuk di masa yang sudah tidak muda lagi masih diijinkan untuk menikah dan begitu juga sebaliknya diusia yang masih sangat muda seseorang telah dinikahkan.

Selain itu penilaian Hindu tentang seberapa pantas seorang itu menikah bukan hanya dari fisik tapi kedewasaan mental dan seberapa besar kemampuan yang diperoleh dalam masa belajar untuk dapat menunjang kehidupan rumah tangganya nanti.

Kata Catur Asrama berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Catur berarti empat dan kata Asrama berarti tempat atau lapangan “kerohanian”. Catur asrama adalah empat jenjang kehidupan manusia berdasarkan petunjuk kerohanian yang dipolakan untuk mencapai empat tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusartha. Jenjang kehidupan itu berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur dan sifat perilaku manusia.
Empat Asrama atau tahapan dalam kehidupan, yaitu : Brahmacari (tahapan belajar atau masa menuntut ilmu pengetahuan), Grhastha (tahapan berumah tangga), Wanaprastha (tahapan penghuni hutan atau pertapa dan yang terakhir adalah Sannyasin (kehidupan penyangkalan atau bhiksuka). Setiap tahapan memiliki tugas sendiri-sendiri. Tahapan-tahapan ini membantu evolusi manusia. Empat Asrama menempatkan manusia pada kesempurnaan oleh masing-masing tahapan. Pelaksanaan dari Empat Asrama, mengatur kehidupan dari awal sampai akhir. Dua Asrama yang pertama menyinggung tentang Prawrtti Marga atau jalan kerja, dan tua tahapan berikutnya yaitu kehiduan Wanaprastha dan Sannyasa merupakan tahapan penarikan diri dari dunia luar. Mereka menyinggung kepada Niwrtti Marga atau jalan penyangkalan atau penolakan.
Wanaprastha dan Sannyasa Asrama, adalah tahapan hidup memasuki masa pension dan tahapan hidup mempersiapkan diri untuk melepaskan sang diri (Atman) dari belenggu kehidupan di dunia nyata ini. Dua tahap ini hanya ditujukan untuk mencapai Moksa sebagai tujuan akhir dari proses  hidup ini. Saat Wanaprastha adalah tahapan hidup untuk membagi berbagai pengalaman hidup pada generasi penerus yaitu Brahmacari dan Grhastha Asrama. Dalam hal inilah berlaku semboyan pengalaman sebagai guru terbaik. Sukses dan gagal dalam hidupnya saat Brahmacari dan Grhastha seyogyanya menjadi bahan pelajaran untuk ditelaah oleh generasi selanjutnya.
Pengalaman yang sukses dan gagal itu sebagai suatu bahan pelajaran yang sangat berharga sebagai suatu pebandingan bagi generasi berikutnya. Tentunya dengan kajian-kajian mendalam. Karena situasi dan kondisi jaman sebelumnya dan jaman selanjutnya tidak sama. Cara sukses pada masa yang lalu tentunya tidak selamanya bisa diterapkan pada jaman selanjutnya. Demikian juga kegagalan yang pernah dialami jangan sampai terulang oleh generasi selanjutnya.  
Susunana tatanan itu mendukung atas perkembangan rohani seseorang. Perkembangan rohani berproses dari bayi, muda, dewasa, tua, dan mekar. Kemudian berkembang menjadi rohani yang mantap mengalami ketenangan dan keseimbangan.

Adanya empat jenjang kehidupan dalam ajaran agama Hindu dengan jelas memperlihatkan bahwa hidup itu deprogram menjadi empat  fase dalam kurun waktu tertentu. Tegasnya dalam satu lintasan hidup diharapkan manusia mempunyai tatanan hidup melalui empat tahap program itu, dengan menunjukkan hasil yang sempurna.

Dalam fase pertama, kedua, ketiga dan keempat rumusan tatanan hidup dipolakan. Sehingga dapat digariskan bahwa pada umumnya orang yang berada dalam fase pertama dan tidak boleh atau kurang tepat menuruti tatanan hidup dalam fase yang kedua, ketiga ataupun keempat.

Demikian seterusnya diantara satu fase hidup dengan kehidupan berikutnya. Bilamana hal itu terjadi dan diikuti secara tekun maka kerahayuan hidup akan mudah tercapai. Bilamana dilanggar tentu yang bersangkutan akan mengalami hal yang sebaliknya. Jadi untuk memudahkan menuju tujuan hidup maka agama Hindu mengajarkan dan mencanangkan empat jenjang tatanan kehidupan ini. Masing-masing jenjang itu, memiliki warna tersendiri dan semua jenjang itu mesti dilewati hingga akhir hayat dikandung badan. Setelah itu diharapkan atma menjadi bersatu dengan sumbernya yaitu Parama Atma.

B.     BAGIAN-BAGIAN CATUR ASRMA DAN KEWAJIBANNYA

“Pelaksanaan Bahmacari Membawa Akibat Bagi leluhurnya

Tersebutlah seorang Brahana yang bernama sang Jaratkaru. Ia yang bernama Jaratkaru, sangatlah takut pada kesengsaraan hidup ini. Jaratkaru adalah putra seorang wiku terpilih atas ketetapan budinya. Beliau begitu rajin mengambil butir-butir padi yang tercecer di jalan atau di sawah lalu dipungut dan dicucinya. Apabila sudah terkumpul banyak lalu ditanaknya, digunakan sebagai korban kepada para Dewa dan juga untuk di hidangkan kepada para tamu. Demikianlah ketetapan budi leluhurnya Jaratkaru, tidak terikat oleh cinta asmara, tidak memikirkan istri melainkan bertapa sajalah yang dipentingkan.

Dikisahkan sekarang Sang Maha Raja Parikesit berburu kemudian dikutuk oleh Bhagawan Srenggi supaya digigit naga Taksaka. Pada kesempatan itulah Jaratkaru bertapa. Setelah ia berhasil bertapa mahir atas segala mantra-mantra ia dibolehkan memasuki segala tempat, termasuk tempat-tempat yang dikehendaki yaitu tempat di antara surga dan neraka namanya Ayatanasthana. Pada tempat neraka ditemukan roh leluhurnya sadang terhukum tergantung pada pohon bamboo besar, mukanya tertelungkup ke bawah kakinya diikat sedangkan di bawahnya ada jurang yang sangat dalam, jalan akan menuju kawah neraka. Roh akan tepat jatuh ke kawah apabila tali gantungan itu putus. Di lain pihak seekor tikus sedang menggigit pohon bamboo tersebut. Peristiwa ini sangat kritis dan sangat mengerikan bagi para roh yang terhukum. Melihat kejadian ini Jaratkaru berlinang-linang air matanya kasihan menyaksikan roh terhukum tersebut.

Didekatilah roh itu dan ditanya satu persatu penyebab ia sampai terhukum seperti itu. Semua roh menyampaikan suatu alas an penyebabnya, seperti mencuri, irihati, memfitnah, berzina dan lain-lain yang menurut Jaratkaru memang pantas pula mendapatkan hukuman seperti itu. Kemudian akhirnya Sang Jaratkaru menanyakan penyebabnya sampai terhukum, lalu roh itu menjawab, saya ini yang kau tanyai, saya akan katakana keadaan saya semua, keturunan kami putus itulah sebabnya saya pisah dari dunia leluhur dan tergantung di bamboo besar ini seakan-akan sudah masuk neraka. Saya punya seorang keturunan bernama Jaratkaru. Ia pergi karena ingin melepaskan ikatan kesengsaraan orang, ia tidak punya istri, karena menjadi seorang brahmacari sejak masih kecil.

Itulah sebabnya saya ada di buluh ini, karena berate semadinya keturunan saya di asrama pertapaannya. Mungkin ia telah hebat ilmunya namun apabila putus keturunannya niscaya tidak ada buah dari tapanya. Saya tidak berbeda seperti orang yang melaksanakan perbuatan hina yang pantas mendapat sengsara. Rugi rupanya perbuatan saya yang baik pada waktu hidup. Kalau kiranya engkau belas kasihan kepada saya, pintalah kasihannya sang wiku Jaratkaru supaya suka berketurunan, supaya saya dapat pulang ke tempat para leluhur, katakanlah bahwa saya menderita sengsara, supaya ia juga berbelas kasihan.

Mendengar kata-kata leluhurnya itu, makin berlinang-linang air matanya dan tanpa disadari ia menangis, hatinya makin tersayat melihat leluhurnya menderita, lalu berkata : “ saya inilah yang bernama Jaratkaru, seorang keturunanmu yang gemar bertapa, bertekad menjadi brahmacari, kiranya sekaranglah penderitaanmu berakhir sebab selalu sempurna tapa yang telah berlangsung. Adapun kalau itu yang menjadi kendala untuk kembali ke surga, janganlah khawatir, saya akan memberhentikan kebrahmacarian saya”.

Saya akan mencari istri agar mempunyai anak. Adapun istri yang saya kehendaki adalah istri yang namanya sama dengan nama saya supaya tidak ada pertentangan dalam perkawinan saya. Kalau saya telah berputra saya akan menjadi brahmacari lagi. Demikian kata Sang Jaratkaru dan pergilah ia mencari istri yang senama dengan dia. Semua penjuru sudah dimasukinya namun belum mendapatkan istri yang senama dengan dia, maka dia tidak tahu apa yang akan dikerjakan dengan tanpa disadari dia mencari pertolongan kepada bapaknya supaya dapat menghindarkan dirinya dari sengsara.

Kemudian masuklah ia ke hutan sunyi, sambil menangis mengeluh kepada segala makhluk, termasuk makhluk yang tidak bergerak. Saya ini Jaratkaru seorang brahmana yang ingin beristri berilah saya istri yang senama dengan saya Jaratkaru, supaya saya berputra, supaya leluhur saya pulang ke surga. Seru dan tangis sang Jaratkaru terdengar oleh para naga, dalam waktu singkat disuruhlah para naga mencari brahmana itu yang bernama Jaratkaru oleh Sang Basuki, yang akan diberikan pada adiknya yang bernama Nagini yang diberi nama Jaratkaru agar mempunyai anak brahmana yang akan menghindarkan dirinya dari korban ular.

Terjadilah perkawinan kedua mempelai Jaratkaru yang senama, dengan berbagai upacara. Kemudian Sang Jaratkaru mengadakan perjanjian kepada sang istri yaitu jangan engkau mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan perasaan, demikian pula berbuat yang tidak senonoh. Kalau hal itu kau perbuat engkau akan kutinggalkan. Demikianlah kata Sang Jaratkaru kepada istrinya, lalu merekapun hidup bersama. Beberapa bulan kemudian terlihatlah tanda-tanda bahwa istrinya hamil.

Pada suatu waktu ia akan tidur, ia minta ditunggui oleh istrinya, karena dikiranya akan ditinggalkan. Ia minta agar kepalanya dipangku oleh istrinya dan tidak mengganggunya selama beliau tidur. Dengan hati-hati istrinya memangku suaminya yang cukup lama sampai waktu senja tepat waktu waktu pemujaan. Lalu sang Nagini Jaratkaru membangunkan brahmana Jaratkaru, takut kelewatan waktu memuja. Setelah membangunkan Jaratkaru justru terbalik, brahmana Jaratkaru malah marah-marah mukanya merah karena marahnya. Brahmana berseru “Hai Nagini (Jaratkaru) jahanam! Sangatlah penghinaanmu sebagai istri, engkau berani mengganggu tidurku! Tidak selayaknya tingkah laku istri seperti tingkahmu itu. Sekarang engkau akan ketinggalkan”. Demikian kata-katanya lalu memandang kepada istrinya.

Nagini mengikutinya, lari lalu memeluk kaki suaminya. “Oh tuanku, Ampunilah hamba tuanku ini. Tidak karena hinaan hamba membangunkan tuanku. Tetapi hanya memperingatkan tuanku akan waktu pemujaan setiap hari waktu senja. Salah kiranya, karena itu hamba menyembah, minta ampun tuanku, baik kiranya tuanku kembali……kalau hamba sudah punya anak yang akan menghindarkan keluarga hamba dari korban ular, sejak itulah tuanku boleh bertapa kembali”.

Demikian Nagini minta belas kasihan. Jaratkaru menjawab “Alangkah baiknya perbuatanmu, Nagini, memperingatkan pemujaan kepadaku pada waktu senja, tapi sama sekali aku tidak dapat mencabut perkataanku untuk meninggalkan engkau. Jangan khawatir keinginanmu untuk memiliki Asti, anakmu sudah ada. Itulah yang akan melindungimu kelak pada waktu korban ular. Senanglah Nagini Jaratkaru. Sang Nagini ditinggalkannya. Nagini lalu mengatakan kepada Sang Basuki tentang kepergian suaminya. Mengatakan segala perkataan Sang Jaratkaru, dan mengatakan pula tentang isi kandunganya, yang menyebabkan girangnya sang Basuki. Setelah berselang beberapa lama lahir seorang bayi laki-laki sempurna keadaan badannya. Kemudian diberi nama Sang Astika, karena bapaknya hilang “asti”. Bayi itu disambut oleh Sang Basuki dan diberi upacara sebagai seorang Brahmana. Baru lahir Sang Astika seketika itu leluhur yang bergantungan tadi lepas dari penderitaan dan melayang ke surga mengenyam hasil tapanya dahulu. Demikian pula Naga Taksaka terhindar dari korban ular yang dilangsungkan oleh raja Janamejaya.

Naskah Jawa Kuno yang diberi nama Agastya Parwa menguraikan tentang bagian-bagian Catur Asrama. Dalam kitab Silakrama hal 8 dijelaskan sebagai berikut :

“Catur Asrama ngaranya Brahmacari, Grhastha, Wanaprastha, Bhiksuka, Nahan tang Catur Asrama ngaranya”.

Yang bernama Catur Asrama adalah Brahmacari, Grhastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka.

Catur Asrana ialah empat fase pengasramaan berdasarkan petunjuk kerohanian. Dari keempat pengasramaan itu diharapkan mampu menjadi tatanan hidup umat manusia secara berjenjang.

Masing-masing tatanan dalam tiap jenjang menunjukkan proses menuju ketenangan rohani. Sehingga diharapkan tatanan rohni pada jenjang Moksa sebagai akhir pengasramaan dapat dicapai atau dilaksanakan oleh setiap umat.

Masing-masing jenjang memiliki kurun waktu tertentu untuk melaksanakannnya. Pelaksanaan jenjang perjenjang ini hendaknya dapat dipahami dan dipandang sebagai kewajiban moral dalam hidup dan kehidupan ini. Dengan demikian betapapun beratnya permasalahan yang dihadapi dari masing-masing fase kehidupan itu tidak akan pernah dikeluhkan oleh pelakunya.

Idealnya memang seperti itu, tidak ada sesuatu “permasalahan” yang patut kita keluhkan. Keluh-kesah yang kita simpan dan menguasai sang pribadi kita tidak akan pernah membantu secara ikhlas untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang ada. Bila kita hanya mampu mengeluh tentu akan menambah beban yang lebih berat lagi. Hindu sebagai agama telah menggariskan kepada umatnya untuk tidak mengeluh.

Bhagawadgita III.9.43 menyebutkan “
Yajnarthat karmano ‘nyatra
Loko ‘yam karma-bandhanah
Tad-artham karma kaunteya
Mukta-sangah samacara
           
Kecuali pekerjaan yang dilakukan sebagai dan untuk yadnya dunia ini juga terikat oleh hukum karma. Oleh karenanya, O Arjuna, lakukanlah pekerjaanmu sebagai yadnya, bebaskan dari semua ikatan.

Demikianlah Sri Bhagawab Kresna menjelaskan agar kita melakukan pekerjaan yang telah diwajibkan dengan benar dan tanpa terikat akan hasilnya. Tujuannya tiada lain adalah agar semua karma atau perbuatan yang kita lakukan diubah menjadi yoga, sehingga kegiatan itu dapat membawa kita menuju persatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Bila seseorang melakukan perbuatan dengan kesadaran badan, yaitu bila mereka menyamakan dirinya sebagai manusia yang berbuat, maka perbuatannya itu tidak akan menjadi karma yoga. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan perasaan mementingkan dirinya sendiri, dengan rasa keterikatan, yaitu merasa perbuatannya, maka semua perbuatan semacam itu akan mengakibatkan kesedihan. Sehubungan dengan itu, renungkan sloka berikut :

Bhagawadgita III.25.50
Na buddhi-bhedam janayed
Ajnanam karma-sanginam
Josayet sarva-karmani
Vidvan yuktah samacaram
           
Orang yang pandai seharusnya jangan menggoncangkan pikiran orang yang bodoh yang terikat pada pekerjaannya. Orang yang bijaksana melakukan semua pekerjaan dalam jiwa yoga, harus menyebabkan orang lain juga bekerja.

“Berkarmalah” untuk dapat mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Catur Purusartha. Hanya dengan melakukan kewajiban karma seseorang akan terbebas dari semua masalah yang dihadapinya.

Bagian-bagian Catur Asrama dijelaskan sebagai berikut :

1)      Brahmacari asrama

Adalah fase pertama dari catur asrama Brahmacari yang berasal dari 2 kata , brahma dan cari . Brahma artinya ilmu pengetahuan suci dan Cari ( car ) yang artinya bergerak atau bertingkah laku mencari atau mengejar ilmu pengetahuan.

Jadi brahmacari artinya bergerak di dalam kehidupan menuntut ilmu pengetahuan ( masa menuntut ilmu pengetahuan ), yakni masa belajar dan berjuang, mengisi diri menuju peringkat hidup yang lebih baik, dalam usaha melenyapkan atau menghilangkan kegelapan menuju kecerdasan.

Brahmacari ngaranya sang sedeng mangabhyasa Sang Hyang Sastra, mnwang Sang Wruh ring tingkah Sang Hyang aksara, sang mangkana karamanya sang Brahmacari ngaranya. (Silakrama hal 8)
                        Artinya :

Barhmacarinya namanya bagi orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan dan yang mengetahu perihal ilmu huruf (aksara).

Brahmacari dikenal juga dengan istilah hidup aguron-guron atau asewaka guru. Di dalam tingkatan Brahmacari guru mendiidk para siswa atau murid dengan petunjuk kerohanian, kebajikan, amal, pengabdian dan semuanya itu didasari oleh Dharma (kebenaran).

Di samping itu guru memberikan berbagai ilmu pengetahuan kepada para muridnya. System Brahmacari lebih mengutamakan pada pembentukan pribadi-pribadi manusia yang tangguh dan handal serta memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Semuanya itu untuk menjadikan manusia bisa hidup mandiri dan siap untuk menempuh kehidupan berumah tangga nantinya.

Demikian juga Brahmacari merupakan pondasi/dasar untuk menempuh tingkat dan jenjang kehidupan lainnya seperti Grhastha, wanaprastha dan bhiksuka.

Semasih seseorang berada pada lintasan umur brahmacari, mesti lebih terdorong hatinya untuk mengisi diri dan bertekad bulat menuntut ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan slogan “masa muda adalah masa belajar dan berjuang”.  Bukan masa muda dijadikan ajang sebagai masa bermalas-malasan dan hura-hura! Setiap orang hendaknya memprogram diri untuk dapat melewati masa brahmacari asrama itu dengan sasaran dan tujuan yang dicita-citakan

Lebih-lebih di dalam era globalisasi ini antara iptek dengan imtaq itu, harus seimbang adanya. Artinya antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi diselaraskan dengan perilaku iman dan takwa. Bila tidak seimbang antara penguasaan iptek dengan pengalaman perilaku imtaq ini akan bisa menimbulkan adanya kesombongan. Bagaimanapun tingginya iptek itu harus diimbangi dengan imteq agar iptek itu dapat berguna meningkatkan harkat martabat hidup umat manusia. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein yaitu ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh.

Menurut agama Hindu saat berada dalam Brahmacari asrama, para siswa dilarang mengumbar hawa nafsu sex. Melainkan semua kekuatan jasmani dan rohaninya sebagian besar hendaknya diarahkan untuk pembentukan kecerdasan otak yang disebut dengan oyas sakti, hendaknya menuntut ilmu pengetahuan setinggi mungkin, agar dapat membentuk perilaku dan sikap moral serta mengembangkan jiwa budhi luhur.

Ilmu pengetahuan itu ada dua macam : para widya (pengetahuan Ketuhanan) dan apara widya (ilmu tentang keduniawian). Menurut kitab Atharwa Wda XI.5, disebutkan untuk dapat menjadi seorang siswa terlebih dahulu harus diawali dengan upacara upanayana dan diakhiri dengan upacara samawartana. Upacara upanayana berfungsi untuk menyucikan calon brahmacari untuk dapat menjadi siswa yang sah. Sedangkan upacara samawartana adalah upacara wisuda yang menyatakan siswa tersebut telah resmi menamatkan pelajarannya.

            Pembagian Brahmacari asrama yaitu :
a.       Sukla brahmacari
Sukla brahmacari ngaranya tanpa rabi sangkan rere, tan maju tan kuring sira, adyapi teku ring wreddha tewi tan pangincep arabi sangkan apisan”. (silakrama hal.32)

Artinya :

Sukla brahmacari namanya orang yang tidak kawin dari sejak lahir sampai ia meninggal. Hal ini bukan disebabkan karena impoten atau lemah sahwat. Dia sama sekali tidak pernah kawin sampai umur lanjut.

Orang yang melaksanakan Sukla Brahmacari dengan sungguh-sungguh maka dalam ingatannya tidak ada terlintas nafsu seks dan beristri. Kesadaran melaksanakan Sukla Brahmacari ini memang tumbuh dari getaran bathin dan hatinya yang suci murnih.

Dalam wira cerita Ramayana, Taruna Laksamana ditampilkan sebagai sosok yang menjalankan Sukla Brahmacari. Betapapun wanita menggoda, termasuk Raksasa Surpanaka, ia tetap teguh imam melaksanakan sukla brahmacari itu yakni tidak kawin sampai akhir hayat dikandung badan. Sehingga akhirnya Surpanaka jengkel dan marah dan mengadu kepada Rahwana.

Rahwana marah, karena aduan dari Surpanaka, mengatakan dirinya dianiaya dan disiksa oleh Laksmaa. Sehingga Rahwana mengirim patih Marica untuk menggoda Dewi Sita. Patih Marica berubah menjadi Kijang Mas, sehingga Dewi Sita tertarik terhadap kijang itu, dan menyuruh Rama untuk menangkapnya. Rama berpisah pergi mengejar kijang itu. Saat Rama berpisah dengan Sita, dipergunakan sebagai kesempatan oleh Rahwana untuk melarikan Dewi Sit dibawa ke Alengka.

b.      Sewala brahmacari
Sewala brahmacari ngaranya, marabi pisan, tan parabi, muwah yan kahalangan mati strinya, tanpa rabi, mwah sira, adnyapi teka ri patinya, tan pangucap arabya. Mangkana sang brahmacari yan sira sewala brahmacari”. (silakrama hal. 32)

Artinya :

Sewala brahmacari namanya bagi orang yang hanya kawin satu kali, tidak kawin lagi. Bila mendapatkan halangan salah satu meninggal, maka ia tidak kawin lagi sampai datang ajalnya. Demikianlah namanya sewala brahmacari.

c.       Krsna (Trsna) brahmacari

Seseorang diijinkan kawin lebih dari satu kali dalam batas maksimal 4 kali. Itupun dengan ketentuan bahwa seorang brahmacari boleh mengambil istri yang kedua bilamana istri yang pertama tidak dapat melahirkan keturunan. Tidak dapat berperan sebagai seorang istri mungkin sakit-sakitan, dan bila istri pertama mengijinkan untuk kawin kedua kalinya.

Walaupun dalam Trsna brahmacari disebutkan boleh kawin lebih dari satu kali, namun ada aturan yang harus ditaati agar ketenteraman rumah tangga tetap dapat terbina. Aturan atau syara-syarat yang harus ditaati bagi yang mau menjalankan kehidupan Trsna Brahmacari adalah :
1.      Mendapatkan persetujuan dari istri
2.      Suami harus bersifat adil terhadap istri-istrinya secara lahir dan bathin
3.      Suami sebagai seorang ayah harus dapat berlaku adil terhadap anak-anak yang dilahirkan.

Pada masa Brahmacari tujuan utama manusia adalah tercapainya dharma dan artha. Seseorang belajar untuk memahami dharma dan dapat mencari nafkah di masa depan. Dharma merupakan dasar dan bekal mengarungi kehidupan berikutnya.

Kitab Manawa Dharmasastra, IV.7
“Sarvan parityajed arthan svadhyayasya virodinaa, yatha tatha dhyapayamstu sa hyasya krta krtyata”

Artinya :

“Hendaknya ia menghindari semua jalan mencapai kekayaan yang dapat mengganggu pelajaran Vedanya, bagaimana pun juga hendaknya ia mengukuhkan diri dalam mempelajari veda berdasarkan kebhaktian akan sampai pada saat segala-galanya menjadi kenyataan”.

Dharma sebagai dasar utama mempunyai pengertian yang sangat luas. Dharma dapat diartikan sebagai mematuhi semua ajaran-ajaran agama yang terlihat dari pikiran, perkataan dan perbuatan sehari-hari.

Kewajiban dalam Brahmacari

Sebagai seorang siswa yang sedang menuntut ilmu pengetahuan ia harus taat terhadap petunjuk dan nasihat yang diajarkan oleh guru yang mengajarnya. Dalam ajaran agama Hindu dikenal empat guru yang disebut Catur Guru yaitu :

1.      Guru Swadhyaya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Adapun kewajiban sebagai seorang siswa terhadap Guru Swadhyaya tersebut, harus taat terhadap segala petunjuk dan ajaran-Nya. Sebagai umat yang percaya tentang kemahakuasaan Tuhan, yang merupakan sumber dari segala yang ada di dunia ini, maka taat kepada Guru Swadhyaya dapat diwujudkan dengan cara sujud bhakti memujanya.

Berguru ke hadapan Tuhan dapat dilakukan dengan cara mentaati ajaran suci yang telah diwahyukan melalui para maharsi. Setiap hari kita harus mendekatkan diri pada Beliau sebagai Guru dari semua guru. Dalam hubungan ini kita manusia adalah murid dari Sang Hyang Widhi (Tuhan), yang sering disebut dengan “Brahmacarin”. Brahman artinya Tuhan. Carin artinya berguru. Jadi berguru kepada Tuhan

Amal baik atau perbuatan dosa yang dilakukan selama berguru kepada Hyang Widhi hasilnya berupa subha dan asubha karma. Subha asubha karma ini dapat diterima hasilnya berupa :

a.       Sancita karmaphala
Hasil perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmatinya sehingga hasil perbuatannya itu akan menjadi benih yang sangat menentukan pada kehidupan yang sekarang.

b.      Prarabda karmaphala
Karma yang dilakukan oleh seseorang pada kehidupan sekarang ini, phalanya dinikmati pula dalam kehidupan ini sehingga tiada sisanya lagi untuk dinikmati pada kehidupan yang akan datang.

c.       Kriyamana karmaphala
Hasil perbuatan seseorang yang belum sempat dinikmati pada waktu hidupnya dan akan dinikmati pada masa penjelmaan yang akan datang.

2.      Guru rupaka yaitu orang tua (ibu dan bapak) yang melahirkan dan membesarkan kita.

Guru Rupaka ialah orangtua (Ibu dan Bapak) yang mengadakan atau yang ngerupaka kita. Sebagai seorang anak harus menyadari bahwa jasa orangtua (Ibu dan Bapak) adalah sangat berat, dan tak ternilai berapa besar jasanya lebih-lebih sang ibu yang mengandung dan melahirkan kita, dengan bertaruhan nyawa.

Demikian tinggi rasa cinta kasihnya ibu kepada kita, sehingga ia rela berkorban untuk menjadi badan perantara untuk memperbanyak umat manusia di mayapada ini.

Dalam Manu Smrti II,227 disebutkan :
Yam mata pitaram klesam sehete sambawe nmam natasya niskrtih sakya kartum warsaca tai rapi”
Artinya :
Penderitaan yang dialami oleh orang tua pada waktu melahirkan anaknya, tidak dapat dibayar walaupun dalam waktu seratus tahun.

Dalam Sarasamuscaya, 240 disebutkan :
Mata gurutara bhumeh khat
Tathoccatarah pita
Manah cighrataram wayoccina
Bahutara trnat

Apan lwih temen bwatning ibu, Sangkeng bwatning lemah, katsangana, tar bari-barin kalinganya, aruhur temen sang bapa sangke langit, adrs temen ang manah sangkeng bayu, akwh temen angenangen sangkeng dukut.

Artinya :
Sebab sesungguhnya ibu dikatakan lebih berat dari ibu perthivi (tanah), karenanya patut menghormati ia dengan sungguh-sungguh, demikian pula lebih tinggilah sesungguhnya penghormatan kepada bapak daripada tingginya langit, lebih deras jalannya pikiran dibandingkan dengan jalannya angin, lebih banyak sesungguhnya angan-angan itu dibandingkan dengan banyaknya rumput.

Maka seorang anak berusaha melakukan swadharmanya dengan rela hati melayani segala keperluan orangtuanya. Seorang anak berkewajiban memberikan atau mengorbankan harta benda, tenaga dan pikirannya untuk kebahagiaan orangtuanya. Malahan lebih dari itu seorang anak ikhlas mengorbankan jiwa dan raganya demi untuk berbhakti pada orang tuanya. Di samping itu masih ada suatu kewajiban seorang anak kepada leluhurnya yaitu upacara pitra yadnya.

Walaupun upacara pitra yadnya telah dapat dilakukan sebagai tanda pembayaran hutang kepada orang tuanya, tapi bukanlah berarti sudah lunas segala kewajiban kita sebagai seorang anak. Namun yang paling penting pembayaran hutang pada orang tua adalah pada waktu orang tua masih hidup, yaitu dengan jalan membuat bahagia hati orang tuanya.

                       
                        Dalam Sarasamuscaya 241 menyebutkan :

                        Pita mata ca rajendra
                        Tusyato yasya dehinah
                        Iha pretya ca tasyatha
                        Kirtirbhawati cacwati
                       
“Ikang bhakti makawwitan, paritusta sang rawwitnya denya phalanya mangke dlaha, langgeng paleman ika ring hayu.
Artinya :

Orang yang setia dan hormat kepada orang tua, sehingga membuat orang tua menjadi senang dan bahagia, maka anak yang demikian akan memperoleh kemasyuran dan keselamatan pada kehidupannya sekarang dan kelak di kemudian hari.

Dari sloka tersebut, maka pahala yang diperoleh orang yang hormat pada orang tua ialah:
-          Kerti yaitu  kemasyuran yang baik
-          Yusa yaitu panjang
-          Bala yaitu kekuatan
-          Yasa yaitu jasa atau penghargaan.

Tiga hutang yang dimiliki oleh seorang anak terhadap orang tuanya yang patut dibayar untuk memenuhi dharma bhaktinya terhadap orang tua sebagai guru rupaka yaitu :
a)      Sarira krta yaitu hutang badan (sarira data)
b)      Annadatta yaitu hutang budhi karena orang tualah yang memberikan makan, minum, pakaian, pendidikan dan lain sebagainya
c)      Pranadatta yaitu hutang jiwa dalam arti pemeliharaan atau kelanjutan hidup.

3.      Guru Pengajian, yaitu guru yang mendidik dan mengajar di sekolah

Tugas guru pengajian cukup berat tetapi mulia. Guru pengajian berfungsi untuk melanjutkan pendidikan dari Guru Rupaka, yang bertitik tolak dari segi kerohanian dan juga ilmu pengetahuan lainnya.

Guru pengajian bertugas untuk mengembangkan intelek dan pengetahuan siswa, demi tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan Negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yaitu membentuk manusia susila yang cakap, cerdas, dan terampil, berbudi pekerti yang luhur, dan bertanggung jawab terhadap kesejateraan keluarga, masyarakat, nusa dan Bangsa.

Tugas yang lebih berat lagi yaitu tugas dari seorang guru agama yang mengajarkan pengetahuan agama, membentuk moral serta budi pekerti yang luhur, serta berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tugas Guru Pengajian ialah mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan penuh cinta kasih agar anak didiknya menjadi manusia susila lahir bathin (wahyadyatmika). Hubungan antara murid dengan guru benar-benar dapat mewujudkan keharmonisan, sebagai halnya antara seorang ayah dengan anaknya. Seorang murid tidak boleh menjelek-jelekkan atau menghina guru.

Dalam kitab Nitisastra II,13 disebutkan :

                        Haywa maninda ring dwija daridra dumaa atemu
                        Sastra teninda denira kapataka tinemu magong
                        Yan kita ninda ring guru patinta maparek atemu
                        Lwirnika wangsa-patra tunibeng watu remek apasah


                        Artinya :

Janganlah sekali-kali mencela guru, perbuatan itu akan dapat mendatangkan kecelakaan bagimu. Jika kamu mencela buku-buku suci, maka kamu akan mendapatkan siksaan dan neraka, jikalau kamu mencela guru maka kamu akan menemui ajalmu, ibarat piring yang jatuh hancur di batu.

Dalam kitab Sarasamuscaya, 238  juga menyebutkan:
Samyan mithyaprawrtte wa
Wartitawyam gurawiha
Guruninda nihantyayurmanusyanam
Na samsayah

Lawan waneh, hay wa juga ngwang mangupat ring guru, yadyapin salah kene polahnira, kayatnakena juga gurupacarana, kasiddhaning kasewaning kadi sira, bwat amuharapayusat amangun kapapan, kanin-daning kadi sira.

Artinya :
Sebagai seorang siswa (murid), tidak boleh mengumpat guru, walaupun perbuatan beliau keliru, adapun yang harus diusahakan dengan baik ialah perilaku yang layak kepada guru agar berhasil dalam menimba ilmu. Bagi yang suka menghina guru, akan menyebabkan dosa dan umur pendek baginya.

                        Umur untuk belajar (Brahmacari)

Kitab Dharmasastra oleh Rsi Yajnawalkya menyatakan bahwa umur untuk mulai belajar adalah umur semasih kanak-kanak yakni umur lima tahun dan selambat-lambatnya umur delapan tahun. Pada umur delapan tahun seorang anak harus sudah menikmati masa belajar melalui proses belajar mengajar.

Sedangkan kitab Grihya Sutra menyatakan bahwa masa belajar berlangsung jangan sampai melampaui batas umur 24 tahun. Ini berarti setelah umur 24 tahun seseorang sudah semestinya mempersiapkan diri untuk memasuki masa hidup Grhasta.

Dalam kekawin Nitisastra, V. 1 disebutkan “

Taki-taki ning sewaka guna widya, smarawisaya rwang puluh ing ayusya, tengahi tuwuh san wacana gogonta, patilaring atmeng tanu panguroken”.

Artinya :
“Seorang pelajar wajib menuntut ilmu pengetahuan dan keutamaan, jika sudah berumur 20 tahun orang boleh kawin. Jika setengah tua, berpeganglah pada ucapan yang baik hanya tentang lepasnya nyawa kita mesti berguru”.

Dari sloka tersebut, dapat ditegaskan bahwa jenjang pertama adalah Brahmacari saat umur muda kemudian Grhasta, setelah cukup dewasa, selanjutnya Wanaprastha setelah umur setengah lanjut dan terakhir bhiksuka setelah umur lanjut.

                        Tata tertib pada masa belajar
                       
Secara umum tata tertib itu antara lain :
a.       Siswa wajib taat dan bhakti pada catur guru (guru susrusa)
b.      Siswa harus hidup sederhana
c.       Berpakaian bersih, rapi, sopan dan sederhana
d.      Makan sederhana (aharalaghawa)
e.       Siswa harus bisa dan biasa hidup jujur
f.       Tidur secukupnya dan sepatutnya
g.      Tidak menghibur diri berlebih-lebihan (liar)
h.      Tidak kawin selama masa belajar

Belajar berbagai hal dalam hidup ini baik lisan maupun tertulis hanya secara teori tentu belum dapat menolong manusia itu sendiri. Oleh karena berbagai ilmu itu patut dicoba dan dipraktekkan dalam hidup ini, demi kebahagiaan umat manusia. Untuk itu perlu dipraktekkan dan dilatih secara teratur.

Latihan dalam menghadapi kenyataan hidup tidak selalu dengan perencanaan seperti halnya bermain catur. Banyak peristiwa yang dialami seseorang, di luar dugaan dengan dan tanpa persiapan mental untuk menerimanya. Demikianlah setiap persoalan hidup sekaligus merupakan latihan lahir bathin bagi seseorang.

Hidup dengan aneka problemnya merupakan latihan yang sekaligus ujian dalam usaha mencapai kebebasan tertinggi. Untuk itu setiap orang dituntut harus sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan dan medan untuk latihan, sehingga di dunia inilah manusia harus giat melatih diri. Dunia dengan segala isinya yang bersifat maya menjadikan hidup manusia penuh persoalan. Setiap persoalan hidup harus dihadapi dan diselesaikan. Jangan menghindari kegiatan hidup dan jangan pula lari dari kenyataan dunia ini.

Di dalam Bhagawadgita III. 4 disebutkan :

Na karmanam anarambhan
Naiskarmyam puruso “snute
Na ca sannyasanad eva
Siddhim samadhigacchati

Artinya :

Tanpa kerja orang tidak akan mencapai kebebasan pun juga tidak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja.

Dengan demikian kegiatan kerja sebagai suatu latihan dan kewajiban hidup harus dikerjakan demi tercapainya kebebasan. Oleh karena itu dalam hidup ini ternyata bukan pelajaran di sekolah saja mesti dipelajari dan dilatih. Ilmu yang didapat di sekolah hanyalah sebagian dari teori dan kunci yang harus dikuasai untuk menghadapi persoalan hidup.

Ilmu bukanlah bekal hidup kelak dihari tua, tetapi adalah alat untuk menghadapi hidup sekarang. Tentu dalam pergaulan itu patut disesuaikan dengan desa-kala-patra sehingga tidak menganggu ketertiban hidup bersama.

Demikianlah dalam hidup ini orang wajib berbuat dan melatih diri dengan teratur. Sukar akan merasakan kenyamanan dalam hidup sehari-hari bila orang tidak hidup teratur. Tidak setiap orang dapat sembahyang dan berdoa setiap hari sesuai petunjuk agama. Hal ini terjadi bukan karena tidak ada waktu, bukan juga karena tidak tahu, namun hanya karena hidup tidak teratur dan tidak berusaha untuk melatih diri.

Belajar melalui kitab suci harus dilakukan sebanyak-banyaknya agar sirnalah kebodohan. Sirnanya kebodohan adalah langkah awal untuk mengatasi kemarahan, kelobaan yang berarti menurunnya frekuensi kesengsaraan hidup. Berjuanglah mengejar kebenaran untuk melenyapkan kebodohan dengan belajar rajin, teratur, dan terus menerus.

4.      Guru Wisesa yaitu pemerintah

Sebagai seorang siswa, dan sekaligus juga merupakan bagian dari anggota masyarakat maka kita harus menghormati dan menjunjung tinggi martabat bangsa, Negara dan pemerintahannya. Sebaliknya pemerintah selalu memikirkan dan mengusahakan kesentosaan dan kemakmuran rakyat.

Di samping itu harus dapat memberikan perlindungan kepada rakyat dari berbagai problem seperti kesusahan, kesewenanga (monarkhi), menjalankan hukum dan keadiln tanpa pandang bulu. Menyelenggarakan pendidikan bagi warganya demi kemajuan dan kecerdasan bangsa.

Tidak hanya rakyat yang cinta, tetapi Tuhan sebagai pelindung Dharma akan merahmati umat-Nya yang berbudi mulia. Oleh karena itu ajaran agama Hindu kita diharapkan dalam melaksanakan tugas, berpegang pada motto dan pedoman sepi ing pamrih rame ing gawe, demi kepentingan masyarakat dan umat manusia.

2)      Grehastha asrama

Adalah jenjang kedua dari catur asrama. Kata grahasta berasal dari dua kata yaitu kaya Grha artinya rumah, stha artinya berdiri. Jadi grahasta artinya berdiri membentuk rumah tangga. Dalam berumah tangga ini harus mampu seiring dan sejalan untuk membina hubungan atas darar saling cinta mencintai dan ketulusan. Masa grehastha asrama hendaknya dibangun mulai dari brahmacari asrama. Tatanan hidup brahmacari dituruti, dan tujuan hidup brahmacari telah diraih barulah dengan optimis mengabdikan ilmu itu di masyarakat. Dengan pengabdian itu, kita mencapai bekal hidup. Dengan bekal hidup inilah kita optimis membangun rumah tangga. Maka dari itu brahmacari asrama adalah dasar hidup dari grehastha asrama.

Setelah memasuki tingkat hidup Grhastha, bukan berarti masa belajar atau menuntut ilmu itu berakhir sampai disitu saja. Belajar tidak mengenal batas usia. Belajar berlangsung selama hayat dikandung badan. Maka orang mengatakan masa muda adalah masa belajar. Hal ini mengandung arti bahwa tidak ada istilah tua dalam hal belajar. Karena ilmu pengetahuan itu sifatnya berkembang terus. Ilmu yang didapatkan dalam jenjang Brahmacari itu lebih diperdalam serta ditingkatkan lagi setelah menginjak hidup berumah tangga (Grhastha).

Dalam Agastya Parwa dijelaskan

Grhastha ngarania Sang yatha sakti kayika Dharma”.

                        Artinya

  Grhastha namanya beliau yang dengan kemampuan sendiri mengamalkan Dharmanya.

Ciri seorang Grhastha adalah memiliki kemauan untuk mandiri untuk mewujudkan swadharmanya. Dalam Catur Asrama ini kedudukan Grhastha Asrama inilah kedudukan yang paling sentral. Suksesnya seorang Brahmacari dan Vanaprastha amat tergantung dari kemampuan Grhastha Asrama melakukan kewajibannya untuk membiayai pemeliharaan dan biaya pendidikan Brahmacari Asrama.

Grhasta asmara atau pernikahan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur atau jiwa-jiwa yang lain untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan "Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang gumaweakenikang subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma pahalaning dadi wang" artinya: dari demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia. Dan merupakan bagian dari usaha penyucian diri lewat sebuah ikatan lahir bathin antara seorang laki-laki dam seorang wanita lewat sebuah jalur kesetiaan untuk sehidup semati.

Adapun kewajiban-kewajiban orang yang sudah berumah tangga yaitu :
                              1.      Melanjutkan keturunan
                              2.      Membina rumah tangga
                              3.      Bermasyarakat
                              4.      Melakukan panca yadnya


Kewajiban Suami

Menurut kitab suci Hindu (Weda Smrti) seorang suami berkewajiban :

a.       Melindungi  istri dan anak-anaknya. Ia harus mengawinkan anaknya kalau sudah waktunya.
b.      Menugaskan istrinya untuk mengurus rumah tangga. Dan urusan agama dalam rumah tangga ditanggung bersama.
c.       Menjamin hidup dengan memberi nafkah kepada istrinya bila akan pergi keluar daerah.
d.      Memelihara hubungan kesucian dengan istri, saling percaya mempercayai, memupuk rasa cinta dan kasih sayang serta jujur lahir bathin. Suka dan duka dalam rumah tangga ditanggung bersama sehingga terjaminnya kerukunan dan keharmonisan.
e.       Menggauli istrinya dan mengusahakan agar tidak terjadi penceraian dan masing-masing tidak melanggar kesucian.
f.       Tidak merendahkan martabat istri. Janganlah terlalu cemburuan, yang menyebabkan timbulnya percekcokan dan perceraian dalam keluarga.

Kewajiban istri

a.       Sebagai seorang istri dan sebagai seorang wanita hendaknya selalu berusaha tidak bertindak sendiri-sendiri. Setiap rencana yang akan dibuat harus dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan suami.
b.      Istri harus pandai membawa diri dan pandai pula mengatur dan memelihara rumah tangga, supaya baik dan ekonomis.
c.       Istri harus setia pada suami dan pandai meladeni suami dengan hati yang tulus ikhlas serta menyenangkan.
d.      Istri harus dapat mengendalikan pikiran, perkataan, dan tingkah laku dengan selalu berpedoman pada susila. Ia harus dapat menjaga kehormatan dan martabat suaminya.
e.       istri harus dapat memelihara rumah tangga, pandai menerima tamu, dan meladeni dengan sebaik-baiknya.
f.       Istri harus setia dan jujur pada suami, dan tidak berhati dua.
g.      Hemat cermat dalam menggunakan harta kekayaan, tidak berfoya-foya dan boros.
h.      Tahu dengan tugas wanita, rajin bekerja, merawat anak dan meladeni kepentingan semua keluarga. Berhias diwaktu perlu.

Antara suami dan istri harus selalu ada saling pengertian untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Sebagai seorang suami dan istri haruslah tetap ingat melaksanakan kewajiban dengan penuh kesadaran sebagai anggota atau kepala rumah tangga sehingga dapat terciptana keharmonisan dalam keluarga.

Oleh karena itu hendaknya selalu memupuk pribadi yang baik. Selain itu rasa kasih dan sifat lemah lembut bersaudara harus kita tumbuh kembangkan. Adapun hubungan antara suami dan istri harus dapat menjalin kerukunan dalam kesatuan pikiran, ucapan, perbuatan serta sesuai dengan norma-norma agama. Hidup suami istri bukanlah merupakan suatu persaingan dalam menuntut persamaan hak dan bukan merupakan suatu perlombaan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban itu, melainkan merupakan suatu keharmonisan dan kesatuan hidup lahir dan bathin. Hal ini disimbolakn sebagai Ardanaraswari yaitu persatuan antara laki dan perempuan dalam satu badan.

3)                  Wanaprastha asrama

Wanaprasta terdiri dari dua kata yaitu ” wana ” yang artinya pohon, kayu, hutan, semak belukar dan ” prasta ” yang artinya berjalan, berdoa. Jadi wanaprasta artinya hidup menghasingkan diri ke dalam hutan. Mulai mengurangi hawa nafsu bahkan melepaskan diri dari ikatan duniawi.

Kalau dalam grehastha asrama seseorang giat bekerja, mengabdi untuk mendapatkan bekal hidup baik yang bersifat rohani dan lebih-lebih lagi yang bersifat artha. Namun dalm tingkatan wanaprastha asrama perlahan-lahan seseorang itu mulai mengasingkan diri dari kesibukan duniawi. Dengan demikian juga yang berhubungan dengan kepuasan yang bersifat lahiriah sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Pusat perhatian pada jenjang ini mengarah pada kenikmatan rohani, memperdalam ajaran kerohanian dan kegiatan spiritual lebih diperbanyak.

Tetapi dizaman modern seperti sekarang ini, sulit dilakukan mengingat hutan susah untuk ditemukan. Hutan – hutan berubah menjadi rumah, ruko dan juga gedung – gedung bertingkat. Lalu bagaimana kita menjalani kehidupan wanaprasta. Kehidupan wanaprasta dimaksudkan, secara perlahan – lahan melepaskan keterikatan duniawi dan mendekatkan diri dengan Tuhan, meningkatkan spiritualitas untuk mengetahui hakekat Tuhan yang sesungguhnya. Jadi tidak harus pergi ke hutan dan mengasingkan diri.

Manfaat menjalani jenjang wanaprasta dalam kehidupan ini antara lain :
1.      Untuk mencapai ketenangan rohani.
2.      Manfaatkan sisa-sisa kehidupan di dunia untuk mengabdi dan berbuat amal kebajikan kepada masyarakat umum.
3.      Melepaskan segala keterikatan duniawi
Masa mulai menempuh hidup Wanaprastha
Menurut kitab Nitisastra masa wanaprasta kurang lebih 50 – 60 tahun.
Masa yang baik untuk mulai menempuh hidup sebagai seorang Wanaprastha adalah setelah berusia kurang lebih 60 tahun ke atas. Karena pada usia seperti itu, anak-anaknya sudah dapat hidup mandiri. Bagi seorang pegawai negeri ia sudah pension sehingga ia sudah lepas dan bebas dari tugas dinasnya.
Vanaprastha tidaklah diartikan sebagai meninggalkan rumah lalu pergi menyepi kehutan untuk bertapa, tetapi vanaprastha dimaknai sebagai hidup yang hening dan suci, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari ikatan keduniawian, dan menguatkan pengendalian diri berdasarkan ajaran Agama Hindu. Ajaran agama yang diperoleh pada masa brahmacari kini dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari secara lebih mantap, dimana lebih dipusatkan pada bidang spiritual. 
Orang yang melaksanakan vanaprastha disebut vanaprasthin, hendaknya selalu menjaga kesucian dan kesehatan jasmani/rohani, banyak melakukan pekerjaan mulia, bijaksana, bersahabat, berbicara manis dan menyenangkan, melakukan sadhana, melaksanakan latihan-latihan kerohanian (yoga), melakukan berbagai "vrata" atau pengekangan diri, suka belajar dan bergaul pada orang-orang suci (Sulinggih), sering me-dharma yatra dan lain-lain. 
Wanaprastha adalah batu loncatan untuk mencapai sebuah jenjang Sanyasin karena lewat Wanaprasta jiwa secara perlahan terlatih tidak lagi bergantung kepada hal-hal yang bersifat kenikmatan indria dengan demikian pikiran tidak lagi focus ke indria apapun bentuknya melainkan hanya pada Tuhan.
 Tat-buddhayas tad-atmanas
tan-nisthas tat-parayanah
gacchanty apunar-avrtti
jnana-nirdhuta-kalmasah”.

                        ( Bhagavadgita V-17)


Artinya:

Mereka yang memikirkan-Nya, menyerahkan seluruh jiwa kepada-Nya, menjadikan-Nya tujuan utama, memuja hanya pada-Nya, akan pcrgi tidak kcmbali, dan dosa mereka dihapus oleh pengetahuan itu.
           
Dari sloka ini dijelaskan bahwa pikiran adalah faktor terpenting dalam keberhasilan seorang dalam melaknakan Sanyasin asrama, untuk itu pikiran harus dilatih secara perlahan-lahan pada masa wanaprasta hingga nanti saat memasuki jenjang sannyasi asrama pikiran benar-benar telah mantap pada Tuhan. Hingga tidak ada lagi goncangan-goncangan mental saat menjalani masa Sannyasin.

Adapun ciri-ciri orang yang telah dapat masuki tahap wanapratha ini adalah: usia yang sudah lanjut, mempunyai banyak pengalaman hidup, mampu mengatasi gelombang pahit getirnya kehidupan, serta mempunyai kebijaksanan yang dilandasi oleh ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Telah memiliki keturunan atau generasi lanjutan yang sudah mapan dan mampu hidup mandiri.serta tidak bergantung lagi pada orang tua baik dibidang ekonomi maupun yang lainnya.

Artha dan kama hendaknya kita mulai mengurangi, berkosentrasi dalam spiritual, mencari ketenangan bathin dan lebih mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi. Tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Tuhan, sehingga Tujuan hidup ini diprioritaskan kepada kama dan moksa.

4)      Bhiksuka asrama

Adalah jenjang terakhir dari catur asrama, yang sering disebut sanyasin. Kata biksuka berasal dari kata biksu yang merupakan sebutan pendeta Buda. Biksu artinya meminta-minta. Masa biksuka ialah tingkat kehidupan yang dilepaskan terutama ikatan duniawi, hanya mengabdikan diri kepada Tuhan ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa ).

Dalam pengertian sebagai peminta-minta dimaksudkan ia tidak boleh mempunyai apa-apa dalam pengabdiannya pada Hyang Widhi dan untuk makannya pun ditanggung oleh murid-murid pengikutnya ataupun umatnya sendiri. Dalam pengertian sanyasin dimaksudkan meninggalkan keduniawian dan hanya mengabdi kepada Hyang Widhi dengan memperluas ajaran-ajaran kesucian.
Jenjang bhiksuka ini melepaskan segala kegiatan dan ikatan duniawian secara tuntas sudah menjadi kewajibannya. Tidaklah berlebihan bila seolah-olah jenjang hidup bhiksuka itu sebagai persiapan lepas landas dari program hidup menuju akhirat.

Ciri-ciri seorang biksuka :
a.       Selalu melakukan tingkah laku yang baik dan bijaksana
b.      Selalu memancarkan sifat-sifat yang menyebabkan orang lain bahagia.
c.       Dia akan tetap menyebarkan angin kesejukan, angin kebenaran, tidak mudah diombang-ambing oleh gelombang kehidupan duniawi
d.      Dapat menundukkan musuh-musuh nya seperti sadripu, sapta timira, sad atatayi dan tri mala

Sad Ripu

Adalah enam macam musuh yang ada dalam setiap diri manusia. Musuh-musuh ini perlu dikendalikan dari  diri kita, sehingga dapat menerapkan kehidupan  Bhiksuka dengan baik.
Pembagiannya yaitu :
·         Kama  =    nafsu
Hal ini ada pada setiap orang dengan menjadi musuh dari setiap orang, selama belum dapat dikuasainya. Kalau nafsu ini dapat dikuasai dan ditundukkan, ia akan menjadi teman akrab.

Dengan kewaspadaan yang tinggi serta dengan usaha yang keras dan akhirnya kama dapat dikendalikan.

·         Lobha  =    tamak / rakus

Menyebabkan orang tidak pernah merasa puas akan sesuatu. Orang yang lobha akan selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih daripada apa yang telah dimiliki. Dengan demikian ia akan berpikir dan bekerja keras. Akibatnya orang yang demikian itu akan gusar, gelisah resa, karena didorong oleh kelobhaan. Dia tidak akan pernah merasa tenteram dan tenang, sedangkan ketenangan menjadi idaman bagi setiap orang.

·         Kroda  =    marah

Kemarahan timbul karena pengaruh perasaan yang jengkel, muak, bosan, tersinggung dan sebagainya. Orang yang suka marah adalah tidak baik sebab kemarahan menyebabkan orang menderita. Dan orang pada umumnya tidak suka dimarahi. Orang yang dimarahi juga bisa marah, sehingga akan dapat menimbulkan suasana hubungan yang buruk. Karenanya hilangkan perasaan marah itu dan kendalikanlah kemarahan itu.

·         Moha  =  bingung

Karena bingung dapat menyebabkan pikiran menjadi gelap. Orang yang sedang bingung tidak dapat berpikir dengan baik, sehingga tidak akan dapat melakukan kewajiban dengan baik. Bingung banyak penyebabnya, antara lain :
-          Karena ditimpa kesusahan yang hebat.
-          Karena kehilangan sesuatu yang dicintai.
-          Karena situasi yang menekan perasaannya.
-          Karena tidak dapat mengatasi problem yang menimpa dirinya.

Dengan demikian, dapatlah diteliti segala macam persoalan itu dengan cara seksama, serta dapat mencari jalan pemecahannya dengan baik. Menempuh jalan dengan cara demikian berarti kita telah siap untuk menerima segala kemungkinan dan kenyataan yang akan terjadi. Oleh karena itu kita harus berusaha menghilangkan kebingungan itu.

·         Mada  =  mabuk/minuman keras

Bila minuman ini diminum melewati batas akan menimbulkan kemabukan, bahkan sering menimbulkan akibat yang jelek seperti merusak tubuh, melumpukan pencernaan, merusak urat-urat syaraf dan lain sebagainya.

Kemabukan ini dapat menghilangkan kesadaran, sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu kemabukan ini harus dicegah karena ia merupakan musuh yang harus dijauhi.

·         Matsyarya  =  iri hati

Perasaan iri hati merupakan perongrongan diri manusia. Karena orang yang diliputi oleh rasa iri ini, tidak senang melihat orang lebih bahagia dan beruntung dari padanya. Orang yang demikian selalu merasa dirinya malang, miskin, nasib sial dan bermacam-macam perasaan negatif yang dirasakan.

            Sapta Timira
Artinya tujuh kegelapan yaitu tujuh hal yang menyebabkan pikiran orang menjadi gelap. Kegelapan pikiran ini dapat menimbulkan tingkah laku yang jelek dan menyimpang dari ajaran agama.

Pembagiannya yaitu :
1.      Surupa
Artinya kecantikan atau ketampanan. Kecantikan dan ketampanan ini dibawa sejak lahir, merupakan anugerah Hyang Widhi. Bagi orang yang memiliki semua ini, boleh merasa beruntung, namun janganlah takabur atas kecantikan dan ketampanan yang dimiliki itu. Karena semua sifatnya maya dan tidak kekal, harus disertai dengan keluhuran budhi pekerti. Jika tidak, tidak aka nada nilainya semua itu.

2.      Dhana
Artinya kekayaan. Kekayaan memang sangat berguna bagi siapapun, dan setiap orang menginginkan hal itu. Oleh karenanya bagi orang yang memiliki kekayaan hendaknya dapat menggunakan kekayaan itu dengan tepat sesuai dengan ajaran agama Hindu.

Tetapi sering kali kekayaan itu menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Karena pengaruh kekayaan orang sering menjadi sombong, angkuh, menghina orang lain, mengumbar hawa nafsu dan sering menjadikan lupa diri.

Dan sebenarnya kekayaan itu adalah anugerah Tuha, karenanya patutlah dipelihara dan dipergunakan untuk kepentingan Dharma.

3.      Guna
Artinya kepandaian. Kepandaian dicari oleh setiap orang, dan semua orang ingin menjadi pandai. Karena kepandaian dapat meringankan seseorang dalam menghadapi suka duka kehidupan di dunia ini. Dan kepandaian juga dapat membahayakan orang, bila digunakan untuk kejahatan.

Oleh karena itu kepandaian harus diimbangi oleh ajaran agama. Ilmu tanpa agama adalah lumph, agama tanpa ilmu adalah buta.

4.      Kulina
Artinya keturunan. Orang dipandang terhormat disegani, dapat dipercaya, karena dikenal berasal dari keturunan-keturunan orang-orang berjasa, baik budi dan karyanya dapat dinikmati oleh banyak orang.

Seringkali dari adanya keturunan ini, orang merasa bangga akan dirinya, karena ia merasa keturunan orang-orang terhormat, maka dengan kebanggaan ini lalu ia menjadi orang yang berderajat tinggi, sombong, dan angkuh, sehingga kemudian menghina orang lain. Kita hidup adalah saling hormat menghormati, saling harga-menghargai. Menghargai orang lain berarti menghargai diri sendiri.

5.      Yowana
Artinya masa muda. Masa muda atau masa remaja ini penuh dengan kegairahn hidup, masa gemilang penuh dengan kreatif. Masa inilah sebenarnya merupakan kesempatan untuk berbuat banyak dalam menimba berbagai ilmu untuk bekal di kemudian hari. Tetapi masa muda ini juga penuh tantangan seperti tidak tetap pendirian, goyah, emosi dan belum ada keseimbangan pikiran, sehingga belum tahu kemanakah arah hidupnya kelak.

Masa muda harus diisi dengan hal-hal yang baik. Masa inilah masa menuntut ilmu, bekerja keras, menciptakan sesuatu yang berguna dan beraktivitas yang baik. Kalau masa muda ini disalahgunakan, atau dimanfaatkan untuk merusak dan merugikan orang lain.

6.      Sura
Artinya minuman keras.

7.      Kasuran
Artinya keberanian. Setiap orang perlu memiliki keberanian. Tanpa keberanian orang akan selalu merasa takut. Keberanian di sini dipergunakan untuk dapat mengatasi berbagai masalah dan liku-liku kehidupan. Keberanian yang dilakukan tanpa didasari oleh Dharma maka keberanian itu akan menjurus kepada perbuatan kejam dan sadis.

            Sad Atatayi
            Artinya enam macam pembunuhan kejam. Yaitu :

1.      Agnida
Artinya membakar milik orang lain. Orang yang karena perasaan iri dan dengki, sentimen pribadi dan macam-macam perasaan lainnya, kemudian melakukan perbuatan terlarang lain membakar milik orang. Karenanya kendalikanlah diri dari perbuatan terlarang itu.

2.      Wisada
Artinya meracun. Perbuatan meracun adalah suatu perbuatan jahat dan terkutuk. Orang yang melakukan hal ini disebabkan karena perasaan dendam, benci, sehingga orang lain dianggap sebagai musuhnya. Perbuatan yang demikian termasuk perbuatan kejam, tidak berperikemanusiaan karenanya termasuk pembunuhan kejam. Itulah sebabnya perbuatn ini sangat terlarang.

3.      Atharwa
Artinya melakukan ilmu hitam atau black magic. Ini sering digunakan untuk membuat orang lain menderita sakit, orang lain menjadi gila dan lain sebagainya. Perbuatan dengan melakukan ilmu hitam ini sangat dilarang oleh ajaran agama. Oleh karena itu dianggap sebagai suatu pembunuhan bila dilakukan.

4.      Sastraghna
Artinya mengamuk. Mengamuk adalh suatu perbuatan dari orang yang sedang bingung. Perbuatan mengamuk bisa menimbulkan kepanikan, bahkan bisa menimbulkan pembunuhan. Perbuatan mengamuk itu adalah perbuatan yang tidak terpuji.

5.      Dratikrama
Artinya memperkosa. Memperkosa adalah perbuatan yang dilakukan tanpa adanya persetujuan kedua belah pihak. Perbuatan memperkosa adalah sama dengan perbuatan binatang, karena binatang melakukan kehendaknya hanya berdasarkan nafsu jahatnya saja. Perbuatan semacam itu tidak akan mungkin dapat membahagiakan, tapi sebaliknya menimbulkan kesengsaraan. Itulah sebabnya ajaran agama melarang perbuatan dratikrama itu.

6.      Raja pisuna
Artinya memfitnah. Memfitnah adalah suatu perbuatan yang paling tidak baik. Memfitnah lebih kejam dari pembunuhan. Perbuatan ini dilakukan untuk menghancurkan kehidupan orang lain.

            Tri mala
            Artinya tiga macam perbuatan kotor
a.       Kasmala yaitu perbuatan yang hina dan kotor
b.      Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor
c.       Moha yaitu pikiran perasaan yang curang dan angkuh

Pelaksanaan jenjang perjenjang ini hendaknya dapat dipahami dan dipandang sebagai kewajiban moral dalam hidup dan kehidupan ini. Dengan demikian betapapun beratnya permasalahan yang dihadapi dari masing-masing fase kehidupan itu tidak akan pernah dikeluhkan oleh pelakunya. Idialnya memang seperti itu, tidak ada sesuatu permasalah yang patut kita keluhkan. Keluh-kesah yang kita simpan dan menguasai sang pribadi kita tidak akan pernah membantu untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang ada. Bila kita hanya mampu mengeluh tentu akan menambah beban yang lebih berat lagi. Hindu sebagai agama yang telah menggariskan kepada umatnya untuk tidak hanya biasa dan kaya dengan hanya mengeluh.

C.    
    APLIKASI PENERAPAN CATUR ASRAMA PADA JAMAN MODERN

Pada saat ini, asrama tak dapat dihidupkan secara tepat sesuai dengan aturan rincian kuno, karena kondisinya telah banyak sekali berubah, tetapi dapat dihidupkan kembali dalam semangatnya, terhadap kemajuan yang besar dari kehidupan yang modern.Kedamaian dan aturan akan berlaku dalam masyarakat , hanya apabila semua melaksanakan kewajiban masing – masing secara efektif. Penghapusan warna dan asrama akan memotong akar dari kewajiban social masyarakat.

Bagaimana bangsa dapat mengharapkan untuk hidup bila warnasrama dharma tidak dilaksanakan secara tegar ? Murid – murid sekolah dan perguruan tinggi seharusnya menjalani suatu kehidupan yang murni , sederhana serta focus pada mengejar ilmu pengetahuan stinggi-tingginya.
 Kepala rumah tangga seharusnya menjalani kehidupan sebuah grhasta yang ideal, ia seharusnya melaksanakan pengendalian diri, welas asih, toleransi, tidak merugikan, berlaku jujur,dan kewajaran dalam segala hal.

 Selain itu, dengan berbekal ilmu dan keterampilan yang memadai yang didapat pada masa brahmacari, seseorang diharapkan mendapat profesi menjanjikan sesuai dengan keahliannya atau bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Melalui media itu umat dapat mencari artha dan kama yang didasarkan atas dharma.

 Sementara pada saat menapaki kehidupan wanaprasta, umat sesungguhnya dituntun untuk mengasingkan diri dari hal-hal yang berbau keduniawian. Dulu, menapaki hidup wanaprasta umat pergi ke hutan untuk menyepikan diri. Tetapi dalam konteks sekarang, ”hutan belantara” itu berada di tengah-tengah kita. Agar umat mampu menghindari diri dari kobaran api hawa nafsu, yang memang memerlukan pengendalian diri.

Pada tahapan bhiksuka atau sanyasin, umat sangat baik mendalami hal-hal yang bernuasa spiritual untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dan diharapkan umat sudah harus mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keinginan duniawi dan dapat menjauhkan diri dari sifat dan musuh yang ada dalam diri seperti sad ripu, sapta timira, sad atatayi, tri mala serta yang sejenisnya.

Jadi manusia hidup di dunia ini ada tahapan-tahapan yang hendak dicapai agar jenjang kehidupan menjadi tertata, catur asrama ini juga berguna untuk menerapkan manusia agar melaksanakan swadharma menurut umur jadi dari umur 0 – 20th tahun hendaknya digunakan untuk belajar, umur 20th keatas baru kemudian menginjak ke jenjang menikah dengan mencari pasangan hidup agar mendapatkan keturunan yakni untuk meneruskan generasi agar tidak putus.

Kemudian pada umur 50-60th setelah matang dalam belajar kemudian menikah tentu saja banyak memiliki ilmu-ilmu atau pengalaman yang dapat diterapkan dalam masyarakat atau mengabdi pada masyarakat. Kemudian jenjang yang terakhir adalah biksuka atau sanyasin dari umur 60th keatas hendaknya sudah menyerahkan diri dengan Tuhan tidak terikat lagi dengan nafsu-nafsu yang ada dalam diri apalagi itu nafsu sad ripu. Seorang sanyasin hendaknya selalu berbuat yang baik dan bijaksana dan tidak banyak memiliki keinginan-keinginan menyerahkan diri dengan Tuhan dan pasrah.



Kemudian pada umur 50-60th setelah matang dalam belajar kemudian menikah tentu saja banyak memiliki ilmu-ilmu atau pengalaman yang dapat diterapkan dalam masyarakat atau mengabdi pada masyarakat. Kemudian jenjang yang terakhir adalah biksuka atau sanyasin dari umur 60th keatas hendaknya sudah menyerahkan diri dengan Tuhan tidak terikat lagi dengan nafsu-nafsu yang ada dalam diri apalagi itu nafsu sad ripu. Seorang sanyasin hendaknya selalu berbuat yang baik dan bijaksana dan tidak banyak memiliki keinginan-keinginan menyerahkan diri dengan Tuhan dan pasrah.


Jadi manusia hidup di dunia ini ada tahapan-tahapan yang hendak dicapai agar jenjang kehidupan menjadi tertata, catur asrama ini juga berguna untuk menerapkan manusia agar melaksanakan swadharma menurut umur jadi dari umur 0 – 20th tahun hendaknya digunakan untuk belajar, umur 20th keatas baru kemudian menginjak ke jenjang menikah dengan mencari pasangan hidup agar mendapatkan keturunan yakni untuk meneruskan generasi agar tidak putus.

Kemudian pada umur 50-60th setelah matang dalam belajar kemudian menikah tentu saja banyak memiliki ilmu-ilmu atau pengalaman yang dapat diterapkan dalam masyarakat atau mengabdi pada masyarakat. Kemudian jenjang yang terakhir adalah biksuka atau sanyasin dari umur 60th keatas hendaknya sudah menyerahkan diri dengan Tuhan tidak terikat lagi dengan nafsu-nafsu yang ada dalam diri apalagi itu nafsu sad ripu. Seorang sanyasin hendaknya selalu berbuat yang baik dan bijaksana dan tidak banyak memiliki keinginan-keinginan menyerahkan diri dengan Tuhan dan pasrah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SMAN 4 MATARAM SUKSES GELAR P5 UNTUK TAHUN KE-3

Dari Sabang sampai Merauke, Guru Bersatu Hadirkan Pembelajaran Seru dengan Wayground

Fasilitator Pembelajaran: Menjadi Teman Perjalanan Guru SMP/SMA dalam Menggali Pembelajaran Mendalam Batch 1 di Mataram