Catur Asrama
BAB 2
CATUR
ASRAMA
VIDEO
Kompetensi
inti :
KI 1: Menghayati
dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2: Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli,
santun, ramah lingkungan, gotong royong,
kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif)
dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.
KI
3: Memahami
dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI
4: Mengolah,
menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi
dasar :
1.5 Menghayati ajaran Catur Asrama sebagai tingkatan
hidup dalam masyarakat Hindu
2.5 Mengamalkan pola hidup sesuai dengan tingkatan dan ranah yang
diamanatkan Catur Asrama
3.5 Memahami pengetahuan konseptual ajaran Catur Asrama
4.6 Menyajikan ajaran Catur Asrama dalam tatanan hidup
Indicator :
- Menjelaskan pengertian Catur Asrama
- Menyebutkan bagian-bagian Catur
Asrama
- Menguraikan pengertian Brahmacari
Asrama
- Menyebutkan bagian-bagian Bhamacari
Asrama
- Menguraikan pengertian Grhasta
Asrama
- Menyebutkan kewajiban-kewajiban
masa Grhasta Asrama
- Menguraikan pengertian Wanaprastha
Asrama
- Menguraikan pengertian Bhiksuka
Asrama
A.
PENGERTIAN CATUR ASRAMA
Niyatam kuru karma tvam
Karma jyayo hy akarmanah
Sarra-yatrapi ca te
Na prasiddhyed akarmanah
(Bhagawadgita
III.8.42)
Artinya :
Lakukanlah
pekerjaan yang diberikan padamu, karena melakukan perbuatan itu lebih baik
sifatnya daripada tidak melakukan apa-apa, sebagai juga untuk memelihara
badanmu tidak akan mungkin jika engkau tidak bekerja.
Manusia
tumbuh melalui berbagai tahap usia dalam hidup mereka, proses yang dikenal
sebagai siklus kehidupan manusia. Berbagai poin sepanjang siklus kehidupan
seseorang menawarkan berbagai pertumbuhan dan perkembangan, baik pada tingkat
fisik dan emosional. Sebagai orang yang bergerak melalui kehidupan dari satu
siklus ke siklus yang lain, ia juga mengalami perkembangan konstan dari
kehidupan seluler, kematian dan regenerasi, dari saat pembuahan sampai saat
kematian.
Kita
mesti bangga karena Hindu telah memiliki konsep yang jelas tentang jenjang
kehidupan seorang manusia yang tersusun secara sistimatis dalam Catur Asrama.
Dalam kepercayaan lain konsep ini Nampak tidak begitu jelas, dimana seorang
yang sebenarnya sudah masuk di masa yang sudah tidak muda lagi masih diijinkan
untuk menikah dan begitu juga sebaliknya diusia yang masih sangat muda
seseorang telah dinikahkan.
Selain
itu penilaian Hindu tentang seberapa pantas seorang itu menikah bukan hanya
dari fisik tapi kedewasaan mental dan seberapa besar kemampuan yang diperoleh
dalam masa belajar untuk dapat menunjang kehidupan rumah tangganya nanti.
Kata Catur
Asrama berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Catur berarti empat dan kata Asrama
berarti tempat atau lapangan “kerohanian”. Catur asrama adalah empat jenjang
kehidupan manusia berdasarkan petunjuk kerohanian yang dipolakan untuk mencapai
empat tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusartha. Jenjang kehidupan itu
berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur dan sifat perilaku manusia.
Empat Asrama atau tahapan dalam kehidupan, yaitu :
Brahmacari (tahapan belajar atau masa menuntut ilmu pengetahuan), Grhastha
(tahapan berumah tangga), Wanaprastha (tahapan penghuni hutan atau pertapa dan
yang terakhir adalah Sannyasin (kehidupan penyangkalan atau bhiksuka). Setiap
tahapan memiliki tugas sendiri-sendiri. Tahapan-tahapan ini membantu evolusi
manusia. Empat Asrama menempatkan manusia pada kesempurnaan oleh masing-masing
tahapan. Pelaksanaan dari Empat Asrama, mengatur kehidupan dari awal sampai
akhir. Dua Asrama yang pertama menyinggung tentang Prawrtti Marga atau jalan
kerja, dan tua tahapan berikutnya yaitu kehiduan Wanaprastha dan Sannyasa
merupakan tahapan penarikan diri dari dunia luar. Mereka menyinggung kepada
Niwrtti Marga atau jalan penyangkalan atau penolakan.
Wanaprastha dan Sannyasa Asrama, adalah tahapan
hidup memasuki masa pension dan tahapan hidup mempersiapkan diri untuk
melepaskan sang diri (Atman) dari belenggu kehidupan di dunia nyata ini. Dua
tahap ini hanya ditujukan untuk mencapai Moksa sebagai tujuan akhir dari
proses hidup ini. Saat Wanaprastha adalah tahapan hidup untuk membagi
berbagai pengalaman hidup pada generasi penerus yaitu Brahmacari dan Grhastha
Asrama. Dalam hal inilah berlaku semboyan pengalaman sebagai guru terbaik.
Sukses dan gagal dalam hidupnya saat Brahmacari dan Grhastha seyogyanya menjadi
bahan pelajaran untuk ditelaah oleh generasi selanjutnya.
Pengalaman yang sukses dan gagal itu sebagai suatu
bahan pelajaran yang sangat berharga sebagai suatu pebandingan bagi generasi
berikutnya. Tentunya dengan kajian-kajian mendalam. Karena situasi dan kondisi
jaman sebelumnya dan jaman selanjutnya tidak sama. Cara sukses pada masa yang
lalu tentunya tidak selamanya bisa diterapkan pada jaman selanjutnya. Demikian
juga kegagalan yang pernah dialami jangan sampai terulang oleh generasi
selanjutnya.
Susunana
tatanan itu mendukung atas perkembangan rohani seseorang. Perkembangan rohani
berproses dari bayi, muda, dewasa, tua, dan mekar. Kemudian berkembang menjadi
rohani yang mantap mengalami ketenangan dan keseimbangan.
Adanya
empat jenjang kehidupan dalam ajaran agama Hindu dengan jelas memperlihatkan
bahwa hidup itu deprogram menjadi empat
fase dalam kurun waktu tertentu. Tegasnya dalam satu lintasan hidup
diharapkan manusia mempunyai tatanan hidup melalui empat tahap program itu,
dengan menunjukkan hasil yang sempurna.
Dalam
fase pertama, kedua, ketiga dan keempat rumusan tatanan hidup dipolakan.
Sehingga dapat digariskan bahwa pada umumnya orang yang berada dalam fase
pertama dan tidak boleh atau kurang tepat menuruti tatanan hidup dalam fase
yang kedua, ketiga ataupun keempat.
Demikian
seterusnya diantara satu fase hidup dengan kehidupan berikutnya. Bilamana hal
itu terjadi dan diikuti secara tekun maka kerahayuan hidup akan mudah tercapai.
Bilamana dilanggar tentu yang bersangkutan akan mengalami hal yang sebaliknya.
Jadi untuk memudahkan menuju tujuan hidup maka agama Hindu mengajarkan dan
mencanangkan empat jenjang tatanan kehidupan ini. Masing-masing jenjang itu,
memiliki warna tersendiri dan semua jenjang itu mesti dilewati hingga akhir
hayat dikandung badan. Setelah itu diharapkan atma menjadi bersatu dengan
sumbernya yaitu Parama Atma.
B. BAGIAN-BAGIAN
CATUR ASRMA DAN KEWAJIBANNYA
“Pelaksanaan
Bahmacari Membawa Akibat Bagi leluhurnya
Tersebutlah
seorang Brahana yang bernama sang Jaratkaru. Ia yang bernama Jaratkaru,
sangatlah takut pada kesengsaraan hidup ini. Jaratkaru adalah putra seorang
wiku terpilih atas ketetapan budinya. Beliau begitu rajin mengambil butir-butir
padi yang tercecer di jalan atau di sawah lalu dipungut dan dicucinya. Apabila
sudah terkumpul banyak lalu ditanaknya, digunakan sebagai korban kepada para
Dewa dan juga untuk di hidangkan kepada para tamu. Demikianlah ketetapan budi
leluhurnya Jaratkaru, tidak terikat oleh cinta asmara, tidak memikirkan istri
melainkan bertapa sajalah yang dipentingkan.
Dikisahkan
sekarang Sang Maha Raja Parikesit berburu kemudian dikutuk oleh Bhagawan
Srenggi supaya digigit naga Taksaka. Pada kesempatan itulah Jaratkaru bertapa.
Setelah ia berhasil bertapa mahir atas segala mantra-mantra ia dibolehkan
memasuki segala tempat, termasuk tempat-tempat yang dikehendaki yaitu tempat di
antara surga dan neraka namanya Ayatanasthana. Pada tempat neraka ditemukan roh
leluhurnya sadang terhukum tergantung pada pohon bamboo besar, mukanya
tertelungkup ke bawah kakinya diikat sedangkan di bawahnya ada jurang yang
sangat dalam, jalan akan menuju kawah neraka. Roh akan tepat jatuh ke kawah
apabila tali gantungan itu putus. Di lain pihak seekor tikus sedang menggigit
pohon bamboo tersebut. Peristiwa ini sangat kritis dan sangat mengerikan bagi
para roh yang terhukum. Melihat kejadian ini Jaratkaru berlinang-linang air
matanya kasihan menyaksikan roh terhukum tersebut.
Didekatilah
roh itu dan ditanya satu persatu penyebab ia sampai terhukum seperti itu. Semua
roh menyampaikan suatu alas an penyebabnya, seperti mencuri, irihati,
memfitnah, berzina dan lain-lain yang menurut Jaratkaru memang pantas pula
mendapatkan hukuman seperti itu. Kemudian akhirnya Sang Jaratkaru menanyakan
penyebabnya sampai terhukum, lalu roh itu menjawab, saya ini yang kau tanyai,
saya akan katakana keadaan saya semua, keturunan kami putus itulah sebabnya
saya pisah dari dunia leluhur dan tergantung di bamboo besar ini seakan-akan
sudah masuk neraka. Saya punya seorang keturunan bernama Jaratkaru. Ia pergi
karena ingin melepaskan ikatan kesengsaraan orang, ia tidak punya istri, karena
menjadi seorang brahmacari sejak masih kecil.
Itulah
sebabnya saya ada di buluh ini, karena berate semadinya keturunan saya di
asrama pertapaannya. Mungkin ia telah hebat ilmunya namun apabila putus
keturunannya niscaya tidak ada buah dari tapanya. Saya tidak berbeda seperti
orang yang melaksanakan perbuatan hina yang pantas mendapat sengsara. Rugi
rupanya perbuatan saya yang baik pada waktu hidup. Kalau kiranya engkau belas
kasihan kepada saya, pintalah kasihannya sang wiku Jaratkaru supaya suka
berketurunan, supaya saya dapat pulang ke tempat para leluhur, katakanlah bahwa
saya menderita sengsara, supaya ia juga berbelas kasihan.
Mendengar
kata-kata leluhurnya itu, makin berlinang-linang air matanya dan tanpa disadari
ia menangis, hatinya makin tersayat melihat leluhurnya menderita, lalu berkata
: “ saya inilah yang bernama Jaratkaru, seorang keturunanmu yang gemar bertapa,
bertekad menjadi brahmacari, kiranya sekaranglah penderitaanmu berakhir sebab
selalu sempurna tapa yang telah berlangsung. Adapun kalau itu yang menjadi
kendala untuk kembali ke surga, janganlah khawatir, saya akan memberhentikan
kebrahmacarian saya”.
Saya
akan mencari istri agar mempunyai anak. Adapun istri yang saya kehendaki adalah
istri yang namanya sama dengan nama saya supaya tidak ada pertentangan dalam
perkawinan saya. Kalau saya telah berputra saya akan menjadi brahmacari lagi.
Demikian kata Sang Jaratkaru dan pergilah ia mencari istri yang senama dengan
dia. Semua penjuru sudah dimasukinya namun belum mendapatkan istri yang senama
dengan dia, maka dia tidak tahu apa yang akan dikerjakan dengan tanpa disadari
dia mencari pertolongan kepada bapaknya supaya dapat menghindarkan dirinya dari
sengsara.
Kemudian
masuklah ia ke hutan sunyi, sambil menangis mengeluh kepada segala makhluk,
termasuk makhluk yang tidak bergerak. Saya ini Jaratkaru seorang brahmana yang
ingin beristri berilah saya istri yang senama dengan saya Jaratkaru, supaya
saya berputra, supaya leluhur saya pulang ke surga. Seru dan tangis sang
Jaratkaru terdengar oleh para naga, dalam waktu singkat disuruhlah para naga
mencari brahmana itu yang bernama Jaratkaru oleh Sang Basuki, yang akan
diberikan pada adiknya yang bernama Nagini yang diberi nama Jaratkaru agar
mempunyai anak brahmana yang akan menghindarkan dirinya dari korban ular.
Terjadilah
perkawinan kedua mempelai Jaratkaru yang senama, dengan berbagai upacara.
Kemudian Sang Jaratkaru mengadakan perjanjian kepada sang istri yaitu jangan
engkau mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan perasaan, demikian pula berbuat
yang tidak senonoh. Kalau hal itu kau perbuat engkau akan kutinggalkan.
Demikianlah kata Sang Jaratkaru kepada istrinya, lalu merekapun hidup bersama.
Beberapa bulan kemudian terlihatlah tanda-tanda bahwa istrinya hamil.
Pada
suatu waktu ia akan tidur, ia minta ditunggui oleh istrinya, karena dikiranya
akan ditinggalkan. Ia minta agar kepalanya dipangku oleh istrinya dan tidak
mengganggunya selama beliau tidur. Dengan hati-hati istrinya memangku suaminya
yang cukup lama sampai waktu senja tepat waktu waktu pemujaan. Lalu sang Nagini
Jaratkaru membangunkan brahmana Jaratkaru, takut kelewatan waktu memuja.
Setelah membangunkan Jaratkaru justru terbalik, brahmana Jaratkaru malah
marah-marah mukanya merah karena marahnya. Brahmana berseru “Hai Nagini
(Jaratkaru) jahanam! Sangatlah penghinaanmu sebagai istri, engkau berani
mengganggu tidurku! Tidak selayaknya tingkah laku istri seperti tingkahmu itu.
Sekarang engkau akan ketinggalkan”. Demikian kata-katanya lalu memandang kepada
istrinya.
Nagini
mengikutinya, lari lalu memeluk kaki suaminya. “Oh tuanku, Ampunilah hamba
tuanku ini. Tidak karena hinaan hamba membangunkan tuanku. Tetapi hanya
memperingatkan tuanku akan waktu pemujaan setiap hari waktu senja. Salah
kiranya, karena itu hamba menyembah, minta ampun tuanku, baik kiranya tuanku
kembali……kalau hamba sudah punya anak yang akan menghindarkan keluarga hamba
dari korban ular, sejak itulah tuanku boleh bertapa kembali”.
Demikian
Nagini minta belas kasihan. Jaratkaru menjawab “Alangkah baiknya perbuatanmu,
Nagini, memperingatkan pemujaan kepadaku pada waktu senja, tapi sama sekali aku
tidak dapat mencabut perkataanku untuk meninggalkan engkau. Jangan khawatir
keinginanmu untuk memiliki Asti, anakmu sudah ada. Itulah yang akan
melindungimu kelak pada waktu korban ular. Senanglah Nagini Jaratkaru. Sang Nagini
ditinggalkannya. Nagini lalu mengatakan kepada Sang Basuki tentang kepergian
suaminya. Mengatakan segala perkataan Sang Jaratkaru, dan mengatakan pula
tentang isi kandunganya, yang menyebabkan girangnya sang Basuki. Setelah
berselang beberapa lama lahir seorang bayi laki-laki sempurna keadaan badannya.
Kemudian diberi nama Sang Astika, karena bapaknya hilang “asti”. Bayi itu
disambut oleh Sang Basuki dan diberi upacara sebagai seorang Brahmana. Baru
lahir Sang Astika seketika itu leluhur yang bergantungan tadi lepas dari
penderitaan dan melayang ke surga mengenyam hasil tapanya dahulu. Demikian pula
Naga Taksaka terhindar dari korban ular yang dilangsungkan oleh raja
Janamejaya.
Naskah
Jawa Kuno yang diberi nama Agastya Parwa
menguraikan tentang bagian-bagian Catur Asrama. Dalam kitab Silakrama hal 8 dijelaskan sebagai
berikut :
“Catur Asrama
ngaranya Brahmacari, Grhastha, Wanaprastha, Bhiksuka, Nahan tang Catur Asrama
ngaranya”.
Yang
bernama Catur Asrama adalah Brahmacari, Grhastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka.
Catur
Asrana ialah empat fase pengasramaan berdasarkan petunjuk kerohanian. Dari
keempat pengasramaan itu diharapkan mampu menjadi tatanan hidup umat manusia
secara berjenjang.
Masing-masing
tatanan dalam tiap jenjang menunjukkan proses menuju ketenangan rohani.
Sehingga diharapkan tatanan rohni pada jenjang Moksa sebagai akhir pengasramaan
dapat dicapai atau dilaksanakan oleh setiap umat.
Masing-masing
jenjang memiliki kurun waktu tertentu untuk melaksanakannnya. Pelaksanaan
jenjang perjenjang ini hendaknya dapat dipahami dan dipandang sebagai kewajiban
moral dalam hidup dan kehidupan ini. Dengan demikian betapapun beratnya
permasalahan yang dihadapi dari masing-masing fase kehidupan itu tidak akan
pernah dikeluhkan oleh pelakunya.
Idealnya
memang seperti itu, tidak ada sesuatu “permasalahan” yang patut kita keluhkan.
Keluh-kesah yang kita simpan dan menguasai sang pribadi kita tidak akan pernah
membantu secara ikhlas untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang
ada. Bila kita hanya mampu mengeluh tentu akan menambah beban yang lebih berat
lagi. Hindu sebagai agama telah menggariskan kepada umatnya untuk tidak
mengeluh.
Bhagawadgita
III.9.43 menyebutkan “
Yajnarthat
karmano ‘nyatra
Loko ‘yam
karma-bandhanah
Tad-artham karma
kaunteya
Mukta-sangah
samacara
Kecuali
pekerjaan yang dilakukan sebagai dan untuk yadnya dunia ini juga terikat oleh
hukum karma. Oleh karenanya, O Arjuna, lakukanlah pekerjaanmu sebagai yadnya,
bebaskan dari semua ikatan.
Demikianlah
Sri Bhagawab Kresna menjelaskan agar kita melakukan pekerjaan yang telah
diwajibkan dengan benar dan tanpa terikat akan hasilnya. Tujuannya tiada lain
adalah agar semua karma atau perbuatan yang kita lakukan diubah menjadi yoga,
sehingga kegiatan itu dapat membawa kita menuju persatuan dengan Tuhan Yang
Maha Esa.
Bila
seseorang melakukan perbuatan dengan kesadaran badan, yaitu bila mereka
menyamakan dirinya sebagai manusia yang berbuat, maka perbuatannya itu tidak
akan menjadi karma yoga. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan perasaan
mementingkan dirinya sendiri, dengan rasa keterikatan, yaitu merasa
perbuatannya, maka semua perbuatan semacam itu akan mengakibatkan kesedihan.
Sehubungan dengan itu, renungkan sloka berikut :
Bhagawadgita
III.25.50
Na buddhi-bhedam
janayed
Ajnanam karma-sanginam
Josayet
sarva-karmani
Vidvan yuktah
samacaram
Orang
yang pandai seharusnya jangan menggoncangkan pikiran orang yang bodoh yang
terikat pada pekerjaannya. Orang yang bijaksana melakukan semua pekerjaan dalam
jiwa yoga, harus menyebabkan orang lain juga bekerja.
“Berkarmalah”
untuk dapat mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini sebagaimana
dijelaskan dalam ajaran Catur Purusartha. Hanya dengan melakukan kewajiban
karma seseorang akan terbebas dari semua masalah yang dihadapinya.
Bagian-bagian
Catur Asrama dijelaskan sebagai berikut :
1) Brahmacari asrama
Adalah
fase pertama dari catur asrama Brahmacari yang berasal dari 2 kata , brahma dan
cari . Brahma artinya ilmu pengetahuan suci dan Cari ( car ) yang artinya
bergerak atau bertingkah laku mencari atau mengejar ilmu pengetahuan.
Jadi
brahmacari artinya bergerak di dalam kehidupan menuntut ilmu pengetahuan ( masa
menuntut ilmu pengetahuan ), yakni masa belajar dan berjuang, mengisi diri
menuju peringkat hidup yang lebih baik, dalam usaha melenyapkan atau
menghilangkan kegelapan menuju kecerdasan.
“Brahmacari ngaranya sang sedeng mangabhyasa
Sang Hyang Sastra, mnwang Sang Wruh ring tingkah Sang Hyang aksara, sang
mangkana karamanya sang Brahmacari ngaranya. (Silakrama hal 8)
Artinya
:
Barhmacarinya
namanya bagi orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan dan yang mengetahu
perihal ilmu huruf (aksara).
Brahmacari
dikenal juga dengan istilah hidup aguron-guron atau asewaka guru. Di dalam
tingkatan Brahmacari guru mendiidk para siswa atau murid dengan petunjuk
kerohanian, kebajikan, amal, pengabdian dan semuanya itu didasari oleh Dharma
(kebenaran).
Di
samping itu guru memberikan berbagai ilmu pengetahuan kepada para muridnya.
System Brahmacari lebih mengutamakan pada pembentukan pribadi-pribadi manusia
yang tangguh dan handal serta memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan
keterampilan. Semuanya itu untuk menjadikan manusia bisa hidup mandiri dan siap
untuk menempuh kehidupan berumah tangga nantinya.
Demikian
juga Brahmacari merupakan pondasi/dasar untuk menempuh tingkat dan jenjang
kehidupan lainnya seperti Grhastha, wanaprastha dan bhiksuka.
Semasih
seseorang berada pada lintasan umur brahmacari, mesti lebih terdorong hatinya
untuk mengisi diri dan bertekad bulat menuntut ilmu sebanyak-banyaknya sesuai
dengan slogan “masa muda adalah masa
belajar dan berjuang”. Bukan masa
muda dijadikan ajang sebagai masa bermalas-malasan dan hura-hura! Setiap orang
hendaknya memprogram diri untuk dapat melewati masa brahmacari asrama itu
dengan sasaran dan tujuan yang dicita-citakan
Lebih-lebih
di dalam era globalisasi ini antara iptek dengan imtaq itu, harus seimbang
adanya. Artinya antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi diselaraskan
dengan perilaku iman dan takwa. Bila tidak seimbang antara penguasaan iptek
dengan pengalaman perilaku imtaq ini akan bisa menimbulkan adanya kesombongan.
Bagaimanapun tingginya iptek itu harus diimbangi dengan imteq agar iptek itu
dapat berguna meningkatkan harkat martabat hidup umat manusia. Seperti yang
dikatakan oleh Albert Einstein yaitu ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu
lumpuh.
Menurut
agama Hindu saat berada dalam Brahmacari asrama, para siswa dilarang mengumbar
hawa nafsu sex. Melainkan semua kekuatan jasmani dan rohaninya sebagian besar
hendaknya diarahkan untuk pembentukan kecerdasan otak yang disebut dengan oyas sakti, hendaknya menuntut ilmu
pengetahuan setinggi mungkin, agar dapat membentuk perilaku dan sikap moral
serta mengembangkan jiwa budhi luhur.
Ilmu
pengetahuan itu ada dua macam : para widya (pengetahuan Ketuhanan) dan apara
widya (ilmu tentang keduniawian). Menurut kitab Atharwa Wda XI.5, disebutkan
untuk dapat menjadi seorang siswa terlebih dahulu harus diawali dengan upacara
upanayana dan diakhiri dengan upacara samawartana. Upacara upanayana berfungsi
untuk menyucikan calon brahmacari untuk dapat menjadi siswa yang sah. Sedangkan
upacara samawartana adalah upacara wisuda yang menyatakan siswa tersebut telah
resmi menamatkan pelajarannya.
Pembagian
Brahmacari asrama yaitu :
a. Sukla
brahmacari
“Sukla brahmacari ngaranya tanpa rabi sangkan
rere, tan maju tan kuring sira, adyapi teku ring wreddha tewi tan pangincep
arabi sangkan apisan”. (silakrama hal.32)
Artinya
:
Sukla
brahmacari namanya orang yang tidak kawin dari sejak lahir sampai ia meninggal.
Hal ini bukan disebabkan karena impoten atau lemah sahwat. Dia sama sekali
tidak pernah kawin sampai umur lanjut.
Orang
yang melaksanakan Sukla Brahmacari dengan sungguh-sungguh maka dalam ingatannya
tidak ada terlintas nafsu seks dan beristri. Kesadaran melaksanakan Sukla
Brahmacari ini memang tumbuh dari getaran bathin dan hatinya yang suci murnih.
Dalam
wira cerita Ramayana, Taruna Laksamana ditampilkan sebagai sosok yang
menjalankan Sukla Brahmacari. Betapapun wanita menggoda, termasuk Raksasa Surpanaka,
ia tetap teguh imam melaksanakan sukla brahmacari itu yakni tidak kawin sampai
akhir hayat dikandung badan. Sehingga akhirnya Surpanaka jengkel dan marah dan
mengadu kepada Rahwana.
Rahwana
marah, karena aduan dari Surpanaka, mengatakan dirinya dianiaya dan disiksa
oleh Laksmaa. Sehingga Rahwana mengirim patih Marica untuk menggoda Dewi Sita.
Patih Marica berubah menjadi Kijang Mas, sehingga Dewi Sita tertarik terhadap
kijang itu, dan menyuruh Rama untuk menangkapnya. Rama berpisah pergi mengejar
kijang itu. Saat Rama berpisah dengan Sita, dipergunakan sebagai kesempatan
oleh Rahwana untuk melarikan Dewi Sit dibawa ke Alengka.
b. Sewala
brahmacari
“Sewala brahmacari ngaranya, marabi pisan,
tan parabi, muwah yan kahalangan mati strinya, tanpa rabi, mwah sira, adnyapi
teka ri patinya, tan pangucap arabya. Mangkana sang brahmacari yan sira sewala
brahmacari”. (silakrama hal. 32)
Artinya
:
Sewala
brahmacari namanya bagi orang yang hanya kawin satu kali, tidak kawin lagi.
Bila mendapatkan halangan salah satu meninggal, maka ia tidak kawin lagi sampai
datang ajalnya. Demikianlah namanya sewala brahmacari.
c. Krsna
(Trsna) brahmacari
Seseorang
diijinkan kawin lebih dari satu kali dalam batas maksimal 4 kali. Itupun dengan
ketentuan bahwa seorang brahmacari boleh mengambil istri yang kedua bilamana
istri yang pertama tidak dapat melahirkan keturunan. Tidak dapat berperan
sebagai seorang istri mungkin sakit-sakitan, dan bila istri pertama mengijinkan
untuk kawin kedua kalinya.
Walaupun
dalam Trsna brahmacari disebutkan boleh kawin lebih dari satu kali, namun ada
aturan yang harus ditaati agar ketenteraman rumah tangga tetap dapat terbina.
Aturan atau syara-syarat yang harus ditaati bagi yang mau menjalankan kehidupan
Trsna Brahmacari adalah :
1. Mendapatkan
persetujuan dari istri
2. Suami
harus bersifat adil terhadap istri-istrinya secara lahir dan bathin
3. Suami
sebagai seorang ayah harus dapat berlaku adil terhadap anak-anak yang
dilahirkan.
Pada
masa Brahmacari tujuan utama manusia adalah tercapainya dharma dan artha.
Seseorang belajar untuk memahami dharma dan dapat mencari nafkah di masa depan.
Dharma merupakan dasar dan bekal mengarungi kehidupan berikutnya.
Kitab
Manawa Dharmasastra, IV.7
“Sarvan parityajed arthan svadhyayasya
virodinaa, yatha tatha dhyapayamstu sa hyasya krta krtyata”
Artinya
:
“Hendaknya
ia menghindari semua jalan mencapai kekayaan yang dapat mengganggu pelajaran
Vedanya, bagaimana pun juga hendaknya ia mengukuhkan diri dalam mempelajari
veda berdasarkan kebhaktian akan sampai pada saat segala-galanya menjadi
kenyataan”.
Dharma
sebagai dasar utama mempunyai pengertian yang sangat luas. Dharma dapat
diartikan sebagai mematuhi semua ajaran-ajaran agama yang terlihat dari
pikiran, perkataan dan perbuatan sehari-hari.
Kewajiban
dalam Brahmacari
Sebagai
seorang siswa yang sedang menuntut ilmu pengetahuan ia harus taat terhadap
petunjuk dan nasihat yang diajarkan oleh guru yang mengajarnya. Dalam ajaran
agama Hindu dikenal empat guru yang disebut Catur Guru yaitu :
1. Guru
Swadhyaya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun
kewajiban sebagai seorang siswa terhadap Guru Swadhyaya tersebut, harus taat
terhadap segala petunjuk dan ajaran-Nya. Sebagai umat yang percaya tentang
kemahakuasaan Tuhan, yang merupakan sumber dari segala yang ada di dunia ini,
maka taat kepada Guru Swadhyaya dapat diwujudkan dengan cara sujud bhakti
memujanya.
Berguru
ke hadapan Tuhan dapat dilakukan dengan cara mentaati ajaran suci yang telah
diwahyukan melalui para maharsi. Setiap hari kita harus mendekatkan diri pada
Beliau sebagai Guru dari semua guru. Dalam hubungan ini kita manusia adalah
murid dari Sang Hyang Widhi (Tuhan), yang sering disebut dengan “Brahmacarin”.
Brahman artinya Tuhan. Carin artinya berguru. Jadi berguru kepada Tuhan
Amal
baik atau perbuatan dosa yang dilakukan selama berguru kepada Hyang Widhi
hasilnya berupa subha dan asubha karma. Subha asubha karma ini dapat diterima
hasilnya berupa :
a. Sancita
karmaphala
Hasil
perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan terdahulu yang belum
habis dinikmatinya sehingga hasil perbuatannya itu akan menjadi benih yang
sangat menentukan pada kehidupan yang sekarang.
b. Prarabda
karmaphala
Karma
yang dilakukan oleh seseorang pada kehidupan sekarang ini, phalanya dinikmati
pula dalam kehidupan ini sehingga tiada sisanya lagi untuk dinikmati pada
kehidupan yang akan datang.
c. Kriyamana
karmaphala
Hasil
perbuatan seseorang yang belum sempat dinikmati pada waktu hidupnya dan akan
dinikmati pada masa penjelmaan yang akan datang.
2. Guru
rupaka yaitu orang tua (ibu dan bapak) yang melahirkan dan membesarkan kita.
Guru
Rupaka ialah orangtua (Ibu dan Bapak) yang mengadakan atau yang ngerupaka kita. Sebagai seorang anak
harus menyadari bahwa jasa orangtua (Ibu dan Bapak) adalah sangat berat, dan
tak ternilai berapa besar jasanya lebih-lebih sang ibu yang mengandung dan
melahirkan kita, dengan bertaruhan nyawa.
Demikian
tinggi rasa cinta kasihnya ibu kepada kita, sehingga ia rela berkorban untuk
menjadi badan perantara untuk memperbanyak umat manusia di mayapada ini.
Dalam
Manu Smrti II,227 disebutkan :
“Yam mata pitaram klesam sehete sambawe nmam
natasya niskrtih sakya kartum warsaca tai rapi”
Artinya
:
Penderitaan
yang dialami oleh orang tua pada waktu melahirkan anaknya, tidak dapat dibayar
walaupun dalam waktu seratus tahun.
Dalam
Sarasamuscaya, 240 disebutkan :
Mata gurutara bhumeh khat
Tathoccatarah pita
Manah cighrataram wayoccina
Bahutara trnat
Apan lwih temen bwatning ibu, Sangkeng
bwatning lemah, katsangana, tar bari-barin kalinganya, aruhur temen sang bapa
sangke langit, adrs temen ang manah sangkeng bayu, akwh temen angenangen
sangkeng dukut.
Artinya
:
Sebab
sesungguhnya ibu dikatakan lebih berat dari ibu perthivi (tanah), karenanya
patut menghormati ia dengan sungguh-sungguh, demikian pula lebih tinggilah
sesungguhnya penghormatan kepada bapak daripada tingginya langit, lebih deras
jalannya pikiran dibandingkan dengan jalannya angin, lebih banyak sesungguhnya
angan-angan itu dibandingkan dengan banyaknya rumput.
Maka
seorang anak berusaha melakukan swadharmanya dengan rela hati melayani segala
keperluan orangtuanya. Seorang anak berkewajiban memberikan atau mengorbankan
harta benda, tenaga dan pikirannya untuk kebahagiaan orangtuanya. Malahan lebih
dari itu seorang anak ikhlas mengorbankan jiwa dan raganya demi untuk berbhakti
pada orang tuanya. Di samping itu masih ada suatu kewajiban seorang anak kepada
leluhurnya yaitu upacara pitra yadnya.
Walaupun
upacara pitra yadnya telah dapat dilakukan sebagai tanda pembayaran hutang
kepada orang tuanya, tapi bukanlah berarti sudah lunas segala kewajiban kita
sebagai seorang anak. Namun yang paling penting pembayaran hutang pada orang
tua adalah pada waktu orang tua masih hidup, yaitu dengan jalan membuat bahagia
hati orang tuanya.
Dalam
Sarasamuscaya 241 menyebutkan :
Pita mata ca rajendra
Tusyato yasya dehinah
Iha pretya ca tasyatha
Kirtirbhawati cacwati
“Ikang bhakti makawwitan, paritusta sang
rawwitnya denya phalanya mangke dlaha, langgeng paleman ika ring hayu.
Artinya
:
Orang
yang setia dan hormat kepada orang tua, sehingga membuat orang tua menjadi
senang dan bahagia, maka anak yang demikian akan memperoleh kemasyuran dan
keselamatan pada kehidupannya sekarang dan kelak di kemudian hari.
Dari
sloka tersebut, maka pahala yang diperoleh orang yang hormat pada orang tua
ialah:
-
Kerti yaitu kemasyuran yang baik
-
Yusa yaitu panjang
-
Bala yaitu kekuatan
-
Yasa yaitu jasa atau penghargaan.
Tiga
hutang yang dimiliki oleh seorang anak terhadap orang tuanya yang patut dibayar
untuk memenuhi dharma bhaktinya terhadap orang tua sebagai guru rupaka yaitu :
a) Sarira
krta yaitu hutang badan (sarira data)
b) Annadatta
yaitu hutang budhi karena orang tualah yang memberikan makan, minum, pakaian,
pendidikan dan lain sebagainya
c) Pranadatta
yaitu hutang jiwa dalam arti pemeliharaan atau kelanjutan hidup.
3. Guru
Pengajian, yaitu guru yang mendidik dan mengajar di sekolah
Tugas
guru pengajian cukup berat tetapi mulia. Guru pengajian berfungsi untuk
melanjutkan pendidikan dari Guru Rupaka, yang bertitik tolak dari segi
kerohanian dan juga ilmu pengetahuan lainnya.
Guru
pengajian bertugas untuk mengembangkan intelek dan pengetahuan siswa, demi
tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan Negara RI yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945, yaitu membentuk manusia susila yang cakap, cerdas, dan
terampil, berbudi pekerti yang luhur, dan bertanggung jawab terhadap
kesejateraan keluarga, masyarakat, nusa dan Bangsa.
Tugas
yang lebih berat lagi yaitu tugas dari seorang guru agama yang mengajarkan
pengetahuan agama, membentuk moral serta budi pekerti yang luhur, serta
berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tugas
Guru Pengajian ialah mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan penuh
cinta kasih agar anak didiknya menjadi manusia susila lahir bathin (wahyadyatmika). Hubungan antara murid
dengan guru benar-benar dapat mewujudkan keharmonisan, sebagai halnya antara
seorang ayah dengan anaknya. Seorang murid tidak boleh menjelek-jelekkan atau
menghina guru.
Dalam
kitab Nitisastra II,13 disebutkan :
Haywa maninda ring dwija daridra dumaa atemu
Sastra teninda denira
kapataka tinemu magong
Yan kita ninda ring guru
patinta maparek atemu
Lwirnika wangsa-patra
tunibeng watu remek apasah
Artinya
:
Janganlah
sekali-kali mencela guru, perbuatan itu akan dapat mendatangkan kecelakaan
bagimu. Jika kamu mencela buku-buku suci, maka kamu akan mendapatkan siksaan
dan neraka, jikalau kamu mencela guru maka kamu akan menemui ajalmu, ibarat
piring yang jatuh hancur di batu.
Dalam
kitab Sarasamuscaya, 238 juga
menyebutkan:
Samyan mithyaprawrtte wa
Wartitawyam gurawiha
Guruninda nihantyayurmanusyanam
Na samsayah
Lawan waneh, hay wa juga ngwang mangupat
ring guru, yadyapin salah kene polahnira, kayatnakena juga gurupacarana,
kasiddhaning kasewaning kadi sira, bwat amuharapayusat amangun kapapan,
kanin-daning kadi sira.
Artinya
:
Sebagai
seorang siswa (murid), tidak boleh mengumpat guru, walaupun perbuatan beliau
keliru, adapun yang harus diusahakan dengan baik ialah perilaku yang layak
kepada guru agar berhasil dalam menimba ilmu. Bagi yang suka menghina guru,
akan menyebabkan dosa dan umur pendek baginya.
Umur
untuk belajar (Brahmacari)
Kitab
Dharmasastra oleh Rsi Yajnawalkya menyatakan bahwa umur untuk mulai belajar
adalah umur semasih kanak-kanak yakni umur lima tahun dan selambat-lambatnya
umur delapan tahun. Pada umur delapan tahun seorang anak harus sudah menikmati
masa belajar melalui proses belajar mengajar.
Sedangkan
kitab Grihya Sutra menyatakan bahwa masa belajar berlangsung jangan sampai
melampaui batas umur 24 tahun. Ini berarti setelah umur 24 tahun seseorang
sudah semestinya mempersiapkan diri untuk memasuki masa hidup Grhasta.
Dalam
kekawin Nitisastra, V. 1 disebutkan “
“Taki-taki ning sewaka guna widya,
smarawisaya rwang puluh ing ayusya, tengahi tuwuh san wacana gogonta,
patilaring atmeng tanu panguroken”.
Artinya
:
“Seorang
pelajar wajib menuntut ilmu pengetahuan dan keutamaan, jika sudah berumur 20 tahun
orang boleh kawin. Jika setengah tua, berpeganglah pada ucapan yang baik hanya
tentang lepasnya nyawa kita mesti berguru”.
Dari
sloka tersebut, dapat ditegaskan bahwa jenjang pertama adalah Brahmacari saat
umur muda kemudian Grhasta, setelah cukup dewasa, selanjutnya Wanaprastha
setelah umur setengah lanjut dan terakhir bhiksuka setelah umur lanjut.
Tata
tertib pada masa belajar
Secara
umum tata tertib itu antara lain :
a. Siswa
wajib taat dan bhakti pada catur guru (guru susrusa)
b. Siswa
harus hidup sederhana
c. Berpakaian
bersih, rapi, sopan dan sederhana
d. Makan
sederhana (aharalaghawa)
e. Siswa
harus bisa dan biasa hidup jujur
f. Tidur
secukupnya dan sepatutnya
g. Tidak
menghibur diri berlebih-lebihan (liar)
h. Tidak
kawin selama masa belajar
Belajar
berbagai hal dalam hidup ini baik lisan maupun tertulis hanya secara teori
tentu belum dapat menolong manusia itu sendiri. Oleh karena berbagai ilmu itu
patut dicoba dan dipraktekkan dalam hidup ini, demi kebahagiaan umat manusia.
Untuk itu perlu dipraktekkan dan dilatih secara teratur.
Latihan
dalam menghadapi kenyataan hidup tidak selalu dengan perencanaan seperti halnya
bermain catur. Banyak peristiwa yang dialami seseorang, di luar dugaan dengan
dan tanpa persiapan mental untuk menerimanya. Demikianlah setiap persoalan
hidup sekaligus merupakan latihan lahir bathin bagi seseorang.
Hidup
dengan aneka problemnya merupakan latihan yang sekaligus ujian dalam usaha
mencapai kebebasan tertinggi. Untuk itu setiap orang dituntut harus sadar bahwa
hidup ini adalah perjuangan dan medan untuk latihan, sehingga di dunia inilah
manusia harus giat melatih diri. Dunia dengan segala isinya yang bersifat maya
menjadikan hidup manusia penuh persoalan. Setiap persoalan hidup harus dihadapi
dan diselesaikan. Jangan menghindari kegiatan hidup dan jangan pula lari dari
kenyataan dunia ini.
Di
dalam Bhagawadgita III. 4 disebutkan :
Na karmanam
anarambhan
Naiskarmyam
puruso “snute
Na ca
sannyasanad eva
Siddhim
samadhigacchati
Artinya
:
Tanpa
kerja orang tidak akan mencapai kebebasan pun juga tidak akan mencapai
kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja.
Dengan
demikian kegiatan kerja sebagai suatu latihan dan kewajiban hidup harus
dikerjakan demi tercapainya kebebasan. Oleh karena itu dalam hidup ini ternyata
bukan pelajaran di sekolah saja mesti dipelajari dan dilatih. Ilmu yang didapat
di sekolah hanyalah sebagian dari teori dan kunci yang harus dikuasai untuk
menghadapi persoalan hidup.
Ilmu
bukanlah bekal hidup kelak dihari tua, tetapi adalah alat untuk menghadapi
hidup sekarang. Tentu dalam pergaulan itu patut disesuaikan dengan
desa-kala-patra sehingga tidak menganggu ketertiban hidup bersama.
Demikianlah
dalam hidup ini orang wajib berbuat dan melatih diri dengan teratur. Sukar akan
merasakan kenyamanan dalam hidup sehari-hari bila orang tidak hidup teratur.
Tidak setiap orang dapat sembahyang dan berdoa setiap hari sesuai petunjuk
agama. Hal ini terjadi bukan karena tidak ada waktu, bukan juga karena tidak
tahu, namun hanya karena hidup tidak teratur dan tidak berusaha untuk melatih
diri.
Belajar
melalui kitab suci harus dilakukan sebanyak-banyaknya agar sirnalah kebodohan.
Sirnanya kebodohan adalah langkah awal untuk mengatasi kemarahan, kelobaan yang
berarti menurunnya frekuensi kesengsaraan hidup. Berjuanglah mengejar kebenaran
untuk melenyapkan kebodohan dengan belajar rajin, teratur, dan terus menerus.
4. Guru
Wisesa yaitu pemerintah
Sebagai
seorang siswa, dan sekaligus juga merupakan bagian dari anggota masyarakat maka
kita harus menghormati dan menjunjung tinggi martabat bangsa, Negara dan
pemerintahannya. Sebaliknya pemerintah selalu memikirkan dan mengusahakan
kesentosaan dan kemakmuran rakyat.
Di
samping itu harus dapat memberikan perlindungan kepada rakyat dari berbagai
problem seperti kesusahan, kesewenanga (monarkhi), menjalankan hukum dan
keadiln tanpa pandang bulu. Menyelenggarakan pendidikan bagi warganya demi
kemajuan dan kecerdasan bangsa.
Tidak
hanya rakyat yang cinta, tetapi Tuhan sebagai pelindung Dharma akan merahmati
umat-Nya yang berbudi mulia. Oleh karena itu ajaran agama Hindu kita diharapkan
dalam melaksanakan tugas, berpegang pada motto dan pedoman sepi ing pamrih rame
ing gawe, demi kepentingan masyarakat dan umat manusia.
2) Grehastha asrama
Adalah jenjang kedua dari catur asrama. Kata grahasta berasal dari dua kata yaitu kaya Grha
artinya rumah, stha artinya berdiri. Jadi grahasta artinya berdiri membentuk
rumah tangga. Dalam berumah tangga ini harus mampu seiring dan sejalan untuk
membina hubungan atas darar saling cinta mencintai dan ketulusan. Masa
grehastha asrama hendaknya dibangun mulai dari brahmacari asrama. Tatanan hidup
brahmacari dituruti, dan tujuan hidup brahmacari telah diraih barulah dengan
optimis mengabdikan ilmu itu di masyarakat. Dengan pengabdian itu, kita
mencapai bekal hidup. Dengan bekal hidup inilah kita optimis membangun rumah
tangga. Maka dari itu brahmacari asrama adalah dasar hidup dari grehastha
asrama.
Setelah memasuki tingkat
hidup Grhastha, bukan berarti masa belajar atau menuntut ilmu itu berakhir
sampai disitu saja. Belajar tidak mengenal batas usia. Belajar berlangsung
selama hayat dikandung badan. Maka orang mengatakan masa muda adalah masa
belajar. Hal ini mengandung arti bahwa tidak ada istilah tua dalam hal belajar.
Karena ilmu pengetahuan itu sifatnya berkembang terus. Ilmu yang didapatkan
dalam jenjang Brahmacari itu lebih diperdalam serta ditingkatkan lagi setelah
menginjak hidup berumah tangga (Grhastha).
Dalam
Agastya Parwa dijelaskan
“ Grhastha ngarania Sang yatha sakti
kayika Dharma”.
Artinya
“
Grhastha namanya beliau yang dengan kemampuan sendiri mengamalkan Dharmanya”.
Ciri seorang Grhastha adalah memiliki kemauan untuk mandiri
untuk mewujudkan swadharmanya. Dalam
Catur Asrama ini kedudukan Grhastha Asrama inilah kedudukan yang paling
sentral. Suksesnya seorang Brahmacari dan Vanaprastha amat tergantung dari
kemampuan Grhastha Asrama melakukan kewajibannya untuk membiayai pemeliharaan
dan biaya pendidikan Brahmacari Asrama.
Grhasta asmara atau pernikahan pada hakikatnya adalah suatu
yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur atau jiwa-jiwa yang lain untuk
menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Dalam kitab suci
Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan "Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang
gumaweakenikang subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga
ikang asubha karma pahalaning dadi wang" artinya: dari
demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu
saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk
ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia. Dan merupakan
bagian dari usaha penyucian diri lewat sebuah ikatan lahir bathin antara
seorang laki-laki dam seorang wanita lewat sebuah jalur kesetiaan untuk sehidup
semati.
Adapun kewajiban-kewajiban orang yang sudah berumah tangga yaitu :
1.
Melanjutkan
keturunan
2.
Membina
rumah tangga
3.
Bermasyarakat
4.
Melakukan
panca yadnya
Kewajiban
Suami
Menurut kitab
suci Hindu (Weda Smrti) seorang suami berkewajiban :
a.
Melindungi istri dan anak-anaknya. Ia harus mengawinkan
anaknya kalau sudah waktunya.
b.
Menugaskan
istrinya untuk mengurus rumah tangga. Dan urusan agama dalam rumah tangga
ditanggung bersama.
c.
Menjamin hidup
dengan memberi nafkah kepada istrinya bila akan pergi keluar daerah.
d.
Memelihara
hubungan kesucian dengan istri, saling percaya mempercayai, memupuk rasa cinta
dan kasih sayang serta jujur lahir bathin. Suka dan duka dalam rumah tangga
ditanggung bersama sehingga terjaminnya kerukunan dan keharmonisan.
e.
Menggauli
istrinya dan mengusahakan agar tidak terjadi penceraian dan masing-masing tidak
melanggar kesucian.
f.
Tidak
merendahkan martabat istri. Janganlah terlalu cemburuan, yang menyebabkan
timbulnya percekcokan dan perceraian dalam keluarga.
Kewajiban istri
a.
Sebagai seorang
istri dan sebagai seorang wanita hendaknya selalu berusaha tidak bertindak
sendiri-sendiri. Setiap rencana yang akan dibuat harus dimusyawarahkan terlebih
dahulu dengan suami.
b.
Istri harus
pandai membawa diri dan pandai pula mengatur dan memelihara rumah tangga,
supaya baik dan ekonomis.
c.
Istri harus
setia pada suami dan pandai meladeni suami dengan hati yang tulus ikhlas serta
menyenangkan.
d.
Istri harus
dapat mengendalikan pikiran, perkataan, dan tingkah laku dengan selalu
berpedoman pada susila. Ia harus dapat menjaga kehormatan dan martabat
suaminya.
e.
istri harus
dapat memelihara rumah tangga, pandai menerima tamu, dan meladeni dengan
sebaik-baiknya.
f.
Istri harus
setia dan jujur pada suami, dan tidak berhati dua.
g.
Hemat cermat
dalam menggunakan harta kekayaan, tidak berfoya-foya dan boros.
h.
Tahu dengan
tugas wanita, rajin bekerja, merawat anak dan meladeni kepentingan semua
keluarga. Berhias diwaktu perlu.
Antara suami dan istri harus
selalu ada saling pengertian untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Sebagai
seorang suami dan istri haruslah tetap ingat melaksanakan kewajiban dengan
penuh kesadaran sebagai anggota atau kepala rumah tangga sehingga dapat terciptana
keharmonisan dalam keluarga.
Oleh karena itu hendaknya
selalu memupuk pribadi yang baik. Selain itu rasa kasih dan sifat lemah lembut
bersaudara harus kita tumbuh kembangkan. Adapun hubungan antara suami dan istri
harus dapat menjalin kerukunan dalam kesatuan pikiran, ucapan, perbuatan serta
sesuai dengan norma-norma agama. Hidup suami istri bukanlah merupakan suatu
persaingan dalam menuntut persamaan hak dan bukan merupakan suatu perlombaan
dalam melaksanakan tugas dan kewajiban itu, melainkan merupakan suatu
keharmonisan dan kesatuan hidup lahir dan bathin. Hal ini disimbolakn sebagai Ardanaraswari yaitu persatuan antara
laki dan perempuan dalam satu badan.
3)
Wanaprastha
asrama
Wanaprasta
terdiri dari dua kata yaitu ” wana ” yang artinya pohon, kayu, hutan, semak
belukar dan ” prasta ” yang artinya berjalan, berdoa. Jadi wanaprasta artinya
hidup menghasingkan diri ke dalam hutan. Mulai mengurangi hawa nafsu bahkan
melepaskan diri dari ikatan duniawi.
Kalau
dalam grehastha asrama seseorang giat bekerja, mengabdi untuk mendapatkan bekal
hidup baik yang bersifat rohani dan lebih-lebih lagi yang bersifat artha. Namun
dalm tingkatan wanaprastha asrama perlahan-lahan seseorang itu mulai
mengasingkan diri dari kesibukan duniawi. Dengan demikian juga yang berhubungan
dengan kepuasan yang bersifat lahiriah sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.
Pusat perhatian pada jenjang ini mengarah pada kenikmatan rohani, memperdalam
ajaran kerohanian dan kegiatan spiritual lebih diperbanyak.
Tetapi dizaman modern seperti sekarang ini, sulit dilakukan
mengingat hutan susah untuk ditemukan. Hutan – hutan berubah menjadi rumah,
ruko dan juga gedung – gedung bertingkat. Lalu bagaimana kita menjalani
kehidupan wanaprasta. Kehidupan wanaprasta dimaksudkan, secara perlahan – lahan
melepaskan keterikatan duniawi dan mendekatkan diri dengan Tuhan, meningkatkan
spiritualitas untuk mengetahui hakekat Tuhan yang sesungguhnya. Jadi tidak
harus pergi ke hutan dan mengasingkan diri.
Manfaat
menjalani jenjang wanaprasta dalam kehidupan ini antara lain :
1. Untuk
mencapai ketenangan rohani.
2. Manfaatkan
sisa-sisa kehidupan di
dunia untuk mengabdi dan
berbuat amal kebajikan kepada masyarakat umum.
3. Melepaskan
segala keterikatan duniawi
Masa mulai menempuh hidup Wanaprastha
Menurut kitab Nitisastra masa
wanaprasta kurang lebih 50 – 60 tahun.
Masa yang baik untuk mulai menempuh
hidup sebagai seorang Wanaprastha adalah setelah berusia kurang lebih 60 tahun
ke atas. Karena pada usia seperti itu, anak-anaknya sudah dapat hidup mandiri.
Bagi seorang pegawai negeri ia sudah pension sehingga ia sudah lepas dan bebas
dari tugas dinasnya.
Vanaprastha
tidaklah diartikan sebagai meninggalkan rumah lalu pergi menyepi kehutan untuk
bertapa, tetapi vanaprastha dimaknai sebagai hidup yang hening dan suci,
sedikit demi sedikit melepaskan diri dari ikatan keduniawian, dan menguatkan
pengendalian diri berdasarkan ajaran Agama Hindu. Ajaran agama yang diperoleh
pada masa brahmacari kini dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari secara lebih
mantap, dimana lebih dipusatkan pada bidang spiritual.
Orang yang
melaksanakan vanaprastha disebut vanaprasthin, hendaknya selalu menjaga
kesucian dan kesehatan jasmani/rohani, banyak melakukan pekerjaan mulia,
bijaksana, bersahabat, berbicara manis dan menyenangkan, melakukan sadhana,
melaksanakan latihan-latihan kerohanian (yoga), melakukan berbagai
"vrata" atau pengekangan diri, suka belajar dan bergaul pada
orang-orang suci (Sulinggih), sering me-dharma yatra dan lain-lain.
Wanaprastha
adalah batu loncatan untuk mencapai sebuah jenjang Sanyasin karena lewat
Wanaprasta jiwa secara perlahan terlatih tidak lagi bergantung kepada hal-hal
yang bersifat kenikmatan indria dengan demikian pikiran tidak lagi focus ke
indria apapun bentuknya melainkan hanya pada Tuhan.
“ Tat-buddhayas tad-atmanas
tan-nisthas tat-parayanah
gacchanty apunar-avrtti
jnana-nirdhuta-kalmasah”.
( Bhagavadgita V-17)
Artinya:
“Mereka yang memikirkan-Nya, menyerahkan
seluruh jiwa kepada-Nya, menjadikan-Nya tujuan utama, memuja hanya pada-Nya,
akan pcrgi tidak kcmbali, dan dosa mereka dihapus oleh pengetahuan itu”.
Dari
sloka ini dijelaskan bahwa pikiran adalah faktor terpenting dalam keberhasilan
seorang dalam melaknakan Sanyasin asrama, untuk itu pikiran harus dilatih
secara perlahan-lahan pada masa wanaprasta hingga nanti saat memasuki jenjang
sannyasi asrama pikiran benar-benar telah mantap pada Tuhan. Hingga tidak ada
lagi goncangan-goncangan mental saat menjalani masa Sannyasin.
Adapun ciri-ciri orang yang telah dapat masuki tahap
wanapratha ini adalah: usia yang sudah lanjut, mempunyai banyak pengalaman
hidup, mampu mengatasi gelombang pahit getirnya kehidupan, serta mempunyai
kebijaksanan yang dilandasi oleh ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Telah
memiliki keturunan atau generasi lanjutan yang sudah mapan dan mampu hidup
mandiri.serta tidak bergantung lagi pada orang tua baik dibidang ekonomi maupun
yang lainnya.
Artha dan kama
hendaknya kita mulai mengurangi, berkosentrasi dalam spiritual, mencari
ketenangan bathin dan lebih mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat
menyatu dengan Tuhan, sehingga Tujuan hidup ini diprioritaskan kepada kama dan
moksa.
4)
Bhiksuka
asrama
Adalah
jenjang terakhir dari catur asrama, yang sering disebut sanyasin. Kata biksuka
berasal dari kata biksu yang merupakan sebutan pendeta Buda. Biksu artinya
meminta-minta. Masa biksuka ialah tingkat kehidupan yang dilepaskan terutama
ikatan duniawi, hanya mengabdikan diri kepada Tuhan ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa
).
Dalam
pengertian sebagai peminta-minta dimaksudkan ia tidak boleh mempunyai apa-apa
dalam pengabdiannya pada Hyang Widhi dan untuk makannya pun ditanggung oleh
murid-murid pengikutnya ataupun umatnya sendiri. Dalam pengertian sanyasin
dimaksudkan meninggalkan keduniawian dan hanya mengabdi kepada Hyang Widhi
dengan memperluas ajaran-ajaran kesucian.
Jenjang
bhiksuka ini melepaskan segala kegiatan dan ikatan duniawian secara tuntas
sudah menjadi kewajibannya. Tidaklah berlebihan bila seolah-olah jenjang hidup
bhiksuka itu sebagai persiapan lepas landas dari program hidup menuju akhirat.
Ciri-ciri seorang biksuka :
a. Selalu
melakukan tingkah laku yang baik dan bijaksana
b. Selalu
memancarkan sifat-sifat yang menyebabkan orang lain bahagia.
c. Dia akan tetap menyebarkan angin
kesejukan, angin kebenaran, tidak mudah diombang-ambing oleh gelombang
kehidupan duniawi
d. Dapat
menundukkan musuh-musuh nya seperti sadripu, sapta timira, sad atatayi dan tri mala
Sad Ripu
Adalah enam macam musuh yang ada
dalam setiap diri manusia. Musuh-musuh ini perlu dikendalikan dari diri kita, sehingga dapat menerapkan
kehidupan Bhiksuka dengan baik.
Pembagiannya yaitu :
·
Kama = nafsu
Hal ini ada pada setiap orang dengan
menjadi musuh dari setiap orang, selama belum dapat dikuasainya. Kalau nafsu
ini dapat dikuasai dan ditundukkan, ia akan menjadi teman akrab.
Dengan kewaspadaan yang tinggi serta
dengan usaha yang keras dan akhirnya kama dapat dikendalikan.
·
Lobha = tamak / rakus
Menyebabkan orang tidak pernah
merasa puas akan sesuatu. Orang yang lobha akan selalu ingin memiliki sesuatu
yang lebih daripada apa yang telah dimiliki. Dengan demikian ia akan berpikir
dan bekerja keras. Akibatnya orang yang demikian itu akan gusar, gelisah resa,
karena didorong oleh kelobhaan. Dia tidak akan pernah merasa tenteram dan
tenang, sedangkan ketenangan menjadi idaman bagi setiap orang.
·
Kroda = marah
Kemarahan timbul karena pengaruh
perasaan yang jengkel, muak, bosan, tersinggung dan sebagainya. Orang yang suka
marah adalah tidak baik sebab kemarahan menyebabkan orang menderita. Dan orang
pada umumnya tidak suka dimarahi. Orang yang dimarahi juga bisa marah, sehingga
akan dapat menimbulkan suasana hubungan yang buruk. Karenanya hilangkan
perasaan marah itu dan kendalikanlah kemarahan itu.
·
Moha = bingung
Karena bingung dapat menyebabkan
pikiran menjadi gelap. Orang yang sedang bingung tidak dapat berpikir dengan
baik, sehingga tidak akan dapat melakukan kewajiban dengan baik. Bingung banyak
penyebabnya, antara lain :
-
Karena
ditimpa kesusahan yang hebat.
-
Karena
kehilangan sesuatu yang dicintai.
-
Karena
situasi yang menekan perasaannya.
-
Karena
tidak dapat mengatasi problem yang menimpa dirinya.
Dengan demikian, dapatlah diteliti
segala macam persoalan itu dengan cara seksama, serta dapat mencari jalan
pemecahannya dengan baik. Menempuh jalan dengan cara demikian berarti kita
telah siap untuk menerima segala kemungkinan dan kenyataan yang akan terjadi.
Oleh karena itu kita harus berusaha menghilangkan kebingungan itu.
·
Mada = mabuk/minuman keras
Bila minuman ini diminum melewati
batas akan menimbulkan kemabukan, bahkan sering menimbulkan akibat yang jelek
seperti merusak tubuh, melumpukan pencernaan, merusak urat-urat syaraf dan lain
sebagainya.
Kemabukan ini dapat menghilangkan
kesadaran, sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang
lain. Maka dari itu kemabukan ini harus dicegah karena ia merupakan musuh yang
harus dijauhi.
·
Matsyarya = iri hati
Perasaan iri hati merupakan
perongrongan diri manusia. Karena orang yang diliputi oleh rasa iri ini, tidak
senang melihat orang lebih bahagia dan beruntung dari padanya. Orang yang
demikian selalu merasa dirinya malang, miskin, nasib sial dan bermacam-macam
perasaan negatif yang dirasakan.
Sapta Timira
Artinya tujuh kegelapan yaitu tujuh
hal yang menyebabkan pikiran orang menjadi gelap. Kegelapan pikiran ini dapat
menimbulkan tingkah laku yang jelek dan menyimpang dari ajaran agama.
Pembagiannya yaitu :
1.
Surupa
Artinya kecantikan atau ketampanan.
Kecantikan dan ketampanan ini dibawa sejak lahir, merupakan anugerah Hyang
Widhi. Bagi orang yang memiliki semua ini, boleh merasa beruntung, namun
janganlah takabur atas kecantikan dan ketampanan yang dimiliki itu. Karena
semua sifatnya maya dan tidak kekal, harus disertai dengan keluhuran budhi
pekerti. Jika tidak, tidak aka nada nilainya semua itu.
2.
Dhana
Artinya kekayaan. Kekayaan memang
sangat berguna bagi siapapun, dan setiap orang menginginkan hal itu. Oleh
karenanya bagi orang yang memiliki kekayaan hendaknya dapat menggunakan
kekayaan itu dengan tepat sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Tetapi sering kali kekayaan itu
menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Karena pengaruh
kekayaan orang sering menjadi sombong, angkuh, menghina orang lain, mengumbar
hawa nafsu dan sering menjadikan lupa diri.
Dan sebenarnya kekayaan itu adalah
anugerah Tuha, karenanya patutlah dipelihara dan dipergunakan untuk kepentingan
Dharma.
3.
Guna
Artinya kepandaian. Kepandaian
dicari oleh setiap orang, dan semua orang ingin menjadi pandai. Karena
kepandaian dapat meringankan seseorang dalam menghadapi suka duka kehidupan di
dunia ini. Dan kepandaian juga dapat membahayakan orang, bila digunakan untuk
kejahatan.
Oleh karena itu kepandaian harus
diimbangi oleh ajaran agama. Ilmu tanpa agama adalah lumph, agama tanpa ilmu
adalah buta.
4.
Kulina
Artinya keturunan. Orang dipandang
terhormat disegani, dapat dipercaya, karena dikenal berasal dari
keturunan-keturunan orang-orang berjasa, baik budi dan karyanya dapat dinikmati
oleh banyak orang.
Seringkali dari adanya keturunan
ini, orang merasa bangga akan dirinya, karena ia merasa keturunan orang-orang
terhormat, maka dengan kebanggaan ini lalu ia menjadi orang yang berderajat
tinggi, sombong, dan angkuh, sehingga kemudian menghina orang lain. Kita hidup
adalah saling hormat menghormati, saling harga-menghargai. Menghargai orang
lain berarti menghargai diri sendiri.
5.
Yowana
Artinya masa muda. Masa muda atau
masa remaja ini penuh dengan kegairahn hidup, masa gemilang penuh dengan
kreatif. Masa inilah sebenarnya merupakan kesempatan untuk berbuat banyak dalam
menimba berbagai ilmu untuk bekal di kemudian hari. Tetapi masa muda ini juga
penuh tantangan seperti tidak tetap pendirian, goyah, emosi dan belum ada
keseimbangan pikiran, sehingga belum tahu kemanakah arah hidupnya kelak.
Masa muda harus diisi dengan hal-hal
yang baik. Masa inilah masa menuntut ilmu, bekerja keras, menciptakan sesuatu
yang berguna dan beraktivitas yang baik. Kalau masa muda ini disalahgunakan,
atau dimanfaatkan untuk merusak dan merugikan orang lain.
6.
Sura
Artinya minuman keras.
7.
Kasuran
Artinya keberanian. Setiap orang
perlu memiliki keberanian. Tanpa keberanian orang akan selalu merasa takut.
Keberanian di sini dipergunakan untuk dapat mengatasi berbagai masalah dan
liku-liku kehidupan. Keberanian yang dilakukan tanpa didasari oleh Dharma maka
keberanian itu akan menjurus kepada perbuatan kejam dan sadis.
Sad Atatayi
Artinya
enam macam pembunuhan kejam. Yaitu :
1.
Agnida
Artinya membakar milik orang lain.
Orang yang karena perasaan iri dan dengki, sentimen pribadi dan macam-macam
perasaan lainnya, kemudian melakukan perbuatan terlarang lain membakar milik
orang. Karenanya kendalikanlah diri dari perbuatan terlarang itu.
2.
Wisada
Artinya meracun. Perbuatan meracun
adalah suatu perbuatan jahat dan terkutuk. Orang yang melakukan hal ini
disebabkan karena perasaan dendam, benci, sehingga orang lain dianggap sebagai
musuhnya. Perbuatan yang demikian termasuk perbuatan kejam, tidak
berperikemanusiaan karenanya termasuk pembunuhan kejam. Itulah sebabnya
perbuatn ini sangat terlarang.
3.
Atharwa
Artinya melakukan ilmu hitam atau
black magic. Ini sering digunakan untuk membuat orang lain menderita sakit,
orang lain menjadi gila dan lain sebagainya. Perbuatan dengan melakukan ilmu
hitam ini sangat dilarang oleh ajaran agama. Oleh karena itu dianggap sebagai
suatu pembunuhan bila dilakukan.
4.
Sastraghna
Artinya mengamuk. Mengamuk adalh
suatu perbuatan dari orang yang sedang bingung. Perbuatan mengamuk bisa
menimbulkan kepanikan, bahkan bisa menimbulkan pembunuhan. Perbuatan mengamuk
itu adalah perbuatan yang tidak terpuji.
5.
Dratikrama
Artinya memperkosa. Memperkosa
adalah perbuatan yang dilakukan tanpa adanya persetujuan kedua belah pihak.
Perbuatan memperkosa adalah sama dengan perbuatan binatang, karena binatang
melakukan kehendaknya hanya berdasarkan nafsu jahatnya saja. Perbuatan semacam
itu tidak akan mungkin dapat membahagiakan, tapi sebaliknya menimbulkan
kesengsaraan. Itulah sebabnya ajaran agama melarang perbuatan dratikrama itu.
6.
Raja
pisuna
Artinya memfitnah. Memfitnah adalah
suatu perbuatan yang paling tidak baik. Memfitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Perbuatan ini dilakukan untuk menghancurkan kehidupan orang lain.
Tri mala
Artinya tiga macam perbuatan kotor
a.
Kasmala
yaitu perbuatan yang hina dan kotor
b.
Mada
yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor
c.
Moha
yaitu pikiran perasaan yang curang dan angkuh
Pelaksanaan
jenjang perjenjang ini hendaknya dapat dipahami dan dipandang sebagai kewajiban
moral dalam hidup dan kehidupan ini. Dengan demikian betapapun beratnya
permasalahan yang dihadapi dari masing-masing fase kehidupan itu tidak akan
pernah dikeluhkan oleh pelakunya. Idialnya memang seperti itu, tidak ada
sesuatu permasalah yang patut kita keluhkan. Keluh-kesah yang kita simpan dan
menguasai sang pribadi kita tidak akan pernah membantu untuk mendapatkan jalan
keluar dari permasalahan yang ada. Bila kita hanya mampu mengeluh tentu akan
menambah beban yang lebih berat lagi. Hindu sebagai agama yang telah
menggariskan kepada umatnya untuk tidak hanya biasa dan kaya dengan hanya
mengeluh.
Pada
saat ini, asrama tak dapat dihidupkan secara tepat sesuai dengan aturan rincian
kuno, karena kondisinya telah banyak sekali berubah, tetapi dapat dihidupkan
kembali dalam semangatnya, terhadap kemajuan yang besar dari kehidupan yang
modern.Kedamaian dan aturan akan berlaku dalam masyarakat , hanya apabila semua
melaksanakan kewajiban masing – masing secara efektif. Penghapusan warna dan
asrama akan memotong akar dari kewajiban social masyarakat.
Bagaimana
bangsa dapat mengharapkan untuk hidup bila warnasrama dharma tidak dilaksanakan
secara tegar ? Murid – murid sekolah dan perguruan tinggi seharusnya menjalani
suatu kehidupan yang murni , sederhana serta focus pada mengejar ilmu
pengetahuan stinggi-tingginya.
Kepala rumah tangga seharusnya menjalani kehidupan sebuah grhasta yang ideal, ia seharusnya melaksanakan pengendalian diri, welas asih, toleransi, tidak merugikan, berlaku jujur,dan kewajaran dalam segala hal.
Kepala rumah tangga seharusnya menjalani kehidupan sebuah grhasta yang ideal, ia seharusnya melaksanakan pengendalian diri, welas asih, toleransi, tidak merugikan, berlaku jujur,dan kewajaran dalam segala hal.
Selain itu, dengan berbekal ilmu dan
keterampilan yang memadai yang didapat pada masa brahmacari, seseorang
diharapkan mendapat profesi menjanjikan sesuai dengan keahliannya atau bahkan
mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Melalui media itu umat dapat
mencari artha dan kama yang didasarkan atas dharma.
Sementara pada saat menapaki kehidupan wanaprasta,
umat sesungguhnya dituntun untuk mengasingkan diri dari hal-hal yang berbau
keduniawian. Dulu, menapaki hidup wanaprasta umat pergi ke hutan untuk
menyepikan diri. Tetapi dalam konteks sekarang, ”hutan belantara” itu berada di
tengah-tengah kita. Agar umat mampu menghindari diri dari kobaran api hawa
nafsu, yang memang memerlukan pengendalian diri.
Pada
tahapan bhiksuka atau sanyasin, umat sangat baik mendalami hal-hal yang
bernuasa spiritual untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dan diharapkan
umat sudah harus mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keinginan duniawi
dan dapat menjauhkan diri dari sifat dan musuh yang ada dalam diri seperti sad
ripu, sapta timira, sad atatayi, tri mala serta yang sejenisnya.
Jadi
manusia hidup di dunia ini ada tahapan-tahapan yang hendak dicapai agar jenjang
kehidupan menjadi tertata, catur asrama ini juga berguna untuk menerapkan
manusia agar melaksanakan swadharma menurut umur jadi dari umur 0 – 20th tahun
hendaknya digunakan untuk belajar, umur 20th keatas baru
kemudian menginjak ke jenjang menikah dengan mencari pasangan hidup agar
mendapatkan keturunan yakni untuk meneruskan generasi agar tidak putus.
Kemudian
pada umur 50-60th setelah matang dalam belajar kemudian menikah
tentu saja banyak memiliki ilmu-ilmu atau pengalaman yang dapat diterapkan
dalam masyarakat atau mengabdi pada masyarakat. Kemudian jenjang yang terakhir
adalah biksuka atau sanyasin dari umur 60th keatas hendaknya
sudah menyerahkan diri dengan Tuhan tidak terikat lagi dengan nafsu-nafsu yang
ada dalam diri apalagi itu nafsu sad ripu. Seorang sanyasin hendaknya selalu
berbuat yang baik dan bijaksana dan tidak banyak memiliki keinginan-keinginan
menyerahkan diri dengan Tuhan dan pasrah.
Kemudian
pada umur 50-60th setelah matang dalam belajar kemudian menikah
tentu saja banyak memiliki ilmu-ilmu atau pengalaman yang dapat diterapkan
dalam masyarakat atau mengabdi pada masyarakat. Kemudian jenjang yang terakhir
adalah biksuka atau sanyasin dari umur 60th keatas hendaknya
sudah menyerahkan diri dengan Tuhan tidak terikat lagi dengan nafsu-nafsu yang
ada dalam diri apalagi itu nafsu sad ripu. Seorang sanyasin hendaknya selalu
berbuat yang baik dan bijaksana dan tidak banyak memiliki keinginan-keinginan
menyerahkan diri dengan Tuhan dan pasrah.
Jadi
manusia hidup di dunia ini ada tahapan-tahapan yang hendak dicapai agar jenjang
kehidupan menjadi tertata, catur asrama ini juga berguna untuk menerapkan
manusia agar melaksanakan swadharma menurut umur jadi dari umur 0 – 20th tahun
hendaknya digunakan untuk belajar, umur 20th keatas baru
kemudian menginjak ke jenjang menikah dengan mencari pasangan hidup agar
mendapatkan keturunan yakni untuk meneruskan generasi agar tidak putus.
Kemudian
pada umur 50-60th setelah matang dalam belajar kemudian menikah
tentu saja banyak memiliki ilmu-ilmu atau pengalaman yang dapat diterapkan
dalam masyarakat atau mengabdi pada masyarakat. Kemudian jenjang yang terakhir
adalah biksuka atau sanyasin dari umur 60th keatas hendaknya
sudah menyerahkan diri dengan Tuhan tidak terikat lagi dengan nafsu-nafsu yang
ada dalam diri apalagi itu nafsu sad ripu. Seorang sanyasin hendaknya selalu
berbuat yang baik dan bijaksana dan tidak banyak memiliki keinginan-keinginan
menyerahkan diri dengan Tuhan dan pasrah.



Komentar
Posting Komentar